9 Hari yang Dilarang Puasa dalam Islam

Dalam Islam, ada beberapa hari yang merupakan larangan untuk melakukan puasa. Puasa sendiri adalah rukun Islam yang keempat dan sebagai seorang muslim, maka melaksanakan puasa merupakan wajib hukumnya. Akan tetapi dalan pelaksanaan puasa juga harus dilaksanakan dengan peraturan yang ada. Selain puasa Ramadhan yang menjadi puasa wajib, ada beberapa puasa sunnah yang bisa dilakukan umat muslim. Dalam Islam juga terdapat beberapa hari yang menjadi larangan untuk melakukan puasa dan puasa tidak bisa dilakukan setiap hari sebab ini sudah menjadi larangan yang diberikan oleh Allah dan juga rasulrasul-Nya, berikut kami berikan penjelasan selengkapnya mengenai hari yang dilarang puasa.

Artikel terkait:

  1. Puasa Hari Raya Idul Fitri

Idul Fitri adalah hari kemenangan untuk seluruh umat muslim di dunia yang dimana sudah selama 1 bulan penuh menjalankan puasa Ramadhan. Puasa yang dilaksanakan pada hari raya Idul Fitri ini merupakan puasa yang haram hukumnya, meskipun tidak ada yang bisa dimakan, akan tetapi tetap tidak diperbolehkan berniat untuk puasa.

  1. Puasa Hari Raya Idul Adha

Pada tanggal 10 Dzulhijah adalah hari raya untuk semua umat muslim dan pada saat tersebut juga, umat muslim disunahkan untuk menyembelih hewan kurban serta menyantapnya sehingga sangat diharamkan untuk berpuasa pada hari raya Idul Adha.

  1. Puasa Hari Tasyrik

Larangan puasa lainnya adalah pada hari tasyrik yang jatuh dalamm 3 hari berturut-turut sesudah hari raya Idul Adha yakni tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijah. Dari riwayat Abu Hurairah r.a, Rasulullah mengutus Abdullah bin Hudzaifah agar mengelilingi Kota Mina serta menyampaikan jika, “Janganlah kamu berpuasa pada hari ini karena ia merupakan hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.”

Artikel terkait:

  1. Puasa Hari Jumat Dengan Khusus

Umat Islam memiliki pandangan jika hari Jumat adalah hari libur untuk umat muslim sehingga agama juga melarang kita untuk melakukan puasa di hari Jumat tersebut dengan khusus. Apabila ingin berpuasa, maka berpuasalah di hari Kamis yang merupakan hari sebelum Jumat. Puasa pada hari Jumat diperbolehkan jika ingin menunaikan puasa wajib, mengqodho’ puasa wajib, membayar kafaroh atau tebusan serta ganti sebab tidak mendapat hadyu tamttu. Selain itu juga diperbolehkan apabila bertepatan dengan puasa Daud dan juga bertepatan dengan puasa sunnah lain seperti puasa Asyura, puasa Syawal serta puasa Arofah.

  1. Puasa Hari Sabtu

Selain hari Jumat, hari Sabtu juga menjadi hari larangan puasa sebab ini merupakan rutinitas orang Yahudi. Rasulullah juga melarang kita untuk melaksanakan puasa pada hari Sabtu kecuali jika sedang melaksanakan puasa wajib seperti puasa bulan Ramadhan.

[AdSense-B]

  1. Puasa Hari Syak

Puasa di hari Syak juga merupakan hari dimana puasa dilarang untuk dilaksanakan.Hari Syak merupakan tanggal 30 Syakban dan apabila ragu sebab awal bulan Ramadhan yang belum terlihat hilalnya, maka ketidakjelasan itulah yang dinamakan dengan syak dan menurut syar’i umat muslim merupakan hari larangan untuk berpuasa. Berpuasa pada hari tersebut diperbolehkan apabila untuk mengqodho puasa Ramadhan dan juga bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti puasa Senin Kamis dan juga puasa Daud.

