8 Bahaya Riba di Dunia dan Akhirat

Segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT tentu mengandung maksud kebaikan di dalamnya. Allah melarang segala sesuatu yang biasanya mengandung kemaslahatan entah didunia maupun di akhirat nantinya. Diantara banyaknya perkara yang dilarang, maka riba menjadi salah satunya. Praktek ribawi merupakan dosa yang merusak. Namun sayangnya, praktek riba telah menjamur di masyarakat bahkan mustahil bagi kita untuk menuntaskan praktek ribawi secara tuntas.

Riba menjadi sebuah kata yang begitu akrab di telinga kita sehari- hari. Terutama bagi orang islam tentu riba merupakan kata yang cukup familiar dan yang pasti berarti buruk. Hingga kini ada banyak sekali jenis riba yang ada dimasyarakat mulai dari dalam bentuk pinjaman modal, jual beli barang, jasa  dan lain sebagainya.

Pengertian Riba 

Menurut bahasa,  pengertian riba memiliki beberapa pengertian yaitu:

  • Bertambah – Hal ini dikarenakan salah satu perbuatan riba yakni meminta tambahan atas sesuatu yang dihutangkan sebelumnya
  • Berkembang – Hal ini terjadi karena salah satu jenis perbuatan riba adalah membungakan harta yang berupa uang atau mungkin hal lainnya untuk kemudian dipinjamkan kepada orang lain.
  • Berlebihan – Berlebihan atau menggelembung merupakan salah satu pengertian riba karena adanya penambahan- penambahan beserta syarat tertentu.

Riba merupakan perbuatan tercela dimana para pelakunya akan diganjar dosa oleh Allah SWT dan sebaiknya kita memiliki cara menghindari riba . Menurut M Quraish Shihab, riba merupakan perbuatan untuk mengambil kelebihan atas modal dari yang butuh dengan mengekploitasi kebutuhannya. Sedangkan menurut Ibu Katsir, riba adalah menolong atau membantu, namun mencari keuntungan di balik pertolongan tersebut bahkan mencekik dan menghisab darah.

Dari 2 pengertian di atas tentu bisa diambil bukan? jika riba merupakan perbuatan tercela yang merugikan banyak orang. Riba juga dibahas dalam alqur’an yaitu pada Albaqarah ayat 275 -279. Tidak hanya Al baqorah, namun pembahasan tentang riba juga bisa ditemukan dalam surat Al- Imran ayat 7, An- nisa dan Ar- rum mengenai bahaya riba sebagai berikut :.

  1. Pelaku diancam dengan siksa api neraka

Di dalam praktek riba, tidak ada satupun manfaat yang bisa diambil atasnya. Ancaman bagi para pelaku riba adalah neraka. Ancaman yang begitu dashyat ini tidaklah main- main. Allah SWT menegaskan pelarangan riba pada QS. Ali Imran ayat 130 ‘ Hai orang- orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”

Memakan riba merupakan suatu perbuatan dosa karena riba memiliki dampak yang buruk bagi kehidupan dimana salah satunya adalah merugikan atau menyengsarakan orang lain. keberadaan riba akan semakin terasa jika bentuk penambahan atau bunga yang harus dibayarkan, semakin tinggi jumlahnya.

  1. Allah akan menghapus keberkahan untuk mereka para pelaku riba

Mereka para pelaku riba, merupakan  orang- orang yang diancam masuk ke neraka. Tidak hanya itu, namun Allah SWT juga mengancam para pelaku dengan tidak menerima keberkahan. Hal ini dijelaskan pada  surat Al- Baqarah ayat 275, 276 dan 278 dengan bunyi “ orang- orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya kemasukan syaitan lantaran (ekana) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual- beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual- beli  dan mengharamkan riba. Orang- orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya lalu terus berhentu (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang menguanginya (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni- penghuni neraka,  mereka kekal di dalamnya (275)

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa (276)

Hai orang- orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang- orang yang beriman (278)

Dalam ayat tersebut diatas, tentu telah jelas sekali jika Allah memerangi Riba dan menganjurkan manusia untuk saling bantu dalam bentuk sedekah.

