Hukum Membeli Anjing dalam Islam

Anjing adalah hewan yang dikenal oleh hampir semua orang. Anjing terkenal dengan kesetiaan kepada pemilik dan kesungguhannya dalam menjalankan tugas, seperti ketika menjaga rumah, siang dan malam seekor anjing akan senantiasa siap dan waspada jika ada sesuatu yang mencurigakan di dalam rumah majkannya, anjing akan dengan tanggap berteriak atau melawan sekuat tenaga demi melindungi majikannya.

Sebab itulah anjing banyak dijadikan sebagai hewan favorit, sebagai hewan untuk penjaga ternak atau rumah, juga sering dilibatkan dalam aparat resmi negara untuk mengungkapkan berbagai kejahatan. Dalam islam, anjing dikenal sebagai hewan tidak boleh dipelihara di rumah dan termasuk hewan yang masuk dalam jenis jenis najis dalam islam.

Lalu bagaimanakah hukumnya jika ada seorang muslim yang dengan sengaja membeli anjing? Entah itu untuk dipelihara atau keperluan lain, apakah diperbolehkan dalam islam? Untuk lebih mendalami hal ini, mari kita simak hukum membeli anjing berdasarkan berbagai hadist Rasulullah dan firman Allah dalam uraian berikut.

Hukum Membeli Anjing dalam Islam Menurut Hadist Rasulullah

1. HR Muslim No. 1575

Barang siapa yang membeli atau memelihara anjing kecuali untuk menjaga hewan ternah, berburu, dan menjaga tanaman, maka akan dikurangi pahalanya setiap hari sebanyak satu qitrah”. Jelas dari hadist tersebut ya sobat, akan dikurangi pahala seseorang yang membeli atau memelihara anjing tanpa kepentingan yang jelas. Walaupun bagi sebagian orang anjing adalah hewan yang lucu dan setia, tetapi setiap muslim wajib melakukan segala urusan dengan mendahulukan syariat islam terlebih dahulu sumber syariat islam berasal dari Al Qur’an dan hadist yang sudah pasti kebenarannya.

2. HR Muslim No. 279

Sucinya wadah kalian apabila dijilat anjing, adalah dengan dibasuh sebanyak tujuh kali, basuhan pertama dengan debu”. Penjelasan dari hadist tersebut ialah hukum membeli anjing dalam islam tidak diperbolehkan jika digunakan untuk urusan hewan peliharaan, jika ditempatkan di dalam rumah, hingga air liurnya mengenai suatu benda dalam rumah tersebut maka barang tersebut menjadi najis.

Sebagai seorang muslim yang wajib shalat lima waktu dalam keadaan suci, tentu tidak wajar bukan jika dengan sengaja membeli anjing untuk dipelihara? Selain mendapat pengurangan pahala, hal tersebut juga menjadi penyebab amal ibadah ditolak dalam islam dimana ibadah wajib dilakukan dalam keadaan suci.

3. HR Muslim No. 280

Rasulullah menyebutkan dalam sabdanya bahwa jilatan anjing adalah najis, “Jika anjing menjilati wadah”. Dalam hadist tersebut tidak dijelaskan bagian tubuh yang lain seperti misalnya bulu atau bagian lainnya. Tetapi yang wajib dipahami dalam hal ini ialah kebiasaan anjing menjilati tubuh dan bulunya, jika bulu yang terkena jilatan tersebut mengenai manusia, tentu hukumya tetap najis.

Seseorang yang membeli anjing sebab suatu urusan yang lebih banyak manfaatnya seperti contohnya aparat negara yang membeli anjing dan dimanfaatkan untuk mengungkap berbagai tindak kejahatan karena penciumannya yang tajam, hal tersebut diperbolehkan dalam islam.

Sebab tindakan menyelesaikan tindak kejahatan yang akan berdampak pada keamanan serta ketenangan banyak pihak jauh lebih bermanfaat daripada membiarkan tindak kejahatan tersebut. Tentunya seseorang yang berperan dalam urusan tersebut wajib sering membersihkan diri dan mencegah terkena najis, sebab salah satu syarat diterimanya amal ibadah ialah amalan yang dilakukan dalam keadaan suci dari najis.

[AdSense-B]

4. HR Muslim

Rasulullah pernah menunggu Jibril ketika malaikat mulia tersebut berjanji akan datang hingga waktu yang ditentukan tetapi Jibril tidak kunjung datang. Beliau kemudian menoleh dan mendapati anjing terdapat dalam rumah beliau. Segera beliau mengeluarkan anjing tersebut dan datanglah Jibril.

Jibril pun berkata pada Rasulullah “Aku tidak dapat masuk ke dalam rumah yang ada anjing dan gambar”. Dari hadist tersebut disimpulkan bahwa membeli anjing untuk dipelihara hukumnya adalah haram. Sebab menyebabkan malaikat penyebar rahmat tidak dapat masuk ke dalam rumah tersebut.

5. HR Muslim No. 1933

Hukum membeli anjing dalam islam yang tujuannya dilakukan untuk konsumsi atau makanan jelas tidak diperbolehkan sebab dagng anjing termasuk dalam jenis makanan haram menurut islam “Setiap hewan yang bertaring maka memakannya adalah haram”. Maka setiap muslim tidak diperbolehkan membeli anjing untuk dijadikan makanan.

6. HR Bukhari No. 2237

Rasulullah melarang upah dari jual beli anjing, upah pelacur, dan upah tukang ramai”. Maksud dari hadist tersebut ialah, hendaknya setiap muslim menjauhi urusan jual beli anjing. Menjual atau membeli anjing dapat menyebabkan terjadinya urusan yang tidak sesuai dengan syariat islam.

Yaitu menyebabkan orang lain melanggar perintah Allah, seperti menyebabkan seseorang menjadi pemelihara anjing, menjadi pemakan daging, dan lain lain. Sebab itu jika ada seorang muslim yang dengan sengaja membeli anjing untuk diperdagangkan dan mencari keuntungan darinya, hendaknya meninggalkan urusan tersebut dan mencari jalan rezeki lain yang dihalalkan oleh Allah.

[AdSense-A]

Hukum Membeli Anjing Menurut Firman Allah

7. QS Al Maidah Ayat 4

Dihalalkan bagimu yang baik baik dan buruan yang ditangkap oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu waktu melepaskanya”.

Penjelasan dari firman tersebut ialah diperboleh membeli binatang buas misalnya anjing yang pandai berburu untuk membantu manusia berburu mencari makanan dengan syarat tidak ada hal lain yang bisa membantunya selain hal tersebut. Misalnya adalah pada masyarakat pedalaman yang memang masih rekat dengan alam dan berburu untuk mencukupi kebutuhan sehari hari.

Jika tidak menggunakan bantuan dari hewan buas seperti anjing justru akan membahayakan keselamatan bagi dirinya sendiri. Tentu tetap harus diingat baik air liur anjing dan bagian tubuhnya yang terkena adalah najis. Sehingga jauh lebih baik tidak berada di dekat anjing tersebut kecuali jika untuk keperluan yang diperbolehkan dalam syariat islam.

8. QS Al Kahfi Ayat 9

Dalam Al Qur’an diceritakan bahwa pada jaman terdahulu terdapat sekelompok hamba Allah (Ashabul Kahfi) yang bersembunyi di sebuah gua dan memiliki seekor anjing yang mengikuti selama pelarian dan pemsembunyian di tempat tersebut.

Atau kamu mengira bahwa orang orang yang mendiami gua dan raqim (anjing) itu, mereka termasuk tanda tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?”. Firman tersebut menjelaskan bahwa dalam masa lampau sebelum masa kenabian Rasulullah, anjing sudah dipeliharan oleh orang sebagai penjaga atau pemburu.

Jelas dari firman tersebut bahwa membeli anjing untuk keperluan penjagaan atau kemananan diperbolehkan dalam islam sebab bertujuan untuk urusan yang lebih darurat seperti melindungi diri dari musuh, mencari makanan, dan membantu menemukan bukti tindak kejahatan demi kepentingan orang banyak. Anjing yang diceritakan pada masa tersebut ialah anjing yang telah dilatih untuk berburu dan bekas gigitan pada tubuh binatang buruan tidak boleh dimakan.

9. QS Ali Imron Ayat 32

Allah tidak menyukai orang kafir”. (QS Ali Imron : 32). Contoh urusan membeli anjing yang menyerupai orang kafir seperti bermain atau berlarian dengan anjing, tidur bersama anjing peliharaan, bahkan mencium anjing yang memiliki sifat najis dalam air liurnya. Hal tersebut haram hukumnya.

10. QS Al Ahzab Ayat 36

Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka”. Penjelasan firman tersebut ialah misalnya seseorang berniat membeli anjing untuk kepentingan keamanan penjagaan rumahnya, sebaiknya mengupayakan atau mempertimbangkan pilihan lain terlebih dahulu.

Terlebih di jaman modern ini begitu banyak alat modern yang membantu manusia, misalnya memasang pagar canggih, memasang cctv, atau memperkerjakan seseorang untuk menjaga keamanan. Jika hal tersebut memungkinkan maka jauh lebih baik untuk memilih jalan tersebut yang sudah jelas diperbolehkan oleh Allah.

[AdSense-C]

Urusan yang Berhubungan dengan Hukum Membeli Anjing dalam Islam

  • Berdasarkan Niat

Seperti yang telah dijelaskan dalam berbagai hadist serta firman Allah, membeli anjing tidak memiliki suatu hukum yang khusus, seperti halnya urusan yang lain misalnya shalat hukumnya wajib, zina hukumnya haram, dan lain lain. Membeli anjing hukumnya disesuaikan dengan niat atau kepentingan yang berhubungan dengan urusan tersebut.