Artikel terkait:

  1. Puasa Sepanjang Masa

Tidak ada anjuran atau saran bagi umat muslim dalam melakukan puasa sepanjang tahun. Akan tetapi sebagai solusi maka kita diperbolehkan untuk melakukan puasa Daud yaitu sehari berpuasa, sehari berbuka dan begitu pun seterusnya. Ini merupakan rukhsoh atau keringanan terakhir yang ingin melakukan puasa secara terus menerus dan hadits larangan berpuasa Dahr atau secara terus menerus ditujukan untuk Abdullah bin Al’Ash yang dimana pada riwayat muslim disebutkan jika Abdullah bin Amr menjadi lemas sebab terbiasa melakukan puasa Dahr dan ia menyesal serta tidak ingin mengambil rujhsoh serta hanya cukup melakukan puasa Daud saja.

  1. Puasa Wanita Saat Haid atau Nifas

Wanita yang sedang berada dalam masa haid atau nifas juga sangat dilarang untuk berpuasa, bahkan hukum dari wanita yang menjalankan puasa pada saat sedang haid atau nifas adalah berdosa. Akan tetapi, wanita yang mengalami haid atau nifas juga harus mengganti puasa tersebut dengan puasa pada hari lainnya.

  1. Puasa Sunnah Wanita Tanpa Ijin Suami

Sebelum menunaikan puasa sunnah, seorang wanita yang sudah menjadi istri haruslah mendapatkan ijin dari suami terlebih dulu. Apabila suami memberi ijin, maka istri baru boleh menunaikan puasa sunnah. Akan tetapi jika suami tidak memberikan ijin namun puasa tetap dilakukan, maka suami memiliki hak untuk memaksa istri berbuka dan tidaklah halal untuk istri yang melakukan puasa tanpa mendapat ijin dari suami sementara suami ada disitu. Ini disebabkan karena hak suami sangat wajib untuk dilakukan dan merupakan fardu untuk istri, sementara puasa hukumnya adalah sunnah dan kewajiban tidak boleh ditinggalkan demi mengejar sunnah semata.

Artikel terkait:

[AdSense-C]

Hadits Hari Larangan Puasa

Larangan puasa juga sudah tertera di dalam beberapa hadits seperti yang akan disebutkan berikut ini.

  • Dari Umar bin Khathab ra, Ia berkata: “Sesungguhnya Rasulallah SAW melarang berpuasa di kedua hari raya. Pada hari raya Idul Fitri kamu berbuka puasamu dan pada hari raya Idul Adha kamu makan daging kurbanmu dan” (HR Bukhari Muslim).
  • Dari Nubaisyah Al-Hudzali ra, Rasulallah SAW bersabda :“hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan, minum dan berzikir kepada Allah.” [Mutafaqun ’alih].
  • “Barangsiapa yang puasa di hari diragukan datangnya puasa, maka ia telah berdurhaka kepada Abal Qasim (yakni Rasulalallah SAW)”. (HR Abu Dawud).
  • Rasulallah saw dari Abu Hurairah ra: “Jika bulan sya’ban telah menengah (telah lewat dari tanggal 15) maka tidak ada puasa sampai datangnya Ramadhan” (HR Shahih Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
  • Dari Abu Hurairah ra, Beliau bersabda: “Janganlah kau berwishal (menyambung puasamu), jangalah kamu berwishal. Kemudian salah seorang sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, bukankah Engkau sendiri melakukan puasa wishal? Beliau bersabda: Aku tidak seperti kalian. Sesungguhnya di malam hari aku diberi makan dan minum oleh Allah SWT. [HR Bukhari Muslim].
  • “Tidak ada puasa bagi yang berpuasa setiap hari tanpa henti. Tidak ada puasa bagi yang berpuasa setiap hari tanpa henti. Tidak ada puasa bagi yang berpuasa setiap hari tanpa henti.” (HR. Muslim no. 1159, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash).
  • “Barangsiapa berpuasa pada hari yang meragukan, maka ia berarti telah mendurhakai Abul Qosim, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. An Nasai no. 2188, At Tirmidzi no. 686, Ad Darimi no. 1682, Ibnu Khuzaimah no. 1808. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
  • Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa pada hari tersebut maka berpuasalah.” (HR. An Nasai no. 2173, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Artikel terkait:

Demikian penjelasan lengkap mengenai beberapa hari yang diharamkan untuk melaksanakan puasa lengkap dengan hadits – hadits-nya dan semoga penjelasan yang sudah kami berikan tersebut bisa menambah pengetahuan tentang hari yang sudah diharamkan berpuasa sehingga nantinya tidak mengamalkan perbuatan yang sudah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Larangan Puasa Hari Jumat dalam Islam

Untuk sebagian kalangan, ada yang melarang atau mempermasalahkan tentang larangan serta beberapa buah hadits yang mengatakan mengenai larangan berpuasa di hari Jumat tersebut dan untuk lebih jelasnya, pada bahasan kali ini kami akan mengulasnya secara lengkap untuk anda.

