Puasa Ramadhan dan Cara Pelaksanaannya

“Dari Abu Abdirrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khathab radhiallahu ‘anhuma berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Islam didirikan diatas lima perkara yaitu bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah secara benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke baitullah dan berpuasa pada bulan ramadhan“. (HR Bukhari Muslim)

Pengertian Puasa

Puasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan salah satu rukun Islam yaitu beriibadah dengan cara menahan diri serta berpantangan makan, minum, dan segala yang membatalkannya mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa” ( QS Al-Baqarah : 183 ).

Seperti yang dijelaskan oleh penggalan ayat suci Al Quran diatas yang berisi tentang puasa pada bulan Ramadhan yang merupakan salah satu kewajiban bagi seluruh umat muslim yang sesuai dengan syarat wajib berpuasa. Puasa wajib berarti puasa yang harus dilakukan oleh setiap orang Islam yang sudah mukalaf atau sudah baligh dan berakal sehat. Selain itu juga bagi mereka yang mampu melaksanakan puasa. Apabila ia melakukannya, ia akan mendapat pahala dan apabila ia meninggalkannya, ia akan mendapatkan dosa. Puasa Ramadhan dilakukan selama satu bulan penuh selama Ramadhan. Kemudian diakhiri dengan datangnya bulan Syawal dimana kita semua umat muslim merayakan lebaran Idul Fitri. Dalam Islam ada hari-hari dimana diharamkan untuk puasa. Hari-hari tersebut adalah saat lebaran Idul Fitri 1 Syawal, lebaran Idul Adha 10 Dzulhijjah, pada hari Tasyriq 11,12, dan 13 Dzulhijjah.

Pengertian bulan Ramadhan

Ramadhan berasal dari kata bahasa Arab ar-Ramadh yang berarti batu yang panas dan menyengat karena teriknya matahari. Dalam kalender bulan Hijriah (sistem penanggalan Agama Islam), bulan Ramadhan merupakan bulan kesembilan dalam kalender tersebut. Bulan kesembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat dan dengan waktu siang yang lebih panjang dari waktu malam.

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.”—(Al-Baqarah 2: 185)

Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa (baca juga: keistimewaan Ramadhan). Kenapa istimewa? Karena pada bulan inilah kitab suci Al Quran diturunkan. Bulan Ramadhan juga disebut Qiyamul Laili, yang berarti bulan kesabaran dan taqwa, dan bulan kasih sayang.

Berikut adalah penjelasan mengenai puasa ramadhan dan cara pelaksanannya :

Cara Mengetahui Waktu Puasa

Bagaimana cara mengetahui kapan Puasa Ramadhan dimulai? Berikut ada dua cara untuk dapat mengetahui kapan waktunya kita untuk melaksanakan puasa wajib pada bulan ini:

1.Dengan cara Hisab

Cara seperti ini dilakukan dengan sistem matematis dan astronomis untuk menentukan dimana posisi bulan.

2.Dengan cara Rukyat

Cara ini dilakukan dengan sistem mengamati visibilitas hilal. Hilal merupakan penampakan bulan sabit yang muncul pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Cara ini dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.

Syarat wajib seseorang dapat melakukan ibadah puasa:

  1. Wajib berakal sehat
  2. Wajib apabila sudah balig (baca juga:tips mengajar anak berpuasa)
  3. Wajib bagi kondisi fisik dan mental yang baik

Syarat sah seseorang dapat melakukan ibadah puasa:

  1. Harus beragama Islam
  2. Harus Mumayyiz
  3. Harus suci dari haid dan nifas bagi perempuan
  4. Harus dilakukan pada hari-hari yang dimana memang diperbolehkan untuk berpuasa

Rukun Puasa

Seorang muslim yang akan menjalankan ibadah puasa harus melakukan rukun puasa agar puasanya sah atau tidak batal. Berikut ini yang termasuk rukun-rukun puasa:

1.Niat

Rasulullah SAW bersabda ,”Barang siapa yang belum berniat puasa sampai terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya”. (Hadits Riwayat Abu Dawud).

2.Imsak

Sebagai penanda waktunya kita untuk berpuasa dan menghentikan segala aktifitas yang dapat membatalkan puasa.