  • Tidak Boleh Dibunuh Seenaknya

Walaupun anjing adalah binatang yang najis liurnya, tidak serta merta manusia diijinkan untuk membunuh anjing dengan seenaknya. Anjing tetaplah makhluk Allah yang wajib diperlakukan dengan baik sesuai dengan aturan atau syariat islam yang berlaku. Tidak diperkenankan membunuh anjng kecuali jika hewan tersebut membahayakan atau menyerang.

  • Tidak Menyiksa

Hukum membeli anjing dalam islam yang bertujuan untuk kepentingan diri sendiri tanpa memperlakukan anjing tersebut dengan baik juga tidak diperbolehkan dalam islam, misalnya membeli anjing untuk menjaga ternak hingga tidak mencukupi kebutuhan makan dan minum anjing tersebut, maka pemilik anjing tersebut berdosa sebab termasuk perbuatan menyiksa makhluk Allah.

Dapat disimpulkan bahwa hukum membeli anjing dalam islam ialah tidak diperbolehkan kecuali untuk berburu atau menjaga hewan ternak dan tanaman dengan syarat tidak tersedia sarana lain untuk hal tersebut.  Sampai disini dulu ya sobat artikel kali ini, semoga menjadi ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk anda. Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di artikel berikutnya. Salam hangat dari penulis.

Larangan Memelihara Anjing dalam Islam

Bismillahirrahmanirrahim.

Manusia memang memiliki fitrah untuk menyenangi sesuatu yang indah, sesuatu yang lucu, sesuatu yang menyenangkan. Salah satunya adalah rasa senang memiliki hewan peliharaan. Binatang yang paling sering dijadikan peliharaan oleh manusia diantaranya adalah kucing, ikan hias, kelinci, hamster, dan juga anjing. Namun, seperti yang kita ketahui, umat islam dilarang untuk memelihara anjing karena merupakan salah satu hewan yang najis dan diharamkan untuk terkena air liur dan kotorannya.

Lalu bagaimana jika anjing tersebut dipelihara sekaligus ditugasan menjadi hewan penjaga? Terlebih untuk masyarakat yang tinggal di daerah rawan, memiliki ternak, dan semacamnya? Bagaimana hukumnya dalam islam?

Baca juga:

Orang-orang yang belum paham mengenai hukum ini seringkali menghakimi umat muslim yang melarang memelihara anjing. Mereka mengatakan bahwa karena anjing merupakan ciptaan Allah, dengan melarang manusia untuk menjadikannya hewan peliharaan berarti sama saja dengan membenci Allah.

Selain itu, mereka juga mempertanyakan mengapa Allah menciptakan anjing jika tidak boleh berdekatan dengan manusia atau dalam hal ini dipelihara? Padahal sejatinya, Allah memiliki tujuannya tersendiri dalam menciptakan sesuatu. Tidak ada satupun yang ciptaan Allah di muka bumi ini yang sia-sia. Oleh karena itu, kali ini kita akan membahas mengenai hukum memelihara anjing dalam islam yang telah dilansir dari berbagai sumber terpercaya.

Baca juga:

Para ulama sepakat mengharamkan umat muslim untuk memiliki anjing KECUALI jika ada tiga tujuan tertentu yakni :

  1. Dimanfaatkan untuk berburu
  2. Dimanfaatkan untuk menjaga hewan-hewan ternak
  3. Dimanfaatkan untuk menjaga tanaman.

Hal tersebut dibahas dalam hadits di bawah ini:

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda, “Barangsiapa memanfaatkan anjing selain anjing untuk menjaga hewan ternak, anjing (pintar) untuk berburu, atau anjing yang disuruh menjaga tanaman, maka setiap hari pahalanya akan berkurang sebesar satu qiroth” (HR. Muslim no. 1575).

Satu qirath yang dimaksud, menurut salah satu ulama adalah kira-kira sebesar gunung uhud.

Dalam riwayat yang lain, dikatakan:

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa memanfaatkan anjing, bukan untuk maksud menjaga hewan ternak atau bukan maksud dilatih sebagai anjing untuk berburu, maka setiap hari pahala amalannya berkurang sebesar dua qiroth.” (HR. Bukhari no. 5480 dan Muslim no. 1574) [AdSense-B]

Meskipun ada juga ulama Malikiyah yang berpendapat bahwa anjing boleh dimanfaatkan selain untuk hal-hal yang disebutkan tadi. Namun sebagian besar ulama sepakat bahwa pemanfaatan anjing untuk selain ketiga hal yang telah disebutkan di dalam hadits di atas tetap dilarang. Bahkan untuk menjaga rumah pun menurut pendapat terkuat tidak boleh memanfaatkan seekor anjing. Maka lebih baik jika kita berhati-hati dan tidak memanfaatkan atau memelihara anjing kecuali dengan salah satu atau ketiga tujuan yang sudah dijelaskan dalam hadits di atas.

Baca juga:

Resiko Seorang Muslim Jika Memelihara Anjing

Meskipun sudah terdapat hukum yang jelas, masih banyak umat islam yang memlihara anjing dengan berbagai alasan. Padahal, dalam hukum tersebut telah disebutkan resiko apa yang akan ditanggung oleh seorang muslim jika tetap bersikeras memelihara seekor anjing.

Resiko tersebut adalah pahala yang berkurang sebesar gunung uhud di setiap harinya. Hal ini sudah dijelaskan dalam hadits yang terdapat di atas. Apakah kita sudah yakin amalan kita melebihi gunung uhud sampai-sampai merelakan kehilangan pahala sebesar itu setiap harinya hanya karena memelihara seekor anjing?

Bahkan dalam hadits lainnya disebutkan bahwa pahala yang hilang adalah dua kali besarnya gunung uhud, setiap hari. Masih merasa tidak apa-apakah?

Oleh karena itu, menurut Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, dilansir dari rumaysho.com, memelihara anjing hukumnya haram dan bahkan termasuk sebagai dosa besar. Kecuali anjing yang dimanfaatkan untuk berburu, menjaga tanaman dan hewan ternak tentunya. [AdSense-C]

Sedangkan terkait memanfaatkan anjing untuk menjaga rumah, apalagi rumah yang terletak di pedalaman hutan misalnya, atau daerah-daerah rawan lainnya, masih banyak terdapat perbedaan pendapat antara satu ulama dengan ulama yang lain. Ada ulama yang memperbolehkan dengan alasan keamanan dan keterpaksaan, ada pula yang mutlak tidak memperbolehkannya.

Baca juga:

Lalu bagaimana sikap yang harus kita ambil? Sikap kita sebagai muslim adalah sebaiknya memilih untuk berhati-hati. Lebih baik hindari apa yang benar-benar telah dilarang oleh Allah melalui hadits-hadits yang telah disebutkan sebelumnya. Urusan untuk menjaga-jaga, apapun itu,  percayakanlah sepenuhnya kepada Allah dan  sebelum itu lakukanlah ikhtiar yang lain selain harus mempekerjakan seekor anjing. Semua itu dilakukan daripada kita kehilangan amalan kita yang belum tentu melimpah.

Wallahu’alam.

Hukum Donor Organ dalam Islam

Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dalam bidang kesehatan, maka segala sesuatu menjadi lebih mudah. Dalam dunia medis sekarang, para dokter telah mengenal pencangkokan organ atau transplantasi organ. Lalu bagaimanakah hukum organ donor organ menurut Islam, selengkapnya disini.

Pengertian Donor Organ Tubuh dan Hukumnya dalam Islam

Donor organ adalah seseorang yang memberikan  organ tubuh kepada orang lain yang membutuhkan. Hal ini merupakan perkembangan ilmu baru dalam dunia kedokteran yang mampu mengembalikan fungsi anggota tubuh sehingga terhindar dari kematian dan menyangkal Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam . Ulama berpendapat bahwa ada yang memperbolehkan hal ini, namun juga ada yang mengharamkannya secara mutlak. Terdapat 2 kaidah yakni menghilangkan mudharat dan mudharat yang tidak bisa dihilangkan  sehingga Dr. Yusuf Al-Qardhawi apa yang dibolehkan untuk didonorkan dan apa yang dilarang. Berikut adalah penjelasannya :

  • Organ tubuh satu-satunya seperti jantung, hati dan otak
  • Organ tubuh d luar seperti mata, tangan dan kaki
  • Organ tubuh yang berpasangan

Berikut adalah hukum donor organ antara lain sebagai berikut :

Jika orang yang mendonorkan adalah orang meninggal

Jika sebelum meninggal, orang tersebut telah berwasiat untuk mendonorkan organnya, maka diperbolehkan untuk memindahkan kepada orang yang membutuhkan organ tersebut. Walaupun akan merusak kehormatan orang yang meninggal, namun hal ini tidak dilarang sebab mendahulukan perkara yang sangat penting.

Karena donor organ tubuh sama halnya dengan orang yang bersedakah, maka orang yang meninggal boleh mendonorkan, namun tentunya dengan syarat bahwa ahli warisnya telah mengizinkan dan setuju dengan tidak memberikan mudharat kepada mayit yang bersangkutan.

Apabila si mayit tidak diketahui identitasnya, tidak memiliki ahli waris atau wali dan ahli waris tidak mengijinkan, para Ulama memberikan pendapat berbeda yaitu : Sebagian ulama tidak memperbolehkan untuk mengambil organ untuk menjaga kehormatan si mayit. Seperti yang diriwayatkan dalam Sunan Abub Dawud 3207, Sunan Ibnu Majah 1616, Shohih Ibnu Hibban 3167 dan Musnafd Ahmas 24379 yaitu “memecah tulang mayit sama dengan memecah tulangnya saat dalam keadaan hidup” Hadits ini sudah jelas mengatur bahwa memotong rambut dan kuku si mayit hukumnya makruh, walaupun itu termasuk hal biasa, namun semua anggota tubuh si mayit adalah mulia.

