Uang dalam Ekonomi Islam dan Konvensional

Uang adalah alat yang bernilai dalam kehidupan manusia dan sangat mempengaruhi proses ekonomi yang ada di masyarakat. Hal ini juga berlaku bagi konsep yang ada dalam ekonomi islam dan konvensional.

Uang bukan hanya sebagai alat atau instrument bernilai, namun juga dapat memberikan dampak pada masalah moral, sosial, kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya. Uang juga adalah sebagai harta yang dapat dialirkan dalam berbagai bentuk kebutuhan manusia. Tidak ada kebutuhan manusia hari ini yang jika tanpa ada alat tukarnya atau sebagai penggeraknya yaitu uang.

Akan tetapi, manusia biasanya dapat berlebih-lebihan dan menganggap uang adalah hal utama yang harus diperhatikan manusia bahkan ada yang membuatnya sebagai tujuan sendiri dalam hidupnya. Tentu saja dalam islam uang tidak dimaksudkan untuk hal tersebut melainkan hanya sebagai perantara atau instrument. Dalam konsep islam dan konsep dari kobvensional, masalah uang ini sama-sama disampaikan. Berikut adalah penjelasannya mengenai uang dalam ekonomi islam dan konvensional.

Konsep Uang dalam Islam

Sejak zaman dulu, terutama masa Nabi Muhammad SAW di Mekkah, islam sudah mengatur hal tentang ekonomi manusia. Sejak zaman itu, masalah uang juga tidak terlepas dalam kehidupan jual beli bahkan terlibat dalam proses dakwah atau perjuangan Rasulullah SAW. Hal ini bisa kita lihat bahwa uang ini sangat mempengaruhi ukuran zakat, ukuran jual beli, ukuran harta rampasan perang, dsb.

Akan tetapi, Allah juga dalam Al-Quran sering kali memperingatkan mansuia bahwa jangan sampai terjebak kepada harta atau uang itu sendiri. Ketamakan dan kehausan dalam hidup dapat membinasakan manusia. Di dalam Al-Quran hal ini seperti dalam kisah Qarun, yang tamak dan kikir, sehingga hartanya tidak bergerak dan mensejahterakan orang lain. Tentu konsep Harta Qorun tersebut tidak sesuai dengan fungsi agama , Cara Pandag Terhadap Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam.

Berikut adalah penjelasan singkat mengenai konsep uang dalam ekonomi islam.

  1. Fungsi Utama Uang

Di dalam islam uang memiliki fungsi sebagai alat tukar atau instrument dalam traksaksi ekonomi. Uang juga sebagai alat yang terus bergerak atau mengalir dalam ekonomi. Hal ini dikenal dengan istilan flow concept dalam ilmu ekonomi secara umum.

Islam sendiri dalam ekonomi syariah, menganggap bahwa uang fungsinya hanya sebagai medium of echange yang tidka bisa diperjualbelikan. Uang juga bukan sebagai alat konsumsi, namun ia berorientasi dalam memenuhi kebutuhan manusia, juga tidak berorientasi pada dirinya sendiri.

Imam Al Algahzali memberikan pendapatnya mengenai uang. Ia mengarakan bahwa uang (dalam emas dan dirham) bukanlah hal substansi. Zat yang ada dalam emas atau perak tak ada manfaat atau tujuan-tujuannya. Yang membuat mereka sangat bernilai adalah karena pemaknaan dan pengartian dalam kehidupan manusia oleh manusia.

  1. Uang dalam Al Quran

“Orang-orang yang menimbun emas dan perak, baik dalam bentuk mata uang maupun dalam bentuk kekayaan biasa dan mereka tidak mau mengeluarkan zakatnya akan diancam dengan adzab yang pedih”. (QS At-Taubah : 34)

Di dalam Al-Quran masalah uang disebutkan dengan emas dan perak. Islam sendiri mengorientasikan agar harta manusia tidaklah statis atau hanya diam saja apalagi sampai ditumpuk dan ditimbun sendiri. Islam mengorientasikan agar harta dapat bergerak, bermanfaat dan juga dikeluarkan zakatnya sesuai dengan nishab-nya.

Uang yang ditimbun dan tidak teroptimalkan tentu saja bagi sudut pandang ekonomi makro akan merugikan ekonomi masyarakat. Dalam islam hal ini tentu mubazir, padahal bisa jadi ada sangat banyak orang yang membutuhkan harta kita di tengah kekurangannya. Oleh karena itu islam memiliki perintah zakat, mengoptimalkan sumber daya di muka bumi, dan mencari karunia Allah di muka bumi sebagai rezeki.

  1. Nilai Mata Uang Menurut Islam

Di dalam Al-Quran, emas, perak, dan dirham adalah sebagai alat ukur atau standart dari nilai mata uang. Beberapa ulama memiliki konsep bahwa seharusnya manusia menggunakan dirham, emas, dan perak yang nilainya lebih stabil. Islam sendiri hanya menyebutkan 3 hal tersebut sebagai alat tukar.

Al-Maqrizy adalah salah satu ulama dalam bidang ekonomi yang berpendapat bahwa mata uang dalam islam adalah hanya emas dan perak. Untuk itulah emas dan perak yang berfungsi sebagai standart atau penilaian harga dari produk atau komoditas yang diperjual belikan.

Secara prinsip uang dalam islam adalah alat manusia agar dapat menjalankan kehidupannya di muka bumi sesuai dengan Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam. 

[AdSense-B]

Konsep Uang Secara Konvensional

Selain dari konsep Tujuan Ekonomi Islam, Ekonomi Dalam Islam, dan Hukum Ekonomi Syariah Menurut Islam, , secara umum, konvensional pun memiliki konsep di dalamnya. Konsep uang secara konvensional ini, tentu bukan berdasarkan landasan Al-Quran melainkan dari berbagai kosnep yang dihasilkan ilmuwan, filsuf, dari berbagai latar belakang.

  1. Uang adalah Asset Utama

Dalam konsep konvensional, uang adalah aset utama yang harus dimiliki manusia. Asset ini memiliki status yang sangat istimewa dibandingkan dengan berbagai harta lainnya. Namun, beberapa ulmuwan juga mendefiiniskan uang dalam konsep konvensional ini tidak begitu jelas.

Selain itu, konsep uang dalam konsep konvensional juga dianggap sebagai modal utama. Uang yang megendap adalah milik personal dan menjadi milik pribadi orang tersebut. Uang dalam istilah capital atau modal ini tentu saja juga berorientasi pada keuntungan. Semakin banyak uang yang dimiliki maka orang tersebut akan mendapat banyak keuntungan jgua. Hal inilah yang disebut dengan profit.

Karena konsepnya sebagai profit dan modal, bagi konsep ini masalah riba dan penimpunan harta tentuk menjadi tidak masalah atau menjadi fokus. Karena mereka berorientasi utama pada masalah keuntungan. Tentu ini tidak sama dengan Transaksi Ekonomi dalam Islam, dan Prinsip-prinsip Ekonomi Islam.

[AdSense-C]

  1. Bebas Nilai

Konsep uang dalam ekonomi konvensional, tidak terdapat nilai atau basic valuie yang mengaturnya. Kecenderungan beberapa konsep konvensional tidak banyak mengulas banyak masalah nilai dasar dan etika uang dalam hidup manusia. Untuk itu, kesan yang ada penggunaan uang ini lebih individualis tidak terlalu memperdulikan masalah sosial kemasyarakatan.

Dalam ekonomi konvensional tidak terdapat konsep harta sukarela yang disumbangkan, melainkan jika ada pun bersifat mengikat dan wajib, diatur oleh pemerintah yaitu seperti pajak. Hal ini tentu berbeda dengan islam bahwa islam memiliki konsep harta sosial, yaitu harta yang berasal dari infaq atau sedekah, yang berbeda kewajibannya dari zakat.

Itulah bagaimana penjelasan mengenai konsep uang dalam islam dan juga konvensional. Selain hal tersebut, umat islam juga bisa mempelajari ekonomi islam lainnya, seperti : Macam-macam Riba, Hak dan Kewajiban dalam Islam, Fiqih Muamalah Jual Beli, dan Jual Beli Kredit Dalam Islam.

5 Asas Sistem Ekonomi Islam – Pengertian dan Landasan

Ekonomi adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia. Setiap hari manusia selalu bersentuhan dengan aktivitas ekonomi mulai dari melakukan produksi, konsumsi, ataupun distribusi. Dalam hal ini, tentu saja ekonomi adalah hal mendasar atau penting bagi kehidupan manusia.

Dengan aktivitas ekonomi itu pula, manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya seperti makan, minum, berumah tangga, dan menjalankan aktivitas lainnya. Ekonomi yang tidak mampu dipenuhi, tentu saja akan membawakan dampak yang siginifikan bagi hidup manusia. Seperti kemiskinan, pencurian, kejahatan, dan hal-hal mudharat lainnya.

Walaupun penting dalam kehidupan manusia, ekonomi bukan-lah tujuan hidup manusia. Untuk itu, ekonomi hanyalah sebagai bagian dari sektor hidup manusia dan harus dilakukan berlandaskan kepada hukum-hukum yang telah Allah berikan. Dalam hal ini, islam memiliki asas-asas yang diperuntukkan kepada manusia, agar dalam aktivitas ekonomi dapat beruntung, bermanfaat, dan membagikan rahmat bagi semesta alam.

Pengertian Sistem Ekonomi Islam

Sistem ekonomi islam tentu sangat berbeda dengan sistem ekonomi pada konsep atau ideologi lainnya. Konsep sistem ekonomi islam pada dasarnya mengarah kepada hukum-hukum keadilan dan keseimbangan semua aspek agar dapat berjalan dengan baik, sesuai fitrah yang sudah Allah tentukan.

