10 Azab Anak Durhaka Kepada Ibunya

Ibu adalah seorang wanita yang telah melahirkan, merawat, melindungi dan mendidik kita dengan sepenuh hati. Kedudukan  wanita dalam Islam dan kedudukan seorang ibu adalah mulia dan penting, dan Islam mewajibkan kita sebagai umat muslim untuk berbakti dan patuh kepada seorang ibu, seperti yang diriwayatkan dalam sebuah hadits :

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW. “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?” Rasulullah SAW. pun menjawab, “Ibumu.” Dan laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?” Rasulullah kembali menjawab “Ibumu.” Lalu orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah pun kembali menjawab “Ibumu.” Dan orang itu kembali bertanya untuk yang keempat kalinya, “Kemudian siapa?” lalu Rasulullah menjawab, “Ayahmu” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits diatas telah disebutkan hingga tiga kali oleh Rasulullah SAW. bahwa seorang ibu adalah orang yang wajib dan berhak mendapatkan perlakuan baik. Berbakti pada orang tua terutama pada seorang ibu Insya’allah akan membantu kita untuk masuk kedalam surga.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan : Suatu ketika, Ibnu Umar ra. bertanya kepada seseorang, “Apakah engkau takut masuk ke neraka dan ingin masuk ke dalam surga?” Lalu orang itu menjawab, “Ya” Ibnu Umar pun kembali berkata, “Berbaktilah kepada ibumu. Demi Allah, jika engkau melembutkan kata-kata untuknya, memeberinya makan, niscaya engkau akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Bukhari)

Lalu bagaimana jika seorang anak berperilaku buruk dan durhaka pada ibunya?

Anak yang durhaka terhadap orang tua tentu akan mendapatkan murka dari Allah SWT,  terlebih kepada anak yang durhaka kepada seorang ibu, maka Allah akan menimpakan azab yang paling pedih, karena seorang ibu rela mengorbankan nyawanya demi kita. Itulah mengapa dalam Islam Allah meletakan kedudukan ibu sebagai orang yang mulia.

Azab Bagi Anak Durhaka Menurut Islam dan Dalil

Doa seorang Ibu adalah doa yang paling mustajab dan dijaba oleh Allah SWT. baik itu doa yang baik ataupun doa yang buruk, doa orang tua adalah yang mustajab dan tidak diragukan lagi akan didengar oleh Allah. Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW. pernah bersabda :

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, yaitu doa orangtua, doa orang yang bepergian(safar), doa orang yang teraniaya atau dizhalimi.” (HR. Abu Daud)

Dalam hadits tersebut dikatakan bahwa doa orang tua adalah dia yang mustajab, yang baik maupun yang jelek. Maka dari itu sebagai anak, janganlah sampai membuat ibu kita mengucap atau mendoakan yang buruk karena kenakalan kita atau karena kita durhaka pada Ibu, naudzubillah. Dalam Islam, Allah akan menimpakan Azab pada anak yang durhaka, berikut beberapa azab untuk anak yang durhaka kepada ibunya :

  1. Dibenci Allah SWT

Dalam sebuah hadits telah diriwayatkan : “Ridha Allah tergantung pada ridha orangtua, dan murkanya Allah tergantung pada murkanya orangtua.” (HR. Al-Hakim)

Maksud dari hadits tersebut adalah, Allah akan meridhai kita jika orang tua kita meridhainya, dan apabila orangtua kita murka kepada kita maka Allah pun begitu.

  1. Didunia akan diberikan azab atau hukuman

Seorang anak yang durhaka kepada ibunya tidak hanya mendapat dosa, namun Allah juga akan menimpakan azab dunia bagi mereka yang durhaka kepada ibunya.

[AdSense-C] Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW. pernah bersabda :

“Setiap dosa akan diakhirkan oleh Allah sekehendak-Nya sampai hari kiamat, kecuali dosa mendurhakai kedua orangtua. Sesungguhnya Allah akan menyegerakan (balasan) kepada pelakunya didalam hidupnya sebelum mati.”

  1. Tidak diterima shalatnya oleh Allah SWT

Seorang anak yang durhaka shalatnya tidak akan diterima oleh Allah SWT, sebaik apapun dan sekhusyuk apapun, Allah akan tetap menolak sholat seorang anak yang durhaka. Dalam (HR. Abu Al-Hasan bin Makruf) telah dikatakan :

“Allah tidak akan menerima shalat orang yang dibenci kedua orangtuanya yang tidak aniaya terhadapnya.”

  1. Dosa-dosanya tidak akan diampuni

Dari Aisyah r.a, Rasulullah SAW bersabda :

Dikatakan kepada orang yang durhaka kepada orangtua, “Berbuatlah sekehendakmu , sesungguhnya aku tidak akan mengampuni.” Dan dikatakan kepada orang yang berbakti kepada orangtua, “bahwa berbuatlah sekehendakmu, sesungguhnya aku mengampunimu.” (HR. Abu Nu’aim)

Dalam hadits tersebut jelas dikatakan oleh Rasulullah SAW. bahwa Allah dan Rasul tidak akan memberikan ampunan kepada seseorang yang durhaka terhadap orangtuanya.

  1. Terhapus semua amal ibadahnya

Seseorang yang rajin beribadah namun dia durhaka kepada orangtuanya (ibu) maka segala amal ibadah yang telah dilakukannya akan terhapus. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits berikut :

“Ada tiga hal yang menyebabkan terhapusnya seluruh amal, yaitu syirik kepada Allah, durhaka kepada orangtua dan seorang alim yang dipermainkan oleh orang dungu.” (HR. Thabrani)

[AdSense-B] Dalam hadits tersebut dikatakan bahwa Allah SWT akan menghapus amal orang yang melakukan perbuatan syirik dalam Islam, seorang alim(berilmu) yang dipermainkan oleh orang dungu dan seorang yang anak durhaka dalam Islam.

  1. Diharamkan mencium wanginya surga

Allah mengharamkan seseorang yang durhaka kepada orangtuanya untuk mencium wanginya surga. Seperti yang dikatakan dalam hadits berikut :

“Sesungguhnya aroma surga itu tercium dari jarak perjalanan seribu tahun, dan demi Allah tidak akan mendapatinya barang siapa yang durhaka kepada orangtuanya.” (HR. Thabrani)

  1. Tidak akan masuk surga

Dalam sebuah hadits, diriwayatkan : “Ada tiga jenis orang yang diharamkan Allah masuk surga, yaitu pemabuk berat, pendurhaka terhadap kedua orangtua dan juga seorang dayyuts atau banci (orang yang merelakan kejahatan berlaku didalam keluarganya, merelakan istri dan anak perempuannya serong)” (HR. Nasa’I dan Ahmad)

  1. Dapat disebut orang kafir

Dalam (HR. Muslim) dikatakn : “Jangan membenci kedua orangtuamu. Barang siapa orang yang mengabaikan kedua orangtuanya, maka dia kafir.”

  1. Termasuk kedalam orang-orang yang merugi besar

Rasulullah SAW. bersabda :

“Sungguh kecewa dan hina, sungguh kecewa dan hina, sungguh kecewa dan hina orang yang mendapati orangtuanya atau salah satunya sampai tua, lantas ia tidak dapat masuk surga.” (HR. Muslim)

Maksud dari hadits tersebut adalah, seorang anak yang mendapati orangtuanya atau salah satunya sampai tua namun dia durhaka dan tidak berbakti pada orangtuanya, maka sesungguhnya dia adalah orang yang merugi dan hina.

  1. Tidak termasuk dalam umat Nabi Muhammad SAW

Seorang anak yang durhaka kepada ibuya, maka dia bukanlah termasuk kedalam golongan Nabi Muhammad SAW. karena Rasulullah telah memerintahkan kita untuk taat dan tidak durhaka kepada orangtua.

Salah satu kunci sukses dunia akhirat menurut Islam bagi orang muslim adalah doa dan restu orangtua. Islam menyuruh kita untuk berbakti kepada orangtua agar kita mendapatkan ridha Allah dan keutamaan-keutamaan berbakti kepada orangtua menurut Islam.

Sekian, semoga bermanfaat (:

17 Hak Orang Tua Terhadap Anak Perempuannya yang Sudah Menikah

Islam mengajarkan kepada manusia untuk berbakti kepada orang tua. Tugas berbakti ini berlaku seumur hidup. Bahkan jika orang tuanya telah meninggal, si anak tetap diharuskan mendoakan keselamatan bapak ibuknya di alam kubur. Orang tua adalah malaikat bagi anak-anaknya. Mereka telah bersusah payah membesarkan anaknya, membanting tulang, mempertaruhkan nyawa hingga si anak tumbuh dewasa. Maka itu, anak tidak boleh melupakan orang tuanya sekalipun ia telah menikah.

