Hukum Melanggar Nazar Dalam Islam

Nazar adalah janji untuk melakukan atau memberi suatu hal ketika seseorang mengharap sesuatu (hajat) untuk tercapai, misalnya berjanji akan beramal pada anak yatim piatu sebesar Rp 1 juta jika memiliki nilai yang bagus. Nazar yang diucapkan tersebut wajib dipertanggungjawabkan dan ditepati.

Dalam perjalanan kehidupan, kita semua sebagai hamba Allah tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari. misalnya dalam contoh bernazar akan beramal pada anak yatim piatu tadi, jika hajatnya tercapai tetapi tidak memiliki kemampuan untuk melakukan nazarnya misalnya karena uang yang dimiliki untuk keperluan yang lebih penting sehingga tidak mampu untuk beramal pada anak yatim hingga terjadilah pelanggaran nazar tersebut baik berupa penundaan atau bahkan dibatalkan dan dilupakan padahal hajatnya sudah tercapai.

Bagaimana pandangan islam jika hal tersebut terjadi? Berikut penjelasan lengkap mengenai hukum melanggar nazar dalam islam diambil dari firman Allah dan berbagai hadist.

Hukum Melanggar Nazar Menurut Al Qur’an

Hukum melanggar nazar dalam Al Qur’an yang diantaranya berisi  sumber syariat islam dan petunjuk Allah untuk segenap umat manusia adalah haram, sebab nazar disebut sebagai janji yang wajib ditepati. berikut firman firman Allah tentang hukum melanggar nazar :

1. QS Al Haj Ayat 29

Melaksanakan nazar merupakan sesuatu yang wajib sebab Allah tidak pernah meminta hamba Nya untuk bernazar melainkan datang dari kemauan hamba Nya sendiri. tidak menepati janji termasuk perbuatan ingkar dan hall demikian tidak sesuai syariat islam.

Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar nazar mereka”.

2. QS Al Insan Ayat 5-7

“Sesungguhnya orang orang uang berbuat kebajkan minum dari gelas yang campurannya adalah mata air dari surga yang daripadanya hamba hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata dimana mana”.

Hukum menunaikan nazar ialah wajib, Allah berfirman dalam firman tersebut bahwa orang orang yang menunaikan nazar karena takut pada azab Allah dan karena menyadari hal tersebut adalah kewajiban yang telah dipilihnya sendiri maka termasuk orang yang berbuat kebajikan.

3. QS Al Baqarah Ayat 270

Manusia sekali tidak bisa menipu Allah barang sedikitpun sebab Allah maha mengetahui, walaupun seseorang pura pura lupa akan nazarnya dan secara sengaja tidak melaksanakan nazar tersebut tetap dikenakan dosa sebab Allah mengetahui apa saja yang telah menjadi nazar hamba Nya. “Apa saja yang kmu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”.

[AdSense-B]

4. QS Ali Imran Ayat 76

Barang siapa yang menepati yang dibuatnya dan bertaqwa maka sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang bertaqwa”. Menepati nazar termasuk orang bertaqwa yang disukai oleh Allah, begitu juga sebaliknya.

5. QS Al Maidah Ayat 89

hukum melanggar nazar dalam islam yaitu memberi makan orang miskin, memberi pakaian, meemerdekakan budak, atau berpuasa jika tidak mampu melakukan hal tersebut. Sesuai dengan firman Allah berikut,

Allah tidak menghukum kamu disebabkan nazar yang tidak dimaksudkan untuk sumpah, tetapi Dia menghukum kamu disebabkan nazar yang disengaja. Maka kaffarat (denda) melanggar nazar itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat nazar mu bila kamu bersumpah dan kamu langgar. Maka jagalah sumpahmu”.

[AdSense-A]

Dari berbagai firman Allah dalam Al Qur’an yang telah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa hukum melanggar nazar adalah wajib, bagi yang melanggar maka wajib membayar denda. Jika melanggar nazar dan tidak disertai iktikad baik untuk membayar denda maka orang tersebut berdosa.

Hukum Melanggar Nazar Menurut Hadist

hukum melanggar janji dalam islam atau pun sering disebut nazar  juga terdapat dalam berbagai hadist Rasulullah sebab nazar sudah ada sejak zaman dahulu kala dan sudah pernah terjadi dalam lingkungan Rasulullah (terjadi pada sahabat sahabat dan kaum pada jaman tersebut). Berikut hadist Rasulullah tentang hukum melanggar nazar dalam islam :

6. HR Bukhari no. 6696

Nazar yang berisi kebaikan, misalnya akan rutin shalat dhuha jika mendapatkan pekerjaan, hukumnya wajib ditepati. Meskipun shalat dhuha bukanlah termasuk shalat wajib tetapi hukumnya menjadi wajib bagi orang tersebut karena dia telah bernazar.

Barang siapa yang bernazar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nazar tersebut”.

7. HR Bukhari no.2043

Dari Ibnu Umar beliau berkata, “Dahulu di masa jahiliyah, Umar r.a pernah bernazar untuk beri’tikaf di masjidil haram yaitu i’tikaf pada suatu malam, lantas Rasulullah bersabda padanya “tunaikanlah nazarmu”.

Hadist tersebut juga berisi tentang nazar yang diucapkan oleh sahabat Rasulullah yang oleh Rasulullah diperintahan untuk menepati nazar tersebut.

8. HR Muslim

Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir dari Rasulullah bersabda, “Kalimat nazar itu kaffarat sumpah”.

Hadist tersebut seperti yang dijelaskan Allah dalam QS Al Maiddah ayat 89 yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu kalimat nazar adalah sebuah sumpah yang jika dilanggar hukumnya haram dan wajib membayar kaffarat (denda).

9. HR Abu Dawud no. 2876

Dari Ibnu Abbas bahwa Saad bin Ubadah meminta fatwa dari Rasulullah, dia berkata “Sesungguhnya ibuku telah meninggal sedangkan dia masih berkewajiban melaksanakan nazar yang belum ditunaikannya. Maka Rasulullah bersabda, tunaikanlah nazar itu olehmu untuknya”.

Hukum nazar tetap berlaku walaupun orang tersebut sudah meninggal dan wajib ditunaikan oleh ahli waris.

10. HR Bukhari no. 2651

Sebaik baik kalian adalah orang yang berada di generasi ku, kemudian orang orang setelahnya dan orang orang setelahnya lagi merupakan kaum yang bernazar lalu mereka tidak menunaikannya”.

Jelas dari hadist tersebut dijelaskan bahwa orang orang yang bernazar dan tidak menunaikannya termasuk golongan orang yang tidak baik akhlaknya, secara langsung orang tersebut mempermainkan kalimat nya sendiri dan mengingkari janji.

Melanggar Nazar yang Diperbolehkan dalam Islam

Ada nazar yang diperbolehkan untuk dilanggar, yaitu nazar dalam kategori sebagai berikut

  • Nazar Orang Kafir

Sebab tidak termasuk nazar yang sah karena dilakukan oleh seorang yang menyembah selain Allah sehingga nazar yang diucapkannya ditepat ataupun tdak ditepati tidak akan berpengaruh pada amal perbuatannya sebab segala yang dilakuannya tidak dalam ridho Allah sebagaimana dijelaskan bahwa orang orang kafir amal baiknya tidak diterima Allah.

  • Nazar Anak Anak dan Orang gila

Sebab merupakan sesuatu yang tidak memiliki nilai kesungguhan dan tidak memahami arti atau hukum dari nazar itu sendiri. Orang gila juga mengucapkan segala sesuatu yang tidak sesui akal pikirannya.

  • Nazar Karena Paksaan

Kalimat nazar yang diucapkan karena paksaan dari orang lain dan pada saat itu dalam keadaan tertekan serta tidak ada pilihan lain, atau jika tidak menuruti paksaan tersebut akan terjadi bahaya pada dirinya, boleh untuk dilanggar sebab tidak sungguh sungguh berasal dari niat dirinya sendiri.

  • Hanya Sebatas Niat

Misalnya nazar yang masih direncanakan atau terfikirkan dalam batin tetapi belum diucapkan secara lisan.

  • Nazar yang Mustahil

Misalnya lelaki tua yang sakit sakitan dan cacat tidak mampu berjalan ingin berhaji lalu membuat nazar jika dirinya diberi rezeki dan mampu berhaji akan melakukan haji dengan jalan kaki dari rumahnya di Indonesia ke Arab saudi. Tentu hal yang mustahil bukan? Apalagi dengan kondisinya yang cacat.

Nazar tersebut boleh dilanggar yaitu dengan rezeki yang telah dikabulkan untuk diberikan padanya oleh Allah lelaki tua tersebut menggunakannya untuk berangkat haji denagn cara yang semestinya (naik pesawat). Dalam hal ini lelaki tua tersebut tetap diwajibkan membayar denda sebab nazarnya berhubungan dengan kebaikan yang wajib dilaksanakan (ibadah haji).

  • Nazar yang Buruk

Barang siapa bernazar untuk menaati Allah maka hendaklah dia mentaati Nya. dan barang siapa bernazar untuk mendurhakai Nya maka janganlah dia mendurhakai Nya”. (HR Al Bukhari).

Hadist di atas berhubungan dengan cerita nazar lelaki tua yang diceritakan di atas, nazar yang baik tetap wajib dilakukan, tetapi jika nazarnya tentang janji melanggar agama atau ebrbuat maksiat maka nazar tersebut wajib ditinggalkan serta banyak banyak memohon ampun kepada Allah karena telah berniat sesuatu yang tidak di ridhoi Nya.

Anjuran Rasulullah tentang Hukum Melanggar Nazar

Rasulullah menganjurkan agar umat muslim menjauhi nazar sebab nazar termasuk ciri orang yang pelit sebab hanya mau berbuat kebaikan atau memberi sesuatu jika hajat nya tercapai, tidak karena ikhllas ingin beribadah atau ingin berbuat baik.

Nazar yang dilanggar juga termasuk perbuatan dosa sementara sebagai umat mansuia kita tidak tahu kehendak Allah apa yang akan terjadi pada kita di esok hari yang barangkali akan menyulitkan kita untuk melakukan hal tersebut.

Jadi dianjurkan untuk tidak bernazar, lebih baik lakukan kebaikan karena niat beribadah ekpada Allah, bukan karena agar hajatnya atau keinginannya terkabul.

[AdSense-C]

Hal ini disabdakan Rasululullah dalam berbagai hadist :

  • HR Bukhari no. 6693

Nazar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang pelit”.

  • HR Bukhari no. 6694

Sungguh nazar tidak membuat dekat seseorang pada apa yang tidak Allah takdirkan. Hasil nazar tersebut itulan yang Allah takdirkan. Orang yang bernazar tersebut mengeluarkan harta yang sebenarnya tidak ia inginkan untuk dikeluarkan”.

Sampai disini dulu ya sobat pembahasan pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat bagi sobat semua. Sampai jumpa di lain kesempatan dan terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. Salam hangat dari penulis.

Hukum Tawar Menawar Dalam Islam

Tawar menawar adalah hal yang biasa, umumnya terjadi pada urusan jual beli. Sering kita temui para pembeli yang menawarkan dagangan baik secara langsung atau melalui media online dan ditawar oleh calon pembeli yang minat untuk memiliki barang yang dijual tersebut. Barang akan diserah terima kan ketika sudah ada kesepakatan antara keduanya.

