Keutamaan I’tikaf di Bulan Ramadhan dan Manfaatnya

Itikaf adalah salah satu bentuk ibadah dan spiritual yang sering dilaksanakan saat bulan Ramadhan, khususnya adalah hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, itikaf dilaksanakan sambil menjemput datangnya malam lailatul Qadar. Tentu saja di malam ini semua orang berlomba-lomba untuk bisa mendapatkannya.

Sebagaimana Rasulullah contohkan, sebetulnya itikaf tidak dilaksanakan saat bulan Ramadhan saja, melainkan di luar bulan Ramadhan pun juga bisa untuk dilaksanakan. Rasulullah dalam hal ini pun mencontohkan.

Pengertian Itikaf

Itikaf adalah berdiam diri di masjid sambil melakukan evaluasi dan perenungan diri. Beberapa aktivitas yang bisa dilakukaan saat berdiam diri di masjid adalah aktifitas yang produktif, tidak membuat gaduh, namun tetap hikmat dan bernilai ibadah. Misalnya adalah:

  • Membaca Al-Quran dan Tafsirnya.
  • Berzikir.
  • Evaluasi Diri dan Perenungan.
  • Membaca Buku yang Bernilai.
  • Tadabur Al-Quran.
  • Dsb

Baca juga:

Itikaf tentu saja sangat bermakna jika dilakukan. Dengan itikaf kita juga bisa fokus pada amalan ibadah sebelum nantinya di waktu yang lain tentu kita akan disibukkan dengan berbagai pekerjaan dan aktivitas. Untuk itu, sangat dibutuhkan saat bulan Ramadhan untuk bisa mendapatkan kebermaknaan dan pengalaman spiritual salah satunya lewat ibadah itikaf.

Rasulullah mencontohkan itikaf dilakukan saat bulan Ramadhan, khususnya 10 hari terakhir sebelum Ramadhan atau saat masa lailatul qadar akan datang. Untuk itu, itikaf sangat dianjurkan karena dicontohkan oleh Rasulullah.

Manfaat dan Hikmah Itikaf

Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan dari itikaf. Itikaf tentunya bukan sekedar berdiam diri di masjid, melainkan ada sesuatu yang bisa kita dapatkan dari itikaf yang bisa menginspirasi dan memberikan makna dalam hidup kita. Berikut adalah manfaat dan hikmah dari i’tikaf bulan ramadhan.

[AdSense-B]

1. Evaluasi Diri

Evaluasi diri adalah hal yang paling sulit dilakukan oleh manusia walaupun itu terhadap dirinya sendiri. Akan sangat mudah kita mengevaluasi diri orang lain namun akan sulit jika kita mengevaluasi diri kita sendiri. Evaluasi diri seperti proses atau pegangan yang akan membawakan kita mencapai hikmah dan perbaikan diri. Tanpa evaluasi diri tentu saja manusia akan terjebak dan tersesat karena terbawa hanya oleh diri atau hawa nafsu pribadinya.

I’tikaf di Bulan Ramadhan membantu kita untuk mengevaluasi diri. Dengan itikaf kita akan berfokus pada diri kita dan menjauhi Sifat sombong dalam islam dan Sombong dalam Islam yang merusak akhlak.

2. Perenungan Tentang Hidup

Di masa itikaf kita juga bisa merenung banyak hal tentang hidup. Berada di dalam masjid membuat kita terkondisikan untuk mengingat Allah dan mengingat segala kebesarannya. Untuk itu, kita akan mengingat bahwa hidup kita banyak sekali dosa-dosa dan kesahalan baik yang disengaja ataupun tidak. Untuk itulah Allah memberikan kita kesempatan itikaf salah satunya untuk mengingat dan merenungi kehidupan.

Perenungan saat i’tikaf di Bulan Ramadhan ini juga bisa tentang masalah dunia dan akhirat, masalah kebahagiaan, masalah kesalahan di masa lalu, apa yang sudah kita lakukan dan apa yang sudah kita lalaikan. Di masa-masa selain bulan Ramadhan, tentu saja hal ini sulit kita lakukan. Untuk itulah, kesempatannya ada di bulan Ramadhan ini untuk melakukan perenungan atau penghayatan diri.

