10 Penerapan Kebenaran Pragmatis Dalam Ajaran Islam

Sebelum kita membahas penerapan kebenaran pragmatis dalam ajaran Islam, mari kita lihat pengertian dari kebenaran pragmatis itu sendiri.

Menurut Hadiwijono, pragmatis adalah konsep kebenaran secara logika pengamatan dengan melihat akibat secara praktis. Dalam teori kebenaran pragmatis, suatu hal akan dianggap benar jika memberikan manfaat melalui pembuktian secara ilmiah. Maka dari itu, suatu tindakan atau pemikiran hanya akan dianggap benar jika mempunyai hasil yang bermanfaat dan tidak akan dianggap jika belum mempunyai hasil.

Islam merupakan agama yang selalu membawa kebaikan bagi umatnya. Ajaran dalam Islam yang telah tersebar sejak ribuan tahun lalu terbukti memberikan berbagai manfaat secara ilmiah. Tidak ada ajaran Islam yang tidak memberikan manfaat.  Berikut adalah beberapa penerapan kebenaran pragmatis dalam ajaran Islam:

  1. Wudhu

Wudhu merupakan salah satu syarat sahnya sholat. Ada banyak manfaat berwudhu dalam Islam.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur..” (QS. Al Maidah: 6)

Wudhu dimulai dengan gerakan berkumur-kumur yang bertujuan untuk membersihkan mulut dari sisa makanan dan kotoran lainnya. Begitu pula dengan gerakan lainnya, seluruh gerakan dalam wudhu terbukti mampu menghindari dari berbagai penyakit, bahkan kanker kulit.

  1. Sholat

Salah satu rukun Islam adalah sholat.  Sholat yang wajib dikerjakan ada 5 waktu setiap harinya.

ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ankabut : 45)

Sholat bukan hanya sekedar hubungan antara Allah dan hambaNya,  tapi banyak manfaat yang bisa didapatkan dalam seluruh gerakan sholat.  Diantaranya takbiratul ihram,  gerakan mengangkat kedua tangan ini mempunyai manfaat melancarkan aliran darah dan kelenjar getah bening juga menguatkan otot lengan.

Begitu pula dengan gerakan sujud yang sangat baik untuk melancarkan aliran darah ke otak dan baik untuk kesehatan reproduksi wanita.  Bahkan dokter ahli kandungan juga sering menyarankan pada wanita hamil untuk sering melakukan gerakan sujud. [AdSense-B]

Dalam prakteknya sendiri,  Islam memberikan keefisienan bagi mereka yang tidak mampu berdiri untuk sholat,  maka boleh sholat dengan duduk atau berbaring.  Ini juga merupakan salah satu penerapan pragmatis dalam Islam karena Islam bukanlah agama yang akan menyusahkan penganutnya,  justru akan selalu memberikan manfaat dan kemudahan bagi setiap Muslim.

Baca juga:

[AdSense-A]

  1. Puasa

Puasa adalah menahan makan dan minum serta hawa nafsu lainnya.  Telah terbukti secara ilmiah bahwa puasa memberikan banyak manfaat bagi tubuh,  diantaranya membantu membuang racun dari dalam tubuh,  meningkatkan sistem imun,  mengistirahatkan pencernaan,  mengurangi resiko penyakit jantung,  dan masih banyak manfaat lainnya.

أَيَّامًا مَّعْدُودَٰتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui..”(Q.S. Al Baqarah:184)

Ayat di atas menunjukkan bahwa ajaran Islam tidak kaku dan memaksa.  Bagi mereka yang tidak sanggup berpuasa maka dibolehkan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari saat ia telah mampu berpuasa.

  1. Zakat

Zakat merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas segala nikmat dan rezeki yang diberikan Allah SWT.  Dalam Islam,  tata cara pengeluaran zakat telah diatur,  bahkan perintah zakat berkali-kali disebut dalam Al Quran. Zakat bukan hanya salah satu bentuk ibadah dalam Islam,  tapi juga memberikan banyak manfaat.

Dari segi kepribadian,  zakat mampu menumbuhkan rasa tenggang rasa,  simpati,  menyingkirkan rasa kikir, pelit dan dengki.

ٱلَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَآ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَٰفِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.”(Q.S. An Nisa:37)

Dari segi sosial,  zakat membantu menjembatani hubungan yang lebih baik antara mereka yang berkecukupan dengan yang kurang mampu.  Zakat juga membantu mensejahterakan mereka yang fakir.  Al baqarah 273

  1. Membaca Al Quran

Ada banyak manfaat membaca Al Quran setiap hari. Sebagaimana hadist Rasul : Hendaknya kamu menggunakan jenis obat obatan seperti madu dan membaca alquran (HR. Ma’ud). Fungsi Al Quran bukan hanya sebagai pedoman hidup manusia,  tapi juga menjadi obat bagi mereka yang rajin membacanya.  Shahid Athar, M.D. seorang Associate Professor Kedokteran Klinis dari Indiana University School of Medicine, telah membuktikan hal ini melalui penelitiannya.

Dimana terdapat 2 pasien yang mana keduanya mengalami sakit parah yang sama dan meminum obat yang sama.  Pasien pertama diberikan obat dan diajak mendengar lantunan Al Quran,  sedangkan pasien kedua diberikan obat tanpa didengarkan ayat Al Quran.  Hasilnya pun menunjukkan bahwa pasien pertama bertahan jauh lebih lama dibanding pasien kedua.

Baca juga:

  1. Larangan Makan Babi

Babi merupakan salah satu daging hewan yang masih banyak dikonsumsi oleh non Muslim, padahal dalam kitab mereka juga diajarkan untuk tidak memakan babi.  Dalam ajaran Islam,  babi termasuk dalam hewan yang haram dimakan. Bukan hanya dimakan,  bahkan juga disentuh baik itu sudah dalam bentuk benda seperti jaket atau sepatu kulit.

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al Maidah: 3)

Sebuah hasil penelitian dalam British Journal of Cancer dari peneliti Swedia menyebutkan konsumsi 14 ons daging babi olahan dapat menyebabkan peningkatan 19 persen resiko kanker pankreas. Penelitian ini semakin memperkuat kebenaran aturan agama yang melarang konsumsi daging babi. Terbukti ajaran Islam yang memasukkan babi sebagai makanan haram memang demi kesehatan penganut ajarannya.

  1. Larangan minuman keras dalam Islam

Bukan hanya babi,  Islam juga mengharamkan umatnya untuk meminum minuman keras seperti bir, tuak, anggur, gin, dan minuman alkohol lainnya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Qs Al Maidah : 90)

Sekelompok ilmuwan dari University of Oxford, Inggris yang dipublikasikan dalam The BMJ bulan ini menemukan bahwa empat gelas bir keras atau lima gelas anggur yang dikonsumsi selama seminggu berturut-turut dapat meningkatkan risiko penurunan mental yang berakibat pada kinerja otak.

  1. Larangan pacaran

Terdapat larangan berpacaran dalam Islam dengan alasan yang sangat logis. Sebenarnya tidak ada istilah pacaran dalam Islam,  yang Ada hanyalah zina.

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (Q. S. Al Isra:32)

Di tahun 2012, peneliti University of St. Andrews di Inggris mengungkapkan sebuah hasil penelitian bahwa ketika fisik perempuan tersentuh oleh pria, suhu kulit tubuh perempuan akan meningkat, khususnya di bagian wajah dan dada. Riset berjudul “The Touch of a Man Makes Women Hot” dan dipublikasikan di LiveScience, 29 Mei 2012 itu menunjukkan, sentuhan dari pria terbukti mampu membakar gairah seks wanita. Yang artinya pacaran justru mendorong pelakunya untuk berbuat zina.

Baca juga:

  1. Berdzikir

Dzikir merupakan salah satu ibadah yang dapat kita lakukan kapan pun dan dimana pun. Dzikir dilakukan dengan mengulang-ulangi kalimat pujian mengagungkan nama Allah SWT. Bukan hanya sebagai ibadah, ternyata dzikir mampu meeningkatkan kinerja otak kita. Hal ini terbukti secara melalui sebuah penelitian di Universitas Washington di mana tes ini dilakukan melalui tes pemindaian PET yang mengukur tingkat aktivitas otak manusia secara tidak sadar.

Dalam penelitian ini, relawan diberikan suatu daftar benda. Mereka diminta membaca daftar tersebut dan mengaitkan kata itu dengan kata kerja yang berkaitan. Ketika sukarelawan melakukan tugas mereka, beberapa bagian berbeda otak menunjukkan peningkatan akitivitas saraf termasuk di bagian depan otak dan korteks.

Menariknya, ketika relawan mengulangi daftar kata yang sama berulang-ulang kali, aktivitas saraf otak akan ikut mengaktifkan area saraf lain. Bila daftar kata baru diberikan kepada mereka, aktivitas saraf kembali meningkat di area pertama. Penelitian ini membuktikan bahwa ibadah seperti dzikir  terbukti mampu meningkatkan kecerdasan otak.

  1. Silaturahmi

Islam bukan hanya mengajarkan tentang hubungan antara manusia dengan Allah, tapi juga manusia dengan manusia. Silaturahmi dalam Islam memiliki manfaat memberikan umur panjang dan mendatangkan rezeki, dan hal ini juga terbukti secara ilmiah.

Para peneliti percaya bahwa memiliki kehidupan sosial yang baik mampu mengurangi resiko penyakit Alzheimer hingga 70%, bahkan berdasarkan penelitian terbaru oleh para ilmuwan dari Universitas Brigham Young, silaturahmi dapat meningkatkan peluang hidup lebih lama hingga 50%.

Demikianlah artikel mengenai 10 penerapan kebenaran pragmatis dalam ajaran Islam yang singkat ini. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua dan semakin membuat kita bersyukur telah menjadi seorang Muslim yang memiliki ajaran yang sempurna.

20 Sifat Sifat Allah dan Artinya Lengkap

Sebagai umat islam, sudah tentu kita harus mempelajari tentang ilmu ketauhidan. Hal-hal yang berkaitan dengan rukun iman, rukun Islam, dan Iman dalam Islam. Selain itu juga harus mengetahui sifat-sifat Allah Ta’ala. Menurut ulama, sifat wajib Allah Ta’ala sebernarnya sangatlah banyak sebab Allah Maha Sempurna. Namun berdasarkan dalil-dalil (baik dalil naqli atau ‘aqli), sifat yang diketahui secara umum berjumlah 20 sifat.

Nah, berikut ini sifat-sifat Allah dan artinya:

  1. Wujud = Ada

Sifat Allah Ta’ala yang pertama adalah wujud yang berarti Ada. Maksudnya Allah itu zat yang pasti ada. Dia berdiri sendiri, tidak diciptakan oleh siapapun. Dan tidak ada Tuhan selain Allah Ta’ala.

Bukti adanya Allah adalah terciptanya alam semesta dan juga makhluk hidup. Hal ini juga dijelaskan dalam ayat-ayat di Al-Quran:

“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at 1190. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. As-Sajdah: 4)

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku“. (QS. Thaha: 14)

  1. Qidam = Terdahulu

Allah Ta’ala juga memiliki sifat Qidam yang berarti terdahulu. Dialah Sang Pencipta yang menciptakan alam semesta berserta isinya. Sebagai pencipta tentunya Allah telah ada lebih dahulu dari apapun yang diciptakannya. Tidak ada pendahulu atau permulaan bagi Allah Ta’ala.

