7 Bahaya Syiah Terhadap Islam

Syiah (شيعة) merupakan salah satu aliran dalam islam yang memiliki jumlah pengikut terbesar nomor dua setelah aliran sunni (ahlussunnah Wal jama’ah atau yang biasa disingkat ASWAJA). Dalam kenyataannya, kedua aliran tersebut memiliki kontroversi hubungan yang bermula sejak awal perpecahan di antara pengikut bani Umayyah dan pengikut Ali Bin Abi Thalib, baik secara politis maupun ideologisnya. Aliran ini timbul sebagai akibat dari ketidakpuasan sebagian kalangan terkait dengan kepemimpinan umat islam setelah Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam wafat. Menurut mereka, seharusnya penerus kepemimpinan umat islah pasca wafatnya Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam adalah keturunan Nabi, seperti Ali Bin Abi Thalib, dan bukan Umar Bin Khattab, Abu Bakar Ash- Shiddiq, serta Utsman Bin Affan.

Menurut bahasa, kata syi’ah bermakna sebagai golongan, pengikut, jama’ah, atau juga firqoh. Dan secara etimologi, syiah bermakna  sebagai pembela atau pengikut dari seseorang. Atau juga bisa diartikan sebagai suatu kaum atau golongan masyarakat yang berkumpul atas suatu masalah atau perkara. Sedangkan secara terminologi agama islam, syiah bermakna siapa saja yang menyatakan bahwa Ali Bin Abu Thalib yang merupakan sepupu sekaligus menantu dari Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam adalah orang yang paling utama dan yang berhak memimpin kaum muslim dibandingkan dengan sahabat Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam yang lainnya, demikian juga dengan anak cucunya.

Penganut aliran syi’ah disebut sebagai syi’i (شيعي) dan kaum sunni menyebut pengikut syi’ah sebagai rafidhah yang secara etimologi bahasa arab bermakna meninggalkan. Beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama islam seperti Indonesia dan Malaysia telah menyatakan bahwa syi’ah bukanlah islam, karena syi’ah tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama islam. Untuk mengenal ajaran ini lebih jauh, berikut ini ulasan singkatnya.

Hakikat Ajaran Syi’ah

Aliran Syi’ah juga biasa disebut dengan nama syi’ah Ali yang artinya pengikut atau pendukung Ali Bin Abi Thalib yang merupakan Khalifah keempat sejak wafatnya Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam. Itu artinya, ajaran tersebut telah ada sejak kekhalifahan Ali Bin Abi Thalib. Akan tetapi yang cukup mengherankan adalah ajaran ini sifatnya tertutup, sehingga data-data yang berkenaan dengan ajaran syi’ah sangat sulit untuk didapatkan oleh beberapa pihak. Selain itu, agar ajaran syi’ah tersebut dapat lebih mudah diterima di hati masyarakat, para tokoh aliran lebih menyukai menyebarkan ajaran mereka dengan bertamengkan ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah.

Akidah yang dimiliki oleh pengikut aliran syi’ah telah dianggap menyimpang dan bertentangan dari ajaran islam dan merupakan  bahaya syiah , seperti :

1. Pengikut ajar syi’ah menganggap bahwa Al-Qur’an yang menjadi pegangan bagi kaum muslimin memiliki perbedaan dengan Al-Qur’an yang dimiliki oleh ahlul bait. Salah satu ahli hadist dari kalangan syiah yang bernama Muhammad bin Murtadha Al-Kasyi dalam Tafsir Ash-Shaafi, 1:33 menyatakan bahwa “Tidaklah tersisa bagi kami untuk berpegang pada satu ayat pun dari Alquran. Hal ini disebabkan setiap ayat telah terjadi pengubahan sehingga berlawanan dengan yang diturunkan Allah. Dan tidaklah tersisa dari Alquran satu ayat pun sebagai argumentasi. Maka tidak ada lagi faedahnya, dan faedah untuk menyuruh dan berwasiat untuk mengikuti dan berpegang dengan Alquran ….”

2. Aliran ini telah mengkafirkan para sahabat Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam, terutama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar Bin Khattab radhiallahu ‘anhuma. Bahkan pengikut ajaran syiah melaknat kedua sahabat Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam tersebut di dalam do’a mereka. Berikut do’a kaum tersebut :

اللهم صل على محمد، وآل محمد، اللهم العن صنمي قريش، وجبتيهما، وطاغوتيهما، وإفكيهما، وابنتيهما، اللذين خالفا أمرك، وأنكروا وحيك، وجحدوا إنعامك، وعصيا رسولك، وقلبا دينك، وحرّفا كتابك

Artinya “Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, laknat bagi dua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar pen.), Jibt dan Thaghut, kawan-kawan, serta putra-putri mereka berdua. Mereka berdua telah membangkang perintah-Mu, mengingkari wahyu-Mu, menolak kenikmatan-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, menjungkir-balikkan agama-Mu, merubah kitab-Mu…..dst.”