  1. Perbedaan Dengan Sistem Ekonomi Kapitalis

Sistem ekonomi islam tidak sama dengan sistem ekonomi liberal atau kapitalis yang menitik beratkan sistem ekonomi hanya pada orang kaya dan para pemilik modal. Orang atau masyarakat miskin menjadi masyarakat yang termarginalkan karena mereka tidak memiliki daya atau kuasa. Orang-orang seperti buruh, rakyat kecil, pekerja yang tidak memiliki modal banyak, hanya dianggap sebagai capital atau modal bagi penguasa atau pemilik modal.

Pada hakikatnya tentu ini sangat bertentangan dengan manusia yang pada dasarnya adalah makhluk yang memiliki potensi untuk berkembang dan menjadi khalifah di muka bumi. Untuk itu walaupun sebagai pekerja, buruh, atau rakyat kecil mereka tetaplah manusia yang harus berdaya dan mandiri. Bukan hanya sebagai aset atau modal. Maka itu konsep islam tidaklah sama dengan mereka yang sangat individualis dan menganut sistem pasar bebas atau kompetisi bebas.

  1. Perbedaan Dengan Sistem Ekonomi Sosialis

Di sisi lain, islam pun juga tidak sama dengan konsep sosialis. Konsep sosialis beranggapan bahwa semuanya yang ada di muka bumi ini harus dianut dengan sistem sama rata sama rasa, karena hal ini dianggap sebagai keadilan. Tentu islam tidak menganut hal seperti itu karena dalam konsep islam hak-hak individual tetaplah dihargai dan diangkat tanpa mengesampingkan konsep keadilan pada sosial.

Untuk itu, dalam konsep islam terdapat aturan dan sistem zakat, infaq, shodaqoh sebagai sistem sosial yang berlaku bagi para pemilik harta. Zakat dan infaq adalah bukti bahwa islam menghargai hak individual dan mengangkat kepedulian sosial, sebagai keseimbangan ekonomi.

Landasan Sistem Ekonomi Islam

Untuk dapat memperjelas konsep islam, berikut adalah landasan dan asas-asas sistem ekonomi islam, agar umat islam semakin menyadari betapa seimbang dan adilnya sistem ekonomi islam yang Allah turunkan.

  1. Asas Ketauhidan

“Katakanlah: “Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.” (QS Saba : 24)

Dalam asas ekonomi islam, asas ketauhidan adalah asas yang sangat mendasar bagi kelangsungan ekonomi. Di ayat di atas dijelaskan bahwa aktivitas manusia dan rezeki dalam kehidupan manusia, tidak pernah terlepas dari apa yang Allah berikan. Segala macam aktivitas tersebut kembali kepada Allah yang memang menciptakan manusia dan segala isi dunia ini.

Usaha keras dan strategi manusia dalam ekonomi, Allah memperingatkan bahwa hal tersebut Allah lah yang mengatur dan memberikan. Tentu saja tanpa sunnatullah yang Allah tetapkan manusia tidak akan bisa menjalankan kehidupan ekonomi. Semuanya bergantung kepada hukum Sunnatullah, seperti mekanisme di Alam, pengaturan siklus hidup manusia, dsb.

[AdSense-B]

  1. Asas Kebermanfaatan

“Dan  belanjakanlah  (harta  bendamu)  di  jalan  Allah,  dan  janganlah  kamu  menjatuhkan dirimu  sendiri  ke  dalam  kebinasaan,  dan  berbuat  baiklah,  karena  sesungguhnya  Allah  menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS Al baqarah : 195)

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa asas ekonomi islam adalah kebermanfaatan. Asas sistem ekonomi islam ini mengarahkan agar manusia senantiasa mendapatkan kebaikan, maanfaat, keberuntungan bukan justru mengarahkan kepada kebinasaan atau sesuatu yang mencelakakakn.

Salah satu contoh asas kebermanfaatan ini adalah larangan Allah terhadap ekonomi melalui judi. Judi adalah aktiivitas yang sangat spekulasi, gembling, merugikan karena tidak ada ikhtiar dan usaha manusia, tidak ada keadilan antar sesamanya, juga tidak ada pengoptimalan sumber daya yang telah Allah berikan.

  1. Asas Keadilan

Asas sistem ekonomi islam yang juga sangat penting adalah asas keadilan. Keadilan islam bukanlah sama rata sama rasa, sama seluruhnya, atau dibagi rata secara keseluruhan. Keadilan islam adalah manusia akan mendapatkan apa yang di ikhtiarkannya namun tidak melupakan orang-orang yang membutuhkan di sekitarnya.

Pembagian harta pada orang-orang yang membutuhkan tentu tidak 100%. Ada harta wajib yang harus dikeluarkan dan ada juga yang bersifat sunnah dan sukarela. Tentu nilai pahalanya akan berbeda jika diberikan dengan harta yang kuantitas dan berkualitas, serta sesuai dengan kebutuhan atau problematika ummat saat itu.

[AdSense-C]

  1. Asas Orientasi Sosial

Islam berorientasi pada masalah sosial. Salah satu aspek yang membuat ekonomi islam berorientasi pada sosial adalah adanya aturan mengenai zakat, infaq, dan shodaqoh bagi orang-orang yang mampu. Bahkan Allah memberikan motivasi dan juga dorongan agar para pemilik harta yang banyak dapat mengeluarkannya pada orang-orang yang tidak mampu, serta mengangkat tinggi derajat orang-orang tersebut. Bahkan Allah menyuruh kepada orang-orang berharta agar hidup sederhana dan juga tidak berleihan agar tidak mengarah kepada kesombongan dan kesia-siaan.

  1. Asas Kemanusiaan

Pada hakikatnya asas sistem ekonomi islam berorientasi kepada kemanusiaan. Hal ini dapat dilihat salah satunya dari asnaf atau penerima zakat. Islam mengangkat dan mengorientasikan dana sosial itu kepada para fakir dan miskin, budak, orang yang tidak mampu membayar hutang, muallaf, orang yang dalam perjalanan, dan juga Fisabilillah. Asnaf tersebut diberikan zakat agar mereka dapat melangsungkan kehidupan lebih baik dan sesuai dengan taraf hidup. Tentunya hal tersebut sangat menjunjung tinggi kemanusiaan.

Ada banyak konsep ekonomi di dunia. Tentu saja kembalinya kita adalah kepada aturan Allah. Untuk itu, umat islam juga harus mempelajari perkembangan ekonomi saat ini dalam kacamata islam, seperti Transaksi Ekonomi dalam Islam, Contoh Transaksi Ekonomi dalam Islam, Prinsip-prinsip Ekonomi Islam, Tujuan Ekonomi Islam, Ekonomi Dalam Islam, Hukum Ekonomi Syariah Menurut Islam, Macam-macam Riba, Hak dan Kewajiban dalam Islam, Fiqih Muamalah Jual Beli, dan Jual Beli Kredit Dalam Islam.

Semoga umat islam semakin konsisten menerapkan transaksi ekonomi dalam islam sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada di Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman.

Perekonomian dalam Islam – Konsep dan Penerapannya

Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin. Islam mengatur seluruh bagian hidup manusia dengan tujuan agar hidup manusia dapat menjadi hidup yang memiliki makna dan berarti. Tentu saja menjalani hidup yang seperti itu, manusia harus dapat memenuhi kebutuhannya sesuai dengan fitrah.

Salah satu aspek yang menunjang hidup manusia adalah ekonomi. Ekonomi adalah sektor yang penting dan memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti sandang, pangan, dan papan. Tidak jarang, aspek ekonomi menjadi dominan dalam kehidupan manusia dan bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan melainkan menjadi alat kesombongan dan harga diri.

Larangan berlebih-lebihan dan menganjurkan hidup sederhana adalah perintah Allah agar manusia menjadikan ekonomi sebagai bagian dari hidupnya bukan untuk tujuan utama atau sebagai visi kehidupan. Ekonomi adalah alat atau instrumen dalam manusia menjalankan hidupnya. Untuk bisa menerapkan perekonomian dalam islam, maka umat islam juga harus mengetahui bagaimana islam mengatur masalah tersebut.

Konsep Umum Ekonomi Islam

Konsep dasar dari ekonomi islam tentu saja tidak pernah lepas dari nilai-nilai ketauhidan. Seluruh aturan islam termasuk aturan ekonomi dibuat oleh Allah, sunnatullah yang berlaku juga Allah yang mengatur, dan manusia hanya berusaha untuk memahmi dan menjalankan perintah tersebut dengan sebaik-baiknya. Kembalinya, semua persoalan islam adalah kepada Allah SWT.

Secara umum ekonomi islam atau yang berbasis kepada syariah tidaklah sama dengan konsep perekonomian lainnya. Sistem perekonomian dalam islam menganut kepada jalan-jalan yang adil dan seimbang. Aspek ketuhanan, keakhiratan, kehidupan individu, dan sosial diusahakan agar sama-sama diperhatikan dan tidak ada yang dianaktirikan.

Sejatinya, sistem perekonomian dalam islam yang dibuat oleh Allah dalam Al-Quran mengorientasikan pada keuntungan, kesejahteraan, dan nikmat yang banyak bagi manusia. Aturan yang Allah buat dan perintahkan sejatinya agar menyelamatkan manusia dan tidak lagi terjebak dalam kesengsaraan atau kemudhraratan.

Akan tetapi sering kali manusia berpikir bahwa aturan tersebut sudah tidak bisa dipakai, tidak sesuai zaman, mengekang dsb. Padahal sebetulnya, Allah menyelematkan manusia lewat aturan islam, agar aktivitas ekonomi dapat berjalan dengan baik, suka sama suka, saling menguntungkan, dan memberikan rezeki.