Tawar menawar tidak hanya terjadi dalam urusan perdagangan saja, dalam kehidupan sehari hari seperti ketika ditetapkan suatu peraturan dalam masyarakat, ketika seorang murid diberi tugas oleh guru, ketika seorang anak atau diberi uang oleh orang tuanya, sering pula terjadi tawar menawar misalnya seorang anak yang merasa menginginkan uang lebih dari orang tua nya karena keperluan tertentu dan sebagainya. Sering dialami dalam kehidupan anda pula bukan?

Jadi seperti apakah hukum tawar menawar dalam islam menurut syariat agama yang berdasarkan Al Qur’an dan Hadist? Dihalalkan ataukah memiliki hukum yang lain? Simak penjelasan dalam artikel ini agar dapat menambah pengetahuan anda tentang hukum tawar menawar dalam islam.

Hukum Tawar Menawar Berdasarkan Al Qur’an

Hukum tawar menawar dalam islam berdasarkan firman Allah dalam Al Qur’an ialah halal atau diperbolehkan selama dijalankan sesuai sumber syariat islam. Tak apa jika berada dalam suatu perniagaan (jual beli) dilakukan tawar menawar harga hingga tercapai kesepakatan kedua belah pihak agar tidak ada rasa keterpaksaan dalam urusan jual beli tersebut. Berikut firman firman Allah yang menjelaskan hal tersebut :

1. QS An Nisa Ayat 29

Wahai orang orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil kecuali dengan jalan yang dilakukan atas dasar suka sama suka diantara kamu”.

Penjelasan dari firman Allah tersebut ialah diperbolehkan melakukan tawar menawar dalam urusan jual beli agar tidak ada slah satu yang merasa dirugikan karena telah menjual dan membeli atas dasar suka sama suka.

Jalan yang batil contohnya ialah jual beli menurut islam yang merugikan salah satu pihak, misalnya seorang penjual berdagang dengan harga tinggi agar mendapatkan harta lebih dan pembeli terpaksa membelinya karena faktor kebutuhan atau tidak menemukan barang yang dicari tersebut di tempat lain.

2. QS Al Hasyr Ayat 9

Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang yang beruntung”.

Kikir yang dimaksud disini dapat berlaku baik bagi pembeli atau penjual yang melakukan hukum tawar menawar dalam islam. Sering kita menemui seorang pembeli yang menawar dengan merendahkan harga secara tidak wajar atau hingga memaksa dan membanding bandingkan dengan penjual lain, juga contoh pembeli yang tidak jadi membeli padahal sudah tercapai kesepakatan harga, tentu hal tersebut dapat mengecewakan penjual. Menawar yang bertujuan karena kikir atau tidak mau mengeluarkan harta lebih tidak dibenarkan dalam islam. Karena etika jual beli dalam ekonomi islam wajib diutamakan agar sama – sama untung antara penjual dan pembelinya.

[AdSense-B]

3. QS Al Munafiqun Ayat 9

Hai orang orang beriman, janganlah hartamu dan anak anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang orang yang rugi”.

Dalam perdagangan, yang dicari ialah keberkahan dan relasi serta kepercayaan dari pembeli. Orang yang terlalu sibuk mencari keuntungan dengan melakukan tawar menawar berlebihan dengan tujuan yang penting dirinya mendapat keuntungan harta hingga melalaikan sedekah ialah contoh perbuatan orang orang yang rugi seperti yang dijelaskan dalam firman Allah tersebut.

[AdSense-A]

4. QS Al Shaf Ayat 10

Hukum tawar menawar tidak berlaku dalam hal syariat agama islam, contohnya ialah kewajiban shalat 5 waktu, kewajiban menutup aurat, dan sebagainya wajib dijalankan sesuai perintah Allah dan tidak boleh ditawar, hal demikian lah yang nantinya dapat menyelamatkan dari azab neraka, seperti pada firman Allah,

Hai orang orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu”.

Dari berbagai firman Allah di atas dapat disimpulkan bahwa hukum tawar menawar dalam islam ialah halal atau diperbolehkan dengan ketentuan tidak bertujuan untuk harta duniawi semata dan dengan kesepakatan kedua belah pihak. Hendaknya urusan tawar menawar dilakukan sesuai syariat yang telah Allah tetapkan dalam firman Nya agar urusan tersebut berkah dan mendapat rdho Nya.

Hukum Tawar Menawar Berdasarkan Hadist

Rasulullah pernah melakukan perdagangan dengan tawar menawar, diriwayatkan dari AnasRasulullah pernah menjual anak panah dan alas pelana dengan tawar menawar”. (HR Muslim). tawar menawar menurut hadist hukumnya halal juga dengan syariat syariat yang tentunya menajdi sesuatu yang bermanfaat untuk kedua belah pihak, berikut hadist hadist nya :

5. HR Muslim

Dua orang yang sedang melakukan jual beli diperbolehkan tawar menawar selama belum berpisah, jika mereka itu berlaku jujur dan menjelaskan ciri dagangannya maka mereka akan diberi barakah dalam perdagangannya itu”.

Tawar menawar boleh dilakukan ketika kedua belah pihak belum berpisah, setelah keduanya sepakat dan jual beli sudah dilakukan maka hukum tawar menawar dalam islam sudah tidak berlaku lagi atau tidak diperbolehkan menawar lagi karena sebelumnya sudah tercapai kesepakatan.

6. HR Baihaqi Melalui Abu Hurairah r.a

Allah mencintai seorang hamba yang mudah berlaku baik jika menjual dan mudah bila membeli”.

Penjelasan dari hadist tersebut ialah hukum tawar menawar dalam islam yakni halal dengan cara tidak berlebihan dalam tawar menawar, misalnya penjual yang menawarkan dengan harga terlalu tinggi dan pembeli yang menawar dengan harga terlalu rendah di luar batas wajar. Kedua belah pihak wajib hendaknya memudahkan urusan atau rejeki satu sama lain.

7. HR Muslim no. 1412

Janganlah seseorang menjual di atas jualan saudaranya kecuali jika ia mendapat ijin akan hal itu dan janganlah kalian menawar atas tawaran saudaranya”.

Di tempat jual beli seperti pasar, banyak ditemui penjual dan pembeli, ada penjual yang berdagang barang hampir serupa di tempat yang sama, tidak jarang ketika ada pembeli yang sedang menawar, penjual yang lain turut menawarkan dagangannya padahal pembeli tersebut sudah bertransaksi dengan penjual lain.

Hal demikian tidak diperbolehkan menurut hukum tawar menawar dalam islam kecuali jika sudah mendapat ijin seperti yang dijelaskan dalam hadist.

8. Kitab Al Mawa’idh Al Ushfuriyah Tentang Rasulullah Menawar Pahala Allah Untuk Umatnya

Tawar menawar sudah ada sejak jaman dahulu kala, Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar dalam kitab Al Mawa’idh Al Ushfuriyah yaitu ketika Rasulullah menawar pahala sedekah yang ditentukan Allah untuk umat islam.

Kisah tersebut diawali ketika ketika turun wahyu QS Al Zalzalah ayat 7  yang berisi tentang orang yang berbuat kebaikan walaupun sebesar dzarrah akan mendapat balasan. Rasulullah memohon kepada Allah, “Ya Rabb ini sedikit menurut hak Nya umat ku”. Allah menjawab, “Jika kamu menganggap ini sedikit maka satu kebaikan akan dibalas dengan dua kebaikan” dan turunlah wahyu QS Al Qashash Ayat 54 yang berisi hal tersebut.

Rasulullah menawar lagi, “Ya Rabb tambahkanlah lagi kepada umat ku”. Dijawab oleh Allah, “Kalau begitu satu kebaikan dibalas 700 kali lipat” dan turun wahyu berikut, “Perumpamaan orang yang menafahkan hartanya di jalan Allah (sedekah) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah maha luas karunia Nya lagi maha Mengetahui”. (QS Al Baqarah : 261).

Rasulullah masih menawar lagi hingga menurunkan wahyu yang menjelaskan bahwa sedekah yang dilakukan dengan ikhlas dan dalam keadaan sabar (dalam sempit dan lapang tetap bersedekah) akan mendapat pahala dari Allah dengan jumlah tak terbatas, berikut wahyu tersebut, “Sesungguhnya hanya orang orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS Az Zumar : 10).

Hal tersebut tidak dimaksudkan untuk mengubah atau menawar syariat tetapi Rasulullah melakukannya karena amat menyayangi hamba Nya dan berharap umatnya mendapat amal pahala yang lebih agar kelak dapat menjadi bekal di akherat. Rasulullah memang amat menyayangi umatnya bahkan di akhir hayat nya pun masih tetap memikirkan umatnya.

[AdSense-C]

Dapat disimpulkan dari hadist hadist di atas bahwa Rasulullah juga menghalalkan tawar menawar dengan jalan kejujuran dan niat karena Allah, bukan semata berniat untuk memberi keuntungan pada diri sendiri sehingga tidak merugikan kedua belah pihak.

Demikian artikel tentang hukum tawar menawar dalam islam, tawar menawar yang djalankan sesuai syariat islam akan menghasilkan kesepakatan atas dasar suka sama suka dan ke depannya dapat terjalin relasi atau silaturahmi sehingga menjadi jalan untuk kelapangan rejeki.

Ketika penjual dan pembeli saling percaya dan memiliki kepuasan dari hubungan perniagaan yang dilakukan maka akan perniagaan selanjutnya tentu akan terjadi lagi dan menjadikan keuntungan untuk kedua belah pihak.

Semoga dapat menambah pengetahuan anda mengenai tawar menawar yang sesuai adab agama islam dan syariat islam. Terima kasih. Salam hangat dari penulis.

10 Tips Bersahabat Dalam Islam Agar Sehidup Sesurga

Islam tidak hanya mengatur tentang hubungan manusia dengan Allah, tapi juga antara manusia dengan manusia. Manusia adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain dan Islam sendiri telah meletakkan hubungan antar manusia sebagai sesuatu yang besar dan penting.

Rasul sendiri telah mengatakan bahwa jika ingin melakukan perjalanan, maka hendaklah membawa teman.

Sebagaimana sabda Rasul: Seandainya orang-orang tahu bahaya sendirian sebagaimana aku mengetahuinya, niscaya mereka enggan pergi sendirian malam-malam. (al-Bukhari).

Persahabatan dalam Islam sangat dijunjung tinggi karena memiliki banyak keutamaan. Rasulullah SAW juga memiliki beberapa sahabat yang sangat disayangi dan dihargainya. Hal ini terlihat jelas dalam sabdanya :

“Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku. Demi Allah, seandainya kamu berinfaq dengan emas sebesar gunung Uhud, sedekah itu tidak akan sebanding dengan satu mud (2 genggam tangan) maupun setengahnya pemberian salah seorang dari mereka. (al-Bukhari dan Muslim)

Namun dalam bersahabat, kita dianjurkan untuk lebih memilih dalam berteman. Ada beberapa tips memilih teman dalam Islam atau bersahabat dalam Islam, diantaranya adalah:

1. Bersahabat dengan Muslim

Islam tidak mengajarkan kita untuk berteman dengan sesama Muslim saja. Justru jika ada teman atau tetangga non Muslim yang meminta bantuan di tengah malam, maka kota wajib membantunya.

