Tata Cara Sholat Sunnah Rawatib dan Bacaannya

Islam adalah sebuah agama keselamatan yang memberi banyak ladang pahala pada setiap hal-hal yang kita lakukan sehari-hari. Mulai dari ibadah wajib hingga ibadah sunah yang memiliki keutamaan dan nilai pahala serta manfat-manfaat yang bisa kita rasakan dengan melaksanakan ibadah-ibadah tersebut. Seperti sholat lima waktu yang hukumnya adalah wajib, puasa ramadhan yang hukumnya juga wajib, hingga sholat-sholat lain yang hukumnya sunah namun memiliki keutamaan dan manfaat yang juga sangat besar untuk kita lakukan, seperti sholat sunah rawatib, sholat sunah tahajud, sholat sunah dhuha dan sholat-sholat sunah lainnya.

Baca juga:

Ketika sholat yang kita lakukan adalah hukumnya sunah, maka kita tidak diwajibkan melakukan sholat tersebut namun ketika kita melaksanakannya dengan hanya diniatkan kepada Allah maka kita akan mendapat pahala yang amat besar, dinaikkan derajatnya di mata Allah bahkan mendapatkan manfaat duniawi dalam kehidupan kita.

(Baca juga: Keutamaan Shalat Istikharah Pahala Wanita Shalat di Rumah)

Ada banyak sholat sunah yang bisa kita lakukan di masing-masing waktunya, seperti sholat tahajud yang dilakukan pada waktu sepertiga malam hingga sholat dhuha yang dilakukan pada waktu dhuha, yakni pada saat sekitar jam tujuh hingga jam sembilan pagi. Namun sholat sunah yang paling utama untuk dilakukan adalah sholat sunah rawatib, yakni sholat sunah yang mengiringi setiap lima waktu sholat wajib kita, dari mulai isya’ hingga ke isya’ lagi. Karena sesungguhnya di antara hikmah dan rahmat Allah atas hambanya adalah disyariatkannya Attathowwu‟ (ibadah tambahan), dan dijadikan pada ibadah wajib diiringi dengan adanya attathowwu‟ dari jenis ibadah yang serupa. Hal itu dikarenakan untuk lebih menyempurnakan dan melengkapi kekurangan yang terdapat pada ibadah wajib yang kita lakukan. (Baca juga: Shalat dalam KendaraanKeutamaan Shalat Idul Fitri)

Dalam sebuah hadis telah dijelaskan tentang perkara dari sholat sunah rawatib ini bahwa:

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa sallam bersabda : “Pertama kali amal (perbuatan) yang dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat (nanti) adalah ibadah shalatnya, maka jika (ternyata) ibadah shalatnya itu baik, maka baiklah seluruh amalnya, dan jika (ternyata) ibadah shalatnya rusak (jelek), maka rusaklah (jeleklah) seluruh amalnya”.

(Baca juga : Keutamaan Shalat FajarLarangan Tidur Setelah Shalat Shubuh)

Kemudian rasul shalallahu alaihi wa sallam bersabda lagi dalam hadis lainnya bahwa:

“Pada tiap antara dua adzan (adzan dan iqamat) ada shalat (sunnah), pada tiap adzan dan iqamat ada shalat (sunnah), pada tiap adzan dan iqamat ada shalat (sunnah) setelah mengatakan tiga kali, bagi siapa yang mau mengerjakannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

(Baca juga: Hukum Meninggalkan Shalat Jumat Hukum Sholat Jumat Bagi Wanita)

Dari dua seruan hadist tersebut memberikan pengertian kepada kita mengenai perkara perbuatan dan amalan-amalan yang kite lakukan selama di dunia, bahwa kita tidak hanya dituntut untuk melakukan sholat fardu tapi juga menyempurnakan dan memperbaiki shalat fardhu yang kita lakukan, karena amalan dan perbuatan kita selama di dunia senantiasa oleh malaikat kemudian nantinya akan ada penghitungan dari amalan-amalan yang tercatat tersebut, mulai dari amalan baik hingga amalan buruk kita selama di dunia. Di antara semua amalan dan perbuatan yang kita lakukan di dunia, shalat adalah ibadah pokok yang dijadikan sebagai tolak ukur terpenting atas baik dan buruknya amal seseorang di dunia, maka apabila shalatnya baik, maka akan baiklah seluruh amal lainnya.

Begitupun juga jika yang terjadi adalah sebaliknya, apabila shalatnya rusak (jelek), maka rusaklah seluruh amalnya. Oleh karena itu kita disyariatkan (diperintahkan) mengerjakan, shalat sunnah setelah disyariatkan shalat fardhu yang berjumlah lima waktu dalam satu hari, shalat sunah rawatib dimaksudkan untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan dari shalat fardhu yang kita kerjakan hingga jadi sempurna seperti yang kita harapkan.

(Baca juga: Shalat Malam Sebelum Tidur Menurut Islam; Shalat Taubat)

Bahkan dalam sebuah kisah dikatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mengerjakan sholat sunah rawatib dan tidak pernah sekalipun meninggalkannya dalam keadaan mukim (tidak bepergian jauh).