Bagi anak perempuan adalah tanggung jawab orang tua sebelum menikah. Namun setelah memiliki pendamping hidup, ia menjadi kewajiban suaminya. Istri wajib taat kepada suami, apapun itu selama tidak merugikan dan tidak menyalahi syariat agama. Dan istri juga tidak boleh melupakan orang tuanya.

Baca juga:

Berikut ini hak-hak orang tua terhadap anak perempuannya yang sudah menikah.

  1. Memperoleh perlakukan yang baik

Hak orang tua terhadap anak perempuan yang sudah menikah sudah tentu memperoleh perlakuan yang baik. Sebagai anak, kita tidak diperbolehkan berlaku kasar kepada orang tua. Jika memang ada selisih pendapat maka sebaiknya diperbicarakan secara baik-baik.

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” (QS.Al-Isra : 23)

  1. Mendapatkan kunjungan dari anak

Tak sedikit orang yang setelah menikah dan mempunyai anak, lalu mereka melupakan keberadaan orang tuanya. Jarang pulang kampung. Mungkin hanya setahun sekali. Atau bahkan tidak pernah. Sementara orang tuanya hidup dalam kesusahan. Naudzubillah mindzalik.

Memutuskan silaturahmi dengan orang tua hukumnya dosa. Kecuali ada sebab tertentu, misalnya orang tuanya memang meninggalkan ia semenjak kecil. Apabila tiba-tiba memutuskan silaturahmi hanya karena kesibukan atau menuruti emosi semata maka tidak diperbolehkan. Orang tua berhak mendapatkan kunjungan dari anak-anaknya yang telah menikah. Sebab orang tua pasti juga merasakan rindu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada dosa yang Allah swt lebih percepat siksaan kepada pelakunya di dunia, serta yang tersimpan untuknya di akhirat selain perbuatan zalim dan memutuskan tali silaturahmi” (HR Tirmidzi).

Baca juga:

  1. Menerima nafkah (apabila anaknya berada dalam kondisi berkecukupan)

Dalam islam, anak perempuan memang tidak memiliki kewajiban untuk menafkahi orang tuanya. Kewajiban menafkahi orang tua berada di pundak anak laki-laki walaupun ia telah menikah. Namun demikian, apabila si anak berada dalam kondisi berkecupan maka akan lebih baik membantu orang tuanya. Dengan meringankan beban orang tua insyaAllah kita akan mendapatkan surga Allah Ta’ala.

Diriwayatkan bahwa Aisyah Ra bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?” Rasulullah menjawab, “Suaminya” (apabila sudah menikah). Aisyah Ra bertanya lagi, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Ibunya” (HR. Muslim).

[AdSense-B]

  1. Menerima bakti anak

Hak orang tua terhadap anak perempuannya yang sudah menikah adalah menerikma bakti dari si anak tersebut. Berbakti berarti melakukan apa-apa yang diperintahkan orang tua, menurut dan menyayangi. Namun demikian, kita juga harus memilah-milah saran dari orang tua. Apabila saran tersebut kurang baik bagi diri kita atau dapat menganggu keutuhan rumah tangga maka sebaiknya dibicarakan lagi dengan cara yang sopan. Namun apabila saran itu tidak merugikan dan tidak menyalahi syariat agama maka tentunya harus kita ikuti.

“Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka”. (Q.S Maryam:14).

  1. Memperoleh kasih sayang

Hidup memang terasa lebih indah saat kita telah menikah. Kita bisa mencurahkan kasih sayang dan cinta dengan cara yang halal. Berbahagia bersama suami yang baik dan setia memang merupakan nikmat dari Allah Ta’ala yang luar biasa. Dengan kebahagiaan tersebut, tentunya kita tidak boleh melupakan orang tua. Kita harus bisa membagi kasih sayang antara suami dengan orang tua. Dan tentunya yang paling utama adalah kasih sayang untuk Allah Ta’ala.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S Al Israa’:24).

  1. Diperlakukan dengan hormat

Hak orang tua yang berikutnya adalah diperlakukan dengan hormat. Ajaklah suami untuk ikut menghormati orang tua kita. Sekalipun mereka telah tua dan mungkin pikun, kita tetap wajib hormat kepada orang tua.

Baca juga:

  1. Dirawat di masa tuanya

Sewaktu kecil, kita dirawat oleh orang tua dengan sangat baik hingga tumbuh dewasa. Diberikan makan, dibelikan mainan, pakaian, tempat beristirahat yang nyaman, disekolahkan hingga dinikahkan. Nah, saat orang tua sudah mencapai usia senja, giliran kita yang harus merawatnya. Tentunya kita harus bersabar apabila orang tua kita mengalami kondisi pikun. Jangan sampai kita marah-marah kepada orang tua sebab tindakan itu bisa menjadi dosa besar.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Q.S Luqman:14).

[AdSense-A]

  1. Memperoleh perlakuan yang adil

Setelah menikah, kita para perempuan memiliki amanah untuk merawat suami dan anak-anak. Tentunya itu adalah kewajiban utama seorang istri. Namun demikian, kita juga tidak boleh melupakan orang tua. Saat orang tua membutuhkan bantuan maka kita harus segera menolong. Jangan sampai cinta kita kepada orang tua terkalahkan oleh cinta terhadap keluarga baru. Lakukan semuanya secara adil dan seimbang.

Baca juga:

  1. Didoakan yang baik-baik

Sebagai seorang anak, kita harus bisa menjadi kado terindah untuk orang tua. Jika memang kita tidak mampu membahagiakan orang tua secara materi, maka doakanlah sesuatu yang baik untuk mereka. Jangan pernah lupa untuk mendoakan orang tua setiap selesai sholat.

  1. Dikenalkan dengan cucu-cucunya

Setiap orang tua pasti ingin melihat anak perempuannya bahagia, menikah dan memiliki seorang bayi. Sangat senang rasanya bagi orang tua saat menimang cucunya. Hal ini bisa menjadi penghibur bagi orang tua. Maka itu, sering-seringlah mengajak si buah hati bermain ke rumah orang tua. Dengan demikian, silaturahmi juga akan tetap tersambung.

  1. Diperlakukan secara sabar

Sabar adalah salah satu sikap yang harus ditunjukkan anak kepada orang tuanya. Saat pendapat orang tua bertentangan dengan kita, saat orang tua diberikan cobaan pikun, saat kita harus merawat orang tua yang sakit sementara kita juga perlu menjaga buah hati, semua itu itu harus dihadapi dengan kesabaran dan hati yang ikhlas. Ingatlah, bahwa surga berada ditelapak kaki ibu. Dan ayah adalah sosok yang telah menafkahi kita semenjak kecil.

  1. Diingatkan dalam hal beribadah

Tidak ada salahnya kita sebagai anak mengingatkan orang tua akan persoalan ibadah kepada Allah Ta’ala. Barangkali orang tua lupa atau kurang ilmunya, maka kita diwajibkan memberitahu dengan cara sopan dan baik. Dengan begitu berarti kita telah menyelamatkan orang tua dari api neraka.

“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu”. (QS. At Tahrim: 6).

Baca juga:

  1. Dimuliakan

Memuliakan orang tua adalah kewajiban setiap anak, baik perempuan ataupun laki-laki. Baik sebelum ataupun sesudah menikah. Memuliakan orang tua berarti memperlakukannya dengan baik, sering mengunjunginya, membawakan oleh-oleh, berkata secara sopan dan tidak membentak.

  1. Menerima senyuman yang hangat

Kita harus berusaha untuk selalu tersenyum saat bertemu orang tua. Jika ada masalah, tak perlu kita membawa-bawa masalah itu ke rumah apalagi sampai melampiaskannya pada orang tua. Jangan, jangan menunjukkan muka muram di hadapan orang tua. Jika memang ingin bertukar pikiran, ceritakanlah secara baik-baik tanpa harus melontarkan amarah.

  1. Tidak dibebani terlalu berat

Sudah cukup kita membebani orang tua saat sebelum menikah. Setelahnya, kita harus mencoba untuk bisa hidup mandiri. Tidak membebani orang tua dengan pikiran yang terlalu berat. Sebaliknya, kita harus berusaha menyenangkan hati orang tua.

  1. Mendapatkan kabar sesering mungkin

Menelpon orang tua jangan hanya saat membutuhkan saja. Kita harus memberikan kabar kepada orang tua sesering mungkin, terutama saat kita tinggal di tempat yang jauh dari rumah. Jangan biarkan orang tua khawatir ataupun menunggu lama untuk mengetahui kabar kita.