3.Ash-shaim 

Adalah orang yang sah berpuasa dengan memenuhi syarat-syarat wajib puasa

Berikut ini merupakan sunat dalam berpuasa:

  1. Bersahur walaupun dengan sedikit makanan atau minuman
  2. Melambatkan waktu untuk sahur
  3. Meninggalkan perkataan dan perbuatan yang keji
  4. Menyegerakan berbuka puasa jika sudah waktunya
  5. Mendahulukan berbuka puasa daripada shalat Maghrib
  6. Berbuka dengan buah tamar. Jika tidak ada bisa dengan air saja
  7. Membaca doa berbuka puasa[AdSense-B]

Berikut ini adalah hal-hal yang dapat membatalkan puasa:

  1. Memasukkan sesuatu ke dalam rongga badan (makan dan minum)
  2. Bersetubuh dan mengeluarkan mani dengan sengaja (baca juga:zina dalam Islam)
  3. Muntah dengan sengaja
  4. Datang haid atau nifas bagi perempuan
  5. Hilang ingatan atau gila atau mabuk
  6. Melahirkan anak atau keguguran
  7. Murtad atau keluar dari agama Islam

Berikut ini juga beberapa hal yang dapat merusak pahala puasa: (baca juga:penyebab amal ibadah ditolak dalam Islam)

  1. Memfitnah atau mencela orang lain (baca juga:fitnah dalam Islam)
  2. Menipu, mencuri, dan berdusta kepada orang lain
  3. Bergunjing atau ghibah dan marah (baca juga:ghibah dalam Islam dan sifat marah dalam Islam)
  4. Mendengarkan cerita bohong dan keji
  5. Memandang wanita dengan syahwat

Berikut ini beberapa hal yang membuat makruh ketika berpuasa:

  1. Selalu berkumur-kumur
  2. Merasakan makan dengan lidah
  3. Berbekam kecuali perlu
  4. Mengulum sesuatu

Orang-orang yang diperbolehkan untuk tidak puasa

1.Orang yang sedang dalam perjalanan jauh atau musafir. Namun mereka wajib mengganti puasa mereka pada lain hari sebanyak puasa yang ditinggalkan (qodo).

“maka barang siapa diantara kamu sakit atau sedang bepergian jauh, maka wajiblah ia berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”(Al Baqarah:184.

2.Orang yang sedang sakit dan tidak sanggup untuk menunaikan ibadah puasa. Mereka juga harus mengganti puasa mereka di lain hari sebanyak puasa yang ditinggalkan saat mereka sudah sembuh dan sanggup untuk melakukan ibadah puasa.

3.Wanita yang sedang hamil atau menyusui yang khawatir jika anaknya akan kekurangan asupan makanan dapat mengganti puasa dilain waktu dan membayar fidyah. (baca juga:tips puasa Ramadhan untuk ibu hamil dan tips puasa Ramadhan untuk ibu menyusui)

4.Orang yang sudah lanjut usia sehingga mereka tidak sanggup lagi untuk berpuasa. Mereka wajib membayar fidyah beras sebanyak ¾ liter atau bahan makanan pokok lain).

Puasa memiliki beberapa fungsi dalam kehidupan:

  1. Puasa adalah sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah SWT.
  2. Puasa adalah sebagai pengendalian pada diri sendiri dan melatih kesabaran.
  3. Puasa adalah sebagai latihan untuk menjadi disiplin terutama dalam disiplin waktu.
  4. Puasa adalah sebagai salah satu cara untuk memelihara kesehatan.
  5. Puasa adalah sebagai pendidikan yang menumbuhkan sifat penyantun dan kasih sayang terhadap sesama.
  6. Puasa adalah sebagai mempererat silaturahmi.
  7. Puasa adalah sebagai melatih hidup sederhana.

Cara Melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan

Berikut dibawah ini adalah beberapa cara dalam melaksanakan ibadah puasa ramadhan yang wajib dilakukan oleh seluruh umat muslim yang beragama islam :[AdSense-C]

  1. Niat – Awali puasa kita sebelum terbitnya fajar dengan membaca niat dari dalam hati agar puasa kita dapat diterima oleh Allah SWT.
  2. Melaksanakan makan sahur – Dari hadist HR. Bukhari Muslim dan Ana bin Malik R.A yang mengatakan bahwa: “Telah bersabda Rasulullah SAW,’Sahurlah kalian, maka sesungguhnya dalam sahur itu ada berkahnya”.
  3. Mengetahui Imsak – Dengan mengetahui waktu imsak, kita harus menghentikan segala kegiatan yang dapat membatalkan puasa.
  4. Bersegera untuk berbuka puasa jika sudah waktunya atau takjil – Dari hadist Abu Hurairah r.a. berkata telah bersabda Rasulullah SAW: “Telah berfirman Allah Yang Mahamulia dan Maha Agung:”Hamba-hamba Ku yang lebih aku cintai ialah mereka yang paling segera berbukanya” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah).
  5. Memperbanyak membaca Al Quran, sedekah, dan membayar zakat fitrah. (baca juga:fungsi Al Quran bagi umat manusia dan syarat penerima zakat).

