Apa itu Syiah dan Sunni Menurut Aqidah Islam?

Perbedaan pandangan dan aliran dalam islam, sudah terjadi sejak zaman Rasulullah meninggal dulu. Sejak Rasulullah meninggal, islam menjadi banyak sekali kubu dan kelompok yang membuat masing-masing memiliki jamaahnya tersendiri. Salah satu-nya adalah adanya Sunni dan Syiah.

Sunni dan syiah lahir dari berbagai kepentingan dan politik yang terjadi di zaman Ali Bin Abi Thalib beserta pengikutnya yang semakin kesini semakin berkembang dan menjadi jauh dari dasar aslinya. Untuk itu, pemahaman islam ini menjadi meluas ke berbagai sektor dan pemikiran yang melahirkan sekte-sekte tertentu.

Termasuk di Indonesia, Masalah Sunni dan Syiah menjadi masalah yang cukup tajam konfliknya. Bahkan berujung kepada masalah di kampung atau masyarakat dan warga yang tidak mendukungnya. Perbedaan tersebut melahirkan jurnag tajam antara islam sunni dan islam syiah, walaupun tidak di semua negara terjadi hal tersebut.

Pengertian dan Karakteristik Syiah

Di dalam ajaran Sunni, perbedaan pandangan terjadi pada aspek khilafiah atau masalah furu’fiyah saja yaitu masalah fiqih di penerapan atau teknis. Untuk masalah-masalah dasar atau aqidah tentu saja sunni tidak memilik perbedaan yang tajam. Hal ini tentu berbeda dengan syiah. Rukun islam syiah sedikit berbeda dengan sunni.

  1. Rukun Islam Syiah

Rukun islam syiah yaitu melaksanakan shalat, puasa, zakat, haji, dan al wilayah. Syahadat tidak tercantum dalam rukun islam syiah. Syiah sendiri memiliki syahadat yang berbeda. Syiah yang mana, sekte apa, tentu belum dapat dideteksi dengan jelas, namun perbedaan kalimat syahadat ini seperti ada tambahan mengutuk sahabat-sahabat nabi seperti Abu Bakar, Umar, Usman, dan istri nabi Aisyah.

Selain itu, dalam pembacaan syahadat, syiah juga menambahkan nama-nama imam mereka yang sejumlah 12 imam. Hal tersebut sebagai tambahan dalam syahadat mereka yang tentu sangat berbeda dengan sunni atau apa yang telah diajarkan Rasulullah.

  1. Rukun Iman Syiah

Rukun iman syiah tentu juga berbeda dengan rukun islam sunni. Rukun iman syiah diantaranya adalah At Tauhid, An Nubuwwah, Al Imamah, Al Adlu, Al Ma’ad. Al Imamah adalah iman kepada pemimpin atau imam yang dipilih oleh orang-orang pembesar syiah. Tentu saja, imam ini harus berasal dari Ahlul Bait atau keluarga Nabi yang dianggap suci dan tidak pernah berdosa.

[AdSense-B]

Dalam hal ini umat islam sunni tidak sepakat dengan syiah karena rukun iman, rukun islam, Iman dalam Islam, Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, dan Hubungan Akhlak dengan Iman sunni berbeda dalam hal isi dan bagiannya.

  1. Al Imamah

Salah satu Aqidah Syiah yang paling penting bagi mereka adalah adanya imam yang wajib untuk ditaati. Kedua belas imam itu termasuk dalam rukun iman dan rukun islam mereka. Mereka pun menganggap bahwa imam mereka adalah maksum atau yang tidak pernah berbuat salah dan dosa. Mereka mewarisi sifat-sifat nabi yang suci dan terbebas dari dosa.

Hal ini yang juga memiliki dampak bahwa mereka tidak mengakui kekhalifahan dari sahabat-sahabat nabi seperti Abu Bakar, Umar, dan Usman. Sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah imam yang sesungguhnya yang paling pantas untuk menggantikan Nabi Muhammad.

Konsep Al Imamah ini tentu saja perlu diperhatikan dan dikaji lebih mendalam apakah benar-benar sesuai dengan Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama .

  1. Pandangan Terhadap Nikah Mut’ah

Syiah berpendapat bahwa nikah mut’ah atau kontrak adalah perbuatan yang halal. Halalnya nikah mut’ah ini banyak sekali dilakukan padahal pada zaman Ali bin Abi Thalib nikah seperti ini sudah diharamkan. Untuk itu, hal ini bisa saja diselewengkan oleh orang-orang yang mengingkan pergaulan bebas namun atas dasar nama islam.

  1. Taqiyah

Taqiyah berarti mengucapkan sesuatu yang berbeda dengan isi. Syiah dalam hal ini senantiasa menyembunyikan identitasnya untuk melindungi diri dari musuh atau lawan. Hal ini bisa dianggap sebagai ibadah.

Salah satu ulama syiah mengatakan (Muhammad Al Kulaini), “Bertaqwalah kalian kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam agama kalian dan lindungilah agama kalian dengan taqiyah, maka sesungguhnya tidaklah mempunyai keimanan orang yang tidak bertaqiyah. Dia juga mengatakan “Siapa yang menyebarkan rahasia berarti ia ragu dan siapa yang mengatakan kepada selain keluarganya berarti kafir.”