  1. Dibahagiakan

Hak orang tua terhadap anak perempuannya yang sudah menikah yang terakhir sudah pasti dibahagiakan. Membahagiakan orang tua tidak harus dengan uang atau materi. Tapi dengan perlukuan yang baik dan sikap menyenangkan itu saja sudah cukup. Namun apabila kita memiliki rezeki, mengapa tidak mencoba mengajak orang tua berlibur atau membelikan hadiah? Bagaimanapun caranya, cobalah membahagiakan orang tua dengan cara yang benar dan sesuai syariat agama.

Baca juga:

Demikianlah hak-hak orang tua terhadap anak perempuannya yang sudah menikah. Semoga kita bisa menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang tua hingga akhir hayat kita. Amin ya Rabbal Alamin.

Hukum Menyakiti Hati Wanita Dalam Islam dan Dalilnya

Sebagian orang mungkin menganggap wanita sebagai racun dunia. Namun dalam islam, wanita diibaratkan layaknya perhiasaan dunia. Wanita itu adalah sosok yang istimewa. Mereka begitu tegar dan kuat. Namun di sisi lain, mereka bisa berubah menjadi sangat rentan serta rapuh. Hal ini dikarenakan wanita cenderung menggunakan perasaan dibandingkan logika.  Menurut penelitian, kadar produksi hormon dalam tubuh wanita juga sering mengalami perubahan (misalnya saja ketika hamil dan menstruasi), itulah mengapa wanita sangat mudah moody serta gampang emosional.

Lantas, bagaimana sebaiknya sikap laki-laki dalam menghadapi sikap wanita yang demikian? Apabila seorang istri melakukan kesalahan, bolehkah suami membentaknya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, lebih lanjut simak ulasan mengenai hukum menyakiti wanita dalam islam dibawah ini. Check it out!

Baca Juga:

Hukum Menyakiti Hati Wanita di dalam Al – Qur’an

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alayhi Wasallam bersabda: “Berbuat baiklah kepada Wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari Tulang Rusuk, dan sesungguhnya Tulang Rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka sikapilah para Wanita dengan baik.” (HR al- Bukhari)

Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk berbuat kasar kepada wanita. Seorang wanita memiliki perasaan yang lembut dan sangat mudah tersentuh. Sedikit saja mereka disakiti maka mereka akan sakit hati. Maka itu, wanita harus diperlakukan secara baik. Apabila wanita melakukan kesalahan, jangan dihadapi dengan kemarahan yang keras. Percuma, perilaku itu tidak akan membuatnya patuh justru wanita akan semakin memberontak dan sedih.

Baca juga:

A. Hukum Menyakiti Hati Istri

Hanya karena kedudukan suami sebagai kepala keluarga, bukan berarti ia bebas membentak dan memukul istrinya. Selama istrinya tidak melakukan dosa yang fatal, sebaiknya suami memaafkan. Karena bagaimanapun juga tidak ada manusia yang sempurna. Jangan hanya diingat buruk-nya saja. Tapi ingatlah juga kebaikan-kebaikan istri yang telah merawatmu, menghidangkan makanan, mencuci pakaianmu, dan mendidik anak-anakmu. Lalu bagaimana jika istri berbuat dosa yang melanggar syariat agama (seperti berselingkuh), Allah SWT telah menjelaskan jawabannya dalam surat An-nisa ayat 34 yang artinya:

“…Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka, dan jauhilah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. An-nisa:34)

[AdSense-B]

Dari ayat diatas, ada 3 hal yang boleh dilakukan suami saat ia merasa diperlakukan tak adil oleh istrinya:

  • Menasehati istri dengan tutur kata yang baik.
  • Apabila istri tidak bisa dinasehati, maka suami boleh mendiamkannya (pisah ranjang).
  • Jika masih tidak digubris, barulah suami boleh memukul istrinya dengan syarat pukulan itu tidak boleh menimbulkan cedera, tidak boleh memukul diwajah. Tidak boleh memukul dengan tongkat dan benda lain yang keras. Pukulan cukup dilakukan dengan tangan dan tidak untuk menyakiti. Melainkan hanya sebagai pelajaran. Perlu diingat bahwa pukulan ini menjadi opsi terakhir apabila istri benar-benar tidak bisa intropeksi diri. Karena bagaimanapun juga Rasulullah Saw juga tidak menyukai laki-laki yang berbuat kasar, sebagaimana sabdanya: “Apakah pantas, salah seorang di antara kalian memukul istrinya seperti seorang budak tetapi kemudian menggaulinya di penghujung malam?”

Allah SWT menganjurkan seorang suami untuk bersabar menghadapi istrinya, sebagaimana firmannya:

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.S.al-Nisa: 19)

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hukum menyakiti hati wanita tidak boleh. Suami wajib memperlakukan istrinya dengan baik kecuali si istri melakukan perbuatan sangat keji.

Baca juga:

[AdSense-C]

B. Hukum Menyakiti Hati Ibu

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Dosa-dosa besar yang paling besar adalah: syirik kepada Allah, membunuh, durhaka kepada orang tua, dan perkataan dusta atau sumpah palsu” (HR. Bukhari-Muslim dari sahabat Anas bin Malik)

Hadist diatas sudah cukup menjelaskan bahwa anak berkewajiban berbakti pada orang tuanya, yang mana termasuk ibu. Berbakti disini berarti memperlakukan ibu dengan baik, mentaati perintahnya, dan tidak mengucapkan sesuatu yang menyakiti hatinya. Bahkan mengucapkan “Ah” saja dilarang oleh islam. Sebagaimana dijalaskan dalam Al Quran:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Q.S Al Israa’:23)

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa menyakiti hati seorang wanita-yang telan menjadi ibu) adalah dosa besar dan bisa menjerumuskan anak tersebut ke dalam api neraka.

Baca juga:

C. Hukum Menyakiti Hati Wanita (Secara Umum)

Walaupun tidak berstatus sebagai seorang istri ataupun ibu, wanita tetap dipandang mulia oleh islam. Laki-laki tidak boleh menyakiti hati wanita seenaknya saja. Menyakiti perasaan wanita adalah tindakan yang keterlaluan. Wanita mudah jatuh dalam rayuan laki-laki. Apabila laki-laki mempermainkannya, tentu perilaku itu sangat dilarang.

Menyakiti hati wanita termasuk dalam kategori perbuatan menyakiti orang lain. Sedangkan Allah SWT memerintahkan umatnya untuk berbuat baik terhadap sesama, sebagaimana firmannya: “Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakan salat dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Serta dalam surat An-Nahl ayat 90: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An-Nahl:90)

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa menyakiti hati wanita dalam islam tidak ada tuntutannya. Terlebih lagi jika itu dilakukan tanpa alasan yang jelas maka hukumnya tidak diperbolehkan.

Baca juga:

Kedudukan Wanita Dalam Islam

“Sesungguhnya dunia ini seluruhnya adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.” (HR. Ahmad)

Sebelum kita membahas perihal hukum menyakiti hati wanita, ada baiknya kita pahami terlebih dahulu bagaimana kedudukan wanita dalam islam. Wanita tentu sangatlah dimuliakan oleh Allah SWT. Bahkan, tak tanggung-tanggung, Allah SWT juga memasukan surat khusus dengan nama An-nisaa’ yang berarti “wanita” dalam Al-Quran . Nah, dibawah ini beberapa keistimewaan yang dimiliki oleh seorang wanita:

  1. Ketika masih kecil: Pintu surga untuk orang tuanya

Ketika masih kecil, anak perempuan bisa menjadi pintu surga bagi orang tuanya. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist,  dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “…Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, kemudia dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang dari siksa api neraka” (H.R Muslim)

Dijelaskan pula oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku”. Anas bin Malik berkata: Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau. (HR Muslim)

Baca juga:

  1. Ketika menjadi istri: Penentram hati suami

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Ar. Ruum: 21)

Setinggi apapun jabatan, sebanyak apapun harta kekayaan, kehidupan seorang lelaki tidak akan lengkap tanpa kehadiran seorang istri. Itulah mengapa Allah SWT menciptakan manusia saling berpasangan. Agar keduanya bisa merasa senang. Dan seorang istri yang solehah dan pengertian tentu akan menjadi penetram bagi suaminya.

Baca juga:

  1. Ketika menjadi ibu: Madrasah bagi anak-anaknya

Bukan sekolah, madrasah pertama seorang anak adalah ibunya. Dari ibu, anak belajar berbicara, membaca, berhitung, berjalan, dan sebagainya. Apabila ibu mampu memberikan pendidikan yang benar dan sesuai syariat agama, anak-anaknya bisa tumbuh menjadi pribadi yang berakhlakul karimah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa seorang wanita adalah tiangnya negara, mereka adalah kunci pembentuk generasi masa depan. (Baca juga: mendidik anak perempuanCara mendidik anak dalam islam)

  1. Ketika menjadi ibu: Surga berada di telapak kakinya

Ketika wanita telah menjadi ibu, maka ia menjadi kunci surga bagi anak-anaknya. Apabila anak tersebut durhaka kepada ibunya dan tidak meminta maaf maka ia akan masuk neraka. Bahkan rezekinya di dunia pun disempitkan oleh Allah SWT. Nabi Muhammad Saw juga mengatakan bahwa anak harus berbuat baik kepada orang tuanya, dan yang lebih utama mendapatkan kebaikan tersebut adalah ibu, barulah kemudian ayah.

Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku bajik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari-Muslim) (Baca juga: Keutamaan berbakti kepada orang tuaAnak durhaka dalam islam)

Cara Memperlakukan Wanita

Setelah mengetahui bahwa hukum menyakiti hati wanita dalam islam tidak diperbolehkan, lalu bagaimana cara memperlakukan wanita yang benar?

  1. Wanita adalah bagian dari laki-laki, ia tercipta dari tulang rusuk suaminya. Maka tugas suami adalah melindungi wanita (Baca juga:Membangun Rumah Tangga Dalam Islam)
  2. Laki-laki wajib memperingatkan seorang istri yang bersalah, namun tidak dengan membentak. Melainkan dengan tutur kata lembut dan sopan. Sebagaimana sabda rasulullah saw: “Orang perempuan itu seperti tulang rusuk, bila kamu memaksa dalam meluruskanya maka berarti kamu menghancurkanya, dan bila kamu hanya ingin bersenang-senang denganya maka kamu bisa merasa puas tetapi ia akan tetap begkok”
  3. Wanita tidak boleh dipukul pada wajahnya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw, dari Mu’awiyah bin Haidah ra. berkata : “wahai Rasulullah, apakah hak istri salah seorang di antara kami atas suaminya ?” Beliau menjawab : “kamu harus memberinya makan bila kamu makan, kamu harus memberinya pakaian bila kamu berpakaian, kamu tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh menjelek-jelekanya serta kamu tidak boleh mendiamkanya kecuali dalam rumah”. (Riwayat Abu Dawud)
  4. Seorang laki-laki harus bisa menghormati wanita (Baca juga: Larangan pacaran dalam islam)
  5. Laki-laki tidak boleh bersentuhan dengan wanita yang bukan muhrimnya
  6. Untuk seorang suami, ia diperintahkan memperlakukan istrinya dengan sabar, dipergauli secara baik, diberikan nafkah, pakaian dan tidak boleh menjelek-jelekan istri. Dari Abu Hurairah ra. Berkata, Rasulullah bersabda:”Janganlah seorang mukmin (laki-laki) memarahi seorang mukminat (perempuan). Bila ia merasa tidak senang terhadap salah satu perangainya maka ada perangai lain yang menyenangkan. (Riwayat Muslim) (Baca juga: Kewajiban suami terhadap Istri dalam Islam)

Pada intinya, kita sebagai umat islam harus berbuat baik kepada sesama, terutama terhadap wanita. Dan sebaik-sebaiknya wanita adalah mereka yang sholehah, berakhlakul karimah, penyabar, menjaga sikap malunya, menjalankan rukun iman, rukun islam, Iman dalam Islam, Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, serta pelajari Hubungan Akhlak dengan Iman.

Baca juga:

15 Kewajiban Anak Laki-Laki Terhadap Ibunya Setelah Menikah

Segala hal dalam islam telah diatur dengan jelas. Baik itu tentang kewajiban orang tua terhadap anak yang sudah menikah, hak anak terhadap orang tua, dan perintah agar anak berbakti kepada orang tua hingga akhir hayatnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Isra’ ayat 23-24 yang artinya:

 “Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” (QS.Al-Isra : 23)

Ayat diatas menjelaskan bahwa kita sebagai anak wajib berbuat baik kepada orang tua, seperti layaknya orang tua yang menyayangi dan memenuhi hak-hak anaknya selagi masih kecil. Namun demikian, bagi anak perempuan setelah menikah maka haknya akan beralih kepada suaminya. Berbeda dengan anak laki-laki. Kewajiban anak laki-laki terhadap orang tuanya (khususnya ibu) akan terus berlanjut walau dia telah memiliki istri. Anak laki-laki masih harus mengabdi kepada ibunya. Nah, dibawah ini beberapa kewajiban anak laki-laki terhadap ibunya setelah menikah. Simak yuk!

Baca juga:

  1. Berbakti pada ibunya

“Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka”. (Q.S Maryam:14)

Seorang laki-laki yang telah menikah seringkali mengesampingkan bahkan melupakan ibunya hanya karena ia sudah memiliki istri cantik. Naudzubillah. Janganlah berbuat seperti demikian. Sebab kewajiban anak laki-laki untuk berbakti kepada ibunya tetap berjalan meskipun ia telah menikah. Anak laki-laki harus memperhatikan ibunya, memenuhi kebutuhannya dan tentu saja menjalankan apa yang disuruh ibunya (selama itu sesuai syariat agama dan tidak menyimpang). (Baca juga: Keutamaan berbakti kepada orang tuaAnak durhaka dalam islam)

  1. Menyayangi dengan sepenuh hati

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Q.S Al Israa’:24)

Perjuangan seorang ibu untuk membesarkan anaknya tidaklah mudah. Maka itu, anak wajib membalas kebaikan-kebaikan ibunya ketika ia telah dewasa. Salah satunya dengan cara menyayangi. Bahkan walau sudah menikah, anak laki-laki tetap berkewajiban mencintai ibunya melebihi cinta kepada istrinya. Apabila hal ini memicu rasa iri di hati istri, cobalah berikan pengertian kepadanya bahwa ibu adalah hal yang utama dalam islam. Sebisa mungkin, berusahalah menciptakan kedamaian diantara istri dan ibumu. (Baca juga: Cara mendidik anak dalam islamMembangun Rumah Tangga Dalam Islam)

[AdSense-B]

  1. Menghormati dan sopan

Menghormati juga merupakan kewajiban anak laki-laki terhadap ibunya setelah menikah. Anak diperintahkan untuk bertutuk kata yang sopan kepada orang tua. Apabila orang tua melakukan kesalahan, seorang anak tidak boleh membentaknya. Ingatkan mereka dengan ucapan yang lembut. Dan sebagai suami, bimbinglah istrimu untuk turut menghormati ibumu. Sebab bagi seorang istri, mertua adalah ibunya. Jadi harus dihormati dan disayangi layaknya ibu sendiri. Itulah ciri-ciri istri shalehah.

  1. Bersikap adil terhadap nafkah ibu dan istri

Perihal masalah menafkahi, hal ini seringkali menjadi pemicu konflik dalam keluarga. Siapakah yang harus didahulukan oleh suami? Kebutuhan istri dan anak-anak atau kebutuhan ibunya? Islam memang mewajibkan seorang suami untuk menafkahi istri secara lahir dan batin. Dan jika kebutuhan pokok istri telah tercukupi, suami harus memenuhi kebutuhan ibunya. Ingatlah bahwa seorang anak tidak boleh menelantarkan ibunya. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist:

Diriwayatkan bahwa Aisyah Ra bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita?” Rasulullah menjawab, “Suaminya” (apabila sudah menikah). Aisyah Ra bertanya lagi, ”Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki?” Rasulullah menjawab, “Ibunya” (HR. Muslim)

Seorang istri yang melarang suaminya memberikan nafkah kepada mertua, maka perbuatan itu bisa jadi memicu dosa. Namun apabila ia turut merelakannya insyaAllah rezeki suaminya bertambah dan ia memperoleh pahala. (Baca juga: Kriteria calon suami menurut islamKewajiban suami terhadap Istri dalam Islam)

[AdSense-C]

  1. Merawat dengan baik

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Q.S Luqman:14)

Perintah untuk berbuat baik dan merawat orang tua telah dituliskan secara jelas dalam Al-Quran. Sebagai seorang anak, kita wajib merawat orang tua yang telah lanjut usia. Jangan malah mengirimkannya ke panti jompo. perlakukan orang tua dengan baik, sayangi mereka, berikan tempat tinggal yang layak. Apabila kondisi mereka sudah lemah dan tidak ada yang merawatnya, cobalah berbicara dengan istri untuk mengajak orang tua tinggal bersama-sama dalam satu rumah.