(baca juga: Shalat Lailatul QadarPahala Shalat Tarawih Malam Pertama )

Mengingat pentingnya ibadah sholat sunah rawatib ini serta cara pengerjaannya yang dilakukan secara berulang-ulang mengiringi setiap sholat fardhu. Oleh karena itu, artikel kali ini akan membahas tentang bagaimana tata cara melaksanakan sholat sunnah rawatib supaya kita semua bisa melaksanakan dan mendapatkan pahala serta kenaikan derajat di mata Allah subhana hua ta’ala.

[AdSense-B]

  • Jenis-Jenis Sholat Sunah Rawatib

Maksud dari kata mengiringi adalah dengan melakukan sholat sunah rawatib saat sebelum maupun sesudah sholat wajib yang kita lakukan.

Jika sholat sunah yang dilakukan sebelum sholat wajib maka disebut dengan sholat sunah “Qabliyah”, sedangkan jika sholat sunah yang dilakukan sesudah sholat wajib maka disebut dengan sholat sunah “ba’diyah”.

Kemudian, ada dua jenis sholat rawatib yang bisa kita laksanakan sehari-hari untuk mengiringi sholat fardhu kita, yakni sholat “sunnah muakkad” dan sholat “sunnah ghairu muakkad”.

(Baca juga: Shalat Tarawih bagi WanitaKeutamaan Shalat Witir)

Sholat sunnah rawatib “muakkad” adalah ibadah tambahan dengan kemuliaannya yang sangat besar di mata Allah Subhana Hua Ta’ala dan akan mendatangkan ganjaran/ pahala yang besar dari Allah Subhana Hua Ta’ala apabila kita menunaikannya. Adapun pelaksanaan dari Sholat sunah muakkad ini adalah saat Qabliyah Dzuhur sebanyak dua rakaat, ba’diyah zuhur sebanyak dua rakaat, Ba’diyah Magrib sebanyak dua rakaat,  Ba’diyah Isya’ sebanyak dua rakaat, dan Qabliyah subuh sebanyak dua rakaat.

(Baca juga: Manfaat Shalat TarawihKeutamaan Shalat Tarawih Berjamaah)

Sedangkan Sholat sunnah rawatib “ghairu muakkad” adalah ibadah tambahan yang juga memiliki kemuliaan tersendiri namun tidak lebih besar dari sholat sunnah muakkad. Adapun pelaksanaan dari sholat sunah ghairu muakkad ini dikerjakan pada saat Qabliyah dzuhur sebanyak dua rakaat, ba’diyah Dzuhur sebanyak dua rakaat, qabliyah ashar sebanyak dua atau empat rakaat, qabliyah mabrib sebanyk dua rakaat, dan qabliyah isya sebanyak dua rakaat.

(Baca juga: Keutamaan Shalat HajatKeutamaan Shalat Dhuha)

  • Jumlah Rakaat Dalam Sholat Sunah Rawatib

Dalam sebuah hadis Ummu Habibah dijelaskan bahwa jumlah sholat rawatib adalah 12 rakaat yang kemudian penjelasan lebih rincinya diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan An-Nasa‟i,

Dari Aisyah radiyallahu anha, ia berkata:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada sholat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah „isya, dan dua rakaat sebelum subuh“. (HR. At-Tarmidzi dan An-Nasa’i).

(Baca juga: Keutamaan Shalat Ashar BerjamaahManfaat Shalat Tahajjud)

  • Tempat Mengerjakan Sholat Rawatib

Sholat sunah rawatib bisa dilakukan d mana saja selama tempatnya bersih dan memungkinkan untuk sholat, namun ada anjuran khusus mengeni tempat sholat rawatib ini yang didasarkan pada hadis-hadis.

Baca juga:

Seperti dalam hadis dari Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma yang berkata bahwa:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lakukanlah di rumah-rumah kalian dari sholat-sholat dan jangan jadikan rumah kalian bagai kuburan“. (HR. Bukhori no. 1187, Muslim no. 777)

(baca juga: Macam – Macam Shalat SunnahShalat Jenazah)

Kemudian dalam pembahasan lain juga dijelaskan bahwa As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata:

“Sudah seyogyanya bagi seseorang untuk mengerjakan sholat rawatib di rumahnya meskipun di Mekkah dan Madinah sekalipun maka lebih utama dikerjakan dirumah dari pada di masjid Al-Haram maupun masjid An-Nabawi; karena saat Nabi shallallahu a‟alihi wasallam bersabda sementara beliau berada di Madinah.” (Syarh Riyadhus Sholihin)

(Baca juga: Ciri-ciri Orang Munafik Dalam IslamKeutamaan Menjaga Lisan dalam Islam)

Langkah-langkah Melaksanakan Sholat Sunah Rawatib

Pelaksanaan sholat sunah rawatib tidak jauh berbeda dengan sholat-sholat fardu, yakni dengan niat, bacaan ayat suc al-Qur’an dan doa-doa tertentu. Hanya saja bacan niatnya yan berbeda. (Baca juga: Doa Ketika Rindu Seseorang Cara Cepat Kaya Menurut Islam)