Dalam Al-Quran dijelaskan:

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.Al-Hadid: 3)

  1. Baqa’ = Kekal

Baqa’ berarti kekal. Maksudnya Allah itu Maha Kekal. Tidak akan punah, binasa ataupun mati. Tiada akhir bagi Allah Ta’ala. Dia akan tetap ada selamanya. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran:

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26-27)

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNya-lah segala penentuan, dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Qasas: 88)

  1. Mukholafatul Lilhawaditsi = Berbeda dengan makhluk ciptaanNya

Allah Ta’ala sudah pasti berbeda dari makhluk ciptaanNya. Dialah dzat yang Maha Sempurna dan Maha Besar. Tidak ada sesuatu pun yang menandingi atau menyerupai keagunganNya. Ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran:

Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 4)

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.”. (QS. Asy-Syura: 11)

[AdSense-B]

  1. Qiyamuhu Binafsihi = Berdiri sendiri

Allah itu berdiri sendiri. Allah Ta’ala tidak bergantung pada apapun dan tidak membutuhkan bantuan siapapun.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.” (QS. Al-Ankabut: 6)

Dan katakanlah segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isra: 111)

  1. Wahdaniyah = Esa/Tunggal

Allah itu maha Esa atau Tunggal. Maksudnya Tidak ada sekutu bagiNya . Dialah satu-satunya Tuhan pencipta alam semesta. Bukti keesakan Allah terletak dalam kalimat syahadat “Laa ilaha Illallah” yang artinya “ Tiada Tuhan selain Allah”

Dijelaskan juga dalam FirmanNya di Al-Quran:

Katakanlah Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1)

Sekiranya ada di langit dan di bumi Tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiya: 22)

  1. Qudrat = Berkuasa

Qudrat berarti Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang bisa menandingi kekuasaan Allah Ta’ala. Dijelaskan dalam Al-Quran:

Sesungguhnya Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 20)

  1. Iradat = Berkehendak

Iradat adalah sifat Allah Ta’ala yang berarti berkehendak. Maksudnya Allah itu maka menentukan segala sesuatu. Apabila Allah berkehendak maka jadilah hal itu dan tidak seorang pun mampu mencegahNya.

“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” (QS. Hud: 107)

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.”(QS. Yasiin: 82)

  1. ‘Ilmun = Mengetahui

‘ilmun artinya mengetahui. Maksudnya Allah Ta’ala Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Baik yang tampak ataupun disembunyikan. Dalam Al-Quran dijelasakan:

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16)

  1. Hayat = Hidup

Allah Ta’ala Maha Hidup. Tidak akan prnah mati, binasa ataupun musnah. Dia kekal selama-lamanya. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran:

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya.” (QS. Al-Furqon: 58)

[AdSense-A]

  1. Sama’ = Mendengar

Allah Maha Mendengar. Baik yang diucapkan ataupun yang disembunyikan dalam hati, Allah mengetahui. Pendengaran Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu. Sebagaimana firmanNya dalam Al-Quran:

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(Asy-syuro: 11)

Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 76)

  1. Bashar = Melihat

Bashar artinya melihat. Maksudnya Allah itu Maha Melihat segala sesuatu. Pengelihatan Allah tidak terbatas, Dia mengetahui apa-apa yang terjadi di dunia ini. Walaupun hanya sehelai daun yang jatuh.

Dan Allah Maha Melihat atas apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hujarat: 18)

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 265)

  1. Kalam = Berfirman

Allah itu berfirman. Dia bisa berbicara atau berkata-kata secara sempurna tanpa bantuan dari apapun. Terbukti dari adanya firmanNya dalam kitab-kitab yang diturunkan lewat para nabi. Salah satu Nabi yang pernah berbicara langsung dengan Allah Ta’ala adalah Nabi Musa ‘alaihissalam. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran:

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya.”  (QS. Al-A’raf: 143)

Dan ada beberapa rasul yang telah Kami kisahkan mereka kepadamu sebelumnya, dan ada beberapa rasul (lain) yang tidak Kami kisahkan mereka kepadamu. Dan kepada Musa Allah ‘telah berfirman secara langsung.” (QS. An-Nisa’: 164)

  1. Qadiran = Berkuasa

Qadiran berarti berkuasa. Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran:

Hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali sinaran itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 20)

  1. Muridan = Berkehendak

Allah Maha Berkendak atas segala sesuatu. Bila Allah sudah menakdirkan suatu perkara maka tidak ada yang bisa menolak kehendakNya. Dalam Al-Qran dijelaskan:

“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” (QS.Hud: 107)

  1. ‘Aliman = Mengetahui

Allah Maha mengetahui segala sesuatu, baik yang ditampakkan ataupun disembunyikan. Tidak ada yang bisa menandangi pengetahuan Allah yang Maha Esa.

  1. Hayyan = Hidup

Hayyan berarti hidup. Allah Maha hidup. Tidak mungkin bagi Allah Ta’ala untuk binasa. Dia selalu mengawasi hamba-hambaNya, tidak pernah lengah ataupun tidur.

Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup, yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Furqon: 58)

  1. Sami’an = Mendengar

Sami’an juga berarti mendengar. Allah itu Maha pendengar. Tidak ada yang terlewatkan bagi Allah dan tidak ada pula yang melampui pendengaranNya.

  1. Bashiran = Melihat

Bashiran juga berarti melihat. Pengelihatan Allah meliputi segala hal, baik yang diterlihat ataupun yang disembunyikan.

  1. Mutakalliman = Berfirman atau Berkata-kata

Sama halnya dengan kalam, mutakalliman juga berarti Allah itu berfirman. Firman Allah terwujud dalam kitab-kitab suci yang diturunkanNya lewat para nabi. Firman Allah begitu sempurna dan tidak ada yang menandingi.

Demikianlah penjelasan tentang sifat-sifat Allah dan artinya.Anda juga bisa mempelajari sifat mustahil bagi Allah dan artinya.

Semoga dengan mengetahui tentang sifa-sifat Allah dan 99 asmaul husnabisa menjadi cara meningkatkan iman dan taqwa. Selain itu kita juga wajib mengamalkan Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan dan Hubungan Akhlak dengan Iman sebagai bentuk cara bersyukur menurut islam. Amin ya Rabbal Alamin.

20 Sifat Mustahil Bagi Allah Beserta Artinya

Setelah mengetahui sifa-sifat Allah dan 99 asmaul husnah, ada baiknya kita juga mempelajari sifat mustahil bagi Allah. Sifat mustahil ini adalah kebalikan dari sifat wajib. Maksudnya sifat yang tidak mungkin dimiliki oleh Allah Azza wa jalla yang Maha Sempurna.

Nah tanpa basa-basi lagi, berikut sifat-sifat mustahil bagi Allah beserta artinya menurut dalil agama.

  1. Adam = Tiada

Sifat mustahil yang pertama adalah Adam yang berarti tiada. Sifat ini kebalikan dari wujud yang artinya ada.

Dalil naqli yang menunjukkan adanya Allah Ta’ala, yakni:

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy . Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”(QS.Al-Araf : 54)

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan, menjelaskan tanda-tanda , supaya kamu meyakini pertemuan dengan Tuhanmu.” (QS. Ar-Ra’d : 2)

  1. Huduts = Ada yang mendahului

Hudust berarti ada yang mendahului, merupakan lawan kata dari qidam. Tidak mungkin ada yang mendahului keberadaan Allah Azza wa Jalla. Dialah yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Tentunya Pencipta sudah pasti lebih dahulu dari apa-apa yang diciptakanNya.

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.Al-Hadid: 3)

  1. Fana = Musnah

Allah Ta’ala tidak mungkin musnah. Sebaliknya, Dia bersifat kekal selama-lamanya. Dijelaskan dalam Al-Quran:

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26-27)

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. BagiNya-lah segala penentuan, dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Qasas: 88)

  1. Mumatsalatu lil hawaditsi = Ada yang menyamai

Allah Ta’ala adalah dzat yang menciptakan segala sesuatu di bumi dan alam semesta. Dialah yang Maha Agung. Tidak mungkin ada sesuatu yang menyamai atau menandingiNya. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran:

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.”. (QS. Asy-Syura: 11)

  1. Ihtiyaju lighairihi = Memerlukan yang lain

Allah Ta’ala tidak memerlukan yang lain. Dia mampu mewujudkan dan mengatur segalanya secara sempurna tanpa bergantung pada siapapun. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran:

Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.” (QS. Al-Ankabut: 6)

Dan katakanlah segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isra: 111)

[AdSense-B]

  1. Ta’adud = Berbilang

Ta’adud adalah kebalikan dari wahdaniyah yang berarti tunggal. Allah itu Maha Esa. Tidak mungkin berbilang atau berjumlah lebih dari satu. Allah Ta’ala tidak memiliki sekutu, tidak beranak dan tidak diperanakan. Bukti keesaan Allah tertuang dalam kalimat syahadat dan juga ayat Al-Quran yang artinya:

Katakanlah ‘Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.’” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Sekiranya ada di langit dan di bumi Tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiya: 22)

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Maha Pemuurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)

  1. Ajzun = Lemah

Ajzun berarti lemah, merupakan lawan kata dari dari qudrat yang artinya berkuasa. Jadi Allah tidak mungkin bersifat lemah. Sebaliknya Allah Azza wa Jalla Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang bisa melampui kekuasaan Allah Ta’ala.

Dalam Al-Quran dijelaskan:

Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (QS.Al Baqarah: 20)

  1. Karahah = Terpaksa

Allah tidak memiliki sifat terpaksa. Sebaliknya Allah Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Tidak ada yang bisa melawan ataupun menandingi kehendak dari Allah Ta’ala.  Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran:

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS. Yasiin: 82)

“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.”(QS. Hud: 107)

  1. Jahlun = Bodoh

Mustahil bagi Allah Ta’ala bersifat bodoh. Dia menciptakan alam semesta dengan segala isinya begitu sempurna. Dia tidak membutuhkan bantuan siapapun. Dan dialah yang Maha Kaya lagi Maha Mengetahui.

  1. Mautun = Mati

Allah tidak akan mati. Dia bersifat kekal. Terus-menerus mengurus makhluknya Tanpa tidur dan tidak letih sedikitpun. Dijelaskan dalam Al-Quran:

Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya.” (QS. Al-Furqon: 58)

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah: 255)

[AdSense-A]

  1. Shamamun = Tuli

Mustahil Allah bersifat Tuli. Allah Ta’ala adalah Tuhan yang Maha Mendengar. Pendengaran Allah meliputi segala sesuatu.
“Katakanlah cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi.” (Al-Ankabut : 52).

  1. Ama = Buta

Allah Ta’ala juga tidak buta. Dia Maha Melihat Segala Sesuatu. Tak ada satu hal pun yang luput dari pengelihatanNya.

Dan Allah Maha Melihat atas apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hujarat: 18)

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS.Asy-syuro: 11)

  1. Bakamun =Bisu

Allah Ta’ala tidaklah Bisu. Allah berkata dan berfirman dengan sangat sempurna. Tak ada bisa mengalahkan keindahan firman Allah Ta’ala. Dan salah satu Nabi yang pernah berbicara langsung dengan Allah adalah Nabi Musa.

Dan ada beberapa rasul yang telah Kami kisahkan mereka kepadamu sebelumnya, dan ada beberapa rasul (lain) yang tidak Kami kisahkan mereka kepadamu. Dan kepada Musa Allah ‘telah berfirman secara langsung.” (QS. An-Nisa’: 164)

  1. Kaunuhu ‘ajiyan = Zat yang lemah

Mustahil Allah bersifat lemah. Allah Ta’ala adalah pencipta alam semesta dan segala isisnya. Dia Maha Kuasa atas semua hal.

Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah 109)

  1. Kaunuhu karihan = Zat yang terpaksa

Allah Ta’ala bukanlah dzat yang terpaksa. Dia Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Hanya berfirman “kun fa yakun” maka jadilah apa yang dikehendaki oleh Nya.

