17 Ciri-ciri Wanita Baik Menurut Islam

Menjadi wanita baik adalah hal yang harus diutamakan. Terutama di jaman sekarang ini, saat pergaulan bebas telah merajalela. Kita harus bisa membentangi diri dengan iman dan takwa. Dengan begitu kita terjerumus pada jalan yang sesat.  Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keadaannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yag banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (QS. Al-Ahzab: 35).

Berikut adalah ciri-ciri wanita baik menurut islam:

  1. Beriman kepada Allah

Ciri-ciri wanita baik menurut islam yang baik adalah wanita yang mengutamakan iman. Dalam artian meyakini rukun iman dan mengamalkan rukun islam. Apabila agama seseorang baik maka insyaAllah akhlaknya juga baik. Selain itu, manfaat beriman kepada Allah SWT juga bisa membuat hati jadi tenang.

Allah Ta’ala berfirman: “Akan tetapi Allah itulah yang membuat iman terasa menyenangkan bagi kalian, membuatnya tampak indah di dalam hati kalian, dan yang membuat kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang lurus. Sebuah keutamaan dan kenikmatan yang datang dari Allah, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. al-Hujurat: 7-8)

  1. Bertaqwa

Cara menjadi muslimah yang baik selanjutnya adalah wanita yang bertaqwa. Menjalankan segala perintah Allah, mengerjakan ibadah sunnah dan meninggalkan kemungkaran.

Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

  1. Mampu Menjaga Kehormatan Dirinya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan: “Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad).

  1. Taat dan Menyenangkan Suami

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. (HR. Abu Dawud).

  1. Berakhlak Baik

Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah”. (HR. Muslim)

Rasulallah SAW besabda: yang artinya: “Sesungguhnya yang paling aku cintai dan paling mendekatkanku pada hari kiamat diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya. Sesungguhnya yang paling aku benci dan yang paling menjauhkanku pada hari kiamat diantara kalian adalah yang paling jelek akhlaknya, yang suka berteriak-teriak, orang yang sombong dan orang yang melebarkan mulutnya.”

[AdSense-B]

  1. Mampu Menjaga Syahwat

Tips menjadi wanita shalehah  juga dengan menjaga syahwat atau nafsu. Tidak sering memandang atau berinteraksi dengan lawan jenis dan selalu menundukkan pandangan.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nur: 31)

  1. Menutup Aurat dengan Benar

Cara Mempercantik Diri Menurut Islam bukan dengan berpakaian seksi ataupun mengenakan barang-barang branded. Tetapi lewat berpakaian secara islami. Yakni menutup aurat secara syar’i sehingga terhindar dari hal-hal yang buruk.

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan wanita-wanita (keluarga) orang-orang mukmin, agar mereka mengulurkan atas diri mereka (ke seluruh tubuh mereka) jilbab mereka. Hal itu menjadikan mereka lebih mudah dikenal (sebagai para wanita muslimah yang terhormat dan merdeka) sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah senantiasa Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Ahzab ayat: 59)

  1. Menjaga Silaturahmi

Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa ayat 1)

“Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari)

  1. Tidak Dendam dan Mudah Memaafkan

“Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memualiakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab; tentu. Rasul pun bersabda; Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu.” (HR. Thabrani)

  1. Memperbanyak Amal Ibadah

“Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An-Nahl: 97).

[AdSense-A]

  1. Tidak Bersikap Dengki

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An Nisaa’ 32).

  1. Betah Tinggal di Dalam Rumah

“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).

  1. Memiliki Sikap Malu

“Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Dan rasa malu adalah sebagian dari iman.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Mas’ud Al-Badri r.a berkata bahwa Rasul bersabda: “Sesungguhnya diantara kata-kata kenabian terdahulu yang masih teringat oleh masyarakat adalah: ‘Jika kamu sudah tidak memiliki rasa malu maka kamu akan berbuat semaumu’.” (HR. Al-Bukhari)

  1. Berbakti Pada Orang Tua

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’:23)

  1. Menuntut Ilmu

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu berlapang-lapanglah dalam majlis, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujadilah : 11)

  1. Menjauhi Zina

Zina dalam islam merupakan dosa besar sehingga harus dijauhi. Apabila kita melakukannya maka sebaiknya berusaha menerapkan cara menghapus doza zina dengan melakukan shalat taubat serta amalan penghapus dosa zina lainnya.

Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Qs. Al-Isra:32)

Diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub, bahwasahnya Rasulullah SAW didatangi oleh malaikat Jibril dan Mikail. Beliau bercerita, “Kami berangkat pergi sehingga sampai di suatu tempat semisal ‘tannur’ bagian atasnya sempit sedangkan bagian bawahnya luas. Dari situ terdengar suara gaduh dan ribut-ribut. Kami menengoknya, ternyata di situ banyak laki-laki dan perempuan telanjang. Jika mereka dijilat api yang ada di bawahnya mereka melolong oleh panasnya yang dahsyat. Aku bertanya, ‘Wahai Jibril, siapakah mereka?’ Jibril menjawab, ‘Mereka adalah para pezina perempuan dan laki-laki. Itulah adzab bagi mereka sampai tibanya hari kiamat.” (HR.Al-Bukhari, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani, dan Ahmad).

  1. Menghindari Ghibah dan Fitnah

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka ‘memakan daging’ saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a bahwasahnya Rasulullah saw pernah berjalan melewati 2 (dua) kuburan, kemudian beliau bersabda : “Sesungguhnya 2 (dua) orang ahli kubur itu disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Ya, benar. Sesungguhnya dosa itu adalah besar. Salah seorang di antara keduanya adalah berjalan di muka bumi dengan menyebarkan fitnah (mengumpat). Sedang salah seorang yang lain tidak bertirai ketika kencing”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kesimpulannya ciri-ciri wanita baik menurut islam adalah wanita yang memiliki akhlak baik, menjauhi perkara-perkara yang tidak ada gunanya ataupun sesuatu yang haram, wanita yang tidak mengumbar aurat dan sanggup menjaga kehormatannya. Semoga kita termasuk dalam golongan yang demikian. Amin ya Rabbal Alamin.

17 Amalan Nabi Daud yang Menghasilkan Pahala

Nabi adalah manusia yang diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyampaikan wahyu dari Allah. Sebenarnya, terdapat perbedaan antara istilah Nabi dan Rasul. Perbedaan yang paling mendasar adalah jika Nabi boleh menyampaikan wahyu yang diterimanya tetapi dia tidak memiliki kewajiban atas suatu umat atau wilayah tertentu. Sementara itu, Rasul memiliki kewajiban untuk menyampaikan wahyu kepada umat atau wilayah tertentu.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh At Turmuzy, dari Abi Zar bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika beliau ditanya tentang jumlah nabi, “(Jumlah para nabi itu) adalah seratus dua puluh empat ribu (124 ribu) nabi.” Kemudian beliau ditanya lagi jumlah rasul di antara nabi tersebut dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tiga ratus dua belas (312)”. (Baca juga: Nama-Nama Nabi Dan Rasul)

Dari semua jumlah nabi dan rasul itu, ada 25 nabi dan rasul yang dijelaskan di al Quran dan wajib kita imani. Salah satu nabi dan rasul itu adalah Nabi Daud. Nabi Daud adalah salah satu nabi yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu dan memberi peringatan pada kaum Bani Israil. Sebagai nabi dan rasul Allah, Nabi Daud dikaruniai beberapa mukjizat oleh Allah. Beberapa mukjizat yang diterima oleh Nabi Daud adalah suara yang merdu, kemampuan untuk melenturkan besi serta bisa membuat gunung-gunung bersujud. (Baca juga: Macam-Macam Mukjizat Nabi)

Sebagai seorang nabi dan rasul, tentu banyak amalan dan perilaku Nabi Daud yang bisa kita contoh dan ambil hikmahnya. Maka, berikut ini akan kita bahas 17 amalan Nabi Daud yang bisa kita coba amalkan di kehidupan sehari-hari.

  1. Doa untuk Suara yang merdu

Doa ini adalah doa yang paling banyak diamalkan oleh para pembaca al Quran. Banyak orang yang ingin memiliki suara yang merdu, seperti suara Nabi Daud. Berikut ini adalah doa yang bisa dibaca, “Allaahumma inni as-aluka shautan khofiifan hasanan qawiyyan ka shauti nabiyyina daawuda ‘alaihi salaam”. Doa ini memiliki arti, “Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu suara yang ringan, bagus, dan kuat seperti suara Nabi Daud ‘alaihi salaam”.

  1. Doa untuk Melunakkan Hati yang Keras

Satu mukjizat lain yang dimiliki oleh Nabi Daud adalah kemampuannya melunakkan besi yang keras dengan jarinya. Maka, hikmah dari mukjizat ini adalah agar kita mampu memiliki kekuatan seperti itu. Bukan untuk melunakkan besi, namun diharapkan dengan doa ini kita bisa melembutkan hati seseorang yang keras. (Baca juga: Obat Hati Dalam Islam)

Bacalah, “Allahumma layyin li qalbahu, laiyyinta li daawudal hadiid”. Arti dari doa ini adalah “Ya Allah, lembutkanlah hatinya sebagaimana Engkau melembutkan Daud (akan) besi”. Anda bisa membaca doa ini saat harus menghadapi seseorang yang berhati keras. Mohonlah kepada Allah, Sang Pemilik Hati dan Maha Membolak-balikkan hati manusia.

