Bahaya Putus Asa Dalam Islam beserta Dalilnya

Putus asa memang merupakan salah satu kondisi yang bisa saja dialami oleh siapapun di dunia ini. Namun ketahuilah bahwa putus asa sebenarnya tergantung dari diri kita sendiri. Dengan kata lain, sebenarnya kita dapat menghilangkan putus asa dari dalam diri kita. Kuncinya pun sederhana, yaitu dengan cara selalu berusaha dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, entah sesulit atau serumit apapun masalah yang sedang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

ads

Mengapa demikian? Karena kebanyakan orang-orang yang mengalami putus asa pasti disebabkan oleh dua hal pokok di bawah ini:

  1. Ketika ia ditimpa musibah dalam hal dunia, seperti sakit, gagal dalam pekerjaan, dan berbagai cobaan lainnya yang tak lain merupakan ujian dari Allah SWT dalam kehidupan.
  2. Ketika ia terjerumus ke dalam dosa-dosa yang membinasakan. Artinya ia sudah terbiasa melakukan maksiat-maksiat yang di luar batas sehingga menimbulkan anggapan bahwa dosanya akan sulit diampuni oleh Allah SWT. Padahal sebagaimana kita tahu bahwa Allah SWT adalah Tuhan Semesta Alam Yang Maha Pengampun. Sebesar atau seberat apapun dosa kita, selama kita mau berusaha bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat (taubat nashuha), maka niscaya Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa tersebut.

Itulah kedua hal pokok yang seringkali dialami kebanyakan orang sehingga mereka mengalami putus asa. Padahal apabila kita tahu bahwa sebenarnya putus asa tersebut dilarang di dalam ajaran Islam. Hal ini dikarenakan sikap putus asa justru akan menimbulkan bahaya apabila dibiarkan terus-menerus tumbuh di dalam diri seseorang.

Sebagaima firman Allah SWT dalam surat Al Hijr ayat 56 dan Az Zumar ayat 53, yang artinya:

“Ibrahim berkata, “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”.” (Q.S. Al Hijr: 56).

“Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.” (Q.S. Az Zumar: 53)

Dari kedua ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa Allah melarang kita untuk berputus asa, di mana sesungguhnya putus asa itu hanya ada bagi orang-orang sesat. Jadi, sebagai orang Islam kita harusnya tidaklah berputus asa karena kita bukan termasuk orang-orang yang tersesat selama masih mengaku Islam dan beriman kepada Allah SWT serta Rasul-Nya, Muhammad SAW.

Berikut tiga bahaya putus asa dalam islam di dunia, terlebih berputus asa atas rahmat Allah, yang dikutip dari beberapa firman-Nya dan hadits Rasul-Nya, antara lain:

1. Lupa Terhadap Kebaikan Tuhan

Bahaya putus asa yang pertama ialah membuat kita lupa terhadap kebaikan yang telah diberikan Tuhan, Allah SWT. Hal ini sebagaimana tersirat dari makna salah satu firman Allah SWT dalam Al Qur’an, yang artinya:

“Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa”. (Q.S. Ar Ruum: 36).

Dari ayat tersebut dapat kita ambil sebuah ibarah (pelajaran) bahwa sikap putus asa membuat kita lupa kepada kebaikan yang pernah diberikan Tuhan, Allah SWT kepada kita di saat senang (gembira).


Dan di saat kita tertimpa musibah, kita menjadi lupa terhadap kebaikan tersebut karena tertutupi oleh sikap putus asa. Dalam Islam, istilah lupa kebaikan atau nikmat biasanya disebut dengan “kufur nikmat”.

2. Rugi Dunia dan Akhirat

Bahaya putus asa yang kedua ialah menjadikan kita termasuk orang-orang yang merugi, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini sebagaimana tercantum dalam salah satu firman Allah SWT dalam Al Qur’an, yang artinya:

“Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebaikan, tetaplah ia dalam keadaan itu dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata”. (Q.S. Al Hajj: 11).

Dari ayat tersebut jelas dikatakan bahwa orang yang ditimpa musibah dan berpaling ke belakang, maka ia akan rugi di dunia dan akhirat. Yang mana, kerugian itu adalah kerugian yang nyata. Sebagaimana dapat kita maknai bahwa orang yang ditimpa musibah dan berpaling ke belakang berarti menandakan kalau ia adalah orang yang putus asa karena justru semakin lupa kepada Tuhannya, Allah SWT.

3. Sama Derajatnya Dengan Kaum Kafir

Bahaya putus asa yang ketiga ialah menjadikan kita memiliki derajat yang sama dengan kaum kafir. Hal ini sebagaimana tercantum dalam salah satu firman Allah SWT dalam Al Qur’an, yang artinya:

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya; dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Q.S. Yusuf: 87).


Ayat tersebut merupakan cerita Nabi Yaqub a.s yang mewasiatkan kepada anak-anaknya ketika sedang ikhtiar (berusaha). Dari ayat tersebut kita dapat mengambil ibarah (pelajaran) bahwa saat kita berusaha terhadap segala sesuatu, maka janganlah berputus asa atas rahmat Allah SWT. Karena keputus asaan itu hanyalah milik orang kafir, sehingga apabila kita berputus asa, maka kita sebanding dengan orang kafir.

Demikian ketiga bahaya pokok apabila kita berputus asa di dunia, terlebih berputus asa atas rahmat Allah SWT, Tuhan Semesta Alam Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jadi, kesimpulannya adalah:

“Apabila kita memang mengaku Islam dan beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, Muhammad SAW, maka tidak harusnya kita berputus asa. Karena putus asa itu dilarang dalam ajaran Islam. Walaupun kita berdosa sekalipun, tidak ada dosa yang tidak diampuni oleh Allah SWT selama kita mau sungguh-sungguh bertaubat (taubat nashuha). Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kita karena Allah SWT adalah Tuhan Semesta Alam Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

, ,




Post Date: Thursday 10th, March 2016 / 07:46 Oleh :