Namun Allah juga telah menjelaskan dalam Al Quran bahwa sebaiknya yang dijadikan sahabat atau orang yang dipercaya sebaiknya adalah seorang Muslim. Sebagaimana firman Allah SWT:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُۥ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Artinya: “Jangan jadikan orang Yahudi dan Nasrani (tidak berislam) sebagai Auliya (sahabat, pemimpin, wali, orang kepercayaan).” (Q.S. Al Maidah:51)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا۟ مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ ٱلْبَغْضَآءُ مِنْ أَفْوَٰهِهِمْ وَمَا تُخْفِى صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”(Q.S. Ali Imran: 118)

Baca juga:

[AdSense-B]

2. Bersahabat dengan orang shaleh

Dalam bersahabat, dekatilah orang yang kuat agamanya agar kita juga ikut memiliki keimanan yang kuat. Sebagaimana sabda Rasul:

“Seseorang itu berada di atas agama sahabatnya, maka hendaknya salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang menjadi sahabatnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan dihasankan oleh al-Albani). Selain itu, Al Quran juga menganjurkan untuk bersahabat dengan orang yang bertakwa. Sebagaimana firmannAllah SWT:

ٱلْأَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۭ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلْمُتَّقِينَ

Artinya: “(Pada hari kiamat kelak) orang yang bersahabat saling bermusuhan di antara satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. al-Zukhruf:67)

وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلًا

Artinya:”Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”.(Q.S. Al-Furqan: 27)

يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

Artinya: “Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). (Q.S. Al-Furqan: 28)

لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا

Artinya: “Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.(Q.S. Al-Furqan: 29)

[AdSense-A]

3. Bersahabat dengan orang yang berakhlak mulia

Menjalin persahabatan hendaknya dengan orang yang memiliki akhlak mulia agar kita juga ikut menjadi orang yang berakhlak mulia, sebagaimana sabda Rasul :

“Bersahabat dengan orang yang soleh dan dengan orang yang jahat persis seperti berkawan dengan pengedar minyak wangi dan tukang besi (yang menghembus bara api). Pengedar minyak wangi sama ada ia memberi anda sebahagian atau anda membeli bau-bauan daripadanya atau sekurang-kurangnya anda mendapat juga baunya. Manakala tukang besi pula samada ia menyebabkan baju anda terbakar atau anda mendapat bau yang hapak.” (Riwayat Abu Daud)

وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌ

Artinya: ” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”

Baca juga:

4. Selalu saling mendoakan

Sahabat yang baik adalah sahabat yang selalu mendoakan kebaikan untuk sahabatnya. Terdapat sebuah riwayat Umar Ibnu al-Khattab meriwayatkan:

Pada suatu ketika saya memohon izin daripada Rasulullah s.a.w. untuk pergi menunaikan umrah. Baginda mengizinkan saya. Beliau berpesan “Jangan lupa mendoakan kami wahai saudaraku.”. Saya amat berbesar hati dengan ungkapan Baginda tersebut. (Riwayat Abu Daud).

5. Bersahabat karena Allah

Persahabatan yang sejati adalah persahabatan yang terjadi karena Allah. Untuk itulah kita diminta untuk mencari sahabat yang seiman atau Muslim. Sahabat yang Muslim akan lebih mudah saling memaafkan dan mengikhlaskan. Rasulullah SAW juga telah memberitahukan hal ini. Rasulullah SAW. bersabda: Allah SWT berfirman:

“Orang yang berkasih sayang kerana Allah, orang yang saling berziarah kerana Aku (Allah), orang yang saling berbelanja membelanja kerana Aku(Allah), orang yang saling berhubungan kerana Aku (Allah), mereka semua berhak mendapat kasih sayangKu (Allah)” (Riwayat Ahmad). Dari hadist di atas, semakin tegas bahwa jika ingin mencari sahabat, carilah yang Muslim agar mendapat ridho Allah SWT.

6. Menutup aib

Sahabat yang baik adalah sahabat yang mampu menutup aib sahabatnya sendiri. Jika kita ingin aib kita ditutup, maka tutupilah aib sahabat kita. Allah juga melarang ghibah dalam Islam. Ghibah juga termasuk ke dalam dosa besar dalam Islam. Sebagaimana firman Allah SWT:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. (Q.S. Al Hujurat :12)

Baca juga:

7.  Pilih Sahabat Yang Jujur

وَمَآ أَضَلَّنَآ إِلَّا ٱلْمُجْرِمُونَ

Artinya: “Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa.”(Q.S. asy-Syu’ara: 99)

فَمَا لَنَا مِن شَٰفِعِينَ

Artinya: ” Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa’at seorangpun,”(Q.S. asy-Syu’ara: 100)

وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ

Artinya: “dan tidak pula mempunyai teman yang akrab,”(Q.S. asy-Syu’ara: 101)

Sahabat yang jujur adalah sahabat yang akan selalu mendampingi kita baik di saat susah maupun senang. Ia akan selalu mengingatkan kita untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim. Ia tidak akan membiarkan kita terjerumus ke dalam dosa. Sahabat seperti inilah sahabat yang selalu ada, baik di dunia maupun akhirat.

Demikianlah artikel mengenai tips bersahabat dalam Islam. Islam sangat menghargai hubungan persahabatan yang dilandaskan akan kecintaan kepada Allah SWT. Semoga kita semua bisa mendapat sahabat yang akan selalu menbimbing kita dalam jalan yang lurus. Aamiin.

Hukum Merusak Lingkungan Dalam Islam dan Dalilnya

Lingkungan merupakan satu kesatuan segala mahluk ciptaan Allah yang juga bukti kebesaran-Nya. Sesungguhnya salah satu tujuan hidup manusia adalah mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT, dan salah satu caranya adalah dengan menjaga lingkungan. Sebagai khalifah di bumi, kita dituntut untuk menjaga lingkungan sebagai salah satu tujuan hidup menurut Islam,  sebagaimana firman Allah SWT:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

Artinya: ” Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan” (Q.S. Al Baqarah :11)

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: ” Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Q.S. Al Baqarah:30)

Baca juga:

Allah telah mempercayakan kita untuk menjaga lingkungan dimana saat itu para malaikat justru meragukan kita. Maka hendaknya kita betul-betul menjalankan perintah Allah untuk menjaga segala apa yang telah ia ciptakan utnuk kita.

Namun sayang, semakin hari justru semakin banyak manusia yang merusak lingkungan. Berbagai kehancuran dan kerusakan terjadi dimana-mana hingga menimbuolkan banyak bencana. Allah juga telah menceritakan hal ini pada kita dalam Al Quran:

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: ” Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.S. Ar Rum:41)

Berbagai kerusakan di darat dan di laut merupakan salah satu akibat dari kejahatan orang-orang yang berdosa. Kekeringan, banjir, gunung meletus, badai, semua itu bukan hanya faktor bencana alam, tapi juga akibat dari kejahilan tangan-tangan manusia, juga banyaknya kemaksiatan yang dibuat. Rasulullah SAW pernah bersabda:

Ketika ada orang yang sering berbuat dosa itu mati, maka hamba-hamba Allah SWT, seperti manusia, bumi, pohon dan hewan-hewan merasa lega. (HR.Bukhori dan Muslim).

 Hadist ini menunjukkan betapa tenangnya dunia jika orang yang jahat itu mati karena tidak ada bencana dan kerusakan yang dibuat olehnya.

[AdSense-B]

Dalil Tentang Menjaga Lingkungan

Ada banyak perintah dari Al Quran dan hadist mengenai larangan merusak lingkungan dan menjaga lingkungan, diantaranya adalah:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Artinya: ” Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al Qashash:77)

Baca juga:

Rasulullah saw bersabda : “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, ataupun hewan, kecuali baginya dengan tanaman itu adalah sadaqah”. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Anas).

Dari riwayat Abu Daud, Rasulullah SAW bersabda :

“Barang siapa yang menebang pepohonan, maka Allah akan mencelupkannya ke dalam neraka”. 

[AdSense-A] Abu Daud menafsirkan bahwa Rasul melarang penebangan pohon tanpa memikirkan dampaknya terhadap lingkungan. Penebangan pohon hanya boleh dilakukan jika telah diketahui dan diminimalisir dampaknya.

Allah berfirman:

 “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo’alah kepadanya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Dia-lah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahma-Nya (hujan) hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu kami turunkan hujan di daerah itu.

Maka kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh dengan seizin Allah, dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (QS Al A’raf : 56-58)

Allah telah memberikan begitu banyak kenikmatan pada kita,  baik itu dari langit maupun dari bumi.  Hujan yang turun membuat tanah yang tandus kembali ditumbuhi tanam-tanaman.  Semua itu semua adalah tanda kebesaran Allah.  Apakah pantas kita merusak apa yang diberikan Allah kepada kita?  Sesungguhnya perbuatan merusak lingkungan adalah perbuatan tercela dan sangat dilarang dalam Islam.

Baca juga:

Rasulullah saw bersabda : Janganlah kalian mencela angin, karena sesungguhnya ia berasal dari ruh Allah Ta’ala yang datang membawa rahmat dan azab, akan tetapi mohonlah kepada Allah dari kebaikan angin tersebut dan berlindunglah kepada Allah dari kejahatannya. (HR. Ahmad dari Abu Hurairah)

Angin juga merupakan Rahmat dari Allah SWT,  namun angin juga bisa menjadi bentuk kemarahan Allah terhadap mereka yang selalu berbuat dosa.

أَلَمْ يَرَوْا۟ كَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَبْلِهِم مِّن قَرْنٍ مَّكَّنَّٰهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّن لَّكُمْ وَأَرْسَلْنَا ٱلسَّمَآءَ عَلَيْهِم مِّدْرَارًا وَجَعَلْنَا ٱلْأَنْهَٰرَ تَجْرِى مِن تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَٰهُم بِذُنُوبِهِمْ وَأَنشَأْنَا مِنۢ بَعْدِهِمْ قَرْنًا ءَاخَرِينَ

Artinya: “Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (Q.S. al-An’am: 6)

Nabi saw, pernah bepergian bersama Sa’ad bin Abi Waqqas. Ketika Sa’ad berwudhu, Nabi berkata : “Jangan menggunakan air berlebihan”. Sa’ad bertanya : “Apakah menggunakan air juga bisa berlebihan ?”. Nabi menjawab: “Ya, sekalipun kamu melakukannya di sungai yang mengalir”.

Ayat dan hadist di atas menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya dengan menanam pohon,  tapi juga dengan tidak berlebih-lebihan dalam pemakaian sumber daya alam. Bukan hanya jumlahnya berkurang tapi juga dapat merusak keseimbangan alam yang selama ini terjaga. Gunakanlah segala sesuatunya dengan takaran yang sesuai dan tidak berlebihan.

Cara Menjaga Lingkungan Menurut Islam

Menjaga lingkungan juga merupakan salah satu bentuk tingkatan iman dalam Islam. Berikut adalah beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk menjaga lingkungan:

  1. Membuang sampah di tempatnya.
  2. Tidak menggunakan sumber daya alam dengan berlebihan.
  3. Menanam pohon.
  4. Menggunakan peralatan elektronik dengan baik dan tidak berlebihan.
  5. Menghindari penggunaan plastik.
  6. Mendaur ulang benda yang masih dapat digunakan.
  7. Berjalan kaki atau bersepeda jika bepergian dalam jarak dekat.

Itulah beberapa cara yang dapat kita lakukan dalam keseharian kita untuk menjaga lingkungan. Dengan menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, kita juga menjaga warisan untuk anak cucu kita dan mengikuti gaya hidup sehat Rasulullah. Selain itu, kebersihan adalah sebagian dari iman, yang mana banyak sekali keutamaan kebersihan dalam Islam. Semoga kita semua menjadi hambaNya yang selalu bersyukur dan menjaga setiap pemberianNya. Aamiin.