  1. Doa agar Cepat Mendapatkan Jodoh

Doa agar cepat mendapatkan jodoh ini merupakan doa yang paling sering dicari. Doa ini cukup mustajab dan bisa Anda amalkan untuk mempermudah dan mendekatkan jodoh. Lafal doa ini, seperti yang tercantum dalam hadis riwayat Tirmidzi, adalah “Allahumma inni as-aluka hubbaka wa Hubba man yuhibbuka, wa ‘amalalladzii yuballighunii hubbaka. Allahummaj’al hubbaka ahabba ilayya min nafsii wa ahlii wa minal maa’il baarid”. Arti dari doa ini sendiri adalah “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu cinta-Mu, dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan aku memohon kepada-Mu, perbuatan yang dapat mengantarkan aku kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih aku cintai dari pada diriku, keluargaku, serta air dingin”.

Baca juga:

Doa ini bisa Anda baca setiap selesai sholat wajib dan sholat hajat. Membaca doa ini setelah sholat hajat akan lebih mudah diijabah oleh Allah. Namun, jangan lupa untuk menjaga keikhlasan dan kesabaran, serta tetap tawakkal kepada Allah hingga Allah menilai kita telap siap bertemu dengan jodoh yang terbaik menurut-Nya.

[AdSense-B]

  1. Puasa Shaiam ad-Dahr

Puasa ini adalah puasa yang selalu diamalkan oleh Nabi Daud. Puasa Nabi Daud ini adalah puasa yang paling disukai oleh Allah. Puasa Nabi Daud adalah berselang-seling, yaitu sehari puasa dan hari berikutnya beliau berbuka. Puasa ini adalah cara Nabi Daud untuk selalu mensyukuri segala nikmat yang diterimanya dari Allah. (Baca juga: Keutamaan Puasa Daud)

  1. Selalu bertasbih dan memohon cinta Allah

Nabi Daud juga selalu bertasbih sepanjang hayatnya sebagai bentuk kecintaannya kepada Allah. Bahkan, berdasarkan hadis, Nabi Daud sangat mencintai Allah melebihi cinta beliau kepada keluarga, harta dan dirinya sendiri. Beliau juga selalu memohon cinta Allah, dengan berdoa “Allahumma inni as-aluka hubbaka wa hubba man yuhibuka wal amalalladzi yuballighuni hubbaka, allahumma ‘al hubbaka ahabba ilayya min nafsi wa ahli wa minal ma’il barid”.

Baca juga:

Doa di atas memiliki arti, “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu cinta-Mu serta cinta orang-orang yang mencintai-Mu serta aku mohon kepada-Mu perbuatan yang dapat mengantarku pada cinta-Mu. Ya Allah, jadikan cinta-Mu lebih kucintai dibandingkan diriku ini, keluargaku, serta air dingin di padang yang tandus”.

  1. Sholat malam

Berdasarkan hadis Bukhari no 1131, dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud, sedangkan shalat yang paling disukai Allah adalah juga shalat Daud alaihissalam. Beliau tidur hingga pertengahan malam, kemudian bangun (untuk shalat lail) selama sepertiga malam, lalu kembali tidur pada seperenamnya (sisa malam). Dan beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari”. (Baca juga: Cara Melaksanakan Shalat Tahajud)

  1. Tidak lengah terhadap 4 waktu

Nabi Daud dan keluarganya tidak pernah lengah terhadap 4 waktu, yaitu waktu untuk bermunajat, bermuhasabah, tabayun, dan menyenangkan diri sendiri dengan sesuatu yang halal. Maka, kita pun jangan pernah lengah untuk melakukan 4 hal di atas, untuk selalu menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari. (Baca juga: Muhasabah Hati di Malam Hari)

[AdSense-A]

  1. Selalu berbuat dan beramal baik

Ada banyak pesan yang disampaikan Nabi Daud kepada umatnya, salah satunya berbunyi “Hai penabur kejahatan, kalian akan menuai duri-durinya”. Dari pesan tersebut, beliau mengajarkan bahwa manusia harus selalu berbuat baik, karena apapun yang kita lakukan akan kita tuai juga akibatnya.

  1. Terus belajar untuk memperkaya ilmu

Nabi Daud pernah membuat sebuah perumpamaan, yaitu “Perumpamaan seorang penceramah yang bodoh dalam menyeru kaum adalah seperti penyanyi yang menyanyi di dekat kepala seorang jenazah”. Dari perumpamaan tersebut, maka kita dianjurkan untuk memperkaya ilmu yang kita miliki sebelum kita mengajak orang lain mempelajari ilmu tersebut. Cara ini tentu lebih bermanfaat dibandingkan sekedar menyeru sebuah ilmu tanpa kita mengetahuinya secara lebih matang. (Baca juga: Hukum Menuntut Ilmu)

  1. Selalu memegang teguh hidayah

Seperti yang kita ketahui, hidayah tidak bisa didapatkan oleh semua orang. Bahkan, kita harus mencari hidayah tersebut, alih-alih hanya berdiam diri dan menunggu hidayah datang. Tentu hal ini sangat kita butuhkan karena hidayah akan membantu kita menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bertakwa di mata Allah. Maka, tidak heran jika kita harus memegang teguh hidayah yang kita dapatkan karena hidayah tersebut sangatlah berharga. Hal ini sejalan dengan pesan Nabi Daud, “Betapa buruk kemiskinan itu setelah kaya, dan betapa buruknya pula kesesatan setelah petunjuk”. (Baca juga: Hidayah Allah Kepada Manusia)

  1. Kewajiban bekerja sebagai bentuk syukur

Di dalam al Quran, surat Saba’ ayat 13 disebutkan, “Bekerjalah, hai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur”. Maka, kita diperintahkan untuk bekerja karena bekerja merupakan salah satu bentuk ibadah dan rasa syukur kepada Allah. (Baca juga: Cara Bersyukur Menurut Islam)

  1. Selalu bertindak adil dan bijaksana

Nabi Daud juga diberikan kemampuan untuk selalu bijaksana dalam menyelesaikan berbagai masalah. Nabi Daud diberi rantai emas yang menjulur dari langit sampai Baitul Maqdis untuk memberi keputusan atas berbagai perbedaan pendapat. Bahkan, beliau juga menjadi teladan bagi semua orang dalam hal keadilan, ibadah dan hal lainnya. (Baca juga: Keutamaan Adil Terhadap Diri Sendiri)

  1. Selalu taat kepada Allah

Nabi Daud yang berhasil mengembalikan kejayaan untuk Bani Israil setelah terbunuhnya Jalut, dikenal sangat taat kepada Allah. Bahkan, beliau diceritakan telah memperkuat kerajaannya dengan tasbih , dzikir serta ketaatannya kepada Allah.

  1. Bersungguh-sungguh dalam ibadah

Seperti yang telah dibahas sebelumya, bahwa tidak ada puasa dan sholat yang lebih dicintai Allah selain yang dilakukan Nabi Daud. Maka, itu menunjukkan bahwa Nabi Daud sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah.

  1. Selalu bekerja keras

Berdasarkan sabda Rasulullah shalallahi ‘alaihi wa sallam, “Memakan makanan dari hasil usaha sendiri adalah lebih baik. Nabi Daud alaihissalam makan dari hasil jerih payahnya sendiri. Meskipun dia seorang nabi dan seorang raja, tetapi dia memenuhi kebutuhan hidupnya dari hasil usahanya sendiri”. (Baca juga: Hukum Bekerja Dalam Islam)

  1. Mengutamakan cinta Allah

Nabi Daud yang taat beribadah selalu mengutamakan cinta Allah dibandingkan cinta makhluk lainnya. Berdasarkan sabda Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Bila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah berseru kepada Jibril: “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah dia.” Jibrilpun mencintainya. Kemudian Jibril berseru kepada penghuni langit: ”Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka kalian cintailah dia.” Penghuni langitpun mencintainya. Kemudian ditanamkanlah cinta penghuni bumi kepadanya”. (HR Bukhari 5580)

  1. Rela berkorban untuk agama

Masih berkaitan dengan kecintaan Nabi Daud kepada Allah dan harapan beliau akan cinta dari Allah, maka beliau juga rela mengorbankan dirinya sendiri hingga keluarga dan harta yang dimilikinya demi kepentingan agama dan menjalankan perintah Allah. Tentu amalan ini juga harus kita teladani untuk menjadi muslim yang lebih baik. (Baca juga: Ciri-ciri Orang Munafik)

Wallahu a’lam bishawab.

