Iman dalam Islam

Keimanan adalah hal mendasar bagi seorang muslim. Keimanan tentunya menjadi pembeda antara seorang muslim atau bukan. Tanpa ada keimanan kepada Allah dan Islam tentu manusia akan menjadi makhluk yang rapuh, sebagaimana rumah tanpa adanya pondasi yang kuat dan kokoh.

Keimanan terhadap rukun islam dan fungsi agama islam, tentunya adalah perintah dari Allah SWT. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam ayat berikut,

Pada hari ini, telah Ku-sempurnakan untuk kamu agama-mu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah , Ku-redhai Islam itu agama bagimu” (QS Al Maidah :3)

Sejatinya, kita lah yang membutuhkan islam. Islam diturunkan Allah sebagai agama yang sempurna dan agama yang telah diridhoi Allah. Untuk itu, hanya pada keimanan pada islam lah seharusnya manusia berkiblat. Bukan pada agama lain atau ajaran lain yang dibuat oleh manusia. Berikut adalah penjelasan mengenai Iman dalam Islam :

Iman adalah Prasyarat Menjadi Muslim

Iman adalah syarat seseorang menjadi muslim. Keimanan seseorang tentu dinyatakan melalui pernyataan dan aksi atau perbuatan yang konsisten selama seumur hidup. Tentu tidak akan dinyatakan beriman apabila manusia tidak mengakui keberadaan dan kekuasaan Allah juga melaksankaan perintah-perintah-Nya. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam ayat berikut.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang hanya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS al-Hujurât: 15)

Untuk itu, berikut adalah syarat dikatakannya seseorang beriman dalam islam.

  1. Kalimat Syahadat Bukti Keimanan

Dalam rukun islam pertama kalimat syahadat adalah syarat untuk menjadi seorang muslim. Setiap pernyataan dan sumpah maka ia harus mendatangkan saksi. Syahadat menjadi penting dan bukan sekedar ucapan belaka karena ia pernyataan yang membedakan dirinya dengan orang kafir. Ia bersumpah bahwa ia berbeda dengan orang kafir dan mengakui bahwa Allah sebagai satu-satunya Illah. Pernyataan ini menjadi syarat yang utama bagi seorang yang mengakui beriman.

  1. Pengakuan Keimanan Terhadap Semua Aspek Islam

Pengakuan keimanan terhadap islam tidak hanya sekedar dengan syahadat atau pernyataan saja. Terlebih adalah pembuktian secaraperilaku dan mengakui seluruh aspek agama islam. Orang beriman tentu juga dapat mengambil pelajaran dan juga hikmah-hikmah sebagaimana hal berikut:

Iman adalah Pembeda Muslim dan Bukan

Seorang muslim dan bukan tentu memiliki perbedaan. Tidak mungkin muslim dan kafir memiliki karakteristik yang sama padahal jelas seorang yang beriman tidak akan melakukan apa-apa yang dilarang Allah, sedangkan kafir tidak akan mungkin taat dan mengikuti apa yang Allah tetapkan.

  1. Pembeda Pengetahuan

“Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (iaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan solat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.(Al-Qur’an, al-Baqarah, 2:2-3)

Informasi ini diberikan oleh Allah kepada manusia. Kitab Al-Quran adalah informasi berupa wahyu untuk memberikan petunjuk kepada orang beriman. Tentu saja, orang kafir tidak akan menjadikan Al-Quran sebagai kitab petunjuk dan menjadi pendasaran dalam hidupnya.
[AdSense-B]

  1. Pembeda Perilaku

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka gemetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal” (QS al-Anfâl: 2)

Dari ayat diatas disampaikan bahwa orang beriman akan bergetar jika disebutkan nama Allah. Tentu hal ini tidak akan terjadi pada orang-orang kafir. Bergetarnya orang-orang beriman karena adanya perasaan takut, takjub, taat, dan merasa bangga jika hidup dalam agama Allah.

Sedangkan orang yang-orang yang beriman juga tidak hanya sekedar hati dan perasaan saja yang merasa bergetar. Orang beriman juga akan terlihat dalam perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Orang beriman akan menafkahkan harta dan berjuang hidupnya sesuai dengan apa yang Allah perintahkan.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada keimanan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa sahaja yang kamu nafkahkan,maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”.(QS Ali Imran : 92)

Selain itu, orang beriman juga akan melaksanakan hidupnya berdasarkan Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam yang telah Allah tetapkan, sesuai informasi dalam Al-Quran.