Pandangan Ulama Sunni Terhadap Syiah

[AdSense-A]Pandangan ulama terhadap sunni terhadap syiah sungguh bermacam-macam. Hal ini tentu tergantung kepada masing-masing ilmu, pandangan, dan kebijaksanaan dalam menghadapinya. Tidak semua ulamma memiliki pandangan yang sama, termasuk masalah dalam perbedaan sunni dan syiah. Berikut adalah beberapa jenis pandangan beberapa ulama terhadap syiah.

  1. Ulama yang Menyerang dan Bersebrangan dengan Syiah

Ulama Sunni banyak sekali yang menyerang dan bersebrangan dengan syiah. Hal ini jelas dan tegas disampaikan oleh para ulama bahwa mereka aliran islam yang sesat, bersebrangan aqidah, bahkan tergolong kepada kemunafikan atau kekafiran.

Ulama ini tentunya memiliki pendasaran bahwa dalam hal rukun islam dan rukun iman saja, syiah sudah jauh berbeda dengan sunni. Untuk itu, tidak bisa disamakan dengan sunni atau islam pada umumnya. Ulama seperti ini tentu saja memiliki tujuan bahwa tidak ingin islam dirusak atau diubah-ubah sesuai dengan pandangan atau kepentingan tertentu yang merusak kemurnian islam.

  1. Ulama yang Menganggap Bahwa Sunni dan Syiah Masih dalam Aqidah yang Sama

Ulama sunni ini beranggapan bahwa syiah masih dalam aqidah yang sama dengan sunni. Syiah tidak memiliki perbedaan dalam aspek ketuhanan dan kenabian. Mereka menganggap bahwa masih ada benang merah dan masih ada potensi untuk persatuan dalam sunni dan syiah.

Tentu saja ulama seperti ini sangat rawan dan mudah untuk dituduh kembali sebagai syiah. Pandangannya sebetulnya hanya mengatakan bahwa syiah masih beriman pada Allah SWT, Al-Quran, dan Rasul. Dalam aspek lainnya seperti masalah sahabat rasul, masalah keluarga nabi, terjadi perbedaan yang cukup tajam.

Masalah sunni dan syiah bukanlah satu-satunya hal yang membuat ummat islam harus hancur dan tercerai berai. Ada banyak cara agar masing-masing ummat bisa maju dan berkembang mencapai sukses Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam. Jangan sampai satu masalah ini dapat berakibat pada teralihnya fokus umat islam pada sunni syiah, sedangkan ada banyak sekali musuh yang nyata, yang tidak disadari meruntuhkan islam diam-diam.

Tasawuf Syiah : Pengertian, Konsep, dan Ajarannya

Syiah merupakan salah  satu aliran, mahdzab, yang sangat berkaitan erat dengan masalah perpolitikan juga sejarah islam di masa lalu. Pada dasarnya syiah menolak dan tidak mengakui kekhalifahan yang dipegang oleh sahabat-sahabat terdahulu nabi, yaitu Abu bakar, Umar Bin Khattab, dan Usman Bin Affan. Mereka lebih mengakui akan keimaman keluarga Nabi, salah satunya yang dianggap sebagai pengganti nabi adalah Ali. Untuk itu, Ali dianggap sebagai imam besar dalam syiah.

Dalam sejarah, syiah dilatarbelakangi oleh para pengikut Ali, walaupun Ali tak berkehendak seperti apa yang akan terjadi di zaman ini. Mereka meyakini bahwa Nabi memilih Ali sebagai penggantinya dan bukan sahabat-sahabat yang lain. Mereka menganggap bahwa keturuan dan keluarga Nabi adalah orang-orang yang suci dan terpilih. Mereka disebut dengan Ahlul Bait.

Konsep Ajaran Syiah

Ajaran syiah dan pemikirannya memiliki karakteristik tersendiri dengan beberapa point-point penting. Syiah memiliki banyak sekali sekte dan satu sama lain juga sangat berbeda. Namun ada beberapa yang menjadi poin penting dan kesamaan di beberapa sekte yang ada tersebut. Berikut adalah penjelasan mengenai pemikiran syiah secara substantif.

  1. Ahlul Bait adalah Yang Layak Melanjutkan Kepemimpinan Nabi

Kelompok syiah meyakini bahwa keluarga Nabi atau keturunan Nabi adalah orang yang paling pantas untuk menjadi imam umat muslim. Mereka yakin bahwa ahlul bait dijaa kesuciannya oleh Allah, untuk itu sangat pantas jika menggantikan Nabi. Mereka menggap juga bahwa Nabi adalah guru terbaik yang keturunannya juga akan mewarisi hal tersebut.

  1. Imam Ali adalah Pemimpin Pengganti Nabi

Kelompok syiah berpendapat bahwa Ali Bin Abi Thalib yang menjadi sepupu dari Rasulullah dan ahlul bait lainnya merupakan penerus nabi yang paling cocok. Untuk itu dalam hal ini syiah mengalami konflik politik sejak dulu kala dengan orang-orang sunni. Orang-orang syiah tidak sepakat bahwa sahabat-sahabat Rasul layak menggantikan kepemimpinan Nabi Muhammad.

Selain itu, orang Syiah meyakini bahwa sebelum meninggal, Nabi Muhammad menunjuk Ali untuk menjadi pemimpin. Hal ini berdasar hadist yang juga masih dalam perdebatan dengan orang-orang sunni. Akhirnya permasalahan ini tidak kunjung selesai dan berakhir konflik panjang dengan orang-orang sunni.

