13 Keutamaan Memaafkan Dalam Islam

Banyak dari kita tidak bisa memaafkan orang tua atau teman atau pasangan kita saat mereka mengatakan hal-hal yang menyakitkan dalam kemarahan. Kami menyimpan dendam selama bertahun-tahun, tidak dapat melupakan hal-hal yang telah dilakukan orang terhadap kami.

Di satu sisi, kita merasa dibenarkan dalam merasakan hal ini. Bagaimanapun, kita adalah orang-orang yang dianiaya. Adalah wajar jika marah pada seseorang saat mereka menyakitimu dan mengajarkan keutamaan ikhlas dalam islam.

Nabi kita mengatakan kepada kami bahwa seorang Muslim tidak boleh memutuskan hubungan dengan Muslim lain selama lebih dari 3 hari, menyadari bahwa kita memerlukan waktu untuk menenangkan diri. Memaafkan berarti tidak membawa dendam di hati Anda terhadap orang itu.

Memaafkan berarti bahwa jika Anda diberi kesempatan untuk melakukan pembalasan, Anda akan memilih untuk tidak melakukannya.

Memaafkan berarti tidak menginginkan kejahatan, bahkan jika secara diam-diam, atas orang tersebut. Ini berarti Anda dapat terus bersikap sopan terhadap mereka, dan bahwa Anda bahkan dapat membawa diri Anda untuk berdoa demi kesejahteraan dan bimbingan mereka. Namun, Apa yang Kita dapatkan ketuika mengamalkan sifat pemaaf dan mengamalkan cara membuat hati tenang dan ikhlas?

1. Ketenangan Batin

Jika Anda terus membenci dan tidak memaafkan seseorang ini hanya akan memupuk kebencian yang hakikatnya akan merusak diri kita sendiri. Kebencian yang dari sekecil biji-bijian akan kian membesar dan ini sangat tidak di sukai oleh Allah SWT.

2. Belajar Lebih Teliti Memilih Teman

Namun, pengampunan tidak berarti Anda tidak bisa belajar dari kesalahan mereka. Jika Anda mempercayai seseorang dan mereka mengkhianati kepercayaan Anda, pengampunan tidak berarti Anda harus mempercayai mereka lagi jika mereka tidak memberi Anda alasan untuk melakukannya.

Anda dapat memperlakukannya dengan baik, tanpa kebencian di hati Anda, tetapi jika Anda belajar sesuatu tentang karakter mereka, Anda harus mengingatnya saat berhadapan dengan mereka.

3. Dicintai Oleh Allah

Ketika kita disibukkan dengan kesalahan yang telah dilakukan orang lain terhadap kita, kita kehilangan fokus dari salah satu cara terindah untuk lebih dekat kepada Allah . Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Ada pedagang yang biasa memberi kredit kepada orang. Jika dia menemukan salah satu pelanggannya berada dalam sarana yang diluruskan, dia akan berkata kepada asistennya: “Maafkan mereka hutang mereka, mungkin Allah akan mengampuni kami.” Allah mengampuni dia. “ [Bukhari / Muslim]

4. Mendapatkan Pengampunan

Ada korelasi langsung antara cara kita memperlakukan orang lain dan bagaimana Allah SWT memperlakukan kita. Kita semua tahu Nabi Muhammad yang terkenal mengatakan “Kasihanilah mereka yang ada di bumi, dan Yang di surga akan mengampuni kamu” [Tirmidzi].

Tentu saja, Allah SWT jauh lebih besar dan lebih bermurah hati dari kita. Oleh karena itu, apapun yang kita lakukan untuk orang lain, Allah akan memperbanyaknya untuk kita dan merupakan tips bersahabat dalam Islam. [AdSense-B]

5. Menunjukan Kualitas Diri

Nabi Muhammad SAW, saat duduk di masjid bersama para sahabat, menunjukkan seseorang yang masuk masjid sebagai orang yang akan masuk Jannah. Dia melakukan ini selama 3 hari, dan setiap saat, itu adalah orang yang sama yang masuk masjid. Dia tidak memperhatikan bahwa orang tersebut shalat shalat malam opsional pada malam-malam ini menjaga hati dalam islam.

6. Pengangkat Derajat

perbuatan Seseorang tidak lebih dari apa yang Anda lihat. Perbuatan seseorang memang tidak tidak lebih dari apa yang Anda lihat, tapi satu-satunya yang di lakukan adalah bahwa seseorang pemaaf tidak menyimpan dendam apapun terhadap setiap Muslim atau iri siapa pun atas karunia apa yang telah diberikan Allah kepada mereka. Dan ini adalah berkah yang sangat langka. [AdSense-A]

7. Fokus Mengharap Ridha Allah SWT

Itulah artinya menjadi orang beriman sejati. Fokus kita bukan hanya pada seberapa banyak kita berdoa, meski itu tempatnya. Sebaliknya, kita begitu fokus untuk mendapatkan ridha Allah karena kesalahan orang terhadap kita tidak penting.

Inilah sebabnya mengapa Allah menggambarkan orang-orang percaya sebagai “orang-orang yang menghindari dosa-dosa dan ketidakmurnian besar, dan saat mereka marah, mereka memaafkan” [Surat ash-Shu’ara, 42:37].

8. Mendapatkan Kekuatan

Psikolog mengatakan bahwa ketidakmampuan untuk memaafkan dapat menyebabkan seseorang berulang kali membawa kemarahan dan kepahitan ke dalam setiap hubungan dan pengalaman baru .

Rasa sakit dan ketidakamanan yang disebabkan oleh pelaku kami diproyeksikan ke orang lain, karena kami tidak dapat beralih dari pengalaman kami sebelumnya.

9. Pengakuan Kebenaran

Muslimin tidak diminta untuk memaafkan apa yang telah dilakukan orang lain kepada mereka, namun mereka harus mengakui bahwa mereka telah menyakiti dan itu salah. Kita harus merenungkan mengapa hal ini menyakitkan, apa yang mungkin menjadi motif orang yang menyakiti kita, dan apa yang harus kita pelajari.

Dan kemudian kita harus terus maju, karena kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita pasti bisa menggunakannya untuk memberdayakan diri kita dan menjadi orang yang lebih baik, insya Allah.

10. Mengambil Sebuah Pembelajaran

Ketika kita mengambil langkah untuk belajar dari pengalaman yang menyakitkan, kita seharusnya bisa mencegah diri melakukan hal yang sama kepada orang lain. Sering kali kita mengutuk apa yang kita lakukan sendiri, kita terluka karena seseorang telah berbicara di belakang punggung kita, tapi kita sering mengalami semua pertengkaran.

11. Mengajarkan rasa Simpati

Efek psikologis lain untuk memaafkan orang lain adalah bahwa hal itu mengajarkan kita simpati. Saat kita melepaskan kemarahan, kita bisa lebih memahami orang-orang yang berada dalam situasi yang sama dengan kita sebelumnya.

12. Pikiran sehat, tubuh sehat

Ketidakmampuan untuk memaafkan mempengaruhi kita secara spiritual dan psikologis, dan selanjutnya, memiliki efek buruk pada kesehatan kita. Satu studi menunjukkan bahwa orang-orang yang berfokus pada dendam pribadi telah meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung, serta ketegangan otot dan perasaan yang semakin kurang terkendali.

13. Pengingat Untuk Diri Sendiri

Kita tau bahwa dengan memaafkan kita menyadari bahwa yang dilakukan orang tersebut adalah salah dan sangat menyakitkan. Hingga ini menjadi salah satu pengingat penting dimana nantinya kita tidak boleh melakukan hal yang sama seperti yang pernah dilakukannya tersebut.

Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk memaafkan orang lain karena kesalahan mereka, dan untuk mengampuni kita untuk kepentingan kita sendiri. Amin.

6 Keutamaan Diam Dalam Islam dan Dalilnya

Salah satu kenikmatan yang kita dapat adalah lidah. Namun kebanyakan orang tidak menggunakan lidahnya dengan baik. Mulai dari omongan kotor, kebohongan bahkan bergunjung.  Padahal sesungguhnya lidah diciptakan untuk banyak menyebut asma Allah SWT.  Ali Bin Abi Thalib R.A pernah berkata: “Seseorang mati karena tersandung lidahnya dan seseorang tidak mati karena tersandung kakinya.Tersandung mulutnya akan menambah (pening) kepalanya sedangkan tersandung kakinya akan sembuh perlahan.” (HR. Bukhari)

Sebagian ulama berkata: “Seluruh adab yang baik itu bersumber pada empat hadits, antara lain adalah Hadits “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam”. Sebagian ulama memaknai hadits ini dengan pengertian; “Jika seseorang ingin berkata, dan yang ia katakan itu baik lagi benar, dia diberi pahala. Oleh karena itu, ia mengatakan hal yang baik itu. Jika tidak, hendaklah dia menahan diri, baik perkataan itu hukumnya haram, makruh, atau mubah”

Rasulullah SAW juga telah mengingatkan kita akan bahaya dari omongan yang tidak berguna. “Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya” (HR. Ath Thabarani, Ibnu Abi Dunya dan Al Baihaqi)

Ada banyak keutamaan diam dalam Islam juga keutamaan menjaga lisan dalam islam, diantaranya adalah:

  1. Ibadah yang paling ringan tapi tinggi

Rasulullah saw bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan tentang ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi badan? Diam dan akhlak yang baik ” (HR. Ibnu Abi Dunya)

Begitu berbahayanya dampak dari perkataan yang tidak berguna, hingga diam dianggap menjadi ibadah yang paling tinggi. Sebagaimana sabda Rasul: ”Diam adalah bentuk ibadah yang paling tinggi.” (HR. Dailami, dari Abu Hurairah). Rasul memerintahkan untuk diam dari segala sesuatu yang tidak bermanfaat, tapi berbeda halnnya jika sesorang dalam kondisi sendirian, maka diamnya bukanlah ibadah. Suatu hari Rasulullah Saw. ditanya, “Siapakah Muslim yang paling utama?” Beliau menjawab,“Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain.” (HR. Bukhari).