Sedangkan, sebagian ulama memperbolehkan jika itu adalah satusatunya jalan menyelamatkan hidup orang yang sedang sakit. Seperti qoidah berikut ini “keadaan dhorurot (terpaksa) itu adalah memperbolehkan hal-hal yang terlarang”. Harus dengan pertimbangan dokter muslim yang sangat kompeten dan memahami benar syariat Islam.

Jika orang yang mendonorkan adalah orang yang masih hidup

Perlu diketahui bahwa mayoritas ulama melarang donor organ jika yang mendonorkan dan yang didonorkan sama-sama masih hidup. Namun, Dr. Wahhab Zuhailiy memperbolehkan seseorang melakukan donor jika organ yang diambil adalah organ yang dapat tumbuh lagi seperti kulit dan darah atau bukan organ-organ vital seperti jantung dan ginjal. Namun ada pula ulama-ulama yang secara mutlak mengharamkan donor organ yaitu Syeikh Abdul Aziz bin Baz dan Syeikh Muhammad Al-Utsaimin.

[AdSense-B]

Kedua ulama ini berpendapat bahwa Allah SWT telah menciptakan organ tubuh sesuai dengan manfaaatnya agar dapat berkerja dengan baik, apabila satu organ diambil maka fungsi dan kerja organ menjadi sangat terganggu. Apalagi menurut beliau, donor organ belum dijamin berhasil, sedangkan pendonor sudah tentu mengalami sakitnya.

Mengambil organ vital seperti jantung, hati dan ginjal lebih besar dan sakit daripada hanya memecahkan tulang *Al-Fiqhul Islami Wa adillatuha Dr. Wahbah Al-Zuahyli, Majmu Fatawa-Syekh bin Baz, Fatawa Nur ‘Ala AD-Darb-Syeikh Muhammad Al-Utsaimian. Berikut adalah ketentuannya :

  • Jika pengambilan donor menyebabkan kematian pendonor, maka hal tersebut adalah haram secara mutlak, bak telah mendapatkan izin dari pendonor atau tidak. Apabila hal tersebut dilakukan atas izin , maka hal ini disebut juga dengan bunuh diri. Apabila dilakukan tanpa izin, maka hal tersebut termasuk dalam pembunuhan.
  • Apabila tidak menyebabkan kematian pendonor atau dalam artian (pendonor tidak akan mati walaupun telah kehilangan organ itu, maka hukumnya diperinci lagi :
    • Jika organ yang didonorkan tersebut dapat diperbaharui oleh tubuh, maka hukumnya diperbolehkan seperti donor darah atau kulit
    • Jika organ yang didonorkan tersebut tidak dapat diperbaharui oleh tubuh, maka hukumnya haram seperti mata, ginjal, tangan, kaki dan lain-lain.

Sedangka menurut Syeikh Yusuf Qardawi berpendapat bahwa Islam tidak membatasi sedekah. Apapun bentuk amal dan kebaikannya, walaupun dalam bentuk mendonorkan organ kepada orang lain, hal itu adalah termasuk sikap sedekah. Menurutnya, tindakan mendonorkan organ adalah jenis sedekah paling tinggu sebab anggota tubuh harta yang paling tinggi dari harta.

Oleh sebab itu, mendonorkan organ tubuh termasuk dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah dan merupakan sedekah paling mulia. Akan tetapi, Qardhawi menyebutkan bahwa seseorang dilarang untuk mendonorkan organ tubuhnya yang menyebabkan keburukan atau kesengsaraan pada diri dan orang lain yang punya hak tetap atas dirinya. Pun tidak boleh mendonorkan organ-organ vital seperti jantung, hati dan ginjal.

Sangat tidak diperkenankan mnghapus dharar dari ornag lai dengan membuat dharar di dirinya sendiri. jadi kaidah la dharara wala dirara yang berarti “Tidak boleh mneghilangkan dharara dengan dharar yang sama atau yabg lebih besar daripadanya.”

Seperti misalnya, seseornag tidak boleh mendonorkan organ luar seperti mata, tangan dan kaki. Hal ini akan menghilangkan dharar bagi orang lain, tetepi akan membuat dharar pada diri sendiri. Begitu pun dengan organ yang berpasangan dimana ia kehilangan pasangannya, maka fungsi organ tersebut menjadi tidak maksimal.

[AdSense-C]

Di samping itu, muqayyad yang Qardhawi berikan harus mendapatakn ijin terlebih dahulu oleh orang yang berhak atas dirnya. Jika istri, maka haru seizin suami, jika anak maka harus seizin orang tua.

Ketentuan Pendonor

  • Seorang pendonor haruslah yang dewasa dan berakal sehat.
  • Anak kecil tidak dianjurkan untuk mendonorkan organ sebab ia belum tahu kepentingan dirinya.
  • Orang gila tidak diperbolehkan mendonor
  • Wali tidak diperbolehkan mendonorkan organ tubuh anak kecil dan orang gila dibawah perwaliannya
  • Tidak boleh mendonorkan kepada ornag kafir dan orang murtad
  • Diprioritaskan orang Islam dulu daripada non Islam

Seperti yang disampaikan oleh Qardhawi dan tertera dalam Al-Quran QS Al-Anfal: (8) 75, “Orang-orang yang mempunyai hubungan kekerabatan lebih berhak terhadap sesamanya sesuai dengan kitab Allah. Meskipun seseorang boleh mendonorkan, namun Qardhawi tidak memperbolehkan seseorang untuk memperjualbelikan organ tubuh seperti menjual properti yang bisa ditawarkan atau ditukar-tukarkan.

Demikian hukum mendonorkan organ tubuh dalam Islam. Namun yang lebih penting pahamilah  Tips Hidup Bahagia Menurut Islam dan Jiwa Tenang Dalam Islam. Semoga bermanfaat.

Larangan Bunuh Diri dalam Islam – Hukum – Dalil

Bismillahirrahmanirrahim.

Ketika hidup mulai terasa hampa dan tak bersemangat lagi untuk dijalani, ketika bayang-bayang kesalahan selalu tak mau pergi, ketika masa depan selalu tergambarkan dengan sangat menyeramkan, mungkin rasa-rasanya hidup ini sudah tidak ada artinya, ya?  Mungkin saja kita bisa mengatasinya dengan cara mencari dasar dari kehampaan tersebut dan memperbaikinya. Jka tak bisa diperbaiki lagi? Maka tidak ada obat lagi selain mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Kehidupan ini.

Baca juga:

Namun sangat disayangkan, masih banyak manusia yang memilih jalan untuk mengakhiri hidupnya ketika masalah menimpanya. Sebagian manusia yang lain, bepikir bahwa bunuh diri dan meledak bersama sebuah bom adalah salah satu bentuk dari membela agama yang dicintainya. Benarkah begitu? Jawabannya sudah pasti salah besar. Bunuh diri adalah salah satu perbuatan yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan sudah pasti merupakan dosa besar, apapun alasannya. Hal ini terdapat dalam firman Allah, surat An-Nisa ayat ke 29-30:

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa’: 29-30).

Para ulama ahli tafsir, dilansir dari almanhaj.com, menjelaskan bahwa yang dimaksud “membunuh dirimu” memiliki beberapa pengertian, yakni:

  1. Larangan kepada umat islam agar tidak membunuh sesamanya, karena umat islam itu diibaratkan sebagai satu tubuh, jika satu bagiannya sakit maka bagian yang lainnya akan merasakan. Maka ketika seorang muslim membunuh muslim yang lainnya, seakan-akan ia telah membunuh dirinya sendiri.  
  2. Larangan kepada umat islam untuk tidak melakukan bunuh diri.
  3. Larangan kepada umat islam untuk tidak melakukan hal-hal yang telah dilarang oleh Allah, karena itu dapat membinasakan dirinya sendiri.

Baca juga:

Menurut para ulama, bunuh diri adalah suatu perbuatan yang menunjukkan ketidaksabaran manusia dalam menghadapi suatu ujian, suatu bentuk keputusan, dan sesuatu yang mendahului kehendak Allah. Orang-orang yang melakukan bunuh diri akan menerima akibat yang luar biasa kejamnya. Hal ini sepadan dengan apa yang telah dilakukannya. Berikut ini ancaman-ancaman untuk orang-orang yang melakukan bunuh diri:

  • Tidak diizinkan masuk ke surga

Dari Jundub bin Abdullah, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kamu yang mengalami luka, lalu dia berkeluh kesah, kemudian dia mengambil pisau, lalu dia memotong tangannya. Kemudian darah tidak berhenti mengalir sampai dia mati. Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hamba-Ku mendahului-Ku terhadap dirinya, Aku haramkan surga baginya’. [HR. Al-Bukhari, no. 3463]

[AdSense-B]

  • Disiksa dengan siksaan yang sesuai dengan perbuatan yang ia lakukan untuk mengakhiri hidupnya.

Dari Tsâbit bin adh-Dhahhak, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Barangsiapa bersumpah dengan agama selain Islam dalam keadaan dusta, maka dia sebagaimana yang dia katakan. Barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, dia akan disiksa dengan sesuatu itu dalam neraka Jahannam. Melaknat seorang Mukmin seperti membunuhnya. Dan barangsiapa menuduh seorang Mukmin dengan kekafiran maka itu seperti membunuhnya”. [HR. Al-Bukhari, no. 6105, 6652; Ahmad, no. 16391; lafazh ini dari Al-Bukhâri]

Baca juga:

Hal itu dijelaskan dengan lebih rinci di dalam hadits yang lainnya:

[AdSense-A]Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau bersabda, “Barangsiapa menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung, kemudian membunuh dirinya, maka dia di dalam neraka Jahannam menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung, dia tinggal lama dan dijadikan tinggal lama selamanya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya.