  1. Imamah – Kepemimpinan Illahi

Masalah imamah atau kepemimpinan adalah hal yang paling sering dibahas dan cukup penting bagi pemeluk syiah. Hal ini juga yang menjadikan syiah menjadi berbagai macam sekte atau aliran. Tentunya perbedaan pandangan ini juga berakibat pada konflik yang tajam terutama ketika sudah masuk pada masalah penafsiran Al-Quran, Sunnah, Sahabat, dan segala hal yang berkenaan dengan dasar atau sumber pemahaman islam (epistemologi islam).

Ajaran Tasawuf Syiah

Dalam Tasawuf Syi atau Tasawuf syiah terdapat dua terminologi yaitu tasawuf falsafi dan tasawuf amali. Hal ini memiliki perbedaan dan tentunya memiliki fungsi tersendiri bagi pemeluk syiah.

  1. Tasawuf Falsafi

Tasawuf falsafi memiliki penekanan pada masalah filosofis atau dengan pendekatan filsafat. Tasawuf falsafi juga berkenaan dengan masalah cinta, ma;rifah, hulul, wihdatul, dan lain sebagainya. Selain itu tasawuf juga sering disebut dengan tasawuf spekulatif dikarenakan hasil pemikirannya yang masih bersifat spekulatif.

  1. Tasawuf Amali

Berbeda dengan tasawuf falsafi. Tasawuf amali bertujuan untuk meninggikan amalan atau akhlak manusia. Imam Al Ghazali adalah tokoh dari Tasawuf Amali ini. Dalam hal ini Imam Ghazali berpendapat bahwa ibadah, harus memiliki makna terdalam, dan hal ini adalah soal tasawuf. Imam Aghazalli juga berpendapat bahwa ibadah tidak hanya dilakukan karena ingin memenuhi kebutuhan. Shalat harus dipahmi tujuannya tersendiri yang paling dalam. Jika tidak tentu tidak akan dapat mencapai tujuan.

[AdSense-B]

  1. Menurut Pendapat Ulama

Imam Ayatullah Khoeimeni menekankan juga masalah falsafi dan amali. Imam ayatullah khomeini berkomentar bahwa dalam masalah tasawuf tidak ada perbedaan antara sunni dan syiah. Hal ini karena keduanya sama-sama membahas mengenai Tasawuf Falsafi dan Tasawuf Amali. Namun, secara umum banyak orang syiah yang menggunakan Tasawufnya dengan pendekatan Al Gahzali.

Perbedaan dengan sunni lainnya adalah persoalan mengenai fiqh. Salah satu fiqh yang menjadi perdebatan dan pertentangan adalah kawin mut’ah atau kawin kontrak. Namun, tidak semua syiah menyepakitnya dan ada banyak juga yang menolak. Fiqh ja’fari memberikan peluang untuk hal tersebut,namun dengan syarat yang pastinya sangat berat. Tentu tidak mudah untuk dilakukan. Hanya kasus darurat istimewa saja kawin mut’ah ini diperbolehkan oleh islam atau para ulama.

Menguji Pemikiran Syiah dan Tasawuf

Ada banyak sekali pemikiran syiah dan tasawuf yang berkembang. Tentunya tidak hanya satu jenis atau satu aliran saja. Untuk itu perlu kiranya umat muslim dan seluruh penganut pemikiran syiah memahami bahwa tidak asal langsung membenarkan saja apa yang disampaikan. Tentu dalam menjalankan agama islam harus kembali kepada tuntunan al-quran dan sunnah rasul serta metode yang benar dalam memahaminya.

[AdSense-C]

Untuk mengujinya maka umat islam harus Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam .

Selain itu, umat islam juga harus selalu menilai apakah pemikiran atau aliran tasawuf syiah ini sesuai dengan rukun islam , rukun iman , Fungsi Iman Kepada Kitab Allah, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, dan Fungsi Al-quran Bagi Umat Manusia . Hal ini dikarenakan apa yang disampaikan manusia tidak seluruhnya benar dan bisa dibenarkan. Manusia sangat banyak memiliki kekurangan dalam menafsirkan dan memahami agama. Untuk itu, umat islam harus terus mengenal, mempelajari, dan tidak asal-asalan dalam belajar. Termasuk juga tidak asal-asalan dalam memberikan informasi sesat pada yang lain.

Hal ini disampaikan oleh Allah untuk selalu mempertanggung jawabkan pengetahuan dan apa yang kita sampaikan atau lakukan, sebagaimana dalam ayat berikut:

  • (QS Al-Isra: 36), “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
  • (QS An-Najm : 30), “Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”

Aliran Syiah dalam Ilmu Kalam

Syiah adalah satu aliran atau mahdzab yang erat kaitannya dengan sejarah dan perpolitikan islam di masa lalu. Secara umum, aliran syiah menolak kekhilafahan yang berasal dari tiga khalifah Sunni yaitu Abu Bakar, Umar, dan Usman Bin Affan. Aliran syiah sendiri berkiblat kepada ahlul baik yang mengaku sebagai keluarga asli atau keturunan rasul, termasuk mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai imam-nya.

Syiah merupakan memiliki sejarah yang panjang, khususnya dilatar belakangi oleh syiah Ali yang artinya adalah pengikut Ali. Mereka meyakini hal tersebut berdasarkan Hadist Rasul, yang diakui benar oleh mereka, yaitu “Wahai Ali, kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung”. Hadist ini digunakan oleh mereka, walaupun hadist ini tidak diakui oleh orang-orang Sunni.