Berikut adalah Tata Cara Sholat Sunnah Rawatib:

1. Niat

Hal pertama adalah niat. Sama seperti pada sholat-sholat lainnya niat sholat rawatib juga dilakukan dalam posisi berdiri. Niat boleh dilafalkan lafadz arabnya dengan pembacaan yang jelas dan tegas dengan mulut namun yang terpenting adalah niat yang diartikan dan digaungkan di dalam hati, harus dengan tegas, jelas, yakin dan pasti. Jika niat yang diartikan dan digaungkan di dalam hati ini masih terasa belum jelas dan yakin sebaiknya diulangi. (Baca juga: Keutamaan Puasa Ayyamul BidhKeistimewaan Wanita Berjilbab)

Sesuai penejelasan di awal bahwa sholat rawatib adalah sholat sunah yang dilakukan untuk mengiringi sholat-sholat wajib kita, maka sholat rawatib ini dilakukan pada banyak waktu sholat wajib maka niatnyapun berbeda-beda, yakni:

Niat Sholat Sunnah Qabliyah (Sebelum) Sholat Dzuhur :

Usholli.. Sunnatad -dzhuhri rak’ataini “qabliyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sholat sunnah sebelum dzuhur dua raka’at, karena allah ta’ala.. “}

Baca juga:

[AdSense-A]

Niat sholat sunnah ba’diyah (sesudah) sholat dzuhur :

Usholli.. Sunnatad -zhuhri rak’ataini “ba’diyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sholat sunnah sesudah dzuhur dua raka’at, karena allah ta’ala.. “}

(Baca juga: Cara Mensyukuri Nikmat AllahCara Menghindari Riya)

Niat sholat sunnah qabliyah (sebelum) sholat ashar :

Usholli.. Sunnatal ashri rak’ataini “qabliyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sholat sunnah sebelum ashar dua raka’at , karena allah ta’ala.. “}

(Baca juga: Aqiqah Menurut IslamAmalan Ibu Hamil Menurut Islam)

Niat sholat sunnah qabliyah (sebelum) sholat maghrib :

Usholli.. Sunnatal maghribi rak’ataini “qabliyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sholat sunnah sebelum maghrib dua raka’at, karena allah ta’ala.. “}

(Baca juga: Hikmah Puasa Daud Bagi Wanita Keutamaan Ibadah Haji)

Niat sholat sunnah ba‟diyah (sesudah) sholat maghrib :

Usholli.. Sunnatal maghribi rak’ataini “ba’diyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sho lat sunnah sesudah maghrib dua raka’at, karena allah ta’ala.. “}

(Baca juga: Cara Menghindari SyirikCara Mengatasi Galau dalam Islam)

Niat sholat sunnah qabliyyah (sebelum) sholat isya’ :

Usholli.. Sunnatal isyaa’i rak’ataini “qabliyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sholat sunnah sebelum isya’ dua raka’at, karena allah ta’ala.. “}

(Baca juga: Sifat Orang yang Bertakwa Hukum Berjabat Tangan )

Niat sholat sunnah ba‟diyah (sesudah) sholat isya’ :

Usholli.. Sunnatal isyaa’i rak’ataini “ba’diyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sholat sunnah sesudah isya’ dua raka’at, karena allah ta’ala.. “}

(Baca juga: Hari yang Dilarang Puasa dalam IslamPamer dalam Islam)

Niat sholat sunnah qobliyah sebelum sholat subuh :

Usholli.. Sunnatas – shubhi rak’ataini “qabliyyatan” lillaahi-ta’aala..

Artinya :

{” saya niat sholat sunnah sebelum subuh dua raka’at, karena allah ta’ala.. “}

(Baca juga: Cara Menjauhi Zina dalam IslamKeutamaan Menjenguk Orang Sakit)

2. Mengumandangkan Takbir

Takbir adalah langkah awal pembuka dari ibadah sholat yang kita lakukan, dengan mengucapkan kata “Allaahu Akbar” yang di kata terakhir takbir pada saat mulut kita mengucapkan “Akbar” diharuskansambil menggaungkan artian niat sholat di dalam hati kita. (Baca juga: Hukum Mendengarkan Musik Dalam IslamWanita yang Dirindukan Surga)

3. Membaca doa iftitah

Setelah menegakkan niat dan takbir, maka selanjutnya adalah membaca doa iftitah yang berbunyi:

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. إِنِّىْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Allaahu Akbaru kabira wal hamdu lillahi kathira, wa subhanallahi bukratan wa asila. Innii wajjahtu wajhiya lillazi fatharas samaawaati wal ardha haniifa muslimaw wa maa anaa minal mushrikeen. Inna salaati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi Rabbil ‘aalameen. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.

artinya:

Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku diperintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).”