Dan barangsiapa meminum racun kemudian membunuh dirinya, maka racunnya akan berada di tangannya, dia akan meminumnya di dalam neraka Jahannam dia tinggal lama dan dijadikan tinggal lama selamanya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya.Dan barangsiapa membunuh dirinya dengan besi, maka besinya akan berada di tangannya, dia akan menikam perutnya di dalam neraka Jahannam, dia tinggal lama dan dijadikan tinggal lama selamanya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya”. [HR. Al-Bukhâri, no. 5778; Muslim, no. 109; lafazh bagi Al-Bukhâri]

Namun, ada ulama yang berpendapat bahwa jika seorang muslim yang melakukan bunuh diri, maka ia masih memiliki kesempatan untuk masuk surga. Wallahu’alam. Selanjutnya, dilansir dari sumber yang lainnya, masih banyak hadits yang menjelaskan mengenai hal ini:

Dari Tsabit bin Adh Dhohhak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya kelak pada hari kiamat Allah akan menyiksanya dengan cara seperti itu pula.” (HR. Bukhari no. 6047 dan Muslim no. 110).

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan mencekik lehernya, maka ia akan mencekik lehernya pula di neraka. Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara menusuk dirinya dengan benda tajam, maka di neraka dia akan menusuk dirinya pula dengan cara itu.” (HR. Bukhari no. 1365)

Bunuh Diri dengan Alasan Jihad

Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang menganggap bunuh diri adalah salah satu jalan ‘jihad?’

Sesungguhnya, bunuh diri cara meledakkan diri bersama bom bukanlah sebuah bentuk pembelaan agama islam ataupun jihad.  Dilansir dari salah satu sumber, aksi bom bunuh diri seperti itu dapat dikatakan sebagai penyimpangan atau pelanggaran syariat.  

Terlebih, orang yang melakukan bom bunuh diri tersebut menghabisi nyawa orang lain yang belum tentu bersalah. Jika orang-orang muslim yang melakukan bunuh diri itu beralasan bahwa mereka ingin menghabisi orang-orang kafir, hal itu juga tidak dibenarkan karena dalam sebuah hadits, Allah melarang seorang muslim untuk membunuh orang-orang non-muslim yang dilindungi atau memiliki perjanjian dengan pemerintah,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh jiwa seorang mu’ahad (orang kafir yang memiliki ikatan perjanjian dengan pemerintah
kaum muslimin) maka dia tidak akan mencium bau surga, padahal sesungguhnya baunya surga bisa tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.” (HR. Bukhari).

Pada intinya, bunuh diri haram hukumnya dan merupakan sebuah dosa besar. Tidak dibenarkan untuk melakukan bunuh diri dengan alasan apapun. Kehidupan adalah suatu anugerah luar biasa yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Pantaskah kita mengakhiri dan membuang anugerah tersebut dengan cara yang dilarang keras oleh-Nya dan menukarnya dengan kekekalan di neraka?

Wallahu’alam.

Adakah Doa untuk Menolak Hujan? – Hukum – Dalil

Bismillahirrahmanirrahim.

Hujan merupakan salah satu bentuk rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Banyak amal shalih yang dianjurkan untuk kita lakukan pada saat hujan. Tapi tetap saja kebanyakan orang masih merasa bahwa hujan adalah sebuah musibah karena menjadi salah satu penyebab banjir, jalanan becek, terganggunya suatu kegiatan, dan lain-lain. Benarkan semua itu karena hujan? Lalu bolehkah manusia meminta kepada Allah agar hujan tidak turun atau dapatkah manusia menolak turunnya hujan?

Berikut penjelasan para ulama terkait turunnya hujan dilansir dari muslim.or.id

  1. Hujan adalah kuasa Allah semata.

Hal ini tersirat pada quran surat al-waqiah ayat 68 sampai 69.

”Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?” (QS. Al Waqi’ah [56] : 68-69)

Tidak ada sesuatu yang sia-sia jika Allah yang menentukannya. Turunnya hujan adalah salah satu bukti kekuasaan Allah dalam mengatur alam semesta. Allah mengetahui bahwa tanah yang tandus butuh air agar tanaman-tanaman yang indah dan bermanfaat dapat tumbuh, meskipun manusia tidak menyadari itu. Mungkin di suatu daerah hujan dianggap suatu yang biasa saja, tetapi untuk daerah yang lainnya, hujan bisa saja merupakan sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu. Hal ini terdapat dalam quran surat Al-Fushsilat ayat ke 39:

“Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat [41] : 39).

Sehingga, manusia tidak dapat menolak ataupun mengatur kapan atau dimananya hujan itu harus turun. Melalui ilmu pengetahuan, manusia pun hanya dapat memperkirakannya.

Baca juga:

  1. Berdoalah kepada Allah

Berdoa agar hujan yang datang adalah hujan yang akan memberi manfaat dan tidak merusak apapun. Ketika hujan turun dengan derasnya secara terus menerus, sebagian dari kita pasti khawatir hujan tersebut akan menimbulkan suatu bencana. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wassalam mengajarkan sebuah doa yang bertujuan untuk memohon kepada Allah agar Allah menurunkan hujan yang tidak menimbulkan kerusakan dan agar Allah memalingkannya ke tempat-tempat yang memang sangat membutuhkan hujan tersebut.

“Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].”

Dalam hadits Anas bin Malik, doa tersebut dipanjatkan ketika hujan tak kunjung berhenti selama seminggu, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memohon pada Allah agar cuaca kembali cerah. (HR. Bukhari no. 1014 dan Muslim no. 897).

Doa tersebut juga terdapat versi lebih pendeknya, yakni:

“Allahumma hawaalainaa wa laa ‘alainaa” [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, jangan yang merusak kami]

Maka, kita memang tidak bisa menolak turunnya hujan, tetapi kita bisa memohon kepada Allah agar dihindarkan dari dampak buruk turunnya hujan yang terus menerus. Terlebih untuk saudara-saudara kita yang berada di daerah rawan banjir, sangat dianjurkan untuk membaca doa ini.

Baca juga:

[AdSense-B]

  1. Dilarang untuk mencela hujan meskipun di dalam sebuah doa.

Seringkali terdengar dari lisan manusia kata-kata seperti, “Aduh hujan lagi!” atau, “Yah, hujan!” dan semacamnya. Meskipun sebagian dari mereka sudah memahami bahwa hujan merupakan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal, hal ini dilarang karena mencela hujan sama saja dengan mencela rahmat-Nya.

Terlebih hujan adalah salah satu ciptaannya yang tidak mengetahui apa-apa dan tidak bersalah karena semuanya tetap Allah yang mengatur. Manusia harus selalu ingat bahwa setiap perkataannya akan dicatat oleh malaikat dan kita tidak tahu mana perkataan yang dapat menjerumuskan ke surga dan bisa saja ada perkataan yang dapat menjerumuskan seseorang ke neraka. Naudzubillahimindzalik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.”[HR. Bukhari no. 6478]

baca juga:

Pada intinya, memang tidak ada dalil yang menerangkan tentang doa menolak hujan, karena hujan merupakan kuasa sekaligus rahmat-Nya atas seluaruh manusia di muka bumi ini. Hanya saja, kita bisa memohon kepada-Nya agar hujan yang turun ke bumi membawa manfaat dan tidak sampai menimbulkan kerusakan. Selain itu, tidak semua kerusakan seperti banjir, tanah longsor, dan semacamnya merupakan akibat dari hujan semata. Pasti ada campur tangan dan kesalahan manusia di dalam peristiwa tersebut.

Contoh sederhananya adalah, membuang sampah sembarangan, menebang pohon sembarangan sehingga tanah gundul, dan mengurangi daerah resapan air dengan membangun berbagai macam bangunan mewah dan megah yang sebetulnya tidak terlalu diperlukan bahkan tanpa memperhatikan kondisi lingkungan. Kalau bukan manusia, siapa lagi yang melakukannya?

baca juga:

Peristiwa Hujan Batu dalam Alquran

Apakah anda pernah mendengar kisah tentang hujan batu? Jika anda tak mempercayainya, maka peristiwa hujan batu pernah benar-benar terjadi dan diabadikan dalam alquran. Bahkan, di dalam islam, mungkin peristiwa itu menjadi salah satu yang harus kita imani.

Hujan Batu untuk Tentara Raja Abrahah

Peristiwa hujan batu terselip dalam surat Al Fiil yang menceritakan tentang peristiwa penyerangan Ka’bah oleh pasukan bergajah. Peristiwa ini terjadi di tahun yang sama dengan kelahiran Rasulullah Shalallahi’alaihi wa Sallam. Berikut ayat yang membahas peristiwa ini,

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. Al Fiil: 1-5).

Pada peristiwa ini, pasukan gajah atau ashabul fiil yang digerakkan oleh Raja Abrahah bermaksud menghancukan rumah Allah atau Ka’bah. Mereka menyiapkan diri dengan ribuan bala tentara yang termasuk dengan pasukan gajah tersebut yang kekuatannya dipercaya dapat menghancurkan ka’bah. Belum jelas apakah pasukkan gajah itu terdiri dari tentara-tentara yang masing-masingnya menaiki satu gajah, atau hanya terdapat satu gajah di dalam pasukkan.

Baca juga:

Ketika tentera bergajah tersebut mendekati Makkah, orang-orang Arab ketakutan dan memilih untuk bersembunyi karena tidak memiliki apa-apa untuk menghadang mereka. Ketika itulah Allah menurunkan bala bantuan, berupa bantuan burung-burung yang berpencar, datang secara kelompok demi kelompok dan masing-masingnya membawa batu untuk melindungi ka’bah.