“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” (QS.Hud: 107)

  1. Kaunuhu jahilan = Zat yang sangat bodoh

Mustahil Allah adalah dzat yang bodoh. Allah Maha Mengetahui dan Melihat apa-apa yang ditampakkan atau disembunyikan.

  1. Mayyitan = Zat yang mati

Allah tidak mati. Allah bersifat kekal, tidak musnah dan tidak binasa. Dia tidak pernah tidur. Selalu mengawasi hamba-hambaNya setiap saat.

[AdSense-C]

  1. Kaunuhu ashamma = Zat yang tuli

Mustahil Allah bersifat tuli. Allah adalah Tuhan yang Maha Mendengar. Pendengaran Allah tak terbatas dan meliputi segala sesuatu.

  1. Kaunuhu ‘ama = Zat yang buta

Allah Maha Melihat, tidaklah buta. Dia Maha Sempurna dengan seluruh keagunganNya.

  1. Kaunuhu abkama = Zat yang bisu

Allah bukanlah dzat yang bisu. Allh berfirman dan firmanNya tertuang dalam kitab-kitab suci yang diturunkan lewat para nabi.

Demikianlah sifat-sifat mustahil bagi Allah beserta artinya. Semoga dengan mengetahui info ini bisa menambah keyakinan kita akan kebesaran Allah Ta’ala sehingga bisa menjadi cara meningkatkan iman dan taqwa. Selian itu kita juga wajib mengamalkan rukun iman, rukun islam, Iman dalam Islam, Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, dan Hubungan Akhlak dengan Iman sebagai bentuk cara bersyukur menurut islam. Amin ya Rabbal Alamin.

30 Kasih Sayang Allah Kepada HambaNya

Di dunia ini tidak ada kasih sayang terindah yang melebihi kasih sayang Allah kepada Hamba-Nya. Namun sayangnya, manusia terkadang sering lupa. Tak jarang seseorang memberikan cinta berlebihan kepada pasangannya atau bahkan “pacar” yang jelas-jelas dalam islam dilarang. Padahal hukum pacaran dalam islam adalah dosa. Sedihnya lagi, apabila cinta tersebut ditolak ada yang memilih jalan bunuh diri. Naudzubillah mindzalik.

Kita sebagai manusia terkadang juga sering lupa untuk bersyukur. Saat diberikan kesenangan kita menjadi sombong. Dan ketika ditimpa musibah malah menyalahkan Allah Ta’ala. Padahal jika kita mampu memahami sebenarnya Allah itu sangat mencintai kita loh. Nah, berikut ini beberapa bukti kasih sayang Allah kepada HambaNya:

  1. Diberikan Kehidupan

Bentuk kasih sayang Allah kepada hambaNya yang paling utama yakni Dia memberikan kehidupan. Ya, hidup itu anugerah loh! Dengan hidup maka kita bisa menikmati dunia, kita juga punya kesempatan masuk surga. Dan Allah menciptkana kita sebagai manusia dengan bentuk yang sangat sempurna. Semua itu patut disyukuri.

Dalam Al-Quran, Allah Ta’ala berfirman:

Sungguh kami ciptakan manusia itu pada perwujudan yang lebih baik. Kemudian kami tempatkan dia kepada kerendahan yang lebih rendah. Kecuali orang-orang beriman dan beramal shaleh, maka untuk mereka upah yang terhingga.” (QS At-Tin: 4-6).

  1. Meninggikan Derajat Orang Beriman

Cara meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT bisa dengan memperdalam ilmu agama. Bagi orang-orang yang beriman dan juga bertakwa maka Allah akan meninggikan derajatnya diantara yang lain. Sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, berilah kelapangan di dalam majelis-majelis, maka lapangkanlah. Niscaya Allah Swt. akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, berdirilah kamu, maka berdirilah. Niscaya Allah Swt. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Swt. Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujarat: 13).

  1. Menjamin Rezeki Manusia

Allah Ta’ala telah menjamin rezeki setiap makhluk di bumi. Bahkan hewan melata sekalipun. Coba deh pikirkan, kita bisa menghirup oksigen tanpa harus bayar. Kita bisa bertahan hidup hingga dewasa. Itu semua berkat Allah yang memang menghendaki rezeki bagi kita. Kalau kita mendapatkan harta itu bukan hanya atas usaha kita saja ya. Tapi karena ada campur tangan Allah. Maka itu, kita sebagai manusia tidak boleh sombong.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak cucu Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk-mahluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’: 70).

  1. Memberikan Kenikmatan Dunia

Terkadang manusia terlalu fokus dengan cobaan dan beban hidup. Sehingga lupa untuk bersyukur terhadap nikmat yang telah dimiliki. Padahal jika kita mampu berpikir sesungguhnya nikmat yang diberikan Allah itu banyak loh. Termasuk nikmat waktu dan sehat.

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An Nahl: 18)

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”  (Qs. An Nahl: 114).

Dari Ibnu Abbas, dia berkata Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. (HR Bukhari)

[AdSense-B]

  1. Mengampuni Dosa Hamba-Nya

Apabila kita berbuat salah kepada manusia, mungkin orang itu masih sulit memaafkan kita. Sebab manusia memang suka menyimpan dendam. Berbeda dengan Allah Ta’ala, Dialah dzat yang Maha memaafkan segala dosa-dosa hamba-Nya.

Katakanlah hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

  1. Selalu Membuka Pintu Taubat

Allah juga selalu membuka pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya yang berdosa. Selama kita masih hidup, pintu itu akan selalu terbuka hingga ajal menjemput. Sedangkan syarat-syarat taubat agar diterima adalah dengan taubatan nasuha, shalat taubat dan sebagainya.

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar bertaubat orang yang berbuat jahat di siang hari dan Dia membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar bertaubat orang yang berbuat jahat di malam  hari, sehingga matahari terbit dari barat (Kiamat).” (HR. Muslim).

Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya?” (QS. At Taubah: 104).

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 110).

  1. Jika Allah Mencintai Hamba, Makluk Langit dan Bumi Juga Mencintai

Apa sih yang lebih menyenangkan dari dicintai oleh Alllah Ta’ala? Saat Allah mencintai hamba-Nya, maka Ia akan memerintahkan kepada penghuni langit dan bumi untuk mencintai hamba-Nya juga.

Kalau Allah SWT mencintai seorang hamba, maka beliau memanggil Jibril. “Wahai Jibril! Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia. Lalu Jibril memanggil penghuni langit. “Wahai penghuni langit! Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia. Lalu penghuni bumipun mencintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Tidak Menyegerakan Azab

Kebaikan Allah berikutnya adalah Dia tidak menyegerakan azab kepada hamba-hambaNya yang berdosa. Mengapa demikian? Karena Allah senantiasa memberikan kesempatan untuk bertaubat. Tapi sayang, terkadang kita terlena dengan kesempatan tersebut dan justru menjadikannya sebagai waktu untuk bermaksiat. Naudzubillah Mindzalik.

“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (QS.Al-Fathir:45)

“Jika Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan- Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukannya.” (QS. An-Nahl:61).

  1. Menjaga Manusia Setiap Saat

Allah Ta’ala tidak pernah tidur. Dia senantiasa menjaga dan mengurus hamba-hambaNya di pagi dan malam hari. Maka itu, jangan pernah merasa sendirian. Sebab Allah Ta’ala selalu ada bersama kita. Allah itu dekat. Hanya saja pengelihatan kita tidak mampu menjangkaunya.

Allah tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah: 255)

  1. Membalas Kebaikan dengan Berlipat Ganda Pahala

Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)”. (QS.Al-An’am:160)

[AdSense-A]

11. Menjanjikan Kemudahan dibalik Kesulitan

Setiap cobaan yang menimpa seseorang tidaklah terjadi tanpa arti. Melainkan Allah Ta’ala menjanjikan kemudahan sesudahnya. Kita hanya perlu bersabar dan ikhlas.

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah: 4-5)

  1. Menjadikan Waktu Malam untuk Tidur

Mungkin banyak dari kita tak menyadari bahwa tidur itu nikmat yang luar biasa loh. Seseorang yang memiliki masalah insomnia biasanya juga bermasalah dengan kesehatannya. Dan tentu saja, insomnia itu sangat menganggu kenyamanan. Maka itu bagi kita yang bisa tidur dengan nyenyak haruslah bersyukur kepada Allah Ta’ala.

“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (QS. Al Qashas : 73 )

  1. Mengabulkan Doa

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Gafir: 60)

  1. Jika Allah Menolong Hambanya, Maka Tidak Ada yang Bisa Mengalahkan

“Jika Allah menolong kamu, maka tidsak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu selain itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (QS: Al Imran:160)

  1. Menjanjikan Surga

Surga adalah nikmat yang sangat luar biasa yang dijanjikan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Andai saja kita tahu betapa indahnya hidup di surga maka sudah tentulah kita akan menangis terharu atas kasih sayang yang diberikan Allah Ta’ala. Allah itu Maha Baik. Ada banyak sekali ayat al-quran yang menggambarkan kenikmatan di surga. Beberapa diantaranya:

  • Para penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya, dan paling indah tempat istirahatnya.” (QS. Al-Furqon: 24)
  • Dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, serta kasur-kasur yang tebal lagi empuk.” (QS. Al-Waqi’ah: 32—34)
  • Mereka selalu dikelilingi anak-anak muda yang selalu siap melayani mereka. Rupa mereka seakan-akan mutiara yang tersimpan.” (QS.Ath-Thur: 24)
  • Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani- permadani yang indah.” (QS. Ar-Rohman: 74-76)
  • Mereka mengenakan pakaian berwarna hijau yang terbuat dari sutra halus dan sutra tebal.” (QS. Al-Kahfi: 31)
  • Mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.” (QS. Al- Furqon: 16)

Bentuk Lainnya

Bentuk Kasih Sayang Allah Kepada Hamba-Nya yang lain:

  1. Diberikannya kesehatan tubuh
  2. Manusia diberikan akal dan pikiran, serta hati nurani
  3. Allah menumbuhkan rasa cinta di hati manusia
  4. Adanya indra pengelihatan yang bisa digunakan untuk menikmati pemandangan dunia
  5. Telinga untuk mendengar lantunan Al-Quran
  6. Indra penciuman untuk merasakan aroma wewangian
  7. Tangan untuk memegang dan kaki untuk berjalan
  8. Nikmat iman yang diteguhkan dalam hati hingga akhir hayat
  9. Nikmat menjadi orang muslim
  10. Makan dan minum
  11. Nikmat hujan yang menyuburkan tanaman dan memberikan suasana damai
  12. Nikmat matahari yang memberikan suasana hangat
  13. Allah menciptakan dunia dengan suhu yang sesuai (tidak terlalu panas ataupun dingin)
  14. Allah melindungi manusia dari kejahatan, apabila ia mau berdoa
  15. Allah Maha adil, apapun yang dilakukan manusia di dunia pasti akan ada balasannya. Pasti!

Demikianlah bentuk-bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya. Semoga kita bisa menjadi seseorang yang taat dan patuh kepada Allah, mengamalkan rukun iman, rukun islam, Iman dalam Islam, Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, dan Hubungan Akhlak dengan Iman. Sehingga kelak mendapatkan tempat terindah di akhirat. Amin ya Rabbal Alamin.

Bulan Safar Menurut Islam – Mitos dan Dalilnya

Bulan Safar adalah bulan kedua dalam penanggalan Hijriyah yakni bulan sesudah Muharram menurut kalendar Islam atu Hijriyah dari tahun Qamariyah  atau perkiraan bulan mengelilingi bumi. Jika dilihat secara etimologi, Safar dalam bahasa Arab berarti kosong, kuning dan nama dari penyakit. Berikut ini penjelasan tentang Bulan Safar menurut Islam.