“Janganlah kalian puasa pada hari jum’at kecuali telah puasa sebelum dan sesudahnya.” (HR. Bukhari).

Selain itu, dalam riwayat lainnya juga disebutkan jika Ummul Mu’minin Juwairiyah, Rasulullah masuk kepadanya ketika sedang puasa pada hari Jum’at, lalu Rasulullah berkata , “Apakah engkau puasa kemarin?” Ummul Mu’minin menjawab, “Tidak.” Lalu Rasulullah bertanya kembali, “Apakah besok engkau ingin berpuasa kembali?” ia kembali menjawab, “Tidak”. Lalu Rasulullah bersabda, “Berbukalah!” (HR. Bukhari).

Artikel terkait:

Hukum Berpuasa Hari Jumat

Tentang hukum berpuasa di hari Jumat jumhur, sebagian besar ulama mengungkapkan pendapatnya tentang derajat hukum berpuasa di hari Jumat merupakan makruh.

  • I,a, Syarbini mengatakan, “Dimakruhkan melakukan puasa hanya di hari jumat saja. Hal ini agar badan lebih kuat di hari jumat untuk melaksanakan tugas dan kewajiban.”
  • Imam al-Baihaqi mengatakan, “Makruh atas seseorang untuk mengkhususkan puasa pada hari jum’at yang tidak berpuasa sebelum dan sesudahnya sebagaimana perkataan Imam Ahmad dan Ishaq.”
  • Pada hadits Abu Huraurah, ia juga mengatakan jika ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali jika ia berpuasa pula pada hari sebelum atau sesudahnya.” (HR. Bukhari no. 1849 dan Muslim no. 1929).
  • Janganlah khususkan malam Jum’at dengan shalat malam tertentu yang tidak dilakukan pada malam-malam lainnya. Janganlah pula khususkan hari Jum’at dengan puasa tertentu yang tidak dilakukan pada hari-hari lainnya kecuali jika ada puasa yang dilakukan karena sebab ketika itu.” (HR. Muslim no. 1144).
  • Juwairiyah binti Al Harits radhiyallahu ‘anha, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuinya pada hari Jum’at dan ia dalam keadaan berpuasa, lalu beliau bersabda, “Apakah engkau berpuasa kemarin?” “Tidak”, jawabnya. “Apakah engkau ingin berpuasa besok?”, tanya beliau lagi. “Tidak”, jawabnya lagi. “Batalkanlah puasamu”, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
  • Ibnu Qudamah berkata, “Dimakruhkan menyendirikan puasa pada hari Jum’at saja kecuali jika bertepatan dengan kebiasaan berpuasa. Seperti berpuasa Daud, yaitu sehari berpuasa sehari tidak, lalu bertepatan dengan hari Jum’at atau bertepatan dengan kebiasaan puasa di awal, akhir atau pertengahan bulan.” Lihat Al Mughni, 3: 53.”
  • Imam Nawawi berkata, “Dimakruhkan menyendirikan puasa pada hari Jum’at saja kecuali jika bertepatan dengan kebiasaan berpuasa. Seperti berpuasa Daud, yaitu sehari berpuasa sehari tidak, lalu bertepatan dengan hari Jum’at atau bertepatan dengan kebiasaan puasa di awal, akhir atau pertengahan bulan.” Lihat Al Mughni, 3: 53.
  • Imam Nawawi juga berkata, “Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa dimakruhkan berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian. Namun jika diikuti puasa sebelum atau sesudahnya atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa nadzar karena sembuh dari sakit dan bertepatan dengan hari Jum’at, maka tidaklah makruh.” Lihat Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, 6: 479.
  • Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata di dalam Syarhul Mumthi’ (6: 465), “Dikecualikan dari larangan ini adalah jika berpuasa sebelum atau sesudah Jum’at, atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa pada ayyamul bidh, atau bertepatan dengan puasa Arafah, atau karena puasa nadzar.”
  • Syaikh Sholih Al Munajjid dalam fatawanya no. 20049 mengatakan, “Puasa pada hari Jumat diperbolehkan jika bersamaan dengan puasa Arafah dan juga puasa Asyura sebab saat itu niatnya merupakan puasa asyura dan juga puasa Arofah dan bukan puasa hari Jumat secara sendiri.

