Sejarah Isra’ Mi’raj – Awal Diwajibkannya Shalat

√ Islamic Base Pass quality & checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Salah satu peristiwa penting umat Islam di bulan Rajab adalah Isra’ Mi’raj. Isra’ Mi’raj sejatinya merupakan dua peristiwa yang terjadi dalam waktu semalam, yaitu Isra’ dan Mi’raj.

Isra’ adalah perjalanan malam yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjid Al Aqsa di Palestina.

Dalam surat Al-Israa‘ ayat 1 Allah berfirman,

Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Israa’ : 1)

Adapun yang dimaksud dengan Mi’raj adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat ke langit ke tujuh dan menerima perintah shalat wajib lima waktu.

Dalam surat An-Najm ayat 1-18 Allah berfirman,

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dia tidajlah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai keteguhan, maka (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat (kepada Muhammad untuk menyampaikan wahyu), lalu bertambah dekat. Sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu disampaikannya wahyu kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah diwahyukan Allah. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang dilihatnya itu? Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, da telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm : 1-18)

Kronologis peristiwa Isra’ Mi’raj banyak diceritakan dalam hadits-hadits shahih di antaranya Imam Muslim dan Imam Bukhari.

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bercerita tentang Isra’ Mi’raj kepada para sahabatnya. 

Dari Malik bin Sha’sha’ah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bercerita kepada mereka tentang malam perjalanan Isra’.

“Ketika aku berada di al Hathim” – atau beliau menyebutkan di al Hijr- dalam keadaan berbaring, tiba-tiba seseorang datang lalu membelah.” Qatadah berkata, ‘Dan aku juga mendengar dia berkata, “lalu dia membelah apa yang ada di antara ini dan ini.” Aku bertanya kepada Al Jarud yang saat itu ada di sampingku, ‘Apa maksudnya?’. Dia berkata, “dari lubang leher dada hingga bawah perut” dan aku mendengar dia berkata, “dari atas dadanya sampai tempat tumbuhnya rambut kemaluan”. “Lalu laki-laki itu mengeluarkan kalbuku (hati), kemudian dibawakan kepadaku sebuah baskom terbuat dari emas yang dipenuhi dengan iman, lalu dia mencuci hatiku kemudian diisinya dengan iman dan diulanginya.” (HR. Bukhari)  

Dalil yang juga diriwayatkan Imam Bukhari juga menyatakan bahwa yang dimaksud dengan seseorang itu adalah Malaikat Jibril ‘alaihis salam.

Dari Anas bin Malik, Adu Dzar menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Saat aku di Makkah, atap rumahku terbuka, tiba-tiba datang Malaikat Jibril ‘alaihis salam … “ (HR. Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan bahwa sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaiki Buraaq, terlebih dahulu hati Beliau “disucikan” dan diisi dengan iman berulang kali oleh Malaikat Jibril ‘alaihis salam.

Kemudian, Buraaq didatangkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun menunggangi Buraaq tersebut dan berangkat bersama Jibril ‘alaihis salam ke langit.

“Kemudian aku didatangkan seekor hewan tunggangan berwarna putih yang lebih kecil daripada baghal namun lebih besar dibanding keledai.” Al Jarud berkata kepadanya, ‘Apakah itu yang dinamakan al Buraq, wahai Abu Hamzah?’. Anas menjawab, ‘Ya. Al Buraq itu meletakkan langkah kakinya pada pandangan mata yang terjauh’. “Lalu aku menungganginya kemudian aku berangkat bersama Jibril ‘alaihis salam hingga sampai di langit dunia.” (HR. Bukhari)

1. Bertemu Nabi Adam ‘alaihis salam

Ketika tiba di langit pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan Nabi Adam ‘alahis salam.

Lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit, kemudian dia ditanya, “Siapakah ini?”. Jibril menjawab, “Jibril”. Ditanyakan lagi, “Siapa orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Ditanyakan lagi, “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab, “Ya”. Maka dikatakan, “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang.” Maka pintu dibuka dan setelah melewatinya aku berjumpa Adam ‘alaihis salam. Jibril ‘alaihis salam berkata, “Ini adalah bapakmu, Adas. Berilah salam kepadanya.” Maka aku memberi salam kepadanya dan Adam ‘alaihi salam membalas salamku lalu dia berkata, “Selamat datang anak yang shalih dan nabi yang shalih.” (HR. Bukhari) 

2. Bertemu Nabi Yahya ‘alaihis salam dan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibawa ke langit kedua dan bertemu dengan Nabi Yahya ‘alahis salam dan Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. 

Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua, lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit, kemudian dia ditanya, “Siapakah ini?”. Jibril menjawab, “Jibril”. Ditanyakan lagi, “Siapa orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Ditanyakan lagi, “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab, “Ya”. Maka dikatakan, “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang.” Maka pintu dibuka dan setelah melewatinya aku berjumpa dengan Yahya dan ‘Isa ‘alaihis salam, keduanya adalah anak dari satu bibi.  Jibril  berkata, “Ini adalah Yahya dan ‘Isa, berilah salam kepada keduanya.” Maka aku memberi salam kepada keduanya dan keduanya  membalas salamku lalu keduanya berkata, “Selamat datang saudara yang shalih dan nabi yang shalih.” (HR. Bukhari)

3. Bertemu Nabi Yusuf ‘alaihis salam

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibawa ke langit ketiga dan bertemu dengan Nabi Yusuf ‘alaihis salam. 