Contoh Penerapan Ekonomi Islam

Perekonomian islam tentu saja bersifat mendasar dan filosofis. Spirit perekonomian dalam islam juga tidak terlepas dari Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman. Hal-hal yang dijelaskan di bawah ini tentunya tidak sama dengan persoalan teknis atau strategi yang berlaku. Dalam penerapannya, islam membutuhkan ilmu tersendiri, ketetatan teori dan pengalaman, hikmah yang mendalam, dan lain sebaginya.

Untk itu, penerapan yang bersifat teknis tentu saja dapat berubah seiring perkembangan zaman dan tekinologi. Namun berbeda hal dengan penerapan dasar atau asas dari perekonomian dalam islam. Hal tersebut tidak bisa dirubah dan diganggu gugat. Untuk itu, nilai-nilai tersebut harus selalu ada terjaga dalam sistem ekonomi islam yang diterapkan di zaman tersebut.

Berikut adalah penerapan perkeonomian dalam islam, sebagaiman Allah menjelaskan dalam Al-Quran.

  1. Diperbolehkannya Jual Beli dan Diharamkannya Riba

“…..padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.…..” (QS Al Baqarah : 275)

Dari ayat yang disampaikan di atas, dapat diketahui bahwa yang dilarang Allah adalah melakukan riba sedangkan melakukan proses jual beli adalah suatu yan halal. Riba diharamkan oleh Allah dan ancaman sebagai ahli neraka sudah dekat sejak manusia masih di dunia.

Jual beli tentunya termasuk dalam masalah perekonomian dalam islam.jual beli berarti bisa berupa barter, djualnya barnag lalu dibayar, dan lain sebagainya. Di zaman yang serba online dan cepat ini, jual beli juga dapat terjadi. Hal ini tentu saja belum terjadi saat Nabi Muhammad masih berkuasa di mekkah.

Walaupun begitu, proses jual beli ini selagi akad, produk, harga, kepemilikan, pada dasarnya adalah hal-hal yang harus ada dalam transaksi ekonomi. Dalam keseharian jual beli ini tentu sering sekali dilakukan oleh manusia, baik sebagai konsumen, produsen, ataupun distributor.

[AdSense-B]

  1. Diharamkannya Mengundi Nasib dan Judi

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,” (QS Al Baqarah : 219)

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa Allah mengaramkan judi sebagai aktifitas ekonomi. Allah melaknat dan melarang manusia untuk melakukan judi. Hal ini ada beberapa aspek yang membuat judi haram sebagai bagian dari transaksi perkenomian dalam islam, diantarnaya adalah:

  • Hasil yang Spekulatif dan Tidak ada Kejelasan Standart
  • Membentuk moral negatif dan emosional
  • Tidak memutar dana atau memutar roda ekonomi pada orang-orang lainnya
  • Tidak teroptimalkannya rezeki dan sumber daya alam di muka bumi, karena aktivitas ekonomi banyak mengarah kepada judi,
  • Dsb

Larangan judi bukanlah hanya sekedar larangan belaka atau bersifat normatif. Hal ini menjadi landasan bahwa Allah menyuruh manusia melakukan aktivitas ekonomi agar memperhatikan juga kestabilan ekonomi diri ataupun orang lain. Jika hanya mengandalkan judi tentu saja uang sulit bertambah, tidak produktif, dan tidak ada pengembangan ekonomi di masyarakat.

[AdSense-C]

  1. Keseimbangan Hak Individu dan Sosial

Dalam penerapan perekonomian dalam islam, di dalamnya mengandung pengaturan hak indiviidu dan pembangunan sosial. Islam memberikan perintah mengeluarkan zakat 2,5 % pada harta yang dimiliki agar diberikan kepada yang berhak. Islam hanya mewajibkan 2,5% sedangkan sisanya Allah memotivasi dan memberikan pahala lebih pada mereka yang mau memberikan hartanya sebanyak-banyaknya sesuai kebutuhan pengembangan islam saat itu.

Untuk itu, Keadilan perekonomian dalam islam, menyeimbangkan hak individu dan sosial. Allah menghargai harta individu, untuk itu bisa diwariskan dan juga dikeluarkannya sebagiaan saja tidak diwajbkan keseluruhan. Tentu saja jika keseluruhan artinya hasil kerja keras individu tidak dihargai. Namun tidak dengan islam.

Itulah secara umum mengenai perekonomian dalam islam, sangat mengarah kepada keadilan dan keseimbangan. Seluruh aturan islam, termasuk dalam hal pengaturan ekonomi sangat menunjang manusia dalam mencapai Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam.

5 Falsafah Ekonomi Islam dalam Al-Quran

Sebagai agama yang rahmatan lil alamin, islam mengatur dan memberikan petunjuk kepada manusia di berbagai sektor kehidupan yang ada. Salah satunya adalah sektor ekonomi.

Sektor ekonomi adalah sektor yang juga sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia karena di dalamnya mengandung kegiatan memenuhi pemenuhan sandang, pangan, papan, dan lain sebagainya. Tidak jarang masalah ekonomi membuat manusia frustasi, konflik, dan terjadi berbagai perpecahan di dalamnya.

Untuk itu, islam sebagai Agama yang diridhoi Allah memberikan petunjuk bersifat falsafah dasar atau sekumpulan nilai-nilai yang tidak dapat dirubah, agar menjadi pedoman manusia dalam melangsungkan aktivitas atau transaksi ekonominya sehari-hari. Tentunya hal ini tetap dipegang teguh, walaupun zaman terus berkembang dan masalah yang semakin kompleks.

Pengertian Falsafah Ekonomi dalam Islam

Falsafah ekonomi islam adalah nilai-nilai yang menjadi dasar atau landasan islam dalam aktivitas atau transaksi ekonomi manusia. Nilai-nilai ini bersifat umum, universal, dan mendasar sehingga walaupun zaman sudah berganti, maka nilai-nilai ini akan tetap ada dan tidak berubah.

Zaman dan teknologi selalu berubah dan mengalami penyesuaian. Akan tetapi, dalam hal falsafah ekonomi hal ini tidak bisa berganti dan selalu menjadi pedoman. Secara teknis dan sistem penerapannya dalam kehidupan manusia bisa saja berganti akan tetapi dalam dasar-dasarnya, falsafah ekonomi islam akan tetap dipertahankan.

Untuk itu, salah besar jika ada anggapan orang yang mengatakan bahwa ekonomi islam atau ekonomi syariah tidak bisa lagi diterapkan atau sudah termakan zaman karena falsafah ekonomi islam lah yang tetap sedangkan teknis bisa berbeda. Misalnya saja di zaman ini kita tidak mungkin menolak sistem perbankan, sistem jual beli online yang di zaman Rasulullah dulu belum ada.

Tentu saja sebagai bentuk kemajuan umat manusia, islam tidak melarangnya asalkan sesuai dengan falsafah yang sudah ditetapkan Allah bagi manusia.

Nilai-Nilai Ekonomi dalam Falsafah Islam

Nilai-nilai falsafah ekonomi islam dapat kita temui dalam Al-Quran dan tidak bertentangan dengan Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman. Hal ini adalah 5 falsafah ekonomi islam yang terdapat dalam Al-Quran, yang dapat mulai kita pahami.

  1. Ketauhidan

 “Dan  belanjakanlah  (harta  bendamu)  di  jalan  Allah,  dan  janganlah  kamu  menjatuhkan dirimu  sendiri  ke  dalam  kebinasaan,  dan  berbuat  baiklah,  karena  sesungguhnya  Allah  menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS Al baqarah : 195)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah memberikan perintah kepada manusia untuk menggunakan hartanya atau membelanjakannya di jalan Allah. Hal ini berkaitan erat bahwa aktivitas ekonomi dalam kehidupan manusia hendaknya selalu diorientasikan di jalan Allah sebagai pemilik langit dan bumi.

Dengan senantiasa melaksanakan aturan ekonomi berdasarkan perintah dan apa yang Allah sampaikan, maka Allah menjamin keselamatan manusia, karena di dalamnya terdapat aturan yang menghindari manusia dari kebinaasan.

Walaupun zaman sudah berganti dan teknologi semakin maju, Falsafah Ketauhidan ini harus tetap dipegang teguh oleh manusia agar selamat dalam melaksanakan aktivitas ekonomi di muka bumi.

  1. Kemaslahatan

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. “ (QS Al Jumuah : 10)

Di dalam ayat tersebut, Allah menunjukkan bahwa manusia hendaknya mencari karunia Allah di muka bumi agar supaya kehidupannya beruntung. Akan tetapi Allah memberikan perintah agar manusia melaksanakan aktivitas ekonomi tersebut dengan selalu mengingat Allah dan mendapatkan keberuntungan.

Hukum kemaslahatan ini juga dapat digambarkan bahwa tidak ada satupun aturan islam yang mengarah kepada kemudharatan. Hukum ekonomi islam justru melindungi dari penipuan, perpecahan, modal yang dikapitalisasi dan lain sebagainya.

Untuk lebih jelasnya, umat islam juga dapat mempelajari tentang hukum ekonomi yang berorientasi kemasalahatan pada , Transaksi Ekonomi dalam Islam, Contoh Transaksi Ekonomi dalam Islam, Prinsip-prinsip Ekonomi Islam, Tujuan Ekonomi Islam, Ekonomi Dalam Islam, Hukum Ekonomi Syariah Menurut Islam, Macam-macam Riba, Hak dan Kewajiban dalam Islam, Fiqih Muamalah Jual Beli, dan Jual Beli Kredit Dalam Islam.