Demikian beberapa hal dasar tentang puasa ramadhan dan cara pelaksanaannya. Semoga dapat menjadi ilmu yang berguna serta meningkatkan iman kita kepada Allah SWT. Karena manfaat beriman kepada Allah SWT menjadikan kita selamat dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Amin.

Puasa Ramadhan – Pengertian, Rukun, Syarat, Ketentuan Puasa Ramdahan

Secara bahasa, puasa diartikan sebagai menahan dari sesuatu. Syarat Sah Puasa Ramadhan adalah menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkannya yang disertai dengan adanya niat dan dilakukan mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. (Baca : Macam – Macam Puasa Sunnah)

Rukun Puasa Ramadhan adalah menahan diri dari rasa lapar dan dahaga, serta dari perbuatan-perbuatan buruk maupun dari segala hal yang dapat membatalkannya dalam periode waktu tertentu dengan Persiapan Puasa Ramadhan dilakukan dalam jangka waktu satu hari. Adapun pelaksanaan Puasa Ramadhan dan Fadhilahnya adalah sebagai bentuk upaya dalam rangka menunaikan ibadah. Akan tetapi bagi sebagaian masyarakat, puasa juga dilakukan dalam rangka tujuan tertentu seperti untuk meningkatkan kualitas kehidupan spiritual seseorang, seperti puasa yang dilakukan oleh para pertapa.(Baca : Tips Agar Kuat Berpuasa)

Puasa Menurut Ajaran Agama Islam

Puasa dalam islam juga dikenal dengan shaum yang merupakan salah satu ibadah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam yang mana Puasa Ramadhan dan Cara Pelaksanaannya boleh dilakukan pada hari apa saja, kecuali di Hari yang Dilarang Puasa yaitu dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dan di tiga hari tasrik.(Baca : Hukum Puasa Tanpa Shalat Tarawih)

Adapun definisi dari puasa menurut islam adalah menahan diri dari dua syahwat (yaitu perut dan kemaluan) serta dari segala yang memasuki tenggorokan seperti obat-obatan dan lain sebagainya yang dilakukan mulai dari terbit fajar kedua / shadiq hingga Waktu Buka Puasa yaitu terbenamnya matahari kembali. Disertai oleh niat yang tulus dengan tujuan untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT.(Baca : Hukum Shalat Tarawih Di Bulan Ramadhan)

Ditinjau dari hukumnya, puasa dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu:

  1. Puasa wajib seperti puasa ramadhan, puasa kifarah, puasa qadla, serta puasa nazar(Baca : Cara Agar Keinginan Cepat Terkabul Dalam Islam)
  2. Puasa sunnah. Macam – Macam Puasa Sunnah seperti puasa enam hari Syawal, puasa Arafah, puasa Tasu’a dan Asyura, puasa ayyamul bidh, puasa Senin Kamis, puasa Daud, dan sebagainya.(baca : Hikmah Puasa Sunnah)
  3. Puasa makruh seperti mengkhususkan bulan Rajab untuk berpuasa, mengkhususkan hari Jum’at untuk berpuasa(Baca : Keutamaan Puasa Rajab)
  4. Puasa haram, seperti puasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha dan puasa pada hari tasyrik.(Larangan Puasa Hari Jumat)

Nah kali ini kita akan membahas tentang puasa wajib, khususnya tentang puasa Ramadhan.(Baca : Hukum Puasa Tanpa Sahur)

Baca juga :

Pengertian Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan merupakan pelaksanaan dari Rukun Iman yang keempat yang telah diperintahkan oleh Allah SWT kepada seluruh hamba-Nya yang beriman.(Baca : Fadhilah Puasa Ramadhan 10 Hari Pertama).

Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 183, yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Jadi, dari Firman Allah SWT di atas bisa disimpulkan bahwa melaksanakan puasa Ramadhan adalah wajib hukumnya, dimana hal tersebut adalah bentuk pertanggungjawaban manusia kepada penciptanya secara langsung serta kegiatan yang menyangkut aspek hablum minallah.(Baca : Hal-Hal yang Membatalkan Puasa)

Akan tetapi, dengan menjalankan puasa Ramadhan juga memiliki keterkaitan yang begitu erat di antara manusia satu dengan manusia lainnya, seperti timbulnya rasa simpatik serta rasa kebersamaan, timbulnya semangat untuk saling tolong menolong, dan masih banyak lagi. Selain itu, puasa merupakan salah satu bentuk ketentuan Allah yang harus dijalankan oleh setiap mukmin, dimana dalam syariat islam tujuan berpuasa adalah untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kita.(Baca : Puasa 1 MuharramSumber Syariat Islam)

Selain ayat 183, dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 185 juga tampak sekali tentang kewajiban bagi umat muslim dalam menjalankan puasa Ramadhan

Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS.  Al Baqarah: 185)

Rukun Puasa Ramadhan

[AdSense-A]Adapun Rukun Puasa Ramadhan adalah :

1. Niat

Niat dan doa di bulan Ramadhan merupakan tahapan penting dalam menjalankan puasa Ramadhan maupun ibadah-ibadah lainnya. Dimana, hal tersebut merupakan Persiapan Puasa Ramadhan yang dilakukan sebelum melaksanakan puasa maupun jenis ibadah lainnya.(Baca : Niat Puasa Ganti Ramadhan)

Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Jamaah, Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya:

Sesungguhnya amal tergantung dari niat, dan setiap manusia hanya memperoleh apa yang diniatkannya.”

Niat Doa Puasa Ramadhan diucapkan sebelum fajar tiba. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh 5 orang perawi dari Hafsah.(Baca : Hukum Menyikat Gigi Saat Puasa)

Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda:

barang siapa tidak berniat berpuasa sebelum fajar, tak ada puasa baginya.”

Akan tetapi dalam pengucapan niat puasa Ramadhan terdapat perbedaan diantara beberapa golongan, yaitu :

  • Menurut mahdzab Syafe’i, Hanafi, dan Hambali niat pelaksanaan puasa Ramadhan, wajib dilakukan disetiap malam pada bulan-bulan tersebut, yaitu mulai dari terbenamnya matahari hingga sebelum sang fajar terbit. Adapun lafadz niat puasa ramdhan adalah: “Nawaitu shouma ghodin ‘an adaa-i fardhi syahri romadhoona haadzihis sanati lillaahi ta ‘aala
    Yang artinyaAku berniat puasa esok hari menunaikan kewajiban Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.”
  • Menurut mahdzab Maliki menyatakan hal yang lain yaitu niat untuk berpuasa Ramadhan bisa dilakukan sekali saja, yaitu pada malam pertama yang diniatkan selama sebulan penuh. Adapun lafadz niatnya adalah “Nawaitu sauma syahri ramadana kullihi lillaahi ta’aalaa.” Yang artinya “Aku berniat berpuasa sebulan Ramadhan ini karena Allah ta’ala.”

Baca juga :

2. Menahan diri dari kegiatan makan, minum, bersetubuh, maupun hal-hal lainnya yang dapat membatalkan puasa

Allah telah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 187, yang artinya:

Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri kamu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu, karena itu Allah mengampuni dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.”

Syarat Puasa Ramadhan

Syarat Sah Puasa Ramadhan sama seperti syarat-syarat berpuasa pada umumnya, dimana syarat tersebut dibedakan menjadi 2, yaitu :

1. Syarat Wajib puasa

Yang dimaksudkan dengan syarat wajib berpuasa yaitu apabila seseorang telah tiba pada masa tertentu, maka ia wajib melaksanakan ibadah tersebut. Adapun syarat wajib puasa adalah:

  • Berakal, artinya puasa diwajibkan bagi mereka yang waras dalam berfikir sebagai seorang manusia. Dengan kata lain tidak gila, tidak sadarkan diri (koma).(Baca : Hukum Memotong Kuku Saat Puasa)
  • Baligh, artinya puasa diwajibkan bagi mereka yang telah mencapai usia baligh disisi syarak. Adapun tanda seseorang yang bisa dikatakan baligh antara lain adalah:

-> Ihtilam (keluar air mani baik dalam keadaan sadar maupun sedang bermimpi).(Baca : Hukum Mengeluarkan Air Mani dengan Sengaja)

->  Tumbuhnya bulu pada kemaluan.(Baca : Mencukur Bulu Kemaluan Dalam Islam)

->  Pada wanita terdapat dua tanda khusus yakni datangnya haid serta kehamilan.(Baca : Hukum Membaca Alqur’an Saat Haid)

  • Kuat mengerjakan puasa, artinya apabila seseorang sedang dalam keadaan sakit yang apabila dengan berpuasa akan mendatangkan beban kepada dirinya seperti penyakit yang ia derita semakin parah atau sesorang yang sedang dalam perjalanan jauh ( seorang musafir ) maka ia tidak diwajibkan untuk berpuasa. (Baca : Tips Agar Kuat Berpuasa). Hal ini dipertegas dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 185, yang artinya:

 “…barangsiapa yang dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain…”

2.  Syarat Syahnya puasa

Islam, artinya puasa Ramadhan telah disyariatkan bagi umat Islam, dan bukan bagi orang-orang yang kafir. Mumayiz, artinya mampu membedakan yang baik dan yang tidak baik.(Baca : Hukum Menyikat Gigi Saat Puasa)

Suci dari Haid dan nifas bagi kaum wanita, artinya jika seorang wanita sedang dalam keadaan haid maupun nifas, maka ia tidak diperbolehkan untuk berpuasa, akan tetapi ia wajib menggantikannya di lain hari sebanyak puasa yang telah ia tinggalkan di bulan tersebut.(Baca : Amalan di Bulan Ramadhan Bagi Wanita Haid, Larangan Saat Haid)

Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan oleh Muslim menjelaskan :

Dari Mu’adzah dia berkata, Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.”

Hal-hal yang memperbolehkan untuk berbuka puasa (tidak berpuasa)

Puasa Ramadhan diwajibkan bagi mereka yang beriman baik itu laki-laki maupun perempuan, serta bagi mereka yang telah baligh dan memiliki pikiran yang waras dan juga sehat. Akan tetapi beberapa golongan orang diperbolehkan untuk tidak menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan ketentuan:

1. Dalam Perjalanan Jauh

Mereka yang sedang dalam perjalanan jauh atau bepergian dengan ukuran yang boleh mengerjakan shalat qashar dan tujuan dari bepergian tersebut adalah tidak untuk kemaksiatan. Mereka yang mengalami hal tersebut memiliki kewajiban untuk mengqada puasanya di lain hari.(Baca : Hukum Potong Rambut Saat Puasa)

Kita bisa melihat dalilnya dari cuplikan Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 184, Allah SWT telah berfirman, yang artinya:

 (Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

2. Orangtua Berusia Lanjut

Mereka yang tidak kuat berpuasa karena sudah tua dan tidak memungkinkan bagi mereka untuk menjalankan ibadah tersebut. Orang-orang seperti itu tidak diwajibkan untuk mengqadlanya, akan tetapi ia diwajibkan untuk mengeluarkan fidyah jikalau ia mampu mengeluarkannya.(Baca : Hukum Keramas Saat Puasa)

Baca juga :

Kita bisa melihat dalilnya dari cuplikan Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 184, Allah SWT telah berfirman, yang artinya:

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu), memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

3. Dalam Keadaan Sakit

Mereka yang sedang dalam keadaan sakit dan bisa sembuh lagi. Bagi orang-orang seperti ini, terdapat kewajiban untuk menqadla puasanya dikemudian hari setelah ia sembuh, akan tetapi jika ia tidak dapat mengqadlanya, ma ia berkewajiban untuk membayar fidyah jika ia mampu.(Baca : Hukum Mencicipi Makanan Saat Puasa)

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Al-Baihaqi, Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya:

Maka ditetapkanlah kewajiban puasa bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah (keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang miskin bagi orang yang sudah sangat tua dan tidak mampu puasa.”

4. Wanita Menyusui dan Hamil

Bagi mereka terdapat kewajiban untuk mengqadha puasa di kemudian hari atau dengan cara membayar fidyah. Beberapa ulama menyatakan bahwa bagi wanita hamil dan menyusui selain kewajiban membayar fidyah, maka ia wajib mengganti puasanya di lain hari.(Baca : Tips Puasa Ramadhan untuk Ibu Menyusui)

Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda, yang artinya:

Wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak puasa dan cukup membayar fidyah memberi makan orang miskin “ (HR. Abu Dawud).