Untuk mengetahui kebenaran ajaran syiah, tentu saja ajaran-ajaran tersebut harus dipahami dan diperbandingkan dengan rukun islam , rukun iman , Fungsi Iman Kepada Kitab Allah, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, dan Fungsi Al-quran Bagi Umat Manusia . Tentu tidak boleh ada yang bertentangan dengan ajaran islam secara substantif. Berikut adalah mengenai aliran syiah dalam ilmu kalam.

Pokok Ajaran Syiah yang Paling Substantif

Muslim yang berkiblat kepada syiah meyakini bahwa keturunan atau keluarga Muhammad adalah yang pantas menjadi imam mereka. Mereka adalah sumber ilmu pengetahuan yang terbaik untuk urusan agama, Al Quran, islam. Selain itu, mereka pun juga menganggap bahwa keturunan Nabi adalah guru terbaik setelah Muhammad SAW, dan menjaga tradisi sunnah dapat tetap terpercaya.

Muslim dari kalangan syiah berpendapat bahwa Ali Bin Abi Thalib yang merupakan sepupu sekaligus menanti Rasulullah, dan kepala keluarga Ahlul Bait merupakan penerus kekhalifahan yang pantas setelahj Nabi Muhammad SAW. Hal ini tentu berbeda dengan pandangan dari Sunni yang merasa bahwa sahabat-sahabat nabi yang layak untuk meneruskan kepemimpinan Nabi. Syiah meyakini bahwa kepemim[inan terhadap Ali adalah perintah langsung dari Rasulullah SAW.

Perbedaan pandangan dengan sunni ini membuat akhirnya konflik tajam dan berkepanjangan muncul termasuk merembet terhadap masalah penafsiran Al-Quran, Sunnah, Sahabat, dan segala hal yang berkenaan dengan pandangan keislamannya.

Mengenai kekhalifahan ini syiah mengakui adanya otoritas keimaman syiah yang disebut juga sebagai Khalifah Illahi, yaitu pemegang otoritas islam, walaupun pada kenyataannya ada banyak sekte-sekte dalam syiah juga berganti iman hingga saat ini.

Ketauhidan dalam Ilmu Kalam Syiah

Ajaran syiah memiliki pandangan dan ilmu kalam tersendiri yang perlu untuk dipahami. Hal ini menjadi patokan keseharian mereka untuk mengembangkan dan memperluas ajaran syiah. Pokok dan ajaran ini berdasar 5 pokok hal utama yang menjadi panutan pengikutnya. Ilmu Kalam tentu saja berkenaan dengan pandangan Ketuhanan, Agama, Wahyu, Nabi, dan lain sebagainya.

  1. At Tauhid

At tauhid adalah bagian dari ilmu kalam. At Tauhid dalam ilmu kalam syiah meyakini bahwa Allah adalah Esa. Keesaan Allah juga mengandung sifat berbeda dengan makhluknya, tidak beranak, dan tidak diperanakkan serta tidak serupa dengan makhluk yang ada di muka bumi.

Sifat-sifat Allah yang harus dan tetap bagi aliran syiah ini adalah:

  • Alim (Mengetahui)
  • Qadisr (Berkuasa)
  • Hayy (Hidup)
  • Berkehendak
  • Mudrik (Cerdik, Berakal)
  • Qadim Azaly (Tidak memiliki awalan)
  • Azali (Kekal)
  • Mutakallim (Berkata-kata)
  • Shadiq (Benar)

Sedangkan, ada pula sifat-sifat Allah yang juga tidak mungkin dimiliki Allah SWT yang disebut dengan Al Salbiyah. Sifat-sifat tersebut seperti bisa dilihat, bertempat, bersekutu, bergantung kepada sesuatu, baian dari Zat yang dimiliki atau diciptakan.

  1. Al Adl

Sifat Allah yang selanjutnya, menurut ilmu kalam dari aliran syiah adalah kemaha Adilan Allah. Allah tidak akan dan tidak pernah berbuat tidak adil dan semua yang Allah tetapkan untuk manusia adalah untuk dasar kemaslahatan atau kebaikan manusia di muka bumi.

Untuk itu, menurut syiah segala apa yang Allah perintahkan dan tentukan memiliki tujuan yang hendak dicapai dan semua perbuatan tersebut adalah baik. Untuk itu, menurut syiah segala perbuatan Allah adalah baik dan Allah tidak pernah meninggalkan sedikitpun sifat dan ketentuannya tersebut.
[AdSense-B]

Kenabian dan Wahyu dalam Ilmu Kalam Syiah

Dalam ilmu kalam syiah terhadap konsep mengenai Kenabian dan Wahyu yang telah diturunkan oleh Allah SWT. Berikut adalah penjelasan mengenai hal tersebut.

  1. Pandangan Terhadap Nabi Muhammad

Kaum syiah juga memiliki kepercayaan terhadap keberadaan Nabi yang tidak berbeda sebagaimana kaum Sunni. Kepercayaan syiah meyakini bahwa Allah mengutus Nabi atau Rasul untuk mengarahkan manusia ke jalan kebenaran dan membuat manusia terbimbing untuk melaksanakan amalan kebaikan. Untuk itu Allah menyebutkan dalam Al Quran bahwa Rasul adalah pembawa berita bahagia. Tentu hal ini menjadi ancaman bagi mereka yang ingin dan senang berbuat kemaksiatan juga kedurhakaan kepada Allah SWT.