[AdSense-B]

  1. Keadilan

“Celakalah orang-orang yang mengurangi, apabila mereka itu menakar kepunyaan orang lain (membeli) mereka memenuhinya, tetapi jika mereka itu menakarkan orang lain (menjual) atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Apakah mereka itu tidak yakin, bahwa kelak mereka akan dibangkitkan dari kubur pada suatu hari yang sangat besar, yaitu suatu hari di mana manusia akan berdiri menghadap kepada Tuhan seru sekalian alam?” (QS Al Mutahfifin : 1-6)

Falsafah keadilan terdapat dalam ayat tersebut. Allah memberikan perintah kepada manusia agar melaksanakan ekonomi berdasarkan prinsip-prinsip keadilan, salah satunya adalah dengan tidak boleh mengurangi timbangan.

Perilaku mengurangi timbangan adalah salah satu perilaku yang Allah laknat dan tidak Allah sukai. Untuk itu, manusia hendaknya mengarahkan hidupnya agar jujur dan tidak menipu. Dampak dari perilaku tersebut tentu akan merugikan diri sendiri. Pembeli atau pelanggan tidak akan suka dengan penjual yang menipu atau bersikap tidak jujur. Tentu hal ini akan mengurangi jumlah penjualannya dan rugi diri sendiri.

[AdSense-C]

  1. Menghargai Hak Individu

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu” (QS An-Nisa : 29)

Falsafah ekonomi islam berdasarkan ayat tersebut adalah menghargai hak individu. Artinya, aturan islam menghargai satu sama lain harus saling memberikan keutungan dan bukan saling memakan apalagi dengan jalan yang memecah ukhuwah islamiyah.

Selain itu, dalam hal ekonomi, hendaknya sesama manusia menjalankannya karena memang suka sama suka, dilakukan karena saling memberikan keuntungan. Jangan sampai manusia satu dengan yang lainnya saling memaksakan kehendak atau memaksa untuk bisa melakukan transaksi ekonomi.

Islam juga tidak sama dengan liberalis, yang hanya mengandalkan pemilik modal atau berpikir individualis. Namun islam juga tidak sama dengan sosialis, yang tidak menghargai hak milik pribadi. islam mengajarkan untuk menghargai hak individu, dan individu berhak atas apa yang diusahakannya.

Itulah mengapa ada aturan islam mengenai harta zakat, wakaf, warisan, ahli waris, mengembalikan hutang, dan lain sebagianya.

  1. Orientasi Sosial

“Kamu  sekali-kali  tidak  sampai  kepada  kebajikan  (yang  sempurna),  sebelum  kamu menafkahkan sehahagian harta  yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran : 192)

Falsafah yang kelima adalah ajaran islam untuk mengarahkan harta untuk orientas sosial. Hal ini sebagaimana perintah zakat, berinfaq, dan bershodaqoh di jalan Allah. Orientasi sosial ini bemaksud untuk memberikan pemerataan ekonomi juga memberikan bantuan agar harta tidak hanya teralokasi atau dikapitalisasi oleh satu orang atau satu kelompok saja, melainkan pada seluruh ummat.

Hal ini sebagaimana yang para sahabat contohkan. Umar Bin Khattab pernah memberikan seluruh hartanya untuk islam dan menyisakan sebagiannya untuk kehidupan pribadinya. Sahabat bernama Abdurrahman bin Auf juga pernah memberiakan 2000 unta untuk keperluan perang badr dan sahabat Usman bin Affan yang membeli sumur untuk keperluan ummat islam di masa kekeringan saat itu.

Dasar Ekonomi Islam dalam Al-Quran

Di dalam Al-Quran ada banyak sekali ayat-ayat yang Allah turunkan dan berikan kepada manusia sebagai petunjuk. Petunjuk tersebut sangat berkaitan erat dengan kehidupan manusia di segala sektor. Hal ini karena memang islam tidak hanya mengatur masalah-masalah ibadah terhadap Allah saja melainkan seluruh aspek manusia mulai dari hukum, pemerintahan, ekonomi, pernikahan, dan lain sebagainya.

Untuk bisa menjalankan perintah Allah tersebut, tentu saja manusia harus mengetahui dasar-dasarnya, termasuk dalam dasar ekonomi islam. Ekonomi adalah hal yang sangat penting dalam hidup manusia dan menjadi hal yang dibutuhkan sehari-hari. Aktivitas ekonomi seperti memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan adalah hal lumrah dilakukan manusia.

Berikut adalah penjelasan mengenai dasar ekonomi islam berdasarkan ayat-ayat yang ada dalam Al-Quran, agar umat islam dapat menjalankannya di tengah perkembangan ekonomi saat ini.

Ketauhidan Dasar Utama Ekonomi Islam

“Katakanlah: “Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.” (QS Saba : 24)

Dari ayat di atas telah Allah jelaskan bahwa sesungguhnya rezeki yang manusia nikmati adalah limpahan nikmat dari Allah SWT. Allah memberikannya dari sunnatullah yang Allah tetapkan di langit dan bumi. Sesungguhnya kemakmuran ekonomi manusia di muka bumi tidak akan pernah terjadi jika tanpa adanya bantuan dan ketetapan dari Allah SWT.

Hal ini dapat kita hayati dari hal-hal berikut ini:

  • Manusia tidak akan bisa panen jika tanpa ada keteraturan musim hujan dan musim panas yang Allah tetapkan
  • Manusia tidak akan bisa memakan dan meminum sesuai kebutuhannya jika Allah tidak menurunkan sunnatullah di alam raya ini
  • Manusia bisa melaksanakan bisnisnya dengan bahan baku yang didapat dari ciptaan Allah, tidak ada yang bisa manusia buat kecuali hanya mengkreasikan
  • Perputaran uang dan harta manusia tidak akan abadi, sedangkan rezeki yang Allah nilai bukan hanya harta melainkan kesehatan, kasih sayang, dsb

Hal-hal diatas menunjukkan bahwa dasar ekonomi islam adalah ketundukkan dan ketaatan kepada Allah SWT pelaksanaan nilai, Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman. Ekonomi islam didasarkanpada ketauhidan. Seluruh aktivitas ekonomi umat manusia di muka bumi ini tidak akan bisa dilakukan jika Allah tidak menetapkan Sunnatullahnya.

Perintah Allah Untuk Aktivitas Ekonomi

Allah telah memberikan perintah kepada umat manusia agar melaksanakan aktivitas ekonomi. Ekonomi adalah kebutuhan mendasar bagi manusia. Tentu saja Allah Yang Maha Sempurna pun memperhatikan betul apa yang akan dilakukan dan dibutuhkan manusia di muka bumi. Berikut adalah perintah Allah mengenai aktivitas ekonomi.

  1. Menggali Karunia Allah di Muka Bumi

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. “ (QS Al Jumuah : 10)

Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia diperintahkan Allah untuk mencari karunia Allah di bumi. Rezeki tersebut tentu tidak akan datang kepada kita andai kita tidak berikhtiar. Allah sudah menetapkan sunnatullah untuk manusia mendapatkan rezeki, tinggal manusia mengoptimalkan dan mengaturnya dengan baik atau tidak.

Hal ini misalnya, Allah menciptakan pohon mangga beserta sistem tumbuh dan berkembangnya. Manusia bisa mendapatkan rezeki mangga-mangga tersebut asalkan ia mau mengolahnya, merawat, dan memetiknya secara rutin sampai dijual kepada konsumen. Jika tidak dilakukan, tentu saja rezeki tersebut tidak akan bisa didapatkan.

  1. Melakukan Perniagaan

 “Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabb-mu”.  (QS Al Baqarah : 198)

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa Allah tidak melarang adanya perniagaan atau jual beli. Untuk itu proses jual beli adalah hal yang dihalalkan oleh islam, asalkan dengan proses yang halal dan tidak merugikan satu pihak pun.

Proses jual beli adalah aktivitas yang sering sekali kita lakukan. Untuk itu, proses ini harus dilakukan secara adil, seimbang, terbuka, dan tidak menghalangi keuntungan orang lainnya. Perniagaan bertujuan agar sama-sama untung dan dapat memenuhi kebutuhan manusia.

Dari ayat-ayat diatas menunjukkan bahwa dasar ekonomi islam adalah melaukan perniagaan dan juga menggali banyak karunia Allah di muka bumi dengan hukum sunnatullah yang berlaku. Bukan membiarkan potensi yang ada di bumi dan malas untuk mengolahnya.

[AdSense-B]

Mengindari Riba dan Melakukan Jual Beli

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…..” (QS Al Baqarah : 275)

Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa yang dilarang oleh Allah adalah Riba sedangkan jual beli adalah halal. Tentu riba adalah hal yang harus dihindari oleh manusia dan jangan sampai manusia masuk neraka hanya gara-gara aktivitas ekonominya memiliki prinisp riba.

Untuk itu, prinsip dasar ekonomi islam adalah menghindari riba karena haram dan melakukan jual beli sebagai transaksi ekonomi yang halal dan diperbolehkan oleh Allah SWT.

[AdSense-C]

Larangan Berlebihan dalam Mengelola Ekonomi

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS Al Furqan : 67)

Aktivitas ekonomi atau perniagaan memang dihalalkan oleh Allah. Akan tetapi proses membelanjakan harta tentu saja tidak boleh berlebihan atau tidak boleh juga kikir. Artinya manusia wajib memenuhi kebutuhan hidupnya dan hal tersebut tentu saja membutuhkan harta. Akan tetapi jika manusia bersikap kikir atau pelit, tentu kebutuhan tersebut akan sulit dipenuhi dan berakibat negatif pada hidup manusia.

Dari hal tersebut, prinsip dasar ekonomi islam disini adalah manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya secara cukup, tidak berlebihan menghamburkan harta hingga orang lain tidak dapat merasakannya sedangkan harta hanya menumpuk padanya. Akan tetapi tidak kikir alias pelit baik dalam membelanjakan harta untuk diri sendiri dan sosial.