Batu-batu yang dibawa oleh para burung itu digunakan untuk meempari para pasukan bergajah, Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, batu-batu yang dibawa oleh para burung tersebut berasal dari lumpur yang dibentuk menjadi batu. Ada juga yang menafsirkan bahwa batu tersebut merupakan batu yang telah dibakar. Dalam surat Al Fiil, pasukan yang terkena batu tersebut akan hancur seperti daun-daun yang dimakan.

Baca juga:

[AdSense-B]

Hujan Batu untuk Kaum Nabi Luth

Selain pada peristiwa penyerbuan kabah oleh raja Abrahah, hujan batu juga diceritakan dalam Alquran pernah diturunkan untuk kaum Sodom, yakni kaum Nabi Lut yang sebagian besarnya gemar melakukan perbuatan yang keji. Mereka tidak juga berubah meskipun telah diberi peringatan oleh Nabi Luth.

Mereka gemar melakukan hubungan sesama jenis, perilaku homoseksual dan lesbian sangat marak pada zaman itu, sehingga Allah mengazab mereka dengan hujan batu sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-A’raf ayat ke 84, Hud ayat ke 82, Al Hijr ayat ke 74, Al- Furqon ayat ke 40 dan Asy-Syuara ayat ke 173:

“Dan kami hujani mereka dengan hujan (batu). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat dosa itu.” (QS Al-A’raf:84)

“Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkir-balikkan negeri kaum Lut, dan kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar,” (Q.S Hud: 82)

[AdSense-A] “maka Kami jungkir-balikkan (negeri itu) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras” (Q.S Al-Hijr: 74)

“Dan sungguh, mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui negeri (Sodom) yang (dulu) dijatuhi hujan yang buruk (hujan batu). Tidakkah mereka menyaksikannya? Bahkan mereka itu sebenarnya tidak mengharapkan hari Kebangkitan.” (Q.S Al-Furqan:40)

“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu) maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu” (QS. Asy-Syu’arâ: 173).

“Dan Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), maka amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu” (QS. An-Naml : 58).

Hujan batu tersebut memporak-porandakan tempat tinggal sekaligus merenggut nyawa mereka, kita kota Sodom rata dengan tanah.

Baca juga:

Hujan Batu sebagai Azab Allah

Pada surat Al-Ankabut ayat ke 40 juga disebutkan bahwa hujan batu kerikil merupakan salah satu dari banyaknya azab Allah yang diturunkan kepada orang-orang yang berdosa , yang disebutkan pada ayat sebelumnya.

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(Q.S Al-Ankabut: 40)

Demikianlah kisah-kisah peristiwa hujan batu yang terdapat dalam al-quran. Alquran merupakan kitab yang diturunkan oleh Allah, yang mengandung kabar-kabar gembira untuk orang-orang yang beriman tentang kasih sayang Allah dan ganjaran terbaik yakni surga kelak sekaligus pembawa peringatan untuk orang-orang yang ingkar kepada Allah. Oleh karena itu, kita harus mengimani bahwa peristiwa hujan batu itu pernah terjadi kepada umat-umat terdahulu yang ingkar kepada Allah sebagai peringatan untuk kita bahwa azab Allah itu nyata dan pelajaran agar umat islam saat ini tidak melakukan hal-hal yang membuat Allah murka.

Wallahu’alam.

Larangan Merayakan Tahun Baru dan Dalilnya

Tahun baru Masehi saat ini memang dirayakan secara megah dan besar besaran yang dihiasi dengan suara terompet dan atraksi kembang api yang cantik di seluruh dunia yang dirayakan semua orang baik umat muslim. Namun perlu diketahui jika perayaan tersebut identik dengan hari besar yang dirayakan orang Nasrani.

Selain itu, banyak keyakinan batil yang terdapat dalam perayaan malam tahun baru tersebut seperti minum segelas anggur terakhir dari botol sesudah tengah malam akan membawa keberuntungan dan berbagai kegiatan lainnya. Inilah yang menjadi alasan mengapa larangan merayakan tahun baru dalam Islam berlaku bagi umat muslim. Selain itu, ada banyak kerusakan yang terdapat dalam perayaan tahun baru seperti yang akan kami berikan berikut ini.

  1. Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan Ied Haram

Kerusakan yang pertama adalah jika seorang merayakan tahun baru berarti juga merayakan ied atau hari perayaan yang haram hukumnya. Ini bisa terjadi karena hanya ada 2 ied bagi kaum muslim yakni Idul Fitri dan juga Idul Adha.

Anas bin Malik berkata, “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fitri dan Idul Adha.’”.

  1. Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh Orang Kafir

Kerusakan yang kedua adalah merayakan tahun baru berarti tasyabbuh atau meniru orang kafir. Nabi Muhammad sedari dulu sudah memperingatkan jika umat ini akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan juga Nasrani dan kaum muslim akan mengikuti mereka baik dari segi berpakaian ataupun dari segi hari raya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“.

  1. Merekayasa Amalan Tanpa Tuntunan Malam Tahun Baru

Seperti yang kita ketahui jika perayaan tahun baru berasal dari budaya orang kafir dan menjadi tradisi. Akan tetapi, orang jahil mensyariatkan amalan tertentu untuk malam pergantian tahun tersebut. Hal terbaik yang bisa dilakukan umat muslim untuk malam tahun baru sebaiknya diisi dengan dzikir berjamaah di masjid yang lebih bermanfaat. Persyariatan tersebut sungguh aneh sebab sudah melakukan amalan tanpa diikuti dengan tuntunan dan lagi pula ini bukanlah perayaan atau ritual umat muslim.

  1. Terjerumus Pada Haram Saat Mengucapkan Selamat Tahun Baru

Tahun baru merupakan syiar orang kafir dan bukanlah menjadi syiar umat muslim sehingga tidak pantas bagi umat muslim untuk memberi selamat dalam syiar orang kafir berdasarkan dari kesepakatan para ulama.

Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah berkata, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama.

[AdSense-B]

  1. Meninggalkan Perkara Wajib

Begadang selama semalam sambil menunggu detik pergantian tahun tentunya akan membuat umat muslim meninggalkan perkara wajib yakni sholat 5 waktu seperti sholat subuh. Meninggalkan sholat 5 waktu tersebut bukanlah perkara yang sepele dan bahkan para ulama menyatakan hal tersebut sebagai perkara dosa besar dalam Islam.

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”

  1. Begadang Tanpa Hajat

Bergadang dalam Islam tanpa diikuti dengan syar’i sangat dibenci oleh Rasulullah SAW termasuk salah satunya adalah merayakan tahun baru sebab tidak memiliki manfaat sama sekali.

Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”

  1. Terjerumus Dalam Zina

Perayaan tahun baru juga tidak lepas dengan ikhtilath atau bercampurnya antara wanita dan laki laki dan juga berkholawat atau berdua duaan dan ini bisa menjerumuskan umat muslim ke dalam zina dalam Islam. Hal inilah yang akan terjadi dalam malam pergantian tahun baru padahal melakukan pandangan, bersentuhan tangan dan bahkan sampai kemaluan adalah perbuatan zina dan menjadi hal yang sangat diharamkan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.

Demikian penjelasan terkait apa saja hukum dan larangan merayakan tahun baru masehi bagi umat islam beserta alasan-alasan yang  menjelaskan mengapa hal itu dilarang. Semoga bermanfaat.

Hukum Mencintai Suami Orang Dalam Islam

Mencintai bukanlah perkara yang dilarang dalam islam. Cinta menurut Islam adalah fitrah. Setiap orang pasti memiliki rasa cinta di dalam hatinya. Dan ya, itu adalah hal wajar. Namun cinta juga tidak boleh diumbar dengan sembarangan. Khususnya kepada lawan jenis yang bukan muhrim. Tentunya kita sebagai wanita harus membatasi pergaulan dengan pria. Sebab jatuh cinta dalam Islam tidak boleh diekspresikan lewat pacaran. Larangan berpacaran dalam islam telah disebutkan dalam Al-Quran:

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra : 32)

Nah, yang menjadi pembahasan kita kali ini adalah tentang hukum mencintai suami orang dalam islam. Kondisi tersebut cukup sering kita temukan dalam masyarakat. Dimana seorang wanita mencintai pria yang sudah beristri lalu ia meminta agar dinikahi. Kira-kira bagaimana islam memandang hal itu? Berikut ulasan lengkapnya!

Pandangan Islam Tentang Mencintai Suami Orang

Jika dipikirkan secara logika, kita tentu sudah mengerti bahwa mencintai suami orang itu adalah perbuatan yang tidak baik. Para ulama pun juga berpendapat demikian. Menurut jumhur ulama mencintai suami orang hingga menyebabkan rusaknya rumah tangga lelaki tersebut hukumnya haram.

Imam Al-Haitsami dalam kitabnya berjudul Al-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kabair menjelaskan bahwa merusak hubungan wanita dengan suaminya adalah sesuatu yang haram. Perbuatan tersebut dikategorikan dalam dosa besar.

Hal tersebut juga dijelaskan dalam beberapa hadist: 

Dari Abu Hurairah radiiyallahu bahwasahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa menipu dan merusak (hubungan) seorang hamba dari tuannya, maka ia bukanlah bagian dari kami. Dan barang siapa merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya, maka ia bukanlah bagian dari kami”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita meminta (kepada suaminya) agar sang suami mencerai wanita lain (yang menjadi istrinya) dengan maksud agar sang wanita ini memonopli ‘piringnya’, sesungguhnya hak dia adalah apa yang telah ditetapkan untuknya sesuai dengan kedudukan wanita dalam Islam.

Pendapat Ulama 

Ulama Syafi’i berpendapat bahwa wanita yang menganggu suami orang, kemudian merusak rumah tangga lelaki tersebut. Maka boleh baginya meminta dinikahi setelah lelaki itu berstatus cerai. Namun perbuatan ini merupakan tindakan fasik dan maksiat. Dia menanggung dosa yang sangat buruk dihadapan Allah Ta’ala.