3. Aliran ini tidak mempergunakan riwayat Ahlusunnah yang menjadi referensi kedua setelah Al-Qur’an di dalam ajaran mereka. Akan tetapi ajaran ini memiliki sumber hadist mereka sendiri seperti al-kaafi, Man La Yahdhuruh Al-Faqih, Tahdzib Al-Ahkam, Al-Istibshar, dan lain sebagainya. Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan hadist Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam berikut :

أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبد حبشي فإنه من يعش منكم يرى اختلافا كثيرا وإياكم ومحدثات الأمور فإنها ضلالة فمن أدرك ذلك منكم فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ

Artinya “Aku nasihatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun (yang memerintah kalian) seorang budak Habsyi. Orang yang hidup di antara kalian (sepeninggalku nanti) akan menjumpai banyak perselisihan. Waspadailah hal-hal yang baru, karena semua itu adalah kesesatan. Barangsiapa yang menjumpainya, maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh kepada sunahku dan sunah Al-Khulafa Ar-Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah ia erat-erat dengan gigi geraham.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya)

4. Penganut aliran ini seringkali melakukan perbuatan yang melampaui batas terhadap imam-imam mereka. Bahkan mereka juga dapat menuhankan pemimpin mereka tersebut. Intinya adalah penganut ajaran syi’ah menganggap bahwa seorang imam memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari para Nabi (kecuali Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam). Hal ini sebagaimana tertera di dalam beberapa riwayat dalam Al- kaafi, seperti :

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ الْإِمَامَ إِذَا شَاءَ أَنْ يَعْلَمَ أُعْلِمَ

Artinya “Dari Abu Abdillah (‘alaihissalam), ia berkata, “Sesungguhnya seorang imam jika ia ingin mengetahui, maka ia akan mengetahui.” (Al-Kaafi, 1:258)

5. Syi’ah telah menganggap bahwa Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam telah gagal dalam membimbing umatnya, dan Beliau Sholallahu Alaihi Wassalam dianggap telah menyembunyikan sebagian risalah yang diamanatkan kepadanya. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Nahju Khomaini hal. 46 yang menyatakan bahwa “Sungguh semua Nabi telah datang untuk menancapkan keadilan di dunia, akan tetapi mereka tidak berhasil. Bahkan termasuk Nabi Muhammad, penutup para Nabi, dimana beliau datang untuk memperbaiki umat manusia, menginginkan keadilan, dan mendidik manusa – tidak berhasil dalam hal itu….”

6. Mereka yang menjadi pengikut aliran syi’ah telah menganggap bahwa golongan ahlusunnah adalah kafir.

7. Cara beribadah pengikut ajaran syi’ah memiliki perbedaan yang cukup besar dengan kaum ahlusunnah. Adapun beberapa perbedaan tersebut di antaranya adalah :

  • Rukun islam bagi umat islam ada lima, yaitu Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat dalam islam, dan Haji. Sedangkan rukun islam bagi pengikut syi’ah juga ada lima, yaitu Sholat, Puasa, Zakat, Haji, dan Wilayah.
  • Rukun Iman bagi umat islam ada enam, yaitu Iman Kepada Allah, Iman Kepada Malaikat, Iman Kepada Kitab-Kitab, Iman Kepada Para Rasul, Iman Kepada hari qiamat, dan Iman Kepada Qadha Qadar. Sedangkan rukun iman bagi pengikut syi’ah ada lima, yaitu Tauhid, Nubuwah (Kenabian), Imamah, Keadilan, dan al-Ma’ad (Qiamat).
  • Pengikut syi’ah tidak meyakini tentang keabsahan shalat jum’at.
  • Dalam menjalankan sholat, para pengikut syi’ah tidak mengakhiri sholat mereka dengan mengucapkan salam seperti sholat pada umumnya, akan tetapi mereka biasanya mengakhiri sholat dengan memukul kedua pahanya beberapa kali.
  • Syi’ah tidak mengakui kebenaran tentang kewajiban shalat wajib lima waktu, akan tetapi hanya tiga waktu saja.
  • Dalam berdzikir, pengikut syi’ah tidaklah menyebut nama Allah SWT, akan tetapi yang mereka sebut-sebut adalah nama Husain, Fatimah, atau ahlu bait lainnya.
  • Pengikut ajaran syi’ah sangat jarang membaca Al- Qur’an, dan jika mereka melakukannya itu hanya sebagai bentuk kamuflase semata, karena sesungguhnya mereka tidak mempercayai Al- Qur’an. Bagi mereka Al- Qur’an yang benar adalah di tangan Al- Mahdi.
  • Pada saat berpuasa, pengikut ajaran syi’ah tidak akan segera berbuka puasa setelah mendengarkan adzan magrib. Mereka memiliki pandangan yang sama dengan kaum Yahudi yang berbuka puasa ketika bintang-bintang telah bermunculan di langit.