  1. Selamat dari siksa api neraka

Layaknya pedang bermata dua, lidah dapat menjadi penyebab amal jariyah atau malah termasuk hal-hal yang menghapus amal ibadah bahkan dosa besar dalam Islam. Ketika ada suatu pembicaraan mengenai keburukan atau aib seseorang, hendaklah diam dan berlalu. Sungguh akan masuk ke dalam neraka jahanam, mereka yang suka bergunjing dan menebar kebohongan juga riya dalam islam. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (HR. Al-Bukhari)

Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, dia berkata, “Aku bertanya, wahai Rasulullah, apakah sebab keselamatan?” Beliau menjawab, “Kuasailah lidahmu, hendaklah rumahmu luas bagimu dan tangisilah kesalahanmu”. (HR. Tirmidzi)

“Dan tidakkah nanti seseorang akan diseret ke neraka dengan wajah-wajah mereka (di tanah), terkecuali itu karena ulah lidah-lidah mereka”. (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim).

Dalam Al-Quran juga terdapat cerita tentang pembicaraan penghuni surga dan neraka: “”Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,” (Q.S.  Al-Mudatsir: 42-45).

Dalam sebuah riwayat  Rasulullah SAW berkata, ”Tidak akan lurus iman seseorang sebelum lurus hatinya dan tidak akan lurus hati seseorang sebelum lurus lidahnya. Dan tidak pernah masuk surga seseorang yang tetangganya tidak aman dari gangguan lidahnya.” Orang yang lidahnya senang mengganggu tetangganya diharamkan masuk surga. Di zaman Nabi, suatu hari dilaporkan kepada Nabi perihal seorang perempuan yang kerjanya setiap hari berpuasa dan setiap malam salat tahajud, tetapi perempuan ini sering menyakiti hati tetangganya dengan lidahnya. Rasulullah saw mengatakan, “Dia berada di neraka.”

Maka dari itu kebanyakan penghuni neraka adalah wanita dikarenakan lidah mereka sendiri yang suka menggunjing orang lain terutama tetangga. Bukan hanya dalam sejarah Islam saja, bahkan hingga sekarang pun kita sering melihat atau mendengar tetangga yang saling bergunjing bahkan hingga bertengkar satu sama lain, Astaghfirullah.

baca juga:

[AdSense-B]

  1. Keberuntungan di akhirat

Diriwayatkan oleh Khlaid bin Abi ‘Imran, bahwasanya Rasulullah SAW  bersabda serambi memegang lisannya dalam waktu yang lama,“Semoga Allah merahmati seorang hamba, yang telah berkata benar maka ia akan mendapatkan keberuntungan yang besar atau diam dari keburukan maka ia akan selamat.” (HR. Ibnu Al Mubarak)

“Barang siapa yang diam, pasti dia selamat ” (HR. At Tirmidzi)

“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat maka berkatalah yang baik, atau (jika tidak), diamlah “. (HR. Bukhori dan Muslim)

Hanya dengan diam dari keinginan berkata buruk, seorang manusia dapat selamat di akhirat nanti. Lidah yang lebih tajam daripada pedang dapat menghancurkan segala sesuatunya. Untuk itulah Rasul pun memerintahkan untuk menjaga lisan. Abdullah bin Sufyan meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata:”Aku berkata kepada Rasulullah SAW, wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang islam, dengan suatu perkara yang aku tidak akan bertanya lagi kepada orang lain sesudahmu.”. Nabi saw bersabda: “Katakanlah, aku beriman, kemudian istiqamahlah”. Dia berkata: “Lalu apakah yang harus aku jaga?”, kemudian Rasulullah saw mengisyaratkan dengan tangan beliau ke lidah beliau. (HR. At Tirmidzi, An Nasa’I dan Ibnu Majah).

  1. Terhindar dari sifat munafik

Diam membuat kita jauh dari sifat munafik. Sebagaimana sabda Rasul: ”Diam itu adalah perhiasan bagi orang ’Alim dan selimut bagi orang bodoh.” (HR. Abu Syaikh, dari Muharriz).

Dikatakan oleh imam Hasan Al Bashri:“Sesungguhnya lidah orang mukmin berada dibelakang hatinya, apabila ingin berbicara tentang sesuatu maka dia merenungkan dengan hatinya terlebih dahulu, kemudian lidahnya menunaikannya. Sedangkan lidah orang munafik berada di depan hatinya, apabila menginginkan sesuatu maka dia mengutamakan lidahnya daripada memikirkan dulu dengan hatinya “.

Baca juga: kiamat menurut islam, konflik dalam keluarga, mualaf, cara menghindari ghibah, ghibah dalam islam, perbedaan ghibah dan fitnah, manfaat menghindari ghibah, kesombongan dalam islam, penyakit hati menurut islam, dan obat hati dalam islam.

[AdSense-C]

  1. Mendapat balasan surga

Sahl bin Sa’ad meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, dimana beliau bersabda (yang artinya):”Siapa yang menjamin untukku (agar menjaga) apa yang ada diantara dua janggutnya (lidah) dan yang ada diantara dua kakinya (kemaluan), maka aku menjamin untuknya surga ” (HR. Bukhori)

  1. Mendapat banyak hikmah

Anas, seorang sahabat Nabi, bercerita; Suatu hari pada Perang Uhud, aku melihat seorang pemuda yang mengikatkan batu ke perutnya lantaran kelaparan. Ibunya lalu mengusap debu dari wajahnya sambil berkata, ”Semoga surga menyambutmu, wahai anakku.”

Ketika melihat pemuda yang terdiam itu, Nabi berkata, ”Tidakkah engkau ketahui mengapa ia terdiam saja? Mungkin ia tidak ingin berbicara yang tidak perlu atau ia menolak dari hal-hal yang membahayakan dirinya.” Dalam riwayat lain, Nabi bersabda, ”Kalau engkau temukan seseorang yang sangat berwibawa dan banyak diamnya, ketahuilah mungkin ia sudah memperoleh hikmah.”

”Diam itu mengandung hikmah yang banyak, tetapi sedikit orang yang melakukannya.” (HR. Qadha’i, dari Anas dan Dailami, dari Ibnu ’Umar)

Itulah beberapa keutamaan diam dalam Islam. Sungguh diam merupakan jalan keselamatan bagi kita, namun juga dapat menjadi penyebab masuknya kita ke neraka. Semoga kita semua dapat menjaga lidah kita agar tidak menjerumuskan kita. Aamiin.

13 Keajaiban Bersedekah Kepada Anak Yatim

Bismillahirahmanirrahim.

Bersedekah kepada anak yatim adalah salah satu ibadah yang dianjurkan di dalam islam. Berikut ini 13 ‘Keajaiban’ bersedekah kepada anak yatim dilansir dari berbagai sumber:

  1. Di doakan Malaikat

Pertama-tama yang harus diingat, orang yang senantiasa bersedekah akan di doakan oleh malaikat. Malaikat akan mendoakan orang yang senang bersedekah untuk mendapatkan ganti dan memperoleh keberkahan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan doa malaikat adalah salah satu doa yang mustajab.

Hal ini telah dijelaskan dalam salah satu hadits:

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)

Menurut salah satu ulama, sedekah yang dimaksud adalah sedekah wajib kepada keluarga atau yang dimaksudkan untuk menjalin silaturahmi. Maka menafkahi anak yatim yang masih merupakan karib kerabat juga termasuk dalam hal ini.

Baca juga:

2. Hartanya akan diganti oleh Allah SWT

Orang yang menafkahkan hartanya dalam ketaatan, akan diganti oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini berarti juga termasuk orang-orang yang menafkahkan hartanya untuk anak-anak yatim.

Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya” (QS. Saba’: 39).

3. Ditempatkan di dekat Rasulullah SAW

Orang yang menanggung anak yatim (dalam hal ini berarti ia juga menyedekahkannya) maka akan memiliki kedudukan yang dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti halnya jari telunjuk dan jari tengah di surga nanti.

Anak yatim yang dimaksud adalah seseorang yang kehilangan ayahnya sebelum mencapai usia dewasa. Menanggung anak yatim berarti mengurusi segala keperluan hidupnya, mengasuhnya, mendidiknya, menyantuninya baik dari harta sendiri maupun harta anak yatim tersebut jika dia mendapatkan kepercayaan untuk mengelolanya. Hadits ini meliputi orang-orang yang menyantuni anak yatim yang memiliki hubungan keluarga maupun yang tidak ada hubungan keluarga sama sekali. Hal itu dijelaskan dalam hadits di bawah ini:

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. (HR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659, Shahih)

[AdSense-B]

4. Tidak termasuk golongan yang ingkar atas hari pembalasan

Orang-orang yang bersedekah kepada anak yatim tidak termasuk orang yang mendustakan atau mengingkari adanya hari pembalasan. Dalam surat Al-Mauun, disebutkan bahwa salah satu orang yang mendutakan hari pembalasan adalah mereka yang menghardik anak yatim.

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’  dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al Maa’uun: 1-7).

Baca juga:

5. Dinaungi Allah SWT

Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, berarti hal ini juga bisa termasuk bersedekah untuk anak-anak yatim, akan menjadi salah satu manusia yang dinaungi Allah Subhanahu Wa’ Ta’ala di hari kiamat nanti. [AdSense-A]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tujuh golongan orang yang akan diberi naungan oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya. Seorang pemimpin yang adil. Seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid-masjid. Dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah, mereka berdua bertemu dan berpisah karena-Nya. Seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’. Seorang lelaki yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan seorang lelaki yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu mengalirlah air matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Meredakan Murka Allah SWT

Orang yang bersedekah diam-diam, dalam hal ini juga bisa bersedekah kepada anak yatim,dapat meredakan murka Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dari Mu’awiyah bin Haidah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sedekah secara rahasia bisa meredam murka Rabb [Allah] tabaroka wa ta’ala.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, lihat Shahih at-Targhib [1/532])

7. Termasuk Orang yang Bertaqwa

Orang yang menafkahkan hartanya dalam waktu lapang maupun sempit, maka hal ini bisa juga menafkahkan hartanya untuk anak yatim, termasuk orang-orang yang bertakwa.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnyya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan sebagian hartanya, baik diwaktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (Q.S. Ali-Imron : 133-134 )

Baca juga:

Lainnya

Selain itu, masih banyak lagi keajaiban bersedekah kepada anak yatim, yakni:

  • Menyantuni anak yatim bisa menjadi salah satu jalan untuk mensucikan diri dan harta sehingga tidak menjadi orang yang kikir dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa menafkahinya.
  • Menumbuhkan rasa lemah lembut di hati.
  • Menambah rasa syukur atas karunia orangtua yang masih ada.
  • Menjauhi diri dari sifat kikir, pelit, sombong dan takabur.
  • Menjadi salah satu bentuk menyayangi sesama makhluk Allah.
  • Menjadi salah satu amal baik yang dapat memberatkan timbangan amal di akhirat nanti

Walahu’alam.