15 Amalan di Bulan Dzulhijjah yang Menghasilkan Pahala

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang sangat istimewa dan memiliki banyak keutamaan dalam islam. Pada bulan Dzulhijjah ini, umat muslim menjalankan ibadah haji yang termasuk rukum islam kelima. Selain itu, segala amalan yang dilakukan di bulan Dzulhijjah juga dilipatgandakan pahalanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam Al-Quran Surat Al- Fajr :

Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Menurut tafsir dari mayoritas ulama, ayat diatas menyinggung tentang 10 malam hari pertama bulan Dzulhijjah. Allah Ta’ala bersumpah atas bulan Dzulhijjah. Hal ini menunjukkan bahwa bulan Dzulhijjah memang memiliki kelebihan dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Baca juga:

Dalil-Dalil Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih disukai-Nya untuk digunakan sebagai tempat beramal sebagaimana 10 hari ini (10 hari pertama bulan Dzulhijjah). Karenanya perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR.Ahmad)

Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 hari pertama bulan Dzulhijjah). Para sahabat bertanya: Apakah lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah?Beliau bersabda, ‘Iya. Lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid).” (HR. Al Bukhari)

Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati 3 bulan berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada Akhiroh dan Sya’ban.” (HR. Bukhari  dan Muslim)

Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak pernah berkurang, kedua bulan itu adalah bulan id: bulan Ramadhan dan bulan Dzulhijjah.” (HR. Al Bukhari & Muslim).

Jika kamu masuk ke dalam sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka bersungguh-sungguhlah sampai hampir saja ia tidak mampu menguasainya (melaksanakannya).” (HR. Ad Darimi)

Sebab yang jelas tentang keistimewaan sepuluh hari di bulan Dzulhijjah adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpulnya ibadah-ibadah utama; yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji. Dan itu tidak ada di hari-hari selainnya.” (Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bar)

Baca juga:

Amalan-Amalan baik di Bulan Dzulhijjah

Mengingat banyaknya keutamaan pada bulan Dzuhijjah, maka di bulan ini juga terdapat berbagai macam amalan ibadah yang dianjurkan untuk dilakukan. Apa saja itu? Berikut 15 amalan di bulan Dzulhijjah.

  1. Puasa Arafah

Amalan di bulan Dzuhijjah yang pertama yakni puasa arafah. Puasa ini dikerjakan pada tanggal 9 Dzuhijjah.

Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya. (HR. Bukhari dan Muslim).

[AdSense-B]

  1. Mengucapkan takbir, tahlil dan tahmid

Para ulama menganjurkan agar umat islam memperbanyak takbir, tahlil dan tahmid pada bulan Dzulhijjah. Takbir juga diucapkan setiap selesai sholat fardhu di masjid, pada hari raya idul Adha sampai hari tasyrik di sore hari (saat sholat Ashar). Selain itu, ketika hendak perjalanan ke lapangan atau masjid untuk sholat ied disunnahkan mengucapakan “Allahu akbar, allahu akbar, laa ilaha ilallah, walllahu akbar, allahu akbar wa lillahil hamdu.”

 “Tidaklah ada hari-hari yang lebih mulia di sisi Allah dan amal-amal shalih di dalamnya lebih dicintai-Nya dibanding amal-amal shalih pada 10 hari-hari pertama bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu perbanyaklah mengucap tahlil, takbir, dan tahmid’ (HR.At-Thabrani).

  1. Sholat Idul Adha

Sholat idul Adha juga merupakan amalan di bulan Dzulhijjah yang diutamakan. Sekalipun bagi wanita disarankan untuk ikut menyaksikan seruan kaum muslimin (takbiran dan sholat ied).

“Nabi Shallallahu’alahi Wasallam mengirim surat kepada Amr bin Hazm ketika ia di Najran agar ia menyegerakan shalat Idul Adha dan mengakhirkan shalat Idul Fitri dan mengingatkan manusia”(HR. Al Baihaqi).

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan wanita yang dipingit (juga wanita yang haid) pada hari Ied, untuk menyaksikan kebaikan dan seruan kaum muslimin. Kemudian seorang wanita berkata: ‘Wahai Rasulullah jika diantara kami ada yang tidak memiliki pakaian, lalu bagaimana?’. Rasulullah bersabda: ‘Hendaknya temannya memakaikan sebagian pakaiannya.” (HR. Abu Daud).

  1. Berkurban

Amalan di bulan Dzulhijjah selanjutnya adalah berkurban. Kegiatan kurban ini biasanya dilakukan pada hari raya idul adha atau tanggal 10 Dzuhijjah. Untuk jenis binatang yang dikurban harus sehat. Boleh kambing ataupun sapi.

Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah ‘Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah ‘Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.” (HR. Ibnu Majah, At-Tirmidzi, Al-Hakim).

Baca juga:

  1. Mandi Sebelum idul adha

Seorang lelaki bertanya kepada Ali radhiallahu’anhu tentang mandi, ia menjawab: ‘Mandilah setiap hari jika engkau mau’. Lelaki tadi berkata: ‘bukan itu, tapi mandi yang benar-benar mandi’. Ali menjawab: ‘Mandi di hari Jum’at, Idul Fitri, Idul Adha dan hari Arafah’” (HR. Al Baihaqi)

[AdSense-A]

  1. Tidak makan sebelum sholat ied

Nabi Shallallahu’alahi Wasallam biasanya tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga makan terlebi dahulu, dan tidak makan pada hari Idul Adha hingga beliau kembali dari shalat” (HR. Ibnu Majah)

  1. Melaksanakan Haji

Melaksanakan haji merupakan amalan utama di bulan Dzuhijjah, diwajibkan bagi mereka yang memiliki kemampuan harta. Berhaji termasuk dalam rukun islam. Dan pahala dari berhaji sangatlah besar di sisi Allah Ta’ala.
Mengerjakan haji adalah kewajiban menusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (Ali-Imran : 97)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga” (HR al-Bukhari dan Muslim).

  1. Melaksanakan Umrah

Jika memang belum sanggup melaksanakan haji (baik karena biaya atau waktu antrian) maka boleh juga melakukan ibadah umrah. Walaupun umrah bukanlah ibadah wajib. Namun umrah juga memiliki banyak keutamaan.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam bersabda:“Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Baca juga:

  1. Berdzikir

Berdizikir termasuk amalan shaleh yang berarti mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dzikir hendaknya diucapkan sesering mungkin. Dan apabila kita memperbanyak dzikir di bulan Dzulhijjah maka pahalanya akan dilipatgandakan.

“Tidak ada amalan shalih yang lebih dicintai Allah daripada amalan yang dilakukan di sepuluh hari ini (hari-hari pertama bulan Dzulhijjah). Maka para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad fi sabilillah? ” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah. Kecuali seseorang yang keluar dengan membawa jiwa dan hartanya namun tidak ada satupun yang kembali.” (HR. Bukhari)

  1. Bertaubat

Amalan di bulan Dzhuhijjah berikutnya adalah bertaubat. Akan lebih baik jika kita memperbanyak taubat di bulan suci Dzuhijjah. Allah Ta’ala mencintai hamba-hamba yang bertaubat dan juga mengampuni segala dosa. Maka itu, kita harus sesering mungkin bertaubat sebelum terlambat.

Baca juga:

  1. Berbuat baik kepada sesama

“Tidak ada amalan shalih yang lebih dicintai Allah daripada amalan yang dilakukan di sepuluh hari ini (hari-hari pertama bulan Dzulhijjah)…” (HR. Bukhari).

Cakupan amal shalih sangatlah luas. Salah satunya adalah berbuat baik terhadap sesama. Melakukan perbuatan baik terhadap sesama manusia adalah perintah Allah Ta’ala. Selain itu juga dapat meningkatkan silaturahmi dan toleransi.

[AdSense-C]

  1. Sholat Sunnah

Sholat sunnah juga termasuk amalan shalih. Di bulan suci Dzulhijjah alangkah baiknya jika kita memperbanyak sholat sunnah. Namun demikian, jangan sehabis bulan Dzulhijjah lantas kita melupakan sholat sunnah. Ingat, ibadah yang dicintai Allah adalah ibadan yang dilakukan secara rutin dan istiqamah.

  1. Membaca Al-quran

Sempatkan waktu untuk membaca Al-Quran setiap hari, walaupun hanya 3 ayat. Begitupun dengan bulan Dzulhijjah jangan meninggalkan Al-Quran. Ketahuilah bahwa Al-Quran bisa menjadi penolong atau penerang kuburan kita kelak.

  1. Bersedekah

Bersedakah tidak perlu menunggu kaya. Sebagai umat muslim sebaiknya kita memperbanyak bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Tidak perlu bersedakah dalam jumlah banyak. Tidak apa-apa sedikit asalkan ikhlas.

Allah Ta’ala berfirman:

Dan berikanlah infak di jalan Allah dan janganlah engkau menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang yang berbuat baik.” (QS.Al-Baqarah: 195).

  1. Mengikuti Majelis Ilmu Agama

Mengikuti majelis ilmu, seperi kajian-kajian agama juga termasuk ibadah atau amalan shalih. Kegiatan ini dapat meningkatkan iman dan ilmu kita. Sekaligus juga mempererat ukhuwah islamiyah.

Baca juga:

Demikianlah beberapa amalan di bulan Dzulhijjah yang dapat dilakukan. Semoga bermanfaat dan dapat membantu.

17 Amalan 10 Muharram yang Menghasilkan Pahala

Bulan Muharram menjadi salah satu bulan yang sangat dimuliakan oleh Allah SWT sebab memiliki banyak pahala yang akan diberikan oleh Allah SWT untuk para hamba-Nya pada bulan tersebut. Bulan Muharram menjadi bulan pertama di tahun Hijriah dan sering disebut dengan lebaran bagi yatim piatu dan juga fakir miskin. Dalam bulan Muharram ini, ada sangat banyak amalan yang bisa dilakukan dan akan memberikan pahala besar seperti yang sudah dijanjikan Allah SWT untuk hamba yang melaksanakan amalan tersebut dan akan kami ulas secara lengkap berikut ini.

