4 Keutamaan Mengucap Inalillahi Wainailaihi Rojiun dalam Islam dan Dalilnya

Setiap orang di dunia ini pasti akan mengalami mendapatkan musibah dalam hidupnya. Ujian kehidupan di dunia bisa saja diberikan dengan nikmat kebahagiaan juga bisa dengan nikmat kedukaan. Semuanya silih berganti karena di dunia tidak ada yang akan abadi.

Untuk itu, musibah selayaknya Allah katakan sebagai ujian hidup harus dihadapi dengan tegar dan ikhlas. Semua yang Allah berikan di dunia ini adalah titipan dan harus dikelola dengan sebaik-baiknya oleh manusia. Tidak akan ada yang abadi atau sesuai semuanya dengan keinginan manusia.

Keutamaan Mengucapkan Kalimat Thoyibah “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun”.

“Tidaklah seorang hamba terkena musibah kemudian ia berdoa, “sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali pada-Nya, ya Allah berilah pahala dalam musibah ini dan berilah aku ganti  yang lebih baik daripadanya,” kecuali Allah akan memberikan pahala dalam musibahnya dan Allah memberi ganti yang lebih baik daipadanya” (HR Muslim)

Kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” berarti sesungguhnya kita adalah milik Allah dan semuanya akan kembali pada Allah. Kalimat ini memiliki makna yang mendalam bahwa segala du dunia ini adalah milik Allah dan manusia tidak bisa menuntut apapun kepada Allah karena hanya Allah yang memiliki hak dan kehendak. Manusia hanya berusaha dan mengharapkan yang terbaik. Tentu Allah lebih tahu.

Mengucapkan kalimah thoyib ini tentunya memiliki keutamaan khususnya dalam menghadapi musibah. Berikut adalah keutamaan dari membaca kalimat thoyib ini dalam kehidupan manusia.

Baca juga:

1. Ikhlas dan Tawakal Kepada Allah

Dengan menguncapkan kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” maka kita telah mengerti bahwa apa yang ada dalam diri kita, merasa kita miliki adalah milik Allah SWT. Seorang pemilik bisa kapan saja mengambil hartanya, mengambil apa yang jadi miliknya kapanpun ia berkehendak. Sedangkan kita, tidak memiliki hak apapun atas yang terjadi, dan semuanya milik Allah.

Jika kita telah menyadari hal tersebut maka kita akan ikhlas dan tawakal, tidak akan mudah untuk bersedih apalagi emosional menghadapi segala yang terjadi. Karena kita sadar, bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatunya dan akan kembali lagi kepada Allah. Maka itu serahkanlah hasil di Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam dengan Cara Sukses Menurut Islam

[AdSense-B]

2. Tidak Memberatkan Hati

Dengan mengucap “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” kita pun bisa meringankan hati kita. Kita tidak akan terbebani atau berat hati atas apa yang telah terjadi. Hati kita lebih tenang dan dingin, karena apapun yang terjadi Allah pasti lebih mengetahui dan memberikan kelak yang terbaik. Jika tidak di dunia maka kelak di akhirat akan mendapatkan balasan yang lebih baik lagi.

Terkadang manusia harus berat hati dalam menyikapi keadaan atau masalah. Padahal sejatinya ada Allah yang selalu memberikan pertolongan bagi hamba-Nya yang percaya akan kebesaran Allah. Orang-orang yang meragukan pasti akan memberatkan diri atau hatinya. Padahal semua itu milik Allah, kapanpun bisa diberikan oleh Allah atau ditarik kembali oleh Allah.

Baca:

3. Bersabar atas Ujian Hidup

Jika semuanya telah dipersepsi dan memiliki paradigma yang sama, maka kita akan bisa bersabar atas ujian hidup. Ujian hidup bisa datang kapan saja tanpa kita harus tahu dan diduga-duga. Semuanya tentu untuk menguji seberapa besar kesabaran dan keimanan kita terhadap Allah SWT. Untuk itu, dengan mengucapkan kalimat thoyibah “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” kita bisa lebih sabar dan menerima ujian hidup.

Sabar dan menerima bukan berarti kita pasrah. Akan tetapi, kita akan lebih siap dan mempersiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya diri. Menghadpainya lebih ringan dan tanpa harus berkeluh kesah yang menambah beban hidup kita. Untuk itu, dengan kesabaran maka bisa lebih sesuai dengan Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam

4. Tidak Perlu Meratapi Nasib dan Emosional Berlebihan

Mengucap kalimat thoyibah “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” membuat kita tidak akan terlalu emosional dan berlebihan menghadapi ujian. Semuanya telah diatur Allah dan tidak perlu kita meratapi nasib. Jika frame hidup kita segalanya milik Allah, tentu kita tidak perlu marah apalagi emosi. Semuanya bukan milik kita dan hanya Allah yang menentukan rezeki kita.