4. Membaca surat al-Faatihah

Langkah selanjutnya adalah dengan membaca surat al-faatihah yang berbunyi:

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ١ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣  مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

  1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang; 2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam; 3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang; 4. Yang menguasai di Hari Pembalasan; 5. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan; 6. Tunjukilah kami jalan yang lurus; 7. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

5. Ruku’, Tuma’ninah dan sujud

Jika sudah menegakkan niat, takbir dan membaca doa iftitah serta surat al-faatihah, maka langkah selanjutnya adalah sama seperti sholat-sholat lainnya seperti dengan pembacaan Surat al-Qur’an, ruku’, tuma’ninah hingga sujud yang terakhir dengan bacaan yang juga sama, kemudian dilakukan sebanyak dua atau empat rakaat tergantung sholat rawatib apa yang kita lakukan.

Namun ada beberapa bacaan surat al-Qur’an yang sangat dianjurkan untuk di baca pada saat shalat rawatib di antaranya adalah:

Anjuran surat yang Dibaca pada Sholat Rawatib Qobliyah Subuh

Pada saat mengerjakan Sholat Rawatib Qobliyah Subuh sangat dianjurkan untuk membaca surat-surat tertentu dalamal-Qur’an dengan berdasarkan pada sumber rujukannya masing-masing dalam sebuah hadis.

(Baca juga: Cara Mengatasi Depresi Menurut Islam Doa Agar Dipermudah Segala Urusan)

Hadis pertama adalah menganjurkan pembacan surat al-kaafirun untuk raka’at pertama yang berbunyi:

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١  لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢  وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣  وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ ٤ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٥  لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦

Artinya:

  1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir; 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah; 3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah; 4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah; 5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah; 6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (Q.S. al-Kaafirun)

(Baca juga:Cara Menghilangkan Kesedihan Menurut IslamKeutamaan Doa Seorang Ibu )

Kemudian untuk ayat ke duanya adalah dengan mambaca surat al-ikhlas yang berbunyi:

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١  ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢  لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣  وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤

Artinya:

  1. Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa; 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu; 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan; 4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (Q.S. al-Ikhlas)

(Baca juga: Cara Mengendalikan Emosi Menurut IslamCara Menjadi Muslimah Yang Baik )

Mengenai anjuran bacaan surat al-Kafiruun pada rakaat pertama dan al-Ikhlas pada rakaat kedua ini di jelaskan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu yang menyatakan,

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh membaca surat Al Kaafirun dan surat Al Ikhlas.”  (HR. Muslim)

[AdSense-C]

Kemudian dalam hadis dari Sa’id bin Yasar juga menjelaskan tentang anjuran membaca surat al-Baqarah ayat 136 pada raka’at pertama, yang berbunyi:

قُولُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ وَمَآ أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَآ أُوتِيَ ٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمۡ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّنۡهُمۡ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ١٣٦

artinya:

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma´il, Ishaq, Ya´qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (Q.S. al-Bawarah : 136)

Sedangkan pada rakaat ke duanya dianjurkan untuk membaca surat Ali Imron ayat 52, yang berbunyi:

۞فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنۡهُمُ ٱلۡكُفۡرَ قَالَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَٱشۡهَدۡ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ٥٢

artinya:

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. (Q.S. Ali Imron : 52)

Hal ini dijelaskan dalam hadis tersebut bahwasannya Ibnu Abbas pernah mengabarkan mengabarkan kepadanya:

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh dirakaat pertamanya membaca QS. Al-Baqarah ayat 136 dan dirakaat ke duanya membacaQS. Ali Imron ayat 52. (HR. Muslim)

Surat yang Dibaca pada Sholat Rawatib Ba’diyah Maghrib

Dalam melaksanakan Sholat Rawatib Ba’diyah Maghrib dianjurkan untuk membaca surat al-Kafirun dan surat al-Ikhlas. Hal ini didasarkan pada sebuah hadis yang meriwayatkan tentang kebiasaan Nabi Muhammad shallalllahu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanakan sholat sunah rawatib Ba’diyyah Magrib.

Dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anha, dia berkata:

“Saya sering mendengar Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau membaca surat pada sholat sunnah sesudah maghrib:”surat Al Kafirun dan surat Al Ikhlas”. (HR. At-Tarmidzi no. 431, berkata Al-Albani: derajat hadits ini hasan shohih).

Baca juga:

Tak kalah penting untuk dilakukan dalam shalat rawatib adalah memperbanyak Dzikir dan Doa kepada Allah Subhanahua ta’ala yang dibacakan pada saat setelah selesai sholat sunah rawatib.

Demikianlah pembahasan mengenai tata cara sholat sunah rawatib ini. Semoga dengan membaca artikel ini dapat menambah khazanah keilmuan dan meningkatkan kualitas keimanan kita terhadap Allah Subhana hua ta’ala. Amin.