  1. Penyebab krisis ekonomi

Para ahli ekonomi menyatakan jika bunga berbayar yang berlaku atas peminjaman modal atau riba merupakan penyebab utama terjadinya krisis ekonomi. Terlebih jika bunga yang harus dibayarkan terlalu tinggi, maka krisis ekonomi yang terjadi akan semakin besar dampaknya. Tingginya bunga atas Modal yang dipinjam entah perseorangan ataupun para pengusaha besar, membuat mereka mengeluh. Hasil yang mereka terima atas kerja keras yang dilakukan terkadang malah habis digunakan untuk membayar bunga pinjaman yang begitu tinggi.[AdSense-B]

  1. Retaknya hubungan persaudaraan

Riba ternyata juga menjadi salah satu pemicu retaknya hubungan persaudaraan. Bukan hanya meretakkan hubungan perorangan, namun riba juga memicu retaknya hubungan antar negara. Sebagai contohnya adalah negara Ingris dan Amerika. Hal ini dikarenakan Amerika menekankan bunga yang begitu tinggi pada negara peminjam. Terutama bagi antar saudara atau teman, saling meminjamkan barang kepada teman tanpa berlakunya syarat akan riba tentu lebih baik. Dibandingkan dengan riba, tentu sedekah jauh lebih baik. Orang yang gemar bersedekah, hidupnya akan dilimpahi keberkahan oleh ALLAH SWT.

  1. Pemicu kelebihan produksi

Taukah anda jika ternyata riba berhubungan erat dengan kelebihan produksi? Keberadaan riba membuat banyak orang berdaya beli rendah. Alhasil jasa serta persediaan barang yang telah diproduksi akan mengalami penumpukan. Jika terjadi secara terus menerus, maka proksi akan mengalami kemacetan. Jika sudah demikian, maka dampaknya akan kemana- mana. Mulai dari pengurangan tenaga kerja akibat perusaahaan yang tidak lagi berkembang. Akibatnya pengangguran akan bertambah banyak. Banyaknya pengangguran juga memicu terjadinya peningkatan tindak kriminal.

  1. Harta yang disedekahkan tidak akan berkah

Bahaya riba yang selanjutnya adalah para pelaku yang tidak mendapatkan pahala bahkan ketika mereka berinfaq. Seperti firman Allah pada QS. Ar-Rumm ayat 3 yaitu “ Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah dan apa yang kamu berikan berupa zakat dalam islam yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) Itulah orang- orang yang melipat gandakan (pahalanya)”

Jangan sampai niat anda untuk berbuat baik yakni infaq menjadi tidak berkah akibat hasil riba yang anda lakukan.

  1. Kebiasaan orang Yahudi

Riba ternyata merupakan salah satu kebiasaan buruk kaum Yahudi.  Jika kaum Muslimin melakukan Riba maka mereka telah mengikuti atau meniru apa- yang orang Yahudi lakukan. mereka yang demikian, akan mengikuti nasib kaum yahudi yang mendapatkan azab pedih di akhirat dengan siksa yang menyengsarakan di sana.[AdSense-C]

  1. Riba diperangi oleh Allah dan Rasul

Allah melaknat siapa saja yang melakukan riba. Bahkan di akhirat nanti, pelaku Riba akan dibangkitkan dalam keadaan gila dan kelak akan kekal di neraka. Ayat mengenai riba banyak di temukan didalam Alqur’an. Hal ini menandakan jika riba merupakan hal buruk yang membawa dampak negatif bagi kehidupan sehari- hari manusia. Meski demikian, riba masih banyak berkembang mengingat ekonomi penduduk yang belum merata serta terjadinya kesenjangan sosial yang begitu antar sesama. Andai sesama manusia mau peduli dengan sesamanya, maka yang namanya riba bisa berkurang atau bahkan hilang sama sekali.

Selagi anda masih diberi waktu, segera bertobat merupakan cara terbaik untuk menghindarkan anda dari murka Alah.