Kaum syiah memiliki pendapat bahwa jumlah Nabi atau Rasul adalah 124 dan Muhammad adalah nabi terakhir. Mereka berpendapat bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi yang paling utama dari seluruh Nabi yang ada, bahkan isti-istri Nabi adalah orang suci sehingga mereka terhindar dari segala keburukan yang ada. Untuk itu para Nabi sangat terjaga dari bentuk kesalahan dan keburukann bahkan mulai dari mereka sebelum menjadi Rasul.
[AdSense-C]

  1. Al-Quran dan Wahyu Menurut Syiah

Mengenai Al Quran, kaum syiah berpendapat bahwa Al Quran adalah mukjizat Nabi Muhammad yang abadi dan kalam Allah adalah hadis, makhluk (diciptakan). Hal ini karena kalam Allah disusun berdasar huruf dan suara yang didengar, sedangkan Allah tidak dapat berkata-kata baik dengan huruf atau suara langsung kepada manusia.

Konsep Imamah dalam Ilmu Kalam Syiah

Imamah merupakan bagian dari pembahasan ilmu kalam dalam syiah. Imamah adalah kepemimpinan bagi kaum syiah. Masalah kepemimpinan bagi kaum syiah tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan masalah agama dan kehidupan di dunia. Imamah atau kepemimpinan ini menjadi pengganti rasul baik dalam memelihara syari’at, menegakkan hukum, memberikan hukum pada pelanggaran terhadap hukum Allah, serta mewujudkan kebaikan dan keselamatan bagi ummat.

Menurut kaum syiah yang bisa menjadi pemimpin ummat adalah seorang  seorang imam dan jika ada pemimpin selain imam, hal tersebut dianggap tidak sah atau ilegal. Untuk itu, mereka tidak wajib untuk diikuti atau ditaati segala bentuk aturan dan kebijakannya. Imam bagi syiah adalah m’sum yang berarti suci dari berbagai dosa. Segala aturan yang dibuat imam tentu saja harus diikuti dan tidak boleh untuk dikritik atau diganggu gugat oleh umat yang mengikutinya.

Untuk menguji apakah konsep tersebut benar hal ini tentu saja harus dibandingkan dengan Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam . Hal ini yang menjadi dasar seorang manusia atau kepemimpinan di muka bumi. Sejatinya imam atau pemimpin adalah manusia yang juga memiliki banyak kekurangan dan kelemahan.

7 Bahaya Syiah Terhadap Islam

Syiah (شيعة) merupakan salah satu aliran dalam islam yang memiliki jumlah pengikut terbesar nomor dua setelah aliran sunni (ahlussunnah Wal jama’ah atau yang biasa disingkat ASWAJA). Dalam kenyataannya, kedua aliran tersebut memiliki kontroversi hubungan yang bermula sejak awal perpecahan di antara pengikut bani Umayyah dan pengikut Ali Bin Abi Thalib, baik secara politis maupun ideologisnya. Aliran ini timbul sebagai akibat dari ketidakpuasan sebagian kalangan terkait dengan kepemimpinan umat islam setelah Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam wafat. Menurut mereka, seharusnya penerus kepemimpinan umat islah pasca wafatnya Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam adalah keturunan Nabi, seperti Ali Bin Abi Thalib, dan bukan Umar Bin Khattab, Abu Bakar Ash- Shiddiq, serta Utsman Bin Affan.

Menurut bahasa, kata syi’ah bermakna sebagai golongan, pengikut, jama’ah, atau juga firqoh. Dan secara etimologi, syiah bermakna  sebagai pembela atau pengikut dari seseorang. Atau juga bisa diartikan sebagai suatu kaum atau golongan masyarakat yang berkumpul atas suatu masalah atau perkara. Sedangkan secara terminologi agama islam, syiah bermakna siapa saja yang menyatakan bahwa Ali Bin Abu Thalib yang merupakan sepupu sekaligus menantu dari Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam adalah orang yang paling utama dan yang berhak memimpin kaum muslim dibandingkan dengan sahabat Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam yang lainnya, demikian juga dengan anak cucunya.

Penganut aliran syi’ah disebut sebagai syi’i (شيعي) dan kaum sunni menyebut pengikut syi’ah sebagai rafidhah yang secara etimologi bahasa arab bermakna meninggalkan. Beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama islam seperti Indonesia dan Malaysia telah menyatakan bahwa syi’ah bukanlah islam, karena syi’ah tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama islam. Untuk mengenal ajaran ini lebih jauh, berikut ini ulasan singkatnya.

Hakikat Ajaran Syi’ah

Aliran Syi’ah juga biasa disebut dengan nama syi’ah Ali yang artinya pengikut atau pendukung Ali Bin Abi Thalib yang merupakan Khalifah keempat sejak wafatnya Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam. Itu artinya, ajaran tersebut telah ada sejak kekhalifahan Ali Bin Abi Thalib. Akan tetapi yang cukup mengherankan adalah ajaran ini sifatnya tertutup, sehingga data-data yang berkenaan dengan ajaran syi’ah sangat sulit untuk didapatkan oleh beberapa pihak. Selain itu, agar ajaran syi’ah tersebut dapat lebih mudah diterima di hati masyarakat, para tokoh aliran lebih menyukai menyebarkan ajaran mereka dengan bertamengkan ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah.