15 Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh Perlu Diketahui

Islam adalah agama yang memberikan banyak pilihan pahala yang bisa kita raih dengan menjalankan amalan ibadah dan diniatkan semata-mata hanya kepada Allah subhana hua ta’ala. Mulai dari yang wajib sampai yang sunah. Mulai dari sholat, puasa, hingga berhaji. Masing-masing dari ibadah dan amalan tersebut memiliki nilai pahala yang sangat besar dan dapat meningkatkan derajat kemuliaan kita sebagai manusia di mata Allah subhana hua ta’ala. Bahkan kita tidak bisa mereka-reka berapa besar pahala yang kita dapat karena hanya Allah yang mengetahui itu secara pasti.

Baca juga:

Artikel kali ini akan membahas tentang puasa. Khususnya puasa sunah ayyamul bidh dan keutamaannya. Namun sebelum itu kita perlu mengetahui juga manfaat yang bisa kita dapatkan dengan melakukan puasa.

Setiap amalan ibadah yang kita lakukan memiliki keutamaan dan manfaatnya masing-masing. Namun secara umum setiap ibadah yang kita lakukan memiliki manfaat yang sangat lengkap untuk kita fisik dan psikis kita.

Baca juga:

Manfaat Puasa Secara Umum

1. Detoksifikasi tubuh

Selama berpuasa tubuh kita akan melakukan detoksifikasi atau proses pembuangan racun yang dikeluarkan dari dalam tubuh melalui keringat, urin, atau saat buang air besar. Dengan terbuangnya racun-racun dalam tubuh kita tentu akan menyehatkan tubuh. (Baca juga: Hukum Belum Membayar Hutang Puasa RamadhanHukum Menyikat Gigi Saat Puasa )

2. Mengurangi lemak

Selain memproses detoksifikasi dalam tubuh, berpuasa juga dapat mengurangi kadar lemak dalam tubuh kita. Karena dengan berpuasa, energy dalam tubuh kita dihasilkan oleh pembakaran sisa glukosa dalam tubuh. Kemudian jika glukosa tersebut telah habis maka tubuh akan menggantinya dengan lemak yang tersimpan dalam otot tubuh. Proses pembakaran lemak ini juga menghasilkan energy bagi tubuh jadi tidak perlu khawatir lemas saat berpuasa karena energy tetap terproduksi dari pembakaran lemak dan glukosa tersebut. Jadi selain mendapat pahala, puasa juga dapat bermanfaat untuk proses diet yang efektif untuk menurunkan berat badan di tubuh. (Baca juga: Puasa 1 Muharram )

3. Meningkatkan system imunitas dalam tubuh

System imunitas atau pertahanan dalam tubuh juga bisa ditingkatkan dengan berpuasa. Namun untuk meningkatkan system imunitas dalam tubuh ini harus didukung dengan konsumsi asupan makanan yang bergizi seperti sayuran, buah-buahan dan lainnya. (Baca juga: Puasa Mutih Sebelum Menikah dalam Islam)

[AdSense-B]

4. Menurunkan berbagai resiko penyakit dalam tubuh

Berpuasa juga dapat menurunkan berbagai resiko penyakit dalam tubuh, Seperti:

  • Darah tinggi, hal ini dikarenakan saat berpuasa produksi hormone dalam tubuh kita akan lebih terkontrol seperti hormone adrenalin yang menyebabkan kenaikan tekanan darah dalam tubuh.
  • Resiko Plak Jantung, hal ini dikarenakan asupan lemak jahat pada tubuh akan berkurang saat kita berpuasa. Dengan berkurangnya asupan lemak jahat tersebut maka jantung kita akan lebih sehat dan terhindar dari resiko plak jantung.
  • Resiko diabetes, saat berpuasa tubuh kita akan meningkatkan proses pemecahan glukosa untuk sebagai modal untuk memproduksi energy dalam tubuh. Dengan pemecahan glukosa tersebut, dapat menurunkan kadar gula darah dalam tubuh karena proses tersebut memproduksi insulin dalam tubuh sehingga kita akan lebih terhindar dari resiko diabetes.
  • Penyakit ginjal, hal ini dikarenakan berkurangnya konsumsi air selama berpuasa.
  • Serangan jantung, hal ini dikarenakan tubuh kita mengalami penurunan tingkat trigliserida (TG) hingga rata-rata 15 persen dan penurutnan kolestrol low density liporprotein (LDL) hingga 10 persen yang merupakan salah satu factor resiko penyebab terjadinya serangan jantung. (Baca juga: Puasa Sebelum Menikah Menurut Islam)

5. Memanjangkan umur

Selama berpuasa, banyak hal-hal positif yang terjadi dalam tubuh kita seperti detoksifikasi, dan lainnya sehingga hal ini tentu akan dapat memperpanjang usia kita. (Baca juga: Menu Berbuka Puasa yang Sehat)

6. Mengistirahatkan saluran pencernaan dalam tubuh

Selama puasa, kita menahan lapar dan haus artinya tidak ada asupan makanan yang masuk dalam tubuh kita sehingga saluran pencernaan kita bisa beristirahat dan sejenak dan dapat bekerja dengan lebih optimal setelah berbuka nanti. (Baca juga: Hal-Hal yang Membatalkan Puasa)

7. Memperbaiki pola makan

Pola makan saat kita berpuasa lebih teratur dari pada saat kita tidak melakukan puasa. Sehingga kesehatan kita jadi lebih terjaga dan tentunya hal ini akan dapat menjaga kesehatan tubuh kita. (Baca juga: Hukum Keramas Saat Puasa Ramadhan)

8. Merawat kecantikan kulit

Sel-sel dalam tubuh dapat bekerja dengan lebih maksimal karena metabolism tubuh saat berpuasa dapat beristirahat dengan baik. Hal ini mempengaruhi kekencangan orang tubuh luar seperti kulit menjadi lebih kencang dan sehat.