Riba merupakan salah satu perilaku buruk yang dapat  menimbulkan banyak sekali dampak buruk bagi kehidupan manusia seperti perilaku ghibah dalam islam. Riba yang dilakukan dalam skala besar, akan mampu membuat sebuah negara tersebut mengalami kebangkrutan akibat krisis sekonomi yang berkepanjangan. Inilah kenapa sistem riba harus segera dihilangkan karena akan menimbulkan bahaya riba bagi .

6 Cara Menghindari Riba

Sekarang ini terdapat banyak sekali jenis riba yang entah disadari atau tidak tengah menjamur di masyarakat. Hal ini menjadi sebuah realitas yang begitu menyedihkan mengingat riba merupakan hal yang diharamkan. Riba menjadi bagian dari sirkulasi ekonomi yang dianggap perlu sehingga biasa dilakukan.

Beragam jenis riba yang telah menjadi bagian sehari-hari dapat dengan mudah ditemukan seperti sewa rumah, kartu kredit atau bahkan sewa mobil. Riba membuat jumlah uang yang harus dibayarkan totalnya berubah-ubah tergantung dengan waktu pembayaran serta pada keadaan tertentu. (baca juga: pengertian riba)

Seperti yang tertulis dalam Al-quran, tentang larangan riba:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat-ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Ali Imran: 130)

Ada banyak orang yang mengangap riba merupakan hal biasa yang dapat  menguntungkan. Tagihan terutama yang didalamnya telah melibatkan riba menimbulkan banyak dampak negatif mulai dari fisik, emosional, psikologi hingga spiritual. Contoh yang paling nyata dalam kehidupan sehari-hari kita adalah adanya kartu kredit.

Penggunaan kartu kredit yang seharusnya digunakan untuk mempernyaman hidup malah terjadi sebaliknya. Mereka membuat pelanggan atau pemakai kartu berhutang pada mereka sehingga mereka dapat mengenakan bunga yang berlebih atau bahkan hingga tidak dapat dikendalikan pada para nasabahnya.

Jika sudah demikian, maka nasabah akan terlilit banyak hutang dengan tingkat bunga yang tinggi. Populernya kartu kredit umumnya juga tidak terlepas dari sifat konsumtif masyarakat. Banyak dari mereka yang menerapkan hidup boros sehingga ketika kekurangan uang, mereka akan mengambil jalan pintas yaitu menggunakan kartu kredit. (baca juga: hutang dalam islam)

Untuk mengatasi hal ini, tentu cukup dengan menghindari pola pikir konsumtif yang merugikan. Terapkan pola hidup dengan pengeluaran yang wajar dan masih dapat ditutupi oleh gajian bulanan kita.

Supaya dapat terhindar dari riba anda dapat menerapkan tips-tips yang berikut ini:

1. Kenali bahaya riba

Sudah jelas jika di dalam Islam riba merupakan hal yang haram. Riba membuat seseorang banyak dililit hutang akibat tingkat bunga yang tinggi. Keberadaan riba membuat hidup kurang nyaman dan tidak tentram akibat banyaknya hutang yang menumpuk dan harus di bayar.

Uang bulanan atau gajian yang seharusnya dapat digunakan untuk membeli kebutuhan malah habis digunakan untuk menutupi bunga yang ada. Dengan beragam bahaya riba tersebut tidak heran jika seseorang akan merasa gelisah dan banyak pikiran setiap saat.

2.     Cara yang halal bertransaksi

Langkah menghindari riba dapat anda lakukan dengan cara menggunakan cara yang halal ketika melakukan transaksi. Dalam hal ini tentu anda diharuskan mengerti betul bagaimana transaksi jual beli yang haram ataupun yang halal dalam Islam.

Berikut merupakan jual beli yang diperbolehkan dalam Islam yaitu:
[AdSense-B]

[accordion]
[toggle title=”Jual Beli dengan Dasar Sukarela” state=”opened”]

Jual beli yang diperbolehkan adalah ketika kedua belah pihak menyetujui aturan yang ditetapkan oleh kedua belah pihak. Dalam hal ini tentu tidak boleh ada paksaan sehingga salah satu pihak merasa dirugikan dan tertekan.

[/toggle]
[toggle title=”Berkompeten”]

Kecakapan atau kompetensi tentu diperlukan dalam jual beli. Hal ini diperlukan agar tidak ada pihak yang dirugikan akibat kurang kompeten sehingga pihak lain akan mengambil keuntungan darinya. Dalam hal ini tentu kejujuran merupakan hal yang penting. Bukan hanya sebelah pihak saja melainkan kejujuran dibutuhkan dan harus dilakukan oleh kedua pihak.

[/toggle]
[toggle title=”Barang yang Dijual Telah Memiliki Ijin”]

Dalam hal ini adalah kondisi barang yang diperjualbelikan merupakan barang pribadi dan bukannya milik orang lain. Adapun ketika barang tersebut merupakan milik orang lain, hendaknya orang yang akan menjualnya telah mendapatkan ijin dari si pemilik. Asal usul keberadaan barang harus jelas dan bukanlah barang hasil curian.

[/toggle]
[toggle title=”Barang Halal”]

Anda tidak boleh menjual barang haram yang memberi dampak buruk bagi si penjual maupun pembeli. Beragam barang haram yang tidak boleh diperjualbelikan adalah barang hasil curian, babi, patung, minuman keras, anjing dan barang-barang haram lainnya.

[/toggle]
[/accordion]

  1. Lakukan transaksi yang diperbolehkan

Transaksi yang diperbolehkan dalam Islam ada beberapa jenis transaksi, dimana salah satunya adalah transaksi mudharabah. Transaksi yang satu ini diperbolehkan untuk menghindari datangnya riba. Transaksi satu ini dapat dilakukan dengan cara kerjasama yang dilakukan oleh kedua belah pihak.

Salah stau pihak sebagai pemodal dan pihak lainnya sebagai orang yang menjalankan usaha. Transaksi ini dapat dilakukan dengan cara membagi hasil sesuai dengan yang disepakati. Ketika terjadi kerugian maka pihak pemodalah yang harus menanggung biaya kerugian sementara pihak lain tidak menanggungnya karena usaha dan tenaga yang dia kerahkan menjadi bagian dari kerugiannya.

Ada beberapa jenis transaksi lain yang dapat dilakukan untuk menghindari riba yaitu dengan cara salam dan muajjal. Transaksi salam adalah ketika jual beli dilakukan dengan cara melakukan pembayaran terlebih dahulu sementara barang yang diinginkan akan diberikan belakangan. Untuk transaksi muajjal, transaksi jenis ini dapat dilakukan dengan cara menaikan harga saat berlangsungnya transaksi.

(baca juga: bahaya hutang dalam islam)

  1. Berhutang pada lembaga khusus

Sekarang telah ada beberapa lembaga khusus yang menangani utang piutang tanpa riba. Hal ini dilakukan dalam rangka mewujudkan solidaritas antar umat. Selain masalah hutang piutang, maka bagi anda yang ingin menyimpan uang sebaiknya tidak menggunakan bank yang memberi bunga di dalamnya. Carilah bank syariah yang dijalankan dengan cara islami.

(baca juga: perbedaan bank syariah dan bank konvensional)

  1. Saling membantu

Saling bantu merupakan hal baik yang dapat dilakukan untuk menghindari riba. Ketika masyarakat saling bantu tentu taraf kehidupan dengan sendirinya akan terangkat sehingga kebutuhan ekonomi serta kesulitannya dapat teratasi.
[AdSense-C]Perbanyak sedekah dan membantu orang fakir merupakan hal baik yang tidak menyebabkan uang atau harta kita berkurang dan malah kebalikannya.

  1. Menanamkan sifat qonaah pada diri sendiri 

 Memiliki sifat qonaah dapat menghindarkan kita dari bahaya riba. Sifat qonaah dapat dilakukan dengan senantiasa bersukur atas apapun yang diberikan kepada anda. Sifat bersukur membantu anda agar terhindar dari perasaan serba kekurangan dan ingin hidup dalam kemewahan. Rasa ingin memiliki sesuatu dan mudah iri dengan apa yang dimiliki oleh orang membuat kita dengan mudah membeli barang walau dengan cara berhutang.

Berhenti menatap keatas dan mulailah melihat kebawah. Hal ini menghindarkan anda dari rasa kurang dan akan mulai bersukur anda tidak berada pada kondisi yang sangat kekurangan. Perlu diingat jika diluar sana ada banyak sekali orang yang kekurangan bahkan lebih dari kita.

Pengertian Riba, Jenis dan Larangannya dalam Islam

Menurut  bahasa, riba memiliki pengertian kelebihan, bertambah, berkembang, atau menggelembung. Menurut istilah, Syeikh Muhammad Abduh berpendapat bahwa yang dimaksud dengan riba ialah penambahan-penambahan yang dibebankan kepada orang yang meminjam harta seseorang akibat dari pengunduran janji pembayaran daripada batas waktu yang telah ditetapkan.

Sementara itu,  menurut Ibnu Katsir, menolong seseorang dengan tujuan mendapat keuntungan bahkan sampai mencekik dan menghisap darah (mengeruk dan memanfaatkan sehabis-habisnya) orang yang ditolong juga disebut sebagai riba.

Jenis – Jenis Riba

Adapun yang dinamakan dengan riba adalah terbagi ke dalam 4 bagian, yakni:

  1. Riba Fadhli

Ketika seseorang menukarkan barang tertentu dengan barang yang sama namun ada perbedaan pada timbangannya. Contoh: Si A menukarkan cincin emas 24 karat seberat 4 gram miliknya dengan emas 24 karat seberat 4 gram milik si B. Artinya, perbedaan berat 1 gram antara kedua barang itu adalah riba.

  1. Riba Qordhi

Ketika seseorang meminjam sesuatu, misal uang, pada orang lain tapi harus memberikan lebih ketika mengembalikannya. Contoh: si A mau meminjamkan uang Rp 100.000,- pada si B dengan syarat si B harus membayar sebesar Rp 110.000,- saat mengembalikan nanti. Kelebihan Rp 10.000,- itu adalah riba.

  1. Riba Yadi

Riba yang terjadi ketika seseorang melakukan jual beli dengan akad barang dan timbangan sama, namun sebelum terjadi serah terima si penjual dan pembeli telah terlebih dahulu berpisah. Contoh: si A menjual kentang yang belum dipanen (masih di dalam tanah) kepada si B.

  1. Riba Nasi’ah

Disebut riba nasi’ah ketika melakukan akad jual beli namun si pembeli menerima barangnya di kemudian hari (ada jeda waktu). Contoh: si A menjual padinya kepada si B sejak musim tanam. Lalu si B akan mengambil padi itu saat sudah musim panen nanti.

Larangan dan Hukum Riba

  1. Larangan Riba dalam Al-Qur’an, Allah SAW berfirman yang artinya;
  • “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran (tekanan) penyakit gila. keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. padahal Allah telah meng halalkan jual beli dan meng haramkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya lalu terus berhenti (dari mengambil riba) maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. mereka kekal didalamnya. Allah memusnakan riba dan menyuburkan orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (Q. S. Al-Baqarah: 275-276).
  • “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu. kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Q. S Al-Baqarah: 278-279).
  • “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapatkan keberuntungan. dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir.” (Q. S. Ali Imran: 130-131).

Adapun larangan riba di dalam Al-Qur’an tidak turun sekaligus melainkan terdiri dari empat tahap, yakni:

[accordion]
[toggle title=”Tahap pertama” state=”opened”]

Allah SWT ingin menunjukkan bahwa pemikiran manusia yang beranggapan bahwa mereka tengah menolong sesama tapi dibelakangnya ingin mendapatkan keuntungan adalah salah. Cara itu dulunya dipakai oleh manusia untuk menambah harta mereka dan memperkaya diri. Allah SWT berfirman yang artinya;

“Dan, sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar ia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan, apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridoan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).”(Q. S. Ar-Ruum : 39).

[/toggle]
[toggle title=”Tahap kedua”]

Pada tahap ini, Allah ingin menyampaikan bahwa apa yang telah diperbuat daripada riba itu merupakan sesuatau yang buruk. Allah SWT berfirman yang artinya;

“Maka, disebabkan kezaliman orang-orang yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik(yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih.” (Q. S. An-Nisaa’: 160-161).

[/toggle]
[toggle title=”Tahap ketiga”]

Pada tahap ini, Allah SWT menyampaikan bahwasanya riba menyebabkan tindak kezhaliman yang berlipat ganda,  terutama akan membuat sengsara bagi si peminjam yang harus dikejar waktu serta tambahan daripada pinjamannya. Allah SWT berfirman yang artinya;

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keuntungan.” (Q. S. Ali Imran : 130).

[/toggle]
[toggle title=”Tahap keempat”]

Merupakain rangkaian terakhir, yang mana pada tahap ini Allah telah menyatakan bahwa setiap rangkaian kegiatan dan perdagangan yang diiringi dengan riba, secara langsung maupun tidak langsung, berlipat ganda maupun tidak, besar maupun kecil, apapun jenis pertambahan yang didapat oleh si pemberi pinjama atau si penjual, hukumnya adalah haram.

Allah SWT berfirman yang artinya;

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum di pungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan, jika kamu bertobat dari pengambilan riba) maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.” (Q. S. Al-Baqarah: 278-279)

[/toggle]
[/accordion]

  1. Larangan Riba dalam Hadist
  • Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah SAW bersabda yang artinya; “Jauhilah tujuh perkara mubiqat (yang mendatangkan kebinasaan). Para sahabat lalu bertanya apakah tujuh perkara itu, wahai Rasulullah? Rasulullah SAW lalu menjawab menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan dibenarkan syariat, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan petempuran, melontarkan tuduhan zina terhadap wanita baik-baik yang lengah lagi beriman.” (H. R. Bukhari dan Muslim).
  • Dari Samurah bin Jundab RA, Rasulullah SAW bersabda yang artinya; “Pada suatu malam aku melihat dua orang laki-laki membawaku keluar sampai ke tanah suci. Kami berjalan bersama hingga kami sampai di sebuah sungai darah. Di sungai itu berdiri seorang laki-laki dan di tengah sungai ada seorang laki-laki. Di depannya terdapat batu-batu. Lalu laki-laki yang berada di sungai tadi berusaha keluar. Setiap kali ia hendak keluar dari sungai, maka laki-laki itu melemparkan baut ke dalam mulutnya sehingga ia kembali ke tempatnya semula. Setiap kali ia hendak keluar, laki-laki itu melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga ia kembali ke tempat semula. Aku bertanya, apa ini? Mereka berkata, laki-laki yang engkau lihat di sungai tadi wahai Rasulullah adalah pemakan riba.” (H. R. Bukhari).
  • Dari Jabir bin Abdilla RA; “Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, yang memberi riba, penulisnya, dan dua saksinya. Rasulullah lalu berkata mereka seluruhnya sama.” (H.R. Muslim).

Bahaya dan Dampak daripada Perbuatan Riba bagi Individu dan Masyarakat

1. Bersifat tamak

[AdSense-A]Riba memberikan serta menunjukkan bahwa pelaku (terutama) serta semua yang terlibat dalam perbuatan tersebut adalah orang-orang yang memiliki sifat tamak, keras hati, sangat terobsesi dengan harta kekayaan, dan hina.

2. Dosa riba lebih besar daripada zina

Dalam sebuah, Rasullullah SAW bersabda yang artinya; “Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (H. R. Ahmad dan Al-Baihaqi.)

3. Pelaku riba adalah orang yang memiliki hati dan jiwa yang kotor

Mereka tidak segan menindas orang yang tidak mampu demi memenuhi keserakahan mereka. Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda; “Tidaklah sifat kasih sayang itu diangkat kecuali dari seorang yang celaka.” (H. R. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Bahkan pertolongan yang mereka berikan hanya kedok daripada pemerasan yang sebenarnya menjadi tujuan utama mereka. Padahlal, Rasulullah SAW bersabda yang artinya;

“Barangsiapa meringankan satu kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitannya di duni , maka Allah akan meringankan kesulitan dari berbagai kesulitan yang akan dihadapinya pada hari kiamat kelak. Barangsiapa yang memberi keringanan bagi orang yang kesulitan, maka Allah akan memberi keringanan baginya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menyembunyikan aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat.” (H. R. Muslim).

Pertolongan yang diberikan oleh para pelaku riba sama sekali tidak meringankan orang lain, melainkan justru menambah beban berat dan menyengsarakan. Rasulullah SAW bersabda yang artinya;

“Barangsiapa memperhatikan orang yang ditimpa kesulitan dan menghilangkannya, maka Allah akan menaunginya dalam naungan-Nya.” (H. R. Muslim)

4. Disiksa Allah di hari akhir kelak

Allah SWT menyatakan bahwa mereka yang berbuat riba, akan dibangkitkan dalam keadaan gila, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya;

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Q. S. Al-Baqarah : 275).

5. Maraknya riba mengundang azab dari Allah SWT

Rasulullah SAW bersabda; “Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (H. R. Al Hakim).

6. Tidak ada mudaratnya

Harta riba tiada ada yang bermanfaat, justru Allah SWT akan menghancurkannya baik secara konkret (uang atau benda nyata), maupun yang sifatnya abstrak (berkah daripada harta tersebut). Firman Allah SWT yang artinya;

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Q. S. Al Baqarah : 276).

7. Menyebabkan krisis ekonomi 

Menurut pada ahli ekonomi, riba adalah penyebab utama terjadinya krisis ekonomi. Riba pula yang mengarahkan perekonomian kepada hal yang menyebabkan pemborosan dan menimbulkan over production.

8. Akhlak orang yahudi

Riba merupakan akhlak yang dimiliki oleh musuh Allah yakni orang-orang jahiliyah dan Yahudi. Firman Allah SWT yang artinya;

“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil, Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (Q. S. An-Nisaa’: 161).

9. Menghilangkan ketaqwaan

Karena perbuatan riba berarti menentang Allah SWT dan Rasul-Nya. Firman Allah SWT yang artinya;

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (Q. S. Ali Imran: 130-132).

10. Laknat Allah untuk orang yang riba

Semua yang terlibat dalam tindakan riba akan mendapat laknat Allah SWT. Nabi Muhammad SAW pun melaknat orang yang memakan harta riba, yang memberi riba, juru tulisnya dan kedua saksinya, Rasulullah berkata, “Mereka semua sama saja.” (H. R. Muslim).

11. Harta riba mengantarkan kepada kebinasaan dan murka Allah SWT

Rasulullah SAW bersabda;

“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan!” Para sahabat bertanya, “Apa sajakah perkara tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Syirik, sihir, membunuh jiwa yan diharamkan Allah kecuali dengan cara yang hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan pertempuran dan menuduh wanita mukminah berzina.” (H. R. Bukhari dan Muslim).

12. Riba merupakan perbuatan maksiat

Tidak ada bedanya dengan perbuatan maksiat lainnya yaitu ghibah, riba juga menjadi salah satu perbuatan maksiat yang Allah laknat. Allah SWT berfirman yang artinya;

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Q. S. An Nuur: 63).

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (Q. S. An Nisaa : 14).

13. Seluruh amal ibadah di tolak Allah SWT

Amal ibadah yang menggunakan harta atau apapun yang berunsur riba tidak akan diterima Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda; “Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik.” (H. R. Muslim).

Yang dapat menolak segala amal ibadah juga: riya’, syirik, dan sifat sombong.

14. Doa orang yang memakan riba tidak akan dikabulkan

Dalam hadist Nabai Muhammada SAW, “ada seseorang yang menengadahkan tangan untuk berdoa kepada Allah akan tetapi pakaian, makanan, dan minumanya yang ia gunakan adalah berasal dari barang yang haram. Bagaimana caranya doa itu akan dikabulkan?” (H. R. Muslim).

Maksudnya, Allah itu menyukai sesuatu yang baik, bagaimana Ia akan mengabulkan kalau hamba yang berdoa it menggunakan yang haram dan tidak disukai Allah?

15. Memakan harta riba berarti memasukkan sesuatu yang ar-raan ke dalam hati

Rasulullah SAW bersabda yang artinya;

“Ketahuilah di dalam jasad terdapat sepotong daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh badan. Namun jika ia rusak, maka rusaklah seluruh badan. Ketahuilah sepotong daging itu adalah hati.” (H. R. Bukhari dan Muslim).

