Pengertian Takabur dalam Islam

Manusia adalah makhluk yang sempurna diciptakan oleh Allah dibandingkan dengan mahluk-makhluk lainnya. Manusia memiliki tujuan hidup menurut islam, tujuan penciptaan manusia, hakikat penciptaan manusia , dan hakikat manusia menurut islam yang jelas tidak dimiliki sebagaimana makhluk lainnya. Keberadaan manusia di muka bumi sejatinya adalah sebagai khalifah fil ard yang bertugas membangun peradaban di muka bumi dengan perangkat yang diberikan Allah padanya.

Namun, dengan keadaan manusia yang sempurna, diberikan Akal, diberikan pengetahuan dan fisik yang baik tidak jarang manusia bukannya malah bersyukur, melainkan berbangga diri dan melupakan kekuasaan Allah SWT. Sikap tersebut adalah sikap Takabur yang jelas dibenci oleh Allah SWT.Takabur membutakan hati dan pikiran manusia serta membuat seseorang berbangga diri atas yang dimilikinya. Sedangkan, mereka tidak melakukan evaluasi diri, melihat ke dalam dir, dan bersikap rendah hati atau tawadhu.

Sebagai muslim yang meyakini rukun iman dan menerapkan rukun islam, tentu saja akan menghindari sikap yang dibenci oleh Allah ini. Berikut adalah penjelasan mengenai Takabur yang terdapat dalam islam. Sudah seharusnya manusia yang memiliki ketundukkan pada Allah menghindari sikap takabur ini.

Pengertian Takabur dalam Hadist-Hadist Rasulullah SAW

Dalam hadist-hadist yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, terdapat pengertian tentang takabur, yang merupakan salah satu sikap yang dibenci dalam islam dan oleh Allah SWT. Pengertian takabur tersebut dalam beberapa hadist. Berikut adalah hadist-hadist yang mnejelaskan tentang takabur :

  1. Takabur adalah Menganggap Hina Orang Lain

Rasulullah bersabda, “Dianggap sebagai takabur itu ialah menolak apa yang benar dan mengaggap hina kepada orang lain”. (HR. Muslim).

  1. Takabur adalah Meninggalkan Kebenaran

Bersabda Rasulullah S.A.W kepada sahabatnya, Abu Dzar : “Takabur itu meninggalkan kebenaran dan engkau mengambil selain kebenaran. Engkau melihat orang lain dengan pandangan bahwa kehormatannya tidak sama dengan kehormatanmu, darahnya tidak sama dengan darahmu”.

  1. Takabur sebagaimana Orang yang Gila

Rasulullah S.A.W bertanya kepada sekumpulan Sahabat, “Tahukah kamu, orang gila yang sebenar-benarnya?” Para Sahabat menjawab, “Tidak tahu, ya Rasulullah”. Lalu Rasulullah menjelaskan, “Orang gila ialah orang yang berjalan dengan takabur, memandang rendah kepada orang lain, membusungkan dada, mengharapkan syurga sambil membuat maksiat dan kejahatannya membuat orang tidak aman dan kebaikanya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya”.

Dari ayat-ayat di atas dapat diketahui bahwa sikap takabur tentunya adalah sikap yang dibenci Rasullah dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Untuk itu, sikap takabur sudah semestinya dihindari oleh umat islam dan menjadikan sikap tawadhu atau rendah diri sebagai sikap yang diterapkan dalam kehidupan. Sikap tawadhu adalah sebagai bentuk keikhlasan beribadah kepada Allah. Sedangkan orang yang sombong dan tidak tawadhu adalah ciri-ciri orang yang tidak ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT.

Dampak dari Sifat Takabur

Sifat Takabur yang dilarang oleh Allah SWT bukan tidak ada dampak dan manfaat yang akan diterima oleh manusia. Dampak dari sikap Takabur tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Terhalang dari Mendapatkan Kebenaran Ayat-Ayat Allah

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.” (QS Al A’raf : 146)

Orang-orang yang sombong akan terhalang dari kebenaran ayat-ayat Allah. Hal ini dikarenakan mereka tertutup oleh sikap kesombongan yang selalu merasa dirinya benar, berkuasa, atau lebih dari siapapun. Sikap tersebut tidak membuat orang menjadi membuka mata, hati, dan pikirannya kepada sesuatu yang lain untuk evaluasi dan membenahi diri. Tentu saja efeknya adalah tidak akan mendapatkan kebenaran dari ayat-ayat Allah baik yang tertulis dalam Al-Quran atau berupa Sunnatullah Yaitu ayat-ayat yang tidak tertulis. Padahal, kita ketahui bahwa ayat-ayat Allah adalah salah satu fungsi agama , obat hati dalam islam , yang dapat kita rasakan. Fungsi Al-Quran bagi umat manusia  , adalah menjaga dan mengarahkan manusia pada jalan kebenaran. Dengan tertutupnya dengan kesombongan maka akan sulit hidup kita mendapatkan bimbingan islam.