Iman adalah Terwujud dalam Konsistensi Perilaku

Wujud keimanan adalah dalam bentuk perilaku. Tentu perilaku ini harus konsisten. Konsisten bukan berarti manusia tidak tanpa kesalahan dan kekurangan. Konsisten dalam hal ini adalah selalu dalam jalur yang benar walau harus ada waktu untuk jatuh dan bangkit kembali.

  1. Tidak Memilih-Milih Aturan

Bentuk konsistensi orang beriman adalah tidak akan memilih-milih aturan mana yang hendak diikutinya dari islam. Orang beriman akan sekuat tenaga melaksanakan seluruh perintah Allah tanpa tawar menawar dan memilih mana yang sesuai dengan keinginann diri. Untuk itu, ia akan berislam dan beriman secara kaffah atau berislam secara sempurna. Berusaha sempurna walau tidak selalu mengalami kesempurnaan.
[AdSense-C]

  1. Mencintai dan Mensyukuri Adanya Aturan

Orang beriman tidak akan segan-segan untuk mencintai dan mensyukuri adanya aturan yang dibuat oleh Allah. Orang beriman juga tidak akan mengeluh atas aturan yang Allah buat, melainkan akan mensyukuri karena dengan adanya petunjuk tersebut, hidupnya akan selamat dan tidak akan tersesat. Ia benar-benar memahami bahwa aturan Allah mampu memberikan kemaslahatan untuk hidupnya.

  1. Memelihara Aturan Tetap di Tegakkan

Orang-orang beriman akan berusaha untuk menegakkan aturan Allah dalam kehidupannya. Ia tidak akan segan untuk memelihara, melaksanakan, mendakwahkan, dan memperjuangkan agar aturan tersebut tetap dilakukan dan tidak diremehkan. Ia akan mengetahui bahwa aturan Allah sejatinya adalah untuk kemaslahatan dirinya. Sedangkan jika tidak dilaksanakan, maka akan berefek kepada kehancuran umat di muka bumi.

Untuk itu, bagi orang beriman kehidupanya diarahkan untuk mendapatkan Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, sesuai cara Cara Sukses Menurut Islam. Dunia Menurut Islam bukanlah segala-galanya. Untuk itu orang beriman akan mengejar Sukses Menurut Islam bukan hanya sekedar mendapatkan harta atau apapaun kebahagiaan dunia, melainkan keimanan yang kuat dan dapat menyelamatkan di akhirat.

Tingkatan Iman dalam Islam

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al Mujadalah: 11).

Dalam ayat di atas ditunjukkan bahwa Allah meninggikan orang-orang beriman yang tentunya memiliki ilmu pengetahuan. Orang beriman tentu adalah mereka yang meyakini Allah sebagai Illah dan segala bentuk informasi juga aturannnya tentu menjadi bagian dari keimanan islam. Berikut adalah penjelasan mengenai tingkatan iman dalam islam.

Iman Manusia Fluktuatif

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Qs Yusuf: 53)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa keimanan seseorang dapat naik dan turun. Ayat ini berkenaan dengan sejarah Nabi Yusuf di zaman dulu. Setiap manusia memiliki hawa nafsu yang dapat mendorong pada perbuatan buruk namun juga bisa dikendalikan dengan adanya akal yang bisa mempertimbangkan baik dan buruk.

Adanya hawa nafsu ini membuat keimanan kita tentu bisa fluktuatif, yaitu naik atau turun. Hawa nafsu dan juga bisikan setan terus menerus membisikkan pada manusia, sehingga manusia tidak selalu dalam kondisi ideal. Jika hawa nafsu dan bisikan setan ini diikuti terus menerus maka akan membuat manusia semakin terpuruk, bahkan keimanannya dapat rapuh bahkan hilang.

Tidak ada iman manusia yang selalu stabil dan dalam kondisi yang terus menerus baik. Hakikatnya manusia memiliki hawa nafsu, pasti akan ada dimana iman dalam kondisi lemah. Akan tetapi, orang yang benar-benar beriman akan tau atau sadar bahwa keimanannya sedang menurun dan akan mencari jalan untuk terus menerus memperbaiki keimanannya.

Keimanan sebagaimana tumbuhan yang dapat layu dan berkembang. Tergantung bagaimana kita memupuknya. Untuk itu keimanan harus benar-benar dipupuk. Pupuk dari keimanan adalah pengetahuan, penghayatan, dan pengalaman taqwa kepada Allah SWT.