Pemikiran Arab Jahiliyah

Bulan ini dinamakan bulan Safar dalam arti kosong sebab menjadi kebiasaan dari orang Arab pada jaman dulu yang meninggalkan rumah mereka sehingga menjadi kosong pada bulan tersebut dalam artian menunjukkan arti yang negatif dan inilah yang akhirnya memberikan arti jika bulan Safar adalah bulan yang harus diwaspadai karena memiliki banyak kesialan.

Ada juga yang mengatakan jika Safar diambil dari nama penyakit seperti yang juga diyakini orang Arab jahiliyah di masa lampau yakni penyakit safar yang ada di perut sehingga akan membuat seseorang menjadi sakit karena terdapat ulat besar yang sangat berbahaya. Sadar juga dinyatakan sebagai jenis angin berhawa panas yang terjadi pada perut serta banyak pengartian lainnya dari kata Safar tersebut.

Pendapat yang menyatakan jika bulan Safar adalah bulan sial dan tidak baik untuk mengadakan sebuah acara penting merupakan khufarat atau tahayul dan mitos. Khurafat adalah bentuk penyimpangan dalam akidah Islam. Beberapa keyakinan dalam hal ini meliputi beberapa larangan seperti melakukan pernikahan, khitan dan berbagai perbuatan lain yang apabila dilakukan akan menimbulkan musibah atau kesialan.

Pemikiran ini terus saja berkembang dari setiap generasi bahkan hingga sekarang yang dianggap sebagai bulan tidak menguntungkan. Mitos akan hal ini sebenarnya sudah dibantah oleh Rasulullah SAW yang bersabda jika bulan Safar bukanlah bulan yang sial dan sudah jelas tidak masuk dalam dasar hukum Islam.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa” (HR. Bukhari)

Beranggapan sial pada bulan Safar ini masuk kedalam jenis tathayyur yang dilarang dan masuk ke dalam jenis amalan jahiliyyah yang sudah dibatalkan atau dihapus dalam Islam dan ini menjadi kebiasaan dari jahiliyyah sebab pada dasarnya, pada bulan ini juga terdapat keutamaan bulan Shafar seperti pada bulan bulan lainnya yakni keutamaan bulan Muharram, keutamaan bulan Dzulhijjah, keutamaan bulan Rabiul akhir dan sebagainya.

Bulan Safar Dalam Islam

Pada dasarnya, bulan Safar juga terdapat kebaikan serta keburukan seperti halnya bulan yang lain. Kebaikan yang ada hanya semata mata datang dari Allah dan keburukan  terjadi karena taqdir-Nya.

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda, “Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah, tidak ada kesialan karena burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan Shafar.” [HR. Al-Bukhari 5437, Muslim 2220, Abu Dawud 3911, Ahmad (II/327)]

Selain itu, kepercayaan, mitos atau tahayul juga sudah secara tegas dibantah oleh Rasulullah SAW. Dari Abu Hurairah r.a., Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada penyakit menular (yang berlaku tanpa izin Allah), tidak ada buruk sangka pada sesuatu kejadian, tidak ada malang pada burung hantu, dan tidak ada bala (bencana) pada bulan Safar (seperti yang dipercayai).”

[AdSense-B]

Akan tetapi pada kenyataannya, masih banyak umat muslim yang percaya jika bulan Safar adalah bulan bencana yang bisa memberikan banyak keburukan meskipun sudah dibantah dengan tegas oleh Rasulullah SAW. Sebuah keyakinan inilah yang dapat menjerumuskan seseorang pada jurang kemusyrikan.

Sial, naas ataupun bala bisa terjadi kapan saja dan tidak hanya sebatas bulan Safar saja. Allah SWT menegaskan, “Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51 ).

Tidak terdapat amalan istimewa yang dikhususkan untuk dirayakan pada bulan Safar dan amalan yang ada dalam bulan Safar juga sama dengan bulan lainnya. Kepercayaan tentang keburukan pada sebuah hari, bulan atau pun tempat hanyalah kepercayaan jahiliyyah sebelum datangnya Islam.

Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang atau hewan hala menurut Islam, binatang haram dalam Islam, binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa” (HR. Bukhari).

Keyakinan Syirik Bertentangan Dengan Islam

[AdSense-A] Awal dari kesyirikan yang beranggapan jika ada hari dan bulan yang baik dan buruk berasal dari adat jahiliyyah yang diterima dari tukang sihir atau kahin dan bulan Safar menjadi salah satu bulan yang dimasukkan ke dalam jenis bulan penuh petaka.

  • Masyarakat Arab jahiliyyah beranggapan jika bulan Safar merupakan bulan penuh sial. ( Shahih Bukhari no. 2380 dan Abu Dawud no. 3915 ).
  • Masyarakat Arab jahiliyyah meyakini jika ada penyakit cacing atau ular dalam perut yang dinamakan safar dan akan berontak saat lapar sekaligus membunuh penderitanya yang juga diyakini lebih menular dari Jarab atau penyakit gatal. ( Shaih Muslim : 1742, Ibnu Majah : 3539 )
  • Keyakinan masyarakat Arab Jahiliyah bahwa pada bulan shafar tahun sekarang diharamkan untuk berperang dan pada shafrar tahun berikutnya boleh berperang. ( Abu Dawud : 3913, 3914 ).
  • Sebagian dari mereka beranggapan jika umrah di bulan haji termasuk bulan Muharram atau Safar awal merupakan kejahatan terburuk di dunia. ( Bukhari no. 1489, Muslim : 1240, 1679 ).
  • Sebagian orang di india yakni jika tiga belas hari pertama pada bulan Safar merupakan hari naas yang terdapat banyak bala. ( Ad-Dahlawi, Risalah Tauhid )
  • Sebagian umat Islam Indonesia pada setiap tahun lebih tepatnya hari Rebo wekasan Allah menurunkan tiga ratus dua puluh malapetaka atau bencana. ( Al-Buni dalam Kitab Al-Firdaus serta Faridudin dalam Kitab Awradu Khawajah dan tokoh-tokoh sufi lainnya ).

Pada hari Rebo wekasan ini juga diyakini tidak diperbolehkan melakukan kegiatan yang penting seperti perjalanan jauh, pernikahan, berdagang dan sebagainya. Jika masih dilakukan, maka akan mendapat kesialan.

Meski banyak komentar negatif terhadap bulan Safar, namun sumber pokok ajaran Islam sendiri tidak mengenal adanya hari atau bulan celaka, sial, naas, malang, buruk dan sejenisnya dan yang ada hanyalah setiap hari dan setiap bulan adalah baik. Jika kesialan terjadi, maka itu adalah takdir dan tidak berhubungan dengan bulan yang tidak baik.

Peristiwa Bulan Safar Dalam Kehidupan Rasulullah SAW

Ibnu Qoyyim mengatakan, “Kemudian beliau berperang sendiri dalm perang ‘Abwan’ atau dikenal dengan ‘Waddan’ yaitu perang yang pertama kali beliau ikut berperang sendiri. Terjadi pada bulan Shafar dua belas bulan dari peristiwa hijrah. Yang membawa bendera perang adalah Hamzah bin Abdul Mutholib dan berwarna putih. Yang menggantikan di Madinah adalah Sa’ad bin Ubadah. Orang-orang Muhajirin keluar khusus untuk menghadang barang dagangan Quraisy. Mereka tidak mendapatkan tipu daya.

Beliau juga berkata, “Ketika bulan Shafar (tahun ketiga Hijriyah). Kaum ‘Adhol dan Qorah’ datang, mereka menyebutkan di dalam (kaum) mereka ada yang masuk Islam. Sehingga mereka meminta agar diutus bersama mereka orang yang mengajarkan agama dan membacakan Qur’an sehingga bisa mengetahui cara cepat membaca Alquran. Sehingga diutus bersama mereka enam orang –menurut pendapat Ibnu Ishaq, sementara Bukhori mengatakan, “Mereka ada sepuluh, diangkat jadi pemimpinnya adalah Martsad bin Abi Martsad Al-Gonawi. Di dalamnya juga ada Khubaib bin Ady. Mereka pergi bersamanya, ketika sampai di Roji’ –yaitu mata air kepunyaan Huzail kea rah Hijaz- mereka berkhianat. Mereka minta tolong suku Huzail lalu mereka datang mengepungnya. Maka para sahabat hampir semuanya dibunuh sedangkan  Khubaib bin Ady dan Zaid bin Datsinah ditawan.  Keduanya dibawa dan dijual di Mekkah yang merupakan tempat bersejarah Islam dan keduanya pernah membunuh pembesar (Mekkah) waktu perang Badar. (Zadul Ma’ad, 3/244).

Ibnu Qoyyi berkata, “Sesungguhnya beliau berangkat (maksudnya ke Khaibar) di akhir bulan Muharam bukan di awalnya dan ditaklukkan pada bulan Shafar.” (Zadul Ma’ad, 3/339-340).

Beliau mengatakan, “Ada utasan dari ‘Uzrah’ datang menghadap Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam pada bulan Shafar tahun kesembilan. Ada duabelas orang di antaranya ada Hamzah bin Nukman dan Rasulullah bertanya, “Siapa kaum ini? Juru bicaranya menjawab, “Orang yang tidak anda ingkari, kami dari Bani Uzrah. Saudara Qusay dari ibunya. Kami yang membantu Qusay, dan menolong dari daerah Mekkah kabilah Khuza’ah dan Bani Bakr. Kami mempunyai kerabat dan keluarga. Rasulullah mengatakan, “Selamat datang dan silahkan. Saya tidak mengetahui kalian. Kemudian mereka masuk Islam atau menjadi mualaf. Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam memberi kabar gembira dengan ditaklukkannya Syam, Heraklius kabur dari negaranya . Rasulullah juga melarang mereka meminta ke dukun, dan memakan sembelihan yang mereka sembelih. Beliau juga memberitahu kepada mereka bahwa tidak ada perintah qurban dan aqiqah (untuk menyembelih) untuk mereka selain berkurban. Mereka berdiam diri beberapa hari di Dar Ramlah kemudian mereka pulang setelah diberi izin.”  (Zadul Ma’ad, 3/657).

17 Manfaat Mempelajari Ushul Fiqh dalam Islam

Secara bahasa, ushul fiqh berasal dari 2 kata yakni Al-ushuul dan Al-fiqh. Al-ushuul merupakan kalimat jamak dari al-ashl yang berarti asas atau dasar. Sedangakan Al-fiqh adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hukum islam berdasarkan dalil-dalil yang syar’i. Apabila digabungkan, maka ushul fiqih merupakan dasar yang digunakan untuk merumuskan hukum islam dalam masyarakat. Atau singkat kata, ushul fiqih berarti asal-usul ilmu fiqih.

Para ulama sendiri menjelaskan ushul fiqh dengan bermacam-macam definisi. Menurut Al-Baidlawi, ushul fiqh berarti ilmu yang mempelajari tentang dalil-dalil fiqh secara global, kemudian bagaimana cara menggunakan dalil itu untuk berijtihad, dan apa saja syarat untuk menjadi mujtahid.

Sedangkan Abdul Wahab Khalaf berpendapat bahwa ushul fiqh merupakan ilmu tentang kaidah-kaidah islam yang digunakan untuk menentukan hukum syara’ amaliyah dengan didasarkan pada dalil-dalil syar’i.

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa terdapat 4 hal yang bisa digunakan sebagai sumber hukum fiqih, diantaranya yaitu:

  1. Al-quran
  2. Al-hadist
  3. Ijma’
  4. Qiyas

Mempelajari ushul fiqh tentu sangatlah penting bagi umat muslim. Dengan mengetahui seluk-beluk ushul fiqih, kita bisa memahami ilmu agama lebih luas serta mampu membedakan mana dalil-dalil yang kuat dan lemah.