Selain mengencangkan kulit, puasa juga dapat mencegah penuaan dini. Karena puasa dapat memperlancar dan mempercepat metabolism dalam tubuh. (Baca juga: Waktu Buka Puasa dan Adab Berbuka Puasa)

9. Mengurangi nyeri sendi dan encok

Berpuasa dapat meningkatkan kemampuan Sel penetral (pembasmi bakteri) sehingga dapat meredakan nyeri sendi dan encok pada tubuh. (Baca juga: Doa Puasa Ramadhan untuk Sebulan)

10. Membantu menyembuhkan berbagai penyakit

Puasa akan dapat lebih mengefisienkan penggantian sel-sel rusak bahkan juga dapat menghentikan pertumbuhan tumor yang merugikan tubuh. Kemudian untuk penyakit-penyakit lainnya juga dapat dibantu dengan cara berpuasa karena dengan puasa pola makan kita jadi teratur dan asupan makanan yang masuk dalam tubuh juga lebih terjaga. Sehingga proses kesembuhannya bisa jadi lebih cepat. (Baca juga: Niat Puasa Ganti Ramadhan)

Cara melakukan puasa sunnah Ayyamul bidh sama dengan puasa-puasa lain pada umumnya yakni dengan cara menahan diri dari pembatal-pembatal puasa seperti makan, minum, dan hawa nafsu lainnya yang dilakukan mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan diniatkan berpuasa sebagai ibadah yang hanya kepada Allah subhana hua ta’ala. ( Baca juga: Niat Buka Puasa dan Perkara yang Membolehkan Berbuka Puasa)

Hanya saja yang membedakan puasa ayyamul bidh dengan puasa lainnya adalah puasa ini dilakukan secara rutin pada hari-hari putih yakni saat rembulan tengah bersinar dengan terangnya (ayyamul bidh). Puasa ini dilakukan setiap pada tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas pada setiap bulan hijriyyah. (Baca juga: Syarat Sah Puasa Ramadhan)

Banyak hal positif yang bisa kita peroleh dari ibadah puasa yang kita lakukan. Selain pahala-pahala yang akan didapatkan, kita juga dapat merasakan kesehatan tubuh saat kita melakukan ibadah puasa terlebih juga ibadahnya dilakukan dengan teratur dan mengkonsumsi makanan yang sehat bergizi. Segala penyakit dan keluhan kesehatan kita dapat terkikis sedikit demi sedikit dengan menjalankan ibadah puasa. (Baca juga: Rukun Puasa Ramadhan)

Dengan melakukan ibadah puasa, kita juga akan mendapatkan dua kebahagiaan yang tidak dirasakan oleh orang lain yang tidak melakukannya, yaitu kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika mereka bertemu dengan Rabbnya. (Baca juga: Sikat Gigi Saat Puasa)

Hal ini telah diriwayatkan dari Abu Hurairah  yang berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Setiap amal Bani Adam dilipatgandakan, satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah subhana hua ta’ala berfirman, ”Kecuali puasa, ia untukKu dan Aku yang membalasnya. Dia meninggalkan syahwat dan makannya demi Aku.” Orang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan. Kebahagiaan pada waktu berbuka dan kebahagiaan pada waktu bertemu Rabbnya. Sungguh aroma mulut orang yang berpuasa adalah lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi.” (Hadis Riwayat Abu Hurairah)

Baca juga:

[AdSense-A]

Selain itu, Allah subhana hua ta’ala juga telah menyediakan sebuah pintu khusus di Surga yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang melakukan ibadah puasa ketika selama kehidupannya di dunia.

Hal ini diriwayatkan dalam sebuah hadis dari Sahal bin Sa‟ad yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah :

”Di Surga ada delapan pintu. Di antaranya ada pintu yang bernama Rayyan, yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa”. (Baca juga: Tips Puasa Ramadhan untuk Ibu Hamil)

Pada dasarnya puasa ayyamul bidh dilakukan saat tengah bersinarnya bulan purnama. Pada pertengahan bulan Hijriah dimana bulan sedang dalam keadaan purnama dan bersinar dengan  posisi bulan yang dekat dengan bumi tersebut mempengaruhi ketinggian air laut oleh karena gaya gaya grafitasi bulan tersebut maka terjadilah pasang air laut. (Baca juga: Tips Mengajar Anak Berpuasa)