[AdSense-B]

Beberapa hadits mengenai larangan berpuasa pada hari Jumat tersebut memang sedemikian kuat, akan tetapi para ulama hanya membatasi puasa hari Jumat tersebut hanya sebatas makruh dan bukan haram karena di beberapa riwayat lainnya juga disebutkan jika beberapa shahabat juga pernah melakukan puasa di hari Jumat seperti Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu. Ini membuktikan jika puasa di hari Jumat memanglah merupakan sebuah larangan, maka tentunya shahabat Nabi tidak akan menentang keharaman tersebut.

Artikel terkait:

Pada riwayat Ibnu Majah juga disebutkan perkataan tersebut dinukilkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, “Sedikit sekali aku melihat Nabi shalallahu’alaihi wassalam membatalkan puasanya di hari Jumat.” (HR Ibnu Majah).

Dengan beberapa dalil diatas, bahkan untuk sebagian kalangan Hanafiyyah dan Malikiyyah berpendapat jika puasa pada hari Jumat juga tidaklah makruh. Selain itu seorang ulama Malikiyyah juga menambahkan jika Sebab adanya larangan dari Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam dari berpuasa di hari Jum’at adalah karena khawatir itu akan menjadi kewajiban, tapi kekhawatiran itu telah tiada karena beliau sudah wafat (syariat sudah sempurna).

“Janganlah kalian mengkhususkan puasa pada hari Jum’at, kecuali jika berpuasa sehari sebelum atau setelahnya” [Ditakhrij oleh Muslim : Kitabush Shaum/Bab Karahiatu Shiyam Yaumul Jum’ah Munfaridan (1144)].

Hikmah dari larang diatas yang mengkhususkan untuk hari Jumat berpuasa adalah Jumat merupakan hari raya dalam satu pekan dan dia merupakan 1 dari 3 hari raya yang sudah disyariatkan dan Islam sendiri memiliki 3 hari raya yakni Idul Fitri Ramadhan, Idul Adha dan juga hari raya mingguan yaitu hari Jumat. Karena itulah sudah selayaknyahari Jumat tersebut dilarang untuk berpuasa dari pengkhususan puasa sebab hari Jumat merupakan hari dimana pria harus lebih mengutamakan shalat Jumat, lebih banyak berdoa dan melakukan dzikir. Ini juga serupa dengan hari Arafah untuk para jamaah haji yang tidak diperintahkan untuk berpuasa sebab sudah disibukkan dengan berdoa dan juga dzikir.

Sehingga jika ada seseorang yang mengatakan alasan tersebut yakni puasa pada hari Jumat merupakan hari raya mingguan maka harus dijadikan puasa pada hari tersebut dan hari itu menjadi haram sebagaimana 2 hari raya lainnya yakni Idul Fitri dan Idul Adha tidak hanya pengkhususan saja. Namun kita berkata jika Jumat berbeda dengan 2 hari raya tersebut sebab terjadi dengan berulang kali sebanyak 4 kali dalam sebulan dan tidak ada larangan haram pada hari tersebut dan disana juga ada sifat lain dari 2 hari raya yang tidak didapatkan pada hari Jumat.

Artikel terkait:

[AdSense-C]

Jika seseorang berpuasa 1 hari sebelum atau sesudahnya, maka puasa tersebut tidak dimaksudkan untuk membuat puasa khusus hari Jumat sebab puasa satu hari sebelumnya yakni pada hari Kamis atau 1 hari sesudahnya yakni pada hari Minggu.

Namun jika berpuasa pada hari Jumat dilakukan untuk membayar hutang puasa yang sudah sangat harus dilakukan sebab tidak ada waktu lagi, maka tentu hal tersebut tidaklah dilarang seperti juga pada hari Kamis yakni satu hari sebelumnya yang juga diiringi dengan puasa, maka hal ini pun tidaklah di larang atau jika diteruskan hari Sabtu yakni hari sesudahnya untuk berpuasa, maka hari tersebut juga tidaklah dilarang.