Doktrin Syiah Dianggap Berbahaya

Syi’ah memiliki akidah yang berbahaya bagi kaum muslimin,  salah satu di antaranya adalah dengan adanya doktrin berbahaya yang dimiliki oleh aliran tersebut terutama bagi umat muslim, yaitu doktrin taqiyah. Dalam aliran syiah, doktrin taqiyah tersebut dipergunakan terutama  ketika pengikut dari aliran tersebut merupakan kaum minoritas dalam suatu masyarakat, di mana hal ini dipergunakan sebagai upaya bagi golongan tersebut untuk menyembunyikan jati diri mereka sebenarnya, yaitu dengan berbohong atau mengelabui, serta mengecoh umat muslim.

Jadi intinya adalah bahwa taqiyah merupakan merupakan prinsip hidup bagi aliran syiah. Selain itu, para pengikut syiah telah meyakini bahwa taqiyah merupakan salah satu bentuk amal sholeh yang dapat menjadi sumber untuk mendapatkan pahala bagi mereka, di mana dengan melakukan kebohongan telah mereka anggap sebagai amal ibadah mulia yang nantinya dapat meningkatkan derajat mereka.

Adapun tujuan dari penggunaan doktrin taqiyah tersebut di antaranya adalah :

  • Untuk melindungi diri para pengikut syiah dari adanya ancaman yang berasal dari luar, yaitu dengan menyembunyika jati diri mereka yang sebenarnya.
  • Untuk melindungi hakikat aliran syiah di tengah-tengah masyarakat, yaitu dengan menyamarkannya.
  • Untuk menyudutkan aliran lain yang memiliki paham yang bertentangan dengan syiah.

Lalu, siapakah sebenarnya yang menjadi sasaran bagi aliran syiah tersebut?

Untuk menyembunyikan jati diri atau hakikat syiah,  para pengikut aliran tersebut bisa saja memiliki seribu wajah. Mereka terbiasa melakukan kebohongan dan berdusta di segala tempat dan di setiap waktu. Hal ini mereka gunakan demi untuk membangun citra positif aliran tersebut di mata masyarakat, salah satunya adalah untuk membangun kesan bahwasannya aliran tersebut merupakan golongan minoritas yang tertindas. Sasaran mereka tentu saja bukan sesama pengikut syiah, akan tetapi kebohongan tersebut mereka tujukan kepada golongan atau kelompok yang lebih besar yang bertentangan dengan syiah, terutama kaum muslimin ahlussunnah wal jama’ah. Dalam bukunya yang berjudul Al-Makasib Al-Muharramah, seorang ahli syiah bernama Khomaini mengatakan bahwa kaum muslimin (selain pengikut syiah) tidaklah memiliki kehormatan sama sekali, sama seperti kaum kafir.

Faksi Dalam Syi’ah

Sama seperti aliran Sunni, Syi’ah juga terpecah menjadi beberapa faksi, seperti :

1. Syi’ah Imamiyah Itsna Atsariyah

Ini merupakan kelompok aliran syi’ah yang terbesar saat ini. Beberapa negara yang menjadi komunitas terbesar aliran ini adalah Iran, Bahrain, Irak, Azerbaijan, serta Lebanon. Nama lain dari aliran ini adalah Imam Dua Belas, Syi’ah Imami, atau Syi’ah Ja’fari. Subutan Imam Dua Belas berasal dari doktrin yang mereka percayai terkait dengan keduabelas imam yang merupakan pemimpin suci sekaligus mendapatkan otoritas langsung dari Allah SWT. Keduabelas imam tersebut adalah :

  • Ali Bin Abi Thalib
  • Hasan Bin Ali
  • Husein Bin Ali
  • Zainal Abidin
  • Muhammad Al- Baqir
  • Ja’far Al- Sadiq
  • Musa Al- Kadzim
  • Ali Al- Rida
  • Muhammad Al- Taqi
  • Ali Al- Hadi
  • Hasan Al- Askari
  • Muhammad Al- Mahdi

Untuk kitab fiqih, aliran syi’ah ini menggunakan fiqih Ja’fariyah.

2. Syi’ah Ismailiyah

Ini merupakan pecahan pengikut syi’ah selain syiah Imamiyah. Istilah Ismailiyah yang dipergunakan aliran ini berasal dari nama Isma’il Bin Ja’far yang bertindak sebagai imam suci penerus Ja’far Al Sadiq. Perbedaan yang mendasar dari Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Ismailiyah adalah terletak pada salah satu nama imam yang mereka yakini, di mana syi’ah Ismailiyah menganggap bahwa Isma’il Bin Ja’far merupakan imam, dan bukan Musa Al- Kadzim sebagaimana keyakinan para pengikut Syi’ah Imamiyah.