Hukum Melanggar Wasiat Dalam Islam dan Dalilnya

Kata wasiat berasal dari bahasa Arab yakni wahshaitu asy-syaia, uushiihi, artinya aushaltuhu ( aku menyampaikan sesuatu). Yang artinya orang yang berwasiat adalah orang yang menyampaikan pesan diwaktu dia hidup untuk dilaksanakan sesudah dia mati.

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْرًا ٱلْوَصِيَّةُ لِلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ بِٱلْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى ٱلْمُتَّقِينَ

Artinya: “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa”(Q.S. Al Baqarah:180)

Telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan muslim, dari Ibnu Umar r.a., dia berkata:  Telah bersabda Rasulullah saw: “ Hak bagi seorang muslim yang mempunyai sesuatu yang hendak diwasiatkan, sesudah bermalam dua malam tiada lain wasiatnya itu tertulis pada amal kebajikannya.” Ibnu Umar berkata : Tidak berlalu bagiku satu malampun sejak aku mendengar Rasulullah saw. Mengucapkan hadist itu kecuali wasiatku berada di sisiku.

Dari ayat dan hadist di atas jelas menunjukkan bahwa pelaksanaan wasiat sesorang yang telah meninggal adalah wajib hukumnya. Namun hukum wasiat ini juga tergantung pada isi wasiat itu sendiri. Jika wasiat yang dibuat adalah wasiat yang sesuai syar’I, maka diwajibkan untuk dilaksanakan. Misalnya saja berwasiat jika ia meninggal, maka anaknya harus menghafal Al Quran.

Wasiat seperti ini harus dilaksanakan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud dari Hanasy berkata bahwa dirinya melihat Ali menyembelih dua ekor gibas. “Lalu aku mengatakan kepadanya, “Apa ini?” Ali menjawab,” Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah berwasiat kepadaku agar aku berkurban atasnya maka aku pun berkurban atasnya.”

Baca juga:

Namun jika wasiatnya bertentangan dengan syar’i, maka haram dilaksanakan, Misalnya, jika ia meninggal, ia berwasiat agar anaknya memutuskan silaturahmi dengan kerabatnya, maka wasiat ini haram dilaksanakan. Sebagaimana sabda Rasul :

“Tidak ada ketaatan didalam sebuah kemaksiatan. Sesungguhnya ketaatan adalah didalam perkara-perkara yang baik.” (HR. Bukhori) Begitu pula dalam riwayat Abu Daud disebutkan, “Tidak ada ketaatan didalam maksiat kepada Allah.”

Lalu bagaimana dengan wasiat harta? Dalam hukum Islam, kita mengenal hukum waris dan hukum wasiat. Hukum waris turun setelah hukum wasiat diturunkan Allah terlebih dahulu. Jika wasiat yang ditinggalkan tidak bertentangan dengan hukum waris, maka wasiat itu harus tetap dilaksanakan. Namun lain halnya jika wasiat yang ditinggalkan justru melanggar hukum waris yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُۥ يُدْخِلْهُ نَارًا خَٰلِدًا فِيهَا وَلَهُۥ عَذَابٌ مُّهِينٌ [AdSense-B]

Artinya: “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (Q.S. An Nisa:14)

Baca juga:

Allah juga telah mengharamkan para ahli waris yang menerima harta peninggalan dengan jalan wasiat yang bertentangan dengan hukum waris. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya Allah telah memberikan setiap orang masing-masing haknya. Maka tidak boleh harta itu diwasiatkan kepada ahli waris. (HR. At-Tirmizy)

لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا تَرَكَ ٱلْوَٰلِدَانِ وَٱلْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٌ مِّمَّا تَرَكَ ٱلْوَٰلِدَانِ وَٱلْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ ۚ نَصِيبًا مَّفْرُوضًا

Artinya: “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan”( Q.S. An Nisa:7)

[AdSense-A] Maka dari itu, sebaiknya pewaris tidak mewasiatkan hartanya lagi kepada ahli waris karena ahli waris sudah mendapatkan hartanya lewat hukum waris yang  telah ditentukan oleh Allah SWT. Jadi jika ingin berwasiat harta, maka berwasiatlah pada yang bukan ahli waris. Namun Islam juga membatasi wasiat harta kepada mereka yang bukan ahli waris.

Sebagaimana sabda Rasul :

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahuanhu dia berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku mau berwasiat untuk menyerahkan seluruh hartaku”. Beliau SAW bersabda, “Tidak boleh”. Aku berkata, “Kalau setengahnya?” Beliau bersabda, “Tidak boleh”. Aku berkata, “Kalau sepertiganya?” Beliau bersabda: “Ya sepertiganya dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin lalu mengemis kepada manusia dengan menengadahkan tangan-tangan mereka.” (HR. Al-Bukhari Muslim)

Baca juga:

Dari riwayat di atas, dapat kita simpulkan  bahwa harta yang boleh diwasiatkan hanya 1/3 saja karena yang 2/3 harus dibagikan kepada para ahli waris. Inilah kebesaran Allah yang mengetahui dan mengatur yang terbaik bagi hamba-Nya. Wasiat juga tidak boleh diubah isinya karena merupakan salah satu dosa besar. Sebagaimana firman Allah SWT:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ شَهَٰدَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ حِينَ ٱلْوَصِيَّةِ ٱثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِّنكُمْ أَوْ ءَاخَرَانِ مِنْ غَيْرِكُمْ إِنْ أَنتُمْ ضَرَبْتُمْ فِى ٱلْأَرْضِ فَأَصَٰبَتْكُم مُّصِيبَةُ ٱلْمَوْتِ ۚ تَحْبِسُونَهُمَا مِنۢ بَعْدِ ٱلصَّلَوٰةِ فَيُقْسِمَانِ بِٱللَّهِ إِنِ ٱرْتَبْتُمْ لَا نَشْتَرِى بِهِۦ ثَمَنًا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۙ وَلَا نَكْتُمُ شَهَٰدَةَ ٱللَّهِ إِنَّآ إِذًا لَّمِنَ ٱلْءَاثِمِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan dimuka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: “(Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa”.( Q.S. Al Maidah:106)

فَإِنْ عُثِرَ عَلَىٰٓ أَنَّهُمَا ٱسْتَحَقَّآ إِثْمًا فَـَٔاخَرَانِ يَقُومَانِ مَقَامَهُمَا مِنَ ٱلَّذِينَ ٱسْتَحَقَّ عَلَيْهِمُ ٱلْأَوْلَيَٰنِ فَيُقْسِمَانِ بِٱللَّهِ لَشَهَٰدَتُنَآ أَحَقُّ مِن شَهَٰدَتِهِمَا وَمَا ٱعْتَدَيْنَآ إِنَّآ إِذًا لَّمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Artinya: “Jika diketahui bahwa kedua (saksi itu) membuat dosa, maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tuntutan) untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah: “Sesungguhnya persaksian kami labih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas, sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang yang menganiaya diri sendiri” ( Q.S. Al Maidah:107)

ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يَأْتُوا۟ بِٱلشَّهَٰدَةِ عَلَىٰ وَجْهِهَآ أَوْ يَخَافُوٓا۟ أَن تُرَدَّ أَيْمَٰنٌۢ بَعْدَ أَيْمَٰنِهِمْ ۗ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱسْمَعُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ

Artinya: “Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan persaksiannya menurut apa yang sebenarnya, dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah. Dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintah-Nya). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” ( Q.S. Al Maidah:108)

Baca juga:

Allah menurunkan hukum waris untuk menyempurnakan hukum wasiat yang turun sebelumnya. Hukum wasiat memiliki banyak kelemahan, diantaranya adalah seorang yang bukan ahli waris bisa mendapat harta yang justru ahli waris tidak bisa dapatkan, atau karena dasar suka tidak suka oleh pewaris. Hal ini tentu akan menjadi bibit konflik dalam keluarga. Maka dari itu, Allah menurunkan hukum waris untuk keadilan dalam pembagian harta warisan.

Demikianlah artikel mengenai hukum melanggar wasiat dalam Islam. Semoga kita semua selalu menjalankan hukum Islam sesuai dengan ketentuannya. Aamiin.

15 Ayat Tentang Jodoh Dalam Islam

Jodoh merupakan istilah yang dimengerti oleh hampir semua orang. Ada berbagai sebutan untuk jodoh, diantaranya adalah pasangan hidup, teman hidup, tambatan hati, bahkan ada pula yang menyebut dengan ungkapan separuh jiwa yang berarti jika kehilangan atau terpisah akan terasa seperti kehilangan segalanya atau kehilangan sesuatu separuh dari hidupnya. Jodoh menurut islam adalah salah satu misteri yang senantiasa dipertanyakan oleh umat mukmin baik laki laki ataupun perempuan, sebab hanya Allah yang mengetahui dan menentukan jodoh untuk hamba Nya.

Jodoh dalam islam adalah sebuah cerminan diri, jika seseorang itu baik, InsyaAllah akan mendapatkan jodoh yang baik pula, dan sebaliknya. Jika seseorang itu baik tetapi mendapatkan jodoh yang belum sebaik dirinya, hal itu merupakan ujian dari Allah agar menuntunnya ke jalan kebaikan. Hanya Allah yang mengetahui. Wallahualam. Bagaimana jodoh tercipta dan seperti apa Allah memberikan yang terbaik untuk hamba Nya telah Allah jelaskan dalam berbagai firman Nya, berikut 15 ayat Al Qur’an tentang jodoh :

1. QS An Nur Ayat 26

“Wanita wanita yang keji adalah untuk laki laki yang keji, dan laki laki yang keji adalah untuk wanita wanita yang keji pula. Dan wanita wanita yang baik adalah untuk laki laki yang baik dan laki laki yang baik adalah untuk wanita wanita yang baik pula”. (QS An Nur : 26). Jelas dalam firman tersebut bahwa Allah memberikan jodoh berdasarkan akhlak dari hamba Nya tersebut, sebab itulah senantiasa ada nasehat bahwa setiap orang hendaknya memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan Nya agar kelak mendapat jodoh yang baik pula.

2. QS An Nur Ayat 3

“Laki laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik, dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki laki yang berzina atau laki laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang orang yang mukmin”. (QS An Nur : 3). Firman ini juga merupakan cermin dari jodoh yang Allah ciptakan untuk hamba Nya, wanita atau lelaki yang berzina nantinya akan mendapatkan jodoh yang seperti dirinya, setiap dari kita wajib menjaga diri dari segala perbuatan maksiat agar kelak mendapatkan jodoh yang mengajak kepada kebaikan juga.

3. QS Al Maidah Ayat 5

Allah menghalalkan seorang laki laki dan wanita yang sholeh yaitu yang masing masing menjaga kehormatan dirinya untuk menyatukan hubungan mereka dalam ikatan yang halal. Merupakan sebuah nikmat terindah dari Allah jika dua orang yang saling mencintai bersatu dalam ikatan yang halal dengan niat beribadah kepada Nya. “Dan dihalalkan mengawini wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita wanita yang beriman dan wanita wanita yang menjaga kehormatan diantara orang orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya tidak dengan maksud berzina”. (QS Al Maidah : 5).

4. QS Al Baqarah Ayat 221

Jodoh berarti sesuatu yang di rihoi Allah, jika mencintai lawan jenis yang musyrik tandanya bukan mencintai karena Allah sebab mengharap jodoh karena Allah senantiasa mementingkan agamanya terlebih dahulu. “Dan janganlah kamu menikahi wanita wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita mmusyrik walaupun dia lebih menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan ijin Nya”. (QS Al Baqarah : 221)

5. QS An Nur Ayat 32

“Dan nikahilah orang yang masih membujang diantara kamu dan juga orang orang yang layak menikah dari hamba hamba sahaya mu yang laki laki dan perempuan. Allah akan memberikan kemampuan pada mereka denga karunia Nya dan Allah maha luas pemberian Nya”. (QS An Nur : 32). Tak perlu khawatir jika anda mendapat jodoh yang mungkin masih berjuang untuk mapan, sebab Allah memberikan jodoh disertai dengan jalan mendapat rejeki yang lapang.