Baca juga:

3. Khusyuk Beribadah

Selama itikaf kita akan banyak berdiam diri di masjid dan dikeliingi oleh orang-orang yang juga khusyuk dalam beribadah. Selama beritikaf kita akan fokus pada bagaimana beribadah menghadap Allah SWT bukan lagi masalah-masalah keduniawian. Untuk itu, ibadah itikaf membantu kita untuk bisa melaksanakan shalat, puasa, dan tadabur Al-Quran dengan tetap khusyuk dan tumaninah.

Ibadah di hadapan Allah tentu hanya masalah ibadah ritual, tapi menuntut ilmu, mengisi rohani dengan pengetahuan agama, ceramah yang menyejukkan juga bisa termasuk kepada ibadah jika diniatkan untuk nantinya dilaksanakan demi kebaikan atau kemaslahatan.

Saat di luar bulan Ramadhan, banyak sekali aktivitas dan kesibukan kita yang terkadang tidak membuat kita khusuk. Untuk itu, kesempatan ramadhan ini atau pada saat itikaf ini adalah saat yang tepat untuk kita bisa khusyuk dan menjalankan perintah Allah dengan sebaik-baiknya.

Baca juga:

[AdSense-C]

4. Membangun Spiritual (Hubungan antara Allah dan Manusia)

Saat itikaf ini juga kesempatan untuk membangun spiritual diri yang kuat. Spiritual diri yang kuat bisa didapatkan dari ibadah-ibadah yang dilaksanakan dengan khusus dan perenungan diri yang kuat. Pengalaman spiritual ini tentu saja tidak akan bisa berdampak pada bulan-bulan setelah ramadhan jika dilaksanakan tanpa keikhlasan. Untuk itu, pengalaman spiritual bisa didapatkan dari itikaf yang tidak hanya sehari saja dan membutuhkan konsistensi serta keikhlasan dalam menjalankan.

Ada banyak sekali orang yang melakukan itikaf. Namun tentunya motif yang berbeda-beda. Untuk itu, spiritual harus dilakukan dengan niat yang lurus dan ikhlas agar mendapatkan pengalaman spiritual yang membuat kita semakin dekat dengan Allah SWT.

Baca juga:

5. Menjauhi Sejenak Hiruk Pikuk Dunia

Dengan melaksanakan itikaf kita bisa menjauh sejenak dari hiruk pikuk dunia dan membuat diri kita semakin fokus untuk beribadah. Pada saat itikaf kita tidak akan terkena hiruk pikuk dunia sebagaimana yang ada di tempat perbelanjaan atau tempat-tempat lainnya yang justru malah mengkondisikan umat islam untuk berbelanja atau menghabiskan uang.

Itikaf yang kita lakukan tentunya membuat kita banyak dikondisikan oleh lingkungan yang positif dan jauh dari kemaksiatan. Tentu akan berbeda jika kita menghabiskan waktu dengan berbelanja, sekedar berkumpul dengan teman-teman, tanpa ada orientasi yang jelas.

Dengan itikaf kita terkondisikan untuk banyak beramal shalih, berinfaq dan sedekah. Walaupun zakat adalah ibadah harta yang wajib, sedekah atau infaq juga menjadi kewajiban kita jika memiliki kelebihan harta. Untuk itu, menjadi kewajiban sosial yang harus dilakukan oleh mereka yang mam

Itikaf juga bisa menghilangkah Penyebab hati gelisah menurut islam, membuat doa dengan cara agar keinginan cepat terkabul. Itikaf juga salah satunya dengan dengan membaca asmaul husna, karena ada  manfaat asmaul husna yang sangat banyak.

Semoga kita bisa melaksanakan ibadah itikaf bukan hanya selama Ramadhan, melainkan di waktu-waktu lainnya untuk mengisi jiwa dan ruhani kita dengan metode berdiam diri di masjid serta memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah SWT.

Selain dari manfaat itikaf, ada juga ibadah lain yang bisa dilakukan dan terdapat manfaatnya seperti : Manfaat takbirManfaat Shalat Tarawih Manfaat Baca Al-quran Setiap Hari Manfaat TawakalManfaat Tahajjud Manfaat Asmaul Husna Manfaat Ucapan AlhamdulillahManfaat Toleransi Antar Umat Beragama, dsb.

Semoga kita senantiasa istiqomah untuk melaksanakan perintah Allah walaupun ramadhan telah berlalu, tapi istiqomah yang akan selalu kita jaga.

