Hukum Mencela Makanan Dalam Islam

Makanan adalah kebutuhan kita sehari-hari sebagai sumber tenaga kita. Maka itu kita selalu bergantung dengan makanan.

ads

Dan kita sebagai umat islam, janganlah sekali-kali untuk mencela makanan. Kalau tidak suka tidak usah berkomentar dan bisa meninggalkan makanan itu. Jangan beri komentar yang berlebih karena itu sama saja menolak rezeki yang diberikan Allah SWT. Baca juga Larangan Meniup Makanan Dalam Islam

Imam Nawawi membawakan dalam kitab Riyadhus Sholihin mengenai tidak bolehnya mencela makanan dan disunnahkan untuk memujinya. Beliau bawakan dua hadits dari Abu Hurairah dan Jabir dalam hadits berikut ini.

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

مَا عَابَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – طَعَامًا قَطُّ ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela suatu makanan sedikit pun. Seandainya beliau menyukainya, beliau menyantapnya. Jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya (tidak memakannya).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 5409 dan Muslim no. 2064).

Lihatlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan cara bagaimana menghadapi makanan yang tidak kita sukai, yaitu dengan ditinggalkan. (Bahjatun Nazhirin, 2: 51). Baca juga Hukum Menelan Makanan Ketika Shalat

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Inilah adab yang baik kepada Allah Ta’ala. Karena jika seseorang menjelek-jelekkan makanan yang tidak disukai, maka seolah-olah dengan ucapan jeleknya itu, ia telah menolak rizki Allah.” (Syarh Al Bukhari, 18: 93)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Makanan dan minuman yang dinikmati ketika disodori pada kita, hendaklah kita tahu bahwa itu adalah nikmat yang Allah beri. Nikmat tersebut bisa datang karena kemudahan dari Allah.

Kita mesti mensyukurinya dan tidak boleh menjelek-jelekkannya. Jika memang kita suka, makanlah. Jika tidak, maka tidak perlu makan dan jangan berkata yang bernada menjelek-jelekkan makanan tersebut.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 199) Baca juga Hukum Meniup Makanan Dalam Islam

Disamping itu tidak apa jika memberikan kritikan kepada masakan, misalnya makanannya terlalu banyak garam, atau masakannya terlalu pedas. Hal tersebut bukanlah mencela namun itu adalah suatu komentar yang membangun agar kedepannya lebih baik lagi.

Kita disunnahkan untuk Hendaklah Memuji Makanan. Adapun hadits memuji makanan dapat terbukti dari hadits Jabir bin ‘Abdillah berikut ini.

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada keluarganya tentang lauk. Mereka lantas menjawab bahwa tidak di sisi mereka selain cuka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الأُدُمُ الْخَلُّ

“Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka.” (HR. Muslim no. 2052).

Perhatikan, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta lauk, yang ada hanyalah cuka namun beliau pun tetap menyantapnya dan menghargainya. Inilah yang dimaksud memuji makanan bahkan jika itu pemberian orang lain.

Jadi, di antara petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jika beliau dapati makanan yang disenangi, maka dipuji lah makanan tersebut. Begitu pula hadits Jabir mengajarkan untuk bersederhana dalam menyantap makanan. Baca juga Hukum Membuang Sisa Makanan dalam Islam

Kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa tidak semua yang disenangi jiwa mesti dituruti sesuai keinginan kita, kadangkala keinginan semacam itu perlu ditahan seperti diajarkan oleh Rasulullah.

Semoga informasi yang diberikan bermanfaat. Wassalamualaikum.

, , , ,




Post Date: Monday 03rd, December 2018 / 09:07 Oleh :
Kategori : Hukum Islam