6. QS Ar Rum Ayat 21

Jodoh akan menjadikan dua orang menjadi tentram hatinya dan memiliki kasih sayang satu sama lain. “Dan diantara tanda tanda kekuasan Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepasanya, dan dijadikan Nya diantaramu rasa kasih dan sayang”. (QS Ar Rum : 21)

[AdSense-B]

7. QS Al Furqan Ayat 74

Allah menyukai hamba Nya yang berdoa dan berikhtiar, tak ada salahnya menyelipkan doa disertai senantiasa memperbaiki diri agar mendapat jodoh yang terbaik dari Nya. doa mendapatkan jodoh dan rezeki menurut al quran merupakan salah satu terbaik yang bisa dilakukan hamba-Nya untuk mendapatkan keberkahan. “Dan orang orang yang berkata : Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang orang yang bertaqwa”. (QS Al Furqan : 74). 

[AdSense-A]

8. QS Ar Rad Ayat 38

Allah telah menciptakan jodoh sejak jaman terdahulu, sejak Nabi Adam AS diciptakan telah Allah ciptakan Hawa sebagai jodohnya. “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri istri dan keturunan”. (QS Ar Rad : 38).

9. QS Az Dzariyat Ayat 49

Allah menciptakan jodoh agar manusia senantiasa bersyukur dan mengingat kebesaran Allah, sebab jodoh merupakan sebuah anugrah, darinya akan didapatkan teman hidup sebagai pasangan dan penenang hati di dunia hingga di akherat nanti. takdir jodoh menurut islam sudah ditentukan oleh Allah dengan orang yang tepat dan terbaik bagi setiap hamba-Nya. “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah”. (QS Az Dzariyat : 49). 

10. QS An Nisa Ayat 1

“Hai sekalian manusia bertaqwalah kepada Tuhan mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri dan dari padanya Allah mencitpakan istri nya, dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama Nya kamu saling mencinta satu sama lain”. (QS An Nisa : 1). Allah memerintahkan hamba Nya untuk bertaqwa agar mendapat jodoh yang bertaqwa pula, dengan jodoh Allah akan menciptakan keturunan dan perasaan saling mencinta satu sama lain.

11. QS Thaaha : 39

Jodoh tidak hadir begitu saja, ada yang mendapatkan jodoh di usia muda, ada pula yang sebaliknya, Allah mengatur yang demikian karena kuasa Nya, dari kasih sayang yang diturunkan oleh Allah, itulah sebabnya setiap manusia harus berikhtiar dan berharap hanya kepada Allah. “Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari Ku, dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan Ku”. (QS At Thaahaa : 39)

12. QS Ali Imran Ayat 14

Setiap lelaki sejatinya memiliki rasa tertarik atau minat terhadap wanita, hal itu merupakan kodrat dari Allah sebagai salah satu alasan diciptakannya jodoh. “Dijadikan indah bagi manusia kesukaan kepada benda benda yang diingini, yaitu perempuan perempuan”. (Ali Imron : 14)

13. QS Al Anbiya Ayat 89

Doa ini adalah salah satu doa dalam ayat Al Qur’an yang diungkapkan oleh Nabi Allah sebagai wujud berharap mendapatkan jodoh yang terbaik, jodoh akan melenyapkan seseorang dari rasa kesendirian dan kesepian, juga kelak memberikan keturunan sebagai pelengkap dan amanah dari Allah. “Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku seorang diri, Engkaulah ahli waris yang paling baik”. (Al Anbiya : 89)

14. QS Yassin Ayat 36

“Maha suci Tuhan yang telah menciptakan makhluk makhluk semuanya berpasangan baik apa yang ditumbuhkan oleh bumi, atau dari diri mereka, ataupun dari apa yang mereka mengetahuinya”. (QS Yassin : 36). Dari firman tersebut Allah menjamin kepada hamba Nya bahwa Dia telah menciptakan segala sesuatu berpasang pasangan, Allah memberikan pasangan tersebut sebagai jodoh untuk jalan beribadah kepada Nya.

Seseorang yang belum dipertemukan oleh Allah dengan jodohnya hendaknya senantiasa memperbaiki diri dan berikhtiar agar mendapat jodoh di waktu terbaik yang diatur oleh Allah. Bagi yang telah dipertemukan dan telah memiliki hubungan yang halal juga wajib bersyukur, memperbaiki diri, dan saling mengajak dalam kebaikan agar kelak menjadi jodoh hingga di akherat pula. Kemudian untuk tanda tanda jodoh dari allah sendiri memang terkadang tidak diduga – duga.

15. QS An Najm Ayat 45

“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang pasangan pria dan wanita”. (QS An Najm : 45).

Dari firman firman Allah yang telah disebutkan di atas jelas bahwa jodoh telah diciptakan dan dijamin keberadaannya oleh Allah, tentunya Allah menciptakan jodoh karena rasa kasih sayang Allah untuk hamba Nya, sebagai umat mukmin tak perlu khawatir tentang jodoh selama menjadi hamba Nya yang bertaqwa dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Nya, sebab Allah telah menjamin memberikan jodoh yang terbaik sesuai cermin dari dirinya sendiri.

[AdSense-C]

Senantiasa jaga diri, berikhtiar, dan mengharap serta menerima jodoh kita semata karena beribadah kepada Allah. Semoga bermanfaat ya sobat pembahasan kali ini mengenai ayat tentang jodoh dalam islam. Sampai disini dulu dan sampai jumpa di lain kesempatan. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mampir dan juga membaca. Salam hangat dari penulis.

15 Ayat Tentang Kematian Dalam Islam

Di waktu kecil kita pasti pernah mendengar dongeng tentang orang orang yang hidup kekal di dunia ini dengan keadaan berbahagia selamanya, sesungguhnya itu adalah sesuatu yang batil. Tidak ada sesuatu yang kekal di dunia ini. Kematian merupakan sebuah hakikat yang akan menghampiri semua manusia dan seluruh umat Nya, tidak ada yang mampu menolak atau menunda nya.

Kematian menurut islam adalah kepastian. Hanya Allah yang mengetahui waktu dan cara nya. Sebab itu manusia diwajibkan bertaqwa dengan berbuat kebaikan sepanjang waktu dan mengingat serta menyebut asma Allah setiap detik kehidupannya sebab kematian bisa datang kapan saja tanpa mengenal usia, status sosial, ataupun kondisinya, baik sehat maupun sakit jika sudah takdir nya maka manusia tak memiliki kemampuan apapun untuk menghindari nya. Salah satu cara meningkatkan iman dan taqwa paling mudah ialah dengan senantiasa mendekatkan diri kepada – Nya.

Allah telah berfirman bahwa kematian adalah hal yang nyata, bukan sebuah akhir namun awal dari fase kehidupan yang baru, simak 15 ayat Al Qur’an tentang kematian berikut :

1. QS Ali Imran Ayat 102

“Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar benar taqwa kepada Nya dan janganlah sekali kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam”. (QS Ali Imran : 102). Firman ini merupakan peringatan dari Allah untuk senantiasa beribadah dan mengingat Nya sebab merupakan kerugian terbesar ketika seorang hamba meninggal dalam keadaan selain islam.

2. QS Ali Imran Ayat 145

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya”. (QS Ali Imran : 145). Setiap hamba Allah akan meninggal dengan sepengetahuan dan atas izin Nya, tidak ada yang mampu menentukan kapan dan cara kematiannya sendiri. Sebab merupakan sebuah ketetapan yang hanya diketahui oleh Allah sebagai pencipta nya.

3. QS Ali Imran Ayat 185

Tidak ada satu pun ciptaan Allah yang tidak merasakan mati, bahkan malaikat pencabut nyawa pun nantinya juga akan merasakannya dan hanya Allah yang hidup sebelum semua dibangkitkan di hari akhir atau hari pembalasan nanti. Dan kematian bukan akhir dari perjalanan seseorang, melainkan sebuah jalan untuk mencapai kehidupan baru yang lebih yaitu kehidupan di alam kubur dan di akherat yang kekal nanti.

Meskipun demikian jika kematian tersebut dilakukan dengan bunuh diri merupakan tindakan yang dilarang oleh agama. Karena sudah jelas bahwa hukum bunuh diri dalam islam diharamkan,  “Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. (QS Ali Imran : 185).

4. QS Al An’am Ayat 61

“Dan diutus Nya malaikat malaikat penjaga sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang diantara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat malaikat Kami dan malaikat malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya”. (QS Al An’am : 61). Malaikat pencabut nyawa senantiasa menjalankan perintah Allah untuk mencabut nyawa siapa saja yang dikehendaki Nya, bagaimana malaikat tersebut mencabut nyawa tentu berdasar dari segala amal perbuatan yang dilakukan di dunia.

5. QS Al Ahzab Ayat 16

Manusia mampu menciptakan berbagai teknologi canggih yang dapat meminimalisir dampak dari bencana alam atau kerusakan yang ditimbulkan karena ulah manusia, tetapi sepandai apapun manusia tidak akan mampu menciptakan alat yang bisa menghindarkan seseorang dari kematian, sekuat apapun seorang hamba mencoba dan berusaha, jika Allah sudah berkehendak, tidak ada yang bisa lari dari takdir Nya. “Lari itu sekali kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melaikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika kamu terhindar dari kematian kamu tidak juga mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. (QS Al Ahzab : 16). 

[AdSense-B]

6. QS Al Mu’minum Ayat 99

“Keadaan orang kafir apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka dia berkata : Ya Tuhanku kembalikanlah aku ke dunia”. (QS Al Mu’minum : 99). Orang yang sudah mati tidak akan mampu kembali ke dunia untuk meperbaiki kehidupannya setelah kematian, sebab itu kita yang masih diberi kesempatan wajib bersyukur agar bisa lebih paham manfaat bersyukur kepada allah dan memanfaatkan segalanya untuk bekal kehidupan agar tidak menjadi orang yang menyesal.

[AdSense-A]

7. QS An Nahl Ayat : 61

Jika Allah sudah menentukan waktu kematian seseorang, waktu kematian yang telah ditetapkan tersebut akan terjadi dengan tepat, tidak maju ataupun mundur walaupun sekejap saja. “Apabila telah tiba waktunya yang ditentukan bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak pula mendahulukannya”. (QS An Nahl : 61).

8. QS Al Waqi’ah Ayat 60

“Kami telah menentukan kematian diantara kamu dan Kami sekali kali tidak akan dapat dikalahkan”. (QS Al Waqi’ah : 60). Allah maha kuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang mampu mengalahkan kuasa Nya termasuk tentang kematian, Allah lah yang menentukan kapan dan dimana hamba Nya akan kembali pada Nya.

9. QS Haqqah Ayat 27

“Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu”. (QS Al Haqqah : 27). Friman ini menjelaskan bahwa kematian bukanlah akhir dari segalas sesuatu atau terlepasnya tanggung jawab seorang hamba, kematian justru menjadi awal dimana setiap hamba akan diminta pertanggung jawaban atas segala urusan yang dilakukannya di dunia.

10. QS Al Jumu’ah Ayat 8

“Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS Al Jumu’ah : 8). Pada kehidupan setelah mati nanti akan ditunjukkan kepada setiap insan segala yang diperbuatnya selama di dunia, dan hanya kepada Allah hamba Nya kembali.