“Tatkala Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam datang ke Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau shalallaahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa alaihis salam berpuasa pada hari ini. Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk melakukannya”. (HR. Al Bukhari)

Artikel terkait:

  1. Puasa

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa berpuasa dihari Asyura (10 Muharram), maka pahalanya 10.000 kali haji dan umroh dan seperti 10.000 mati Sahid”. Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa memberi makan kepada orang yang berpuasa dihari Asyura (10 Muharram), maka pahalanya seperti memberi makan sejumlah umatnya Nabi Muhammad SAW.”

Dalam hadits ini sudah sangat jelas dikatakan jika bulan Muharram menjadi bulan yang sangat mulia dan Allah SWT sudah sangat murah hati dalam memberikan banyak pahala seperti yang dijanjikan.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Berpuasalah pada hari Asyura, dan bedakanlah dengan orang Yahudi yaitu dengan berpuasa sehari sebelum dan sehari sesudah hari Asyura (10 Muharram).”

Dalam hadits kedua dijelaskan untuk membuat perbedaan antara umat muslim dengan orang Yahudi sehingga dianjurkan untuk berpuasa satu hari sebelum dan sesudah tanggal 10 Muharram. Akan tetapi, jika hanya ingin berpuasa di tanggal 10 Muharram juga diperbolehkan sebab sudah bisa menutupi dosa yang diperbuat selama satu tahun yang sudah berlalu.

Rasulullah SAW bersabda, “Aku mencari pahala puasa Asyura kepada Allah SWT, karena dapat menutupi dosa sethaun yang terlewati”.

“Dahulu Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. (HR. Al Bukhari No 1897)

Abu Qatadah radhiallahu anhu, Dan puasa di hari ‘Asyura, sungguh saya mengharap kepada Allah bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu”. [Sunan Abu Dawud]

  1. Sholat 4 Rekaat

Sholat 4 rekaat dilakukan pada malam tanggal 10 Muharram yakni tanggal 9 malam dengan ketentuan setiap rekaat membacakan surat Al-Fatihah sebanyak satu kali dan juga surat Al-Ikhlas sebanyak 51 kali.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa shalat 4 rekaat dihari Asyura (10 Muharram) setiap rekaat membaca Al-Fatihah 1 x dan Al-Ikhlas 51 x, Maka Allah akan memberikan ampun dosa-dosanya selama 50 tahun.”

[AdSense-B]

  1. Memberikan Harta Untuk Keluarga dan Istri

Rasulullah SAW bersabda, “Dan berikan kelonggaran harta kepada Keluargamu di hari Asyura, sebab orang yang memberikan kelonggaran harta kepada Istri dan Keluarganya di hari Asyura, maka Allah akan melonggarkan rizkinya orang tersebut setiap tahun.”

Dalam hadits tersebut sangat dianjurkan untuk memberikan atau menyisihkan sedikit harta yang dimiliki untuk keluarga dan juga istri supaya akan dilapangkan harta setiap tahunnya bagi orang yang memberikan harta tersebut. Memberikan harta bisa dilakukan dengan cara berbelanja makanan dan juga minuman melebihi dari hari biasanya dan juga menggembirakan hati keluarga seperti menghulur belanja lebih.

  1. Shodaqoh

Bershodaqoh pada tanggal 10 Muharram atau hari Asyura juga sangat dianjurkan seperti sabda dari Rasulullah SAW, “Barang siapa bershodaqoh dihari Asyura, maka dirinya tersebut seakan-akan belum pernah menolak terhadap orang yang meminta-minta”.

“Barang siapa bersedekah dengan seteguk air kepada orang lain di hari asyura’ maka ia akan merasakan tegukan air di hari yang sangat menghauskan kelak (ketika hari qiyamat) dan ia tidak akan pernah merasakan haus selamanya setelah minum air tersebut kelak dan seolah – olah ia tidak pernah berbuat durhaka kepada Allah sekejap mata pun. Dan barang siapa bersedekah dengan sekali sedekahan, maka ia seolah selalu bersedekah kepada setiap pengemis yang meminta-minta padanya”

  1. Puasa Asyuro dan Tasu’a

Abu Hurairah RA berkata jika Rasulullah SAW bersabda, “Shaum yang paling utama setelah shaum Ramadhan adalah shaum dibulan  Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah shalat malam.” (HR Muslim 1162).

Rasulullah SAW juga bersabda, “Shaumlah kalian pada hari ‘Assyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Shaumlah kalian sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (HR Ath-Thahawy dan Al-Baihaqy serta Ibnu Khuzaimah 2095). Oleh karena itu, puasa sunnah yang dilakukan pada hari kesembilan dan kesepuluh pada bulan Muharram sering disebut dengan Asyuro dan Tasu’a.

  1. Mandi

Mandi yang dimaksud disini tidak hanya sekedar mandi seperti yang sudah biasa dilakukan sehari hari, akan tetapi merupakan madu besar atau mandi junub. Barang siapa yang mandi dan juga membersihkan dirinya pada hari Asyura atau tanggal 10 Muharram, maka ia tidak akan terkena penyakit apapun juga pada tahun tersebut.

Artikel terkait:

  1. Muhasabah dan Intropeksi Diri

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, masa hidupku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.”

Dengan terus berjalannya waktu dan bertambah usia, maka kita harus menyadari dan melakukan intropeksi diri mengenai apakah amal sudah semakin bertambah atau justru dosa yang semakin bertambah.

  1. Memperkuat Silaturahmi

Umat muslim dilarang untuk memutuskan tali silaturahmi dan bahkan ada dalam suatu hadits yang menyebutkan jika haram hukumnya untuk mendiamkan sesama muslim lebih dari tiga hari. Apabila mungkin kita pernah melanggar aturan ini, maka tanggal 10 Muharram menjadi waktu yang sangat tepat untuk bertaubat dan lebih memperbaiki tali silaturahmi yang sudah terputus tersebut.

[AdSense-A]

  1. Mengunjungi Kyai atau Orang Alim

Ziarah orang alami atau kyai akan membuat kita menjadi tentram, baik itu orang alim atau kyai yang masih hidup dengan sowan  pada para kyai atau tokoh alim ulama atau orang alim dan kyai yang sudah wafat yakni dengan melakukan ziarah kubur.

  1. Menjenguk Orang Sakit

Apabila mengunjungi atau menjenguk orang sakit dilakukan pada tanggal 10 Muharram atau asyura, maka mengartikan ia juga sudah menjenguk semua orang sakit yang ada di dunia sehingga akan memberikan pahala yang sangat besar.

  1. Mengusap Rambut Anak Yatim

Mengusap rambut anak yatim yang dimaksud bukanlah hanya mengusap kepala anak yatim, namun memberikan rizki lebih yang dimiliki pada anak yatim piatu. Setiap helai dari rambut anak yatim piatu yang diusap tersebut akan menggugurkan dosa bagi orang yang mengusapnya sehingga berbagi dengan anak yatim ini sangat dianjurkan.

  1. Baca Surat Ikhlas

Dianjurkan juga untuk membacakan Surat Ikhlas sebanyak seribu kali, membacakan ayat kursi sebanyak seratus kali dan juga membacakan Khasbunallahu wa ni;mal wakiil, ni’mal maulaa wa ni’mannashiir sebanyak 70 kali dan lain sebagainya.

“Barang siapa menghidupkan malam asyura’ dengan beribadah kepada Allah SWT, maka seolah-olah ia telah beribadah seperti ibadahnya para malaikat di langit”. Imam al-Ajhury berkata jika seseorang yang mengucapkan doa Hasbunalloh wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashir (Cukup bagi kita Allah dzat pemberi nikmat, kemulyaan  dan pertolongan) sebanyak 70 kali di malam hari as-syura’ maka ia akan dihindarkan dari berbagai macam keburukan di tahun yang akan dihadapinya.

Artikel terkait:

  1. Memuliakan Fakir Miskin

Memuliakan fakir miskin juga menjadi salah satu amalan di tanggal 10 Muharram dimanan nantinya akan dilapangkan kubur bagi hamba yang memuliakan fakir miskin tersebut.

  1. Menahan Marah

Menahan marah juga dianjurkan untuk dilakukan umat muslim pada tanggal 10 Muharram yang akan memberikan fadhilah bahwa Allah SWT akan memasukkan orang tersebut ke dalam golongan yang ridha dan dirihai-Nya.

  1. Memperlihatkan Jalan Kebenaran

Memperlihatkan atau menunjukkan jalan kebenaran bagi orang yang tersesat pada tanggal 10 Muharram akan memberikan pahala dimana Allah SWT akan menyinarkan cahaya iman di dalam hati bagi hamba yang melakukan amalan tersebut.

  1. Memelihara Kehormatan Diri

Memelihara kehormatan diri di hari Asyura atau tanggal 10 Muharram akan memberikan fadhilah yakni Allah SWT akan memberikan karunia hidup yang senantiasa diterangi cahaya keimanan.