5 Keutamaan Membaca Al Quran di Bulan Ramadhan

Sebagai muslim membaca Al-Quran adalah sebagai kewajiban dan kebutuhan. Fungsi Al-quran Bagi Umat Manusia  yang berisi berbagai solusi dan petunjuk kehidupan manusia tentunya bukan hanya menjadi hal yang dibaca secara tekstual, melainkan dibaca untuk dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan manusia. Akan tetapi hal ini sering kali terlewat.

Isi Al-Quran yang menyangkut kehidupan manusia misalnya saja seperti masalah ekonomi, hukum, pendidikan, keluarga, pasangan, ilmu pengetahuan alam, tentang akhirat, dan lain sebagainya. Isi tersebut mengandung  Untuk itu, muslim yang membaca Al-Quran akan menemukan khazanah islam yang sangat mendalam dan tentu akan semakin mendalami ilmu-ilmu Allah lainnya yang ada di alam semesta.

Kewajiban membaca Al-Quran bukan hanya berhenti di satu waktu. Setiap saat dan setiap hari tentunya kita diperintahkan Allah untuk membacanya dan menjadikannya pedoman. Tetapi, membaca Al-Quran di bulan Ramadhan tentu memiliki keutamaan tersendiri. Membaca Al-Quran di Bulan Ramadhan memiliki keutamaan dan kekhasan sendiri bagi seorang muslim.

Baca juga:

5 Keutamaan Bagi yang Membaca Al-Quran Saat Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat berbeda dan Allah spesialkan untuk ummat islam. Di bulan Ramadhan segala amalan menjadi berkali lipat pahalanya termasuk banyak hikmah yang bisa diambil sekaligus menjalankan ibadah puasa.

Akan tetapi, membaca disini tidak hanya sekedar membaca teks nya saja melainkan membaca dan mentadaburi artinya bagi kehidupan kita. Dari situ kita akan mendapatkan banyak hikmah dan ilmu yang luas dari Al-Quran. Berikut adalah 5 keutamaan yang bisa didapatkan seorang muslim jika mereka membaca Al-Quran di bulan Ramadhan.

1. Mendapatkan Pahala Berkali Lipat

“Pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru: “Wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah”. Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan”. (Al Hadist)

Dalam hadist di atas menyebutkan bahwa saat bulan Ramadhan, pahala kita akan dilipatgandakan. Maka itu termasuk ketika membaca Al-Quran maka kita pun akan mendapatkan berkali lipat pahala selama niatnya adalah lurus karena ingin beribadah dan memahami Al-Quran secara benar.

Di bulan ini Allah memberikan ganjaran lebih sebagai motivasi umat islam, tentu saja dengan harapan bahwa kita tidak akan meninggalkan kebiasaan tersebut ketika telah selesai bulan Ramadhan. Untuk itu, yang terpenting bukan hanya pada saat Ramadhan membacanya secara rutin, melainkan bagaimana konsistensi dan menjadi kebiasaan yang baik seusai Ramadhan.

Baca juga:

[AdSense-B]

2. Menjauhi dari Godaan Syetan

Ketika membaca Al-Quran, maka kita akan terfokus pada apa yang kita baca. Untuk itu, kebiasaan membaca Al-Quran tidak disenangi syetan karena dengan hal itu ia sulit untuk menggoda dan membisikkan hal-hal buruk pada manusia. Membaca Al-Quran juga menjauhkan kita untuk berbuat maksiat sebagaimana disukai oleh syetan.

Syetan tentu membenci mereka yang membaca Al-Quran karena dengannya kita semakin kuat terhadap fungsi iman kepada Allah SWT dan manfaat beriman kepada Allah SWT. Selain itu muncul juga dalam diri kita sebagaimana keutamaan cinta kepada Rasulullah, dan menjalankan apa yang ada dalam fungsi Al-Quran bagi umat manusia. Seytan tentu tidak suka dengan orang-orang seperti itu.

Orang yang tidak banyak beribadah, mengingat Allah, serta melakukan amalan shaleh maka akan lebih berpeluang digoda oleh syetan. Hal ini dikarenakan dalam hati dan pikirannya kosong tidak menentu, untuk itu mudah untuk dikelabui, didorong, dan dikendalikan oleh hawa nafsu.