11. QS Al Sajdah Ayat 11

“Malaikat maut yang diserahi untuk mencabut nyawamu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan”. (QS Al Sajdah : 11).  Allah sudah memiliki malaikat khusus yang bertugas sebagai pencabut nyawa, sekuat apapun seorang hamba berusaha tidak akan mampu menolak kematian jika malaikat tersebut sudah mendapat perintah dari Allah.

12. QS Az Zumar Ayat 30

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati pula”. (QS Az Zumar : 30). Jelas dari firman tersebut bahwa semua yang ada di dunia tidak kekal, semuaya akan merasakan kematian. 

13. QS An Nisa Ayat 78

Allah dan malaikat pencabut nyawa senantiasa mengawasi manusia dan malaikat akan siap menjemput hamba Allah yang sudah dikehendaki untuk diambil nyawa Nya dimanapun hamba tersebut berada meskipun berada di suatu tempat yang kokoh yang tidak bisa dijangkau oleh manusia, malaikat akan tetap mampu menggapai dan menghampirinya. “Dimana saja kamu berada kematian akan mendapatkan kamu kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. (QS An Nisa : 78).

14. QS Al Munafiqun Ayat 11

Jangan berharap Allah akan menunda kematian seseorang di waktu yang sudah ditentukan, seseorang yang sudah diambil nyawa nya tidak akan mendapat kesempatan lagi untuk memperbaiki diri, Allah akan memberi balasan pada nya seusai segala sesuatu yang dikerjakannya. “Dan sekali kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang waktu kemtiannya, dan Allah maha mengenal apa yang kamu kerjakan”. (QS Al Munafiqun : 11).

15. QS Al An’aam Ayat 2

“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah sesudah itu ditentukannya ajal mu, dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan untuk berbangkit yang ada pada sisi Nya”. (QS Al An’aam : 2). Penjelasan ini merupakan kisah tentang kehidupan manusia yang pada awalnya diciptakan dari tanah dan berbentuk bayi yang lemah, pada saat itu pula Allah telah menentukan kapan ajal akan menjemputnya. Kematian akan datang pada waktu yang telah ditentukan tersebut, pada masa setelah meninggal dunia nanti juga akan ada hari kebangkitan yaitu ketika semua makhluk di dunia ini dikumpulkan dan dihitung amal perbuatannya.

Demikian artikel mengenai 15 ayat Al Qur’an tentang kematian beserta penjelasannya, dari berbagai ayat tersebut tentu kita menjad lebih menyadari bahwa hidup hanya sementara, kita smeua akan mengalami kematian, apa yang telah kita perbuat selama umur yang telah berjalan ini, apa saja dosa dosa baik kepada Allah ataupun sesama makhluk Nya, tindakan dan ucapan apa saja yang selama ini yang menyakiti orang tua, orang lain, atau orang orang terdekat kita, itu semua lah yang nantinya akan dipertanyakan, semoga artikel ini membuat kita semua menyadari dan memperbaiki diri.

[AdSense-C]

Segala sesuatu yang ada di dunia ini hanyalah titipan semata, kita atau setiap orang di sekitar kita bisa kapan saja diambil oleh Nya dengan jalan kematian, karena itu lakukan lah yang terbaik selama masih diberi kesempatan hidup dengan beribadah kepada Nya dan menyayangi orang orang terdekat kita serta berbuat baik pada sesama.

Terima kasih semoga lebih mengingatkan kita semua akan kematian dan menjadi langkah untuk memperbaiki diri serta berbuat sebanyak banyak nya amal kebaikan untuk bekal kehidupan setelah kematian nanti. Sampai jumpa dan salam hangat dari penulis.

15 Ayat Tentang Pacaran Dalam Islam

Pacaran pada jaman sekarang menjadi sesuatu yang umum. Pacaran seolah menjadi sebuah ikatan bukti resmi nya hubungan dua insan manusia. Pada jaman sekarang pacaran menjadi hal yang biasa dan menjadi sesuatu yang dibangga bangga kan. Pacaran dilakukan oleh hampir semua kalangan, baik itu pelajar, mahasiswa, pekerja, bahkan orang yang sudah tak lagi muda juga menjalankannya. Orang yang tidak ber pacaran dengan niat menjaga diri dipandang sebagai sesuatu yang aneh, disebut terlalu tertutup atau bahkan disebut sebagai orang yang belum laku.

Rasulullah pernah bersabda yang diriwayatkan oleh salah seorang sahabat beliau,“Aku bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan yang cuma selintas atau tidak sengaja, kemudian beliau memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku”. (HR Muslim no 5770). Hadist tersebut bermakna bahwa tidak diperkenankan dengan sengaja memandaang kepada lawan jenis, memandang saja tidak dibolehkan dalam islam, sebab menimbulkan hawa nafsu dan mudah sekali tergoda oleh bisikan syetan.

Apalagi pacaran yang identik dengan berduaan, komunikasi intens, berpandangan mata, bahkan melakukan sentuhan seperti berpegangan tangan. tidak ada istilah pacaran dalam islam, sebab pacaran menjurus kepada maksiat dan zina. Pendekatan sebelum menikah dalam islam dilakukan dengan jalan Istikharah, berikut 15 ayat tentang pacaran beserta uraian singkat nya:

1. QS Al Isro’ Ayat 32

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. Pacaran bukan sebuah ikatan yang resmi, ikatan resmi hanya didapat dengan menikah. Pacaran mendekatkan pelakunya ke arah zina yang jelas dilarang oleh Allah dan bukan jalan yang baik dalam islam. Untuk itulah larangan berpacaran dalam islam dijelaskan dalam ayat ini guna menegaskan perilaku tidak baik tersebut.

2. QS An Nuur Ayat 30

Pacaran yang identik dengan berpandangan, berdekatan, dll tidak sesuai dengan perintah Allah kepada semua laki laki beriman untuk menjaga pandangan dan menjaga diri, hendaknya setiap lelaki mukmin mengamalkannya dengan tidak menjalankan pacaran. Salah satu cara menghindari pacaran bisa dengan menahan diri untuk tidak bertemu dengan lawan jenis hanya berduaan saja.

“Katakanlah kepada laki laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. 

3. QS An Nuur Ayat 31

Wanita yang dijunjung tinggi kehormatannya dalam islam juga hendaknya menjauhi pacaran dan mendekatkan diri hanya kepada suami nya kelak. Wanita baik yang senantiasa istiqomah menjaga diri akan mendapat jodoh yang baik pula. “Katakanlah kepada wanita wanita yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan kemaluannya”.

4. QS Al Ahzab Ayat 32

Salah satu hal yang umum dalam pacaran ialah saling bertutur kata lembut bahkan merayu pada lawan jenis yang belum halal baginya, hal ini tidak diperkenankan oleh Allah sebab dapat memancing hawa nafsu orang lain, “Maka janganlah kalian (istri istri Nabi) berbicara dengan suara yang lembut sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit di dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik”.

5. QS Al Mu’minun Ayat 5 – 6

Allah menjunjung tinggi dan menyukai mukmin laki laki dan perempuan yang mampu menjaga diri dengan menghindari pacaran sehingga terhindar dari perbuatan tercela. “Dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela”.

[AdSense-B]

6. QS Al Ahzab Ayat 35

Allah menjanjikan pahala besar untuk mukmin laki laki dan perempuan yang mampu menjaga dirinya, mampu mengalahkan hawa nafsu nya, dan mampu menjalankan perintah Allah dengan menjalankan hubungan yang halal melalui ikatan pernikahan bukan berpacaran. “Sungguh laki laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar”.

[AdSense-A]

7. QS Al Mu’minun Ayat 7

“Barang siapa mencari zina maka mereka itulah orang orang yang melampaui batas”. Pacaran sama saja dengan mencari zina sebab memiliki kedekatan dengan lawan jenis tanpa ada ikatan yang syah.

8. QS At Tahrim : 6

Ada sebagian orang tua yang merasa bangga jika anaknya berpacaran, bahkan merasa khawatir jika anaknya tidak berpacaran karena takut dianggap tidak laku. Dalam keluarga wajib menuntun dan mengingatkan dalam kebaikan, sebagai orang tua pula wajib melarang jika anaknya berbuat hal yang maksiat seperti pacaran, sebab salah satu kewajiban orang tua adalah memelihara keluarga nya dari api neraka. “Hai orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu yang penjaga nya malaikat malaikat yang kasar dan tidak mendurhakai perintah Allah”.

9. QS Al Baqarah Ayat 169

Ada sebuah hadist dari Rasulullah, “Tidaklah seorang lelaki berduaan dengan wanita kecuali yang ketiga adalah syetan”. (HR Tirmidzi). Pacaran menjadikan jalan mudah bagi syetan untuk memberi bisikan yang menjurus pada perbuatan maksiat dan keji. Tidak sedikit orang berpacaran yang akhirnya rugi karena berbuat zina. “Sesungguhnya syetan itu hanya menyuruh kamu berbuat maksiat dan keji”.

10. QS Al Ahzab Ayat 33

Perempuan yang berpacaran tentu sering berhias diri agar terlihat menarik di mata lelaki yang berpacaran dengan nya, hal itu tidak dibenarkan dalam islam, sebab wanita hanya boleh berhias diri dan tampil menarik di hadapan suami nya. “Dan janganlah kalian bertabaruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku seperti kebiasaan wanita jahiliyah). Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu dan membersihkan kamu sebersih bersihnya”

11. QS An’am Ayat 119

Jangan terpengaruh dengan orang lain yang membanggakan diri karena berpacaran, setiap mukmin hendaknya istiqomah dan tetap berada pada jalan Allah, tidak mengikuti sesuatu yang sesat yang melampaui batas seperti pacaran. “Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar benar hendak menyesatkan orang lain dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan”

12. QS Qasas Ayat 50

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsu mereka belaka dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun”. Orang yang menjalankan perbuatan seperti pacaran termasuk merugi sebab termasuk perbuatan sesat yang tidak ada dalam syariat islam, perbuatan tersebut hanya mengikuti kehidupan seperti jaman jahiliyah dahulu sebelum mendapat petunjuk dari Allah dan para Rasul Nya.

13. QS Al Maidah Ayat 77

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang orang terdahulu sebelum kedatangan Muhammad dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. Pada jaman dahulu wanita tidak mendapat kehormatan, wanita hanya digunakan sebagai penghias dan pelayan bagi pria, banyak wanita yang merugi dan menderita.

Allah telah menurunkan para Nabi dan Rasul Nya untuk memberi petunjuk kepada setiap umat tentang syariat islam agar mendapat jalan yang lurus. Seseorang yang tidak mengikuti petunjuk dari Allah dan Rasul Nya tentu akan merugi sebab segala syariat dan hukum islam pasti memberikan kebaikan dan banyak manfaatnya.

14. QS Al Furqon Ayat 43

Allah tidak menjamin ketenangan hidup orang orang yang tidak mengikuti syariat Nya. Pacaran adalah salah satu perbuatan yang tidak sesuai syariat islam, yang hanya bertujuan untuk mengikuti hawa nafsu dan membanggakan diri.“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan Nya, maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”

15. QS An Naziat Ayat 40 – 41

“Dan orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keingingan hawa nafsu nya maka sesungguhnya surga lah tempat tinggal nya”. Allah memberi jaminan surga untuk orang mukmin baik laki laki ataupun perempuan yang mengikuti syariat Nya dengan niat ibadah dan tidak mengikuti hawa nafsu nya karena Allah. Orang tersebut akan mendapat jalan lurus dan jauh dari godaan syetan sehingga jauh pula dari berbagai bentuk perbuatan maksiat.