Baca juga:

Nah, berikut ini beberapa manfaat mempelajari ushul fiqih yang paling utama.

  1. Menjadi pondasi dalam berijtihad

Ilmu ushul fiqh merupakan dasar yang digunakan para ulama dalam berijtihad. Yakni memutuskan hukum syara’ atau perkara-perkara yang tidak ada dalilnya dalam Al-quran dan Al-hadist. Tentunya dalam berijtihad tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Sebab nantinya hasil ijtihad ini akan digunakan oleh masyarakat sebagai landasan hukum.

Seseorang yang ahli ushul fiqih biasanya memiliki wawasan luas tentang tafsir Al-quran. Perbedaan hadist shahih, hasan dan dhaif, serta dalil-dalil yang benar menurut agama. Dengan demikian, pembentukan hukum islam bisa lebih mendekati kebenaran.

  1. Memperluas wawasan tentang islam

Manfaat mempelajari ilmu ushul fiqh yang pertama adalah untuk memperluas wawasan tentang islam yang berkenaan dengan hukum-hukum syariat. Dengan demikian, apabila ada perkara tertentu maka kita bisa mencari dalil-dalil yang benar.

Baca juga:

[AdSense-B]

  1. Menerapkan kaidah islam secara benar

Pada dasarnya, hukum ilmu fiqih bersumber pada Al-quran, hadist, ijma’ dan qiyas. Seseorang yang sanggup mempelajari hal tersebut secara terperinci tentunya ia akan memiliki pengetahuan luas terhadap dalil-dalil islam. Dengan demikian, ia pun dapat menerapakan kaidah islam secara benar.

  1. Mengaplikasikan hukum sesuai syariat agama

Manfaat mempelajari ushul fiqh selanjutnya adalah untuk mengaplikasikan hukum yang benar sesuai syariat agama. Seorang mukallaf dan Mufti tentunya harus menguasai ilmu ushul fiqh agar bisa membuat fatwa yang tidak menyesatkan. Begitupun dengan hakim dalam mengambil keputusan juga sebaiknya berpedoman pada ushul fiqh sehingga keputusannya bisa dipertanggungjawabkan secara agama.

Baca juga:

  1. Menghindari Taqlid yang tidak benar

Taqlid merupakan tindakan mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalil-dalil atau sumber yang dijadikan pedoman untuk pendapat tersebut. Terdapat ulama yang berpendapat bahwa taqlid diperbolehkan bagi orang awam  yang tidak mengerti cara untuk menentukan hukum berijtihad. Namun adapula ulama yang tidak memperbolehkannya.

Taqlid hanya boleh dilakukan jika seseorang yang telah berusaha menyelidiki kebenaran dari perkara tertentu. Atau jika perkara tersebut memiliki dalil yang jelas maka tidak apa-apa mengikutinya. Terlebih lagi taqlid terhadap sunnah rasul, hal itu justru diwajibkan.

Namun jika taqlidnya mengikuti kebiasaan nenek moyang, seperti menyembah berhala, mencari pesugihan di gunung, atau membawa sesajen ke kuburan maka perbuatan tersebut haram karena bertentangan dengan syariat agama islam. Maka itu, sangat penting mempelajari ushul fiqh karena bisa membantu kita mencari hukum-hukum yang benar sebelum mengikuti suatu keputusan atau kebiasaan di masyarakat.

baca juga:

[AdSense-A]

  1. Memperkuat keyakinan terdapat hukum-hukum syara’

Hukum syara’ adalah hukum yang mengatur tentang kehidupan atau tingkah laku manusia dengan berdasarkan pada ketetapan Allah Ta’ala. Beberapa hukum syara’ ada yang tidak tertuang jelas pada Al-quran sehingga diperlukan ijtihad. Nah, apabila kita mempelajari ilmu ushul fiqh maka kita bisa lebih memahami tentang hukum syara’. Kita bisa lebih yakin mana hukum wajib, sunnah, makruh atau mubah.

  1. Mengetahui bagaimana para mujtahid membentuk hukum fiqih

Manfaat selanjutnya dari mempelajari ushul fiqh adalah untuk mengetahui bagaiamana para mujtahid membentuk hukum fiqh di jaman dulu. Sehingga kita pun bisa menelaah dan membedakan mana hukum yang benar dan mana yang masih dalam batas dalam pertentangan.

Baca juga:

  1. Mencari kebenaran diantara madzab fiqh

Manfaat mempelajari ushul fiqh juga bisa membantu kita mencari kebenaran diantara ahli madzhab fiqih. Kita bisa membandingkan pendapat madzhab satu dengan yang lain. Lalu melakukan pembelajaran tentang masing-masing hukum, sehingga bisa ditemukan mana hukum yang paling sesuai dengan syariat agama islam.

  1. Sarana untuk membentuk hukum fiqih

Ilmu ushul fqih sangatlah luas. Mempelajari ushul fiqh berarti mempelajari Al-quran dan Al-hadist secara menyeluruh hingga bagaimana cara menafsirkan dan mengembangkannya. Apabila seseorang mampu memahami ushul fiqh secara mendalam maka ilmunya bisa ia gunakan untuk menilai hukum fiqih yang telah ada, ataupun merumuskan hukum yang belum ada secara benar dan sesuai syariat islam.

  1. Meningkatkan keimanan

Mempelajari ushul fiqh tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan saja, tapi juga bisa meningkatkan keimanan. Semakin kita mendalami konsep Al-quran dan Al-hadist maka iman tentu akan semakin kuat.

baca juga:

  1. Memperkuat ketaqwaan

Selain meningkatkan iman, mempelajari ushul fiqih juga memperkuat takwa. Kita semakin mengetahui tentang dalil-dalil yang benar dan salah, mendalami tentang hukum Allah Ta’ala. Dengan demikian, akan muncul rasa takut bila durhaka kepada Allah. Hal ini bisa membuat ketaqwaan semakin meningkat.

  1. Menyampaikan pendapat dengan benar

Sebagai umat muslim kita diwajibkan untuk mengemukakan kebenaran. Namun jika ilmu masih kurang, tentunya kita takut bila memberikan pendapat tertentu terkait agama. Bisa-bisa pendapat kita ini salah dan malah menyesatkan. Nah, maka itu mempelajari ushul fiqh bisa membantu kita lebih pede dalam menyampaikan pendapat yang benar sesuai syariat agama.

  1. Membantu untuk berceramah sesuai agama

Tidak semua orang bisa berceramah. Seorang penceramah agama tentunya harus memiliki ilmu yang luas tentang dalil-dalil islam. Mempelajari ilmu fiqh sangat penting bagi seorang ulama atau ustad. Hal ini bisa membantu dalam berceramah yang benar dan tidak menyesatkan.

Baca juga:

[AdSense-C]

  1. Membantu penyelesaian perkara secara islami

Di jaman modern ini kita sering menjumpai pertentangan pendapat terkait politik dan urusan agama. Kondisi tersebut tentu sangat krusial, bahkan bisa menyebabkan perpecahan masyarakat. Nah, apabila kita mengantongi ilmu agama (dalam konteks ushul fiqh) maka kita bisa menyelesaikan perkara-perkara tersebut dengan berprinsip pada agama islam yang sebenar-benarnya.

  1. Memahami seluk-beluk keluarnya fatwa

Manfaat mempelajari ushul fiqh berikutnya dapat membantu kita memahami seluk-beluk dikeluarkannya suatu fatwa agama oleh lembaga tertentu. Memang jika lembaga tersebut sudah terpecaya, maka kita sudah cukup menuruti.

Namun terkadang fatwa juga mendatangkan pertentangan pendapat antara satu lembanga dengan lainnya. Nah, untuk mencari jalan keluarnya kita harus mempelajari ushul fiqh. Dengan demikian, kita bisa mengkaji mana pendapat yang lebih mendekati kebenaran secara agama.

baca juga:

  1. Meluruskan penyimpangan-penyimpangan di masyarakat

Selanjutnya, dengan mempelajari ushul fiqh bisa membantu mengatasi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di masyarakat. Kita dapat menunjukkan dalil-dalil yang benar tentang suatu perbuatan atau hukum, sehingga semua hal bisa kembali pada islam yang sesungguhnya sesuai Al-Quran dan Sunnah Nabi.

  1. Melindungi diri dari perbuatan dosa

Manfaat terakhir dari mempelajari ushul fiqh secara pribadi dapat melindungi diri kita dari perbuatan dosa. Pemahaman tentang Al-quran dan Sunnah secara mendalam akan meningkatkan iman dan taqwa. Dengan demikian, perbuatan-perbuatan dosa bisa lebih diminimalisir sebab kita juga sudah tahu konsekuensinya. Jadi otomatis hati kita bisa lebih dekat dengan Allah Ta’ala.

Baca juga:

Nah, itulah beberapa manfaat mempelajari ushul fiqih yang paling utama. Pada intinya, sangat penting bagi setiap muslim untuk memahami ilmu agama secara benar dan mendalam, guna menghindari hal-hal buruk yang bisa menyesatkan diri. Semoga bermanfaat.

Ilmu Tauhid Islam : Pengertian, Hukum dan Jenisnya

Ilmu tauhid islam adalah ilmu yang mendasar dalam islam. Ilmu tauhid berkenaan dengan keyakinan dan ketundukkan kita kepada Allah SWT. Tentu saja sebagai pengatur kehidupan, Allah menyuruh kepada umat manusia untuk tunduk dan taat kepada Allah semata. Hal ini disampaikan pada ayat berikut,

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran : 103)

Untuk itu perlu diketahui jenis-jenis tauhid yang menjadi dasar dan keyakinan umat islam. Sebagai pondasi, maka ilmu tauhid ini tidak boleh rapuh atau retak. Ilmu tauhid lah yang melandasi keimanan dan kehidupan manusia sampai kelak nanti di akhirat. Berikut adalah penjelasan mengenai ilmu tauhid islam beserta bagiannya :

Tauhid Rububiyah

Tauhid rububiyah adalah sifat Allah sebagai pencipta, pemilik, pengatur seluruh kehidupan. Sifat ini tentunya harus diakui oleh seluruh manusia dan tiada yang dapat menandingi sifat rububiyah Allah SWT. Dari mulai nabi Adam hingga nabi Muhammad mereka senantiasa membawa pesan tauhid rububuiyah ini.

  1. Allah Maha Pencipta

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Al A’raf : 54)

Ayat di atas menerangkan bahwa segala apa yang ada di langit dan bumi beserta isinya juga berjalan nya adalah ciptaan dari Allah. Tentu ini menjawab dan menentang paham atheis yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah ciptaan alam itu sendiri atau rekayasa dari kehidupan manusia.

  1. Allah Maha Kuasa

“yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (QS Al Furqan : 2)

Allah yang Maha Kuasa berarti Allah menguasai segala hal yang ada di muka bumi ini. Kekuasannya tidak terbandingkan oleh apapun. Manusia hanya bisa berkuasa di satu tempat atau daerah saja, namun Allah meliputi seluruh alam jagad raya. Jelas tidak ada yang bisa disombongkan oleh manusia.

  1. Pemilik Segala Sesuatu

“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al Baqarah : 284)

Allah adalah yang memiliki segala sesuatu. Untuk itu tidak akan ada yang bisa menandingi nya. Bahkan apa yang dimiliki oleh manusia hakikatnya adalah kepunyaan dari Allah semata dan pemberian darin-Nya. Tidak ada yang benar-benar milik Allah pribadi.