Hukum Wanita Bepergian Dengan Lawan Jenis

Dalam islam wanita tidak diperbolehkan bepergian dengan lawan jenis karena belum menjadi muhrimnya. Apalagi jika sampai berganti – ganti pria yang membawanya, sudah bisa dipastikan image nya akan buruk di pandangan masyarakat. Terlebih lagi jika tinggal di lingkungan pedesaan. Baca juga mengenai muhrim dalam islam.

Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiap yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad, sanad hadits ini shahih)

Berbeda lagi dengan wanita yang sudah menikah dengan seorang pria, jika ia bepergian dengannya tidak menjadi masalah karena sudah halal menurut syariat agama Islam. Wanita muslimah yang baik tentu saja mampu menjaga dirinya dan kehormatannya serta malu terhadap Allah Swt apabila tidak mengikuti perintah – Nya.

Menjadi wanita muslimah yang baik memang tidak mudah. Karena pasti akan banyak godaan untuk menguji seberapa besar tingkat keimanan anda para kaum hawa kepada Allah Swt. Karena wanita adalah dikatakan sebagai perhiasaan dunia, sudah seharusnya anda sebagai wanita bisa menjaga perhiasaan tersebut. Seperti penjelasan yang terdapat di dalam hadits di bawah ini :

Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim)

Hukum Wanita Bepergian Dengan Bukan Mahram

Sudah selayaknya anda sebagai seorang wanita menjaga diri dan tidak berperilaku seenaknya sendiri bepergian dengan kaum adam sehingga bisa menimbulkan fitnah. Jika anda sebagai wanita menolak apabila diajak bepergian atau pun tidak dengan sengaja mengajak pria untuk bepergian, saya rasa hal seperti itu tidak akan terjadi.

Namun modern ini, banyak wanita yang dengan sengaja minta diantarkan kemana – mana oleh seorng pria bahkan bisa juga berganti – ganti hanya untuk memanfaatkannya saja. Padahal sudah jelas hal ini merupakan perilaku yang tidak baik dan tidak sepantasnya dilakukan seorang muslimah sejati. Berikut hadits yang berhubungan dengan kejadian tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Ada dua golongan ahli neraka yang tidak pernah aku lihat sebelumnya; sekelompok orang yang memegang cambuk seperti ekor sapi yang dipakai untuk mencambuk manusia, dan wanita-wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang, mereka berjalan melenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak bisa mencium aromanya. Sesungguhnya aroma jannah tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)

Pada artikel kali ini saya bermaksud untuk membagikan sedikit ilmu yang saya punya mengenai hukum wanita bepergian dengan lawan jenis. Jika sobat ingin lebih dalam pemahamannya, bisa simak penjelasan di bawah ini bersama – sama.

  • Haram Hukumnya Wanita dan Laki – Laki yang Belum Mukhrim Berduaan

Berduaan saja sudah diharamkan dan dilarang ya sobat, berarti anda bisa tau ya jika bepergian dengan lawan jenis tentu saja dilarang. Berikut terdapat hadist yang menguatkan masalah ini :

“Tidaklah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali setan akan menjadi yang ketiga.” ((HR Tirmidzi 2165, Ahmad (1/26), dan dishahihkan al-Albani)

Melihat ayat tersebut sudah sangat jelas bahwasannya, antara seorang wanita dan juga seorang pria yang jalan berduaan tidak diperbolehkan dalam ajaran Islam karena dikhawatirkan terjadi hal – hal yang tidak diinginkan karena adanya hasutan dari syaitan. Baca juga mengenai hukum wanita keluar malam dalam islam.

[AdSense-B]

  • Haram Hukumnya Wanita dan Laki – Laki Saling Bersentuhan Tanpa Makhram

Sekedar bersentuhan tangan saja tidak diperbolehkan lo sobat, apalagi sampai bepergian berdua dibawa kesana kemari. Mana kehormatan anda sebagai wanita muslimah yang baik? Tanpa dijelaskan pun mungkin anda sudah paham jika saya memberikan contoh ini kepada sobat.

Anda bisa pahami mengenai hukum berjabat tangan bukan muhrim dalam islam agar anda bisa lebih jelas lagi. Berjabat tangan sama halnya dengan bersentuhan badan antara satu dengan yang lainnya. Sebagai seorang muslimah tentu saja anda mempunyai kewajiban untuk memperhatikannya.

Jika dihubungkan dengan bepergian dengan seorang pria seperti contohnya dibonceng sepeda motor, bisa anda bayangkan saat membonceng tanpa disengaja pasti anda akan memegang bagian tubuh pria demi keselamatan pada saat berkendara. Sudah jelas bukan apa yang saya maksudkan?

“Jika wanita mukminah berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka diuji dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzin.” (QS. Al Mumtahanah: 12)

[AdSense-A] ‘Aisyah pun berkata, “Siapa saja wanita mukminah yang mengikrarkan hal ini, maka ia berarti telah diuji.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri berkata ketika para wanita mukminah mengikrarkan yang demikian, “Kalian bisa pergi karena aku sudah membaiat kalian”. Namun -demi Allah- beliau sama sekali tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun.

Beliau hanya membaiat para wanita dengan ucapan beliau. ‘Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menyentuh wanita sama sekali sebagaimana yang Allah perintahkan. Tangan beliau tidaklah pernah menyentuh tangan mereka. Ketika baiat, beliau hanya membaiat melalui ucapan dengan berkata, “Aku telah membaiat kalian.” (HR. Muslim no. 1866)

Saking beresikonya bersentuhan dengan lawan jenis, sampai – sampai terdapat hadits yang menjelaskan bahwa perbuatan tersebut bisa dibandingkan dengan penusukan kepala menggunakan pasak besi akan jauh lebih baik. Coba anda lihat hadists di bawah ini ya sobat.

Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Haram Hukumnya Wanita dan Laki – Laki yang Tidak Saling Menjaga Pandangan

Saat seorang muslimah (wanita) sedang bepergian dengan seorang muslim (pria), bisa dipastikan akan sama – sama berpandangan antara satu dengan yang lainnya. Dalam konteks ini berarti sangat beresiko menjerumus ke hal – hal maksiat seperti gelap mata. Untuk mencegah hal ini terjadi, maka islam mengajarkan antara wanita dan pria yang belum mukhrim dilarang pergi berdua – duaan. Agar lebih jelas lagi anda bisa lihat pada hadits berikut ini yang diriwayatkan oleh HR. Muslim :

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim)

  • Haram Hukumnya Wanita yang Tidak Menjaga Auratnya Dihadapan Laki – Laki

Kewajiban seorang muslimah sejati ialah selalu menutup auratnya untuk menjaga perhiasaannya agar tidak dinikmati oleh para kaum adam lewat pandangan. Karena jika anda mengumbar bagian aurat dan pada saat anda sedang berada di luar rumah, maka syaitan akan membantu mengindahkan aurat anda dari pandangan para lelaki.

Menampakkan aurat saja sudah dilarang oleh ajaran Islam, apalagi sampai bepergian bersama pria disertai dengan aurat yang diumbar. Hal ini diperkuat dengan penjelasan yang ada di dalam hadits berikut ini :

Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi, shahih)

Di dalam Al Qur’an juga terdapat penjelasan lengkap mengenai hal ini :

Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.

[AdSense-C]

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An – Nur / 24 : 31)

  • Hukumnya Haram Bagi Wanita yang Bercampur Baur Dengan Laki – Laki (Ikhtilat)

Maksud dari poin yang satu ini ialah pergaulan antara wanita di kehidupan sehari – hari tanpa adanya hijab yang membalut kepalanya, pasti akan menimbulkan pandangan – pandangan buruk. Anda tidak ingin bukan jika bagian tubuh anda dijadika tontonan gratis oleh para kaum adam?

Dapat diambil kesimpulan bahwa sedikit ulasan di atas yang menjelaskan mengenai hukum wanita bepergian dengan lawan jenis tersebut, mungkin bisa anda jadikan sebagai pembelajaran dalam kehidupan sehari – hari ya sobat. Semoga sedikit ilmu yang bisa saya bagi tersebut, bisa membawa manfaat bagi sobat semuanya.

Sampai disini dulu penjelasan kali ini yang membahas mengenai hukum wanita bepergian dengan lawan jenis. Sampai jumpa di artikel saya selanjutnya atau pun pada kesempatan lainnya dan terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk mampir serta membaca artikel saya ini. Salam hangat dari penulis.

8 Keutamaan Menepati Janji Dalam Islam

Janji adalah suatu ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan seseorang atau lebih untuk berbuat sesuatu(seperti berjanji akan memberi sesuatu, berjanji akan datang dan lain-lain), dan janji dapat juga diartikan sebagai pengakuan yang mengikat diri sendiri terhadap suatu ketentuan yang harus ditepati atau dipenuhi.

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa janji adalah hutang, dan ungkapan tersebut benarlah adanya, karena Allah SWT. telah berfirman dalam (Q.S. Al-Maidah:1) :

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji. Hewan ternak dihalalkan bagimu, kecuali yang akan disebutkan padamu, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang ihram(haji atau umrah). Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki.”