Pacaran bukan jalan dalam islam untuk meresmikan sebuah hubungan, pacaran justru terdapat ketidak pastian di dalam nya, hubungan yang serius adalah hubungan yang dibuktikan denga pernikahan, perempuan dan laki laki yang serius juga mereka yang menjauhi pacaran untuk menjaga diri dan kehormatannya, serta mengikti syariat Allah. Orang yang baik dan suci tentu kelak akan mendapat jodoh yang baik untuknya pula.

[AdSense-C]

Demikian artikel 15 ayat Al Qur’an tentang pacaran. Jelas dari ayat ayat di atas bahwa pacaran adalah perbuatan yang tidak ada dalam hukum islam, pacaran termasuk perbuatan tercela dan menjurus ke arah maksiat serta zina. Jelas bahwa berpandangan, berduaan, bersentuhan, dll yang menjadi hal biasa dalam pacaran hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang telah memiliki hubungan yang halal berdasarkan syariat islam yaitu dengan jalan pernikahan.

Sebagai umat islam hendaknya tidak mengikuti kebiasaan tersebut, wajib bagi setiap mukmin untuk mempertahankan jati diri dan menjaga diri serta kehormatan dengan melakukan pergaulan yang dibolehkan oleh syariat islam. Setiap hukum islam yang diciptakan pastilah lebih banyak manfaat dan kebaikan di dalam nya. Semoga bisa bermanfaat dan menjadi perbaikan diri terima kasih.

15 Ayat Tentang Pergaulan Dalam Islam

Pergaulan adalah jalinan atau hubungan sosial antara seseorang dengan orang lain yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama sehingga satu sama lain saling mempengaruhi. Merupakan salah satu interaksi individu dalam lingkungan sosialnya. Pergaulan dapat berwujud sebagai hikmah silaturahmi dalam islam, persahabatan, juga perbuatan saling membantu atau tolong menolong. Pergaulan diperbolehkan dalam islam, Allah tidak melarang hamba hamba Nya untuk saling berinteraksi. Dalam islam pergaulan sudah diatur dengan etika dan berbagai syariat nya.

Pergaulan dalam islam harus sesuatu yang berniat positif, disertai dengan tetap menjaga diri dan kehormatan, serta memberikan manfaat dari pergaulan yang dilakukan tersebut, bukan bertujuan untuk sesuatu yang maksiat seperti memusuhi, pertengkaran, dll yang bertujuan menyakiti orang lain. Untuk lebih memahami pergaulan dalam sumber syariat islam, mari kita simak 15 ayat Al Qur’an tentang pergaulan dalam islam.

1. Allah Menciptakan Manusia Beraneka Ragam

Allah dengan kuasa Nya menciptakan manusia beraneka ragam, tidak ada dua orang yang mirip dalam segi apapun walaupun merupakan kakak adik atau saudara kembar. Allah menciptakan setiap hamba dengan berbagai keunikannya dengan tujuan untuk saling mengenal, saling toleransi dan menghargai, serta saling berinteraksi secara islami.

  • QS Al Hujarat Ayat 13

“Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa bangsa dan bersuku suku supaya kamu saling kenal mengenal”.

2. Pergaulan Secara Syariat Islam

Dalam islam, diperbolehkan interaksi dengan cara islami sesuai syariat yang telah diatur dalam Al Qur’an dan Hadist, interaksi hendaknya sesuatu yang membawa kepada kebaikan dan saling mengingatkan agar tidak terjerumus pada kemungkaran.

  • QS Ali Imran Ayat 104

“Hendaklah ada diantara kami segolongan yang meneru kepada kebaikan dan melarang dari perbuatan munkar. Itulah orang yang paling bahagia”

 4Pergaulan dengan Orang Orang yang Sholih

Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa dirikita adalah teman kita, bagaimana kebiasaan atau tingkah laku seseorang dapat dilihat dari teman teman pergaulannya, sebab itulah dalam islam dianjurkan untuk bergaul dengan orang orang yang sholeh sehingga kita nantinya dapat mencontoh teladan kebaikannya, dapat mengambil ilmu darinya, serta dapat mencegah kita dari pergaulan yang tidak sehat (tidak sesuai syariat islam) sehingga pergaulan tersebut berdampak positif dan menajdi sarana kita untuk memperbaiki diri. Berikut firman firman Allah tentang hal tersebut :

  • QS Ali Imran Ayat 101

“Bagaimana mungkin kalian menjadi kafir sedangkan ayat ayat Allah dibacakan pada kalian dan Rasul Nya pun berada di tengah tengah kalian?”. Tindakan yang paling mudah dicontoh adalah kebiasaan dari tindakan dan tutur kata, jika kita bergaul dengan orang orang yang bertindak dan bertutur kata baik secara langsung kita akan mencontoh dan hal tersebut ikut menjadi kebiasaan baik diri kita pula.

[AdSense-B]

  • QS At Taubah Ayat 119

“Dan hendaklah kamu bersama orang orang yang benar (jujur)”.

  • QS Asy Syu’ara Ayat 99 – 101

“Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang orang yang berdosa. Maka kami tidak memberi syafaat seorangpun dan tidak pula mempunyai teman yang akrab”. Jika ada seseorang yang sering mengajak kemaksiatan, ada baiknya menjauh dari orang tersebut sebab manusia bisa saja dalam kondisi iman yang lemah dan mudah dipengaruhi oleh orang lain atau godaan syetan.

[AdSense-A]

  • QS Ali Imran Ayat 118

“Hai orang orang yang beriman janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang orang di luar kalangan mu karena mereka tidak henti hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu”.

5. Pergaulan untuk Silaturahmi dan Menjaga Kedamaian

Pergaulan dalam islam ditujukan untuk hal yang positif, untuk menjalin persaudaraan dengan bersilaturahmi dan menjaga kedamaian dengan sesama. Silaturahmi yang dilakukan dilakukan dengan niat ibadah dan saling tolong menolong dalam kebaikan. hukum tolong menolong dalam islam memang sangat dianjurkan.

  • QS An Nisa Ayat 1

Allah memerintahkan hamba Nya untuk bersilaturahmi dengan jalan pergaulan yang sesuai syariat islam, hal itu merupakan salah satu perbuatan yang disukai Allah, dengan silaturahmi, akan memperbanyak saudara dan melapangkan rejeki. “Dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.

  • QS An Nahl Ayat 90

Selain pergaulan dengan niat silaturahmi, tolong menolong dalam kebaikan juga dianjurkan dalam islam, hal itu dapat memberikan kebahagiaan dan bermanfat untuk orang lain. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan pada orang lain dan kerabat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, serta permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.

6. Pergaulan dengan Niat Menyebarkan Ilmu

Rasulullah pernah bersabda, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR Bukhari no 3461). Hadist tersebut merupakan salah satu dari perintan Rasulullah untuk menyampaikan sebuah ilmu (ayat Al Qur’an dan Hadist) walaupun hanya satu ayat atau satu kata. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pergaulan yang sehat dengan niat ibadahh karena Allah. Sesedikit ilmu yang disampaikan tetap akan menjadi amal jariyah bagi orang yang melakukannya.

  • QS An Nahl Ayat 44

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya”. Dalam firman tersebut contohnya ialah pergaulan dalam sebuah majelis atau pengajian yang membahas tentang syariat agama. Hal yang demikian selain menambah saudara dan ilmu, juga mendapat pahala dari Allah

  • QS Al Furqon Ayat 57

“Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan mengharapkan kepatuhan orang orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya”. Dalam menyampaikan ilmu tak harus menerima upah atau imbalan, memberikan ilmu yang bermanfaat dijamin pahala kebaikannya oleh Allah.

7. Pergaulan Bukan dengan Niat Zina

Contohnya yang demikian ialah pergaulan yang tidak ada batasan antar lawan jenis, misalnya pacaran, berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya, atau bepergian bersama dengan yang bukan mahram nya tanpa alasan sesuai syariat islam. Hal itu tentu tidak diperbolehkan dalam islam, sebab termasuk perbuatan yang menjurus kepada zina, sedangkan pergaulan dalam islam boleh dilakukan dengan syarat bertujuan untuk kebaikan dan tetap enjaga diri serta kehormatan.

  • QS An Nisa Ayat 25

Wanita yang baik menurut islam ialah yang baik dalam pergaulannya, mampu menjaga diri dan tidak berbuat sesuatu yang hanya bertujuan untuk hawa nafsu duniawi semata. “Sedang mereka pun wanita wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan pula wanita wanita yang mengambil laki laki hanya sebagai teman mainnya”.

  • QS Al Mu’minun Ayat 7

Pergaulan yang tidak sehat seperti hal nya pacaran tentu tidak diijinkan dalam islam, sebab termasuk perbuatan zina yang melampaui batas dan tidak di ridhoi Allah. “Barang siapa mencari zina maka mereka itulah orang orang yang melampaui batas”.

8. Menjaga Diri dalam Pergaulan

Di jaman yang sangat terbuka seperti saat ini dimana berbagai contoh baik dan buruk mudah sekali didapat di media baik televisi maupun internet, sebagai umat mukmin wajib menghindari segala sesuatu yang tidak sesuai syariat islam, iman adalah yang menjadi pondasi nya, dengan memiliki iman yang kuat, seseorang akan mampu membedakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Hendaknya dalam pergaulan tetap disertai dengan rasa istiqomah untuk menjaga diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat.

  • QS An Nuur Ayat 31 – 32

“Katakanlah kepada laki laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita wanita yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan kemaluannya”. Penjelasan dari firman Allah tersebut ialah perintah untuk laki laki dan perempuan mukmin agar senantiasa menjaga diri dan memelihara kehormatannya dengan jalan pergaulan yang sesuai dengan syariat islam.

9. Pergaulan dengan Tetap Teguh pada Syariat Islam

Tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup di lingkungan yang beraneka ragam, berbagai agama, suku, dan status sosial. Sebagai umat mukmin kita wajib berpegang teguh pada syariat islam dalam pergaulan kita, boleh saja memiliki tetap bebrbagai agama dan suku, tetap syariat islam tetap yang utama, dalam contoh kehidupan sehari hari ialah misalnya kita berteman dengan orang yang beragama lain yang mereka memiliki kebiasaan merayakan hari tertentu seperti hari Natal, hari Valentine, dll yang tidak ada dengan islam maka kita tidak seharusnya untuk ikut merayakan sebab tidak ada dalam syariat agama islam.

  • QS Asy Syura Ayat 15

“Bagi kami amal amal kami dan bagi kamu amal amal kamu”. Tetap berteman dengan semua orang di lingkungan kita tanpa terpengaruh hal hal yang di luar syariat islam. Amal kita lah yang akan menjadi bekal di akherat nanti dan biar setiap hamba Allah bertaanggung jawab atas amalnya masing masing.

[AdSense-C]

  • QS Al Kafirun 4 – 6

“Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku lah agamaku”. Tiap agama tentu memiliki kepercayaan masing masing terhadap sesuatu yang mereka sembah. Tak perlu saling menjauhi, menghina, atau memusuhi, tetap lakukan pergaulan dengan lingkungan sekitar dan kuatkan diri dengan rasa iman.

Demikian artikel mengenai 15 ayat tentang pergaulan islam, semoga dapat bermanfaat untuk kehidupan sehari hari. Terima kasih.