Meratapi nasib ini tidak akan memecahkan masalah dalam hidup. Untuk itu, kesabaran dan ikhlas akan membantu kita untuk lebih tegar serta kuat. Maka ucapkanlah kalimat thoyibah ini dengan sering dan dimaknai secara mendalam.

Baca:

[AdSense-C]

Waktu yang Tepat Membaca Kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”

Allah tidak memerintahkan membaca kalimat thoyibah “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” ini dalam satu waktu tertentu. Kita dapat mengucapkannya kapanpun kita bisa dan ingat kepada Allah. Kalimat ini bukan berarti hanya saat ada orang yang meninggal saja, melainkan saat kita tertimpa musibah, tertimpa ujianyang berat, dan waktu-waktu lainnya dapat kita lakukan.

Tentu saja dimanapun dan kapanpun tidak akan dilarang oleh Allah. Yang terpenting adalah manusia bisa memahami dan memaknai kalimat tersebut dengan sebaik-baiknya. Jika sudah benar-benar meyakini dan memahami pasti kita akan paham bahwa kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” ini adalah kalimat yang menjaga diri kita dan membuat kita bisa ikhlas hanya kepada Allah SWT.

Ujian hidup manusia pastinya akan selalu ada. Untuk itu, yang harus kita persiapkan adalah kesabaran dan keikhlasan, serta ikhtiar untuk menghadapinya. Tentu islam tidak mengandalkan sikap pasrah dalam arti yang tidak melakukan apapun untuk merubah nasibnya.

Sebagaimana disampaikan dalam ayat berikut, “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan” (QS Ali Imran : 186)

Dan Allah menjawab bahwa semua dari ujian kita tidak akan ada yang melebih kesanggupan kita. “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS Ath Tholaq: 3)

Untuk itu, semoga umat islam selalu diberikan kesabaran dan keikhlasan, serta ikhtiat yang kuat dalam menghadapi dinamika hidup dan menjadikan  rukun iman, rukun islam, Iman dalam Islam, Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, dan Hubungan Akhlak dengan Iman menjadi pondasi dasar kehidupan.

Doa Mustajab untuk Menghadapi Ujian dan Cobaan dari Allah

Kehidupan di dunia tentunya tidaklah panjang. Dunia akan berakhir dan semua yang ada di dunia ini akan hancur. Untuk itu, segala yang ada di dunia ini tidak lain hanyalah berupa ujian dan cobaan yang Allah berikan untuk mengetahui hamba-hambanya yang bertaqwa dan tidak.

Sering kali manusia lupa bahwa hidupnya di dunia sementara. Padahal manusia memiliki tugas untuk mencapai Tujuan Hidup Menurut Islam , Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Penciptaan Manusia , yang diusahakan oleh manusia. Terkadang timbul pemikiran seakan-akan manusia selalu hidup di dunia padahal semuanya akan berakhir dan yang kekal hanyalah kehidupan di akhirat.

Untuk itu, sejatinya yang ada di dunia ini adalah ujian untuk manusia. Tidak ada yang kekal dan seluruhnya baik suka ataupun duka akan Allah minta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Lantas bagaimana kehidupan akhirat semuanya bergantung kepada bagaimana manusia bisa menghadapi ujian yang ada selama hidup.

Fungsi Doa dalam Ujian

Setiap ujian Allah sampaikan pasti ada jalan keluarnya. Yang buruk tidak selalu buruk begitupun yang baik tidak selalu baik. Untuk itu, dalam ujian juga sebagai manusia kita membutuhkan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT.

Ada banyak doa yang bisa kita panjatkan misalnya saja Doa Mandi Haid , Doa Menguburkan Jenazah, Doa Puasa Ramadhan, Keutamaan Doa Nurbuat , dan Keutamaan Doa Kanzul Arasyi.

Begitupun doa untuk menghadapi ujian dan meminta kesabaran di dunia. Berikut adalah fungsi doa dalam kita menghadapi ujian kehidupan di dunia.

  1. Menjauhi Rasa Putus Asa

[box title=”” align=”center”]“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS Al Baqarah : 186)[/box]

Banyak keutamaan saat melakukan doa untuk menghadapi ujian. Dengan berdoa manusia akan terjauh dari rasa putus asa karena dihadapannya masih ada Allah SWT yang membantu dan memberikan kasih sayangnya. Dengan berdoa kita akan selalu mengingat sebagaimana ayat di atas bahwa Allah akan mengabulkan segala permohonan hambanya yang memohon kepada Allah asalkan mereka meyakini Allah dan berada di jalan kebenaran.