Baca juga:

  1. Mematuhi nasehat ibunya, asalkan tidak merugikan

Anak laki-laki yang telah menikah masih wajib mematuhi perintah ibunya. Selama si ibu tidak menyuruh melakukan hal-hal yang dilarang islam (seperti berbuat maksiat) atau perbuatan jahat lainnya maka anak harus mentaati perintah tersebut. Namun apabila istri tidak menyetujuinya, cobalah bertanya alasan mengapa ia tak setuju. Diskusikan baik-baik dengan istri. Dan cobalah berikan pengetian kepada istri tentang ajaran-ajaran islam yang menjelaskan tata cara berperilaku terhadap orang tua. (Baca juga: Hikmah silaturahmiKeluarga dalam islam)

  1. Memperhatikan kondisi ibunya

Perhatian seorang laki-laki setelah menikah tidak hanya diberikan kepada istri dan anak-anaknya saja, tapi ibunya juga wajib menerima perhatian tersebut. Jangan sampai kebersamaan dengan istri melupakan akan keberadaan seorang ibu. Jenguklah ibu sesering mungkin. Berikan apa yang dibutuhkan walaupun seorang ibu mungkin tidak memintanya karena “tidak enak” dan takut merepotkan. Menjadi anak laki-laki haruslah bisa berbuat adil antara ibu dan istri. Jangan menyakiti hati keduanya dan berusahalah untuk membahagiakan mereka.

Baca juga:

  1. Mengajak istri untuk menjaga ibunya

Semakin bertambah usia, kekuatan orang tua akan semakin menurun. Bahkan diantara mereka ada yang bersikap layaknya anak kecil dan menjadi pikun. Di saat seperti itu, anak laki-laki tidak boleh meninggalkan orang tuanya sendirian. Ia wajib menjaga dan merawat mereka. Apabila anak laki-laki tersebut sibuk dan memiliki banyak pekerjaan, maka ia harus menyuruh istri untuk menjaga orang tuanya. Tentunya istri juga harus bersabar. Sebab ketika ia memutuskan menikah secara tak langsung berarti orang tua si laki-laki akan menjadi orang tuanya. Maka wajib bagi dirinya untuk menjaga mertua

Baca juga:

  1. Menjaga nama baik ibunya

Ibu adalah orang yang paling berjasa dalam hidup anaknya. Sejelek apapun sikap ibu, mungkin ia pernah khilaf atau melakukan perbuatan yang memalukan, seorang anak tidak boleh mengumbar aib ibunya dihadapan orang lain termasuk istrinya. Anak laki-laki yang sholeh harus bisa melindungi nama baik keluarganya. Apabila ada masalah dan pertikaian, sebaiknya diselesaikan secara pribadi dengan pikiran tenang dan memperbanyak berdoa meminta petunjuk Allah SWT.

  1. Mendoakan ibunya

Sebagai umat muslim, kita diperintahkan untuk selalu mendoakan orang tua baik di masa hidupnya ataupun ketika mereka telah meninggal. Meskipun seorang anak telah menikah dan menemukan kebahagiaanya, mereka tidak boleh lupa mendoakannya orang tuanya. Sebab orang tua yang telah mengasuh sejak kecil. Maka itu sebisa mungkin doakanlah mereka setiap selesai sholat dan diantara waktu adzan-iqomah. Dengan doa yang telah diajarkan rasulullah Saw, yaitu:

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”

Baca juga:

  1. Menasehati dengan baik apabila ibunya berbuat salah

[AdSense-A]Ada kalanya dimana orang tua bersikap egois, entah karena faktor usia atau keadaan. Namun apapun alasannya, sebagai seorang anak sangat dilarang membentak orang tua. Apabila orang tua melakukan sesuatu yang salah, mungkin menyakiti hati menantunya maka tugas anak laki-laki adalah menasehati orang tua cara halus. Jangan mengatakan ucapan kasar kepada orang tua karena hal itu dimurkai Allah SWT. Sebagaimana firmannya dalam surat Al-israa’ ayat 23 yang artinya:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Q.S Al Israa’:23)

Baca juga:

  1. Meringankan beban ibunya

Seorang ibu berhak mendapatkan perlindungan dari anak laki-lakinya, sekalipun anak tersebut telah menikah. Siapa lagi yang mau melindungi orang tua kalau bukan anaknya? Toh, seorang anak menjadi tumbuh dewasa dan sukses juga berkat orang tuanya. Jadi mereka wajib meringankan beban ibunya, yang berarti memenuhi kebutuhannya, menjaganya dari orang-orang jahat, memastikan ia tinggal di tempat yang aman, segera datang apabila ia membutuhkan bantuan dan sebagainya. (Baca juga: Kedudukan Wanita Dalam IslamCara menjadi wanita baik)

  1. Senantiasa mengingatkan perihal ibadah

Tugas seorang anak kepada orang tua tidak sekedar memberikan kebahagiaan, uang dan kasih sayang. Tapi juga menjaga mereka agar tetap di jalan Allah SWT agar kelak bisa berkumpul bersama di surga. Apabila orang tua sempat belok jalannya, melakukan maksiat atau mungkin lupa beribadah, anak wajib memperingatkannya dengan cara yang baik. Dengan memberikannya nasehat tentang ilmu-ilmu agama berarti kita telah menyelamatkannya dari api neraka. Namun sekali lagi, lakukan itu dengan cara yang sangat lembut dan sopan. Allah SWT berfirman dalam surat At-Tahrim ayat 6 yang artinya:

Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu”. (QS. At Tahrim: 6)

Baca juga:

  1. Memuliakan dan membahagiakan ibunya

Anak perempuan yang telah menikah maka kebahagiaanya menjadi tugas suaminya. Sedangkan kebahagiaan ibu menjadi tanggung jawab anak-anaknya, khusunya anak laki-laki. Jangan sampai menelantarkan ibu! Anak laki-laki wajib memuliakan ibunya, memberikan perhatian, menyayangi dan memenuhi segala kebutuhannya.

  1. Menjaga perasaan ibu

Dari Abdullah bin ’Amru radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua”

Ridha Allah SWT berada di tangan orang tua. Maka itu, sebagai anak wajib menghormati orang tuanya. Menjaga perasaan orang tua juga perlu dilakukan. Anak tidak boleh menyakiti hati orang tuanya. Sebisa mungkin tunjukanlah senyum terindah saat bertemu orang tua. Berucap dengan kata-kata sopan dan selalu mententramkan hatinya. (Baca juga: Cara mengendalikan emosi menurut islamCara meningkatkan kesabaran dalam islam)

Demikianlah beberapa kewajiban anak laki-laki terhadap ibunya setelah menikah. Dengan tanggung jawab tersebut, seorang suami juga tidak boleh melupakan cara membahagiakan istri tercinta dan anak-anaknya. Sebab perilaku suami yang baik terhadap istri dengan dibarengi sikap yang sesuai sumber syariat agama bisa menciptakan kehidupan rumah tangga dalam islam yang bahagia. Tak lupa lupa jalankan rukun iman, rukun islam, Iman dalam Islam, Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, serta pelajari Hubungan Akhlak dengan Iman.

20 Tips Menjadi Istri Salehah Menurut Islam

Pernikahan merupakan salah satu bentuk ibadah yang ada dalam Islam. Berbagai ayat pernikahan dalam Islam  menjelaskan tentang pentingnya, manfaatnya dan juga tata cara dari pernikahan. Pernikahan memiliki berbagai manfaat diantaranya untuk menjauhkan umat dari perbuatan dosa yaitu pergaulan bebas. Islam mengatur secara rinti tentang hukum pergaulan bebas dalam Islam.

Untuk bisa mewujudkan pernikahan yang saadah mawadah warohmah baik istri maupun suami memiliki kewajibannya masing-masing. Islam memiliki pandangan tersendiri tentang bagaimana sebenarnya keluarga sakinah dalam Islam itu. Salah satu kuncinya adalah seorang istri yang salehah. Seorang istri menjadi istri yang salehah menjadi impian dan juga kewajiban yang harus dilakukan. Ada berbagai cara untuk bisa menjadi istri yang salehah diantaranya adalah seperti berikut ini.

Berikut 20 Tips Menjadi Istri yang Salehah

  1. Pandai Mensyukuri Pemberian Suami

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” Kemudian ada yang bertanya kepada Beliau “Apakah yang kufur kepada Allah?” Beliapun menjawab “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.” (HR. Al Bu-khari no. 29 dan Muslim no. 907)

Untuk bisa menjadi istri yang salehah selalu bersyukur dan berterimakasih akan apa yang diberikan oleh suami. Meskipun yang diberikan terkadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan, sebagai istri harus pandai-pandai untuk bersyukur. Hal ini juga akan membawa keluarga dalam sebuah keluarga harmonis menurut Islam.

2. Menjaga Rahasia Suami

Konflik dalam keluarga biasanya menjadi sangat rawan untuk menyebar tentang berbagai hal yang kurang menyenangkan dari suami yang kemudian diceritakan oleh orang lain. Padahal untuk menjadi istri yang salehah hal tersebut harus pantang untuk dilakukan. Seorang istri harus bisa menutup rapat-rapat setiap rahasia dari suaminya terutama hal yang berhubungan dengan hubungan intim antara istri dan suami.