  1. Memakai Celak

Celak merupakan alat yang sering dipakai untuk membuat alis mata supaya bisa terlihat lebih hitam. Namun, untuk sebagian ulama hanafy, memakai celak hukumnya adalah haram dan pengarang kitab Jam’ut ta’alig menghukumi makruh karena hari Asyura bertepatan dengan peristiwa Sahara Nainawa dimana Sayyidina husein dan ahlu bait Rasulullah dibantai dan darah sayyidina husein dipakai untuk celak oleh Yazid beserta putranya.

Artikel terkait:

Demikian ulasan yang bisa kami berikan kali ini mengenai apa saja amalan amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan pada tanggal 10 Muharram atau hari Asyura, semoga bisa menambah wawasan anda seputar amalan shaleh dalam Islam.

5 Tips Menjadi Wanita Shalehah Menurut Al-Quran

Setiap wanita muslimah yang beriman tentu saja menginginkan dirinya menjadi wanita yang shalehah. Dalam sebuah hadist Rasulullah mengatakan bahwa sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalehah. Tentu saja perhiasan dunia begitu indah dan mengilaukan, akan tetapi wanita yang shalehah adalah perhiasan terbaik yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Wanita shalehah adalah wanita beriman yang taat kepada Allah dan melakukan terbaik dalam hidupnya sesuai tuntunan islam. Bukan hanya baik secara ruhani melainkan juga mampu memberikan banyak manfaat kepada umat. Bukan hanya sekedar cantik secara fisik, namun juga cantik secara ruhani, cerdas, dan banyak memberikan manfaat.

Untuk menjadi wanita shalehah tentu saja bukanlah perkara yang mudah, harus benar-benar berproses bahkan sampai akhir hidup nanti. Berikut adalah 5 tips agar dapat menjadi wanita yang shalehah, berdasarkan ayat-ayat Al-Quran.

Memperdalam Ilmu

Ilmu adalah dasar dari iman. Hukum Menuntut Ilmu  dalam islam pun juga adalah wajib. Ilmu Pendidikan Islam tentu juga adalah hal yang penting untuk digali oleh seorang wanita.

Ketika iman tidak disertai oleh ilmu yang benar, tentu saja iman itu akan mudah rapuh dan mudah terombang ambing. Orang yang hanya sekedar percaya namun tidak pernah memupuk imanya dengan pengetahuan, tentu seperti tanaman yang kuat namun tidak pernah diberikan pupuk dan dipelihara dengan baik. Tentu saja lambat laun akan mudah untuk rusak dan hancur.

Ilmu sendiri bukan hanya sekedar ilmu mengenai aspek ibadah kepada Allah melainkan ilmu-ilmu lainnya yang juga bermanfaat untuk bisa memberikan manfaat kepada orang banyak. Tentu saja untuk menjadi wanita shalehah maka diperlukan ilmu yang banyak dan tentu ilmu yang benar untuk diimpelmentasikan dengan benar.

Di dalam Al-Quran dijelaskan dalam ayat-ayat berikut ini.

  1. Ilmu Adalah Awal dari Iman

“dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus” (QS AL Hajj : 54)

Di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa orang-orang yang meyakini Al-Quran dan tentu saja meyakini Allah adalah orang yang benar-benar berilmu pengetahuan. Sebagaimana orang-orang berilmu adalah orang-orang yang bisa menggunakan akalnya secara benar untuk menangkap kebenaran.

Kebenaran yang ditangkap oleh Akal pasti akan menemukan bahwa Allah adalah Penguasa dari segala alam raya ini dan juga akan membuktikan kebenaran Al-Quran. Orang-orang yang menggunakan hawa nafsu tidak akan pernah bisa menemukan kebanaran Allah dan Al-Quran. Hal ini dikarenakan Islam dan Ilmu Pengetahuan tidak dapat dipisahkan.

  1. Dengan Ilmu Mengetahui Benar dan Salah

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al Isra : 36)

Kelak di akhirat, Allah meminta pertanggungjawaban kita. Tanpa ilmu yang benar dan pengamalan yang benar, tentu saja manusia tidak akan mampu untuk mempertanggungjawbakan hal tersebut. Wanita shalehah adalah wanita yang mampu mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk diamalkan dengan benar dan sebagai bekal untuk mempertanggungjawbakan kelak di akhirat.

Berkumpul Bersama Orang-Orang Shaleh

Untuk menjadi wanita shalehah maka kita bisa berkumpul juga dengan prang-orang yang shaleh. Orang-orang yang shaleh tentu akan mampu memberikan pengondisian kepada kita, sehingga kita pun akan ikut pada kebiasaan yang baik.

Untuk itu, dimanapun dan apapun kondisi kita, maka hendaklah wanita juga memiliki teman-teman atau kelompok yang baik dan shalehah atau memiliki niat untuk menjadi shalehah agar juga terkondisikan dengan baik.

Orang-orang yang shalehah adalah yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan menasehati dalam kebenaran. Hal ini disampaikan dalam ayat Al-Quran.

“Demi Masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. “ (QS Al Ashr : 1-3)

Memulai Kebaikan dari Hal Yang Kecil

Untuk bisa menjadi wanita shalehah tentu tidak perlu kita melakukan suatu kebaikan dari yang paling sulit atau hal besar yang ingin kita lakukan. Kebaikan yang kita mulai bisa kita lakukan dari hal kecil. Amalan kecil jika dilakukan terus menerus dan konsistensi yang baik, tentu akan menjadi hal yang besar.

Kebaikan yang kecil namun bermakna tentu saja akan mendatangkan kebaikan juga pada diri kita. Kebaikan tersebut contohnya adalah :

  • Memberikan Salam dan Doa Kepada Orang-orang yang ada di sekitar kita
  • Memberikan sedekah dari penghasilan kita, di luar dari yang wajib semampu yang dimiliki
  • Membantu kesulitan orang di sekitar atau tetangga
  • Saling memberi rezeki, tidak perlu besar (membagi makanan, masakan, atau rezeki yang didapat)
  • Tidak membalas kejahatan orang lain namun mendoakannya, dan lain sebagainya
  • Menjaga pandangan (Cara Menjaga Pandangan Menurut Islam dan Cara Menjaga Pandangan Mata )

Memulai dari yang kecil bukan berarti kita tidak melaksanakan hal besar. Akan tetapi kita mencoba bertahap dan memulai dari apa yang bisa kita lakukan dengan mudah. Tentu saja dengan keikhlasan hati dan kemauan yang kuat, niat yang lurus akan membuat kita lebih mudah untuk bergerak.

Meningkatkan Kualitas Diri Untuk Kebermanfaatan

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al Qashshash : 77)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa kita diperintahkan kepada Allah untuk selalu mencari karunia-Nya dan juga dimanfaatkan untuk kebahagiaan di akhirat. Tentu proses tersebut tidak akan melupakan kebahagiaan dan kebutuhan diri kita juga di dunia. Kebaikan di akhirat tentu saja akan diperoleh dengan proses di dunia.

Wanita yang shalehah harus terus mencoba melakukan peningkatan kualitas diri untuk dapat mencapai karunia Allah di muka bumi untuk bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya, bukan justru untuk dimanfaatkan sendiri atau bersifat individualistis. Peningkatan kualitas diri bisa di bidang apapun dan hal apapun yang bermanfaat, asalkan tidak melanggar syariah dari Allah SWT.

Memberikan manfaat pada orang lain juga termasuk dalam bagian Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama.

Tidak Menunda Untuk Berubah

“Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”  (QS An-Nisa : 146)

Menjadi wanita shalehah bukanlah proses dari sehari atau dua hari saja melainkan proses yang panjang dan membutuhkan usaha yang kuat. Untuk itu, untuk menjadi wanita shalehah harus dimulai saat ini juga tanpa menunda-nundanya. Menunda-nunda untuk menjadi wanita shalehah, akan menjadikan kita tidak akan pernah berubah.

Wanita shalehah bukan proses instant melainkan membutuhkan proses yang istiqomah. Untuk itu, kesabaran dan keikhlasan dibutuhkan dalam proses menjadi wanita shalehah. Selain itu, wanita yang ingin menjadi shalehah tentu harus menguatkan dirinya agar selalu dalam hidup yang penah dengan Rukun Iman, Rukun Islam, Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan,  dan Hati Nurani Menurut Islam.

Hak dan Kewajiban dalam Islam Sebagai Manusia

Prinsip keadilan dan keseimbangan dalam islam adalah hal yang mendasar. Di dalam kehidupan manusia, prinsip ini menjadi hal yang selalu diperhitungkan. Dalam hukum, ekonomi, bekerja sama, melakukan pembangunan sosial, keluarga, prinsip keadlian dan keseimbangan adalah hal yang menjadi sesuatu itu baik atau buruk, benar atau salah.

Di dalam mengatur keseluruhan alam semesta ini Allah senantiasa menggunakan prinisp keadilan dan keseimbangan. Hanya dari keadilan dan keseimbangan Allah lah yang benar-benar sempurna, sehingga manusia atau makhluk lain pun tidak ada yang dapat menyayingi keadilan tersebut. Untuk itu, Allah mengajarkannya dan memberikan informasinya lewat Al-Quran dan diturunkannya nabi di muka bumi. Berikut adalah, hak dan kewajiban dalam islam, khususnya sebagai manusia.