Untuk itu orang-orang beriman akan selalu optimis dalam menghadapi ujian dan tidak ada keraguan akan pertolongan Allah walaupun dari jalan yang tidak disangka sangka.

  1. Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

[box title=”” align=”center”]“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS An Naml : 62)[/box]

Dengan berdoa maka kita akan selalu mengingat Allah dan mendekatkan diri kepada Allah. Orang-orang yang merasa hidupnya merasa dalam ujian dan membutuhkan bekal kehidupan akhirat sakan selalu membutuhkan Allah.

Untuk itu, berikut adalah doa yang bisa dipanjatkan saat menghadapi ujian.

[box title=”” align=”center”]“Robbanaa Afrigh Alainaa Shobron, wa Tsabbit Aqdaamanaa, wanshurnaa ‘Alal Qoumil Kaafiriin.”Artinya: “Ya Tuhan, limpahkan kesabaran pada hati dan diri kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami dari orang-orang kafir.”[/box]

Doa yang lain adalah:

[box title=”” align=”center”] Allahummaj-‘alnii syakuuran, waj-‘alnii shabuuran, waj-‘alnii fii ‘ainii shaghii-ran, wafii a’yunin-naasi kabiiran. Artinya: “Ya Allah, jadikanlah aku orang yang pandai bersyukur kepada-Mu, sabar menerima cobaan-Mu. Ya Allah, jadikanlah aku kecil dalam pandanganku sendiri, tetapi besar dalam pandangan orang lain.”[/box]

[AdSense-B]

Dalil Al-Quran Mengenai Ujian Hidup Manusia

Di dalam Al-Quran dijelaskan banyak hal mengenai ujian terhadap manusia. Allah menyampaikan berulang-ulang bahwa manusia sejatinya sedang diuji dan kelak manusia akan mendapatkan balasan atas apa yang dilakukannya di dunia. Bahkan nabi-nabi terdahulu pun selalu mendapat ujian dan cobaan yang keras, dan mereka diperintahkan untuk bisa memberikan teladan kepada manusia untuk bisa menghadapi berbagai cobaan tersebut.

Berikut adalah ayat-ayat Allah mengenai ujian hidup terhadap manusia.

  1. Ujian adalah Keniscaayaan

[box title=”” align=”center”]“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS Al-Baqarah : 214)[/box]

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa ujian adalah sebuah keniscayaan dalam hidup. Manusia bisa mendapatkan ujian dalam berbagai bentuk. Hal ini terjadi di setiap zaman kehidupan manusia, yang berbeda hanyalah konteks ujian dan tantangan kehidupannya saja. Di sisi yang lain, manusia harus bisa survive dan bersabar untuk menghadapi berbagai goncangan dalam hidupnya.

Misalnya saja ujian kehidupan di masyarakat satu bisa berupa kekeringan, kelaparan, sedangkan di masyarakat lain bisa jadi tidak ada kelaparan dan kekeringan tetapi terjadinya ujian pemikiran yang memprogandakan kehidupan bebas tanpa Tuhan. Semuanya bergantung kepada masalah yang ada di masing-masing masyarakat dan diri masing-masing manusia.

  1. Apa yang Dicintai adalah Ujian

[box title=”” align=”center”]“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.(QS Al-Anfal : 28)[/box]

Apa yang manusia cintai sejatinya adalah ujian kehidupan. Sejauh apa kita mencintainya dan apakah sampai kepada meninggalkan perintah Allah? Contohnya seperti harta dan anak-anak yang dimiliki adalah ujian. Setiap manusia pasti bahagia memiliki harta dan anak-anak. Semua itu tentu adalah ujian, apakah fokus kita hanya pada tujuan tersebut atau justru menjadikan harta dan anak-anak sebagai bekal untuk ke akhirat.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS Al Baqarah : 155)

Hal ini disampaikan kembali dalam ayat di atas bahwa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, harta, dan jiwa adalah hal-hal yang menjadi ujian. Sering kali ada manusia yang meninggalkan kehidupan akhirat demi mengejar hal tersebut, bahkan menjadikannya sebagai tujuan utama. Sedangkan orang-orang yang bersabar menjalani kehidupan dunia dengan kesederhanaan, ketaqwaan, dan perasaan tawaqal menyerahkan kepada Allah SWT.