Itulah dasar ekonomi dalam islam. Selain hal tersebut, umat islam juga bisa mempelajari hal lain mengenai ekonomi seperti, Transaksi Ekonomi dalam Islam, Contoh Transaksi Ekonomi dalam Islam, Prinsip-prinsip Ekonomi Islam, Tujuan Ekonomi Islam, Ekonomi Dalam Islam, Hukum Ekonomi Syariah Menurut Islam, Macam-macam Riba, Hak dan Kewajiban dalam Islam, Fiqih Muamalah Jual Beli, dan Jual Beli Kredit Dalam Islam.

5 Contoh Jual Beli Terlarang Menurut Islam

Di dalam ajaran islam, masalah ekonomi pun menjadi bagian atau hal yang diatur. Islam bukan hanya mengatur masalah spiritualitas hubungan manusia dengan Allah melainkan mengatur keseluruhan hidup manunsia di berbagai sektor. Untuk itu, islam dengan masalah-masalah sektoral kehidupan manusia lainnya sangat berkaitan erat baik di aspek landasan atau bersifat prinsip dan teknis.

Dalam masalah ekonomi pun islam memberikan rambu-rambu sebagai landasan atau acuan manusia menjalaninya. Hal ini misalnya masalah Transaksi Ekonomi dalam Islam, Contoh Transaksi Ekonomi dalam Islam, Prinsip-prinsip Ekonomi Islam, Tujuan Ekonomi Islam, Ekonomi Dalam Islam, Hukum Ekonomi Syariah Menurut Islam, Macam-macam Riba, Hak dan Kewajiban dalam Islam, Fiqih Muamalah Jual Beli, dan Jual Beli Kredit Dalam Islam

Islam tidak melarang adanya inovasi, perkembangan teknologi, atau modivikasi sistem ekonomi selagi perkembangan tersebut tentu masih berdasarkan kepada landasan islam yang adil, seimbang, dan memberikan kemakmuran bagi semua orang.

Karakteristik Ekonomi Islam

Karakteristik ekonomi islam sangatlah berbeda dengan konsep ekonomi lainnya. Konsep ekonomi islam tidak menitikberatkan perkembangan ekonomi hanya kepada orang tertentu, pemilik modal ataupun seseorang tertentu saja. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan konsep ekonomi liberal yang sangat menitikberatkan perkembangan dan kemajuan ekonomi hanya pada pemilik modal, sedangkan pada manusia yang kurang mampu atau miskin tidakmendapatkan perhatian.

Tentu sangat berbeda dengan islam. Islam mengangkat kaum yang lemah dengan membuat kewajiban mengeluarkan zakat, infaq, sedekah dari orang-orang mampu pada yang miskin. Hal ini dibuat agar umat manusia tidak hanya orang-orang atau kelompok tertentu saja yang dapat maju dan berkembang melainkan juga semuanya. Untuk itulah aturan islam senantiasa mengarah kepada Rahmatan lil alamin.

Akan tetapi, ekonomi islam juga sangat berbeda dengan ekonomi sosialis. Islam masih menghargai hak milik pribadi atau seseorang. Untuk itu, dalam islam ada istilah harta keluarga, harta waris, dan lain sebagianya. Seseorang yang bekerja dan memiliki harta tentu saja itu adalah harta miliknya. Walaupun begitu, harta tersebut juga memiliki kewajiban untuk dikeluarkan agar memberikan kesejahteraan pada sosial. Untuk itulah Allah mengangkat tinggi derajat orang-orang yang mengalirkan hartanya di jalan Allah.

Studi Kasus Jual Beli yang Diharamkan

Dengan landasan yang sudah dijelaskan melalui karakterstik ekonomi islam di atas, berikut adalah berbagai contoh jual beli yang diharamkan islam. Tenutnya umat islam harus mengetahui Contoh Jual Beli Terlarang tersebut, agar tidak terjebak kepada jual beli yang haram.

  1. Jual Beli Barang Haram

Salah satu jual beli yang diharamkan oleh islam adalah jual beli barang yang haram. Jual beli barang haram ini seperti misalnya menjuual obat-obatan terlarang, menjual minum-minuman berakohol, makanan haram, atau hal-hal yang berasal dari proses yang juga haram seperti hasil korupsi, hasil pencurian, dsb.

Jual beli seperti itu tentu adalah jual beli yang haram karena syarat jual beli adalah niat dan produk yang dijual harus dipastikan terlebih dahulu kehalalalannya. Banyak sekali tentunya proses jual beli yang terkadang melanggar proses hukum islam. Walaupun hasil keuntungannya sangat banyak tentu hukum ekonomi tidak hanya dilihat dari satu aspek. Hal tersebut juga perlu dilihat bagaimana dampak dan manfaatnya kepada seluruh aspek. Misalnya aspek moral, kultur atau budaya, dan pendidikan.
[AdSense-B]

  1. Penjualan dengan Mengurangi Timbangan

Penjualan yang juga dilarang dan diharamkan oleh islam adalah ketika dikurangi-nya timbangan. Tentu hal ini menipu dan juga melanggar kesepakatan transaksi jual beli. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam Al-Quran bahwa manusia yang mengurangi timbangan dalam proses penjualan akan mendapatkan balasan Allah kelak di akhirat.

“Celakalah orang-orang yang mengurangi, apabila mereka itu menakar kepunyaan orang lain (membeli) mereka memenuhinya, tetapi jika mereka itu menakarkan orang lain (menjual) atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Apakah mereka itu tidak yakin, bahwa kelak mereka akan dibangkitkan dari kubur pada suatu hari yang sangat besar, yaitu suatu hari di mana manusia akan berdiri menghadap kepada Tuhan seru sekalian alam?” (QS Al Mutahfifin : 1-6)

  1. Jual Beli dengan Riba

Jual beli yang juga diharamkan islam adalah riba. Riba adalah tambahan yang diberikan, sifatnya bisa mencekik pembeli atau objeknya. Dalam hal ini misalnya membeli barang dengan kredit lalu ada tambahan yang bisa jadi harganya melambung tinggi jauh dari saat pembelian atau harga normal. Para ulama memandang ini juga sebagai bagian riba. Tentunya umat islam haruslah memilih, mana proses transaksi atau jual beli yang tidak mengandung riba.
[AdSense-c]

  1. Jual Beli Tanpa Akad atau Dengan Paksaan

Allah melarang manusia dalam melakukan sesuatu dengan akad atau paksaan. Termasuk dalam hal ekomomi atau proses jual beli juga melarang dengan paksaan. Proses jual beli dalam islam haruslah dengan adanya akad atau kesepakatan. Maka itu sangat wajar jika di awal kali melaukan transaksi pasti ada proses tawar menawar.

Penawaran yang memaksa, tanpa ada akad atau mengharuskan membeli adalah hal yang tentu diharamkan. Orang tidak selalu memiliki sumber daya atau memiliki kebutuhan untuk membeli. Untuk itu, seluruh keputusan untuk membeli atau tidak semua tergantung kepada konsumen bukan pada penjualnya. Untuk itu, kejujuran, keterbukaan, dan juga keadilan harus dilakukan agar pembeli mau terus bertransaksi karena ada proses kepercayaan bukan karena paksaan.

Hal ini dijelaskan pula dalam Al-Quran, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu” (QS An-Nisa : 29)

  1. Jual Beli Mulamasah

Jual beli mulamasah adalah salah satu jual beli yang juga disepakati oleh ulama diharamkan islam. Jual beli mulamasah adalah jual beli yang jika seseorang menyentuh barang jualan dari seseorang maka ia diwajibkan untuk membayar atau terhitung membeli. Tentu hal ini diharamkan islam karena proses seperti ini sangatlah wajar dilakukan, apalagi baru orang-orang yang ingin mengetahui terlebih dahulu jenis barang dan kualitasnya.

Semoga umat islam dapat terus menjalankan transaksi ekonomi dan jual belinya sesuai dengan semangat dan landasan yang sesuai dengan Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman.

Jual Beli Terlarang dalam Islam

Setiap hari, manusia pasti akan melangsungkan proses atau transaksi ekonomi. Transaksi ekonomi tentunya melibatkan pejual dan pembeli. Tidak jarang dalam proses jual beli, manusia memiliki kejahatan, kecurangan, bahkan penipuan untuk mendapatkan hasil yang maksimal atau keuntungan sebesar-besarnya namun dengan cara penipuan.

Tentu saja proses jual beli yang seperti itu diharamkan oleh islam. Islam memperbolehkan jual beli dan menghalalkannya sebagai jalan atau langkah mencari rezeki karena memang proses jual beli dapat memudahkan manusia dan menguntungkan satu sama lain. Aturan ekonomi islam tentu saja tidak terlepas dari landasan Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman.

Pengertian Jual Beli yang Terlarang

Jual beli yang dilarang dalam islam tentunya bukan atas dasar atau pertimbangan apapun. Jual beli dalam islam senantiasa memperlihatkan aspek-aspek keadilan dari masing-masing pihak baik penjual maupun pembeli.

Aturan Jual beli dalam islam bukan berarti membatasi manusia untuk menjalankan ekonomi dan mendapatkan keuntungan. Aturan tersebut ditentukan Allah justru untuk membuat manusi.  Jual beli yang diharamkan oleh islam bukan saja karena jual beli tersebut salah secara normatif. Setiap aturan islam tentu saja memiliki alasan mengapa diharamkan dan memiliki dampak negatif jika terus dilakukan. Termasuk proses jual beli yang diharamkan, tentu saja memiliki banyak dampak negatif jika terus dilakukan.

