Hukum Menegur Orang Tua yang Tidak Beribadah

Sebagai umat muslim, ibadah adalah sebuah kewajiban yang mutlak, tidak mengenal keadaan dan tetap wajib dilakukan sesuai kemampuan serta dilakukan dengan niat karena Allah dan tidak menjadi hal hal yang menghapus amal ibadah . Ibadah juga harus dilakukan semua umat muslim tanpa memandang kecerdasan atau kepintaran mengenai ilmu agama yang dmilikinya. Misalnya ialah umat muslim yang telah lama memeluk islam dan mualaf, semuanya sama sama wajib untuk beribadah kepada Allah.

ads

Pada kesempatan kali ini penulis akan membahas mengenai hal yang tidak jauh dari ibadah, dimana ibadah itu sendiri umumnya sudah diajarkan sejak masa kecil oleh orang tua atau melalui pendidikan di sekolah dimana orang tua memang memiliki kewajiban untuk mengajarkailu kepada anaknya. Namun, orang tua juga manusia biasa yang bisa naik turun imannya dimana emmang terdapat berbagai tingkatan iman dalam islam.

Terkadang orang tua lebih unggul dalam hal ibadah, atauu sebaliknya. Jika terdapat kondisi dimana orang tua lebih buruk ibadahnya daripada si anak, tentunya jika anak tersebut paham juga dikenakan kewajiban untuk mengingatkan dan menegur orang tua seperti terdapat dalam Dalil berbakti kepada orang tua.Nah pembaca semuanya, kali ini penulis menguraikan hal ini selengkapnya, yuk simak dalam artikel berikut, hukum menegur orang tua yang tidak beribadah.

Riwayat dalam Al Qur’an

Di Al Qur’an sendiri, terdapat kisah yang jelas mengenai teguran anak terhadap orang tua yang tidak beribadah, dimana hal itu ditulis lengkap yakni mengenai kisah Nabi Ibrahim dan ayahnya, Aazar. “Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: Patutkah ayah menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan- tuhan?” (QS. al-An’aam : 74). Tentunya disini terdapat niat baik Nabi Ibrahim untuk memberi kesadaran dan mengingatkan orang tuanya walaupun keutamaan orang tua dalam islam seharusnya ialah mengingatkan anaknya menuju kebaikan.

Hukum Menegur Orang Tua yang Tidak Beribadah

Pembaca semuanya, menegur otang tua yang tidak beribadah hukumnya adalah wajib, hal itu sama wajibnya dengan hukum menegur orang tua yang lalai shalat, menegur dilakukan seusai kemampuan dengan kalimat yang lembut dan dengan memberikan contoh yang terbaik, entah apapun nantinya dampak dari teguran tersebut sepenuhnya adalah kuasa Allah, sebab manusia memiliki kewajiban mengingatkan kebaikan kepada satu sama lain terlebih kepada orang tua. Berikut contoh ketika Nabi Ibrahim menegur ayahnya.

Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun ? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.

Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan yang Maha pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. (Qs Maryam: 42-46).

Tentunya bagaimanapun hasilnya, kita sebagai manusia tak boleh kecewa, sebab hanya Allah yang mengetahui dan memberi petunjuk pada hambaNya, manusia tetap wajib untuk menyerukan kebaikan sebagaimana firman Allah berikut, “ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui org-org yang mendapat petunjuk ”. Berikut berbagai alasan diwajibkannya menegur orang tua yang tidak beribadah.

1. Sesama Muslim Wajib Memberi Peringatan

Bahwasannya engkau adalah pemberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (QS. Al Ghasiyah (88): 21-22). “Berbicaralah kamu dengan manusia sesuai dengan kadar kemampuannya”. “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) melainkan dengan cara yang baik. Kecuali dengan orang-orang yang zhalim diantara mereka” QS. Al Ankabut (29) :46.


Jelas dari firman Allah tersebut bahwa tiap umat muslim wajib untuk memberi peringatan satu sama lain dalam hal kebaikan, begitu pun dengan ibadah, wajib untuk mengajak kepada yang baik dan menjauhi yang batil. Jika kita mendapat ilmu yang lebih dan memiliki pengetahuan lebih, tentu harus menyearkan ilmu tersebut, sebab jika di sekitar kita terlebih orang tua yang terdekat dalam keadaan tersesat namun ita tidak melakukan apapun, kita juga ikut menanggung dosanya.