Pengertian Hak dan Kewajiban

Hak dan kewajiban dalam islam sangat diperhitungkan dan menjadi aspek penting. Manusia hidup di dunia menjalankan misi kehidupannya tentu berdasarkan atas hak dan kewajiban yang sudah Allah tetapkan. Untuk itu, berikut adalah pengertian mengenai hak dan kewajiban secara umum.

  1. Pengertian Hak

Secara umum, hak berarti adalah hal-hal yang boleh diambil atau diterima oleh seseorang. Hak ini secara benar diambil atau diterima oleh manusia dengan syarat-syarat dan ketentuan tertentu. Hak juga tidak boleh dilalaikan dan juga tidak boleh dikesampingkan, karena hak menjadi milik seseorang.

Untuk mendapatkan hak, manusia harus untuk menunaikan kewajibannya. Hak tidak berdiri sendiri melainkan sangat bergantung kepada kewajiban. Ada hak dan ada juga kewajiban yang harus ditunaikan.

  1. Pengertian Kewajiban

Kewajiban berbeda dengan hak. Kewajiban adalah syarat atau hal-hal yang harus dilakukan oleh manusia sebelum ia mendapatkan hak-nya. Jika kewajiban ditinggalkan, maka manusia akan berdosa, karena kewajiban pasti akan berdampak pada terhalangnya hak orang lain.

Misalnya saja, orang yang berkewajiban membayar pajak, jika ia tidak membayarkannya maka akan berdampak kepada hak-hak rakyat dan negara. Tentu saja merugikan dan merusak tatanan masyarakat. Untuk itu kewajiban sebagaimana hak, sangat bergantung satu sama lain.

Sebagai umat muslim tentu saja harus dilaksanakan kewajiban dan mengambil hak yang memang milik kita. Jika tidak sesuai dan mengambil tidak sesuai hak dan kewajiban, maka kedzaliman akan menghampiri kita. Tentunya juga kedosaan yang akan menimpa kita.

Kewajiban Sebagai Manusia

Manusia dengan sesama manusia juga memiliki hak-nya masing-masing. Allah terhadap manusia sudah memberikan hak-hak nya berupa rezeki, kesehatan, dan berbagai macam lainnya. Sedangkan manusia terhadap manusia terkadnag tidak menunaikan kewajibannya sehingga membuat manusia lain lalai akan hak-nya.

  1. Menyembah dan Mentaati Perintah Allah

“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-A’raff“: 33)

Manusia sejak awal lahir ke dunia telah Allah tetapkan untuk mengikuti dan meyembah kepada Allah. Penyembahan manusia pada hal lain selain Allah adalah kerugian dan sebuah kebodohan yang membuat hidup manusia itu sendiri mendapatkan kesengsaraan. Untuk itu, Allah memerintahkan manusia agar menyembah kepada Allah, agar keselamtan menyertai manusia. Hakikatnya manusia yang menjalankan kewajibannya akan kembali mendapatkan manfaat dan keselamatannya untuk manusia sendiri.
[AdSense-B]

  1. Menjalankan Misi Khalifah fil Ard

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(QS Al-Baqarah : 30)

Manusia diciptakan Allah untuk dapat menjalankan misi khalifah fil Ard. Misi ini adalah sebagai alasan mengapa manusia diciptakan, dan menjadi kewajiban agar manusia di muka bumi dalam keadaan selamat juga sejahtera.

Tanpa ada pembangunan, pengelolaan yang baik, manusia akan mendapatkan kerusakan dalam hidupnya juga kesengsaraan. Tugas khalifah fil ard bukanlah tugas seorang yang berlabel pemimpin saja melainkan tugas dari setiap orang, khususnya manusia yang ada di muka bumi.

  1. Berbuat Kebaikan, Menghindari Kerusakan

Hal ini yang harus dilakukan manusia dan menjadi kewajiban yang harus dilakukan. Berbuat kebaikan, menghindari perbuatan keji dan munkar adalah tugas dari manusia. Untuk itu, sebagaimana ayat di atas manusia harus menjalankan kebaikan dan menghindari perbuatan dosa.

Manusia memang tidak bisa lepas dari dosa, akan tetapi kewajiban manusia adalah menghindarinya. Hal ini karena setan selalu berada di sekitar manusia dan mempengaruhi manusia.
[AdSense-C]

Hak Untuk Sesama Manusia

Selain kewajiban, berikut yang harus manusia perhatikan juga akan hak-hak yang harus diberikan atau dapat diterima sebagaimana manusia. Manusia dengan sesama manusia memiliki hak yang sama, untuk itupun harus juga memberikan hak-hak tersebut kepada mereka agar hak kita pun dapat dimiliki. Jika tidak menunaikan hak orang lain, maka hak kita sendiri pun tidak akan bisa didapatkan.

  1. Dilarang Berbuat Kerusakan

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan” (QS Asyu’ara’ “ 183)

Hak-hak manusia akan didapatkan jika manusia tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Jika melanggar dan melakukan kerusakan dapat dipastikan hak manusia satu dengan yang lainnya, termasuk hak diri sendiri akan tidak didapatkan.

Tentunya, mendapatkan hak yang halal adalah yang sesuai dengan Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman, dan jangan sampai berbuat hal-hal yang rusak karena melanggar hal tersebut.

  1. Mendapatkan dan Memberikan Harta yang Halal

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS An-Nisaa : 29)

Agar kita mendapatkan harta yang halal sesuai hak kita, maka Allah memerintahkan agar menjalankan transaksi yang juga halal. Transaksi yang haram tidak akan membuat harta kita menjadi hak yang halal, maka hak tersebut menjadi haram.

Untuk itu, hak-hak manusia ini sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam.

Cara Agar Tetap Istiqomah di Jalan Allah

Melaksanakan amalan baik tentu tidak sulit. Yang menjadi sulit adalah membuatnya menjadi terus menerus dilakukan atau tetap istiqamah. Amalan yang konsisten adalah amalan terbaik dibanding melakukan besar-besaran dan penuh semangat membara, namun hanya sekali saja.

Memang wajar apabila manusia mengalami turun naik mood dalam beribadah. Namun jika terus menerus mengikuti mood dan memleihara dinamika yang terus turun naik, tentu tidak akan baik terhadap amalan ibadah kedepannya. Manusia juga harus Istiqomah apalagi dalam menjalankan misi hidupnya sebagaimana Tujuan Penciptaan Manusia , Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan apa yang adala dalam fungsi agama  dan telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Tanpa istiqomah, tentu manusia tidak akan bisa meraih Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam. Dunia Menurut Islam memang tempat sementara untuk beramal, namun jika amalan tidak dilakukan Istiqomah, maka kesuksesan sulit akan didapat.

Tentu tidak mudah untuk istiqomah, apalagi dalam diri manusia senantiasa terdapat hawa nafsu dan setan yang selalu membisikkan pada diri manusia untuk berbuat zalim dan melenceng dari aturan Allah. Berikut adalah cara agar tetap istiqomah melaksanakan amalan kebaikan dalam keseharian kita.

Mengisi Daya Diri dengan Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan adalah dasar dari kehidupan manusia. Tanpa ilmu pengetahuan manusia akan tersesat dan terjebak pada jalan yang keliru. Untuk itu, cara agar istiqomah salah satunya adalah dengan cara mencari dan mengisi diri kita dengan ilmu pengetahuan.

Allah memerintahkan manusia untuk senantiasa menggunakan akal dan tidak menggunakan hawa nafsu. Akal manusia akan berjalan dan berfungsu jika memang ada ikatan atau ada informasi yang masuk ke dalamnya. Ibarat sebuat mesin pembuat roti, ia tidak akan bekerja jika tanpa ada adonan atau bahan bahan yang masuk. Untuk itu, menjadi penting agar istiqamah di jalan kebaikan adalah dengan mnggunakan ilmu pengetahuan.

Tentu jangan sampai kita menjadi seseorang, sebagaimana yang Allah sampaikan dalam ayat berikut:

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS Al Jumuah : 5)

Pengetahuan yang harus diperkuat agar istiqomah salah satunya adalah mengenai ajaran agama. Hal ini contohnya adalah memperdalam pengetahuan dasar islam tentang rukun islam , rukun iman , Fungsi Iman Kepada Kitab Allah, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Fungsi Al-quran Bagi Umat Manusia, dsb.

Mengkondisikan diri Dengan Al Quran

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (QS Al A’raf:52)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa Al Quran adalah petunjuk yang menjelaskan mengenai pengetauhan dasar tentang Allah dan Kekuasaannya. Dan inilah yang menjadi petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Untuk itu, dalam menjaga keistiqomahan, maka seorang muslim harus tetap berinteraksi dengan Al-Quran dan mengkondisikan dirin bersamanya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

  1. Membaca Isi Al Quran

Membaca isi Al Quran adalah salah satu bentuk kita mengkondisikan diri dan berinteraksi degan Al Quran. Membaca Al Quran tentu bukan hanya sekedar membaca teks nya saja melainkan juga membaca makna dan isi dari Al-Quran. Walaupun dalam memahami dan menafsirkannya membutuhkan ilmu tersendiri, namun umat islam dapat mempelajarinya dan menanyakannya kepada ulama Al-Quran. Hal ini sesuai kedudukan dan fungsi Al Quran, sebagaimana ayat berikut:

“Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran” . (QS: Ibrahim :52)

[AdSense-B]

  1. Mencoba Mengamalkannya

Mencoba mengamalkan Al-Quran walau sedikit-sedikit tetap bisa membuat diri kita istiqomah bersama Al-Quran. Yang terpenting bukanlah pada hasilnya, namun proses konsisten dan peningkatan amalan terus menerus. Orang yang mencoba mengamalkan Al Quran tentu saja akan dipermudah jalannya oleh Allah.