Di masa kini, jual beli tidak hanya dapat dilakukan secara langsung melainkan secara online atau virtual. Hal ini tentu saja memiliki dampak postif dan resiko yang harus diambil. Jual beli yang haram atau pun terlarang bisa juga terjadi dalam jual beli dalam proses online. Misalnya, penipuan bukti transaksi atau transfer, penipuan akun penjualan, tidak mengirimkan barang sesuai kondisi yang ditawarkan, dsb.

Tentunya hukum islam berlaku juga di masa saat ini. Proses online pun tentu harus juga sesuai landasan hukum islam dan tidak melanggar dari apa yang sudah Allah tetapkan.

Kriteria Jual Beli yang Haram

Agar manusia khususnya umat islam dapat melaksanakan transaksi yang halal dan sesuai dengan aturan islam, maka kita pun perlu mengetahui contoh dari jual beli yang terlarang dalam islam. Berikut adalah kriteria dari jual beli terlarang dalam islam.

  1. Jual Beli Barang Haram

 “Sesungguhnya  Allah  jika  mengharamkan  atas  suatu  kaum memakan  sesuatu,  maka  diharamkan  pula hasil penjualannya.” (HR Abu Daud dan Ahmad)

Jual beli barang yang diharamkan Allah tentu saja adalah jual beli yang diharamkan. Jual beli barang haram bisa berbentuk makanan, minuman, aset, ataupun saham. Tentu saja efek dari jual beli barang haram ini lebih besar kepada kerusakan sosial. Misalnya, penjualan narkoba, minuman beralkohol dapat mengakibatkan kepada rusaknya moral, rusak nya kultur, dan peradaban.

Untuk itu, umat islam hendaknya memastikan terlebih dahulu apakah barang yang dijual dan dibeli sudah sesuai dengan islam ataukah memiliki hal yang bisa jadi merubah proses jual beli menjadi haram.

  1. Jual Beli Mulamasah

Jual beli mulamasah adalah jual beli yang dilakukan ketika orang menyentuh barang jualan seseorang maka dia diwajibkan untuk membayar atau membelinya. Hal ini tentu tidak dibenarkan dalam islam. Memegang barang jualan asalkan tidak merusak dan menjadikannya tidak layak jual tentu tidak menjadi masalah. Dalam proses jual beli tentunya manusia akan melihat dan meraba terlebih dahulu barang yang diinginkannya untuk menentukan kualitas dan kondisinya.

Hal ini seperti jual beli yang memaksa padahal belum tentu si pembeli akan membelinya. Untuk itu, jual beli seperti ini diharamkan oleh Allah.
[AdSense-B]

  1. Jual Beli Al’inah

Apabila kalian telah berjual beli dengan cara Al-‘Inah dan kalian telah ridho dengan perkebunan dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang (Allah) tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian” (HR Abu Daud)

Al-Inah sendiri adalah jual beli yang mengandung riba. Riba dalam artian disini bisa secara terbuka atau terselubung. Allah sudah mengingatkan manusia bahwa riba dapat mengantarkan manusia pada neraka dan siksaan di akhirat.

Tentu saja riba ini diharamkan bukan karena alasan. Selain masalah keseimbangan ekonomi, riba juga dapat mencekik orang-orang yang tidak mampu atau merugikan salah satu pihak. Untuk itu jual beli yang mengandung riba, baik secara langsung atau terselubuhng adalah hal yang haram untuk dilalaikan.
[AdSense-C]

  1. Jual Beli Melalaikan Kepada Allah

Jual beli yang diharamkan oleh Allah adalah yang dapat melalaikan atau meninggalkan manusia dari jalan Allah.  Aktivitas tersebut misalnya :

  • Harus melakukan kebohongan dalam jual beli
  • Meninggalkan ibadah ketika harus jual beli
  • Jual beli mensyaratkan hilangnya keimanan manusia
  • Proses jual beli menggadaikan Akidah
  • Jual Beli bukan niat karena kebaikan, melainkan untuk kemaksiatan
  • Dsb

Jual beli tersebut tentunya adalah jual beli yang diharamkan islam, dan jangan sampai manusia terjebak pada jual beli yang melalaikan tersebut. Jual beli adalah proses dan sebagai instrument agar manusia semakin taat bukan malah menjauh dari Allah SWT dan Islam.

  1. Jual Beli dengan Mengurangi Timbangan

Jual beli yang diharamkan adalah mengurangi timbangan. Hal ini tentu saja sebuah kecurangan atau penipuan. Artinya, proses jual beli ini tidak didasari oleh keadilan, keterbukaan, kejujuran, dan juga prinsip keseimbangan islam. Tentu saja, mengurnagi timbangan adalah kecurangan yang awalnya sudah disepakati jumlah dan harganya lalu dikurangi. Untuk itu, jual beli seperti ini dilarang islam.

Kerugian seperti ini bukan dalam jangka pendek. Bagi penjual yang tidak jujur sebetulnya akan merugikan ia di masa mendatang, karena akan kehilangan kepercayaan dari pembeli. Tentu tidak akan ada pembeli yang mau membeli di penjual yang tidak jujur dan menipu.

Selain hal tersebut, umat islam juga bisa mempelajari mengenai Transaksi Ekonomi dalam Islam, Contoh Transaksi Ekonomi dalam Islam, Prinsip-prinsip Ekonomi Islam, Tujuan Ekonomi Islam, Ekonomi Dalam Islam, Hukum Ekonomi Syariah Menurut Islam, Macam-macam Riba, Hak dan Kewajiban dalam Islam, Fiqih Muamalah Jual Beli, dan Jual Beli Kredit Dalam Islam sebagai referensi mempelajari ekonomi dalam islam.

Transaksi Ekonomi dalam Islam dan Prinsip Penerapannya

Mejalankan aktivitas ekonomi adalah bagian dari kehidupan manusia sehari-hari. Aktivitas tersebut tentu saja berkaitan erat dengan Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam.

Tidak ada satu hari pun dalam kehidupan manusia di muka bumi yang tidak melakukan transaksi ekonomi. Hal ini dikarenakakan ekonomi adalah bagian dasar hidup manusia. Manusia bisa mendapatkan kebutuhan makan, minum, tempat tinggal, mendapatkan pelayanan dalam hidup semuanya karena adanya transaksi ekonomi.

Di dalam agama islam, transaksi ekonomi juga bagian yang diatur dan menjadi hal yang penting untuk diterapkan. Kegagalan dalam melakukan transaksi ekonomi akan berefek kepada kemiskinan, penipuan, atau menjadi terjadinya berbagai masalah sosial lainnya. Berikut adalah beberapa Transaksi Ekonomi dalam Islam :

Hukum Pelaksanaan Ekonomi Islam

Menjalankan hukum ekonomi berdasarkan syariah islam adalah suatu kewajiban. Tidak ada satupun aturan islam yang bisa atau layak manusia tentang. Karena ada berbagai dampak dan masalah jika manusia tidak melaksnaakan perintah Allah satu saja. Melalaikan perintah Allah berdasarkan syariah tentu yang rugi adalah manusia, bukan Allah atau yang lainnya.

Hal ini berdasarkan ayat, “Dan belanjakanlah harta bendamu di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. ” (QS Al-Baqarah : 195)

Untuk itu, dalam pelaksanaan keseharian manusia, masalah ekonomi dan islam tidak bisa dipisahkan. Banyak orang yang sering berpikir bahwa islam atau ekonomi tidak berkaitan satu sama lain. Tentu saja hal ini keliru, karena islam adalah agama Rahmatan Lil Alamin yang mengatur seluruh aktivitas dan kehidupan manusia. Dari aturan tersebut diharapkan manusia dapat melaksanakan sebaik-baiknya juga merasakan dampak apabila benar-benar taat kepada hukum Allah.

Transaksi ekonomi dalam islam juga bisa diterapkan di setiap zaman, walaupun sudah berganti dan teknologi sudah berkembang. Contohnya transaksi ekonomi islam adalah :

  • Adanya Bank Syariah
  • Adanya Simpan Pinjam dengan Tanpa Bunga
  • Transaksi Jual Beli dengan Online
  • Jual Beli Produk Halal
  • Dsb

Hal-hal tersebut adalah contoh dari perkembangan transaksi ekonomi yang sedang berlaku. Untuk itu, islam tidak melarang dan juga membatasi, namun tetap menjalankan hal tersebut berdasarkan prinsip-prinsip transaksi ekonomi islam yang sudah Allah tetapkan.

Prinsip Pelaksanaan Transaksi Islami

Untuk dapat menerapkan ekonomi islam secara teknis ada beberapa hall prinsip yang harus diperhatikan dan dipegang terus oleh umat islam. Prinsip dasar ini menjadi patokan dalam perkembangan ilmu ekonomi dan transaksinya kapanpun dan dimanapun walau zaman sudah berganti. Perkembangan teknologi dan juga berbagai ilmunya menuntut bahwa manusia harus berpegang pada prinsip.

  1. Adanya Akad atau Perjanjian

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (QS Al Maidah : 1)

Di dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa manusia harus memenuhi akad. Hal ini juga berlaku dalam hal ekonomi. Akad atau perjanjian juga harus dilaksanakan sebelum adanya transaksi. Untuk itu, dalam proses transaksi pasti akan selalu ada kesepakatan mulai dari penentuan harga, kualitas barang, syarat-syarat penjualan dan pembelian barang, dsb.