Dalam pengertian ayat tersebut jelas dikatakan bahwa orag-orang yang beriman harus menepati janji mereka, karena Allah telah menetapkan segala sesuatunya sesuai dengan yang Dia kehendaki dan hal tersebut demi kebaikan manusia.

Islam sebagai din yang baik dan sempurna selalu mengajarkan umatnya agar senantiasa berakhlak dan bersifat baik. Dan salah satu sifat baik tersebut adalah dengan menepati janji, baik janji terhadap sesama manusia ataupun janji terhadap Allah SWT.

Mengenai hal tersebut Allah SWT telah berfirman :

“Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu(terhadap sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (Q.S. An-Nahl ayat 91)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa sebagai umat muslim yang taat kkita harus menepati janji, terutama janji kepada Allah SWT.

Lalu apa keutaaman bagi orang yang menepati janjinya menurut Islam?

Keutamaan Menepati Janji Menurut Islam

Ingkar janji dalam Islam adalah suatu perbuatan tercela dan merupakan ciri-ciri orang munafik dalam Islam. sebagaimana sabda Rasulullah SAW. dalam sebuah hadits :

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga : apabila berkata ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila dipercaya (di beri amanah) ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksud dari hadits tersebut adalah, orang yang suka ingkar janji merupakan golongan orang yang munafik.

Dalam Islam, menepati janji juga memiliki beberapa keutamaan, diantaranya sebagai berikut :

  1. Tergolong dalam manusia berakal

Allah SWT. berfirman :

“Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal yang dapat mengambil pelajaran, yaitu orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian.” (QS. Ar-Ra’d ayat 19-20)

Maksud dari ayat tersebut adalah orang yang menepati janji merupakan orang yang berakal dan dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah Allah turunkan kepada umatnya.

  1. Termasuk golongan Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW. bersabda :

“Orang yang merendahkan orang-orang Mukmin dan yang berjanji namun tidak menepati janjinya, mereka bukanlah golonganku dan aku bukanlah dari golongan mereka.” (HR. Muslim)

[AdSense-C] Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa orang yang suka merendahkan orang lain dan mengingkari janji, bukan termasuk golongan Rasulullah SAW.

  1. Mendapat kepercayaan

Orang yang senantiasa menepati janjinya maka ucapannya dapat dipercaya, sehingga orang tidak akan meragukan ucapan-ucapannya dan memberikan kepercayaan padanya. Misalnya teladan Rasulullah SAW : semasa hidupnya beliau merupakan orang yang selalu amanah, maka dari itu Khadijah binti Khuwailid tidak ragu untuk mempercayakan barang dagangannya kepada Rasulullah SAW. untuk dijual.

  1. Menjadikan Allah dan Rasul sebagai teladan

Sama halnya seperti Rasulullah yang selalu amanah, hal tersebut juga pasti ada dalam sifat Allah SWT.

Dalam (QS. Ar-Rum ayat 6), Allah SWT. berfirman :

“Sebagai janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”

Allah selalu menepati janji yang dia berikan kepada umatnya yang bertakwa dan taat kepada-Nya.

  1. Menempati Surga Firdaus

Allah SWT. berfirman dalam (QS. Al-Mu’minun ayat 8-11) :

“Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya, serta orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisii surga Firdaus. Mereka kekal didalamnya.”

[AdSense-B] Dalam pengertian ayat diatas mengatakan, bahwa orang yang selalu menepati janji dan menjaga shalatnya merupakan orang yang akan mewarisi surga Firdaus, dan mereka kekal didalamnya.

  1. Bukan golongan orang munafik

Orang yang suka ingkar janji dalam Islam termasuk kedalam golongan orang yang munafik, seperti yang dikatakan dalam hadits  berikut :

 “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga : apabila berkata ia berdusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila dipercaya (di beri amanah) ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Termasuk golongan orang bertakwa

Allah SWT berfirman :

“Sebenarnya barang siapa menepati janji dan bertakwa, maka sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran ayat 76)

Menepati janji merupakan salah satu sifat orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya Allah SWT. menyukai orang-orang yang bertakwa.

  1. Tidak dimintai pertanggungjawaban baik di akhirat maupun di dunia

Allah SWT. berfirman dalam (QS. Al-Isra’) :

“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai dia dewasa, dan penuhilah janji, karena janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.”

Dalam ayat tersebut ada kalimat yang mengatakan ‘dan penuhilah janji, karena janji itu dimintai pertanggungjawaban’, maksudnya adalah setiap janji yang dibuat lalu diingkari, kelak diakhirat janji tersebut akan dipertanyakan oleh malaikat dan kita akan dimintai pertanggung jawaban atas janji-janji yang tidak ditepati.

Sebagai muslim yang baik sebaiknya kita selalu mengikuti apa yang telah Allah turunkan dan ajarkan melalui sumber syariat Islam dan dasar hukum Islam. Dan akan lebih baik jika kita juga menjadikan kisah teladan Nabi Muhammad SAW. sebagai panutan dalam hidup, agar senantiasa berakhlak dan bersifat baik seperti beliau.

 

Sekian, semoga bermanfaat (:

10 Keutamaan Membaca Sholawat Luar Biasa

Dalam dasar hukum Islam sudah memberikan banyak kemudahan dalam urusan ibadah seperti sholawat contohnya. Sholawat sangat baik dilakukan untuk mengiringi setiap hembusan dari nafas anda hanya dengan mengucapkannya dalam hati. Manfaat dan keutamaan dari sholawat sendiri sangatlah banyak dan menjadi salah satu ibadah yang agung.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Jika orang bershalawat kepadaku, maka malaikat juga akan medoakan keselamatan baginya, untuk itu bershalawatlah, baik sedikit ataupun banyak. “ [HR. Ibnu Majah dan Thabrani].

Dari hadits dalam riwayat diatas bisa dilihat jika melakukan sholawat akan memberikan banyak keutamaan dan juga kebaikan seperti ulasan lengkap yang akan kami berikan dalam kesempatan kali ini.

  1. Diutamakan Saat Kiamat

Seseorang yang secara rutin membacakan sholawat, maka disaat kiamat nanti akan lebih diutamakan dari sekian banyak orang yang lainnya yang merupakan fadhilah sholawat.

“ Sesungguhnya lebih utama bagiku manusia besok pada hari kiamat, adalah mereka yang lebih banyak membaca Shalawat kepadaku.“ [HR. Turmudzi dari Ibn’ Mas’ud Ra]

  1. Mendatangkan Rahmat dan Kurnia Allah SWT

Doa dan juga permohonan akan memberikan pengaruh baik untuk mendatangkan rahmat serta karunia dari Allah SWT. Sholawat sendiri merupakan doa agar keinginan tercapai, sehingga seseorang yang bersholawat juga berarti sudah mengundang kedatangan dari karunia serta segala nikmat dari Allah SWT.

  1. Memperoleh Nilai Kebanggaan Tersendiri

Rasulullah SAW sangat menyenangi sholawat sehingga beliau juga bersabda, “Sesungguhnya aku membanggakan adanya kalian kepada umat-umat yang lainnya.“

Sebagai umat yang sangat dibanggakan Allah SWT, sudah sepantasnya kita juga mencintai Rasulullah SAW dengan cara selalu menyebutkan nama beliau setiap kali bersholawat untuk-nya.

  1. Mendekatkan Diri Pada Allah SWT

Allah SWT pernah bertitah pada Nabi Musa As jika apabila beliau ingin Allah lebih dekat pada Nabi Musa, maka Allah SWT memerintahkan beliau untuk banyak bersholawat.

“Wahai Musa, apakah kamu ingin agar Aku lebih dekat kepadamu daripada kedekatan ucapan kepada lidahmu, daripada bisikan hatimu dari hatimu sendiri, daripada ruhmu ke badanmu dan daripada cahaya matamu pada matamu ?“

Musa as. menjawab, “ Ya, wahai Tuhanku. “ Lalu Tuhan berfirman, “ Maka perbanyaklah membacakan shalawat untuk Muhammad SAW. “

  1. Diangkat 10 Derajat dan Dihapus 10 Keburukan

Sholawat yang dilakukan 1 kali saja sudah akan mendatangkan pengangkatan 10 derajat orang tersebut dan juga dihapuskan 10 kali kesalahan. Bisa dibayangkan jika sholawat dilakukan secara terus menerus, maka akan banyak kesalahan yang dihapus dan juga pengangkatan derajat berkali kali lipat.

[AdSense-B]

Abas bin Malik berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali da dihapus darinya sepuluh kesalahan, diangkat baginya sepuluh derajat.“ [HR. An-Nasa’I no. 1296].

  1. Menolak Bencana dan Pemenuhan Hajat

Beberapa sholawat juga mempunyai manfaat khusus yang berbeda untuk setiap pembacanya. Salah satunya adalah sholawat Munjiyat yang sangat berguna untuk menolak segala sesuatu bencana, menghadapi musibah dalam Islam sekaligus pemenuhan hajat yang terbilang besar bahkan untuk kebutuhan mendesak dengan menggunakan cara tertentu yang sudah ditetapkan.

  1. Ada Disisi Nabi Saat Sakratul Maut

Seseorang yang secara teratur membacakan sholawat juga memiliki keutamaan berupa penghargaan yang sangat besar dimana Nabi Muhammad akan hadir di sisi orang tersebut saat sedang menghadapi sakratul maut.

  1. Diberikan Pengampunan Dosa

Membacakan sholawat juga akan memberikan pengampunan dosa besar dalam Islam yang didasari dengan keimanan seorang mukmin, kecintaan dan juga keikhlasan di saat membacakan sholawat tersebut.

“Wahai Abu Kahil, barang siapa membaca shalawat untukku setiap hari sebanyak tiga kali dan setiap malam sebanyak tiga kali, karena cinta dan rindu kepadaku, maka Allah SWT mewajibkan atas diri-Nya untuk mengampuni dosa-dosanya pada malam dan hari tersebut.” [HR Ibnu Abi Ashim dan Ath-Thabrani].