Ulama Hanafi juga berpendapat sama dengan Syafii. Bahwa mereka boleh saja menikah setelah si lelaki bercerai dengan istrinya. Namun perbuatan itu adalah seburuk-buruknya perbuatan dan kelak akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat.

Ulama Maliki berpendapat lain. Menurut mereka, seorang wanita yang merusak rumah tangga orang lain. Lalu ia minta dinikahi si pria setelah bercerai maka hukum pernikahannya haram. Sebab jalan yang ditempuh juga tidak baik.

Perbuatan yang Dianggap Merusak Rumah Tangga Orang Lain

Ada beberapa perbuatan yang kerapkali memicu rusaknya rumah tangga orang lain. Ini dikarenakan seorang wanita yang berlaku genit terhadap pria yang sudah beristri. Diantara tindakan yang merusak itu terdiri dari:

  1. Berkomunikasi Berlebihan dengan Suami Orang Lain

Komunikasi yang terjalin secara intens dan terus-menerus bisa menjadi pintu terbukanya rasa cinta. Tindakan ini sangat berbahaya bila dilakukan terhadap orang yang sudah menikah. Misalnya saja wanita single berkomunikasi dengan pria beristri. Lama-kelamaan, bukan tak mungkin pria itu akan jatuh cinta dengannya. Bahkan mungkin berselingkuh hingga akhirnya menyebakan keretakan rumah tangga.

  1. Merayu

Sebagai seorang wanita kita mempunyai batasan dalam pergaulan dengan lawan jenis. Wanita tidak boleh menunjukkan suara manja di hadapan pria yang bukan muhrim. Bersikap genit dan merayu, semua itu dilarang dalam islam. Mengapa? Karena pria mudah tergoda dengan rayuan wanita. Terlebih lagi jika wanita yang merayu tersebut mengenakan pakaian seksi. Naudzubillah mindzalik.

[AdSense-B]

  1. Mendoakan Rumah Tangga Orang Lain Hancur

Jangan karena rasa cinta lalu kita mendoakan agar hubungan rumah tangga orang lain hancur. Ini jelas adalah dosa! Sebaliknya, kita harus koreksi diri sendiri. Sudah benarkah perasaan cinta tersebut? Atau jangan-jangan itu hanyalah hasrat yang dibisikkan oleh setan? Perbanyak mengucapkan istighfar dan dekatkan diri kepada Allah Ta’ala sehingga kita bisa terhindar dari perbuatan tercela.

  1. Menekan dan Meminta Dinikahi

Menekan dan meminta dinikahi oleh pria yang sudah beristri juga tidak diperbolehkan. Pria itu tidak bisa sembarangan berpoligami. Dalam melakukan poligami tentunya harus dengan keihklasan dan ridho dari istri. Bukan secara sembunyi-sembunyi, apalagi menceraikan istri secara paksa.

  1. Meminta Bantuan Dukun

Meminta bantuan dukun untuk mendapatkan cinta dari suami orang jelas perbuatan dosa besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Barangsiapa mendatangi peramal, lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka shalatnya tak diterima selama 40 hari.” (Muslim)

”Mereka (para dukun) itu tidak ada apa-apanya.” Para sahabat berkata: “Ya Nabi! Adakalanya mereka meramal sesuatu dan ternyata benar.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Itu adalah sesuatu yang didengar oleh jin kemudian dibisikannya kepada para walinya dan mereka mencampurnya dengan seratus kebohongan.” (HR.Bukhari)

Cara Menjaga Hati Agar Tidak Terbawa Kesesatan

Untuk mencintai seseorang, tidak harus mencintai suami yang sudah memiliki Istri. Hal tersebut malah menjerumuskan kita ke hal – hal yang sesat. Oleh karena itu, berikut ini ada beberapa cara menjaga hati dari hal – hal yang menyesatkan. Antara Lain:

[AdSense-A]

  1. Banyak Berdzikir

Keutamaan berdzikir dalam islam dapat mendapatkan ridha Allah, melindungi diri dari hal-hal tercela, dijanjikan surga, dan dicukupi segala kebutuhan kita.

Allah Subhanallah Ta’ala berfirman: “Dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.” (QS. Thaa-Haa: 130).

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du: 28).

  1. Menundukkan Pandangan

Katakanlah kepada orang pria yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 30-31).

  1. Menutup Aurat

Allah Subhanallah Ta’ala berfirman: “Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka !” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzab:59)

  1. Menyibukkan Diri dengan Berkumpul dengan Orang-Orang Baik

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

(Agama) seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, al-Hakim dan Ahmad).

  1. Berpuasa

Puasa dapat menahan nafsu dan menjauhkan kita dari hal-hal yang buruk. Apabila kita mencintai seseorang namun tidak bisa memilikinya maka perbanyaklah berpuasa. Dengan begitu kita terhindar dari perkara yang mendatangkan dosa.

  1. Meminimalisir Interaksi dengan Lawan Jenis

Untuk menghindari munculnya perasaan cinta yang tidak halal maka caranya minimalisir interaksi dengan lawan jenis. Apabila tidak ada keperluan penting sebaiknya hindari saja. Ingat, zina bisa berasal dari pandangan, lisan, pendengaran, dan memegang yang diharamkan. Zina dalam islam merupakan dosa besar.

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda: ”Telah dituliskan atas Bani Adam bagian dari zina yang pasti ia melakukannya, tidak bisa tidak. Maka, zina kedua mata adalah melihat (yang diharamkan), zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan), zina lisan adalah berkata-kata (yang diharamkan), zina tangan adalah memegang (yang diharamkan), zina kaki adalah melangkah (ke tempat yang diharamkan), hati berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluan membenarkan itu semua atau mendustakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Memperbanyak Baca Al-Quran

Allah Ta’ala berfirman:“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (QS. Al Anfal : 2)

  1. Bersabar

Bersabar juga menjadi kunci agar kita dijauhkan dari rasa cinta yang salah. Percayalah jodoh tidak akan salah alamat. Kita hanya perlu berdoa dan memohon kebaikan pada Allah, dan agar dijauhkan dari bisikan-bisikan syaitan.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155)

  1. Bertawakkal Kepada Alllah

Terakhir, kita harus menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah Ta’ala. Percayalah kepadaNya. Apabila Allah menentukan suatu jalan kepada kita maka itu pasti yang terbaik. Tugas kita cukup menghindari perkara-perkara dosa dan tetap mengikuti aturan agama.

Katakanlah Dia-lah Allah yang Maha Penyayang Kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah Kami bertawakkal. kelak kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata“. (QS. Al-Mulk: 29).

Demikianlah penjelasan tentang hukum mencintai suami orang dalam islam berdasarkan dalil dan pendapat ulama. Semoga bermanfaat dan bisa membantu.

17 Dosa Meninggalkan Shalat 5 Waktu dan Azabnya

Semua umat muslim tentunya sudah mengetahui jika dalam dasar hukum Islam sudah tertulis jika shalat menjadi perkara yang sangat penting dan shalat juga termasuk salah satu rukun Islam yang utama dan harus selalu ditegakkan. Akan tetapi, kenyataan menunjukan hal yang berbeda dimana banyak orang yang mengakunya beragam Islam namun masih saja meninggalkan shalat 5 waktu tersebut.

Banyak umat Islam yang masih melaksanakan shalat hanya 1 kali dalam sehari dan itu pun jika ingat bahkan tidak sedikit yang sudah benar benar meninggalkan shalat dan hanya melakukannya saat shalat Idul Fitri dan Idul Adha saja. Paa ulama juga sepakat jika meninggalkan shalat masuk kedalam dosa besar dan bahkan lebih besar daripada dosa lainnya dan menjadi dosa yang tak terampuni.

Kedudukan Shalat dalam Islam

Shalat dalam Islam merupakan salah satu tiang agama Islam yang keberadaannya amat sangat penting. Oleh karenanya, wajib bagi umat islam untuk melaksakan shaat fardhu 5 waktu. Perintah ini sudah tertera di dalam rukun 5 waktu.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun di atas lima tiang: Syahadat Lâ ilâha illa Allâh dan Muhammad Rasûlullâh; menegakkan shalat; memberikan zakat; haji; dan puasa Ramadhân.” [HR. Bukhâri, no. 8; Muslim, no. 16]

Oleh karena itu shalat merupakan pondasi agama yang harus selalu dikokohkan keberadaannya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

Pokok urusan (agama) itu adalah Islam (yakni: syahadatain) , tiangnya shalat, dan puncak ketinggiannya adalah jihad.” [HR. Tirmidzi, no: 2616; dll, dishohihkan oleh Syeikh Al-Albani]

Kemudian, Allah SWT juga berfirman dalam surat Al-Baqarah: 238 yang berbunyi:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthâ (shalat Ashar). Dan berdirilah untuk Allâh (dalam shalatmu) dengan khusyu’. [Al-Baqarah/2: 238]

Lalu, apa saja dosa yang harus diterima bagi seorang muslim yang sudah meninggalkan shalat 5 waktu?, silahkan simak ulasan selengkapnya berikut ini.

  1. Mendapat Dosa Lebih Besar Dari Dosa Lain

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah, ”Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras.

Ini mengartikan jika seseorang yang sudah meninggalkan shalat dengan sengaja atau tidak disengaja, harus siap menerima hukuman yang bahkan jauh lebih besar dari dosa berat lainnya sebab masuk kedalam jenis dosa besar dalam Islam.