Baca juga :

Sunah – Sunah dalam Menjalankan Puasa

  • Sahur yang hendaknya dilakukan pada akhir malam meskipun hanya dengan seteguk air saja. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar menjadi kekuatan bagi mereka yang berpuasa. Sebaiknya sahur diakhiri sebelum terbitnya fajar.(Baca : Hukum Puasa Tanpa Sahur). Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda, yang artinya:

Sahur itu suatu berkah. Maka janganlah kamu meninggalkannya, walaupun hanya dengan meneguk seteguk air, karena sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas orang yang bersahur.” [HR. Ahmad]

  • Menyegerakan untuk berbuka puasa apabila telah nyata benar waktu terbenam matahari. Dan sangat dianjurkan bagi mereka yang berpuasa untuk berbuka puasa dengan kurma atau makanan yang manis-manis, atau juga bisa dengan air saja.(Baca : Manfaat Takjil). Dalam sebuah hadist,Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya:

Apabila seseorang diantara kalian berbuka, maka hendaklah ia berbuka dengan korma. Jika ia tidak memperoleh korma, hendaklah ia berbuka dengan air, karena air itu bersih dan membersihkan.” [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Sulaiman bin ‘Amir]

  • Membaca Niat Buka Puasa. Adapun niat do’a berbuka puasa yang sering kita dengar adalah “Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika ya arhamarrohimin.”Yang artinya:“Ya Allah bagi Engkau aku berpuasa dan dengan Engkau beriman aku dengan rezeki Engkau aku berbuka dengan rahmat Engkau wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang.”Adapun lafadz do’a yang diucapkan oleh Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam ketika berbuka puasa adalah “Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah”yang artinya:“Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.”

Baca artikel lailatul qadar :

[AdSense-B]

Hal-Hal yang diperbolehkan dan hal-hal yang dilarang selama berpuasa

Selama menjalankan puasa ramadhan, terdapat hal-hal yang boleh dilakukan dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Apa sajakan itu ?

1. Hal-Hal yang boleh dilakukan selama berpuasa

  • Menyiramkan air ke atas kepala di siang hari yang disebabkan oleh rasa haus maupun karena udara yang sangat panas. Hal yang sama juga berlaku pada kegiatan menyelam kedalam air pada siang hari, selama dalam melakukannya kita tidak menelan air tersebut secara sengaja.(Baca : Hukum Keramas Saat Puasa)
  • Melakukan Mandi Wajib atau mandi junub setelah adzan subuh berkumandang.(Baca : Hukum Mandi Junub Setelah Imsak)
  • Berhijamah disiang hari. Hijamah adalah proses membuang darah kotor yang bertoksin dan beracun yang berbahaya, dari tubuh badan kita melalui permukaan kulit.
  • Menggauli, menciumi, serta mencumbu istri di siang hari tetapi tidak sampai bersetubuh.
  • Menghirup air ke dalam hidung (beristiyak) terutama pada saat sedang berwudlu, dengan catatan tidak terlalu kuat pada saat melakukannya.
  • Mencicipi makanan pada saat memasak.(Baca : Hukum Mencicipi Makanan Saat Puasa)
  • Disuntik pada siang hari.

2. Hal – hal yang dilarang selama berpuasa (yang membatalkan puasa)

  • Makan dan minum disiang hari secara sengaja. Lalu bagaimana jika tidak sengaja? Dalam sebuah hadist, Rasulullah Sholallahu alaihi Wassalam bersabda, yang artinya “Barangsiapa yang terlupa, sedang dia dalam keadaan puasa, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minu.”
  • Muntah yang dilakukan dengan sengaja, sedangkan jika hal tersebut tidak sengaja dilakukan, maka puasanya dianggap masih sah. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi, rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya “Barangsiapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang puasa, maka tidak wajib qadha (puasanya tetap sah), sedang barangsiapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha (puasanya batal)
  • Terbersit niat untuk berbuka puasa di siang hari
  • Bersetubuh atau melakukan hubungan badan secara disengaja di siang hari. Hal ini selain membatalkan puasa, juga ia juga wajib menjalankan puasa selama 60 hari secara terus menerus.(Baca : Keistimewaan Ramadhan)
  • Mendapatkan haid di siang hari pada saat masih berpuasa.(Baca : Doa Mandi Haid)

Hikmah Puasa Ramadhan

  1. Melatih kesabaran

Pada dasarnya, puasa adalah Cara Meningkatkan Kesabaran dalam bentuk amalan batin yang berupa kesabaran dan bukan amalan yang semata-mata agar dilihat oleh banyak orang, dimana kesempurnaan puasa seseorang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri dan Allah SWT. Dengan menjalankan ibadah puasa, merupakan suatu jalan untuk mengekang diri dari perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkannya.