[AdSense-C]

  1. Menjauhkan Kefakiran dan Mendekatkan Keberkahan

Seseorang yang membacakan sholawat juga akan mendapatkan keutamaan berupa dijauhkan dari kefakiran dan juga mendapatkan kelimpahan keberkahan dan juga kebaikan.

  1. Mendapatkan Keberkahan Turun Temurun

Bagi mereka yang sering membacakan sholawat juga akan mendapatkan kebaikan serta keberkahan yang melimpah bahkan sampai ke anak dan cucu mereka.

“Membaca shalawat untuk Rasulullah akan melimpahkan keberkahan pada orang yang membaca shalawat, anak-anaknya dan cucu-cucunya.”  [al-Hadist].

Demikian ulasan dari kami tentang keutamaan membaca sholawat secara rutin yang tidak hanya bisa dirasakan di dunia namun juga saat di akhirat nanti. Semoga ulasan ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan seputar Islami.

Kejujuran dalam Islam dan Dalilnya

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan teladan sempurna untuk kita. Beliau memiliki akhlak atau sifat yang begitu mulia. Beberapa sifat mulia yang dimiliki oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam antara lain amanah dan jujur. Nabi Muhammad dikenal sebagai pribadi yang jujur, bahkan sejak beliau belum diangkat menjadi nabi. (Baca juga: Kisah Abu Bakar Ash Shiddiq)

Jujur, dalam Bahasa Arab dikenal dengan istilah ash shidqu atau shiddiq, memiliki arti nyata atau berkata benar. Artinya, kejujuran merupakan bentuk kesesuaian antara ucapan dan perbuatan atau antara informasi dan kenyataan. Lebih jauh lagi, kejujuran berarti bebas dari kecurangan, mengikuti aturan yang berlaku dan kelurusan hati. (Baca juga: Hukum Perselingkuhan dalam Islam)

Ada banyak sekali bentuk kejujuran dalam kehidupan kita sehari-hari. Sejak kecil kita pasti telah diajarkan oleh orang tua kita untuk selalu berbuat jujur dan tidak berbohong. Hal ini tentu sesuai dengan ajaran agama Islam yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi sallam sendiri.

Pandangan Islam tentang Kejujuran

Telah disebutkan sebelumnya, dalam Islam kejujuran dikenal sebagai ash shidqu. Istilah ini juga dijadikan sebagai julukan bagi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki sifat jujur. Kejujuran, dalam Islam memiliki keutamaan tersendiri dan akan menjadi penyebab datangnya pahala dan rahmat dari Allah. (Baca juga: Bahaya Berbohong Dan Hukumnya Dalam Islam)

Seseorang yang memiliki sifat jujur akan memperoleh kemuliaan dan derajat yang tinggi dari Allah. Hal ini tercermin dalam firman Allah di surat al Ahzab ayat 35 yang artinya, “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang sidiqin (benar), laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.

Baca juga:

Dari ayat di atas, kita tahu bahwa jujur atau bertindak benar, termasuk dalam salah satu sifat mulia yang mendatangkan ampunan dari Allah. Tentu kita ingin termasuk orang-orang yang diampuni, maka kita pun harus bersikap jujur.

Kejujuran merupakan jalan yang lurus dan penuh keselamatan dari azab di akhirat yang keras. Bahkan, tidak hanya untuk bersikap jujur, Allah juga memerintahkan kita untuk bersama orang-orang yang jujur. Dalam surat at Taubah ayat 119, Allah berfirman, ““Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang sidiqin”. Bersama dengan orang-orang yang jujur diharapkan akan membuat kita untuk terbiasa menjaga kejujuran juga dalam diri kita.

Kebalikan dari sifat jujur adalah sifat khianat atau berbohong. Sifat ini amat dibenci oleh Allah dan termasuk dalam ciri-ciri orang yang munafik. Hal ini diungkapkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, apabila bebicara selalu bohong, jika berjanji menyelisihi, dan jika dipercaya khianat” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Baca juga:

Maka, jika kita ingin menjadi umat Islam yang baik dan mendapat kebaikan di dunia dan akhirat, kita harus selalu bersifat jujur. Dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan menunjukkan kepada surga, dan sesungguhnya seorang laki-laki benar-benar telah jujur hingga ia di catat di sisi Allah sebagai orang jujur. Sesungguhnya kebohongan itu menunjukkan kepada kedzaliman. Dan sesungguhnya kedzaliman itu menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya seorang laki-laki telah berbuat dusta hingga ia di catat disisi Allah sebagai pendusta”.

[AdSense-B]

Macam-Macam Kejujuran dalam Islam

Kejujuran merupakan tiang utama bagi manusia untuk menegakkan kebenaran dan segala sesuatu yang haq di muka bumi. Allah pun berfirman dalam al Quran surat al Ahzab ayat 70, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah Swt. dan ucapkanlah perkataan yang benar”.

Dalam agama Islam terdapat beberapa macam sifat jujur yang dibedakan berdasarkan penerapan sifat jujur tersebut, sebagai berikut:

  1. Jujur dalam niatnya atau kehendaknya, artinya seseorang terdorong untuk berbuat sesuatu atau bertindak dengan dorongan dari Allah. (Baca juga: Ciri-Ciri Orang Yang Tidak Ikhlas Dalam Beribadah Kepada Allah SWT)
  2. Jujur dalam ucapan, yaitu seseorang yang berkata sesuai dengan apa yang dia ketahui atau terima. Ia tidak berkata apapun, kecuali perkataan tersebut merupakan kejujuran.
  3. Jujur dalam perbuatan, yaitu seseorang yang beramal dengan sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang ada dalam batinnya.
  4. Jujur dalam janji, artinya dia selalu menepati janji yang telah diucapkan kepada manusia. dia hanya mengucapkan janji yang dia tahu bisa dia tepati. (Baca juga: Ingkar Janji dalam Islam)
  5. Jujur sesuai kenyataan, yang berarti dia menerapkan kejujuran pada segala hal yang dia alami di hidupnya.

Sebagai manusia yang berharap meraih surga, kita harus berusaha untuk menerapkan kejujuran dalam semua hal di atas. Meskipun penerapannya pasti sungguh sulit, kita harus selalu berusaha untuk menjauhkan diri dari sifat dusta atau khianat. Begitu banyak godaan ataupun cobaan yang mendorong kita untuk berbuat tidak jujur. Namun, kita harus ingat bahwa barang siapa yang mampu mewujudkan sifat jujur dalam segala aspek kehidupannya, maka dia akan tercatat sebagai seorang hamba yang shiddiqin dan kehidupan dunia akan membawanya ke surga di akhirat kelak.

[AdSense-A] Mewujudkan kejujuran dalam segala aspek kehidupan seperti yang disebutkan di atas secara tidak langsung akan menjauhkan kita dari perbuatan-perbuatan yang dilarang. Misalnya, dia tidak akan bersifat riya’, karena dia jujur dengan niatnya melakukan sesuatu yang hanya mencari ridha Allah. Dia juga akan menjauh dari ghibah atau perbuatan fitnah, karena dia jujur dengan ucapannya yang tidak akan berbohong, apalagi jika menyangkut orang lain. Masih banyak lagi manfaat berbuat jujur yang bisa menyelamatkan kita dari perbuatan yang dosa.

Pahala untuk Orang yang Jujur

Telah kita bahas sejak awal bahwa kejujuran bisa membawa kita ke dalam ampunan Allah subhanahu wa ta’ala. Tentu hal ini merupakan keinginan semua manusia. namun, apakah hanya itu saja balasan bagi orang-orang yang bersifat jujur? Berikut ini akan dibahas janji yang diberi oleh Allah untuk orang-orang yang menjunjung tinggi kejujuran:

  1. Masuk surga

Hal ini tercermin dalam hadis riwayat Muslim, dimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian (berbuat) jujur! Sesungguhnya jujur menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkannya ke Surga. Dan senantiasa seorang (berbuat) jujur dan menjaga kejujurannya hingga ditulis di sisi Allah sebagai Ash-Shiddiq (orang yang jujur)”. (Baca juga: Ciri-Ciri Wanita Penghuni Surga)

  1. Dekat dengan para Nabi

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al Quran surat an Nisaa’ ayat 69, “Dan barangsiapa yang mentaati Alloh dan Rosul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh, mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya”.

Hal ini pasti merupakan impian setiap muslim, untuk bisa bersama dengan para nabi, para sahabat dan orang-orang sholeh. Ganjaran ini merupakan kenikmatan karena kita digolongkan sama derajatnya dengan orang-orang yang mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

  1. Membuat hati tenang

Tidak hanya ganjaran di akhirat, berbuat jujur ternyata juga akan membawa kenikmatan di dunia. Dengan berbuat jujur, kita akan merasakan hati yang tenang, bebas dari kekhawatiran dan rasa was-was yang tidak perlu.

Baca juga:

Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan bohong adalah kecemasan”. Sungguh Allah Maha Pengasih yang telah menganugerahkan ganjaran mulia langsung di dunia untuk orang-orang yang jujur.

  1. Menaikkan derajat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa meminta kepada Allah mati syahid dengan jujur, Allah angkat dia ke tingkatan orang-orang yang syahid”. (Baca juga: Tanda-Tanda Khusnul Khotimah)

  1. Mendatangkan berkah

Dalam hadis riwayat Bukhari, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penjual dan pembeli (memiliki) pilihan sebelum mereka berdua berpisah, jika berdua berkata jujur dan menjelaskan (kekurangannya) maka diberkahi jual beli mereka. Dan jika berdua menyembunyikan (kekurangan) dan berbohong maka dihapus keberkahan jual beli mereka berdua”.

Baca juga:

Dari ganjaran yang disebutkan di atas, kita mengetahui bahwa kenikmatan yang didapat oleh orang-orang yang berbuat jujur, tidak hanya diterimanya di akhirat, namun juga diterimanya di dunia. Maka, alangkah baiknya jika kita mulai membiasakan berbuat jujur dan menjauhkan diri dari perbuatan dusta atau bohong yang menjauhkan kita dari rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahu a’lam bishawab.