Akidah yang dimiliki oleh pengikut aliran syi’ah telah dianggap menyimpang dan bertentangan dari ajaran islam dan merupakan  bahaya syiah , seperti :

1. Pengikut ajar syi’ah menganggap bahwa Al-Qur’an yang menjadi pegangan bagi kaum muslimin memiliki perbedaan dengan Al-Qur’an yang dimiliki oleh ahlul bait. Salah satu ahli hadist dari kalangan syiah yang bernama Muhammad bin Murtadha Al-Kasyi dalam Tafsir Ash-Shaafi, 1:33 menyatakan bahwa “Tidaklah tersisa bagi kami untuk berpegang pada satu ayat pun dari Alquran. Hal ini disebabkan setiap ayat telah terjadi pengubahan sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah tersisa dari Alquran satu ayat pun sebagai argumentasi. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengan Alquran ….”

2. Aliran ini telah mengkafirkan para sahabat Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam, terutama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar Bin Khattab radhiallahu ‘anhuma. Bahkan pengikut ajaran syiah melaknat kedua sahabat Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam tersebut di dalam do’a mereka. Berikut do’a kaum tersebut :

اللهم صل على محمد، وآل محمد، اللهم العن صنمي قريش، وجبتيهما، وطاغوتيهما، وإفكيهما، وابنتيهما، اللذين خالفا أمرك، وأنكروا وحيك، وجحدوا إنعامك، وعصيا رسولك، وقلبا دينك، وحرّفا كتابك

Artinya “Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, laknat bagi dua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar pen.), Jibt dan Thaghut, kawan-kawan, serta putra-putri mereka berdua. Mereka berdua telah membangkang perintah-Mu, mengingkari wahyu-Mu, menolak kenikmatan-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, menjungkir-balikkan agama-Mu, merubah kitab-Mu…..dst.”

3. Aliran ini tidak mempergunakan riwayat Ahlusunnah yang menjadi referensi kedua setelah Al-Qur’an di dalam ajaran mereka. Akan tetapi ajaran ini memiliki sumber hadist mereka sendiri seperti al-kaafi, Man La Yahdhuruh Al-Faqih, Tahdzib Al-Ahkam, Al-Istibshar, dan lain sebagainya. Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan hadist Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam berikut :

أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبد حبشي فإنه من يعش منكم يرى اختلافا كثيرا وإياكم ومحدثات الأمور فإنها ضلالة فمن أدرك ذلك منكم فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ

Artinya “Aku nasihatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun (yang memerintah kalian) seorang budak Habsyi. Orang yang hidup di antara kalian (sepeninggalku nanti) akan menjumpai banyak perselisihan. Waspadailah hal-hal yang baru, karena semua itu adalah kesesatan. Barangsiapa yang menjumpainya, maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh kepada sunahku dan sunah Al-Khulafa Ar-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah ia erat-erat dengan gigi geraham.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya)

4. Penganut aliran ini seringkali melakukan perbuatan yang melampaui batas terhadap imam-imam mereka. Bahkan mereka juga dapat menuhankan pemimpin mereka tersebut. Intinya adalah penganut ajaran syi’ah menganggap bahwa seorang imam memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari para Nabi (kecuali Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam). Hal ini sebagaimana tertera di dalam beberapa riwayat dalam Al- kaafi, seperti :

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ الْإِمَامَ إِذَا شَاءَ أَنْ يَعْلَمَ أُعْلِمَ

Artinya “Dari Abu Abdillah (‘alaihissalam), ia berkata, “Sesungguhnya seorang imam jika ia ingin mengetahui, maka ia akan mengetahui.” (Al-Kaafi, 1:258)

5. Syi’ah telah menganggap bahwa Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam telah gagal dalam membimbing umatnya, dan Beliau Sholallahu Alaihi Wassalam dianggap telah menyembunyikan sebagian risalah yang diamanatkan kepadanya. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Nahju Khomaini hal. 46 yang menyatakan bahwa “Sungguh semua Nabi telah datang untuk menancapkan keadilan di dunia, akan tetapi mereka tidak berhasil. Bahkan termasuk Nabi Muhammad, penutup para Nabi, dimana beliau datang untuk memperbaiki umat manusia, menginginkan keadilan, dan mendidik manusa – tidak berhasil dalam hal itu….”

6. Mereka yang menjadi pengikut aliran syi’ah telah menganggap bahwa golongan ahlusunnah adalah kafir.

7. Cara beribadah pengikut ajaran syi’ah memiliki perbedaan yang cukup besar dengan kaum ahlusunnah. Adapun beberapa perbedaan tersebut di antaranya adalah :