Baca juga:

3. Penuh dengan Kasih Sayang

Istri yang baik adalah yang mampu memberikan kasih sayang secara betul kepada suaminya. Ketika suami pulang dari kerja jangan berikan suasana yang murung atau muram. Dalam sebuah hadis dirawayatkan:

“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Dimana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya dengan tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-nasai dlam Isryratun Nisa no. 257)

4. Mencari Maaf Suaminya

Jika suatu waktu suami marah karena suatu hal, istri juga harus mencari maaf dari suaminya. Mendatangi suami ketika marah kemudian meminta maaf dengan cara yang baik akan menjadi satu ridho tersendiri bagi seorang istri kepada suaminya.

Baca juga:

5. Melayani Suaminya

Istri juga berkewajiban untuk berkhidmat kepada suaminya. Istri harus bisa melayani suami dengan baik mulai dari menyiapkan makan dan minum suami, menyiapkan tmpat tidur, pakaian dan berbagai keperluan lainnya yang memang dibutuhkan oleh suaminya.

[AdSense-B]

6. Mendahulukan Hak Suami Atas Orang tuanya

Orang tua memang wajib untuk dihormati dan dituruti segala permintaannya. Namun, bagi seorang istri yang sudah dialih kewajibannya oleh suaminya maka suami adalah orang yang harus didahulukan terlebih dahulu dibandingkan orang tuanya. Tetapi bukan berarti orang tua bisa diacuhkan begitu saja, sebisa mungkin untuk bisa memberikan porsi yang imbang antar keduanya.

Baca juga:

7. Tidak Keluar Rumah Tanpa Seizin Suami

Jika sebelumnya seorang istri bisa keluar rumah tanpa izin dari suami seperti pada saat pacaran dalam islam misalnya, namun kali ini berbeda. Ketika sudah menjadi seorang istri, wajib hukumnya bagi seorang istri untuk mendapatkan izin terlebih dahulu ketika hendak keluar rumah. Dan jika seorang suami tidak mengizinkan tentu juga istri tidak boleh melanggarnya.

8. Berikan Cinta dan Sayang Terhadap Anak-anak

Bukan hanya harus berbakti kepada suami dengan memberikan kasih sayang penuh kepada suami, tetapi bagi seorang istri untuk bisa menjadi seorang istri yang salehah juga harus bisa untuk menyayangi dan mencintai seluruh anaknya dengan baik. Cara mendidik anak yang baik menurut Islam, memberikan kasih sayang dan tanpa memberikan perlakukan kekerasan kepada anak.

9. Menutup Aurat

Seorang istri hanya boleh memperlihatkan kecantikannya pada suaminya saja. Ia wajib untuk menutup aurat ketika bepergian ataupun ketika ada pria lain disekitarnya. Meskipun sebenarnya hukum wanita tidak berjilbab dalam Islam juga seharusnya diketahui bahkan sejak sebelum memiliki suami.

10. Menyahut dan Hadir Saat di panggil

Salah satu kebutuhan dalam rumah tangga adalah kebutuhan untuk berhubungan antara suami dan istri. Ketika suami menginginkannya, wajib bagi istri untuk meninggalkan segala pekerjannya dan meladeni apa yang diinginkan oleh suaminya tersebut.

“Jika suami mengajak istrinya berhubungan lalu istrinya menolak (tanpa alasan yang dibenarkan), lalu suaminya marah, maka istri itu dilaknat oleh malaikat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca juga:

11. Jangan Membantah

Suami adalah imam keluarga yang menjadi pemimpin dan orang yang harus diikuti oleh keluraganya termasuk oleh istrinya. Bagi istri wajib hukumnya untuk mengikuti apa yang diinginkan dan diperintahkan oleh suami. Jangan pernah membantah jika hal tersebut benar.

12. Merias Diri

Jika sebelumnya dari mulai persiapan pernikahan dalam Islam saja selalu ingin tampil cantik dan selalu merias diri kenapa setelah sudah sah menjadi suami istri tidak dilakukan. Seorang lelaki pada dasarnya sangat mengagumi keindahan dan juga kebersihan, oleh karena itulah selalu berikan tampilan terbaik kepada istri dengan berdandan yang rapi, cantik dan bersih untuk menjadi istri yang salehah.

[AdSense-C]

13. Berikan Perhatian Pada Hal-hal Kecil

Sejatinya seorang pria juga senang untuk dimanja oleh istrinya. Istri bisa memberikan perhatian-perhatian dari hal yang paling sepele hingga hal yang paling besar sekalipun. Misalnya saja perhatikan pada hal yang remeh seperti merapihkan rambutnya, merapikan kancing bajunya, memotong kukunya dan berbagai perbuatan lainnya.

14. Berbicara dengan Baik

Bukan hanya wanita saja yang bisa merasa sakit hati dan sensitif ketika mendapatkan perkataan yang tidak enak, tetapi para suami pun juga bisa merasa sakit hati ketika mereka mendapatkan perkataan dengan nada yang kasar dan juga perkataan yang kurang baik. Oleh karena itulah, sebagai seorang istri sebaiknya selalu bertutur dan berkata dengan cara yang baik kepada suaminya, jangan membentak ataupun memilih kata-kata yang kurang pantas terutama disaat suami baru saja pulang untuk memenuhi kewajiban suami terhadap istrinya.

Tips lainnya:

  • Tidak Pernah Memasukkan Orang Lain ke dalam Rumah tanpa Sepengetahuan dan izin suami.
  • Pantang Menceritakan Kecantikan atau Wanita Lain pada Suaminya.
  • Menjadi Penasehat yang Baik bagi Suaminya.
  • Selalu Menjaga Harta Suami dengan Baik.
  • Menjaga Kehormatan Keluarga sebaik Mungkin.
  • Tidak Menyibukan Diri Saat Suami Sedang Dirumah.

Semoga dengan tips diatas segala kewajiban wanita setelah menikah bisa terpenuhi dengan baik. Istri yang salehah memang bisa menjadi kunci rumah tangga bahagia sehingga mendapatkan rumah tangga yang bahagia dan tentram dan mendapatkan keluarga terbaik dalam islam dengan menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah menurut Islam, kelurga dalam islam, keluarga sakinah dalam islam, keluarga harmonis dalam islam.

30 Cara Mendidik Anak Menurut Islam Yang Baik

Cara mendidik anak menurut islam sebetulnya cukup mudah. Allah memberikan nikmat kepada umat-Nya sudah tidak terhitung jumlahnya. Jika kita menghitung jumlah nikmat yang diberikan oleh Allah dapat dipastikan jumlah jari yang ada di dunia ini tak mampu mencukupi. Di antara berbagai nikmat yang diberikan oleh Allah tersebut salah satunya adalah anak. Allah Swt. telah berfirman dalam Q.S. Al-Kahfi ayat 46, Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Namun perlu kita ketahui bahwa nikmat berupa anak tersebut merupakan amanat dan juga tanggung jawab. Pada hari akhir nanti orang tua akan dimintai pertanggungjawaban mengenai anak-anaknya. Apakah mereka (orang tua) telah menjaga anak-anak mereka dengan baik? Untuk itu penting diketahui, setiap orang tua harus mendidik anak mereka dengan baik terutama dengan nilai agama dan moral yang baik sehingga amanat yang diberikan oleh Allah Swt. bisa kita pertanggungjawabkan.

Pesan Rasullah SAW dalam Mendidik Anak

Setiap orang tua harus mempersiapkan jiwa dan raga anak untuk menghadapi kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Jadi setiap orang tua harus memberikan bekal yang baik agar kelak anak bisa bergaul dengan baik di masyarakat dan kelak memperoleh bekal yang cukup untuk dibawa ke akhirat. Selain itu orang tua juga harus memerhatikan kehidupan di masa yang akan datang, yakni tanggung jawab anak sebagai generasi penerus. Bahkan Rasulullah Saw. pernah berpesan, “Didiklah anak-anakmu karena mereka dijadikan untuk menghadapi masa yang bukan masamu (yakni masa depan, sebagai generasi pengganti”. Anak adalah harapan masa depan. Sebagai orang tua hendaknya kita memberikan pendidikan yang sesuai dengan tuntunan Islam sehingga kelak anak tersebut bisa menjadi harapan bagi kehidupan umat Islam.

Mengingat pentingnya mendidik anak sesuai ajaran Islam agar kelak anak tersebut bisa diandalkan sebagai generasi penerus, maka berikut ini akan penulis sampaikan panduan mendidik anak yang baik menurut Islam.