  1. Yang Baik dan Buruk adalah Ujian

[box title=”” align=”center”]“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS Al Anbiya : 21)[/box]

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa setiap baik dan buruk adalah ujian. Oleh karena itu dibutuhkan banyak doa untuk menghadapi ujian. Hakikatnya di dunia ini tidak ada yang abadi. Yang buruk maka hal ini menjadi ujian apakah orang tersebut bisa bersabar sedagkan yang baik tentu menjadi ujian apakah orang tersebut akan berlaku sombong dan angkuh. Semuanya memiliki nilai masing-masing di hadapan Allah dan baik buruk semuanya dihadapan Allah adalah yang paling bertaqwa.

[AdSense-C]

Semoga, dengan berdoa kita selalu dapat meningkatkan kualitas keimanan kita terhadap Rukun Iman, Rukun Islam, Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, Akhlak Dalam Islam, dan Cara Meningkatkan Akhlak Terpuji.

Menghadapi Musibah Dalam Islam

الحمد لله الذى انعم علينا بنعمة الايمان والاسلام . نعمةً جزيلةً على الدوام الى يوم مَرْجِعِ جميعِ الاَنام . واشهد انّ لا اله ا لاّ الله المَلِكُ القدّوس السلام . وأشهد انّ سيدنا محمّدا عبده ورسوله ذُوالمُعجِزة الدائمة الى اخرالا يّام. اللّهمّ صلّى وسلّم على عبدك ورسولك سيّدنا محمّد وعلى اله وصحبه الذين جاهَدوا فى سبيل الله بِسَيف المُجاهَدَةِ بالحكمة والكلام . (امّابعد) فياايهاالناس اتقُوااللهَ حقَّ تقاته. ولا تموتون الا وانتم مسلمون . وقال الله تعالى فى كتابه الكريم : اعوذ بالله من الشيطان الرجيم . أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ .وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Artinya:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (QS. al-Ankabut ayat 2-3).

Ayat di atas merupakan firman Allah SWT yang menjelaskan bahwa menjadi seorang mukmin tidaklah cukup hanya dengan menyatakan bahwa dirinya beriman kepada Allah SWT, tetapi keimanan tersebut harus bisa dibuktikan dalam sikap maupun tindakan, terutama ketika mereka mendapatkan ujian dan cobaan dari Allah SWT.

Adapun bentuk ujian yang diberikan oleh Allah SWT bisa berupa kebaikan (nikmat) maupun keburukan (musibah). Artinya, tidak semua nikmat yang diberikan Allah SWT merupakan tanda keridhoan-Nya, dan tidak semua musibah yang diberikan Allah SWT merupakan tanda dari murka-Nya. Lalu bagaimanakah tuntunan islam terkait dengan datangnya ujian, terutama musibah dari Allah SWT?

Beruntunglah mereka kaum mukmin, di mana agama mereka yaitu islam tidak akan membiarkan begitu saja ketika mereka sedang tertimpa musibah. Di dalam Al- Qur’an, Allah SWT telah memberikan tuntunan bagi umat-Nya tentang bagaimana seharusnya ketika mereka mendapatkan musibah, baik musibah untuk dirnya sendiri maupun musibah yang menimpa orang lain.

Karena manusia memiliki sifat sabar, tentunya kesabaran sangatlah diuji oleh Allah SWT. Bagi mukmin yang bertaqwa kepada Allah sabar tidak memiliki batasan, sebab Allah masih memberikan nikmat meski itu berupa cobaan dalam hidup. (baca juga: manfaat beriman kepada Allah)

Lalu bagaimanakah seharusnya sikap kita ketika mendapatkan suatu musibah?

  1. Menerima musibah tersebut

Menghadapi musibah dalam islam umumnya orang seringkali berkeluh kesah, marah, sedih, maupun merana ketika musibah sedang menimpa. Akan tetapi hal yang terpenting yang perlu kita ketahui adalah bahwa di balik datangnya musibah tersebut pasti ada hikmah yang bisa kita dapatkan.

