Renungan Akhir Ramadhan (Amalan untuk Menebar Kebaikan)

Rasulullah SAW teramat mengagungkan di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Kita sebagai manusia yang penuh dengan dosa dan kesalahan, hendaknya juga lebih bersungguh-sungguh sehingga bisa mendapat pengampunan dari Allah swt dan untuk itulah kita juga perlu meniru Rasulullah saw dalam mengagungkan 10 hari terakhir ramadhan ini.

Di 20 hari pertama Ramadhan merupakan kesempatan kita untuk mengumpulkan ketaatan dan juga penyucian jiwa dengan melaksanakan kewajiban dan juga fadhoilul amal, sedangkan untuk 10 hari terakhir Ramadhan ini lebih dikhususkan untuk lailatul qadar yang merupakan malam-malam terbaik dari 1000 bulan dalam sejarah manusia.

Artikel terkait:

Bagi mereka yang beritikaf disunahkan untuk menggunakan waktu berdzikir, baca Al quran, shalat sunnah dan juga perbanyak tafakur mengenai masa lalu, hari ini dan masa yang akan datang serta perbanyak merenung hakekat hidup di dunia dan akherat. Orang yang beritikaf juga disarankan untuk menghindar dari hal tidak berguna seperti mengobrol dan bercanda yang akan mengganggu itikaf sebab itikaf memiliki tujuan untuk keutamaan bukan membuat diri sibuk pada hal yang tidak disunahkan.

Beritikaf dengan meninggalkan kewajiban dan tugas juga tidak dibenarkan sebab seseorang tidak pantas untuk meninggalkan sesuatu yang wajib atau sunnah. Saat sedang beritikaf maka diperbolehkan untuk meninggalkan tempat itikaf jika ada hal yang mendesak seperti makan, minum, mandi, berobat dan sebagainya.

Ada hikmah sangat besar di balik itikaf yaitu menghidupkan kembali sunnah Rasul saw sekaligus menghidupkan hati dengan cara taat serta beribadah pada Allah. Kegunaan itikaf lainnya adalah dengan merenungkan masa lalu dan memikirkan semua hal yang akan dikerjakan esok hari. Dengan beritikaf juga akan memberikan ketenangan, rasa tenteram dan juga hati penuh dosa yang akan diterangi oleh cahaya.

Itikaf adalah jalan bagi kita supaya bisa lebih dekat dengan Allah dan jangan sampai bulan Ramadhan hanya akan dilalui sambil terus melakukan aktivitas duniawi sekaligus lalai akan tanggung jawab serta tugas.

Artikel terkait:

Renungan di Akhir Bulan Ramadhan

Dengan bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan berlalu yang merupakan bulan suci penuh dengan kebaikan, maka kita berharap semoga Allah bisa menerima seluruh amal kebaikan yang sudah kita lakukan dan membuat kita itiqamah hingga nanti saatnya kita bertemu dengan-Nya.

Akan tetapi, meski Ramadhan sudah berlalu tetapi amal dari seorang mukmin tidak akan pernah putus dengan mudahnya sehingga mendatangkan kematian. (QS. Al-Hijr: 99), Allah Ta’ala berfirman: Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

  1. Mengikuti Puasa Enam Hari Bulan Syawal

Jika puasa Ramadhan sudah berlalu maka ibadah untuk puasa yang lain juga disyariatkan untuk sepanjang tahun. (HR. Muslim), Abu Said Al-Khudri RA meriwayatkan, bahwsanya Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa puasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan (puasa) enam hari pada bulan Syawal, maka hal itu laksana puasa setahun.

Artikel terkait:

2. Melakukan Puasa Sunnah

(HR. Bukhari dan Muslim), Dari Abu Hurairah RA berkata: Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku dengan tiga perkara: Puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dua rakaat dan supaya aku shalat witir sebelum tidur.

(HR. Muslim), Dari Abu Qatadah RA berkata, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Arafah, lalu beliau SAW menjawab: Menghapus dosa tahun lalu dan tahun mendatang. Kemudian  menurut (HR. Muslim), Dari Abu Qatadah RA , bahwasanya Rasulullah SAW ditanya tentang puasa pada hari Asyura, lalu beliau SAW menjawab: Menghapus dosa tahun lalu.

Selanjutnya, (HR. At-Tirmidzi dengan sanad shahih), Dari Abu Hurairah RA , dari Rasulullah SAW bersabda: Amalan-amalan dihadapkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka apabila dihadapkan amalanku ketika aku sedang puasa.

Artikel terkait:

[AdSense-C]

3. Melakukan Ibadah Qiyamulail (Ibadah Shalat Malam)

Jika Qiyam Ramadhan atau Tarawih sudah berlalu, maka ibadah Qiyamullail atau shalat malam juga disyariatkan setiap malamnya.

(HR. Bukhari dan Muslim), Dari Aisyah RA berkata: Bahwasanya Rasulullah SAW shalat malam sampai bengkak kakinya. Lalu akupun bertanya kepada beliau: Mengapa engkau lakukan ini -wahai Rasulullah- padahal telah diampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang Beliau menjawab: “Apakah tidak sepatutnya aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur!”. Kembali (HR. Muslim), Dari Abu Hurairah RA , bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu adalah shalat malam.

Kemudian (HR. Bukhari dan Muslim), Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Rabb kita tabaraka wa taala- turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Dia (Allah) berfirman: Siapa yang berdoa kepadaKu, Aku kabulkan doanya Siapa yang meminta kepadaKu, Aku beri permintaannya Siapa yang memohon ampunan kepadaKu, pasti Aku ampuni dia.

Artikel terkait:

Banyak amal kebaikan lainnya yang bisa kita sebagai umat muslim lakukan untuk sepanjang tahun dan Allah yang kita sembah di bulan suci Ramadhan juga merupakan Allah yang juga kita sembah di bulan Syawal serta beberapa bulan lainnya.

4. Melakukan Perintah Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW

(QS. Al-Mukminuun: 57-61), Allah–subahanahu wa ta’ala memuji orang-orang yang melakukan ketaatan kepadaNya dalam firmanNya: “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.”

(HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad), Ibunda’Aisyah –radhiallahu anha berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah –sallallahu’alaihi wa ‘ala alihi wasallam tentang ayat ini, aku berkata: Apakah mereka adalah orang-orang yang meminum khamr, berzina dan mencuri? Beliau–sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam menjawab: “Tidak, wahai puteri Ash-Shiddiq! Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat dan bersedekah dan mereka takut amal mereka tidak diterima (Allah –subahanahu wata’ala). Mereka itulah orang-orang yang bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan.”

(QS. Al-Maa’idah:27), SahabatAli –radhiallahu ‘anhu berkata: “Mereka lebih memperhatikan dikabulkannya amal daripada amal itu sendiri. Tidakkah kamu mendengar Allah –subahanahu wa ta’alaberfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (mengabulkan) dari orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Al-Maa’idah:27), Dari Fadhalah bin ‘Ubaid –rahimahullah berkata: Sekiranya aku mengetahui bahwa amalku ada yang dikabulkan sekecil biji sawi, hal itu lebih aku sukai daripada dunia seisinya, karena Allah –subahanahu wa ta’alaberfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (mengabulkan) dari orang-orang yang bertakwa.”

Artikel terkait:

[AdSense-B]

Lakukan I’tikaf sebagai Bagian dari Renungan Bulan Ramadhan

Ramadhan yang sebentar lagi akan berlalu selayaknya harus lebih dikhusyukkan untuk beribadah dan juga berdoa. Rasulullah saw sudah mengajarkan bagaimana cara mengakhiri bulan Ramadhan dan lebih mendekatkan diri pada Allah. Salah satu diantara sunnah Rasullulah saw yang pasti dilakukan saat terakhir Ramadhan adalah irikaf. itikaf mengartikan menetapi sebuah sesuatu hal dan lebih menahan diri supaya tetap dalam lindungan-Nya.

Allah berfirman, “Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang beri’tikaf (menyembah) berhala mereka, dan seterusnya” (QS al-A’raf : 138).

Sementara secara syar’i, itikaf memiliki arti seorang muslim yang menetap dalam masjid untuk beribadah pada Allah dan ulama juga setuju jika hukum itikaf adalah sunnah kecuali seseorang melakukan nadzar untuk melakukan hal tersebut maka hukumnya menjadi wajib. Ini juga diperkuat dalam hadits Umar bin Khaththab yang diriwayatkan Bukhari serta Muslim, Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan i’tikaf sejak tinggal di Madinah hingga akhir hayat beliau saw.

Itikaf ini disunahkan kapanpun, akan tetapi yang utama itikaf pada bulan suci Ramadhan terutama pada 10 hari terakhir dan ini merupakan waktu itikaf terbaik seperti yang sudah diriwayatkan dalam hadits (HR Bukhari dan Muslim), “Bahwasanya Nabi saw selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau”.

Artikel terkait:

Hendaknya, kita umat muslim lebih bersemangat dalam melakukan semua ketaatan sekaligus menjauhi semua larangan, keburukan dan juga dosa supaya kita semua bisa mendapatkan kebahagiaan serta sukses dunia akhirat. Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita dan membuat kita istiqamah sampai bertemu dengan-Nya.

Keutamaan I’tikaf di Bulan Ramadhan dan Manfaatnya

Itikaf adalah salah satu bentuk ibadah dan spiritual yang sering dilaksanakan saat bulan Ramadhan, khususnya adalah hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, itikaf dilaksanakan sambil menjemput datangnya malam lailatul Qadar. Tentu saja di malam ini semua orang berlomba-lomba untuk bisa mendapatkannya.

Sebagaimana Rasulullah contohkan, sebetulnya itikaf tidak dilaksanakan saat bulan Ramadhan saja, melainkan di luar bulan Ramadhan pun juga bisa untuk dilaksanakan. Rasulullah dalam hal ini pun mencontohkan.

Pengertian Itikaf

Itikaf adalah berdiam diri di masjid sambil melakukan evaluasi dan perenungan diri. Beberapa aktivitas yang bisa dilakukaan saat berdiam diri di masjid adalah aktifitas yang produktif, tidak membuat gaduh, namun tetap hikmat dan bernilai ibadah. Misalnya adalah:

  • Membaca Al-Quran dan Tafsirnya.
  • Berzikir.
  • Evaluasi Diri dan Perenungan.
  • Membaca Buku yang Bernilai.
  • Tadabur Al-Quran.
  • Dsb

Baca juga:

Itikaf tentu saja sangat bermakna jika dilakukan. Dengan itikaf kita juga bisa fokus pada amalan ibadah sebelum nantinya di waktu yang lain tentu kita akan disibukkan dengan berbagai pekerjaan dan aktivitas. Untuk itu, sangat dibutuhkan saat bulan Ramadhan untuk bisa mendapatkan kebermaknaan dan pengalaman spiritual salah satunya lewat ibadah itikaf.

Rasulullah mencontohkan itikaf dilakukan saat bulan Ramadhan, khususnya 10 hari terakhir sebelum Ramadhan atau saat masa lailatul qadar akan datang. Untuk itu, itikaf sangat dianjurkan karena dicontohkan oleh Rasulullah.

Manfaat dan Hikmah Itikaf

Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan dari itikaf. Itikaf tentunya bukan sekedar berdiam diri di masjid, melainkan ada sesuatu yang bisa kita dapatkan dari itikaf yang bisa menginspirasi dan memberikan makna dalam hidup kita. Berikut adalah manfaat dan hikmah dari i’tikaf bulan ramadhan.

[AdSense-B]

1. Evaluasi Diri

Evaluasi diri adalah hal yang paling sulit dilakukan oleh manusia walaupun itu terhadap dirinya sendiri. Akan sangat mudah kita mengevaluasi diri orang lain namun akan sulit jika kita mengevaluasi diri kita sendiri. Evaluasi diri seperti proses atau pegangan yang akan membawakan kita mencapai hikmah dan perbaikan diri. Tanpa evaluasi diri tentu saja manusia akan terjebak dan tersesat karena terbawa hanya oleh diri atau hawa nafsu pribadinya.

I’tikaf di Bulan Ramadhan membantu kita untuk mengevaluasi diri. Dengan itikaf kita akan berfokus pada diri kita dan menjauhi Sifat sombong dalam islam dan Sombong dalam Islam yang merusak akhlak.

2. Perenungan Tentang Hidup

Di masa itikaf kita juga bisa merenung banyak hal tentang hidup. Berada di dalam masjid membuat kita terkondisikan untuk mengingat Allah dan mengingat segala kebesarannya. Untuk itu, kita akan mengingat bahwa hidup kita banyak sekali dosa-dosa dan kesahalan baik yang disengaja ataupun tidak. Untuk itulah Allah memberikan kita kesempatan itikaf salah satunya untuk mengingat dan merenungi kehidupan.

Perenungan saat i’tikaf di Bulan Ramadhan ini juga bisa tentang masalah dunia dan akhirat, masalah kebahagiaan, masalah kesalahan di masa lalu, apa yang sudah kita lakukan dan apa yang sudah kita lalaikan. Di masa-masa selain bulan Ramadhan, tentu saja hal ini sulit kita lakukan. Untuk itulah, kesempatannya ada di bulan Ramadhan ini untuk melakukan perenungan atau penghayatan diri.

Baca juga:

3. Khusyuk Beribadah

Selama itikaf kita akan banyak berdiam diri di masjid dan dikeliingi oleh orang-orang yang juga khusyuk dalam beribadah. Selama beritikaf kita akan fokus pada bagaimana beribadah menghadap Allah SWT bukan lagi masalah-masalah keduniawian. Untuk itu, ibadah itikaf membantu kita untuk bisa melaksanakan shalat, puasa, dan tadabur Al-Quran dengan tetap khusyuk dan tumaninah.

Ibadah di hadapan Allah tentu hanya masalah ibadah ritual, tapi menuntut ilmu, mengisi rohani dengan pengetahuan agama, ceramah yang menyejukkan juga bisa termasuk kepada ibadah jika diniatkan untuk nantinya dilaksanakan demi kebaikan atau kemaslahatan.

Saat di luar bulan Ramadhan, banyak sekali aktivitas dan kesibukan kita yang terkadang tidak membuat kita khusuk. Untuk itu, kesempatan ramadhan ini atau pada saat itikaf ini adalah saat yang tepat untuk kita bisa khusyuk dan menjalankan perintah Allah dengan sebaik-baiknya.

Baca juga:

[AdSense-C]

4. Membangun Spiritual (Hubungan antara Allah dan Manusia)

Saat itikaf ini juga kesempatan untuk membangun spiritual diri yang kuat. Spiritual diri yang kuat bisa didapatkan dari ibadah-ibadah yang dilaksanakan dengan khusus dan perenungan diri yang kuat. Pengalaman spiritual ini tentu saja tidak akan bisa berdampak pada bulan-bulan setelah ramadhan jika dilaksanakan tanpa keikhlasan. Untuk itu, pengalaman spiritual bisa didapatkan dari itikaf yang tidak hanya sehari saja dan membutuhkan konsistensi serta keikhlasan dalam menjalankan.

Ada banyak sekali orang yang melakukan itikaf. Namun tentunya motif yang berbeda-beda. Untuk itu, spiritual harus dilakukan dengan niat yang lurus dan ikhlas agar mendapatkan pengalaman spiritual yang membuat kita semakin dekat dengan Allah SWT.

Baca juga:

5. Menjauhi Sejenak Hiruk Pikuk Dunia

Dengan melaksanakan itikaf kita bisa menjauh sejenak dari hiruk pikuk dunia dan membuat diri kita semakin fokus untuk beribadah. Pada saat itikaf kita tidak akan terkena hiruk pikuk dunia sebagaimana yang ada di tempat perbelanjaan atau tempat-tempat lainnya yang justru malah mengkondisikan umat islam untuk berbelanja atau menghabiskan uang.

Itikaf yang kita lakukan tentunya membuat kita banyak dikondisikan oleh lingkungan yang positif dan jauh dari kemaksiatan. Tentu akan berbeda jika kita menghabiskan waktu dengan berbelanja, sekedar berkumpul dengan teman-teman, tanpa ada orientasi yang jelas.

Dengan itikaf kita terkondisikan untuk banyak beramal shalih, berinfaq dan sedekah. Walaupun zakat adalah ibadah harta yang wajib, sedekah atau infaq juga menjadi kewajiban kita jika memiliki kelebihan harta. Untuk itu, menjadi kewajiban sosial yang harus dilakukan oleh mereka yang mam

Itikaf juga bisa menghilangkah Penyebab hati gelisah menurut islam, membuat doa dengan cara agar keinginan cepat terkabul. Itikaf juga salah satunya dengan dengan membaca asmaul husna, karena ada  manfaat asmaul husna yang sangat banyak.

Semoga kita bisa melaksanakan ibadah itikaf bukan hanya selama Ramadhan, melainkan di waktu-waktu lainnya untuk mengisi jiwa dan ruhani kita dengan metode berdiam diri di masjid serta memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah SWT.

Selain dari manfaat itikaf, ada juga ibadah lain yang bisa dilakukan dan terdapat manfaatnya seperti : Manfaat takbirManfaat Shalat Tarawih Manfaat Baca Al-quran Setiap Hari Manfaat TawakalManfaat Tahajjud Manfaat Asmaul Husna Manfaat Ucapan AlhamdulillahManfaat Toleransi Antar Umat Beragama, dsb.

Semoga kita senantiasa istiqomah untuk melaksanakan perintah Allah walaupun ramadhan telah berlalu, tapi istiqomah yang akan selalu kita jaga.

4 Cara Ampuh Menahan Nafsu di Bulan Ramadhan

Bulan ramadhan adalah bulan yang khusus dan Allah berikan sebagai salah bentuk kenikmatan bagi umat manusia. Selain pada bulan ini segala macam pahala dilpatgandakan, Allah pun juga memberikan perintah untuk menahan hawa nafsu selama ramadhan dengan menahan haus, lapar, dahaga, emosi, dan dorongan seksual.

Hal-hal seperti Hikmah Bulan Ramadhan beserta Hadisnya, Malam Terakhir Bulan Ramadhan,  Doa Puasa Ramadhan, Niat Puasa Ganti Ramadhan, dan Hukum Keramas Saat Puasa Ramadhan juga bisa ketahui agar ramadhan lebih bermakna.

Menahan hawa nafsu memang bukan perkara yang mudah. Rasulullah sendiri pun mengatakan bahwa melawan hawa nafsu adalah jihad paling sulit dibanding melawan musuh atau orang-orang yang ingin menghancurkan islam.

Untuk itu, Allah berikan bulan Ramadhan sebagai bentuk pelatihan agar umat islam bisa melatih mengendalikan diri, mengendalikan hawa nafsunya, dan mengisinya dengan nilai-nilai islam dan ibadah yang intensif.

Pengertian Menahan Nafsu di Bulan Ramadhan

Menahan hawa nafsu di bulan Ramadhan tentunya bukan perkara yang mudah. Banyak yang menyalah artikan hanya sekedar tidak makan dan minum. Akan tetapi dibalik itu semua menahan hawa nafsu saat ramadhan memiliki arti pengelolaan.

Hal ini Allah sampaikan dalam Al-Quran,

[box title=”” align=”center”]

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa),

sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Baqarah : 185)[/box]

Islam tidak melarang umatnya untuk makan dan minum serta memenuhi kebutuhan lainnya. Akan tetapi, semua fitrah tersebut harus dikelola dengan baik dan juga tidak berlebihan. Sering kali manusia menyalahkan arti-nya hingga merasa tersiksa atas perintah Allah SWT.

[AdSense-B]

Berikut adalah penjelasan mengenai menahan hawa nafsu di bulan ramadhan.

  1. Tidak Makan dan Minum

Saat berpuasa umat islam dilarang untuk makan dan minum dari mulai waktu shubuh hingga waktu magrib. Tentu saja Allah tidak memerintahkan manusia untuk tidak makan dan minum sama sekali. Saat proses menahan lapar dan dahaga ini manusia diuji dan dilatih agar terbiasa untuk mengelola dirinya tidak makan dan minum, dan saat berbuka atau sahur tidak makan dan minum berlebihan.

Makanan Halal adalah kebutuhan dasar manusia dan Makanan Haram Menurut Islam tentu bukan sebagai kebutuhan kita. Untuk itu, saat Ramadhan kita dilatih dengan bentuk menahan lapar dan dahaga sehingga jika terbiasa manusia akan terbiasa untuk mengendalikan dirinya termasuk masalah emosi dan nafsu lainnya.

  1. Tidak Berhubungan Suami Istri

Salah satu hal yang membatalkan puasa adalah berhubungan suami istri saat masih berpuasa. Saat malam hari setelah berbuka tentunya hal ini tidak membatalkan. Dengan berpuasa manusia dilatih untuk membiasakan diri menahan dirinya atas dorongan seksual yang muncul sehingga berharap tidak akan muncul perzinahan atau pergaulan bebas.

Walaupun kebutuhan suami istri secara biologis adalah Kewajiban Suami terhadap Istri dalam Islam, Kewajiban Istri Terhadap Suami dalam Islam dan termasuk Cara Membahagiakan Istri Tercinta saat berpuasa kebutuhan tersebut harus dikelola dan tidak boleh diaktuskan.

  1. Tidak Emosi Berlebihan

Di bulan Ramadhan, umat islam dilatih untuk terbiasa menahan emosinya tidak berlebihan. Marah, menangis atau terlalu sedih membuat pahala puasa kita tentu akan berkurang. Untuk itu, emosi berlebihan adalah hal yang dilarang saat berpuasa. Dengan siang dan pagi hari kita terbiasa melatih diri menahan emosi, tentunya akan membuat kita juga melatih diri kita di bulan-bulan selanjutnya.

Untuk bisa mengolah emosi kita juga bisa mengetahui Cara Menenangkan Hati Dalam Islam, Cara Membuat Hati Ikhlas dan Tenang, dan Cara Agar Hati Tenang Dalam Islam agar tidak muncul emosi yang melonjak.

  1. Mengisi dan Mengalihkan Nafsu dengan Ibadah

Saat bulan ramadhan, ibadah-ibadah yang kita laksanakan tentu akan menambah pahala kita bahkan Allah melipatgandakan pahala kita. Untuk itu, segala macam dorongan nafsu dan emosi kita saat bulan Ramadhan tentu akan diganti dan diisi dengan ibadah. Dengan begitu, amalan kita semakin banyak dan menghindarkan dari perbuatan maksiat.

Cara Agar Mampu Mengelola Hawa Nafsu di Bulan Ramadhan

Menahan hawa nafsu tentunya adalah hal yang sulit jika tidak bisa mengelolanya dengan baik. Untuk itu, hawa nafsu bukan hanya sekedar ditahan namun harus dikelola. Hal ini dikarenakan manusia tidak mungkin bisa menghilangkan nafsunya sebagai fitrah yang diberikan oleh Allah SWT.  Berikut adalah tips agar mampu mengelola hawa nafsu di bulan Ramadhan.

  1. Mengisi dengan Aktifitas Produktif

Untuk bisa mengelola hawa nafsu maka salah satu caranya adalah tidak mendekati hal-hal yang bisa membuat kita melakukan hal yang membatalkan puasa tersebut. Untuk itu, kita harus mengisi aktivitas dengan hal-hal yang produktif, tidak berdiam diri, melamun atau pikiran kosong apalagi mendekati hal yang membatalkan puasa atau mengeluarkan hawa nafsu kita.

Dengan melakukan aktifitas produktif kita bisa mengalihkan dorongan hawa nafsu. Apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan teralihkan dengan fokus yang beralih.

  1. Berkumpul dengan Orang-Orang Shaleh

Berkumpul dengan orang-orang shaleh adalah hal yang bisa mengondisikan diri kita secara praktis untuk mengalihkan diri dari dorongan hawa nafsu. Dengan berkumpul bersama orang-orang shaleh kita akan berdiskusi, berinteraksi, dan juga melakukan aktifitas yang juga mengandung kebaikan.

Bersama dengan orang shaleh, kita juga bisa meningkatkan Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, Akhlak Dalam Islam, Hubungan Akhlak dengan Iman, Cara Meningkatkan Akhlak,  dan memahami Tasawuf Akhlaki lewat diskusi yang terjalin bersama.

Berkumpul bersama orang-orang shaleh tentunya membuat kita juga terdorong dan lebih semangat untuk mengisi aktifitas kebaikan. Dengan mereka juga kita akan saling mengingatkan dan saling menjaga dalam nilai-nilai islam. Dengan begitu, kemaksiatan atau hawa nafsu tentunya akan terhalang oleh kebersamaan dengan orang-orang shaleh.

  1. Tidur Lebih Baik dibanding Bermaksiat

Dalam sebuah hadist Rasulullah pernah menyampaikan bahwa ketika bulan Ramadhan tidur seseorang pun bisa mendapatkan pahala kebaikan. Hal ini tentu baik karena menjauhkan dari kemaksiatan. Akan tetapi dibanding tidur tentunya ibadah dan amalan yang produktuf lebih baik.

  1. Membuat Target Selama Bulan Ramadhan

Untuk bisa mengalihkan atau menahan hawa nafsu, maka hendaknya kita membuat target selama bulan ramadhan. Dengan target atau tujuan yang dimiliki kita akan lebih fokus pada hal target tersebut dibanding dengan apa yang kita inginkan atau dorongan hawa nafsu yang hadir.

[AdSense-C]

Demikian ulasan terkait dengan bagaimana menahan hawa nafsu selama bulan Ramadhan, semoga kita mampu menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa hingga hari kiamat nanti, Aamiiin.

6 Hikmah Bulan Ramadhan beserta Hadisnya

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat di atas adalah salah satu yang menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang memiliki banyak keutamaan. Keutamaan bulan Ramadhan tentu saja akan dapat dirasakan oleh mereka yang melakukan puasa, bukan yang tidak.

Hal ini sebagaimana disampaikan dari Rasulullah SAW, ”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.”

Untuk itu, sebagai bulan yang istimewa, tentunya bulan Ramadhan memiliki banyak hikmah dan kebaikan yang bisa dipetik. Berikut adalah beberapa hikmah Ramadhan yang dapat kita petik.

Kebaikan dan Hikmah Bulan Ramadhan Ramadhan

Ada banyak sekali kebaikan dan hikmah yang didapatkan saat bulan Ramadhan. Tentu saja hikmah dan kebaikan ini berbeda-beda setiap orang tergantung dari pengalaman spiritual masing-masing. Namun, hikmah-hikmah ini adalah hal-hal yang dapat diambil secara umum dari adanya bulan Ramadhan.

  1. Pahala Berlipat Ganda

Bulan ramadhan adalah bulan yang berlipat Ganda akan pahala. Bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk membiasakan diri beribadah. Untuk itu, tidak salah jika Allah memberikan pahala yang dilipatgandakan saat bulan ini. Ditambah lagi dengan aktivitas puasa ramadhan, tentu menjadi suatu proses melatih kesabaran.

Di bulan ini, tentu saat yang tepat untuk membiasakan diri beribadah dengan motivasi yang besar. Tentu ramadhan tidak datang setiap bulan, untuk itu kesempatan ini harus benar-benar dioptimalkan oleh seluruh ummat islam di dunia.

Hal ini sebagaimana disampaikan dalam hadist berikut,

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi” (HR. Muslim)

  1. Malam Lailatul Qadar

Malam lailatul qadar adalah malam saat diturunkannya Al-Quran. Untuk itu, keutamaan ini berada di bulan Ramadhan. Malam lailatul qadar adalah malam yang dimuliakan Allah dan beribadah di dalamnya seperti 1000 tahun beribadah. Al Quran di bulan ini adalah memiliki sejarah turunnya dan manusia diberikan cahaya kehidupan atas petunjuk Al-Quran yang diturunkan.

Hal ini sebagaimana Allah sampaikan dalam Al-Quran,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. “ (QS Al Qadar 1-5)

Di Ayat lain, disampauikan pula mengenai malam turunnya Al-Quran. “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami” (QS Ad-Dhukhan : 3-5)

  1. Semangat Lebih Untuk Beribadah

Hikmah di bulan Ramadhan adalah kita akan memiliki semangat lebih untuk beribadah. Hal ini dapat dirasakan karena berbagai kegiatan di lingkungan, masjid, dan sekitar kita atau bahkan di media-media yang ada mengkondisikan itu untuk lebih banyak beribadah. Mungkin saat bulan biasa, masjid sepi dan menjadi ramai saat bulan Ramadhan. Hal ini tentunya menjadi semangat
[AdSense-B]

  1. Lingkungan Menjadi Kondusif dan Religius

Lingkungan sekitar menjadi kondusif dan religius saat memasuki bulan Ramadhan. Acara-acara ceramah, spiritual, ibadah, kegiatan islam, tontonan banyak menampilkan religiusitas yang sangat tinggi. Bahkan mendadak artis-artis atau public figure pun turut meramaikan suasana ramadhan ini.

Andai saja setiap bulan adalah bulan Ramadhan tentu keberkahan dan ajaran islam akan semakin menancap di umat islam seluruh negeri.

  1. Saling Berbagi dan Memaafkan

Di bulan Ramadhan ini umat islam saling berbagi dan memaafkan, untuk itu situasi seperti ini jarang sekali didapatkan saat bulan-bulan biasa. Saat Ramadhan, orang-orang dengan mudah berbagi makanan, menyantuni anak yatim dan piatu, berbagi bingkisan dan saling membahagiakan. Sungguh indah jika hal tersebut terus menerus dijaga dan dipelihara walaupun bukan dalam bulan Ramadhan.
[AdSense-C]

  1. Meningkatnya Ekonomi Islam

Dengan adanya bulan Ramadhan ini, ekonomi islam akan menjadi meningkat. Hal ini dikaenakan pembayaran zakat, infaq, sedekah, dan dana amal lainnya sangat banyak diberikan di bulan ramadhan ini oleh umat islam sebagai bentuk pembersihan harta dan melakukan amal perbuatan baik. Untuk itu menjadi berkah bagi peningkatan ekonomi islam.

Tentunya, zakat, infaq, sedekah, dan dana amal lainnya adalah sumber dari pembangunan ekonomi ummat. Biasanya ummat muslim menunggu hingga waktu ramadhan untuk dapat menyalurkannya. Sebetulnya tidak perlu menunggu ramadhan, walaupun memang momentum ramadhan adalah bulan yang pas untuk membersihkan diri, harta, dan jiwa kita. Ramadhan menjadi berkah bagi ummat islam karena adanya hal tersebut.

Jika dilihat dari berbagai hikmah yang ada, semua hikmah ramadhan menunjang pada tercapainya Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam di muka bumi.

Sebagai pelatihannya, tentu berpuasa tidak hanya bisa dilakukan di bulan ramadhan. Ada banyak puasa sunnah yang bisa dilakukan di luar ramadhan, diantaranya adalah