  1. Menghayatinya Sebagaimana Allah berbicara kepada Kita

Menghayati Al-Qiuran selain membayangkan bagaimana isi dan maknanya juga bisa seakan akan Allah yang langsung berbicara kepada kita. Tentu perasaan seperti itu akan membuat kita semakin merasa di awasi dan diperingatkan oleh Allah secara langsung.

Bergabung dengan Orang-Orang yang Shaleh

Untuk membantu istiqomah dalam hal-hal kebaikan tentunya juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar kita. Lingkungan yang baik dan shaleh tentu akan membantu kita juga semakin semangat dalam mengamalkan kebaikan. Meskipun memang tidak selalu dalam lingkungan yang baik maka setiap orangnya akan baik. Akan tetapi hal ini dapat mempermudah kita mengkondisikan diri dan terus terpacu untuk konsisten atau istiqomah dalam amalan kebaikan.

[AdSense-C]

Orang-orang shaleh ini seperti ciri-ciri berikut ini:

  • Senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar
  • Mengajak untuk beramal shalih dan berlomba-lomba berbuat kebaikan
  • Mengajak berada dalam lingkungan yang baik dan kondusif
  • Tidak menjerumuskan pada aktifitas yang sia-sia
  • Senantiasa menjauhi untuk membicarakan keburukan orang lain

Jangan sampai kita menjadikan teman-teman kita atau lingkungan kita adalah orang-orang yang zalim, fasik dan mendekati kepada kekafiran. Hal ini sebagaimana yang disampaikan dalam Al-Quran sebagai berikut:

“Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan)”. (QS AL A’raf : 202)

Berusaha Menjalankan Amalan Walau Belum Sempurna

Menjalankan amalan secara sempurna memang tidaklah mudah namun bukan juga harus ditinggalkan ketikan hal tersebut sangat sulit. Hal ini sebagaiman disampaikan Allah dalam Al Quran.

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS Huud : 112)

Ketika amalan yang kita lakukan tidak sempurna tentu saja bukan menjadi kita berputus asa lantas kembali berbalik ke belakang. Menjalankan amalan baik bisa dilakukan sedikit-sedikit, walau tidak sempurna sambil jalan kedepan sekaligus memperbaikinya. Tidak ada manusia yang sempurna, yang terpenting adalah terus menerus memperbaiki diri dna tetap menjalankan amalan walau terdapat banyak kekurangan.

8 Penerima Zakat Dalam Islam

Zakat sebagai rukun Islam ketiga sebenarnya berkaitan erat dengan perintah beribadah (shalat) yang merupakan rukun Islam kedua. Itu artinya bahwa perintah beribadah (shalat) dan zakat adalah satu kesatuan yang utuh yang mempunyai tujuan untuk memurnikan kembali nilai tauhid dalam diri sekaligus mensucikan harta benda yang dimilki selama masih hidup.

Satu kesatuan antara kedua perintah ini tersebutkan dalam beberapa firman Allah SWT dalam Al Qur’an, yaitu:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al Mukminun: 1-5)

Dari arti kedua ayat tersebut dapat kita lihat bahwa perintah shalat dan zakat selalu dikaitkan menjadi satu sebagai perintah peribadatan kepada Allah SWT yang wajib dilaksanakan oleh umat Islam. Terutama melaksanakan shalat wajib.

Dalam Islam zakat sebenarnya terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Zakat Fitrah

Ialah zakat yang wajib dikeluarkan oleh umat Islam yang mampu pada bulan Ramadhan hingga batas hari terakhir terbenamnya matahari di bulan Ramadhan atau setidaknya sebelum melakukan shalat Idul Fikri sebanyak 1 sha’, yang setara dengan kurang lebih 2,5 kg beras.

Tujuannya ialah sebagai penyuci puasa yang telah dilakukan agar diterima di sisi Allah, sebagaimana dalam satu riwayat disebutkan bahwa puasa Ramadhan seseorang masih tergantung di langit hingga akhirnya dia membayar kewajiban zakat fitrahnya. Demikianlah kiranya riwayat tersebut berbunyi.

  • Zakat Mal (harta)

Ialah zakat yang wajib dikeluarkan dari penghasilan harta atau jeri payah kerja yang dilakukan selama 1 tahun. Tentunya apabila banyak atau kadar hasilnya sudah memenuhi syarat dari wajibnya mengeluarkan zakat mal. Jika tidak, maka tidak wajib mengeluarkannya.

Misalkan memiliki emas seberat 200 dirham (setara 5 awaq = 672 gram) dan sudah genap 1 tahun dimiliki, maka emas tersebut wajib dizakati sebesar 25% atau 1/40 (seperempat puluh) dari perhiasan emas tersebut. Hal ini dilakukan sebagai upaya penyucian harta yang dimiliki.

(baca juga: zakat dalam islam)

Lantas kepada siapakah kewajiban zakat itu diberikan?

Dalam ajaran Islam terdapat 8 golongan yang berhak menerima zakat tersebut. Tentunya dengan beberapa syarat dan kadar yang harus sesuai dengan syariat yang telah berlaku. Berikut 8 golongan (penerima zakat) tersebut menurut ajaran Islam, diantaranya:

  1. Kaum Fakir

Kebanyakan orang beranggapan bahwa orang fakir dan orang miskin adalah golongan yang sama, padahal tidaklah demikian. Fakir tidaklah sama dengan miskin. Fakir ialah orang yang tidak memiliki penghasilan sedikit pun. Kalau pun dia memiliki penghasilan, penghasilan tersebut tidak mencapai atau tidak menutupi separuh kebutuhan hidupnya.

Dalam ukuran orang Indonesia, golongan fakir bisa disematkan kepada para tunawisma, yaitu orang yang bahkan tidak memiliki tempat tinggal atau bisa juga disematkan kepada orang-orang yang bahkan untuk memenuhi kebutuhan makan seharu-hari pun mengalami kesulitan, seperti halnya hanya mampu makan sekali dalam sehari. Kalau pun mampu makan sehari sebanyak dua atau tiga kali sehari, itupun tidak setiap hari bisa dilakukannya, kemungkinan hanya 2 – 3 hari dalam seminggu.

Itulah kriteria orang fakir yang berhak menerima zakat, baik zakat fitrah maupun zakat mal (harta) yang wajib dikeluarkan oleh umat Islam yang mampu dan memenuhi syarat (artinya terbebas dari 8 golongan yang wajib menerima zakat).

  1. Kaum Miskin

Begitu pula dengan miskin, miskin tidaklah sama dengan fakir. Menurut sebagian ulama, kondisi orang miskin masih lebih baik dibandingkan orang fakir meskipun sebenarnya penghasilan yang mereka dapat juga tidak mampu mencukupi atau menutupi kebutuhannya.

Namun setidaknya mereka mampu untuk mencukupi kebutuhan makanannya sehari-hari. Dan setidaknya mereka memiliki kemampuan untuk mencukupi separuh dari kebutuhan hidupnya. Begitulah kriteria orang yang dikatakan miskin yang berhak menerima zakat, baik zakat fitrah maupun zakat mal (harta).
[AdSense-A]Meskipun sebenarnya para ulama sedikit mengalami perbedaan pendapat mengenai status fakir dan miskin ini. Di mana ada sebagian ulama yang menyebutkan bahwa kondisi fakir lebih parah dari miskin dengan alasan karena kata fakir disebutkan terlebih dahulu daripada kata miskin dalam sebuah ayat. Sedangkan sebagian yang lain menyebutkan bahwa kondisi miskin lebih parah dari fakir.

Adapun ayat yang dimaksud ialah QS. At-Taubah: 60, yang artinya:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk [1] orang-orang fakir, [2] orang-orang miskin, [3] amil zakat, [4] para mu’allaf yang dibujuk hatinya, [5] untuk (memerdekakan) budak, [6] orang-orang yang terlilit hutang, [7] untuk jalan Allah, dan [8] untuk mereka yang sedang dalam perjalanan”. (QS. At-Taubah: 60)

  1. Amil Zakat

Amil zakat ialah orang yang bertugas menangani dan mengurusi zakat. Berkat jasanya dalam bekerja mengurusi zakat tersebutlah dia berhak pula menerima zakat tersebut. Namun yang benar-benar disebut sebagai amil zakat di sini ialah orang yang memang berprofesi utamanya sebagai pengurus zakat.

Jikalau ada pekerjaan lainnya, namun pekerjaan tersebut hanya berupa sampingan yang tidak mengesampingkan profesi utamanya sebagai pengurus zakat.