7 Keutamaan Memuliakan Tamu dalam Islam

Menyambung silaturahmi dan menyambut orang yang berniat untuk menyambung tali silaturahmi adalah keharusan bagi selurut umat muslim. Memulai dan menyambung silaturahmi dengan cara bertamu dan menerima tamu memiliki adab-adabnya tersendiri yang teratur dalam aturan Islam. Bahkan islam sangat menganjurkan kepada umatnya agar senantiasa memuliakan dan mengormati tamu sebagai bentuk ketakwaan kepada agama dan sebagai bentuk penghormatan terhadap diri sendiri. Karena kualitas pribadi seseorang salah satunya bisa terlihat dari bagaimana ia menerima tamu dan memuliakan seseorang yang bertamu ke rumahnya. (Baca juga: Hukum Silaturahmi Menurut Islam).

Banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai bentuk penghormatan kita terhadap tamu yang berkunjung, mulai dari bersikap ramah hingga memberikan jamuan serta mengantarkan mereka hingga ke halaman rumah setelah pamit akan pulang. Hal ini berlaku sama untuk siapapun tamu yang berkunjung tanpa harus memandang agama, terlebih status dan jabatan.

Baca juga:

Begitu pentingnya memuliakan tamu, Allah telah mencontohkan perilaku positif ini bahkan sejak jaman dahulu. Dalam surat adz dzariyat diceritakan bagaimana Nabi Ibramin kala itu yang menjamu tamunya dengan baik.

هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ضَيۡفِ إِبۡرَٰهِيمَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ٢٤ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَيۡهِ فَقَالُواْ سَلَٰمٗاۖ قَالَ سَلَٰمٞ قَوۡمٞ مُّنكَرُونَ ٢٥ فَرَاغَ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ فَجَآءَ بِعِجۡلٖ سَمِينٖ ٢٦ فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيۡهِمۡ قَالَ أَلَا تَأۡكُلُونَ ٢٧

Artinya: (24) Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan; (25) (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal”; (26) Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk; (27) Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan”. (QS Adz Dzariyat : 24 – 27).

Selain beberapa contoh yang telah disebutkan di atas, masih banyak keutamaan-keutamaan dalam memuliakan tamu menurut pandangan Islam. Berikut adalah penjelasan lebih lengkap mengenai keutamaan memuliakan tamu dalam islam:

  1. Mendapat Pahala Seperti Ibadah Haji Dan Umrah

Selain sebagai salah satu jalan untuk menyambung dan mempererat tali silaturahmi antar manusia. Tamu yang datang ke kediaman kita juga dapat mendatangkan berkat dan rahmat dari Allah Subhana hua ta’ala.

Hal ini disampaikan oleh Ibnu Abas radhiyallahu ‘anhuma yang mengisahkan bahwasannya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pernah bersabda :

“Jika ada tamu masuk ke dalam rumah seorang mukmin, maka akan masuk bersama tamu itu seribu berkah dan seribu rahmat. Allah akan menulis untuk pemilik rumah itu pada setiap kali suap makanan yang dimakan tamu seperti pahala haji dan umrah.” (Baca juga: Adab Bertamu dalam IslamHukum Menyakiti Hati Anak Yatim)

[AdSense-B]

  1. Menghapus Dosa Tuan Rumah

Selain dapat mendatangkan berkah dan rahmat dari Allah subhana hua ta’ala, tamu yang berkunjung ke kediaman kita juga dapat mendatangkan pengampunan dari Allah dan menghapuskan dosa yang dimiliki oleh tuan rumah.

Perkara ini telah dikisahkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :

“Wahai sekalian manusia, janganlah kalian membenci tamu. Karena sesungguhnya jika ada tamu yang datang, maka dia akan datang dengan membawa rezekinya. Dan jika dia pulang, maka dia akan pulang dengan membawa dosa pemilik rumah.”

Baca juga:

Selain itu sebuah hadis juga mengisahkan bahwa Ali Ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah diberitahu oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda :

“Wahai Ali, jika kamu dikunjungi oleh tamu, maka ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah memberikan anugrah kepadamu. Sebab Dia telah mengutus sesuatu yang bisa menyebabkan dosamu diampuni.”

  1. Disinari Oleh Cahaya Kebaikan

Dengan kedatangan tamu dan kita memuliakan mereka sebagai tamu yang kita perlakukan dengan sopan dan ramah, maka Allah akan menyinari cahaya kebaikan untuk seluruh anggota keluarga yang ada di rumah tersebut meskipun tingkat keimanan dan ketakwaan yang dimiliki berbeda-beda.

Sebuah hadis riwayat Mu’adz Ibnu Jabal radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan :

“Tidak ada satu rumahpun yang dikunjungi oleh tamu, kecuali Allah Tabaarak wa Ta’ala mengutus ke rumah tersebut satu malaikat yang menyerupai burung selama empat puluh hari sebelum tamu itu sampai. Malaikat itu akan menyeru : ‘Wahai pemilik rumah si fulan ibn si fulan, tamu kalian akan datang pada hari ini dan itu. Sedangkan balasan dari Allah adalah ini dan itu.’ Para malaikat yang diwakilkan untuk menjaga rumah itu berkata : balasan apa lagi yang akan diterima?’ Maka keluarlah malaikat tadi kepada mereka dengan membawa sebuah catatan yang tertulis : ‘Allah telah mengampuni penghuni rumah tersebut, meskipun jumlah mereka seribu.’”

“Tidak ada seorang hamba mukminpun yang memuliakan seorang tamu ikhlas karena Allah Yang Maha Dermawan, kecuali Allah akan memperhatikannya sekalipun dia berada di antara kerumunan orang. Seandainya tamu yang datang termasuk ahli surga dan pemilik rumah ahli neraka, maka Allah Ta’ala menjadikan pemilik rumah tersebut termasuk ahli surga karena telah memuliakan tamunya.” (baca juga: Manfaat Senyum Dalam IslamHak Muslim Terhadap Muslim Lainnya).

[AdSense-A]

  1. Tauladan Dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam

Rasulullah adalah panutan dan suri tauladan yang baik bagi umat muslim. Termasuk dalam hal memuliakan tamu, Rasulullah sangat menganjurkan dan mengajarkan hal tersebut yang dikisahkan dalam sebuah hadis:

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. [HR. Bukhari]

  1. Menjadi Ladang Sedekah

Sikap ramah dan jamuan yang kita berikan kepada tamu yang berkunjung ke rumah adalah ladang sedekah bagi kita, terlebih jika tamu yang berkunjung menginap sampai lebih dari tiga hari. (Baca juga: Hikmah Sedekah dalam IslamManfaat Sedekah Anak Yatim).

Sebuah hadis dari Abu Hurairah mengisahkan bahwasanya Nabi SAW bersabda:

“Haknya tamu itu selama tiga hari, maka yang lebih dari itu menjadi sedeqah”. [HR. Abu Dawud].

  1. Termasuk Amalan Surga

Menerima dan memuliakan tamu termasuk dalam perilaku atau amalan yang mendekatkan kita kepada surga. Perkara ini dikisahkan dalam hadis dari Humaid Ath-Thawil dari Anas bin Malik RA, ia berkata : Ada suatu kaum datang kepadanya untuk menjenguk sakitnya, lalu (Anas) memanggil pembantunya, “Hai anak perempuan, bawalah kesini untuk teman-teman kita walaupun sedikit (makanan), karena saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Kemuliaan akhlaq termasuk amalan-amalan surga”. [HR. Thabrani].

Selain itu, Nabi SAW juga bersabda:

“Tidaklah seorang muslim yang mendatangi saudaranya yaitu mengunjunginya karena Allah, kecuali ada malaikat yang menyerunya dari langit dengan mengatakan, “Sangat baik perbuatanmu dan surga yang baik untukmu. Dan jika tidak demikian, Allah berfirman di kerajaan ‘Arsy-Nya, “Hamba-Ku berkunjung karena Aku, dan pasti Aku akan memulyakannya”. Maka Aku tidak ridla memberi balasan baginya kecuali surga”. [HR. Abu Ya’la]

  1. Sebagai Bentuk Keimanan Dan Ketakwaan Terhadap Allah

Keimanan dan ketakwaan seseorang dalam memegang teguh agamanya terlihat dari bagaimana ia memperlakukan tamunya.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang artinya:  ”Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya.” (Muttafaqun ‘Alaihi).

Baca juga:

Demikianlah beberapa keutamaan dalam memuliakan tamu menurut pandangan Islam. Smeoga artikel ini dapat menambahkan khazanah keilmuan dan meningkatkan keimanan kita semua. Amin.

15 Keutamaan Bulan Safar Menurut Sunnah Rasul

Alquran meninggikan martabat dan juga memuliakan beberapa bulan tertentu dengan janji fadilah yang berlipat ganda atas mukim yang berusaha untuk menjauhkan diri dari kemungkaran dan juga kemaksiatan pada sesama manusia terutama lagi pada Allah SWT. Akan tetapi pada kenyataannya, bulan Safar dianggap sebagai bulan yang sial sehingga diadakan banyak acara ritual untuk menolak bala serta takhayul yang masih dipercaya umat muslim di Indonesia.

Bulan Safar menjadi salah satu bulan Allah yang mulia dimana Allah SWT menurunkan banyak bala dan juga cobaan serta musibah pada bumi. Akan tetapi, beberapa musibah tersebut tidak akan terjadi kecuali dengan qadha dan qadar dari Allah SWT. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW memberi penjelasan tentang umat yang tidak diperbolehkan untuk percaya pada sebuah penyakit bisa menular karena penyakit itu sendiri, namun penyakit yang menular tidak lain karena kehendak Allah SWT dan juga Qadah serta Qadarn-nya.

Dari AbuHurairah RA dari Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya beliau bersabda:”Tiada kejangkitan, dan juga tiada mati penasaran, dan tiada juga Safhar”, kemudian seorang badui Arab berkata: “Wahai Rasulullah SAW, onta-onta yang ada di padang pasir yang bagaikan sekelompok kijang, kemudian dicampuri oleh Seekor onta betina berkudis, kenapa menjadi tertular oleh seekor onta betina yang berkudis tersebut ?”. Kemudian Rasulullah SAW menjawab: “Lalu siapakah yang membuat onta yang pertama berkudis (siapa yang menjangkitinya)?“. HR Buhari dan Muslim. Semua kesialan yang diterima tidak ada hubungannya dengan hari, tanggal atau bulan seperti pada bulan Safar dan ada banyak keutamaan bulan Safar menurut Islam dan sunnah seperti yang kami berikan pada kesempatan kali ini.