  1. Terkunci Mata dan Hatinya

Allah menyampaikan dalam QS Al-Mukmin ayat 35 bahwa orang-orang yang sombong dan sewenang-wenang akan dikunci mata hatinya. Orang-orang tersebut tentu akan sulit mendapatkan kebenaran dan ayat-ayat yang telah Allah sampaikan.

 “(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (QS Al Mu’min : 35)

  1. Akan dibenci oleh Allah SWT

“Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” (QS An Nahl : 23)

Selain akan dibenci Allah SWT, ternyata disampaikan pula oleh Nabi Musa dalam sebuah riwayat, Diriwayatkan : Nabi Musa a. s telah bertanya kepada Allah, “Hai, Tuhanku. Siapakah di antara makhluk-Mu yang paling Engkau murkai?”. Allah Taala berfirman, mafhumnya: Orang takbur hatinya, kasar lidahnya, terkelip-kelip matanya, bakhil tangannya dan jahat perangainya”.

Jelas bahwa perilaku takabur akan dibenci Allah dan digolongkan sebagai orang-orang yang bakhil. Hidayah Allah Kepada Manusia juga tidak akan mungkin muncul dan diberika jika sikap takabur masih ada dalam hati manusia. Sifat Sombong Dalam Islam tentu adalah sesuatu yang dibenci Allah dan harus dihindari manusia.

  1. Mendapat Kehinaan dan Siksaan Akhirat

Bersyair Khatimul-Asham, “Jauhkan dirimu dari mati dalam tiga keadaan, yaitu takabur, loba dan ujub. Sesungguhnya, orang yang takabur itu tidak dikeluarkan oleh Allah Taala dari dunia sehingga dia diperlihatkan dulu penghinaan ke atasnya kepada sekurang-kurangnya keluarganya sendiri. Orang yang loba tidak dikeluarkan dari dunia melainkan setelah merasa sangat memerlukan secuil roti dan seteguk air karena terlalu lapar dan dahaga tetapi tak lalu ditelannya. Dan, orang yang ujub juga tidak dikeluarkan dari dunia melainkan setelah diperlihatkan dirinya bergelimang dengan air kencing dan tahinya sendiri“.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda : “Orang-orang yang sombong, keras kepala dan takabur, akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti kumpulan semut, dipijak-pijak oleh manusia karena hinanya mereka di sisi Allah Ta’ala”.

Orang-orang yang takabur dalam ayat diatas dijelaskan bahwa akan mendapatkan kehinaan dan siksaan akhirat. Untuk itu, sikap takabur yang melahirkan dampak mudharat ini tentu jangan sampai ada pada umat islam walau sedikitpun. Dampak dari perilaku takabur bukan hanya di dunia melainkan juga (lebih berat lagi) di akhirat. Disampaikan pula dalam hadist Rasulullah SAW,

  1. Tidak akan Mendapatkan Surga

Dalam beberapa hadist dijelaskan bahwa orang yang takabur tidak akan mendapatkan surga walau pun itu hanya barang sedikit saja. Rasulullah bersabda : “Tiada akan masuk syurga orang yang ada di dalam hatinya seberat biji S.A.Wi daripada sifat takabur” (HR. Muslim).

Mengikut hadist yang lain, Rasulullah bersabda : “Wahai Abu Dzar, barangsiapa mati dalam keadaan hatinya ada sebesar debu sahaja dari sifat takabur, dia tidak akan tercium bau syurga kecuali bila bertaubat sebelum maut menjemputnya”.

Mengenal diri sendiri dalam islam tentunya diperlukan, untuk bisa mengukur apakah kita termasuk kepada orang-orang yang takabur atau tidak. Taubatan Nasuha adalah jalan yang harus dilakukan jika manusia sudah termasuk pada sikap ketakaburan. Istiqomah Dalam Islam memang sulit untuk dilaksanakan namun jika manusia benar-benar menyadari dampak dari sikap takabur, tentu saja sikap itu akan dihindari.