2. Dilakukan karena Akherat

Sesungguhnya setiap amal itu bergantung kepada niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya (dinilai) kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka (hakikat) hijrahnya itu hanyalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Nah sobat pembaca, ketika menegur orang tua tentunya wajib diniatkan karena Allah dan karena ibadah, bukan karena merasa lebih pintar atau karena niat riya, tentunya niat yang buruk juga akan membawa kepada keburukan dan niat baik juga akan mendapatkan jalan yang terbaik dari Allah, jadi sebelum menegur wajib memperbaiki niat dan memohon doa kepada Allah agar diberi kelancaran dan keberkahan serta hasil yang terbaik.

3. Dilakukan dengan Lemah lembut

Setiap sikap kelembutan yang ada pada sesuatu, pasti akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya. (HR. Muslim). “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut.” (QS. Ath Thaha: 44). Ibnu Hazm Azh Zhahiri mengatakan: “Janganlah kamu memberi nasehat dengan mensyaratkan nasehatmu harus diterima. Jika kamu melanggar batas ini, maka kamu adalah seorang yang zhalim…” (Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44)

Jelas bahwa suat teguran terlebih pada orang tua, wjaib disampaikan dengan kalimat yang lemah lembut, jika sobat merasa kesulitan, dapat bertanya atau banyak membaca terlebih dahulu bagaimana cara terbaik agar kata kata yang diupcapkan tidak membuat hati orang tua tersakiti, bagaimanapun juga, kita memiliki ilmu mengenai ibadah tidaklah lepas dari peran orang tua yang telah membesarkan anaknya dengan baik dan penuh kasih sayang

4. Hidayah Adalah Hak Allah

Ibnu Mas’ud pernah bertutur: “Sesungguhnya adakalanya hati bersemangat dan mudah menerima, dan adakalanya hati lesu dan mudah menolak. Maka ajaklah hati saat dia bersemangat dan mudah menerima dan tinggalkanlah saat dia malas dan mudah menolak.” (Al Adab Asy Syar’iyyah, Ibnu Muflih). Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi. (Qs al-A’rof : 178)

5. Dilakukan Sesuai Kesanggupan

Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”. (Qs Huud : 34). “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…” (QS. At-Taghobun: 16). “Apabila aku perintahkan kepada kalian suatu perkara maka laksanakanlah menurut kesanggupanmu.” Setiap nasehat yang disampaikan, dapat diutarakan seusai kesanggupan yakni sejauh ilmu yang dimiliki.

6. Wajib Tetap Berbuat Baik pada Orang Tua

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk memperseukutan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik..” (QS. Luqman: 14-15)


Dalam menegur orang tua yang tidak beribadah, tentunya tidak diperkenankan untuk berbuat sesuatu yang tidak disukai oleh orang tua, wajib untuk tetap berbuat baik kepada kedua orang tua di luar ibadah, misalnya tetap membantu pekerjaan rumah, tetap membantu keuangan jika anak yang lebih mampu, dsb, tidak diperbolehkan menelantarkan orang tua karena masalah ibadah.

7. Menjalankan Kewajiban Anak

Maka apabila seorang ayah bermalas-malasan melakukan shalat di masjid, atau ia menerjang suatu kemungkaran yang lain —semisal merokok, mencukur jenggot, isbal, atau perbuatan-perbuatan maksiat lainnya— maka seorang anak wajib menasihati dengan cara yang baik. Demikian pula halnya bersikap terhadap ibu, saudaranya, dan yang lainnya, sehingga bisa terwujud apa yang diinginkan. (Majmu Fatawa wa Maqolat Mutawwi’ah, 6:350-351). Jelas bahwa menegur orang tua yang tidak beribadah hukumnya adlaah wajib.

Demikian yang dapat disampaikan penulis, semoga sobat pembaca semua bisa mengambil hikmah di baliknya yakni tetap berbuat baik dengan mengingatkan sesama termasuk orang tua. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan islami anda. Terima kasih.

, , , , ,




Post Date: Monday 16th, July 2018 / 08:07 Oleh :
Kategori : Amalan Shaleh
Yuk Join & Subs Channel Saya Islam

Tukar Uang untuk THR Idul Fitri, Haram?

Kalau Sahur Jangan Buka Medsos, Mending Amalin Ini

Wajib Tonton ! Rekomendasi Film Religi Terbaik Pas Buat Nemenin Ramadhanmu