Akad ini dilakukan bukan saja hanya karena untuk formalitas, melainkan menjamin hak-hak dari setiap orang agar transaksi ekonomi tidak ada yang dirugikan sama sekali. Akad ini juga berfungsi agar satu sama lain bisa menjalankan dengan keterbukaan dan transapransi, sehingga di lain waktu tidak ada yang merasa dirugikan atau dibohongi.
[AdSense-B]

  1. Berniaga dengan Jalan Suka sama Suka

Dalam sebuah transaksi termasuk pada transaksi ekonomi, maka pelaksanaannya harus dilakukan karena suka sama suka. Dalam transaksi tersebut tidak boleh ada paksaan ataupun hati yang tidak ikhlas ketika melakukannya. Hal ini didasarkan kepada ayat berikut :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS An Nisa : 29)

Untuk itu, menjalankan transaksi menurut islam harus dilakukan dengan suka sama suka. Tidak ada yang terdzalimi, paksaan, apalagi ancaman dalam melakukannya. Agar suka sama suka, maka transaksi tersebut harus dilakukan oleh orang yang sadar, berakal, dan juga bisa memilah-milih sesuai dengan kebutuhannya.

  1. Larangan Penipuan

“Nabi Muhammad SAW melarang jual beli yang mengandung penipuan.” (HR. Muslim)

Hadist di atas menunjukkan bahwa kita dilarang untuk melakukan jual beli yang bersifat mengandung penipuan. Ketidakjujuran, seperti membohongi kualitas barang, membayar tidak utuh, berjanji dan tidak ditepati dan sebagianya termasuk ke dalam penipuan yang jelas berdosa jika dilakukan.

Selain itu, harta yang dijalankan dari proses tersebut tentu adalah harta yang halal dan tidak berkah. Penipuan hanya membuat efek bahagia sementara sedangkan transaksi tersebut justru membawa efek mudharat mereka sendiri, sepeti,tidak akan dipercaya, membangun moral yang buruk, dan hilangnya keimanan pada titik tertentu.
[AdSense-C]

  1. Prinsip Akuntansi dan Kejelasan Transaksi

Prinsip transaksi ekonomi islam yang terakhir adalah adanya pencatatan dan kejelasan transaksi. Prinsip ini harus dilakukan agar tidak ada konflik, merasa tertipu, atau pelaku transaksi yang kabur. Untuk itu Allah mengatakan bahwa hendaklah ada saksi atau pencatatan yang dipercaya agar transaksi ekonomi dapat dibuktikan dan tidak lupa begitu saja.

Misal dalam peminjaman hutang, maka baiknya ada pencatatan dan juga pembuktian bahwa kita pernah membeli atau memberikan uang kepada siapa, ditanggal kapan, dan saksi yang dapat dipercaya. Untuk hari ini, saksi sudah dapat berkembang, adanya Mesin Print, CCTV, rekaman scanning, dsb bisa membuktikan transaksi seseorang. Hal ini bisa mencagah manusia untuk berbuat kejahatan dan melakukan penipuan. Tentu saja akan mudah diketahui jika melakukan penipuan.

Hal-hal diatas adalah prinsip transaksi ekonomi islam yang harus dijalankan manusia. Semoga ummat islam dapat menjalankan perekonomiannya dengan terus berdasarkan kepada Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman.

5 Contoh Transaksi Ekonomi dalam Islam beserta Penjelasannya

Aktivitas ekonomi sudah pasti dilakukan manusia dalam keseharian. Ada banyak sekali aktivitas transaksi ekonomu yang dijalankan oleh manusia dalam satu hari dan tidak ada satupun yang luput dari aturan dan pengawasan Allah.

Sebagai makhluk ekonomi, manusia membutuhkan pemenuhan kebutuhannya untuk hidup yang dilakukan dengan transaksi ekonomi. Hal ini tentu saja dilakukan manusia bersama manusia lainnya, alias tidak dilakukan sendiri. Sebagai agama rahmatan lil alamin, tentu saja islam memberikan aturan juga berbagai prinsip agar transaksi ekonomi dalam kehidupan manusia dapat berjalan sesuai manfaatnya untuk umat.

Tidak jarang, orang-orang melakukan transaksi ekonomi dan tidak mendasarkan prinsipnya dengan islam. Mereka menganggap bahwa urusan ekonomi dan urusan islam adalah suatu yang berbeda. Padahal, setiap sektor kehidupan manusia tidaklah bisa dipisahkan aturan islam. Allah tidak memisahkannya, dan semua sektor kehidupan manusia sangat bergantung kepada islam.

Studi Kasus Penerapan Transaksi

Transaksi ekonomi dalam islam tentunya sangat banyak sekali. Berikut adalah 5 contoh transaksi ekonomi dalam islam diterapkan dan dikembangan dalam kehidupan kita keseharian di zaman moderen saat ini.

  1. Berhutang dengan Akad dan Tanpa Riba

Melakukan hutang atau peminjaman pada orang atau lembaga tentu adalah hal yang diperbolehkan oleh islam. Hutang adalah meminjam harta orang lain untuk dipergunakan oleh kita dan dibayarkan kembali pada peminjam pada jangka waktu tertentu.

Sebagian ulama memang membatasi dan mewaspadai manusia yang berhutang. Untuk itu, islam mengaturnya dengan adil yaitu peminjaman uang harus ada pernjanjian dan tanpa riba. Riba adalah tambahan ketika melakukan peminjaman. Tambahan ini diberikan kepada orang seiring berjalannya waktu. Dalam hari ini disebut dengan bunga.

Tentu saja riba adalah hal yang diharamkan oleh islam. Riba juga mencekik orang miskin, terutama mereka yang meminjammnya untuk kebutuhan primer kesehariannya. Untuk itu, berhutang dalam islam adalah salah satu contoh transaksi ekonomi yang diperbolehkan asalkan tanpa riba dan dengan perjanjian atau akad yang jelas.

  1. Akad Jual Beli Bisnis Online

Dalam perkembangan zaman seperti saat ini proses jual beli tidak hanya dilakukan secara langsung, melainkan bisa juga dengan proses online. Proses online ini tentu saja membutuhkan teknologi yang mendukung agar proses jual beli dapat dilakukan secara transparant dan sesuai kenyataan.

Pada bisnis jual beli online proses akad juga harus dilakukan. Misalnya dengan pembuatan form pernyataan dari penjual dan pembeli, tidak menutupi keadaan barang atau produk yang dijual, membayar sesuai pernjanjian, mengirim barang dan mengirim uang sesuai jumlah yang telah disepakati. Tanpa proses seperti ini tentu saja akan merugi dan membuat manusia akan mendapatkan dampak mudharatnya.

Seiring perkembangan zaman tidak hanya jual beli barang saja yang dilakukan online, akan tetapi penipuan, judi, taruhan, dsb juga bisa dilakukan online, dan islam tetap melarang hla tersebut.

  1. Simpan Pinjam di Bank Syariah

Ada banyak sekali bank-bank konvensional yang ada di negeri ini. Untuk itu, islam sendiri memiliki prinisp bahwa transaksi ekonomi harus dijalankan sesuai dengan syariah. Transaksi ekonomi sesuai syariah ini dikembangkan dengan adanya bank moderen berbentuk syariah.

Di dalamnya bisa melakukan simpan pinjam tanpa adanya riba. Tentu saja hal ini harus diberlakukan dan dilakukan oleh semua umat islam, agar ekonomi umat semakin berkembang dan juga semakin berkah.Adanya lembaga bank syariah yang dibuat umat islam tentu akan mempermudah umat islam dalam bertransaksi dan prinsip-prinsip ekonomi islam dapat dilakukan dengan baik dan massif di banyak umat islam.

[AdSense-B]

  1. Jual Beli Produk Halal

Contoh transaksi ekonomi dalam islam lainnya adalah dengan jual beli produk halal. Jual beli adalah bagian dari transaksi dalam islam. Jual beli tentu saja diperbolehkan oleh islam dan yang Allah larang adalah melakukan penipuan, judi, atau mengundi nasib dengan proses yang tidak jelas.

Jual beli produk yang halal berarti harus mensyaratkan bahwa:

  • Tidak adanya unsur haram atau komposisi produk yang diharamkan islam (misalnya makanan mengandung babi, minuman beralkohol, atau produk haram lainya)
  • Tidak ada barang atau produk yang dijual hasil dari proses yang tidak haram (misalnya penipuan, pencurian, atau ketidakjelasan pemilik)
  • Proses jual beli dilakukan suka sama suka dan tidak ada keterpaksaan
  • Dsb

Jual beli produk halal adalah hal yang harus dilakukan umat islam ketika akan melaksanakan perniagaan. Kehalalan adalah awal dan sumber keberkahan harta manusia.

  1. Pembuatan Billing atau Invoice

Pembuatan billing atau invoice adalah pembuatan bukti transaksi. Hal ini perlu dilakukan untuk memperjelas proses jual beli dan sebagai bukti transaksi ekonomi. Dalam zaman moderen sekarang ini transaksi yang tanpa billing atau invoice dapat dituntut dan bahkan diatur oleh pemilik bisnis. Jika tanpa bukti transaksi maka penipuan, kecurangan, ataupun lainnya dapat terjadi dan merugikan satu pihak.

Tentu saja hal ini dengan syarat yaitu pembuatan billing atau invoice juga didukung oleh sistem dan proses yang baik. Tidak ada penipuan mislanya membuat bukti transfer palsu, pembuatan invoice palsu, dan sebagianya. Sebagai umat islam tentu kejujuran adalah hal utama. Untuk itu tidak perlu dilakukan kebohongan karena dampak dari hal tersebut kita yang akan menanggung. Kehilangan pelanggan, ketidakpercayaan, dan juga tuntutan dari orang lain bisa saja akan terjadi.
[AdSense-C]

Hikmah Menjalankan Ekonomi Berdasarkan Syariat Islam

Ada beberapa hikmah yang bisa dipetik dengan adanya transaksi ekonomi yang dijalankan sesuai syariat islam. Tentu saja syariat islam yang ditentukan Allah bukan mempersulit manusia, justru memberikan kesejahteraan dan keadilan pada ummat. Hal tersebut diantaranya adalah :

  • Menjamin Keadilan Ekonomi di masig-masing pelaku transaksi
  • Menerapkan kejujuran atau keterbukaan, sehingga minimnya penipuan
  • Keuntungan yang terjadi di kedua belah pihak
  • Tercipta persaudaraan dan ukhuwah islam, jika prinsip ekonomi saling menguntungkan dan membantu
  • Tergeraknya ekonomi umat secara produktif bukan hanya bagi ummat islam melainkan keseluruhan yang terlibat di dalamnya
  • Dsb.