3. Syi’ah Zaidiyah

Nama Zaidiyah yang dipergunakan oleh pengikut aliran ini berasal dari Nama Zaid Bin Ali. Syi’ah ini juga dikenal dengan sebutan syi’ah lima, karena aliran ini hanya mempercayai adanya lima imam, bukan dua belas. Pengikut aliran syi’ah Zaidiyah mayoritas berada di negara Yaman. Aliran ini merupakan aliran syi’ah terbesar kedua setelah syi’ah imamiyah. Para pengikut aliran ini mempercayai bahwa seluruh keturunan Hasan bin Ali atau Husein bin Ali bisa menjadi Imam apabila mereka dapat memenuhi berbagai persyaratan.

Peringatan dari para ulama tentang kedustaan syiah

Sifat dasar pembohong yang menjadi prinsip hidup aliran syiah menjadikan para ulama selalu mengingatkan kaum muslimin akan bahaya dari kedustaan tersebut. Para ulama dapat mengenali aliran tersebut dari ciri khas yang mereka miliki, yaitu gemar berbohong dan berdusta. Di dalam karyanya yang berjudul Al-Fashl fi Al-Milal wa Al-Ahwa wa An-Nihal, seorang tokoh bernama Ibnu Hazm menyatakan bahwa “Rafidhah (syiah) adalah kelompok yang pertama kali muncul 25 tahun setelah meninggalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam… dan itulah kelompok yang sangat persis dengan Yahudi dan Nasrani dalam hal berdusta dan melakukan kekufuran.”

Semasa hidupnya, aliran syiah telah mengklaim bahwa dirinya adalah pengikut ahlul bait, akan tetapi pada dasarnya mereka hanyalah golongan para pendusta. Berikut ini beberapa perbuatan atau tindakan yang dalam ajaran islam tidak diperbolehkan, akan tetapi bagi pengikut syiah, perbuatan tersebut boleh dilakukan, seperti :

  1. Diperbolehkannya kawin kontrak (nikah Mut’ah) di mana perbuatan ini sebenarnya adalah sama dengan perbuatan zina.
  2. Melaknat sahabat, istri, serta beberapa orang terdekat Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam seperti Abu Bakar Ash- Shiddiq, Umar Bin Khattab, Aisyah, dan beberapa istri Beliau Sholallahu Alaihi Wassalam lainnya.
  3. Pernyataan yang menyebutkan bahwa Al- Qur’an telah mengalami banyak perubahan. Artinya bahwa kitab suci Al- Qur’an yang selama ini menjadi pegangan hidup bagi umat muslim bukanlah kitab suci yang asli yang telah diwahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam.
  4. Adanya ajaran yang mengandung makna bahwa para Imam dan orang-orang yang sholeh memiliki posisi yang tinggi, layaknya Tuhan.
  5. Aliran Syiah selalu mengajarkan pengikutnya untuk berbuat dusta atau menyebarkan kebohongan.

Perbedaan Aliran Syi’ah dan Sunni

Menurut Majelis Ulama Indonesia, terdapat beberapa perbedaan antara aliran Sunni dan Syi’ah, di antaranya :

  1. Pengikut Ahlussunnah Wal Jamaah (sunni) menerima dan tidak membeda-bedakan setiap hadist yang memenuhi syarat ilmu musthalah hadist, sedangkan pengikut syi’ah menolak keberadaan hadist-hadist yang diriwayatkan oleh ahlul bait
  2. Aliran Syi’ah memiliki pandangan bahwa imam adalah orang yang suci, sedangkan pengikut sunni memiliki keyakinan bahwa imam juga merupakan manusia biasa yang tak luput dari adanya kesalahan.
  3. Tanpa adanya imam, aliran syi’ah tidak mengakui adanya ijma’, sedangkan bagi pengikut ahlussunnah Wal jama’ah ijma’ bisa diakui tanpa adanya seorang imam
  4. Aliran Syi’ah memiliki pandangan bahwa imamah atau menegakkan kepemimpinan adalah termasuk rukunagama, sedangkan pengikut sunni memandang hal itu dari segi kemaslahatan umum
  5. Syi’ah tidak mengakui kekhalifahan umar bin Khattab, Abu Bakar Ash Sidiq, serta Utsman Bin Affan. Mereka hanya mengakui kekhalifahan Ali Bin Abi Thalib Saja. Sedangkan Pengikut sunni mengakui tentang keempat kekalifahan tersebut.

Baca juga artikel lainnya yang berhubungan dengan islam