Tauhid Mulukiyah

Tauhid mulukiyah berarti Allah sebagai raja dari segala raja. Ialah yang memimpin, membuat hukum, menjadi tujuan dari hidup manusia. Untuk itu, walaupun ada raja atau peimipin di muka bumi itu hanya sebagian kecil dari kekuasaan kerajaan Allah. Berikut adalah sifat Raja yang mnejadi kekuasaan Allah.

  1. Pemimpin dan Pelindung

“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (QS Al a’raf : 196)

Allah adalah pemimpin dan pelindung. Sebagaimana fungsi dan sifat Raja, ia memberikan perlindungan dan memimpin ummatnya. Begitupun dengan Kemaha Rajaan Allah. Allah memberikan kita perlindungan dengan petunjuk dan rezeki serta sunnatullah yang dibuatnya. Manusia disuruh untuk ikuti apa yang diaturnya selayaknya pemimpin. Jika tidak diikuti, maka manusia sendiri yang rugi dan akan kehilangan arah.

[AdSense-B]

  1. Pembuat Hukum

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS Al A’raf : 54)

Allah adalah pembuat hukum yang sejati. Hukum Allah meliputi kehidupan di seluruh jagat raya ini mulai dari kehidupan sosial, alam, manusia, dan berbagai fungsi nya hingga makrokosmos atau mikrokosmos. Semua itu Allah yang mengatur hukumnya namun terkadang manusia yang merusat hukum-hukum tersebut dengan melanggar dan lalai daripada Nya.

  1. Yang Dituju

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS An’Am : 162)

Allah adalah sebagai tempat yang dituju. Tanpa tujuan tentu manusia tidak akan bisa hidup dan mengarahkan hidupnya. Untuk itulah Allah sebagai tujuan yaitu beribadah, hidup dan mati juga mengarahkan segala bentuk keyakinan dan aktifitas pada-Nya.

[AdSense-C]

Illah yang Abadi

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (QS Al-Ikhlas : 1-4)

Di dalam Al Quran Surat Al Ikhlas di atas dijelaskan bahwa Allah adalah tempat bergantung bukan Allah yang bergantung. Untuk itu, manusia lah yang membutuhkan Illah seperti Allah bukan Illah Illah lain yang menjadi tandingan Allah. Adanya Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam semua hal tersebut manusia jalankan semata-mata untuk dapat mengikuti segala bentuk aturan Allah dan selamat di dunia dan akhirat.

Untuk itu, bentuk pengillahan kita kepada Allah sejatinya dilakukan dengan meyakini dan mengamalkan segala bentuk kehidupan kita berdasarkan atas rukun islam , rukun iman , Fungsi Iman Kepada Kitab Allah, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, dan Fungsi Al-quran Bagi Umat Manusia.

Aliran Syiah dalam Ilmu Kalam

Syiah adalah satu aliran atau mahdzab yang erat kaitannya dengan sejarah dan perpolitikan islam di masa lalu. Secara umum, aliran syiah menolak kekhilafahan yang berasal dari tiga khalifah Sunni yaitu Abu Bakar, Umar, dan Usman Bin Affan. Aliran syiah sendiri berkiblat kepada ahlul baik yang mengaku sebagai keluarga asli atau keturunan rasul, termasuk mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai imam-nya.

Syiah merupakan memiliki sejarah yang panjang, khususnya dilatar belakangi oleh syiah Ali yang artinya adalah pengikut Ali. Mereka meyakini hal tersebut berdasarkan Hadist Rasul, yang diakui benar oleh mereka, yaitu “Wahai Ali, kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung”. Hadist ini digunakan oleh mereka, walaupun hadist ini tidak diakui oleh orang-orang Sunni.

Untuk mengetahui kebenaran ajaran syiah, tentu saja ajaran-ajaran tersebut harus dipahami dan diperbandingkan dengan rukun islam , rukun iman , Fungsi Iman Kepada Kitab Allah, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, dan Fungsi Al-quran Bagi Umat Manusia . Tentu tidak boleh ada yang bertentangan dengan ajaran islam secara substantif. Berikut adalah mengenai aliran syiah dalam ilmu kalam.

Pokok Ajaran Syiah yang Paling Substantif

Muslim yang berkiblat kepada syiah meyakini bahwa keturunan atau keluarga Muhammad adalah yang pantas menjadi imam mereka. Mereka adalah sumber ilmu pengetahuan yang terbaik untuk urusan agama, Al Quran, islam. Selain itu, mereka pun juga menganggap bahwa keturunan Nabi adalah guru terbaik setelah Muhammad SAW, dan menjaga tradisi sunnah dapat tetap terpercaya.

Muslim dari kalangan syiah berpendapat bahwa Ali Bin Abi Thalib yang merupakan sepupu sekaligus menanti Rasulullah, dan kepala keluarga Ahlul Bait merupakan penerus kekhalifahan yang pantas setelahj Nabi Muhammad SAW. Hal ini tentu berbeda dengan pandangan dari Sunni yang merasa bahwa sahabat-sahabat nabi yang layak untuk meneruskan kepemimpinan Nabi. Syiah meyakini bahwa kepemim[inan terhadap Ali adalah perintah langsung dari Rasulullah SAW.

Perbedaan pandangan dengan sunni ini membuat akhirnya konflik tajam dan berkepanjangan muncul termasuk merembet terhadap masalah penafsiran Al-Quran, Sunnah, Sahabat, dan segala hal yang berkenaan dengan pandangan keislamannya.

Mengenai kekhalifahan ini syiah mengakui adanya otoritas keimaman syiah yang disebut juga sebagai Khalifah Illahi, yaitu pemegang otoritas islam, walaupun pada kenyataannya ada banyak sekte-sekte dalam syiah juga berganti iman hingga saat ini.

Ketauhidan dalam Ilmu Kalam Syiah

Ajaran syiah memiliki pandangan dan ilmu kalam tersendiri yang perlu untuk dipahami. Hal ini menjadi patokan keseharian mereka untuk mengembangkan dan memperluas ajaran syiah. Pokok dan ajaran ini berdasar 5 pokok hal utama yang menjadi panutan pengikutnya. Ilmu Kalam tentu saja berkenaan dengan pandangan Ketuhanan, Agama, Wahyu, Nabi, dan lain sebagainya.

  1. At Tauhid

At tauhid adalah bagian dari ilmu kalam. At Tauhid dalam ilmu kalam syiah meyakini bahwa Allah adalah Esa. Keesaan Allah juga mengandung sifat berbeda dengan makhluknya, tidak beranak, dan tidak diperanakkan serta tidak serupa dengan makhluk yang ada di muka bumi.

Sifat-sifat Allah yang harus dan tetap bagi aliran syiah ini adalah:

  • Alim (Mengetahui)
  • Qadisr (Berkuasa)
  • Hayy (Hidup)
  • Berkehendak
  • Mudrik (Cerdik, Berakal)
  • Qadim Azaly (Tidak memiliki awalan)
  • Azali (Kekal)
  • Mutakallim (Berkata-kata)
  • Shadiq (Benar)

Sedangkan, ada pula sifat-sifat Allah yang juga tidak mungkin dimiliki Allah SWT yang disebut dengan Al Salbiyah. Sifat-sifat tersebut seperti bisa dilihat, bertempat, bersekutu, bergantung kepada sesuatu, baian dari Zat yang dimiliki atau diciptakan.

  1. Al Adl

Sifat Allah yang selanjutnya, menurut ilmu kalam dari aliran syiah adalah kemaha Adilan Allah. Allah tidak akan dan tidak pernah berbuat tidak adil dan semua yang Allah tetapkan untuk manusia adalah untuk dasar kemaslahatan atau kebaikan manusia di muka bumi.

Untuk itu, menurut syiah segala apa yang Allah perintahkan dan tentukan memiliki tujuan yang hendak dicapai dan semua perbuatan tersebut adalah baik. Untuk itu, menurut syiah segala perbuatan Allah adalah baik dan Allah tidak pernah meninggalkan sedikitpun sifat dan ketentuannya tersebut.
[AdSense-B]

Kenabian dan Wahyu dalam Ilmu Kalam Syiah

Dalam ilmu kalam syiah terhadap konsep mengenai Kenabian dan Wahyu yang telah diturunkan oleh Allah SWT. Berikut adalah penjelasan mengenai hal tersebut.

  1. Pandangan Terhadap Nabi Muhammad

Kaum syiah juga memiliki kepercayaan terhadap keberadaan Nabi yang tidak berbeda sebagaimana kaum Sunni. Kepercayaan syiah meyakini bahwa Allah mengutus Nabi atau Rasul untuk mengarahkan manusia ke jalan kebenaran dan membuat manusia terbimbing untuk melaksanakan amalan kebaikan. Untuk itu Allah menyebutkan dalam Al Quran bahwa Rasul adalah pembawa berita bahagia. Tentu hal ini menjadi ancaman bagi mereka yang ingin dan senang berbuat kemaksiatan juga kedurhakaan kepada Allah SWT.

Kaum syiah memiliki pendapat bahwa jumlah Nabi atau Rasul adalah 124 dan Muhammad adalah nabi terakhir. Mereka berpendapat bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi yang paling utama dari seluruh Nabi yang ada, bahkan isti-istri Nabi adalah orang suci sehingga mereka terhindar dari segala keburukan yang ada. Untuk itu para Nabi sangat terjaga dari bentuk kesalahan dan keburukann bahkan mulai dari mereka sebelum menjadi Rasul.
[AdSense-C]

  1. Al-Quran dan Wahyu Menurut Syiah

Mengenai Al Quran, kaum syiah berpendapat bahwa Al Quran adalah mukjizat Nabi Muhammad yang abadi dan kalam Allah adalah hadis, makhluk (diciptakan). Hal ini karena kalam Allah disusun berdasar huruf dan suara yang didengar, sedangkan Allah tidak dapat berkata-kata baik dengan huruf atau suara langsung kepada manusia.

Konsep Imamah dalam Ilmu Kalam Syiah

Imamah merupakan bagian dari pembahasan ilmu kalam dalam syiah. Imamah adalah kepemimpinan bagi kaum syiah. Masalah kepemimpinan bagi kaum syiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan masalah agama dan kehidupan di dunia. Imamah atau kepemimpinan ini menjadi pengganti rasul baik dalam memelihara syari’at, menegakkan hukum, memberikan hukum pada pelanggaran terhadap hukum Allah, serta mewujudkan kebaikan dan keselamatan bagi ummat.

Menurut kaum syiah yang bisa menjadi pemimpin ummat adalah seorang  seorang imam dan jika ada pemimpin selain imam, hal tersebut dianggap tidak sah atau ilegal. Untuk itu, mereka tidak wajib untuk diikuti atau ditaati segala bentuk aturan dan kebijakannya. Imam bagi syiah adalah m’sum yang berarti suci dari berbagai dosa. Segala aturan yang dibuat imam tentu saja harus diikuti dan tidak boleh untuk dikritik atau diganggu gugat oleh umat yang mengikutinya.

Untuk menguji apakah konsep tersebut benar hal ini tentu saja harus dibandingkan dengan Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam . Hal ini yang menjadi dasar seorang manusia atau kepemimpinan di muka bumi. Sejatinya imam atau pemimpin adalah manusia yang juga memiliki banyak kekurangan dan kelemahan.

Perkembangan Islam – Sejarah dan Karakteristik Peradaban

Islam berkembang dari mulai masyarakat di Mekkah-Madinah hingga ke berbagai pelosok dunia. Persebaran islam tersebut bukan hanya dari aspek religiusitas dan nilai-nilai saja melainkan disertai perkembangan ilmu, teknologi, sosial, dan politik yang dihadapi di tiap zaman.