  1. Memperkuat Iman

Bulan Safar seperti halnya beberapa bulan yang lain dan sudah diberikan oleh Allah SWT bisa digunakan untuk melakukan banyak perbuatan amal serta ibadah yang sangat bermanfaat dan tidak mempercayai jika bulan Safar adalah bulan sial sebab semuanya hanya bisa terjadi atas izin dan kehendak Allah SWT. Perbuatan amal serta ibadah juga menjadi cara meningkatkan iman dan takwa sebagai umat muslim.

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus : 107).

  1. Meyakini Ketetapan Allah SWT

Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ’Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah : 51).

  1. Menghindari Hal Yang Bertentangan Dengan Ketauhidan

Keutamaan lain dari bulan Safar adalah menghindari dari berbagai hal yang sudah bertentangan dengan ketauhidan. Dengan itu, kita mengetahui jika hari Rabu terakhir di bulan Safar merupakan hari dimana Allah SWT banyak menurunkan musibah. Akan tetapi, ini tidak berarti jika segala sesuatu yang sudah kita niatkan pada hari tersebut dan lalu dibatalkan  maka terjadi karena musibah tetapi terjadi karena niat untuk ibadah atau penyebab lain yang menjadi penyebab amal ibadah ditolak dalam islam.

[AdSense-B]

  1. Meningkatkan Taqwa dan Tawakkal Pada Allah SWT

Taqwa dan tawakkal juga harus dengan sadar betul jika segala sesuatu bisa terjadi atas kehendak Allah SWT sekaligus memperoleh manfaat tawakal lainnya, maka ketaqwaan juga semakin meningkat dan semakin rajin untuk beribadah seperti melaksanakan shalat wajib dan shalat fardhu dengan tujuan supaya bisa mendapat ridha dari Allah SWT.

  1. Tauhid Disertai Dengan Tasbih dan Taubat

Tauhid yang dilakukan dengan disertai tasbih dan juga taubat seperti melaksanakan shalat taubat juga dilakukan supaya Allah SWT memberikan perlindungan bagi hamba-Nya dari segala macam marabahaya, kesulitan dan juga penderitaan.

“Maka Kami telah memperkenankan do’anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. al Anbiya: 88)

  1. Mengakui Dosa Yang Sudah Dilakukan

Memperlihatkan pengakuan atas dosa yang sudah dilakukan. Tidak menjalankan hak Rabbnya dengan sempurna serta menzhalimi diri sendiri karena sikapnya itu. “Inni kuntu mina al- zhaalimiin” “Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” Ungkapan ini adalah sebuah pengakuan tanda taubat.

Sangat penting mengetahui Dosa yang Tak Terampuni Oleh Allah SWT, seperti Dosa Meninggalkan Shalat 5 waktu dan juga Dosa Besar dalam Islam. Sehingga kamu bisa mengamalkan Amalan Penghapus Dosa Besar sehingga bisa meringangkan amal buruk saat diperhitungan di akhirat nanti.

  1. Memperlihatkan Pembersihan Allah SWT Dari Kekurangan

Ini merupakan makna tasbih yang dilakukan langit dan juga bumi serta seluruh makhluk sebab segala sesuatu bertasbih dengan memuji-Nya, “Subhaanaka” “Maha Suci Engkau”.

  1. Menunjukkan Atas Tauhid

Ilmu Tauhid Islam yaitu Tauhid uluhiyah yang dengannya Allah SWT mengutus Rasul, menurunkan kitab kitab dan berdiri surga serta neraka. “La Ilaha Illa Anta” “Tidak ada tuhan (yang berhak di sembah) selain Engkau”.

  1. Berdoa Sesuai Ajaran Rasulullah SAW

“Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang dipalingkan dari keperluannya oleh perasaan bernasib sial maka sungguh dia telah berbuat syirik.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa penebus perasaan itu”, beliau menjawab: “Salah seorang dari kalian mengucapkan: “Allahumma laa khaira illa khairuka wa laa thaira illa thairuka wa laa ilaaha ghairuka” (Wahai Allah, tidak ada kebaikan melainkan kebaikan-Mu, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang engkau takdirkan dan tidak ada sembahan selain-Mu).” HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1065.

Banyak doa yang bisa dipanjatkan seperti Doa di Pagi Hari dalam Islam,  Doa Agar Dipermudah Segala UrusanDoa Agar Dimudahkan RezekiDoa Untuk Mendapat Keturunan   juga Doa untuk mendapatkan Jodoh dalam Islam  agar membantu anda menjalani kehidupan di dunia dan mendapatkan pahala di akhirat nanti.

[AdSense-A]

  1. Menumbuhkan Prasangka Baik dan Optimis

“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada thiyarah, dan sebaik-baiknya perasaan itu adalah Al fa’lu”, para sahabat bertanya: “Apakah itu al fa’lu?”, beliau bersabda: “Perkataan yang baik yang didengarkan oleh salah seorang dari kalian.” HR. Bukhari.

“Anas Bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada ‘Adwa, thiyarah dan aku kagum dengan Al Fa’lu Ash Shalih, yaitu perkataan baik.” HR. Bukhari.

  1. Menyandarkan Diri Pada Allah SWT

“Dan tidak ada diantara kita melainkan (akan timbul perasaan itu), akan tetapi Allah menghilangkannya dengan bertawakkal (bersandar kepada-Nya).” HR. Abu Daud.

Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW menyatakan jika perasaan memiliki nasib sial akan hilang dengan sendirinya apabila kita bersandar sepenuhnya pada Allah SWT ditambah juga dengan doa untuk menghadapi ujian.

  1. Mempertebal Keimanan

Dalam bulan safar, kita akan memandang banyak keajaiban yang sudah diciptakan Allah SWT yang bisa dijadikan sebagai sarana mempertebal iman terhadap kebesaran Allah sehingga menjadikan kita sebagai manusia yang lebih bersyukur kepada-Nya yang tidak hanya bisa dilakukan pada beberapa bulan lainnya.

  1. Menuai Pahala

Amalan ibadah yang tidak dilakukan karena Safar akan dicatat meskipun tidak dilakukan. Nabis SAW bersabda, “Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka ditulis seperti apa yang ia lakukan dalam muqim dan sehat. (H.R. Bukhori no .2996).

  1. Terkabulnya Doa Yang Dipanjatkan

Rasulullah SAW bersabda, “Tiga do’a yang terkabulkan tanpa diragukan; do’a orang tua, do’a orang yang bepergian, dan do’a orang yang terzhalimi.(H.R Tirmidzi no.1905, Abu dawud 1536, dan dihasankan al-Albani.)

Al-Hafizh ibnu rajab rahimahullah berkata, “Bertambah lamanya suatu safar akan lebih menjadikan sebuah do’a terkabulkan, karena hati saat itu rendah disebabkan keasingan diri dari kampung halamannya, sedangkan kerendahan diri dan menanggung beban merupakan sebab terkabulkannya do’a.” (jami’ul ‘Ulum walhikam 1/269).

  1. Perbanyak Bacaan Alquran

Membaca Alquran menjadi sarana untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, mencari pahala lebih mudah, menjauhkan diri dari bahaya dan berbagai manfaat lainnya. Membaca Alquran juga harus dilakukan pada bulan Safar untuk menjauhkan diri dari segala macam bahaya sekaligus mendekatkan diri pada Allah SWT dan cara bersyukur menurut Islam yang baik.

“baca dan naiklah, serta tartilkan sebagaimana engkau telah mentartilkannya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Ahmad)

Tidak terdapat amalan istimewa atau tertentu yang dikhususkan untuk bisa dirayakan pada bulan Safar baik itu dalam ayat-ayat Al-Quran, sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa sallam, sahabat maupun para salafushshalihin. Amalan di bulan Safar sama halnya dengan amalan harian yang juga diamalkan pada bulan lainnya. Sedangkan kepercayaan tentang masalah sial atau bala merupakan kepercayaan dari orang jahiliyyah sebelum Islam datang seperti contohnya mandi di sungai atau di pantai pada bulan Safar yang berkaitan dengan kepercayaan nenek moyang terdahulu dan juga berkaitan dengan upacara keagamaan Hindu.

“Tiada wabah dan tiada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa.” (HR.  Bukhari)

Demikian penjelasan terkait beberapa keutamaan bulan safar yang bisa diamalkan umat Islam agar mendapatkan rahmat di Yaumul akhir nanti. Semoga bermanfaat.

17 Amalan Puasa Daud yang Menghasilkan Pahala

Menjalankan amalan sunnah adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai seorang muslim. Allah menurunkan Rasulullah kemuka bumi semata-mata agar manusia taat dan mengikuti apa yang menjadi teladan baik dari Rasulullah. Hal ini karena Rasul dibimbing Allah dan mendapatkan mukjizat dari Allah untuk memimpin dan mengarahkan manusia di muka bumi agar mencapai  Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama Dunia Menurut IslamSukses Menurut IslamSukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam .

Salah satu sunnah Rasulullah yang bisa dilaksanakan oleh umat islam adalah berpuasa. Puasa adalah salah satu bentuk ibadah yang melibatkan aspek fisik dan kesehatan manusia. Bentuk ibadah puasa tentunya ada banyak, manusia boleh memilih mana puasa sunnah yang akan dilaksanakan.

Salah satu puasa yang menjadi kebiasaan Rasulullah SAW adalah melaksanakan puasa daud. Dapat kita ketahui bahwa ada banyak sekali manfaat dan keutamaan dari berpuasa. Selain itu, puasa juga memberikan kesehatan yang baik bagi tubuh manusia. Puasa daud juga merupakan puasa yang boleh dilaksanakan oleh umat islam walaupun sistemnya 1 hari selang puasa dan 1 hari tidak puasa.