Rasulullah Shalallahu bersabda:

Sesungguhnya, jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridha atas ujian itu, maka Allah akan meridhainya. Dan siapa yang membencinya, maka Allah akan membencinya.” (HR. Tirmidzi)

Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam juga pernah bersabda :

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مع عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إذا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رضى فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَط

Artinya:

“Sesungguhnya besarnya balasan baik besarnya sama dengan besarnya ujian dan bala, dan ketika Allah SWT memberikan ganjaran bagi satu kaum lalu Diad atangkan baginya ujian, barang siapa mampu menerima ujian tersebut maka iaakan menerima ridho dari Allah SWT dan barang siapa yang ingkar , maka Allah SWT akan mendatangkan adzab baginya.” (HR. At-Tirmizi, Tuhfatul Ahwazi, dan Albani)

  1. Selalu bersabar menghadapi musibah dari Allah SWT

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda :

عجبا لأمر المؤمن ان أمره كله خير وليس ذلك لأحد الا المؤمن ان اصابته مراء شكر فكان خيرا له وان اصابته ضراء صبر فكان خيرا له

Artinya:

Orang-orang beriman itu memang sangat mengherankan semua perkaranya serba baik, dan tak ada seorang pun yang seperti orang yang mukmin. Apabila dianugerahi kesenangan ia bersyukur, dan apabila tertimpa musibah, ia berlaku sabar. Hal inilah yang menjadikan dia selalu dalam keadaan baik.”( HR. Muslim)[AdSense-B]

Mengapa seorang mukmin harus senantiasa bersabar dalam menghadapi musibah yang diberikan Allah SWT? Abu Zakaria Ansari pernah berkata:

Sabar merupakan kemampuan seseorang dalam mengendalikan dirinya terhadap sesuatu yang terjadi, baik yang disenanginya maupun yang dibencinya.”

Dengan bersabar dan tidak mengeluh maupun tidak berputus asa dalam menghadapi musibah pada akhirnya akan membawa orang tersebut kepada pahala dari Allah SWT atas musibah yang menimpanya tersebut. Mengapa demikian? Karena dengan bersabar berarti orang tersebut telah membuktikan konsistensi keimanannya dalam melaksanakan segala perintah dari Allah SWT dalam keadaan apapun.

Allah SWT telah berfirman :

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya:

“Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az- Zumar ayat 10)

Dalam Al-Qur’an Surat Al- Anfal ayat 46, Allah SWT berfirman :

وَاصْبِرُوْا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ

Artinya “Bersabarlah kalian. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar.

Selain pahala dari Allah SWT, keuntungan lain dari bersabar dalam menghadapi musibah adalah memperkuat serta meneguhkan jiwa seseorang ketika ia sedang menghadapi cobaan maupun ujian dari Allah SWT. Dengan begitu, ketika orang tersebut ditimpa musibah maka jiwanya tidak akan tergoncang, tidak gelisah, panik, takut, maupun berubah pendiriannya.

  1. Selalu berdo’a kepada Allah SWT

Dalah Al-Quran telah menceritakan kisah Nabi Ayyub Alaihissalam yang berdo’a kepada Allah SWT ketika beliau sedang mengalami musibah yaitu penyakit yang berkepanjangan.

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖوَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ

Artinya:

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. Al- Anbiya ayat 83-84)

Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam juga selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berdo’a kepada Allah SWT, apalagi ketika sedang ditimpa musibah. Dalam sebuah hadist Beliau Sholallahu Alaihi Wassalambersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Artinya:

“Tidak ada dari orang Islam ketika menimpa musibah padanya, maka ia berdoa “Inna lillahi wa inna ilai roji’un, Allahummajurni fii mushibati, wa akhlifli khaira minha” kecuali Allah mengganti baginya lebih baik dari musibah”. (HR. Muslim)

  1. Selalu Bersyukur kepada Allah SWT

Bersyukur dalam menghadapi setiap musibah dapat menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa seseorang, bahkan hal itu bisa mendatangkan pahala dari Allah SWT baginya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

Apa pun bentuk musibah yang menimpa seorang muslim, niscaya akan Allah menjadikannya sebagai penghapus dosa dari dirinya, sekalipun sebatang duri yang menancap pada dirinya.

Lalu bagaimanakah bagi mereka yang marah-marah ketika menerima musibah?[AdSense-C]

Dalam hal ini ada 3 bentuk dari marah, yaitu : Marah dalam hati di mana seolah-olah ia tidak terima dengan takdir dari Allah SWT dan ia pun marah kepada Tuhannya, marah dalam bentuk ucapan, serta marah dengan disertai tindakan. Sikap seperti itu amat dilarang dalam islam, dan tergolong ke dalam sikap yang diharamkan, dikarenakan sikap tseperti itu akan dapat membawa seseorang kepada kekafiran.

Sebagaimana Firman Allah SWT berikut :

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةَ

Artinya:

Di antara manusia ada yang menyembah Allah menurut seleranya. Apabila ia mendapatkan kebaikan, hatinya merasa tenang. Akan tetapi, apabila ia mendapat cobaan buruk, ia memalingkan wajahnya. Rugilah dunia dan akhiratnya.” (QS. Al-Hajj ayat 11).

artikel terkait lainnya: