Hukum Wanita Memakai Emas Dalam Islam

Dalam Islam, Allah SWT. telah mengatur segala sesuatunya, termasuk cara mempercantik diri menurut Islam bagi kaum muslimah, tata cara dalam berpenampilan bagi muslimah, cara berpakaian wanita muslimah, dan tata cara berhias diri bagi kaum muslimah. Islam pun telah menjelaskan mengenai hukum memakai perhiasan dalam Islam bagi wanita dan pria, dan didalam hukum tersebut Allah telah memperbolehkan para wanita untuk memakai perhiasan sebagai bentuk usaha untuk mempercantik diri selama itu masih dalam batasan wajar.

Lalu apakah di dalam Islam seorang wanita boleh memakai perhiasan berupa emas?

Pertanyaan tersebut pasti pernah timbul dalam benak kita sebagai seorang muslimah. Dan berikut sedikit ulasan mengenai persoalan tersebut.

Wanita Memakai Emas Menurut Islam

Dalam memperindah penampilannya, para kaum muslimah seringkali mengenakan aksesoris sebagai alat penunjang, seperti gelang, kalung, cincin atau anting-anting, dan aksesoris-aksesoris tersebut seringkali terbuat dari bahan emas. Dan apakah dalam Islam wanita diperbolehkan memakai perhiasan berupa emas? Berikut sedikit ulasannya :

Dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW. mengambil sutera yang kemudian beliau meletakannya pada tangan kanannya, lalu beliau mengambil emas dan diletakkannya emas tersebut ditangan kiri beliau. Lalu Rasulullah SAW. bersabda :

“Sesungguhnya kedua benda ini (sutera dan emas) diharamkan bagi laki-laki dari umatku.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i)

Dalam hadits tersebut dijelaskan, bahwa hukum pria memakai emas menurut Islam adalah haram dan tidak diperbolehkan, dan dalam hadits tersebut hanya pria yang disebutkan dan dilarang memakai emas dan sutera. Itu berarti wanita diperbolehkan untuk memakai perhiasan, baik yang berupa emas ataupun perak.

Para ulama salaf pun telah menukil kesepakatan (ijma’) tentang diperbolehkannya wanita memakai perhiasan emas, sebagai berikut :

Dari An-Nawawi rahimahullah, ia berkata :

“Diperbolehkannya bagi wanita memakai sutera serta berhias dengan perak dan emas dengan ijma’ (kesepakatan) berdasarkan hadits-hadits yang shahih.”

Dan dari An-Nawawi, ia berkata :

“Kaum muslimin telah bersepakat bahwa diperbolehkan bagi wanita memakai beraneka ragam perhiasan dari perak dan emas, seperti : kalung, cincin, dan gelang, dan semua perhiasan yang dipakai dileher dan lainnya. Dalam hal ini tidak ada perselisihan sedikitpun.”

Dari Al-Hafidz Ibnu Hajar, ia berkata :

“Rasulullah SAW. telah melarang kami dari tujuh macam perkara. Dan beliau melarang kami dari memakai cincin emas (Al-Hadits).” [AdSense-C]

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ad Daruqutni dan dishahihkan oleh Al-Hakim, dari Ummu Salamah ra. : Ummu Salammah memakai gelang kaki dari emas, kemudian ia berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, apakah ini kanzun (harta simpanan) ?” Rasulullah pun bersabda, “Apabila engkau menunaikan zakat gelang kaki emas itu, maka itu tidaklah termasuk harta simpanan.”

Dan dari Aisyah ra., ia berkata :

”Aku mempersembahkan sebuah perhiasan kepada Rasulullah SAW. yang dihadiahkan oleh seorang An-Najasyi (Raja Habasyah) kepada beliau. Dalam perhiasan itu terdapat cincin emas permata habsyi. Kemudian beliau mengambilnya dengan ranting yang di ulurkan atau dengan sebagian jari-jarinya. Kemudian beliau memanggil Umamah binti Abul ‘Ash, yaitu anak dari Zainab(putri Rasulullah). Lalu beliau bersabda : “Berhiaslah dengan ini wahai cucuku.” (HR, Abu Daud)

Dalam Islam, wanita diperbolehkan memakai emas, bahkan sejak pada zaman Rasulullah SAW. Namun, ada zakat yang harus ditunaikan atas emas tersebut. Seperti yang diriwayatkan dalam sebuah hadits berikut. Dari ‘Amr bin Syuaib, dari bapaknya, dari kakeknya :

Seorang wanita mendatangi Rasulullah SAW. bersama dengan putrinya. Dan ditangan putri wanita tersebut terdapat dua buah gelang emas yang tebal, kemudian Rasulullah berkata kepada wanita tersebut, “Sudahkah engkau memberikan zakat pada gelang ini?” wanita tersebut menjawab tidak. Lalu Rasulullah SAW. bersabda “Apakah engkau senang jika Allah memakaikan gelang padamu dengan keduanya pada hari kiamat dengan dua gelang dari api neraka?” Kemudian wanita tersebut melepaskan gekang itu dan menyerahkannya kepada Rasulullah SAW. dan berkata, “Dua gelang ini untuk Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

[AdSense-B] Sedangkan, Islam tidak memperbolehkan para kaum pria untuk memakai perhiasan emas. Seperti yang dikatakan oleh An-Nawawi :

“Diharamkan cincin emas bagi para laki-laki dan terhapusnya (hukum) diperbolehkannya pada permulaan Islam.”

Jadi, hukum memakai emas bagi wanita menurut Islam adalah halal atau diperbolehkan, namun sebagai wanita yang baik menurut Islam, alangkah baiknya dalam berhias diri tidak berlebihan dan tetap mengikuti tata cara yang benar, tetap berpedoman pada sumber syariat Islam dan tidak lepas dari dasar hukum Islam. Karena sebagaimana yang kita ketahui, bahwa Allah SWT. tidak menyukai segala sesuatu yang berlebihan.

Sekian, semoga bermanfaat (:

Hukum Pria Memakai Emas dalam Islam

Sekarang ini, banyak sekali kita melihat jika pemuda muslim sudah sangat berlebihan dalam berhias bahkan sampai melebihi para wanita muslimah dalam urusan berhias. Allah dan Rasulullah padahal sudah mengharamkan hal ini untuk kaum muslim supaya tidak melakukan sesuatu yang berlebihan dalam segala hal khususnya dalam urusan berhias. Dalam ulasan kali ini, kami akan membahas secara tuntas mengenai bagaimana hukum memakai emas bagi pria dalam Islam entah itu dalam bentuk kalung, gelang, cincin, anting, gigi palsu dan sebagainya.

Artikel terkait:

Hadits Keharaman Memakai Emas Untuk Pria

Dalam Islam memang tidak ada satu ayat yang ada dalam Al-Qur’an yang menjelaskan secara nyata atau shorih mengenai keharaman emas untuk kaum pria. Akan tetapi ada beberapa hadits shahih dari Rasulullah SAW yang adalah sumber hukum kedua dalam Islam yang sudah menyebutkan dengan jelas mengenai keharaman pria memakai emas begitu juga halnya ijma’ dari para ulama dan pendapat ulama salaf dalam hal ini.

  1. Dari Ibnu Abbas

Rasulullah melihat seorang laki-laki memakai cincin emas. Beliau mencabut cincin emas itu lalu membuangnya seraya berkata, “Apakah salah seorang diantara kamu sudi meletakkan bara api ditangannya?” Setelah Rasulullah pergi, ada yang berkata kepada lelaki itu, “Ambillah cincinmu! Engkau dapat memanfaatkannya!” Ia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mengambilnya lagi, sebab Rasulullah telah membuangnya.” (HR. Muslim)

  1. Dari Abdullah bin Amru bin ‘Ash

Dari Abdullah bin Amru bin ‘Ash dalam hadits marfu’ tertulis, “Barangsiapa diantara umatku yang memakai perhiasan emas, lalu ia wafat sedang ia masih memakainya, pasti Allah haramkan emas-emas jannah atasnya. Dan barangsiapa yang memakai sutra dari umatku, lalu ia wafat sedang ia masih memakainya, niscaya Allah  haramkan atasnya sutra-sutra jannah.” (HR. Ahmad, dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Al-Albany).

baca juga:

  1. Dari Umar bin Khattab

Rasulullah melihat seorang Shahabat memakai cincin emas, lalu ia berpaling darinya. Shahabat itu pun membuang cincinnya dan menggantinya dengan cincin dari besi. Maka Rasulullah  berkata kepadanya, “Ini lebih buruk lagi! Ini adalah perhiasan penduduk neraka! “ Shahabat itu membuangnya dan menggantinya dengan cincin dari perak. Setelah itu Rasulullah membiarkannya. (HR. Ahmad)

  1. Ali bin Abi Thalib

Aku telah melihat Rasulullah mengambil sutra dan meletakkannya ditangan kanannya dan mengambil emas lalu meletakkannya ditangan kirinya. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya dua hal ini (sutra dan emas) diharamkan atas kaum laki-laki dari umatku”. (HR. Ahmad : I/115, Abu Dawud : 4058, An-Nasa’I : VIII/160, dengan sanad hasan)

baca juga:

  1. Dari Abu Musa Al-Asy’ary

“Telah diharamkan pakaian sutra dan emas atas kaum laki-laki dari umatku dan dihalalkan atas wanita-wanita muslimah mereka”. (HR. At-Turmudzi : 1720, ia berkata sanadnya hasan shahih)

[AdSense-B]

  1. Dari Hudzaifah

Rasulullah telah melarang kami untuk minum dengan bejana yang terbuat dari emas dan perak dan juga makan dengannya, dan melarang kami juga untuk memakai pakaian yang terbuat dari sutra dan dibaja dan duduk diatasnya”. (HR. Bukhari: 5834).

baca juga:

  1. Dari Barra’ bin Azib ra

Barra’ bin Azib ra mengatakan, “Rasulullah saw memerintahkan kami untuk melaksanakan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara. Beliau memerintahkan kami menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang bersin (mengucap yarhamukallah), melaksanakan sumpah dengan benar, menolong orang yang teraniaya, memenuhi undangan dan menyebarkan salam. Beliau melarang kami dari cincin atau bercincin emas, minum dengan wadah dari perak, hamparan sutera, pakaian buatan Qas (terbuat dari sutera) serta mengenakan pakaian sutera baik yang tebal dan tipis.” (Shahih Muslim No.3848)

  1. Hudzaifah bin Yaman ra

Hudzaifah bin Yaman ra mengatakan, “Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian minum dalam wadah emas dan perak dan jangan mengenakan pakaian sutera sebab pakaian sutera itu untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kalian di akhirat pada hari kiamat.” (Shahih Muslim No.3849)

Artikel terkait:

Pendapat Ulama Tentang Hukum Pria Memakai Emas

Berikut ini ada beberapa pendapat dari para tokoh ulama terkait bagaimana hukum islam bagi seorang pria yang menggunakan emas, antara lain:

  1. Imam An-Nawawi Rahimahullah

Imam An-Nawawi Rahimahullah mengatakan, “Adapun memakai cincin emas maka ia adalah haram bagi kaum laki-laki menurut Ijma’ (kesepakatan) Ulama’. Begitu pula kalau sebagiannya terbuat dari emas, sedangkan sebagiannya yang lain dari perak, maka ini juga adalah haram. Bahkan shahabat-shahabat kami berkata: Jika mata cincin tersebut terbuat dari emas walaupun sedikit, maka ini juga adalah haram berdasarkan keumuman hadits-hadits diatas.”

  1. Imam Al-Hafidz Abul ‘Ula Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al-Mubarakfury

Imam Al-Hafidz Abul ‘Ula Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al-Mubarakfury berkata, “Sabda Rasulullah “Telah diharamkan pakaian sutra dan emas atas kaum laki-laki dari umatku” Dan ini berlaku bagi kaum laki-laki secara umum termasuk anak bayi laki-laki, karena keumuman hadits tersebut. Sekalipun anak bayi laki-laki tersebut belum termasuk Ahlut Taklif (yang terkena hukum taklify atasnya) maka diharamkan (bagi siapa saja) untuk memakaikan sutra dan emas atas mereka.

baca juga:

  1. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

[AdSense-A] Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengatakan, “Hadits-hadits diatas yang bersumber dari Shahabat Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Anas bin Malik, Abu Musa Al-Asy’ary dan Shahabat Hudzaifah bin Yaman Radiyallahu ‘Anhum semuanya menunjukkan haramnya memakai emas dan sutra bagi kaum laki-laki. Adapun dihalalkannya emas dan sutra bagi kaum wanita muslimah, beliau berkata: Adapun hikmah dari penghalalan emas dan sutra bagi wanita muslimah adalah karena mereka wanita muslimah membutuhkan hal itu dalam memperhias (mempercantik) diri mereka untuk suami-suami mereka, maka dihalalkan itu semua atas mereka. Akan tetapi kaum laki-laki tidak membutuhkan semua itu, maka dengan ini diharamkan atas mereka pakaian yang terbuat dari emas dan sutra.

Artikel terkait:

Hikmah

Dari beberapa hadits dan juga pendapat ulama mengenai hukum pria memakai emas baik itu dalam jumlah sedikit ataupun banyak atau berupa kalung, gelang, cincin dan sebagainya termasuk untuk bayi laki-laki, masih berusia kecil atau sudah dewasa, sangat diharamkan untuk seorang pria muslim untuk memakai emas atau memakaikan emas pada anak laki-lakinya.

Sedangkan dihalalkan wanita untuk memakai emas adalah karena kebutuhan kaum wanita untuk berhias di depan orang yang mereka sayangi yakni di depan suaminya atau orang lain yang halal untuk mereka lihat. Oleh karena itu, ini merupakan bentuk tasyabbuh atau penyerupaan pada wanita apabila seorang pria memakai emas untuk perhiasan mereka.

  • Allah Melarang Pria Memakai Emas Sebab Digunakan Untuk Berbangga

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [Al Hadiid 20].

Ada sebagian orang yang berpendapat jika emas putih, platina atau berlian bisa digunakan sebab itu bukan emas dan hanya emas yang diharamkan. Meskipun memang tidak ada dalil tentang emas putih, platina ataupun berlian namun ini tetap haram untuk pria dan Nabi serta para shahabat juga tidak pernah memakainya, jadi belum bisa dikatakan halal.

  • Pria Harus Menafkahkan Emas Untuk Jalan Allah, Bukan Hiasan

“Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” [At Taubah 35]

Nabi Muhammad SAW yang merupakan utusan Allah sudah menjelaskan tentang ajaran Islam dan memberikan contohn tentang cara hidup yang Islami. Pada awalnya emas memang tidak dilarang, akan tetapi sesudah Nabi Muhammad SAW membuangnya, maka para shahabat juga ikutmembuang cincin emas mereka.

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., “Bahwa Rasulullah saw. menyuruh untuk membuatkan cincin dari emas. Beliau meletakkan mata cincinnya pada bagian dalam telapak tangan bila beliau memakainya. Orang-orang pun berbuat serupa. Kemudian suatu ketika, beliau duduk di atas mimbar lalu mencopot cincin itu seraya bersabda: Aku pernah memakai cincin ini dan meletakkan mata cincinnya di bagian dalam. Lalu beliau membuang cincin itu dan bersabda: Demi Allah, aku tidak akan memakainya lagi untuk selamanya! Orang-orang juga ikut membuang cincin-cincin mereka. (Shahih Muslim No.3898).

Artikel terkait:

Demikian ulasan yang bisa kami berikan mengenai hukum pria memakai emas yang kami tulis dengan sebenar-benarnya dengan tujuan mengharapkan ridah dari Allah SWT semata dan semoga Allah senantiasa selalu memberikan taufiq dan inayah-Nya untuk kita semua.

Memakai Perhiasan Dalam Islam bagi Wanita dan Pria

يَابَنِي ءَادَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ، قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Artinya:

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.”