1. Senantiasa Berdoa

Cara mendidik anak yang baik dalam islam yang pertama adalah memberikannya doa. Berdoa dilakukan tidak hanya ketika anak telah lahir. Ketika anak masih berada dalam kandungan hendaknya sebagai orang tua senantiasa mendoakan agar kelak ia bisa menjadi anak yang sholeh, bisa diharapkan menjadi generasi penerus yang baik bagi agama dan negaranya.

2. Memberikan Nama yang Baik untuk Anak

Anak adalah doa. Mungkin kita pernah mendengar pepatah tersebut. Maka akan sangat bijak jika Anda memilih nama yang baik untuk anak. Kita bisa memilih nama anak semisal dari nama para nabi. Dengan harapan anak akan meniru perilaku-perilaku terpuji dari pada nabi.

3. Akidah

Ajari anak mengenai Islam. Jangan mengajari anak dengan paksaan, karena justru anak akan merasa dikekang dan tidak mau belajar ketika ia dipaksa. Ajari anak mengenai akidah dengan perbuatan-perbuatan terpuji. Hindarkan pula hal-hal menyimpang yang bisa mempengaruhi anak yang berasal dari linkungan. Sebagai contoh tontonan televisi. Saat ini banyak tontonan televisi yang menyimpang bahkan mnyalahi aturan agama. Maka sebagai orang tua adalah suatu keharusan selektif dalam memilih tontonan yang baik. Karena apa yang dilihat oleh anak biasanya akan mudah terekan dalam ingatannya.

4. Mendirikan Sholat

Cara mendidik anak menurut islam yang penting adalah mengajarkannya mendirikan sholat. Sholat merupakan indikasi pertama atas iman kepada Allah Swt. karena sholat mengandung berbagai faedah. Ajarkan anak terhadap kewajiban mendirikan sholat sejak dini. Jangan memintanya mendirikan sholat tapi ajaklah ia bersama-sama mendirikan sholat sehingga ia akan terbiasa dengan hal tersebut.

5. Memberitahu Kewajiban Umat Islam

Setelah memberi tahu kewajiban umat Islam dalam mendirikan sholat, selanjutnya beritahu anak tentang kewajiban-kewajiban lain yang harus dilakukan umat Islam. Lakukan hal tersebut dengan memberikan teladan berupa tindakan. Dengan memberikan contoh justru anak akan merangsang dan menyimpannya dalam memori otak dengan baik. Selain itu anak juga akan mengetahui manfaat dari berbagai kewajiban tersebut dengan melihat apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

6. Membaca Al-Qur’an
[AdSense-B]Jika anak masih berada dalam kandungan, bacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an agar anak memiliki bekal ilmu sejak berada dalam kandungan. ketika anak masih bayi, bacalah Al-Qur’an di dekatnya agar ia terbiasa mendengar. Jika sejak dini anak terbiasa mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an maka kelak ia juga akan terbiasa melaksanakan hal serupa. Apa yang terekam dalam benak anak sejak dini juga akan terbawa hingga ia dewasa kelak.

7. Menanamkan Rasa Malu kepada Anak

Menanamkan rasa malu di sini bukan berarti membuatnya rendah diri. Menanamkan rasa malu yang dimaksud adalah membiasakan ia untuk menjaga kesopanan. Hal tersebut sebaga bukti pendidikan yang baik dan juga lingkungan perkembangan yang baik pula untuk si anak. Ketika rasa malu semakin tinggi maka rasa kesopanan juga akan semakin tinggi. Lagi-lagi hal ini harus dicontohkan oleh orang tua. Orang tua yang selalu menanamkan etika pada anaknya maka kelak anak juga akan mengetahui bagaimana bersikap sopan di lingkungan pergaulannya.

8. Diskusikan Berbagai Permasalahan dengan Anak melalui Perspektif Agama

Ada berbagai permasalahan yang muncul ketika kita membesarkan dan mendidik seorang anak. Mungkin ia tidak mematuhi perkataan orang tua karena melihat apa yang ada di lingkungan bermainnya atau mungkin ada penyebab lain. Jika timbul masalah diskusikan bersama anak mengapa ia tidak boleh melakukan suatu hal yang dilarang oleh agama. Berikan ia pengetahuan berdasarkan rujukan dari agama.

9. Melibatkan Anak dalam Kegiatan-kegiatan Sosial

Kegiatan sosial akan memupuk rasa cinta kasih pada diri anak, terutama rasa cinta kasih terhadap sesamanya yang mungkin masih berkesusahan. Dengan mengikuti kegiatan sosial anak akan terbiasa melihat kehidupan sekitar. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik, penyayang, dan bertanggung jawab.

10. Mengajak Anak Melihat Keindahan Alam

Cara mendidik anak secara islami adalah yang paling mudah dengan mengajak anak mensyukuri keindahan alam. Melihat keindahan alam dan menikamatinya akan membuat anak melihat kebesaran Allah Swt. Ajak anak membuat sesuatu yang menurut anak adalah karya terbaiknya, kemudian ajaklah anak membandingkannya dengan keindahan alam yang diciptakan oleh Tuhannya. Hal itu akan membuat anak berpikir dan meresapi betapa agung Tuhannya dan juga anak akan senantiasa mensyukuri karunia yang diberikan Allah Swt. Melihat keindahan alam juga akan membiasakan anak agar selalu menjaga alam yang telah dianugerahkan Allah untuk umat-Nya.

11. Memperhatikan Pemenuhan Kebutuhan Utama Anak

Kebutuhan utama anak untuk menjalani kehidupan seperti pakaian, makanan yang layak, pendidikan adalah tugas dari orang tua mana saja. Untuk itu anda juga harus memberikannya secara utuh pada dirinya.

12. Mengajarkan anak tentang Alquran

Memberikan pendidikan Alquran serta mengajarinya membaca dan mengamalkannya merupakan salah satu perbuatan yang sangat mulia. Baik untuk anak sendiri dalam mencapai surga atau pun untuk orang tuanya. Ini merupakan kewajiban orang tua yang tidak boleh di abaikna.

13. Jangan Pernah Menyakiti Anak

Islam adalah agama yang indah dan damai, jangan pernah meyakiti perasaan anak apa lagi menyakitinya secara fisik. Sangat tidak diizinkan dalam islam.

14. Beri tahu mana yang baik dan mana yang salah

Anak anak dalam pertumbuhan sangat tidak mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak dalam islam. Untuk itu kita sebagai orang tua lah yang harus melakukannya dengan tabah. Contoh sederhana, seorang anak tidak mungkin mengetahui bahaya daging biawak dalam islam, halal atau tidak, ini adalah tugas kita nantinya membimbing mereka.

15. Memberikan waktu lebih pada anak

Seorang anak merupakan titipan Allah, untuk itu anda harus memberikan waktu lebih pada anak agar dapat memberikannya perhatian yang tulus. Tidak terkecuali seorang ayah, ia juga harus berperan dalam memberikan waktu pada anaknya.

16. Mendoakan anak

Tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anak anaknya, seorang anak juga membutuhkan doa dari orang tua agar terkabul keinginannya. Orang tua yang baik harus mendidik anak dengan mendoakannya.
[AdSense-C]

17. Memberikannya pengarahan dalam memilih pendamping hidup

Cara memilih pendamping hidup sesuai syariat islam sangat mudah dan sederhana, dan ini wajib di ajarkan pada anak anak ketika mereka sudah beranjak remaja nantinya.

18. Memberikan teladan dalam kegiatan sehari hari

Buah jatuh tidak jauh dari batangnya, pepatah ini sangat sesuai dengan adat seorang orang tua pada anaknya. Sifat orang tua akan diturunkan oleh anak anaknya. Jadi anda harus memberikan teladan yang baik bagi anak anda.

19. Jangan marah di depan anak

Marah di depan anak akan membuatnya memiliki sifat pemarah juga, anda jangan membiasakan meluapkan amarah pada anak anak. Jadi anda wajib sabar di depan mereka, agar nanti mereka juga memiliki sifat yang sama.

20. Berbuat baik pada sesama

Setiap anak hendaknya di ajarkan untuk berbuat baik pada sesama dan tidak boleh berbuat kasar, jahat pada semua makhluk hidup di dunia ini.

Cara mendidik anak secara islami lainnya

  • Jaga tutur bahasa yang baik pada mereka
  • Memberikan bimbingan penuh pada mereka
  • Memberikan info info hal yang di anggap pantas dan tidak pantas di lakukan.

Itulah beberapa kiat mendidik anak yang baik menurut Islam. Masih banyak panduan-panduan lain yang belum bisa disampaikan penulis melalui sedikit tulisan ini. Sebagai orang tua pandai-pandailah dalam mendidik anak agar kelak ia bisa menjadi generasi penerus yang baik.