“Kemudian aku dibawa naik ke langit ketiga lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit, kemudian dia ditanya, “Siapakah ini?”. Jibril menjawab, “Jibril”. Ditanyakan lagi, “Siapa orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Ditanyakan lagi, “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab, “Ya”. Maka dikatakan, “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang.” Maka pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku berjumpa dengan Yusuf  ‘alaihis salam. Jibril ‘alaihis salam berkata, “Ini adalah Yusuf. Berilah salam kepadanya.” Maka aku memberi salam kepadanya dan Yusuf ‘alaihi salam membalas salamku lalu berkata, “Selamat datang saudara yang shalih dan nabi yang shalih.” (HR. Bukhari) 

4. Bertemu Nabi Idris ‘alaihis salam

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibawa ke langit keempat dan bertemu dengan Nabi Idris ‘alaihis salam. 

“Kemudian aku dibawa naik ke langit keempat lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit, kemudian dia ditanya, “Siapakah ini?”. Jibril menjawab, “Jibril”. Ditanyakan lagi, “Siapa orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Ditanyakan lagi, “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab, “Ya”. Maka dikatakan, “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang.” Maka pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku berjumpa dengan Idris ‘alaihis salam. Jibril ‘alaihis salam berkata, “Ini adalah Idris. Berilah salam kepadanya.” Maka aku memberi salam kepadanya dan Idris ‘alaihi salam membalas salamku lalu berkata, “Selamat datang saudara yang shalih dan nabi yang shalih.” (HR. Bukhari)  

5. Bertemu Nabi Harun ‘alaihis salam

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibawa ke langit kelima dan bertemu dengan Nabi Harun ‘alaihis salam. 

“Kemudian aku dibawa naik ke langit kelima lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit, kemudian dia ditanya, “Siapakah ini?”. Jibril menjawab, “Jibril”. Ditanyakan lagi, “Siapa orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Ditanyakan lagi, “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab, “Ya”. Maka dikatakan, “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang.” Maka pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku berjumpa dengan Harun ‘alaihis salam. Jibril ‘alaihis salam berkata, “Ini adalah Harun. Berilah salam kepadanya.” Maka aku memberi salam kepadanya dan Harun ‘alaihi salam membalas salamku lalu berkata, “Selamat datang saudara yang shalih dan nabi yang shalih.” (HR. Bukhari)  

6. Bertemu Nabi Musa ‘alaihis salam

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibawa ke langit keenam dan bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihis salam. 

“Kemudian aku dibawa naik ke langit keenam lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit, kemudian dia ditanya, “Siapakah ini?”. Jibril menjawab, “Jibril”. Ditanyakan lagi, “Siapa orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Ditanyakan lagi, “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab, “Ya”. Maka dikatakan, “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang.” Maka pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku berjumpa dengan Musa ‘alaihis salam. Jibril ‘alaihis salam berkata, “Ini adalah Musa. Berilah salam kepadanya.” Maka aku memberi salam kepadanya dan Musa ‘alaihi salam membalas salamku lalu berkata, “Selamat datang saudara yang shalih dan nabi yang shalih. Ketika aku sudah selesai, tiba-tiba dia menangis. Lalu ditanyakan, “Mengapa kamu menangis?”. Musa menjawab, “Aku menangis karena anak ini diutus setelah aku namun orang yang masuk surga dari umatnya lebih banyak dari orang yang masuk surga dari umatku.” (HR. Bukhari)  

7. Bertemu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibawa ke langit ketujuh dan bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. 

“Kemudian aku dibawa naik ke langit ketujuh lalu Jibril meminta dibukakan pintu langit, kemudian dia ditanya, “Siapakah ini?”. Jibril menjawab, “Jibril”. Ditanyakan lagi, “Siapa orang yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad”. Ditanyakan lagi, “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab, “Ya”. Maka dikatakan, “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang.” Maka pintu dibuka dan setelah aku melewatinya, aku mendapatkan Ibrahim ‘alaihis salam. Jibril ‘alaihis salam berkata, “Ini adalah bapakmu. Berilah salam kepadanya.” Maka aku memberi salam kepadanya dan Ibrahim ‘alaihi salam membalas salamku lalu berkata, “Selamat datang anak yang shalih dan nabi yang shalih. (HR. Bukhari)  

8. Baitul Ma’mur

Ketika tiba di langit ketujuh dan menjumpai Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tengah menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’mur.

Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Baitul Ma’mur ada di langit ketujuh, setiap hari dimasuki oleh 70.000 malaikat, dan mereka tidak pernah kembali lagi …” (HR. Ahmad)

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diangkat ke Baitul Ma’mur dan mengambil gelas yang berisi susu.