Selain mempengaruhi kondisi bumi yang merupakan benda mati, kondisi bulan purnama dengan gaya grafitasi dan pasang air laut ini juga turut berpengaruh terhadap seluruh benda hidup yang ada di atas bumi dalam hal ini adalah termasuk manusia terlebih terhadap kondisi psikologis manusia yang lebih sensitif. (Baca juga: Tips Puasa Ramadhan untuk Ibu Menyusui)

Sebuah penelitian pernah dilakukan oleh seorang peneliti berkebangsaan Amerika tentang hal ini. Dalam penelitian tersebut memperhatikan bagai kondisi kejiwaan manusia ketika terjadi bulan purnama. Kemudian hasil dari penelitian itu menyimpulkan bahwa kondisi kejiwaan manusia saat bulan purnama cenderung lebih labil, emosional, dan tidak terkendali. Semua perasaan menjadi lebih meluap-luap mudah membuncah dari dalam diri manusia. Seperti perasaan Mudah marah, mudah tersinggung, mudah senang, mudah sedih. (baca juga: Keutamaan Puasa Rajab)

Hal ini mengingatkan kita pada mitos dan film yang selalu mengaitkan antara kekuatan dari monster atau hantu dengan keadaan bulan saat purnama. Kekuatan tersebut bisa lebih kuat ataupun lebih lemah karena adanya bulan purnama. Segala ritual-ritual sacral juga biasanya dilakukan saat bulan purnama karena dipercaya memiliki energy tersendiri yang memungkinkan ritual tersebut berhasil dengan hasil yang maksimal. (Baca juga: Puasa Senin Kamis)

Jika kita korelasikan puasa sunah ayyamul bidh dengan kondisi alam yang terjadi seperti bulan purnama tersebut serta dengan kondisi psikologi yang kita alami, maka aka nada sebuah alas an logis mengapa kita disunahkan untuk menjalankan puasa ayyamul bidh, yakni untuk meredakan dan menyeimbangkan kelabilan psikologis kita. Dengan kondisi psikologis yang sensitive dan mudah meluap, setidaknya dengan melakukan puasa ayyamu bidh akan dapat menuntun kesadaran diri kita agar lebih menundukkan hawa nafsu. (baca juga: Keutamaan Puasa Senin Kamis)

Jadi diketahuilah bahwa ibadah-ibadah yang disunahkan dalam agama Islam tidaklah tanpa maksud dan tujuan apa-apa karena setelah dilakukan penelitian dan dinalar secara logika maka akan ditemukan factor lain yang membuat Allah atau Rosul memerintahkan untuk melakukannya termasuk dari segi kesehatan dan psikologis manusia. (Baca juga: Macam – Macam Puasa Sunnah dalam Agama Islam)

Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh

Berikut akan dibahas dengan lebih detail mengenai keutamaan dari ibadah puasa Ayyamul bidh

  1. Perintah dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dikisahkan dalam sebuah riwayat hadis bahwa dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan secara langsung perihal ibadah puasa ayyamul bidh. Hal inilah yang menjadi salah satu keutamaan dari puasa ayyamul bidh. (Baca juga: Cara Melaksanakan Shalat Tahajud)

Kisah tersebut di riwayatkan dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah yang berkata bahwa:

Au Shooni kholiilii bitsalaatsillaa ada’uhunna hhattaa amuta shoumi tsalaatsati ayyaamin min kulli syahrin, wa sholaati dduhaa, wa naumin ‘ala witrin.

Artinya:

“Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah berwasiat tiga hal kepadaku, yaitu; agar selalu berpuasa tiga hari pada setiap bulan, selalu mengerjakan dua raka’at Dhuha, dan selalu mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (Hadits Riwayat. Al-Bukhari)

Baca juga: Keutamaan Shalat Dhuha dan Tata Cara Melakukannya

Dalam hadis tersebut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan wasiat untuk seluruh umatnya tentang tiga hal. Dimana tiga hal ini adalah ibadah yang sunah dan memiliki manfaat luar biasa untuk ketentraman hati bagi manusia. Yakni puasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha sebanyak dua rakaat, dan shalat witir sebelum tidur. Seperti yang telah dijelaskan bahwa puasa tiga hari setiap bulan atau ayyamul bidh ini dapat membantu menundukkan hawa nafsu manusia saat terjadi fenomena alam yang membuat kondisi psikologis kita menjadi lebih sensitive. Oleh karena itu Nabi menganjurkan puasa ayyamul bidh ini salah satunya adalah untuk meredakan emosi yang kita rasakan sehingga tetap terkontrol dan berjalan dengan baik. Kemudian pada perintah berikutnya, yakni sholat dhuha dan witir selain dapat menenangkan jiwa juga dapat mempermudah segala urusan kita di dunia dan menjadi bekal untuk di akhirat nanti.

Baca juga:

  1. Anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Selain memerintahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dikisahkan pernah mengajurkan puasa ayyamul bidh serta waktu pelaksanaannya.