16. Riba merupakan bentuk kezhaliman

Allah SWT berfirman yang artinya;

“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas memenuhi panggilan dengan mangangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong.” (Q. S. Ibrahim : 42-43).

17. Timbulnya kebencian terhadap sesama

Menimbulkan kebencian yang akan menjadi pemicu terjadinya pertikaian dan permusuhan antar individu, penyebab munculnya fitnah, serta penyebab terputusnya tali persaudaraan.

18. Menimbulkan kesengsaraan terutama pada mereka yang menjadi korban riba

Utamanya, korban riba adalah mereka yang memang kekurangan dan terpaksa meminjam uang kepada para penghisap darah Oleh karena pelaku riba adalah orang yang dalam artian mampu memberikan bantuan, mereka akan bertindak sekehendak hati tanpa peduli pada orang yang meminjam padanya.

Maraknya praktek riba sekaligus menunjukkan rendahnya rasa simpatik antara sesama muslim, sehingga seorang muslim yang sedang kesulitan dan membutuhkan lebih “rela” pergi ke lembaga keuangan ribawi karena sulit menemukan saudara seiman yang dapat membantunya.Menjamurnya praktik riba merupakan salah satu indikator yang menunjukkan merosotnya moral seorang muslim hingga turut melunturkan rasa tenggang rasa dan simpati antar sesama.

Di saat seseorang mengalami kesulitan, mereka yang lain tidak mau membantu karena merasa tidak ada keuntungan. Hal ini kemudian menyebabkan mereka yang memerlukan pertolongan justru lari kepada lembaga keuangan yang bersifat riba demi mendapat bantuan karena saudara seiman sudah tidak membantunya lagi. akhirnya, kaum muslim pun mudah terpengaruh oleh musuh dan musuh pun akhirnya dapat menguasai kaum muslim.
[AdSense-C]

Hal ini disebabkan karena tempat utama atau bank-bank yang banyak menerapkan sistem riba ini berada dipihak orang-orang non muslim yang kegiatan riba sudah menjadi kebiasaan dalam lingkungan mereka. Mereka memiliki dana yang banyak, sehingga muslim yang terjebak kemudian meminjam kepada mereka sehingga harta kita ada digenggaman orang kafir. Penyebab kaum muslim mudah terpengaruh musuh dan akhirnya musuh pun dapat menguasai.

Hal ini disebabkan karena tempat utama atau bank-bank yang banyak menerapkan sistem riba ini berada dipihak orang-orang non muslim yang kegiatan riba sudah menjadi kebiasaan dalam lingkungan mereka. Mereka memiliki dana yang banyak, sehingga muslim yang terjebak kemudian meminjam kepada mereka sehingga harta kita ada digenggaman orang kafir. Dapat dikatakan bahwa riba adalah jembatan yang sangat mulus bagi para kafir untuk menyerang dan menjajah Islam.

Pepatah Arab mengatakan; “Penjajahan itu senantiasa berjalan mengikuti para pedagang dan tukang fitnah.”

19. Terhalang kebaikan

Suatu kaum atau masyarakat yang memakan riba, akan terhalangi pada mereka untuk mendapat kebaikan.

Allah SWT berfirman yang artinya; “Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang lain dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (Q. S. An Nisaa’: 160-161).

20. Memperbudak hawa nafsu belaka

Praktik riba yang merajalela juga menunjukkan bahwa gaya hidup konsumtif dan kapitalis kaum muslim semakin tinggi, yang artinya mereka hanya memikirkan hawa nafsu dibandingkan dengan mentaati perintah dan menjauhi larang Allah SWT dan Rasul-Nya.

21. Janji bagi mereka para pelaku riba adalah neraka

Apabila tidak bertaubat. Allah SWT berfirman yang artinya;

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah: 275).

Juga, Nabi Muhammad SAW bersabda;

“Siapa saja hamba yang dagingnya tumbuh dari (makanan) haram maka neraka lebih pantas baginya.” ( H. R. At-Thabrani ).