Tentunya, zaman berbeda dan senantiasa terus berkembang. Islam pun turut berkembang karena nilai-nilai dasar islam tidak berubah sedangkan secara teknis pelaksanaan mengalami berbagai varian yang memicu dan memunculkan perbedaan.

Hal ini tentu bukan suatu masalah jika disikapi dengan bijak. Manusia memang serba kekurangan untuk bisa memahami segalanya secara sempurna. Untuk itu islam pun di tengah perkembangannya sangat banyak dinamika baik itu yang mengarah pada kemajuan, kesatuan, dan kekuatan atau malah sebaliknya.

Awal Mula Islam dan Perkembangannya

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT secara langsung. Nilai dasar islam adalah ketauhidan yang berarti menganut Tuhan yang Esa yaitu Allah SWT. Dalam sejarah agama Islam, ia tidak mengenal Tuhan lebih dari satu begitupun kepercayaan yang menganggap Tuhan adalah berbentuk material.

Melihat sejarah Islam dunia, sebetulnya islam adalah ajaran yang telah dibawa Nabi-Nabi terdahulu, karena sejak dahulu mulai zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW, penyembahan terhadap Allah sudah diperintahkan dan diturunkan. Untuk itu substansi islam adalah ketauhidan. Seluruh perintahnya adalah berasal dari Allah SWT.

Islam yang berarti aslama atau keselamatan merupakan ajaran yang mengajak pada manusia agar selamat dalam hidupnya. Begitupun sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah senantiasa berdakwah dan mengajak umat manusia untuk mengikuti jalan yang benar yaitu jalan Islam. Jalan islam adalah jalan yang mengarah kepada perbaikan masyarakat, mengarah pada pemecahan masalah, dan keselamatan dunia juga akhirat.

Pada awalnya islam hanya ada di kota Mekkah dan Madinah yang diawalli oleh Nabi dan Para Sahabat seperti Istrinya (Khadijah binti Khuwalid), Umar, Abu Bakar, Ustman, Ali, dan sahabat-sahabat lainnya yang mengawali masuk islam. Sekian lama Muhammad berdakwah, melakukan perjuangan di kota tersebut selama kurang lebih 23 tahun (13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah), bersebaranlah islam di muka bumi lewat para sahabat –sahabat, walaupun rasul sudah tiada.

Perjuangan Rasulullah menyebarkan dan menegakkan islam bukanlah tanpa hambatan besar mulai dari kekejaman musuh-musuhnya yang ingin membunuh, kebencian kaum-kaum munafik, tantangan fisik, tantangan dari internal umat islam yang memiliki kepentingan politik, dan lain sebagainya. Untuk itu, wajar jika Rasulullah dikatakan sebagai orang nomor 1 di dunia karena kegigihan, kecerdasan, dan kemampuannya untuk bisa mengubah kondisi masyarakat yang ada di dunia.

Di masa tersebut banyak yang dapat dilakukan oleh Rasulullah SAW. Diantaranya adalah :

  • Mengenalkan Tuhan dan Pencipta yang benar
  • Mengangkat derajat kaum yang lemah atau tertindas seperti budak, wanita, dan orang-orang kaum fakir/miskin
  • Mengenalkan dan mengajak menggunakan akal pikiran yang benar (Rasional) agar tidak terbelenggu kebodohan
  • Mengenalkan konsep-konsep keseimbangan dan keadilan dalam berbagai sektor masyarakat di bidang Ekonomi, Sosial, Budaya, Seni, Politik, dsb.

Dari kisah teladan nabi Muhammad, Rasulullah SAW, mampu menyebarkan islam hanya dengan berawal dari 20 orang kurang namun hingga bersebaran ke dunia hingga berratus tahun lamanya.

Karakteristik Peradaban Perkembangan Islam

Dalam perkembangannya islam selalu mengenal 4 hal yang menjadi karakteristik dalam perkembangan peradabannya. Jika dalam perkembangannya tidak mengenal hal-hal berikut, dapat dipastikan bahwa itu bukanlah islam yang sebenar-benarnya.

  1. Universalitas

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS As Saba : 28)

Rasulullah SAW tidak diturunkan hanya untuk kalangan atau kaum tertentu saja melainkan kepada seluruh umat manusia yang ada di muka bumi, sebagaimana disampaikan oleh ayat diatas. Untuk itu, fungsi agama islam adalah ajaran yang sifatnya universal bukan ajaran lokal atau yang hanya bisa diakui oleh umat tertentu saja. Maka itu islam dalam perkembangannya tidak mengenal batas ruang dan waktu. Untuk itu, bisa diterapkan secara prinsip oleh siapapun.

Hal ini sebagaimana pula bahwa islam tidak mengenal suku, bangsa, atau warna kulit dalam hal kebenaran, kemuliaan dan ketaqwaan.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al Hujurat : 13)

Dari ayat diatas dapat diketahui bahwa islam adalah agama yang universal dengan menyampaikan kebenaran, keadilan, kebaikan, dan persamaan seluruh manusia tanpa melihat hal-hal fisik yang ada. Karena itu, peradaban islam adalah risalah universal yang dapat menyatukan seluruh umat manusia dan membawakan manfaat toleransi antar umat beragama, tanpa harus mengurangi penerapan islam dengan seluas-luasnya.

  1. Tauhid

[AdSense-A]“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS Al Ikhlas : 1-4)

Substansi ajaran islam Tauhid, yaitu Tuhan yang satu. Sebagaimanapun zaman dan waktu berganti, ajaran ini dalam perkembangan islam tidak akan berubah. Tauhid adalah prinsip dasar yang harus dipegang dan menjadi dasar dalam kehidupan umat manusia. Ada sangat banyak manfaat beriman kepada Allah SWT  jika manusia mau merenunginya. Tentunya dijauhkan dari segala kesesatan hidup yang berlandas hawa nafsu manusia semata.

Masyarakat yang menyembah kepada selain Allah akan terkena dampak yang buruk dan kebodohan yang turun temurun. Bagaimana mungkin batu, manusia, alam, jin dapat menjadi sesembahan manusia, padahal itu semuanya adalah ciptaan bukanlah Yang Menciptakan. Untuk itu Tauhid tercermin dalam rukun iman dan rukun islam sebagai bentuk aplikasi dari ketauhidan seorang manusia.

Hal-hal Tauhid ini adalah sebagaimana prinsip berikut :

  • Tidak menuhankan seorang hakim manusia, karena hanya Allah yang memberikan aturan secara prinsip dan mendasar
  • Tidak ada perbedaan derajat antar manusia, karena semua sama, yang membedakan hanyalah ketaqwaan terhadap Allah, dan Allah lah yang paling mampu untuk menilai
  • Meniadakan sekutu selain Allah
  • Penggambaran yang benar tentang sang pencipta dan alam semesta serta Hari Hisab.

Untuk itulah ketauhidan merupakan kekhususan dari perkembangan peradaban islam yang tidak bisa untuk dirubah. Nilai inilah yang turut memberikan sumbangsih dalam menyamakan manusia dan memerdekakannya dari para triani dan menghadapakannya kepada Allah saja yang menciptakan alam semesta dan arah perjalanannya.

  1. Seimbang dan Moderat

“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu . Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. “ (QS Ar Rahman : 7-9)

Keadilan dan moderat (wasathon) merupakan karakteristik peradaban islam yakni moderat dan adil antara dua sudut yang saling berhubungan, memberikan fungsinya, dan menjaganya satu sama lain agar tidak saling bertabrakan.

Setiap ilmu islam bertujuan untuk kemaslahatan manusia, menegakkan keselamatan dengan kewajiban sebagai khalifah di bumi ini, dalam berbagai bidang baik yang berhubungan dengan syariat atau kehidupan secara umum. Untuk itu sangat banyak sumbangsih dan kreativitas umat muslimin dalam berbagai bidang ilmu kehidupan.

Sikap Tawazun (seimbang) yang dimaksud adalah berhubungan dengan hak dan kewajiban antara pribadi dan masyarakat. Tujuannya agar terwujud kesimbangan antara kepentingan pribadi dan kemaslahatan umat. Maka manusia tidak hidup sendiri terpisah dari masyarakat. Namun ia harus hidup bersama di dalam wilayah suatu komunitas. Dengan demikiran ia bisa saling memberikan manfaat dan maslahat serta mewujudkan hubungan yang baik. Dari ikatan itulah lahir hak dan kewajiban yang diatur oleh syariat islam.

Untuk menjaga keseimbangan dan keadilan lah, tujuan penciptaan manusia oleh Allah SWT di muka bumi. Hakikat penciptaan manusia sesungguhnya adalah menjaga apa yang telah Allah berikan untuk dioptimalkan oleh kita, bukan justru merusak keseimbangan tersebut.

  1. Sentuhan Akhlak

Keunggulan akhlak peradaban islam adalah sisi kemanusiaannya. Manusia berwatak keras di sudut terdalamnya. Ia diperintah untuk mensucikan demi menjamin persaudaraan dan kemuliaan serta kemaslahatan yang ada di peradaban. Untuk itu, akhlak dalam islam bukan hanya berdasar atas akhlak terhadap Allah SWT saja, melainkan sesama manusia (Habbluminannas).

Islam sangat memuliakan manusia menjaga toleransi dan tidak hendak merusak atau memecah belah manusia menjadi permusuhan. Akhlak dalam sudut pandang islam adalah bagaimana manusia menempatkan seseorang atau masalah berdasarkan hak dan kewajibannya, status dan kedudukannya, serta dampak-dampak yang menyertainya.

Allah telah telah memberikan kemuliaan pada setiap manusia secara sama rata. Tubuh manusia adalah sama sejak diciptakan oleh Allah. Perbedaannya hanya dipada perbedaan wujudnya saja. Kemuliaan ini diberikan Allah kepada manusia bukan pada makhluk lainnya. Hal ini merupakan anugerah dari Allah kepada manusia yang berupa kemuliaan akal, kebebasan kehendak, hak-hal dalam keamanan, harta, dan keturunannya yang harus dioptimalkan dan dijaga.[AdSense-B]

Untuk itu tidak ada perbedaan antara wanita dan laki-laki, selain dari akhlaknya. Kedudukan wanita dalam islam sama seperti laki-laki. Begitupun dengan peran wanita dalam islam. Tentu hanya akhlak dan ketaqwaan yang membedakannya dihadapan Allah SWT. Begitu adil dan mulianya akhlak islam.

Untuk itu sebagai manusia khususnya umat muslim hendaknya senantiasa mencari tahu cara meningkatkan akhlak agar tidak terjebak pada akhlak yang merusak, justru mencari dan membentuk akhlak yang membangun.

Kondisi Umat Islam Hari Ini

Islam diturunkan untuk membawa kejayaan dan kesematan umat manusia. Namun, yang terjadi hari ini tidak terlihat banyak wajah islam yang teduh dan begitu menentramkan. Tentunya ini adalah PR bersama bagi seluruh umat muslim di dunia untuk mengembalikan wajah islam yang kini penuh dengan noda terorisme, kekerasan, ashobiyah, fundamentalis, dan lain sebagainya. Mudah-mudahan itu bukanlah ciri-ciri akhir zaman yang akan membuat islam semakin terpuruk kedepannya.

Hakikat Pendidikan Islam dalam Filsafat

Islam memiliki cara pandang tersendiri dalam masalah pendidikan. Cara pandang ini bukan saja mempengaruhi proses pendidikan tetapi bagaimana orientasi pendidikan yang seharusnya dicapai. Untuk itu perlu kiranya mengetahui bagaimana filsafat pendidikan islam sebagai langkah untuk menghasilkan pelajar atau peserta didik yang sesuai dengan goal islam.