Syarat lain dari seorang amil zakat yang berhak menerima zakat ialah amil yang benar-benar secara resmi diangkat oleh Negara, organisasi, lembaga maupun yayasan resmi yang mengurusi tentang perzakatan. Artinya pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan resmi bukan serabutan atau sampingan dan mendapat pengawasan yang resmi dari badan terkait.

  1. Mu’allaf

Mu’allaf ialah sebutan bagi orang yang baru masuk Islam. Sebagaimana disebut dalam salah satu firman Allah dalam Al Qur’an surat At Taubah: 60, yang artinya adalah “orang-orang yang hati mereka dilunakkan agar masuk Islam atau agar keimanan mereka meningkat, atau untuk menghindari kejahatan mereka.”

Adapun dari penjelasan di atas, mu’allaf dapat terbagi menjadi tiga golongan yang berhak menerima zakat, diantaranya:

  • Pertama: orang-orang kafir yang hati mereka sudah cenderung kepada Islam. Dalam artian mereka diharapkan agar bisa masuk Islam karena dengan masuknya mereka diyakini akan membuat Islam menjadi lebih kuat.
  • Kedua: orang-orang kafir yang diharapkan supaya menghentikan kejahatan yang dilakukannya kepada kaum muslim (Islam) dengan cara memeluk Islam sebagai agamanya.
  • Ketiga: orang-orang Islam yang lemah imannya karena baru saja masuk dan mengenal Islam agar supaya mereka tidak keluar lagi memeluk agama selain Islam, dalam artian kembali memeluk agama yang sebelumnya.

Itulah ketiga golongan kaum mu’allaf yang berhak untuk menerima zakat. (baca juga: manfaat menjadi muallaf)

  1. Fi ar-Riqab

Fi ar-Riqab adalah budak belian. Artinya kita memerdekakannya dari tuannya, yaitu dengan cara membelinya, lalu kemudian membebaskannya untuk menjadi orang yang merdeka. Bukan berarti kita memberikan uang ataupun beras kepada mereka.

Adapun untuk lebih jelasnya, Fi ar-Riqab terbagi menjadi tiga golongan, yaitu:

  • Pertama: Al-Mukatib, yaitu budak yang ingin bebas dari tuannya dengan cara membayar sejumlah uang kepada tuannya secara berangsur-angsur. Jadi zakat yang dimaksudkan untuknya adalah dengan cara membantu membayarkan sejumlah uang yang akan membebaskannya dari tuannya dan menariknya keluar dari dunia perbudakan. Caranya bisa memberikan langsung uang tersebut kepada tuannya atau memberikannya kepada budak tersebut untuk kemudian diserahkan kepada tuannya.
  • Kedua: membebaskan budak secara langsung dengan uang zakat tersebut, walaupun dia bukanlah al-mukatib. Artinya tidak membayarkan sejumlah uang demi memperjuangkan kebebasannya.
  • Ketiga: seorang muslim yang menjadi tawanan perang orang kafir, maka boleh membayar uang tebusan memakai uang zakat agar dia bisa terbebas.

Pada kasus pertama, misalkan uang yang diberikan kepada budak tidak dipergunakan untuk membayar kebebasannya melainkan digunakan untuk keperluan lain, maka uang zakat tersebut berhak untuk diambil kembali. Namun rasanya untuk zaman seperti sekarang ini perbudakan sudah dihapuskan dalam peradaban dunia manusia.

  1. Al-Gharimun

Al-Gharimun adalah orang yang terlilit hutang sehingga dia tidak mampu untuk membayarnya. Adapun golongan al-gharimun yang berhak menerima zakat terbagi menjadi dua, yaitu:

  • Pertama: orang yang dililit hutang karena bermaksud mendamaikan dua pihak yang sedang berselisih. Maka orang seperti ini memiliki hak untuk menerima zakat walaupun sebenarnya dia orang kaya sekalipun. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yang disampaikan kepada Qabishah bin Muhariq al-Hilali, yang berbunyi:

“Wahai Qabishah meminta-minta itu tidak boleh, kecuali bagi tiga orang, (diantaranya) adalah seseorang yang menanggung beban orang lain, maka dibolehkan dia meminta-minta sehingga menutupi hutangnya. Kemudian dia berhenti dari meminta-minta”. (HR. Muslim)

  • Kedua: orang yang dililit hutang untuk keperluan diri sendiri, seperti memenuhi nafkah keluarga, berobat, membeli sesuatu, dan lain-lain.

Sedangkan orang kaya yang terlilit hutang karena usaha bisnisnya, maka dia bukanlah jenis orang terlilit hutang yang berhak menerima zakat. Adapun syarat dan ketentuan lain dari seorang al-gharimun yang berhak menerima zakat, diantaranya:

  • Yang berhutang merupakan orang muslim.
  • Bukan termasuk ahlul bait, yaitu keluarga Nabi Muhammad SAW.
  • Bukan orang yang sengaja berhutang hanya karena ingin mendapatkan zakat.
  • Bukan orang yang masih mempunyai harta simpanan (tabungan atau barang-barang berharga lainnya) yang sebenarnya bisa digunakan untuk melunasi hutangnya.
  • Hutang tersebut membuat dia dihukum atau dipenjara.
  • Hutang tersebut harus dilunasi saat itu juga. Dalam artian bukanlah hutang yang masih bisa ditunda masa pelunasannya dalam tempo beberapa tahun lagi, kecuali jika memang hutang tersebut harus dilunasi pada tahun itu juga, maka dia berhak menerima zakat.
  1. Fi Sabilillah

Adapun yang dimaksud dengan fi sabilillah adalah orang yang berperang di jalan Allah untuk menegakkan agama dan kalimat Allah di dunia. Sehingga orang yang dimaksud fi sabilillah di sini, meliputi para mujahidin yang berperang melawan orang-orang kafir, pembelian alat-alat perang, dan keperluan lainnya yang digunakan untuk berjihad di jalan Allah. Mereka pun berhak menerima zakat sekalipun sebenarnya mereka adalah orang kaya.

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah hingga pulang”. (HR. Tirmidzi. Adapun hadits ini diakui sebagai hadits hasan, yaitu hadits yang baik)

Sebagian para ulama juga berpendapat bahwa orang-orang yang waktunya tersita untuk belajar ilmu agama sehingga tidak sempat untuk bekerja, maka mereka termasuk dalam golongan fi sabilillah karena ilmunya akan bermanfaat bagi agama dan umat muslim lainnya. Contohnya adalah para santri yang menutut ilmu di berbagai pesantren islam yang ada di Indonesia ini.

  1. Ibnu Sabil

Ibnu sabil ialah seorang musafir yang kehabisan bekal di tengah perjalanannya sebelum mencapai tujuan yang ditujunya. Sedemikian sehingga dia tidak mampu untuk melanjutkan perjalanan tersebut atau bahkan untuk kembali ke kampung halamannya sekalipun. Apabila demikian, dia berhak untuk menerima zakat meskipun sebenarnya dia adalah orang yang kaya di kampung halamannya. Zakat yang diberikan tentunya ialah secukupnya saja hingga dia mampu sampai ke tujuannya atau kembali ke kampung halamannya.

Demikianlah 8 golongan yang memiliki hak untuk menerima zakat, baik zakat fitrah maupun zakat mal (harta). Tentunya dengan sejumlah syarat dan ketentuan yang juga sudah disebutkan serta dijelaskan di atas.
[AdSense-B]Adapun untuk kasus zakat mal (harta), harta yang wajib dizakati bukan hanya dalam bentuk emas atau perhiasan saja namun juga harta lainnya seperti hewan ternak dan tanaman mata pencaharian. Tentunya dengan syarat, kadar, dan ketentuannya masing-masing sesuai aturan yang disebutkan dan diajarkan dalam Islam.

Sebagai tambahan, berikut cara dan hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembagian zakat kepada 8 golongan tersebut apabila yang membagikan adalah suatu lembaga khusus, diantaranya:

  1. Pemberian zakat kepada 8 golongan tersebut sesuai dengan yang ada di wilayahnya. Jikalau memang sebagian dari 8 golongan tersebut belum ada, maka sebaiknya simpanlah bagian mereka hingga mereka ada.
  2. Memberikan kepada semua personil dari setiap golongan tersebut yang ada di kota itu secara merata.
  3. Perataan zakat kepada personil dari setiap golongan tersebut dilakukan jika memang memungkinkan untuk dilakukan pemerataan karena banyaknya zakat yang tersedia. Jika tidak, maka harus bisa didahulukan kepada pihak-pihak atau golongan-golongan yang lebih membutuhkan, seperti mendahulukan fakir dan miskin daripada amil zakat.
  4. Jika lebih memungkinkan lagi dilakukan pemerataan hingga benar-benar merata, seperti contohnya uang zakat dengan jumlah Rp. 8.000.000,00- dibagikan kepada 8 golongan yang artinya setiap golongan mendapatkan jatah Rp. 1.000.000,00-. Namun dalam hal ini dilakukan pengecualian terhadap amil zakat karena mereka hanya berhak menerima zakat sesuai dengan upah dari hasil pekerjaan yang dilakukannya sebagai amil zakat. Jadi, jika uang zakat melebihi upah yang seharusnya, maka sudah seharusnya dikembalikan untuk diberikan kepada golongan lainnya yang lebih membutuhkan.

Terima kasih. Wallahu a’lam bish shawab.