Kisah ini diriwayatkan dalam hadis At-Tirmidzi,  dari Abu Dzar radhiyallâhu yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberitahunya padanya bahwa:

Yaa abaa dzarrin idzaa shumta mina ssyahri tsalaatsata ayyaamin fashum tsalaatsa ‘asyrata wa arba’a ‘asyrata wa khomsa ‘asyrata

Artinya:

“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi)

Dalam hadis ini disebutkan tentang waktu-waktu untuk melakukan puasa ayyamul bidh. Yakni pada tangal tiga belas, empat belas dan lima belas dari bulan hijriyah. Penentuan waktu dari puasa ayyamul bidh ini dikarenakan pada tanggal tersebut kondisi bulan sedang dalam keadaan purnama dan tengah bersinar dengan terangnya. Pada tanggal tersebut juga terjadi fenomena alam dimana posisi bulan sangat dekat dengan bumi sehingga gaya grafitasi dalam bulan tersebut membuat ketinggian air laut menjadi pasang serta mempengaruhi kondisi psikis dari makhluk hidup yang ada di bumi menjadi lebih sensitive dan emosional. Sehingga dengan melakukan puasa ayyamul bidh diharapkan agar kondisi psikis kita bisa lebih terkontrol dan meredakan emosi dalam diri kita.

Keutamaan tentang anjuran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap puasa ayyamul bidh ini juga diceritakan dalam hadis lain, yakni sebuah hadis yang mengisahkan tentang Musa bin Thalhah radhiyallâhu ‘anhu yang pernah mendengar percakapan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Abu Dzar. Dimana dalam percakapan tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan jika puasa selama tiga hari dalam setiap bulan sebaiknya dilakukan pada tanggal 13, 14 dan 15.

Kisah ini diceritakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

Sami’tu abaa dzarriin yaquulu: qaala rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallama : “yaa abaa dzarrin, idzaa shumta mina ssyahri tsalaatsata ayyaamin fashum tsalaatsa ‘asyrata, wa arba’a ‘asyrata, wa khomsa ‘asyrata

“Saya mendengar Abu Dzar berkata: Rasululullah shallallâhu alaihi wa sallam bersabda: “wahai Abu Dzar jika engkau berpuasa 3 hari dalam setiap bulan maka berpuasalah pada tanggal 13, 14 dan 15.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi).

Hadis ini juga dengan jelas menerangkan waktu-waktu untuk pelaksanaan puasa ayyamul bidh yang dilakukan tiga hari berturut-turut yakni pada tanggal 13, 14 dan 15. (Baca juga: Cara Bersyukur Menurut Islam)

[AdSense-C]

  1. Ibadah puasa ayyamul bidh sama seperti melakukan puasa setahun

Selain dari kisah dalam hadis tersebut, Abu Daud juga meriwayatkan sebuah hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering memerintahkan umat dan sahabat untuk melaksanakan puasa ayyamul bidh karena dengan melakukan puasa ini selama tiga hari berturut-turut maka pahalanya seperti melakukan ibadah puasa selama satu tahun penuh.

Kaana rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – ya’murunaa an nashumal biidha tsalaatsa ‘asyrata wa khomsa ‘asyrata. Wa aqaala hunna kahay’ati ddahri. (Baca juga: Cara Mengatasi Galau dalam Islam)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).” Dan beliau bersabda, “Puasa ayyâmul bidh itu seperti puasa setahun.” (Hadits Riwayat Abu Daud)

  1. Tauladan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Diterangkan dalam sebuah hadis bahwa puasa ayyamul bidh adalah tauladan dari ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kisah ini diketahui dari sebuah percakapan antara Mu’adzah yang bertanya kepada Aisyah tentang ibadah puasa selama tiga hari berturut-turut di setiap bulannya yang selalu dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kapan saja waktu untuk melaksanakannya yang kemudian dibenarkan dan dijelaskan oleh Siti Aisyah bahwa puasa tersebut dilakukan dihari apa saja. (Baca juga: Pamer dalam Islam)

Kisah tersebut diriwayatkan dalam hadis Tirmidzi:

Akaana rasulullah – shollallahu ‘alaihi wa sallam – yashuumu tsalaatsata ayyaamin min kulli shahrin qalat na’am. Qultu min ayyati kaana yashuumu qalat kaana laa yubaalii min ayyati shooma.

Artinya:

“Apakah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam senantiasa berpuasa tiga hari setiap bulannya?” ‘Aisyah menjawab, “Iya.” Aku (Mu’adzah) pun lalu bertanya lagi: “Pada hari apa beliau melakukan puasa tersebut?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau).” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi)

  1. Kebiasaan Nabi dalam berpuasa ayyamul bidh

Selain itu, ada juga sebuah hadis lain yang meriwayatkan tentang puasa sunah ayyamul bidh dari Abu Dzar yang berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Wahai Abu Dzar, jika engkau berpuasa tiga hari dalam sebulan, maka berpuasalah pada tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi.

Baca juga:

Demikianlah penejelasan mengenai keutamaan dari puasa ayyamul bidh ini. Semoga artikel ini dapat menambah pengetahuan dan keimanan serta memberi manfaat positif bagi kita semua.