  1. Meninggalkan Shalat Karena Malas

Apabila seorang muslim meninggalkan shalat karena malas namun tetap yakin betapa penting dan wajibnya shalat maka ada 3 pendapat diantara para ulama mengenai hal ini yakni harus dibunuh karena dianggap sudah murtad atau keluar dari Islam, pendapat kedua adalah menyatakan jika seseorang yang meninggalkan shalat harus dibunuh dengan cara hukuman had akan tetapi tidak dihukumi kafir dan pendapat ketiga adalah fasiq atau sudah berbuat dosa yang besar dan harus dipenjara sampai mau melaksanakan shalat sebagai hukum meinggalkan shalat dengan sengaja.

[AdSense-B]

  1. Akan Menemui Ghoyya Kecuali Bertaubat

Seseorang yang sudah meninggalkan shalat dan mengikuti hawa nafsu duniawi, maka kelak akan menemui Ghoyya kecuali jika sudah melakukan pertaubatan seperti melakukan shalat taubat, beriman dan juga memiliki amal saleh. Ghoyya sendiri merupakan sungai di Jahannam yang memiliki makanan sangat jijik dan sangat dalam tempatnya yang menjadi tempat bagi orang tidak mau shalat dan hanya mengikuti syahwat atau hawa nafsu.

Seseorang yang sudah meninggalkan shalat maka menjadi orang yang bermaksiat dan tempatnya berada di neraka bagian paling atas seperti yang sudah disiapkan untuk umat muslim yang berdosa. Ghoyya merupakan bagian paling bawah dari neraka namun bukan menjadi tempat orang muslim melainkan bagi orang kafir.

Allah Ta’ala berfirman, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam : 59-60)

  1. Bukan Merupakan Saudara Seiman

Allah Ta’ala juga sudah memberikan peringatan dan menghubungkan antara persaudaraan yang terjalin dengan sesama muslim yang sudah menjalankan shalat. Apabila shalat tidak dikerjakan, maka ini mengartikan jika orang tersebut bukanlah saudara seiman dan konsekuensi yang harus diterima bukan mukmin, sebab mukmin adalah saudara seperti firman Allah Ta’ala, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al Hujurat [49] : 10)

  1. Sudah Melakukan Kesyirikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda jika yang menjadi pemisah diantara seorang hamba dengan kekufuran dan juga keimanan adalah shalat. Jika shalat ini sudah ditinggalkan maka ini mengartikan orang tersebut sudah melakukan syirik dalam Islam dan menjadi ciri ciri orang yang tidak ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT.

  1. Sudah Menjadi Orang Kafir

Seorang muslim yang sudah meninggalkan shalat 5 waktu maka tidak menjadi bagian lagi dari Islam dan hukumnya adalah kafir atau sudah keluar dari islam seperti yang sudah disepakati para sahabat seperti yang dikatakan Ibnul Qoyyim dalam kitab Ash Sholah.

  1. Berada 30 Tahun Dalam Neraka

Seseorang yang meninggalkan shalat subuh maka nantinya akan masuk ke dalam neraka selama 30 tahun yang berarti sama dengan 60 ribu tahun saat di dunia dan ini terjadi jika 1 kali saja meninggalkan shalat sehingga akan dilipatgandakan jika dilakukan selama beberapa kali dan menjadi salah satu dosa meninggalkan shalat subuh.

  1. Dosa Sama Besar Dengan Membunuh

Seorang muslim yang meninggalkan satu kali saja shalat ashar yang merupakan salah satu dari shalat 5 waktu, maka dosanya sudah sama besar dengan membunuh 10 ribu umat muslim sehingga jika dilakukan secara berulang kali, ini mengartikan kita sudah membunuh banyak umat muslim.

  1. Dosa Sama Dengan Berzina Dengan Orang Tua

Seorang muslim yang sudah meninggalkan shalat maghrib sebanyak satu kali saja, maka dosanya sudah sama seperti berbuat zina dengan orang tua.

[AdSense-A]

  1. Tidak Mendapat Ridho Allah

Meninggalkan salah satu shalat 5 waktu yakni shalat isya akan mendapatkan dosa yakni tidak akan mendapat ridho dari Allah SWT dalam segala hal selama di bumi dan dibawah langit serta tidak mendapat nikmat dari Allah SWT untuk makan dan minum sehingga jauh dari hidup bahagia menurut Islam.

  1. Siksa Saat Sakaratul Maut Lebih Berat

Seseorang muslim yang sudah meninggalkan shalat 5 waktu, akan mendapatkan siksa saat sakaratul maut yakni akan menghadapi sakaratul maut dalam keadaan yang sangat hina, meninggal dalam keadaan lapar dan juga meninggal dalam keadaan haus.

  1. Siksa Dalam Alam Kubur Lebih Besar

Seorang muslim yang sudah meninggalkan shalat 5 waktu juga akan mendapatkan dosa besar dan akan disiksa dalam alam kubur yang lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak meninggalkan shalat 5 waktu. Allah SWT akan menyempitkan kuburannya dalam keadaan yang paling sempit dan kuburannya akan sangat gelap serta akan terus disiksa tiada henti sampai akhirnya hari kiamat menurut Islam datang.

  1. Siksa Meninggalkan Shalat Saat Bertemu Allah

Umat muslim yang meninggalkan shalat 5 waktu juga akan mendapat siksa pada saat nanti ia bertemu dengan Allah SWT dimana ia akan dibelenggu oleh malaikat dan Allah SWT tidak akan memandang orang tersebut dengan kasih sayang dan Allah SWT tidak akan memberi ampun atas semua dosa yang sudah dilakukannya sehingga akan mendapat azab yang sangat pedih di neraka.

  1. Siksa Dunia Meninggalkan Shalat Fardhu

Seseorang yang meninggalkan shalat fardhu akan mendapatkan 6 macam siksa selama hidup di dunia yakni Allah SWT yang akan mengurangi berkat umur orang tersebut, dipersulit urusan rezeki, menghilangkan tanda atau cahaya shaleh dari wajahnya, tidak mendapatkan tempat dalam Islam, amal kebaikan tidak akan menghasilkan pahala dari Allah SWT dan juga tidak akan dikabulkan doanya oleh Allah SWT meskipun sudah memanjatkan doa agar keinginan tercapai sekalipun.

  1. Mendapat kemurkaan Allah SWT

Seseorang yang meninggalkan shalat 5 waktu secara sengaja, tidak sengaja, malas atau alasan lainnya juga akan mendapat murka dari Allah SWT  dan juga akan mendapatkan kehinaan tidak hanya di dunia namun juga di akhirat sehingga sudah bisa dipastikan menjadi salah satu orang yang tidak sukses dunia akhirat dalam Islam.

  1. Digantung Dengan Rantai Sepanjang 7 Hasta

Dalam sebuah riwayat dikatakan jika siksaan yang akan diterima bagi mereka yang meninggalkan shalat sangatlah kejam dimana langit akan terbuka dan malaikat akan datang sambil membawa rantai sepanjang 7 hasta yang akan digunakan untuk menggantung orang yang tidak melaksanakan shalat. Tidak berhenti sampai disini, namun akan dimasukkan juga rantai tersebut melalui mulut dan dikeluarkan kembali lewat duburnya dan malaikat juga akan mengumumkan jika itu merupakan balasan bagi orang yang sudah menyepelekan perintah yang sudah Allah SWT berikan.

  1. Lebih Besar Dari Dosa Zina

Zina yang sudah dilakukan seseorang sebelum ia menikah maka akan dirajam di hadapan penduduk sebanyak 100 kali. Apabila yang berbuat zina dilakukan pada kehidupan setelah menikah maka hukumannya adalah seseorang yang sudah menikah maka hukumnya akan dirajam sampai mati seperti hukuman mati dalam Islam. Meskipun dosa zina adalah dosa yang besar dan dianggap sangatlah hina, akan tetapi masih bisa diampuni meskipun merupakan hal yang sulit dan harus melakukan amalan penhapus dosa zina. Perlu diketahui jika dosa meninggalkan shalat 5 waktu lebih besar seribu kali dari dosa zina dalam Islam tersebut dan nantinya akan mendapat hukuman berupa murka Allah SWT.

Demikian pembahasan yang bisa kami berikan kali ini mengenai dosa meninggalkan shalat 5 waktu. Semoga bisa bermanfaat bagi kaum muslim dan semoga dengan ini, kita semua bisa meningkatkan kerabat, saudara dan juga sahabat kita mengenai bahaya dari meninggalkan shalat 5 waktu. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam

Hukum Mencuri Dalam Islam dan Dalilnya

Mencuri berarti mengambil sesuatu yang bukan haknya secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan pemiliknya. Secara hukum, mencuri adalah perbuatan yang dilarang oleh negara. Begitupun dalam pandangan islam. Mencuri merupakan dosa dan tidak sesuai rukun iman, rukun islam, dan fungsi agama. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran yang artinya:

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.” (QS.al-Baqarah: 188).

Mencuri Menurut Ajaran Islam

Dari Amr bin Al Ash bahwasahnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  pernah ditanya tentang buah yang tergantung diatas pohon, lalu beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengambil barang orang lain karena terpaksa untuk menghilangkan lapar dan tidak terus- menerus, maka tidak dijatuhkan hukuman kepadanya. Dan barangsiapa mengambil sesuatu barang, sedang ia tidak membutuhkannya dan tidak untuk menghilangkan lapar, maka wajib atasnya mengganti barang tersebut dengan yang serupa dan diberikan hukuman ta’zir. Dan barangsiapa mengambil sesuatu barang sedangkan ia tidak dalam keadaan membutuhkan, dengan sembunyi-sembunyi setelah diletaknya di tempat penyimpanannya atau dijaga oleh penjaga, kemudian nilainya  seharga perisai maka wajib atasnya dihukum potong tangan.” (HR. Abu Daud).