Artikel terkait:

Dari ulasan yang sudah kami jelaskan bisa disimpulkan jika larangan puasa di hari Jumat adalah makruh dan bukan haram. Ini terbukti dengan adanya beberapa hukum serta hadits yang sudah dijelaskan diatas. Puasa pada hari Jumat dilarang supaya kaum lelaki bisa lebih fokus untuk shalat, melakukan dzikir dan juga berbagai kegiatan ibadah lainnya, sebab hal yang lebih penting pada hari Jumat tersebut adalah shalat Jumat. Semoga ulasan ini bisa memberikan anda informasi dan menambah wawasan seputar puasa di hari Jumat.

Rukun Puasa Ramadhan dan Hal-hal yang Membatalkan Puasa

Puasa adalah salah satu ibadah yang termasuk dalam rukun islam dan setiap umat islam wajib melaksanakan puasa di bulan ramadhan. Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia dimana di bulan ini Alqur’an diturunkan dan umat islam melaksanakn puasa ramadhan selama sebulan penuh. Bulan ramadhan memiliki keistimewaan (baca keistimewaan ramadhan) sebagaimana disebutkan dalam firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 185 yang berbunyi

“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Dibulan ini pahala segala amal ibadah akan dilipatgandakan baik pahala puasa itu sendiri, shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah seperti shalat tarawih (baca keutamaan shalat tarawih dan manfaat shalat tarawih) atau shalat tahajud, membaca alqur’an (baca manfaat membaca Alqur’an), bersedekah (baca keutamaan bersedekah) dan ibadah lainnya sebagaimana hadits Rasullullah berikut

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak misk.

Sebagaimana ibadah lainnya maka puasa memiliki rukun atau hal-hal yang wajib dilakukan agar puasa tersebut sah hukumnya. Adapun rukun puasa dijabarkan dalam penjelasan berikut ini.

Rukun Puasa Ramadhan

Sama seperti rukun puasa pada umumnya, rukun puasa ramadhan tidak berbeda dengan rukun puasa sunnah (baca macam-macam puasa sunnah). Rukun puasa ramadhan (baca:puasa ramadhan dan fadhilahnya)  yang utama terdiri dari dua yakni niat dan menahan diri dari segala yang membatalkan puasa.

1. Niat

Seseorang yang hendak berpuasa harus berniat untuk berpuasa saat malam hari sebelum puasa dimulai. Tanpa adanya niat maka puasa seseorang tidaklah sah. Hal ini dikarenakan niat adalah suatu hal yang penting dalam melakukan ibadah dan ibadah tersebut tergantung pada niatnya sebagaimana yang dijelaskan dalam dalil-dalil berikut ini

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (men-jalankan) agama yang lurus”  (Al- Bayyinah: 5)

Juga disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

.لُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَىإِنَّمَا اْلأَعْمَا

“Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat ganjaran atas amalnya sesuai dengan niatnya.”

Harus selalu diingat bahwa niat berpuasa harus dilakukan saat malam hari dan sebelum terbit fajar pada bulan Ramadhan. Hal ini juga berdasarkan hadits Hafshah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya.”

2. Menahan Diri dari Hal-hal yang Membatalkan Puasa

Saat berpuasa seseorang harus menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasanya sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah pada surat Albaqarah ayat 187.

بَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا آَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَآُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَ مَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu dan makan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam” [Al-Baqarah: 187]

Oleh karena itu jika seseorang tidak dapat menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkannya maka puasanya tidak sah dan tidak diterima. Adapun hal-hal yang dapat membatalkan puasa diantaranya disebutkan dalam penjelasan berikut ini

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa

Selama berpuasa kita wajib menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya. Hal-hal yang dapat membatalkan puasa seseorang diantaranya adalah[AdSense-B]

1. Makan dan minum dengan sengaja

Puasa itu sendiri adalah ibadah yang mewajibkan kita untuk tidak makan dan minum selama selang waktu tertentu hingga waktu berbuka tiba (baca makanan yang cocok saat buka puasa). Jika seseorang makan atau minum saat berpuasa dengan sengaja batallah ibadah puasanya namun jika seseorang itu makan atau minum dalam keadaan lupa atau tidak sadar maka tidak batal puasanya dan ia juga tidak wajib mengganti atau mengqadha puasanya dikemudian hari. Sebagaimana hadits Rasullullah berikut ini

.فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ ,فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ,مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَآَلَ أَوْ شَرِبَ

“Barangsiapa yang lupa bahwasanya dia sedang berpuasa, lalu dia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberi makan dan minum kepadanya.” (HR Abu Hurairah)

2. Muntah dengan sengaja

Seseorang yang dengan sengaja memuntahkan sesuatu dari perutnya maka puasanya tersebut batal atau tidak sah hukumnya sedangkan jika ia tidak sengaja memuntahkan sesuatu maka ia tidak memiliki kewajiban untuk mengganti atau mengqadha puasa ataupun kafarat di hari lain setelah bulan ramadhan. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW

.مَنْ ذَرَعَهُ القَيءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنِِ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِِ

“Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja, maka dia tidak wajib mengqadha’ puasa, sedangkan barangsiapa yang sengaja muntah, maka wajib baginya mengqadha’.”

3. Haid dan Nifas

Perkara ini hanya membatalkan puasa pada wanita karena hanya wanita saja yang mengalami haid dan nifas. Darah haid atau nifas adalah darah kotor sehingga walaupun seorang wanita mengeluarkan darah tersebut pada detik detik terakhir waktu puasa atau menjelang waktu berbuka maka batallah puasanya. Hal ini berdasarkan ijma atau kesepakatan dari para ulama. Seorang wanita yang haid atau nifas tidak diperbolehkan untuk berpuasa selama masa haid atau nifasnya dan ia wajib mengganti atau mengqadha puasa tersebut dikemudian hari setelah bulan ramadhan berakhir.

4. Bersetubuh

Baik suami istri atau pasangan yang belum menikah atau zina (baca zina dalam islam) jika mereka melakukan persetubuhan disiang hari pada saat berpuasa maka hukumnya haram dan mereka wajib membayar kifarat yakni berpuasa selama dua bulan berturut-turut, memerdekakan budak, atau memberi makan 60 orang miskin sebagaimana hadits rasulullah SAW berikut ini[AdSense-C]

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Di saat kami sedang duduk bersama Nabi SAW, datanglah seorang laki-laki seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW binasalah aku.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang telah membinasakan dirimu?’ Dia menjawab, ‘Aku telah berhubungan badan dengan isteriku sedangkan aku dalam keadaan berpuasa Ramadhan.’ Beliau bertanya, ‘Apakah kamu mampu memerdekakan seorang budak?’ ‘Tidak,’ jawabnya. Lalu beliau bertanya lagi: ‘Apakah engkau mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?’ Dia menjawab, ‘Tidak.’

Beliau bertanya lagi, ‘Dan apakah engkau mampu memberi makan kepada 60 orang miskin?’ Dia pun menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian Rasulullah SAW diam, dan di saat kami sedang dalam keadaan seperti itu, Rasulullah SAW diberi sekeranjang kurma, lalu beliau berkata, ‘Mana orang yang bertanya tadi?’ Orang itu pun menjawab, ‘Saya.’ Beliau bersabda, ‘Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya!’ Laki-laki itu berkata, ‘Adakah orang yang lebih miskin dari pada kami wahai Rasulullah? Demi Allah tidak ada satu keluarga di antara dua tempat yang banyak batu hitamnya di Madinah yang lebih faqir dari pada kami.’ Maka Rasulullah SAW tertawa hingga terlihat gigi taringnya, kemudian beliau berkata, ‘Berilah makan keluargamu dari sedekah itu.’”

Rukun puasa ramadhan wajib dipenuhi bagi orang-orang yang berpuasa. Oleh sebab itu perhatikan baik-baik dan jagalah selalu diri kita dari perkara yang dapat membatalkan puasa serta ingatlah selalu untuk berniat menjalankan puasa dimalam sebelum melaksanakan ibadah puasa tersebut. (baca juga tips agar kuat berpuasa dan tips agar lancar berpuasa)