Iman Rasul-Rasul Allah adalah Teladan

Rasul adalah teladan bagi umat islam. Untuk itu, mengenai masalah keimanan kita pun juga bisa meneladani rasul, sebab Rasul adalah tuntunan dari umat islam.Bentuk mengikuti dan mengimani Rasul, adalah mengikuti sunnahnya. Sunnah rasul seperti, Sunnah Sebelum Tidur sesuai ajaran Rasul, Adab Ziarah Kubur , Cara Makan Rasulullah , melaksanakan  Cara Mandi Dalam Islam , Zikir Sebelum Tidur , melaksanakan Macam Macam Shalat Sunnah, dll.

Berikut adalah bentuk keimanan dari para Rasul-Rasul Allah sebagaimana Rasul-Rasul Allah selalu mengikuti apa kata Allah melalui wahyu-Nya.

  1. Menerima Seluruh Aturan Allah secara Keseluruhan

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka gemetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal” (QS al-Anfâl: 2)

Rasul-rasul Allah senantiasa mengikuti apa yang Allah berikan perintah-Nya. Untuk itu, keimanannya diwujudkan dengan meneriman dan mengamalkan aturan islam tanpa terkecuali. Baik susah ataupun bahagia perintah Allah dijalankan dengan keikhlasan.

Mengenai masalah keimanan, umat islam dapat juga mengetahui tentang hal-hal berikut ini, agar semakin memperkuat keimanan.

[AdSense-B]

  1. Berjuang Menegakkan Aturan Allah

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang hanya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS al-Hujurât: 15)

Rasul-Rasul Allah senantiasa mengikuti aturan Allah bahkan memperjuangkannya untuk dapat tegak islam di muka bumi. Bentuk keimanan mereka dilakukan dengan berjihad dengan harta dan jiwa agar bisa memberikan yang terbaik untuk islam.

Hal ini sebagaimana dengan Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam yang telah ditetapkan oleh Allah SWT untuk berjuang membangun masyarakat.

  1. Mau Berkorban Demi Tegaknya Islam dengan Harta dan Jiwa

“Aku diperintah (oleh Allah) untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan sampai mereka menegakkan shalat, serta membayar zakat. Jika mereka telah melakukan itu, maka mereka telah  mencegah darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka pada tanggungan Allah”

Berkorban demi islam harta dan jiwa adalah bentuk keimanan yang tertinggi. Artinya pernyataan keimanan bukan hanya berhenti di ucapan melainkan sampai bentuk pengorbanan dan perjuangan islam di muka bumi. Untuk itu, tingkatan iman seseorang yang sudah sampai seperti itu sangat kuat jika dilakukan konsisten hingga akhir hayat. Tentu saja dengan cataran motifnya lurus karena Allah semata.
[AdSense-C]

Orang Beriman Mencintai Akhirat

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS : An’Am: 32)

Orang-orang yang beriman akan senantiasa mencintai akhirat daripada dunia. Untuk itu, bentuk perilakunya adalah mereka senantiasa menjaga diri agar tidak terlena dengan gemerlap dan kebahagiaan di dunia. Sedangkan fokus mereka adalah untuk menuju akhirat. Namun bukan berarti dalam kehidupannya di dunia ia dalam kesulitan atau kemiskinan, namun ia menjadikan potensi diri, harta atau apapun yang dimiliki adalah sebagai langkah menuju akhirat.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS: Al-Ankabut ayat 64)

Untuk itu, tujuan dari kehidupan orang-orang yang beriman adalah kembali ke akhirat dengan bekal pahala dan segudang karya saat di dunia. Hal ini yang ia persembahkan sebagai bukti perjuangan-nya, kelak dimintai pertanggungjawbaan di akhirat.

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” (QS Muhammad : 36)

Sebagaimana ayat diatas, maka kehidupan orang beriman akan menjadikan hartanya yang tunduk kepada mereka bukan malah sebaliknya mereka yang tunduk kepada harta.

Untuk menghitung kualitas iman, tentu manusia akan sulit bahkan hampir tidak bisa. Apalagi menghitung keimanan orang lain. Untuk itu, hanya Allah sajalah yang mengetahui kualitasnya. Manusia hanya bisa mengevaluasi dirinya, saling mengingatkan, bukan menjudge atau bahkan memberikan penghakiman atas keimanan seorang muslim. Kecualli bagi mereka yang jelas-jelas mengklaim dirinya sebagai seorang kafir dan tidak percaya akan Allah SWT.