Kemudian aku diangkat ke Baitul Ma’mur, lalu aku diberi satu gelas berisi khamer, satu gelas berisi susu dan satu gelas lagi berisi madu. Aku mengambil gelas yang berisi susu. Maka Jibril berkata, “Ini merupakan fithrah yang kamu dan umatmu berada di atasnya”. (HR. Bukhari)

9. Sidratul Muntaha

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan perjalanan ke langit tertinggi yakni Sidratul Muntahaa.

Kemudian Sidratul Muntahaa diangkat/dinampakkan kepadaku yang ternyata buahnya seperti tempayan daerah Hajar dengan daunnya laksana telinga-telinga gajah. Jibril ‘alaihis salam berkata, “Ini adalah Sidratul Muntahaa.” Ternyata di dasarnya ada empat sungai, dua sungai Bathin dan dua sungai Zhahir”. Aku bertanya: “Apakah ini wahai Jibril?”. Jibril menjawab, “adapun dua sungai Bathian adalah dua sungai yang berada di surga, sedangkan dua sungai Zhahir adalah an Nail dan eufrat”. (HR. Bukhari)

10. Menerima Perintah Shalat

Di Sidratul Muntahaa inilah Allah SWT mewajibkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya untuk mendirikan shalat 50 waktu sehari semalam.

Kemudian diwajibkan bagiku shalat lima puluh kali dalam setiap hari. Aku pun kembali dan lewat di hadapan Musa ‘alaihis salam. Musa bertanya, “Apa yang telah diperintahkan kepadamu?”. Aku menjawab, “Aku diperintahkan shalat lima puluh kali setiap hari”. Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melaksanakan lima puluh kali shalat dalam sehari, dan aku, demi Allah, telah mencoba menerapkannya kepada manusia sebelum kamu, dan aku juga telah berusaha keras membenahi Bani Isra’il dengan sungguh-sungguh. Maka kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan untuk umatmu”. (HR. Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan bahwa pada awalnya Allah SWT mewajibkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya untuk mendirikan shalat 50 waktu dalam sehari.

Beliau pun menerima perintah tersebut dan bergegas pulang. Namun Nabi Musa ‘alaihis salam memperingatkan bahwa umat Beliau tidak akan sanggup menjalankan shalat 50 kali sehari semalam.

Hal ini didasarkan atas pengalaman Nabi Musa ‘alaihis salam ketika diutus untuk Bani Israil. Nabi Musa ‘alaihis salam menyarankan agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meminta keringanan kepada Allah SWT.

Maka aku kembali dan Allah memberiku keringanan dengan mengurangi sepuluh shalat, lalu aku kembali menemui Musa. Maka Musa berkata sebagaimana yang dikatakan sebelumnya, lalu aku kembali dan Allah memberiku keringanan dengan mengurangi sepuluh shalat, lalu aku kembali menemui Musa. Maka Musa berkata sebagaimana yang dikatakan sebelumnya, lalu aku kembali dan Allah memberiku keringanan dengan mengurangi sepuluh shalat, lalu aku kembali menemui Musa. Maka Musa berkata sebagaimana yang dikatakan sebelumnya. Aku pun kembali, dan aku di perintah dengan sepuluh kali shalat setiap hari. Lalu aku kembali dan Musa kembali berkata seperti sebelumnya. (HR. Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun berulang kali pulang balik antara Allah Tabaraka wa Ta’ala dan Nabi Musa ‘alaihis salam.

Hingga akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima perintah shalat lima waktu.

Aku pun kembali, dan akhirnya aku diperintahkan dengan lima kali shalat dalam sehari. Aku kembali kepada Musa dan dia berkata, “Apa yang diperintahkan kepadamu?”. Aku jawab, “Aku diperintahkan dengan lima kali shalat dalam sehari”. Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melaksanakan lima kali shalat dalam sehari, dan sesungguhnya aku, telah mencoba menerapkannya kepada manusia sebelum kamu, dan aku juga telah berusaha keras membenahi Bani Isra’il dengan sungguh-sungguh. Maka kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan untuk umatmu”. Beliau berkata, “Aku telah banyak memohon (keringanan) kepada Rabbku hingga aku malu. Tetapi aku telah ridla dan menerimanya”. Ketika aku telah selesai, terdengar suara orang yang berseru: “Sungguh Aku telah memberikan keputusan kewajiban-Ku dan Aku telah ringankan untuk hamba-hamba-Ku”. (HR. Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan bahwa meskipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disarankan untuk kembali meminta keringanan kepada Allah SWT, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam enggan melakukannya.

Beliau pun menerima perintah shalat fardhu lima waktu tersebut dengan ikhlas.

Persitiwa atau sejarah Isra’ Mi’raj di atas menunjukkan besarnya tanda kekuasan Allah SWT dan keutamaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antara nabi dan rasul ‘alaihimus shalatu wa salaam lainnya.

fbWhatsappTwitterLinkedIn