Bagi kita yang menginginkan puasa daud, tentu saja diperbolehkan dan akan mendapatkan banyak pahala dari Allah SWT.

Keutamaan Puasa Daud

“Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Daud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam malam terakhir. Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan buka sehari.” (HR. Bukhari)

Hadist di atas menunjukkan bahwa puasa daud adalah puasa yang disukai Allah dan Nabi Daud SAW. Untuk itu, pelaksanaannya memiliki keutamaan dibandingkan puasa sunnah lainnya. Tentu saja puasa daud ini juga harus disertai oleh amalan atau ibadah lainnya yang menunjang. Puasa tanpa ibadah lainnya tentu akan menjadi pincang.

Selain itu terdapat juga sebuah hadist yang mengatakan, “Tidak ada puasa yang lebih afdhol dari puasa Daud. Puasa Daud berarti sudah berpuasa separuh tahun karena sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim). Untuk itu, ibadah ini sangat baik jika dilaksanakan karena puasa yang kita lakukan bernilai tinggi dan sangat didukung oleh Allah SWT.

Bagi kita yang mungkin kesulitan dalam awal kali melaksanakan puasa daud, tentunya tidak harus selalu terus menerus melaksanakannya. Mengingat bahwa puasa ini sunnah, maka bisa dilaksanakan sesuai dengan kemampuan dan kekuatan diri kita. Usaha yang keras serta istiqomah dalam melaksanakannya tentu akan menjadi suatu yang bernilai dihadapan Allah SWT.

Selain dari mengetahui tentang puasa daud, berikut adalah hukum-hukum tentang puasa yang juga harus kita ketahui

Ibadah atau Amalan yang Bisa Dilakukan Saat Puasa Daud

Karena puasa bukan ibadah yang berdiri sendiri, maka tentu ibadah ini harus diiringi pula oleh ibadah-ibadah yang lainnya. Puasa daud akan menjadi sia-sia atau bernilai rendah jika tidak ada amalan lain yang bisa kita laksanakan. Untuk itu penting bagi kita menjalankan puasa daud sambil berusaha menjalankan aktifitas produktif dan amalan lain yang dapat meningkatkan pahala.

Untuk itu, berikut adalah amalan-amalan harian yang bisa kita laksanakan, sambil melaksanakan puasa daud.

  1. Shalat 5 Waktu Tepat Waktu

Walaupun sehari-hari kita melaksanakan shalat wajib, terkadang sulit untuk melaksanakan shalat 5 waktu tepat di awal waktu. Padahal, kita ketahui bahwa shalat dia awal waktu adalah pahala tersendiri bagi muslim yang melaksanakannya. Untuk itu, saat puasa daud kita juga bisa melaksanakan shalat 5 waktu tepat waktu agar benar-benar mendapatkan pahala berkualitas.

[AdSense-B]

  1. Shalat Sunnah Rawatib

Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang dilaksanakan setelah atau sebelum dari shalat wajib. Shalat sunnah rawatib tentu saja sangat dianjurkan karena ia termasuk ke dalam sunnah muakad. Shalat sunnah rawatib bisa kita laksanakan sebagai pelengkap shalat wajib dan memberikan kita dorongan untuk lebih dekat kepada Allah SWT, apalagi saat sedang melaksanakan puasa. (baca juga:  Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib dan Dalilnya )

  1. Shalat Dhuha

Shalat Dhuha merupakan salah satu amalan yang sangat tinggi dan baik jika dilaksanakan. Allah menjanjikan membangunkan istana di surga bagi mereka yang mengamalkan shalat dhuha. Untuk itu, menjalankan shalat dhuha sangat bisa kita terapkan jika kita sedang berpuasa daud. Walaupun tak berpuasa, shalat dhuha uga bisa kita laksanakan dalam keseharian kita.

baca juga:

  1. Membaca Al-Quran

Saat berpuasa biasanya kita mengalami rasa lapar, atau bisa jadi menghadapi emosi. Untuk itu, membaca Al-Quran bisa kita lakukan dan tentunya mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT. Pahala membaca Al-Quran tentunya akan lebih kita dapatkan jika disertai dengan berpuasa. Membaca Al-Quran tentu lebih baik sambil kita memahami dan mendalami makna dari bacaan tersebut.

  1. Mengikuti Majelis Ta’lim

Mengikuti majelis taklim atau majelis ilmu adalah aktivitas atau amalan yang bisa kita lakukan juga. Aktifitas ini tentunya sangat baik kita lakukan karena mendapatkan berbagai ilmu serta bisa bertemu dengan para muslim lainnya. Para muslim lainnya tentu adalah saudara kita sendiri yang jika sering bertemu akan mendapatkan kekuatan ukhuwah islamiyah.

  1. Produktif Saat Bekerja

Jika kita berpuasa saat bekerja, maka aktivitas kerja dan produktif adalah perjuangan dan pahala tersendiri bagi kita. Aktivitas saat bekerja akan membantu kita lebih bersemangat dan puasa menjadi tidak loyo apalagi saat siang hari. Aktivitas yang padat membuat kita lupa akan hal-hal yang berbau lapar atau hal yang mendorong kita melakukan maksiat atau hawa nafsu.

  1. Tidak Menunda-Nunda Amanah

Tidak menunda-nunda amanah adalah hal yang harus dilakukan oleh para muslim yang berpuasa. kita ketahui bahwa amanah ibarat janji atau pedang. Jika tidak kita laksanakan maka akan menghunus tubuh kita sendiri. Untuk itu, penting bagi kita untuk benar-benar melaksanakannya.

  1. Berinfaq atau Bersedekah

Infaq atau sedekah bisa kita lakukan untuk menambah pahala puasa kita. Jumlah yang dikeluarkan untuk infaq atau bersedekah tentu saja bergantung kepada kemampuan dan keikhlasan yang kita miliki. Amalan yang besar dan ikhlas tentu saja lebih baik dibanding kecil dan tidak ada keikhlasan.

[AdSense-A]

  1. Membantu yang Membutuhkan

Puasa daud tidak hanya sekedar puasa. Membantu yang membutuhkan dengan apa yang kita miliki adalah suatu keistimewaan. Dengan membantu mereka yang membutuhkan tentunya kita telah meringankan beban mereka. Untuk itu, dengan kemampuan kita apalagi saat berpuasa hal ini bisa kita lakukan sebai-baiknya dan sebanyak-banyaknya.

  1. Tidak Berkata Kasar

Tidak berkata kasar adalah salah satu hal yang menjaga kita agar tidak emosi atau mrah berlebihan. Ada sebuah hadist yang menyampaikan bahwa lebih berkata baik, benar, atau diam. Untuk itu, diam adalah lebih baik daripada harus berkata kasar. Puasa menjadi sia-sia jika kita juga sering berkata kasar dan tidak bisa menjaga omongan.

baca juga:

  1. Menjaga Emosi atau Amarah

Menjaga emosi atau amarah adalah amalan yang harus kita lakukan. Sebagaimana Rasulullah pernah sampaikan bahwa musuh yang paling besar sebenarnya adalah emosi atau amarah kita. Untuk itu pahala menjaga emosi adalah kebaikan tersendiri dan perjuangan yang cukup besar bagi kita.

  1. Menjaga Hawa Nafsu

Hawa nafsu bukan sebagai musuh manusia. Hawa nafsu harus ada namun tidak boleh mendominasi apalagi mensetir manusia. Saat puasa hawa nafsu kita dikelola, yaitu dengan tidak makan, minum, dan berhubungan suami istri. Tentu saja menjaga hawa nafsu perlu dilakukan apalagi saat berpuasa.

  1. Menjauhi Lingkungan Kemaksiatan

Saat berpuasa, agar puasa kita lebih bernilai dan berpahala di hadapan Allah SWT maka menjauhi lingkungan kemaksiatan dan dorongan untuk berbuat maksiat adalah harus dilakukan. Sangat tidak mungkin jika kita berpuasa, namun kita masih melakukan kemaksiatan atau melakukan hal-hal yang kurang baik. Untuk itu, jauhi lingkungan kemaksiatan jika memang kita masih belum bisa merubahnya.

  1. Berdzikir Kepada Allah SWT

Untuk menambah kualitas puasa kita, melakukan dzikir terhadap Allah SWT adalah hal yang juga bisa dilakukan. Berdzikir kadapa Allah SWT tentu menjadi suatu yang bernilai apalagi jika kita benar-benar melakukannya, mengingatnya, dan hati kita benar-benar tunduk kepada Allah SWT.

baca juga:

  1. Mengisi Waktu dengan Aktifitas Bermanfaat

Jangan sampai saat berpuasa daud, aktifitas jadi terhambat, lemas, dan tidak bertenaga. Untuk itu, lakukankalah aktifitas bermanfaat dan jadikan diri kita benar-benar memberikan banyak manfaat untuk orang lain. Tentu dengan begitu kualitas puasa kita juga akan semakin meningkat.

  1. Tidak Meninggalkan Sahur

Agar badan tetap sehat, kuat, dan tidak lemas, maka jangan sampai kita meninggalkan sahur sebelum berpuasa. Sahur adalah hal yang penting, karena walaupun puasa kita tetap membutuhkan asupan gizi dan jangan sampai meninggalkan makan. Apalagi puasa daud dilakukan selang seling, maka pola hidup sehat, dan makan yang bergizi harus kita lakukan.

  1. Melaksanakan Shalat Malam

Sebelum menjelang sahur atau melaksanakan sahur, kita juga bisa melaksanakan shalat malam. Shalat malam bisa kita laksanakan sekaligus untuk bangun sahur. Luar biasa jika kita melaksanakannya, maka pahala ibadah kita akan semakin meningkat.

Selain dari puasa daud, puasa-puasa lain yang bisa kita lakukan adalah :

Demikian penjelasan tentang beberapa amalan yang bisa dilakukan saat kita sedang melakukan puasa daud. Semoga dengan informasi diatas dapat membantu ita untuk menambah pahala di akhirat nanti. Aamiin ya Rabbal A’lamin.