Pengertian filsafat pendidikan Islam

Filsafat adalah ilmu yang berkaitan dengan masalah mendasar dari segala hal. Filsafat berusaha untuk membongkar realitas secara mendalam mengenai dasar-dasar terbentuknya, hal-hal prinsip yang membuat realitas ada, dan menjadi pandangan hidup atau pandangan seseorang dalam melihat realitas tersebut.

Filsafat bermula dengan beragam pertanyaan yang mendasar seperti Apa, Mengapa, Bagaimana tentang hal-hal tersebut terjadi dan terbentuk? Tanpa ada pertanyaan, maka aktivitas filsafat tidak akan terjadi. Misalnya saja pertanyaan tentang Apa dan Siapa Tuhan, Apa dan Siapa Manusia? Semuanya akan dijawab oleh aktivitas filsafat.

Pada awalnya filsafat hanya berbicara mengenai realitas yang nampak saja seperti benda-benda di alam dan manusia. Filsafat berkembang menjadi pembicaraan tentang hal-hal yang abstrak dan tidak terlihat. Hal abstrak ini biasanya seperti nilai-nilai, ide, pemikiran, dan sistem di masyarakat. Adanya filsafat yang berupa realitas abstrak maka mulai muncul pemikiran-pemikiran dari filsafat yang akhirnya menjadi landasan sebuah kehidupan di masyarakat atau menjadi cara pandang hidup seseorang.

Menurut Dr. Dardiri, dalam bukunya Humaniora, Filsafat, dan Logika, disebukan bahwa cabang-cabang filsafat adalah sebagai berikut :

  • Metafisika, filsafat yang berkenaan dengan membongkar hal-hal yang ada di luar objek. Misalnya berkaitan dengan fungsi, manfaatnya, sebab munculnya, atau bagaimana terbentuknya
  • Epistemologi, filsafat yang berkenaan dengan bagaimana seseorang menghasilkan pemikiran atau pengetahuan tertentu
  • Metodologi, Filsafat yang berkenaan dengan cara seseorang dalam melakukan penelitian atau pemeriksaan pemikiran atau menghasilkan pengetahuan
  • Estetika, Filsafat yang berkenaan dengan nilai keindahan suatu realitas
  • Etika, Filsafat yang berkenaan dengan nilai baik atau buruk suatu perilaku
  • Logika, Filsafat yang berkenaan dengan valid atau tidaknya suatu pernyataan atau pemikiran diambil kesimpulan

Filsafat Pendidikan Islam Menurut Ilmuwan

Pendidikan adalah proses dimana seseorang mendapatkan suatu pengajaran, proses pembelajaran yang outputnya adalah adanya perubahan baik dalam hal pengetahuan, perilaku, ketrampilan, keahlian, atau cara pandang terhadap sesuatu. Pendidikan bertujuan agar siswa didik atau orang yang didik mendapatkan suatu perubahan signifikan dalam hidupnya untuk bisa melakukan hal-hal yang dituju dengan benar.

Ada beberapa ilmuwan yang berbicara dan menyatakan teorinya tentang filsafat pendidikan islam. Diantaranya adalah sebagai berikut :

  • Menurut Muhammad As-Said, pendidikan Islam adalah pendidikan Islami, pendidikan yang punya karakteristik dan sifat keislaman, yakni pendidikan yang didirikan dan dikembangkan di atas dasar ajaran Islam
  • Menurut Fatah Yasin mengutip pendapat dari HM. Arifin, ilmu pendidikan Islam adalah teori, konsep dan atau pengetahuan tentang pendidikan yang berdasarkan Islam.
  • Menurut Sudiyono, pendidikan Islam sebagian ada yang menitikberatkan pada segi pembentukan akhlak anak, sebagian lagi menuntut pendidikan teori dan praktik, dan sebagian lainnya menghendaki terwujudnya kepribadian muslim, dan lain-lain.

Berikut adalah penjelasan mengenai hakikat pendidikan islam :

Filsafat Pendidikan Islam Berdasar Nilai Dasar Islam

Filsafat pendidikan islam secara umum merupakan cara pandang atau dasar-dasar mengenai bagaimana islam melalukan proses pendidikan baik secara formal ataupun informal. Filsafat ilmu pendidikan islam pada dasarnya mengedepankan beberapa aspek yang menjadi penenganan dalam prosesnya.

  1. Berorientasi pada Ketauhidan

“Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam” (QS Al-Mu’min : 65)

Islam pada dasarnya mendasarkan ajaran dan aturannya berdasarkan pada Ketauhidan, yaitu berdasarkan atas apa yang telah Allah perintahkan. Konsep manusia dalam islam pun menjelaskan bahwa hidup, berkembang, dan matinya manusia adalah dalam kerangka menjalankan perintah Allah. Tidak ada aturan dan juga pengetahuan islam yang tidak berdasarkan atas ketauhidan. Untuk itu, Tauhid seperti bangunan yang merupakan pondasi-nya. Tanpa tauhid maka akan rusak dan rapuh lah segala ajaran pada manusia.

Dalam pendidikan islam, maka orientasinya adalah pada Ketauhidan pula. Dalam melakukan pendidikan dan ajaran-ajarannya kepada manusia, Tauhid menjadi nilai dasar yang harus ada. Untuk itu pendidikan islam senantiasa mengajarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa, fungsi iman kepada Allah, manfaat beriman kepada Allah, dengan Allah sebaagai satu-satunya Illah yg layak untuk disembah.

Ajaran ini jika tidak dipedulikan maka akan berefek pada kesalahan cara pandang dan berpengetahuan. Misalnya saja bagi yang tidak beriman kepada Allah, sebagai ketauhidan, maka dia akan menganggap bahwa Alam semesta tidaklah ada pencipta, yang ada hanyalah materi yang berdiri sendiri. Untuk itu ada rukun islam dan rukun iman, yang menjadi basic ketauhidan dan ibadah kepada Allah SWT.

  1. Berorientasi pada pembentukan Akhlak

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS : An Nahl : 90)[AdSense-B]

Cara pandang islam adalah menitikberatkan pada pembentukan akhlak. Islam hadir juga untuk membenahi dan mengajak manusia pada akhlak yang baik. Tanpa agama, akhlak yang baik tidak akan bisa diketahui. Akhlak islam lahir dan berasal langsung dari Allah. Untuk itu. Bimbingan akhlak selain dari Allah tidak akan mampu memecahkan masalah.

Contoh pembahasan akhlak islam misalnya adalah sifat marah dalam islam dan sifat sombong dalam islam yang dilarang untuk dijadikan sebagai moral dan diberikan solusi untuk mengatasinya.

Pelajaran akhlak lain yang wajib untuk diberikan kepada manusia dan khususnya umat islam saat ini salah satunya adalah bagaimana pergaulan dalam islam. Banyak orang yang cerdas dan pintar, namun dalam hal akhlak dan etika pergaulan sangat jauh dari etika yang universal, mengedepankan moralitas dan keadilan. Untuk itu, pendidikan islam salah satunya pada pembentukan akhlak wajib memberikan ini pada ummat islam.

  1. Berorientasi pada Pengembangan Ilmu Pengetahuan

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS : Al Isra : 36)

Orientasi dari pendidikan islam salah satunya adalah mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan di masyarakat. Ilmu pengetahuan adalah alat yang harus dikembangkan dan terus diproses untuk pemecahan masalah. Islam sendiri sangat menekankan sekali ilmu pengetahuan dan meminta semua pertanggungjawaban ilmu yang kita miliki. Bahkan ilmu pengetahuan sering kali disebut dengan sunnatullah yaitu bagian dari hukum Allah yang merupakan ayat tidak tertulis.

Fungsi agama pun juga salah satunya sebagai pengetahuan yang memberikan dasar, petunjuk, dan tuntunan kepada manusia. Dalam pendidikan hal ini tentu menjadi hal yang wajib untuk diajarkan.

  1. Berorientasi pada Rahmatan lil Alamin

Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin. Kehadirannya bukan malah merusak, tapi justru melakukan pembangunaan dan penyelesaian masalah untuk kebaikan, keadilan, dan kesejahteraan manusia. Ada juga keutamaan adil terhadap diri sendiri dan keadilan terhadap orang lain yang diajarkan islam. Tidak ada satupun ajaran islam yang bertentangan dengan fitrah manusia.

Islam yang membawakan nafas terorisme, pembunuhan, kekacauan hakikatnya bukan Islam itu sendiri. Ajaran islam senantiasa membawa solusi, kedamaian, dan juga toleransi dengan tidak harus menyamakan semua ajaran agama. Islam selalu menekankan pada fitrah yang bahagia, memberikan manfaat, dan juga menyelesaikan permasalahan umat. Hal ini sebagaimana hakikat manusia menurut islam yang memiliki fitrah mencari bahagia, kedamaian, dan keadilan. Bukan mengarah pada kerusakan, kebencian, dan kehancuran.

Tidak ada satu nabi dan rasul pun yang diturunkan Allah untuk keburukan dan membawakan keburukan. Setiap dari mereka senantiasa mengajarkan akhlak dan juga kebaikan yang dibawa di masyarakatnya. Macam-macam mukjizat nabi pun memberikan bukti bahwa mereka senantiasa dibimbing Allah untuk kebaikan di masyarakatnya. Membawakan perubahan yang lebih baik. Bisa kita lihat bagaimana Nabi Muhammad dalam membangun mekkah yang awalnya jahiliah menjadi yang berlandaskan tauhid.

Untuk itu, pendidikan islam harus pula mengajarkan bagaimana sesama manusia dan antar umat beragama saling bertoleransi. Toleransi tidak berarti mengikuti dan mencampurkan agama, akan tetapi saling menghargai pilihan beribadah dan kepercayaan masing-masing. Ada banyak manfaat toleransi antar umat beragama, salah satunya menjadikan masyarakat lebih damai, aman, dan tentram.

Dasar Filsafat Pendidikan Islam

Islam memiliki dasar-dasar dalam filsafat dan tujuan pendidikan islam. Dasar pendidikan islam adalah dasar dari islam itu sendiri yang tidak boleh bertentangan dan bersebrangan dengan landasan islam itu sendiri.

  1. Al-Quran

Al-Quran adalah dasar dari petunjuk umat islam. Termasuk dalam pendidikan pun, islam mendasarkannya pada ajaran yang telah disampaikan oleh Al-Quran. Al-Quran adalah hidayah Allah kepada manusia yang merupakan petunjuk-petunjuk kebenaran. Tidak semuanya dalam Al-Quran memiliki petunjuk teknis, namun dalam aspek dasar atau prinsip Al-Quran telah mengajarkannya.[AdSense-C]

  1. Ajaran dan Sunnah Rasul

Ajaran dan Sunnah Rasul adalah petunjuk umat islam juga yang harus diikuti. Secara umum sunnah dan ajaran rasul secara prinsip tidak mungkin bertentangan dengan Al-Quran. Untuk itu, dalam pelaksanaan secara teknis bisa berbeda namun secara prinsip maka tidak boleh bertentangan.

Misalnya, dulu Rasulullah dalam teknis melakukan pendidikan belum ada teknologi dengan berbagai macam seperti sekarang seperti Infocus, Video, Laptop dsb. Asalkan tidak dimanfaatkan untuk hal-hal negatif, tentu islam sangat memperbolehkan bahkan lebih baik jika memiliki teknologi yang dikembangkan oleh orang-orang islam pula.

  1. Ilmu Pengetahuan dan Hukum-Hukum Universal

Ilmu pengetahuan dan hukum-hukum universal adalah yang juga harus dikembangkan dan dijadikan landasan oleh umat islam dalam menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah yang tidak berdasarkan pengetahuan dan hukum universal tentunya akan melanggar fitrah dari manusia itu sendiri.