Dari hadist diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa terdapat 3 hukuman yang bisa diperlakukan bagi pencuri. Diantaranya:

  1. Dimaafkan

Ini berlaku apabila pencuri berada dalam kondisi terpaksa (misal kelaparan) dan tidak dilakukan secara terus-menerus. Dalam hadist dijelaskan: “Tangguhkan  hudud (hukuman) terhadap orang-orang islam sesuai dengan kemampuanmu. Jika ada jalan keluar maka biarkanlah mereka menempuh jalan itu. Sesungguhnya penguasa tersalah dalam memaafkan, lebih baik dari tersalah dalam pelaksanaan hukuman.” (HR. Al- Tirmidzi)

Serta dalam Al-Quran:

  • Dan sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang Dia haramkan, kecuali yang terpaksa kalian makan.”(QS. Al-An’am: 119)
  • Siapa yang dalam kondisi terpaksa memakannya sedangkan ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka ia tidak berdosa. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”(QS.Al-Baqarah: 173)
  • Siapa yang terpaksa mengonsumsi makanan yang diharamkan karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( Al-Ma’idah: 3).
  1. Ta’zir (dipenjara)

Hukuman ini berlaku bagi seseorang yang mencuri benda namun nilainya tidak terlalu tinggi. Misalnya menemukan benda di jalan atau mengambil buah di pohon tepi jalan, maka ia wajib mengembalikan benda tersebut atau dipenjara.

  1. Dipotong tangan

Hukuman ini diberlakukan pada seorang pencuri yang mengambil barang dari penyimpanan atau penjagaan, barang tersebut bernilai jual tinggi dan ia memang memiliki niat mencuri tanpa ada paksaan.

Dalil-Dalil yang Menjelaskan Hukum Potong Tangan Kepada Pencuri

 Pada dasanya hukum mencuri adalah dosa. Tidak dianjurkan dan dilarang secara agama. Sebab perbuatan mencuri ini merugikan pihak lain. Bahkan dapat menyebabkan pertumpahan darah. Maka itu, untuk memberikan efek jera maka islam memberikan hukuman pada seorang pencuri berupa potong tangan. Tentu saja hukuman ini tidak serta-merta dibuat begitu saja. Namun mengacu ayat Al-Quran yang artinya:

Lelaki yang mencuri dan wanita yang mencuri,potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri,maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya.Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Maidah: 38-39).

[AdSense-B]

Selain itu juga diperkuat dengan hadist-hadist shahih yang menjelaskan bahwa pada zaman terdahulu, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menjatuhi hukuman potong tangan kepada seorang pencuri.

Diceritakan bahwa di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, seorang wanita dari Bani Makhzum dituduh mencuri. Ketika terbukti bahwa ia telah melakukan pencurian, Rasulullah SAW memerintahkan agar ia segera dihukum potong tangan. Orang-orang Bani Makhzum terkejut mendengar berita memalukan yang akan menimpa salah seorang wanita keturunan terhormat mereka karena pasti akan dipotong tangannya. Lalu mereka menghubungi sahabat Utsamah ibnu Zaid yang menjadi kesayangan Nabi, agar ia mau memintakan grasi dari Rasulullah terhadap wanita kabilahnya. Kemudian Utsamah memohon grasi untuk wanita tersebut, dan ternyata jawaban beliau : “Apakah kamu meminta grasi terhadap salah satu hukuman had Allah?”. Kemudian Nabi memanggil semua kaum muslimin lalu beliau berpidato : “Wahai umat manusia, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah hancur, karena mereka menerapkan hukuman had terhadap orang yang lemah, sedangkan yang mulia, mereka biarkan saja. Demi Dzat yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, seandainya Fathimah (anak Nabi) mencuri, maka pasti akan kupotong tangannya.” (HR. Bukhari).

Hadits lain yaitu:

Dari Aisyah radhiyaallahuanha, sesungguhnya Usamah meminta pengampunan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.tentang seseorang yang mencuri, lalu Rasulullah bersabda; bahwasanya binasa orang-orang sebelum kamu disebabkan karena mereka melaksanakan hukuman hanya kepada orang-orang yang hina dan mereka tidak melaksanakannya kepada orang-orang bangsawan. Demi yang jiwaku dalam kekuasaanNya, jika seandainya Fatimah yang melakukannya, pasti aku potong tangannya.” (HR. Bukhari).

[AdSense-A]

Syarat-Syarat Hukum Potong Tangan

Dalam menerapkan hukum potong tangan kepada pencuri tentu tidak boleh dilakukan begitu saja. Terlebih lagi jika menghakimi sendiri lalu menganiayanya. Hal ini tentu tidak benar. Terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mempraktekan hukum potong tangan. Diantaranya yaitu:

  1. Pencuri cukup umur (Baligh)

Syarat pertama seseorang dikatakan mencuri dan wajib dikenai hukum potong tangan adalah usianya harus sudah baligh. Enggak mungkin jika balita mencuri lalu dipotong tangannya. Sebab balita masih belum mengerti apa-apa.

  1. Tidak dipaksa atau terpaksa

Hukum potong tangan berlaku apabila seseorang mencuri atas kesadarannya sendiri. Tanpa ada paksaan dari pihak lain dan tidak sedang berada dalam kondisi terpaksa.

“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku karena aku (apa yang mereka lakukan) tanpa ada kesengajaan, lupa dan apa yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” (HR. Ibnu Majah dan Al Baihaqi).

  1. Sehat dan berakal

Syarat ketiga adalah si pencuri berakal sehat. Jadi tidak sedang gila. Seseorang yang kehilangan akal maka tidak berhak dijatuhi hukuman.

  1. Pencuri memahami hukum islam

Pencuri yang tidak memahami tentang hukum islam, misalnya saja non muslim yang baru masuk islam (Muallaf) dan belum mempelajari islam secara menyeluruh maka ia tidak wajib dikenai hukum potong tangan.

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.” (QS. Al Ahzab: 5).

  1. Barang yang dicuri berada dalam penyimpanan

Seseorang dikatakan mencuri jika ia mengambil barang yang berada dalam penyimpanan. Misalnya mengambil barang orang lain yang disimpan di dompet, almari, atau tempat-tempat lainnya.

  1. Barang yang dicuri berada dalam penjagaan

Misalnya barang yang berada di samping orang sholat, kebun yang dibatasi dengan tembok, atau barang-barang lain yang dijaga pemiliknya. Sedangkan menemukan barang di jalanan atau mengambil buah di pohon yang tidak ada pembatasnya, maka hukum potong tangan tidak berlaku. Sebaliknya si pencuri hanya diwajibkan mengembalikan barangnya. Jika tidak ada, maka harus membayar ganti rugi. Dan hukumannya adalah dipenjara (Ta’zir) dengan didasarkan pada peraturan undang-undang.

  1. Nilai barang yang dicuri mencapai jumlah nisab

Syarat berikutnya untuk memberlakukan hukum potong tangan adalah jumlah barang yang dicuri harus mencapai nisab. Menurut mayoritas ulama jumlahnya sebesar 3 dirham atau ¼ dinar. Hal ini didasari oleh hadist shahih:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memotong tangan seorang yang mencuri perisai yang nilainya sebesar 3 dirham.” (Hadist Muttafaqun ‘Alaihi)

Dari Aisyah radhiyaallahuanha bahawa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Jangan memotong tangan seorang pencuri kecuali mencapai ¼ dinar keatas”. (HR. Muslim).

Perlu diketahui bahwa 1 dinar = emas 24 karat sebesar 4.25 gram. Jadi bila ¼ dinar berarti= ¼ x 4.25 : 1.0625 gram. Apabila nilai barang curiannya kurang dari ukuran tersebut maka hukum potong tangan tidak boleh dilakukan. Pencuri cukup diadili secara hukum. Misal dipenjara, membayar ganti rugi atau mengadakan persetujuan bersama.

  1. Barang curian mutlak bukan miliknya

Maksudnya antara pencuri dengan pemilik barang yang dicuri tidak ada hubungan darah ataupun ikatan keluarga. Misalnya orang tua mencuri harta anaknya atau sebaliknya, istri mencuri harta suaminya, maka ini tidak bisa diperlakukan hukum potong tangan. Sebab seorang keluarga masih memiliki hak terhadap keluarganya yang lain. Namun demikian bukan berarti pencurian dalam keluarga diperbolehkan. Tidak ya. Pencurinya tetap harus diadili.  Dan hukumannya bergantung pada keterdekatan hubungan, kerelaan orang yang dicuri, undang-undang negara dan ajaran hukum fiqih islam.

  1. Barang curian adalah barang yang berharga

Syarat Berikutnya adalah barang yang dicuri haruslah barang yang berharga. Dalam artinya layak secara syarak. Benda yang bernilai jual cukup tinggi. Bukan benda-benda bekas yang tak terpakai, bangkai atau sejenisnya.

Sebelum melakukan hukuman potong tangan, seorang hakim tentu harus memperhatikan syarat-syarat diatas. Kemudian melihat kondisi si pencuri, apakah ia orang yang masih gagah perkasa ataukah orang yang tak berdaya. Seseorang yang mencuri dikarenakan terpaksa akibat rasa lapar, dan aktivitas mencuri ini tidak dilakukan secara terus-menerus maka ia berhak mendapatkan keringanan. Hukum potong tangan tidak berlaku kepada seorang pencuri yang mencuri sedikit makanan karena kelaparan. Apabila si pencuri mau meminta maaf dan bertaubat maka tidak ada dosa yang tak terampuni oleh Allah Ta’ala.

Demikian penjelasan tentang hukum mencuri dalam islam. Sebagai seorang hamba sebaiknya kita memahami tentang Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam  dengan begitu kita bisa memahami kewajiban kita dan mengindari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama. Semoga bermanfaat.