Dengan kata lain, puasa dapat melatih kesabaran dalam diri seseorang atau sebagai latihan untuk meningkatkan ketabahan dalam diri seseorang, khususnya dalam menahan dorongan hawa nafsu untuk melakukan hal-hal yang terlarang. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Baihaqi,

Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda yang artinya

Puasa adalah separuh kesabaran, dan kesabaran itu separuh iman.”

  1. Membentuk Akhlaqul-karimah

Dengan menjalankan puasa Ramadhan, seorang insan akan terdidik untuk selalu berbuat hal-hal yang baik dan mulia, karena selama berpuasa ia terbiasa menghindari kemaksiatan dan sifat kemungkaran yang bisa membatalkan puasanya. Dengan begitu setiap insan akan dapat mengubah serta melengkapi akhak dalam kehidupannya kepada tingkat yang lebih baik lagi.

  1. Dapat mengembangkan nilai-nilai sosial

Dengan menjalankan puasa ramadhan, akan dapat mendidik setiap insan untuk lebih menghargai serta merasakan jerih payah yang dilakukan oleh orang lain. Dengan begitu akan dapat melahirkan sifat persaudaraan serta kehidupan bermasyarakat yang lebih baik

  1. Dapat mempengaruhi kondisi fisik seseorang

Setiap insan akan dididik untuk mengistirahatkan anggota badan terutama organ-organ pencernakan selama ia menjalankan puasa. Dengan demikian, hal tersebut akan memabntu dalam membentuk badan sehingga menjadi lebih kuat dan segar kembali

  1. Menumbuhkan rasa syukur dalam diri setiap insan

Berpuasa akan dapat meningkatkan rasa syukur kita pada Allah SWT atas segala nikmat yang telah Ia berikan selama ini kepada kita,  dan dengan melakukan puasa, setiap insan akan dilatih untuk dapat merasakan penderitaan orang lain. Misalnya saja belum tentu orang lain bisa menikmati makanan dan minuman yang dapat kita nikmati saat perut kita terasa lapar, kita masih bisa berobat ke dokter pada saat kita sedang sakit, sementara orang lain belum tentu bisa melakukannya, dan lain sebagainya.

[AdSense-C]

  1. Meningkatkan ketakwaan dalam diri seseorang

Dengan menjalankan ibadah puasa ramadhan dengan baik dan benar, yaitu dengan tata cara yang telah disyariatkan islam, maka akan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan dalam diri seseorang. Selain itu, akan dapat menanbah ketabaha dan ketangguhannya dalam menghadapi segala cobaan dan permasalaahn hidup yang sedang menimpanya.

  1. Dapat membersihkan diri dari dosa-dosa yang pernah dilakukan.

Dengan berpuasa, maka seseorang akan lebih berhati-hati dalam bertindak, terutama segala perbuatan yang dapat menimbulkan dosa. Kita akan terbiasa serta terlatih untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dan menghindari segala perbuatan dosa sehingga kita senantiasa dapat terbersihkan dari perbuatan dosa.

  1. Membiasakan diri untuk menerapkan hidup hemat

Pada kenyataannya, kita sering menjumpai kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di dalam masyarakat, dimana mereka akan menyiapkan beraneka ragam jenis makanan untuk menyambut datangnya waktu berbuka puasa. Padahal ketika waktu berbuka telah tiba, justru hanya sedikit makanan saja yang dapat kita makan. Sehingga hal tersebut akan membuat makanan-makanan yang tidak termakan menjadi sia-sia atau mubadzir.

Sementara di luar sana masih banyak saudara-saudara kita yang tidak dapat berbuka puasa karena tidak memiliki sesuatupun untuk dimakan. Jika begitu, kenapa kita masih bisa menyia-nyiakan makanan? Bukankah akan lebih baik jika kita berhemat dan menabungkan uang yang tadinya untuk membeli makanan tetapi menjadi sia-sia karena tidak termakan?