Doa Ibu Hamil Untuk Anak Dalam Kandungan

Doa ibu hamil semasa kehamilan sangat bermanfaat baik untuk kelancaran kehamilan, untuk ibu, juga untuk janin yang dikandung. Selain itu, doa juga bermanfaat untuk pemenuhan kebutuhan rohani/spiritual ibu, membantu menguatkan iman, menjaga diri, dan memberi keselamatan serta ketenangan selama masa kehamilan sampai nanti menghadapi persalinan. Berikut adalah doa yang baik untuk diamalkan selama masa kehamilan, yaitu:

  1. Do’a Ibu Hamil untuk Janin

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Allahumma inni astawdiuka janini alladzi fi rohimi, antalladzi la tudi’u wada’iaka Ya Allah. Allahummarzuqhu jamalal khalqi walkhuluqi waquwwatadini walbadani wasa’adatatdunia wal alkhiroh. Allahum Ya Arhamarrohimin. Allahummaktub tifli alladzi fi batni minassuada’. Allahummaktub lahul umrottowila bil amalissholih. Allahummaktub lahurrizqol wasi’. Allahummaktubhu minassholihinAllahummaj’alhu min hafadzati kitabika wal amilina bihi. Allahummaktub lahul mu’afata fiddini waddunia. Allahummaj’alhu barran biwalidaihi. Allahummaj’alhu qurrota ainin liwalidaihi. Allahummahdini wahdi abihi bitarbiyatihi attarbiyatassholihah allati tardho anna biha. Allahummaktub lahul jihada fi sabilika wafi sabili nashri islamika. Allahummaktub lahussyahadata fi sabilika wafi sabili nashri islamika. Allahumma inkunta katabtahu minassholihin faktubhu minassholihin. Allahumma inkunta katabtahu minal ashqiya, faktubhu minassu’ada’. Allahumma inkunta katabta lahurrizqol qoshir faktublahurrizqot towil. Allahumma inkunta katabta lahul umrol qoshir fil amalissholih, faktublahul umrottowil fil amalissholih.

Artinya:

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Ya Allah aku titipkan padaMu janin yang ada dalam rahimku, Engkau adalah dzat yang tidak akan menyia-nyiakan titipan, Ya Allah, Ya Allah anugerahi dia dengan kebaikan bentuk dan akhlak, kekuatan agama dan fisik, kebahagiaan dunia dan akhirat, Ya Allah Dzat Maha Pengasih, tulislah anakku yang ada di perutku sebagai orang yang berbahagia, Ya Allah tulislah dia memiliki umur panjang dengan amal saleh, Ya Allah tulislah dia dengan rizki yang luas dan tulislah dia termasuk dari orang salih, Ya Allah jadikan janinku termasuk orang yang hafal Al-Qu’ran dan mengamalkannya, Ya Allah tulislah dia terpelihara dalam agama dan dunia, Ya Allah jadikan dia berbakti pada kedua orang tua, Ya Allah jadikan dia permata hati kedua orang tua, Ya Allah berilah aku petunjuk. Dan pandulah ayahnya dengan kemampuan mendidik dengan didikan yang baik yang Engkau ridhoi, Ya Allah tulislah untuknya jihad di jalanmu dan menolong agamaMu, Ya Allah tulislah dia kesaksian di jalanMu dan jalan menolong Islam, Ya Allah apabila Engkau menulisnya termasuk orang sholeh, maka tulislah dia termasuk orang sholeh, Ya Allah apabila Engkau menulisnya termasuk orang yang celaka, maka tulislah ia sebagai orang yang beruntung, Ya Allah apabila Engkau menulisnya memiliki rejeki yang sedikit, maka tulislah dia memiliki rizki yang banyak, Apabila Engkau menulisnya memiliki umur pendek dalam amal shaleh, maka tulislah dia memiliki umur panjang dengan amal yang sholeh.”

  1. Doa Ibu Hamil untuk Keselamatan

Bismillahhirrahmaanir rahiim,

Alhamdu lillaahi rabbil’aalamiin, Allaahumma shalli alaa sayyidinaa Muhammad, Thibbil quluubi wadawaaihaa, Wa’aafiyatil abdaani wa syifaa ihaa, Wanuuril abshaari wa dhiyaa ihaa, Waquutil arwaahi wagidzaa ihaa, Wa’alaa aalihi washahbihi wabaarik wa sallim,

Allaahummahfazh waladaha maa daama fii bathnihaa, Washfihii ma’a ummihi antasysyaafii laa syifaaa illaa syifaa uka syifaa an laa yugoodiru saqoman, Allaahumma shawwirhu fii bathnihaa shuurotanhasanatan, Watsabbit qolbahu iimaanan bika wabiraa suulika, Allaahumma akhrijhu min bathni ummihi waqta walaada tihaa sahlan wasaliiman, Aaamiin, aamiin aamiin yaa robbal ‘aalamin

Artinya:

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang,

Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah tambahkanlah kesejahteraan kepada penghulu kami Nabi Muhammad SAW Sebagai pengobat dan penawar hatiku, penyehat dan penyegar badanku. Sebagai sinar dan cahaya pandangan mata. Sebagai penguat dan santapan rohani. Dan kepada keluarganya dan para sahabatnya berikanlah keberkahan dan keselamatan.”
[AdSense-B]

Ya Allah semoga Engkau lindungi bayi ini selama ada dalam kandungan ibunya. Dan semoga Engkau memberikan kepada bayi dan ibunya Allah yang memberi kesehatan. Tidak ada kesehatan selain kesehatan Allah, kesehatan yang tidak diakhiri dengan penyakit lain. Ya Allah semoga Engkau ciptakan bayi ini dalam kandungan ibunya dgn rupa yg bagus.

Dan semoga Engkau tanamkan hatinya bayi ini iman kepada-Mu ya Allah dan kepada Rosul-Mu. Ya Allah semoga Engkau mengeluarkan bayi ini dari dalam kandungan ibunya pada waktu yg telah ditetapkan dalam keadaan yg sehat dan selamat. Kabulkanlah doa kami, kabulkanlah doa kami.

  1. Doa Ibu Hamil untuk Kecerdasan dan Kebaikan Janin

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Allaahummaj ‘alhu shahiihan kaamilan wa’aaqilan haa dziqan wa’aaliman’aamilan, Allaahumma thawwil umrahu washahhih jasadahu wahassin khuluqohu wafashshih lisaa nahu, Wa ahsin shautahu li qiraa atil hadiitsi wal qur’aan, Wawasi’rijqahu, Wajalhu insaanan kaamilan saaliman fiddunya wal aakhirah, Bibirakati sayyidinaa Muhammaddin shallallaahu’alaihi wasallam wal hamdu lillahi rabbil’aalamiina Aaamin, aamin aamin yaa robbal aalamin.

Artinya:

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang,

Ya Allah semoga Engkau jadikan bayi ini sehat, sempurna, berakal cerdas dan mengerti dalam urusan agama. Ya Allah semoga Engkau memberikan kepada bayi ini umur yang panjang, sehat jasmani dan rohani, bagus budi perangainya, fasih lisannya Serta bagus suaranya untuk membaca dan Al Quran Dan tinggikanlah derajatnya Dan luaskanlah rizkinya Dan jadikanlah bagi manusia yg sempurna selamat di dunia dan akhirat. Dengan berkahnya Nabi besar Muhammad SAW dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam aamin, aamin aamin yaa robbal aalamin Kabulkanlah doa kami, kabulkanlah doa kami.”

Selain doa di atas, berikut beberapa amalan lain yang juga baik dilakukan oleh ibu hamil, yaitu:
[AdSense-C]

  1. Ali Imran ayat 35-36

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Robbi inni nadzartu laka maa fii bathnii muharroron fataqobbalminnii, Innaka antas sami’ul alim”.

Artinya:

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku manjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui dan aku mohon perlindungan untuknya dan keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk.”

  1. Ibrahim, ayat 40

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Robbij’alnii muqiimash sholaati wa min dzurriyatii robbanaa wa taqobbal du’aa.

Artinya:

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami perkenankanlah doaku.”

  1. Serta beberapa surah lain di dalam Al-Qur’an yang juga baik untuk diamalkan selama masa kehamilan adalah:
  • Surah Al-Mu’minuun, ayat  12-14
  • Surah Lukman, ayat 14
  • Surah Yusuf, ayat 1-16
  • Surah Maryam, ayat 1-15
  • Ar Rahmaan, ayat 1-78

[accordion]
[toggle title=”Artikel Terkait”]

[/toggle]
[toggle title=”Artikel Lainnya”]

[one_fourth]

[/one_fourth]

[one_fourth]

[/one_fourth]

[one_fourth]

[/one_fourth]

[one_fourth_last]

[/one_fourth_last]

[/toggle]
[/accordion]