  • Rukun islam bagi umat islam ada lima, yaitu Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dalam islam, dan Haji. Sedangkan rukun islam bagi pengikut syi’ah juga ada lima, yaitu Sholat, Puasa, Zakat, Haji, dan Wilayah.
  • Rukun Iman bagi umat islam ada enam, yaitu Iman Kepada Allah, Iman Kepada Malaikat, Iman Kepada Kitab-Kitab, Iman Kepada Para Rasul, Iman Kepada hari qiamat, dan Iman Kepada Qadha Qadar. Sedangkan rukun iman bagi pengikut syi’ah ada lima, yaitu Tauhid, Nubuwah (Kenabian), Imamah, Keadilan, dan al-Ma’ad (Qiamat).
  • Pengikut syi’ah tidak meyakini tentang keabsahan shalat jum’at.
  • Dalam menjalankan sholat, para pengikut syi’ah tidak mengakhiri sholat mereka dengan mengucapkan salam seperti sholat pada umumnya, akan tetapi mereka biasanya mengakhiri sholat dengan memukul kedua pahanya beberapa kali.
  • Syi’ah tidak mengakui kebenaran tentang kewajiban shalat wajib lima waktu, akan tetapi hanya tiga waktu saja.
  • Dalam berdzikir, pengikut syi’ah tidaklah menyebut nama Allah SWT, akan tetapi yang mereka sebut-sebut adalah nama Husain, Fatimah, atau ahlu bait lainnya.
  • Pengikut ajaran syi’ah sangat jarang membaca Al- Qur’an, dan jika mereka melakukannya itu hanya sebagai bentuk kamuflase semata, karena sesungguhnya mereka tidak mempercayai Al- Qur’an. Bagi mereka Al- Qur’an yang benar adalah di tangan Al- Mahdi.
  • Pada saat berpuasa, pengikut ajaran syi’ah tidak akan segera berbuka puasa setelah mendengarkan adzan magrib. Mereka memiliki pandangan yang sama dengan kaum Yahudi yang berbuka puasa ketika bintang-bintang telah bermunculan di langit.

Doktrin Syiah Dianggap Berbahaya

[AdSense-A]Syi’ah memiliki akidah yang berbahaya bagi kaum muslimin,  salah satu di antaranya adalah dengan adanya doktrin berbahaya yang dimiliki oleh aliran tersebut terutama bagi umat muslim, yaitu doktrin taqiyah. Dalam aliran syiah, doktrin taqiyah tersebut dipergunakan terutama  ketika pengikut dari aliran tersebut merupakan kaum minoritas dalam suatu masyarakat, di mana hal ini dipergunakan sebagai upaya bagi golongan tersebut untuk menyembunyikan jati diri mereka sebenarnya, yaitu dengan berbohong atau mengelabui, serta mengecoh umat muslim.

Jadi intinya adalah bahwa taqiyah merupakan merupakan prinsip hidup bagi aliran syiah. Selain itu, para pengikut syiah telah meyakini bahwa taqiyah merupakan salah satu bentuk amal sholeh yang dapat menjadi sumber untuk mendapatkan pahala bagi mereka, di mana dengan melakukan kebohongan telah mereka anggap sebagai amal ibadah mulia yang nantinya dapat meningkatkan derajat mereka.

Adapun tujuan dari penggunaan doktrin taqiyah tersebut di antaranya adalah :

  • Untuk melindungi diri para pengikut syiah dari adanya ancaman yang berasal dari luar, yaitu dengan menyembunyika jati diri mereka yang sebenarnya.
  • Untuk melindungi hakikat aliran syiah di tengah-tengah masyarakat, yaitu dengan menyamarkannya.
  • Untuk menyudutkan aliran lain yang memiliki paham yang bertentangan dengan syiah.

Lalu, siapakah sebenarnya yang menjadi sasaran bagi aliran syiah tersebut?

Untuk menyembunyikan jati diri atau hakikat syiah,  para pengikut aliran tersebut bisa saja memiliki seribu wajah. Mereka terbiasa melakukan kebohongan dan berdusta di segala tempat dan di setiap waktu. Hal ini mereka gunakan demi untuk membangun citra positif aliran tersebut di mata masyarakat, salah satunya adalah untuk membangun kesan bahwasannya aliran tersebut merupakan golongan minoritas yang tertindas. Sasaran mereka tentu saja bukan sesama pengikut syiah, akan tetapi kebohongan tersebut mereka tujukan kepada golongan atau kelompok yang lebih besar yang bertentangan dengan syiah, terutama kaum muslimin ahlussunnah wal jama’ah. Dalam bukunya yang berjudul Al-Makasib Al-Muharramah, seorang ahli syiah bernama Khomaini mengatakan bahwa kaum muslimin (selain pengikut syiah) tidaklah memiliki kehormatan sama sekali, sama seperti kaum kafir.

Faksi Dalam Syi’ah

Sama seperti aliran Sunni, Syi’ah juga terpecah menjadi beberapa faksi, seperti :

1. Syi’ah Imamiyah Itsna Atsariyah

Ini merupakan kelompok aliran syi’ah yang terbesar saat ini. Beberapa negara yang menjadi komunitas terbesar aliran ini adalah Iran, Bahrain, Irak, Azerbaijan, serta Lebanon. Nama lain dari aliran ini adalah Imam Dua Belas, Syi’ah Imami, atau Syi’ah Ja’fari. Subutan Imam Dua Belas berasal dari doktrin yang mereka percayai terkait dengan keduabelas imam yang merupakan pemimpin suci sekaligus mendapatkan otoritas langsung dari Allah SWT. Keduabelas imam tersebut adalah :

  • Ali Bin Abi Thalib
  • Hasan Bin Ali
  • Husein Bin Ali
  • Zainal Abidin
  • Muhammad Al- Baqir
  • Ja’far Al- Sadiq
  • Musa Al- Kadzim
  • Ali Al- Rida
  • Muhammad Al- Taqi
  • Ali Al- Hadi
  • Hasan Al- Askari
  • Muhammad Al- Mahdi

Untuk kitab fiqih, aliran syi’ah ini menggunakan fiqih Ja’fariyah.

2. Syi’ah Ismailiyah

Ini merupakan pecahan pengikut syi’ah selain syiah Imamiyah. Istilah Ismailiyah yang dipergunakan aliran ini berasal dari nama Isma’il Bin Ja’far yang bertindak sebagai imam suci penerus Ja’far Al Sadiq. Perbedaan yang mendasar dari Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Ismailiyah adalah terletak pada salah satu nama imam yang mereka yakini, di mana syi’ah Ismailiyah menganggap bahwa Isma’il Bin Ja’far merupakan imam, dan bukan Musa Al- Kadzim sebagaimana keyakinan para pengikut Syi’ah Imamiyah.

3. Syi’ah Zaidiyah

Nama Zaidiyah yang dipergunakan oleh pengikut aliran ini berasal dari Nama Zaid Bin Ali. Syi’ah ini juga dikenal dengan sebutan syi’ah lima, karena aliran ini hanya mempercayai adanya lima imam, bukan dua belas. Pengikut aliran syi’ah Zaidiyah mayoritas berada di negara Yaman. Aliran ini merupakan aliran syi’ah terbesar kedua setelah syi’ah imamiyah. Para pengikut aliran ini mempercayai bahwa seluruh keturunan Hasan bin Ali atau Husein bin Ali bisa menjadi Imam apabila mereka dapat memenuhi berbagai persyaratan.

Peringatan dari para ulama tentang kedustaan syiah

Sifat dasar pembohong yang menjadi prinsip hidup aliran syiah menjadikan para ulama selalu mengingatkan kaum muslimin akan bahaya dari kedustaan tersebut. Para ulama dapat mengenali aliran tersebut dari ciri khas yang mereka miliki, yaitu gemar berbohong dan berdusta. Di dalam karyanya yang berjudul Al-Fashl fi Al-Milal wa Al-Ahwa wa An-Nihal, seorang tokoh bernama Ibnu Hazm menyatakan bahwa “Rafidhah (syiah) adalah kelompok yang pertama kali muncul 25 tahun setelah meninggalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… dan itulah kelompok yang sangat persis dengan Yahudi dan Nasrani dalam hal berdusta dan melakukan kekufuran.”

Semasa hidupnya, aliran syiah telah mengklaim bahwa dirinya adalah pengikut ahlul bait, akan tetapi pada dasarnya mereka hanyalah golongan para pendusta. Berikut ini beberapa perbuatan atau tindakan yang dalam ajaran islam tidak diperbolehkan, akan tetapi bagi pengikut syiah, perbuatan tersebut boleh dilakukan, seperti :[AdSense-B]

  1. Diperbolehkannya kawin kontrak (nikah Mut’ah) di mana perbuatan ini sebenarnya adalah sama dengan perbuatan zina.
  2. Melaknat sahabat, istri, serta beberapa orang terdekat Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam seperti Abu Bakar Ash- Shiddiq, Umar Bin Khattab, Aisyah, dan beberapa istri Beliau Sholallahu Alaihi Wassalam lainnya.
  3. Pernyataan yang menyebutkan bahwa Al- Qur’an telah mengalami banyak perubahan. Artinya bahwa kitab suci Al- Qur’an yang selama ini menjadi pegangan hidup bagi umat muslim bukanlah kitab suci yang asli yang telah diwahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam.
  4. Adanya ajaran yang mengandung makna bahwa para Imam dan orang-orang yang sholeh memiliki posisi yang tinggi, layaknya Tuhan.
  5. Aliran Syiah selalu mengajarkan pengikutnya untuk berbuat dusta atau menyebarkan kebohongan.

Perbedaan Aliran Syi’ah dan Sunni

Menurut Majelis Ulama Indonesia, terdapat beberapa perbedaan antara aliran Sunni dan Syi’ah, di antaranya :

  1. Pengikut Ahlussunnah Wal Jamaah (sunni) menerima dan tidak membeda-bedakan setiap hadist yang memenuhi syarat ilmu musthalah hadist, sedangkan pengikut syi’ah menolak keberadaan hadist-hadist yang diriwayatkan oleh ahlul bait
  2. Aliran Syi’ah memiliki pandangan bahwa imam adalah orang yang suci, sedangkan pengikut sunni memiliki keyakinan bahwa imam juga merupakan manusia biasa yang tak luput dari adanya kesalahan.
  3. Tanpa adanya imam, aliran syi’ah tidak mengakui adanya ijma’, sedangkan bagi pengikut ahlussunnah Wal jama’ah ijma’ bisa diakui tanpa adanya seorang imam
  4. Aliran Syi’ah memiliki pandangan bahwa imamah atau menegakkan kepemimpinan adalah termasuk rukunagama, sedangkan pengikut sunni memandang hal itu dari segi kemaslahatan umum
  5. Syi’ah tidak mengakui kekhalifahan umar bin Khattab, Abu Bakar Ash Sidiq, serta Utsman Bin Affan. Mereka hanya mengakui kekhalifahan Ali Bin Abi Thalib Saja. Sedangkan Pengikut sunni mengakui tentang keempat kekalifahan tersebut.

[accordion]
[toggle title=”Baca juga artikel lainnya yang berhubungan dengan islam”]

[/toggle]
[/accordion]