Demikianlah Firman Allah SWT dalam Al- Qur’an Surat Al- A’raaf ayat 31 dan 32 tentang hukumnya memakai perhiasan menurut syariat Islam. Memakai perhiasan pada dasarnya adalah sesuatu yang tidak dilarang, akan tetapi di dalam penggunaannya tidak diperbolehkan bertentangan atau melanggar syara’, seperti tidak boleh berlebihan serta harus kena dengan tempatnya. Ada hikmah-hikmah tertentu di balik alasan mengapa Allah memberikan ketentuan tentang penggunaan perhiasan.

  1. Hukum memakai perhiasan bagi wanita

Memakai perhiasan merupakan sifat umum yang dimiliki oleh kaum wanita, baik itu perhiasan yang terbuat dari emas, perak, maupun dari bahan lainnya. Dan hukum memakai perhiasan-perhiasan tersebut bagi kaum wanita adalah halal atau diperbolehkan.

Allah SWT telah berfirman :

أَوَمَن يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ

Artinya:

Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.” (QS. Az-Zukhruf ayat 18)

Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda :

إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي حِلٌّ لِإِنَاثِهَا

Artinya: Dua hal ini (emas dan sutra) adalah haram bagi laki-laki dan halal bagi perempuan.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)

Akan tetapi Islam juga mengajarkan agar dalam penggunaan barang-barang perhiasan tersebut hendaknya kaum wanita tidak memakainya secara berlebih-lebihan serta tidak bermegah-megah. Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda:

“Makanlah kamu dan bersedekahlah serta berpakaianlah dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak bermegah-megah.” (HR. An- Nasa’i)

Adapun alasan mengapa perhiasan-perhiasan tersebut tidak boleh dipakai secara berlebih-lebihan adalah agar terhindar dari kesan buruk tentang adanya rasa sombong serta berusaha memamerkan harta kepada orang lain. Dan sifat seperti itu merupakan sifat yang tidak disukai oleh Allah SWT.

وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً

Artinya:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh , dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An- Nisa ayat 36)

Lalu bagaimanakah ukuran yang bisa dikatakan berlebih-lebihan dalam memakai perhiasan itu? ukuran bagi sikap yang berlebihan atau yang melampau batas dalam memakai perhiasan adalah apabila seorang wanita memakai barang perhiasannya sehingga tidak lagi dipandang indah, bahkan dipandang jelek, maka itu dikatakan terlalu berlebihan. (Mughni al-Muhtaj 1/393, I ‘anah at-Talibin 2/181)

  1. Hukum memakai perhiasan bagi pria

Di zaman modern ini kita banyak menjumpai para lelaki yang mempergunakan perhiasan seperti anting-anting, kalung, gelang, maupun cincin baik yang terbuat dari emas maupun bahan lainnya. Seperti apakah pandangan islam tentang hal itu?
[AdSense-B]

Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda :

إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي حِلٌّ لِإِنَاثِهَا

Artinya: Dua hal ini (emas dan sutra) adalah haram bagi laki-laki dan halal bagi perempuan.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)

Dari hadist di atas sudah bisa kita ketahui bahwa haram hukumnnya memakai perhiasan yang terbuat dari emas maupun kain sutera bagi kaum laki-laki. Dan masalah pemakaian anting-anting pada kaum pria, islam sangat mengharamkan hal tersebut, karena itu merupakan sikap menyerupai gaya wanita, dan begitu juga sebaliknya. Rosulullah sholallahu Alaihi Wassalam bersabda :

لعن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم المتشبهين من الرجال بالنساء والمتشبهات من النساء بالرجال

Artinya:

“Rasulullah s.a.w. telah melaknat lelaki-lelaki yang meniru-niru perempuan dan wanita-wanita yang meniru-niru lelaki”. (Riwayat Imam Bukhari)

Jika emas dan sutera diharamkan untuk dipakai kaum laki-laki, lalu bagaimana dengan perak dan perhiasan lainnya seperti batu suasa?