Hukum Mencium Tangan Dalam Islam

Mencium tangan adalah salah satu budaya di Indonesia. Sering kita melihat seorang anak mencium tangan orang tua, kakek nenek, saudara yang lebih tua, atau gurunya. Juga tradisi istri yang mencium tangan suaminya di kala hendak bepergian atau selesai shalat berjamaah berdua.

Di Indonesia, mencium tangan adalah wujud tindakan yang mencerminkan kesopanan, hormat, kekaguman, juga kesetiaan atau ketaatan. Bagi orang yang lebih tua, mencium tangan dapat diartikan wujud ungkapan makna cinta dalam islam atau memohon doa, yang dalam istilah jawa sering disebut dengan kata salim atau sungkem.

Lalu bagaimana hukum mencium tangan dalam islam? Tentu ada syariat untuk mengatur kebiasaan ini agar tidak menjadi urusan yang merugikan orang lain, berikut hukum mencium tangan dalam islam menurut firman Allah dalam Al Qur’an dan dari riwayat berbagai hadist, simak penjelasan lengkapnya

Budaya Mencium Tangan Pada Masa Rasulullah

Hadist hadist berikut bercerita tentang sahabat Rasulullah dan orang orang terdahulu yang mencium tangan beliau,

  • “Dari Jabir Radhiallahu anhu bahwa Umar bergegas menuju Rasulullah lalu mencium tangan beliau”. (HR Ahmad).
  • Dari Sofwan bin Assal bahwa ada orang yahudi bertanya kepada Rasulullah tentang suatu ayat, setelah dijawanoleh Rasulullah, mereka mencium tangan dan kaki Rasulullah dan berkata, kami bersaksi bahwa engkau adalah Nabi”. (HR Tirmidzi).
  • “Dari Usamah bin Syarik, kami bertemu Rasulullah lalu kami mencium tangan beliau”. (HR Ibnul Muqri).
  • “Dari Aisyah (Istri Rasulullah) Jika Fatimah datang ke rumah Rasulullah, beliau menyambutnya mencium tangannya, dan jika hendak pulang Fatimah mencium tangan Rasulullah”. (HR Abu Dawud).

Dari berbagai hadist di atas dapat diketahui bahwa tradisi mencium tangan sudah ada sejak jaman dahulu dan diperbolehkan oleh Rasulullah sebagai wujud penghormatan atau kasih sayang.

Mencium Tangan Untuk Orang yang Dihormati

Rasulullah adalah Nabi yang mulia yang wajib dihormati dan diagungkan, tetapi mencium tangan bukan hanya kepada Rasulullah saja, tetapi juga kepada orang tua, guru, atau orang yang disegani sebagai bentuk kesopanan dan penghormatan. Hal ini juga diterapkan sejak jaman Rasulullah, berikut hadist hadist yang menceritakan hal tersebut :

  • “Dari Ammar bin Abi Ammar pernah Zaid bin Tsabit mengatakan kepada Ibnu Abbas, berikanlah tanganmu, maka diberikanlah tangan Ibnu Abbas lalu Zaid menciumnya”. (HR Ibnu Saad).
  • “Dari Musa bin Dawud bahwa dahulu aku pernah bersama dengan Sufyan bin Uyainah kemudian datang Husain Al Ju’fi lalu diciumlah tangan Husain oleh Sufyan”. (Taqbilul yad).

[AdSense-B]

Hukum Mencium Tangan dalam Islam

Dari berbagai hadist di atas, para ulama sepakat bahwa mencium tangan hukumnya ialah mubah (boleh) dalam kondisi tertentu atau untuk orang orang tertentu. Islam mengatur hukum pergaulan antar umat dengan sebaik mungkin, tidak sembarang orang bisa mencium tangan satu sama lain, ada syariat yang mengaturnya yaitu sebagai berikut :

1. Tidak Untuk Tujuan Duniawi

Tidak mengapa mencium tangan seorang imam, namun untuk tujuan keduniaan tidak diperbolehkan”. (Kitabul Wara oleh Sufyan At Stauri). Mencium tangan wajib dilakukan dengan niat berlaku baik atau menghormati, bukan untuk tujuan duniawi misalnya untuk mencari keuntungan atau dengan pamrih, untuk mengharap imbalan, atau karena syahwat).

[AdSense-A]

Jika mencium tangan dilakukan dengan niat tersebut maka hukumnya tidak diperbolehkan sebab segala urusan yang diawali dengan niat yang buruk akan mengarah kepada hal yang buruk pula. Mencium tangan karena syahwat hanya diperbolehkan untuk pasangan suami istri.

Hal ini diperkuat dengan hadist berikut “Adapun mencium tangan karena keshalihannya, keilmuan, kemuliaan, atau jasanya yang berkaitan dengan keagamaan maka hukumnya mandub (disukai). Namun jika untuk jabatan dan lainnya maka sangat dibendi dan hukumnya haram”. (Raudhatu Thalibin).

2. Tidak Perlu Menundukkan Badan atau Berpelukan

Mencium tangan cukup dilakukan dengan posisi tegap, tak perlu membungkuk atau menunduk (dalam hal ini membungkuk hingga menekuk lutut seperti menyembah), sebab yang pantas dihormati dan diagungkan hingga menundukkan badan hanyalah kepada Allah SWT saja, tidak kepada sesama manusia. Berikut hadist yang menjelaskan perihal tersebut :

  • Dari Anas B. Malik “Wahai Rasulullah adakah sebagian kami boleh menundukkan badan kepada sebagian yang lain yang ditemui? Rasulullah menjawab, tidak boleh. Adalah kami boleh saling berpelukan jika bertemu? Rasulullah menjawab, tidak boleh. Yang benar hendaklah kalian saling bersalaman”. (Ibnu Majah no. 3962).
  • Imam Al Qurthubi “Tidak boleh bersalaman diiringi dengan menundukkan badan dan mencium tangan. Menundukkan badan dengan maksud kerendahan hati hanya boleh ditujukan kepada Allah”. (Tafsir Al Qurthubi hal 266).
  • Berpelukan boleh jika dalam keadaan pulang dari musafir atau setelah lama tidak berjumpa. Tetapi jika dijadikan kebiasaan tidak dibolehkan (makruh).“Bahwasanya para sahabat Rasulullah apabila bertemu mereka saling bersalaman dan apabila pulang dari safar mereka saling berpelukan”. (Majma’ Az Zwa’id hal 75).

3. Tidak Menjadikan Kesombongan

Mencium tangan tidak boleh dijadikan kebiasaan, misalnya seorang guru menjadi sering menjulurkan tangannya untuk dicium atau agar disalami oleh muridnya sebab pada jaman Rasulullah, para sahabat juga jarang mencium tangan beliau kecuali pada saat saat tertentu seperti dalam majelis atau setelah mengaji dan mentafsirkan ayat Al Qur’an.

Kebiasan menjulurkan tangan untuk dicium dapat menyebabkan seseorang merasa dirinya hebat dan alim sehingga mudah timbul penyakit hati berupa kesombongan dalam islam. sedang kita ketahui bahwa di semesta alam yang berhak sombong adalah Allah yang Maha Kuasa seperti dalam firman Nya berikut, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang sombong”. (QS An Nahl : 23).

4. Dianjurkan Bagi Suami Istri

Hukum mencium tangan oleh istri kepada suami berbeda, selain wujud kasih sayang dan penghormatan, istri yang mencium tangan suami juga mendapatkan pahala besar dari Allah sebab termasuk wujud ibadah sebagai ciri ciri istri shalehah.

Pasangan suami istri yang mencium tangan satu sama lain diijinkan apapun niat baiknya walaupun dilakukan dengan niat merayu atau untuk menimbulkan syahwat, tidak ada hukum yang melarang, sebab pasangan suami istri memiliki hak sepenuhnya dalam diri satu sama lain.

Simak hadist hadist berikut yang menjelaskan hal tersebut :

  • Tidak mengapa seorang wanita mencium tangan suaminya dan itu termasuk pergaulan yang baik. Dan ia diberikan pahala atasnya baik faktor yang mendorong untuk melakukannya karena faktor ketaatan maupun faktor syahwat, dan hanya Allah saja yang mengetahui”. (Fatwa Islam no.28906).
  • Seandainya manusia diperbolehkan bersujud kepada manusia lainnya niscaya aku akan memerintahkan wanita untuk bersujud kepada suaminya dikarenakan besarnya hak suami pada istri”. (HR Ahmad).

Dari hadist tersebut dapat disimpulkan bahwa pasangan suami istri halal hukumnya untuk mencium tangan satu sama lain sebab dapat menguatkan ikatan cinta dan rasa saling mengasihi.

5. Tidak Boleh dengan Lawan Jenis yang Bukan Mahram

Mencium tangan untuk orang yang dihormati memang diperbolehkan dalam islam, tetapi tidak semuanya, ada batasan yang mengatur agar tidak menjurus pada perbuatan maksiat atau zina. Lelaki dan wanita yang belum memiliki hubungan yang halal tidak boleh berpandangan, berdekatan, bersentuhan kulit, apalagi mencium tangan.

Hal ini penting untuk diperhatikan dan diterapkan sebab betapa hampir semua umat muslim baik lelaki atau wanita mengetahui hal ini tetapi masih saja bersentuhan dengan lawan jenis padahal mengetahui bahwa hal itu adalah perbuatan dosa yang tidak disukai Allah.

Misalnya ialah kebiasaan bersalaman pada teman atau rekan bisnis atau atasan yang lawan jenis, tidak diperbolehkan! Cukup menguncupkan tangan dan tidak perlu bersentuhan kulit, sudah cukup sebagai bentuk kesopanan terhadap orang lain.

Rasulullah sepanjang hidup beliau tidak pernah sama sekali bersentuhan dengan wanita yang bukan mahram nya, simak buktinya dari hadist berikut,

  • “Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan wanita”. (HR Malik, Tirmizi dan Nasa’i).
  • Dari Aisyah (Istri Rasulullah) “Demi Allah beliau (Rasulullah) sama sekali tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun yang bukan mahram beliau”. (HR Muslim no. 1866).

Jika aturan ini dilanggar, mencium tangan yang anda kira sebuah wujud kesopanan dan mendapat pahala justru sebaliknya, yaitu menjadikan dosa bagi anda. Jangan membiasakan atau menganggap sepele larangan dari Allah dan Rasul nya.

Hikmah Mencium Tangan dalam Islam

“Tidaklah dua orang muslin yang bertemu kemudian saling bersalaman melainkan dosa keduanya akan diampunkan oleh Allah sebelum ia berpisah”. (Musnad Ahmad no. 18547). Hadist di atas menjelaskan bahwa dua orang sabahat yang bertemu kemudian bersalaman akan mendapat ampunan dari dosa hingga mereka berpisah. Hal itu tentu berlaku sesuai syariat yang disebut pada poin sebelumnya, yaitu dengan niat sesuai syariat islam, tidak dengan lawan jenis, dan lainnya seperti yang telah dijelaskan.

[AdSense-C]

Hal ini juga berlaku untuk mencium tangan yang dilakukan sesuai syariat islam, sebab mencium tangan secara langsung juga melakukan salaman atau berjabat tangan.

Demikian penjelasan mengenai hukum mencium tangan dalam islam, sekarang anda sudah memahami bukan, kepada siapa saja dan bagaimana urusan yang diperbolehkan untuk mencium tangan.

Jika sebelumnya anda terbiasa mencium tangan orang yang bukan mahram misalnya lawan jenis yang belum mahram, hentikan tindakan dosa tersebut mulai sekarang agar niat anda tidak berujung pada amal keburukan. Sekian semoga bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari. Terima kasih.