Untuk itu manusia yang menjalankan transaksi ekonomi islam yang berdasarkan pada Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman tentuk tidak akan pernah merugi. Aturan tersebut pada dasarnya selalu mengantarkan agar manusia dapat mencapai Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam.

Semoga kita senantiasa dapat menjalankan aturan islam di seluruh sendi kehidupan kita.

6 Prinsip-prinsip Ekonomi Islam Berdasarkan Ayat Al-Quran  

Ekonomi adalah hal mendasar yang dibutuhkan manusia untuk bisa hidup dan berkembang di muka bumi. Tanpa terpenuhinya kebutuhan ekonomi manusia, tentu saja aktivitas dan proses hidup manusia di muka bumi akan terganggu. Dapat diketahui bahwa dalam keseharian manusia membutuhkan makan, minum, hidup, berumah tangga, tentu semuanya membutuhkan modal dan transaksi ekonomi secara intens.

Dalam hal ini, tentu saja masalah ekonomi pun juga harus diatur agar tidak terjadi kesenjangan sosial, terjadi permasalahan beda kelas sosial yang sangat tinggi, atau ketidak adilan ekonomi yang bisa berakibat pada kemiskinan atau ketidakberdayaan manusia. Untuk itu, salah satu ajaran islam mengantarkan manusia untuk juga mengarahkan aktivitas ekonominya sesuai dengan prinsip-prinsip dasar dan ajaran islam mengenai hal ekonomi.

Pandangan Islam Terhadap Ekonomi

Islam adalah agama yang berorientasi kepada kebaikan dan keadilan seluruh manusia. Islam senantiasa mengajarkan agar manusia mengedepankan keadilan, keseimbangan dan juga kesejahteraan bagi semuanya. Islam tidak mengajarkan pada kesenjangan sosial, prinsip siapa cepat siapa menang, atau pada kekuasaan hanya dalam satu kelompok atau orang tertentu saja.

Prinsip ini pun diajarkan islam dalam hal ekonomi. Dalam hal ekonomi, islam pun ikut mengatur dan memberikan arahan atau pencerahan agar umat manusia tidak terjebak kepada ekonomi yang salah atau keliru.

Aturan-aturan islam mengenai ekonomi diantaranya seperti:

  • Masalah kewajiban zakat, infaq, shodaqoh
  • Larangan judi dan mengundi nasib dengan panah
  • Membayar pajak
  • Menjual dengan neraca yang adil
  • Membuat catatan keuangan
  • Dan lain sebagainya

Ekonomi islam tentunya sangat berbeda dengan ekonomi yang mengarah kepada prinsip kapitalisme atau liberalisme. Ekonomi islam bertujuan agar dapat terpenuhinya kebutuhan manusia, bukan hanya satu orang saja melainkan seluruh umat manusia secara keseluruhan agar dapat hidup berkualitas dan menunanaikan ibadah dengan baik. Sedangkan prinsip liberalisme atau kapitalisme hanya berdasarkan kepada pemilik modal, pasar bebas, dan tidak berpihaknya pada masyarakat lemah atau kurang mampu.

Ayat Al-Quran Mengenai Prinsip Ekonomi

Prinsip dasar dari ekonomi islam tentunya tidak hanya bergantung atau memberikan keuntungan kepada salah satu atau sebagian pihak saja. Ajaran islam menghendaki transaksi ekonomi dan kebutuhan ekonomi dapat memberikan kesejahteraan dan kemakmuran manusia hidup di muka bumi.

Prinsip dasar ekonomi ini juga tentu berlandasakan kepada Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman. Berikut adalah Prinsip-prinsip Ekonomi Islam dalam islam yang senantiasa ada dalam aturan islam.

  1. Tidak Menimbulkan Kesenjangan Sosial

Prinsip dasar islam dalam hal ekonomi senantiasa berpijak dengan masalah keadilan. Islam tidak menghendaki ekonomi yang dapat berdampak pada timbulnya kesenjangan. Misalnya saja seperti ekonomi kapitalis yang hanya mengedepankan aspek para pemodal saja tanpa mempertimbangkan aspek buruh, kemanusiaan, dan masayrakat marginal lainnya.

Untuk itu, islam memberikan aturan kepada umat islam untuk saling membantu dan tolong menolong. Dalam islam memang terdapat istilah kompetisi atau berlomba-lomba untuk melaksanakan kebaikan. Akan tetapi, hal tersebut tidak berarti mengesampingkan aspek keadilan dan peduli pada sosial.

Hal ini sebagaimana perintah Allah, “Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS An-Nur : 56)

Zakat, infaq, dan shodaqoh adalah jalan islam dalam menyeimbangkan ekonomi. Yang kaya atau berlebih harus membantu yang lemah dan yang lemah harus berjuang dan membuktikan dirinya keluar dari garis ketidakberdayaan agar mampu dan dapat produktif menghasilkan rezeki dari modal yang diberikan padanya.

  1. Tidak Bergantung Kepada Nasib yang Tidak Jelas

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.”…” (QS Al-Baqarah : 219)

Islam melarang umatnya untuk menggantung nasib kepada hal yang sangat tidak jelas, tidak jelas ikhtiarnya, dan hanya mengandalkan peruntungan dan peluang semata. Untuk itu islam melarang perjudian dan mengundi nasib dengan anak panah sebagai salah satu bentuk aktivitas ekonomi.

Pengundian nasib adalah proses rezeki yang dilarang oleh Allah karena di dalamnya manusia tidak benar-benar mencari nafkah dan memakmurkan kehidupan di bumi. Uang yang ada hanya diputar itu-itu saja, membuat kemalasan, tidak produktifnya hasil manusia, dan dapat menggeret manusia pada jurang kesesatan atau lingkaran setan.

Untuk itu, prinsip ekonomi islam berpegang kepada kejelasan transaksi dan tidak bergantung kepada nasib yang tidak jelas, apalagi melalaikan ikhtiar dan kerja keras.

  1. Mencari dan Mengelola Apa yang Ada di Muka Bumi

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS Al Jumuah : 10)

Allah memberikan perintah kepada manusia untuk dapat mengoptimalkan dan mencari karunia Allah di muka bumi. Hal ini seperti mengoptimalkan hasil bumi, mengoptimalkan hubungan dan transaksi dengan sesama manusia. Untuk itu, jika manusia hanya mengandalkan hasil ekonominya dari sesuatu yang tidak jelas atau seperti halnya judi, maka apa yang ada di bumi ini tidak akan teroptimalkan. Padahal, ada sangat banyak sekali karunia dan rezeki Allah yang ada di muka bumi ini. Tentu akan menghasilkan keberkahan dan juga keberlimpahan nikmat jika benar-benar dioptimalkan.

Untuk itu, dalam hal ekonomi prinsip islam adalah jangan sampai manusia tidak mengoptimalkan atau membiarkan apa yang telah Allah berikan di muka bumi dibiarkan begitu saja. Nikmat dan rezeki Allah dalam hal ekonomi akan melimpah jika manusia dapat mencari dan mengelolanya dengan baik.

  1. Larangan Ekonomi Riba

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Al-Baqarah :278)

Prinsip Islam terhadap ekonomi yang lainnya adalah larangan riba. Riba adalah tambahan yang diberikan atas hutang atau transaksi ekonomi lainnya. Orientasinya dapat mencekik para peminam dana, khususnya orang yang tidak mampu atau tidak berkecukupan. Dalam Al-Quran Allah melaknat dan menyampaikan bahwa akan dimasukkan ke dalam neraka bagi mereka yang menggunakan riba dalam ekonominya.

  1. Transaksi Keuangan yang Jelas dan Tercatat

Transaksi keuangan yang diperintahkan islam adalah transaksi keuangan yang tercatat dengan baik. Transaksi apapun di dalam islam diperintahkan untuk dicatat dan ditulis diatas hitam dan putih bahkan ada saksi. Dalam zaman moderen ini maka ilmu akuntansi tentu harus digunakan dalam aspek ekonomi. Hal ini tentu saja menghindari pula adanya konflik dan permasalahan di kemudian hari. Manusia bisa saja lupa dan lalai, untuk itu masalah ekonomi pun harus benar-benar tercatat dengan baik.

Hal ini sebagaimana Allah sampaikan, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar” (QS Al Baqarah : 282)

  1. Keadilan dan Keseimbangan dalam Berniaga

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS Al Isra : 35)

Allah memerintahkan manusia ketika melaksanakan perniagaan maka harus dengan keadilan dan keseimbangan. Hal ini juga menjadi dasar untuk ekonomi dalam islam. Perniagaan haruslah sesuai dengan neraca yang digunakan, transaksi keuangan yang digunakan, dan juga standar ekonomi yang diberlakukan. Jangan sampai ketika bertransaksi kita membohongi, melakukan penipuan, atau menutupi kekurangan atau kelemahan dari apa yang kita transaksikan. Tentu saja, segalanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

Dari prinsip-prinsip tersebut dapat dipahami bahwa manusia diberikan aturan dasar mengenai ekonomi islam agar manusia dapat menjalankan kehidupannya sesuai dengan Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam. Tentu saja dari prinsip tersebut dapat terlihat bahwa islam hendak memberikan rahmat bagi semesta alam, terlebih bagi mereka yang beriman dan taat dalam melaksanakan perintah Allah tersebut.