Menurut sebagian besar pendapat para ulama menyatakan bahwa hukum dari memakai perhiasan yang terbuat dari perak kecuali perhiasan cincin bagi pria adalah haram. Artinya menggunakan cincin yang terbuat dari perak bagi kaum pria adalah diperbolehkan.

Dari Anas Radiallahu anhu pernah berkata :

أَنَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَم فِضَّة فِي يَمِينه

Artinya: Rasulullah memakai cincin dari perak di jari tangan kanannya.” (HR. Muslim)

Sedangkan untuk perhiasan yang terbuat dari suasa (campuran emas dan perak) hukumnya adalah diharamkan bagi kaum lelaki. Mengapa? Kalangan ulama Syafi’i mengatakan “Apabila pada cincin terbuat dari emas, atau dilapisi dengan sedikit emas maka hukumnya haram karena keumuman hadits yang melarang pemakaian sutra dan emas.”

Dari penjelasan di atas kita bisa simpulkan bahwasannya memakai perhiasan kecuali dalam bentuk cincin yang terbuat dari perak adalah haram hukumnya bagi kaum lelaki. Sedangkan bagi kaum wanita adalah diperbolehkan, selama penggunaannya tidak berlebih-lebihan.

Di dalam kitab Al- Umm, Imam Syafi’i pernah berkata :

وكذلك أنهاهم عن لبس الذهب خواتيم وغير خواتيم ولو لبسوه فصلوا فيه كانوا مسيئين باللبس عاصين إن كانوا علموا بالنهي ولم يكن عليهم إعادة صلاة ; لأنه ليس من الأنجاس ألا ترى أن الأنجاس على الرجال والنساء سواء والنساء يصلين في الذهب

Artinya:

“Begitu juga Nabi melarang umat Islam laki-laki memakai emas baik dalam bentuk cincin atau lainnya. Apabila muslim memakai emas lalu shalat maka mereka berbuat buruk dan maksiat apabila mereka tahu atas larangan itu tapi tidak perlu mengulangi shalatnya karena emas tidaklah najis. Tidakkah anda tahu bahwa najis bagi laki-laki dan perempuan itu sama sedangkan wanita shalat dengan memakai emas.”

Lalu bagaimanakah hukumnya menggunakan wadah seperti bejana, gelas, maupun baki yang terbuat dari emas maupun perak?

Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda :

لاَ تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَلاَ تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهَا، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا

Artinya:

Janganlah kamu minum di dalam bekas dari emas dan perak dan jangan kamu makan di dalam talam dari keduanya kerana ia adalah untuk mereka (yakni orang-orang kafir) di dunia.” (Riwayat Imam Muslim dari Huzaifah)[AdSense-C]

Dari Ummu Salamah, Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah berkata :

إنّ الذي يأكل أو يشرب في آنية الفضّة و الذهب إنما يجرجر في نار جهنم

Artinya: “orang yang makan atau minum di bejana perak dan emas, sesungguhnya ia menggemuruhkan api jahanam di perutnya.” (HR.Muslim)

Mengapa hal tersebut dilarang?

Rosulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda :

الذهب والفضة والحرير والديباج هي لهم في الدنيا ولكم في الآخرة

Artinya “Emas, perak, sutera, adalah untuk mereka (orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat.” (HR. Bukhari)

[accordion]
[toggle title=”Artikel Terkait”]

[one_half]

[/one_half]

[one_half_last]

[/one_half_last]

[/toggle]
[toggle title=”Artikel Lainnya”]

[one_fourth]

[/one_fourth]

[one_fourth]

[/one_fourth]

[one_fourth]

[/one_fourth]

[one_fourth_last]

[/one_fourth_last]

[/toggle]
[/accordion]

Jadi meskipun emas dan perak hanya dijadikan bahan tambahan atau campuran dalam pembuatan bejana tersebut, Islam tetap mengharamkan untuk menggunakannya. Berhias boleh saja, asalkan kita tahu hukum dan batasan-batasan dalam memakainya. Jangan sampai karena hiasan yang kita pakai justru akan menimbulkan kesan yang buruk bagi kita.