3. Menjadikan Waktu Lebih Produktif

Membaca Al-Quran membuat kita juga lebih produktif. Produktif dalam hal ini tentu sangat baik di bulan Ramadhan. Walaupun fisik kita diuji dan dicoba dengan tidak makan dan minum, tentunya kelelahan dan bosan akan datang. Tetapi, waktu ini akan lebih produktif jika kita gunakan dengan hal-hal bermanfaat termasuk membaca Al-Quran.

Untuk itu, jangan sampai produktifitas tidak bisa dapatkan hanya gara-gara lemas dan malas dalam beribadah di bulan Ramadhan. Ruginya diri kita, karena Ramadhan hanya datang satu kali dalam satu tahun dan belum tentu menemuinya lagi saat tahun depan. Maka itu, produktiflah dalam beraktifitas. Dengan membaca Al-Quran kita akan produktif, bukan hanya mendapatkan pahala tetapi, mendapatkan ilmu, hikmah, dan ketenangan hati kita.

Salah satu untuk bisa produktif di bulan Ramadhan lainnya adalah melaksanakan amalan sunnah. Amalan sunnah contohnya adalah menjalankan dan membiasakan Tidur dalam islam ,Sunnah Rasul Malam Jumat cara makan Rasulullah , cara mandi dalam Islam , macam -macam shalat sunnah , adab ziarah kubur , dsb.

[AdSense-C]

4. Mendekatkan Diri Pada Al-Quran dan Islam

Membaca Al-Quran di bulan Ramadhan juga dapat menambah kita semakin mendekatkan diri kepada Al-Quran dan Islam. Kesempatan mendekatkan diri ini tentu saja tidak selalu kita dapatkan saat hari-hari biasa. Membaca Al-Quran di bulan Ramadhan didorong juga dari pahala Allah yang dilipatgandakan, suasana umat islam yang tinggi anemonya, dan pengondisian lingkungan yang semakin islami.

Dengan membaca Al-Quran di bulan Ramadhan tentunya kita akan lebih mengenal Allah, Islam, dan segala seluk beluk perintahnya. Walaupun masih banyak yang salah mengenai abcaan atau tajwid dalam Al-Quran tentu tidak perlu menjadikan kita patah semangat karena membaca Al-Quran bukanlah suatu hasil melainkan proses. Yang terpenting ada niat baik dari kita untuk menjadi muslim yang kaffah dengan membacanya secara rutin.

Baca juga:

5. Membangun Pikiran Positif

Di dalam Al-Quran berisi berbagai ilmu dan juga hikmah yang positif. Dengan membacanya, tentu saja hal ini juga akan mempengaruhi pikiran kita menjadi lebih positif terutama di bulan Ramadhan. Walaupun diuji dengan lemasnya fisik, tentu pikiran kita akan baik karena dipengaruhi oleh hikmah dan ilmu positif tersebut. Untuk itu, tidak rugi jika kita membaca Al-Quran sebaik-baiknya.

Selaini itu, dengan membaca Al-Quran di bulan Ramadhan kita menjadi terkondisikan dan akan lebih sering memikirkan sesuatu berdasarkan dalil agama, bukan hawa nafsu atau dorongan negatif kita. Dengan begitu, Ramadhan akan lebih indah dan bermakna.

Semoga, bulan Ramadhan yang dijalani nantinya akan menjadi lebih baik terus menerus dari Ramadhan sebelumnya dan menjadi Ramadhan yang terbaik. Untuk bisa menjadi Ramadhan terbaik, maka salah satunya membaca Al-Quran harus menjadi kebiasaan dan konsisten di lakukan dalam diri kita.

Agar semangat ramadhan tidak hilang, kita juga bisa menjalankan puasa sunnah lainnya seperti : Puasa Sunah Idul AdhaPuasa 1 MuharramKeutamaan Puasa ArafahPuasa Senin Kamis, dan Keutamaan Puasa Daud.

[accordion]
[toggle title=”Artikel Terkait”]

[/toggle]
[toggle title=”Artikel Lainnya”]

[/toggle]
[/accordion]

 

 

5 Cara Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga Selama Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat spesial bagi seluruh umat islam di dunia. Mennjadi spesial karena bulan Ramadhan hanya datang setahun sekali dan amalan-amalan ibadah di bulan tersebut dilipatgandakan oleh Allah SWT. Tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kita semuanya.

Dalam menyambut dan juga melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan, kebahagiaan ini juga bisa dilaksanakan bersama dengan keluarga tercinta. Bulan ramadhan juga salah satu  momentum untuk mengaplikasikan cara Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga. Jangan sampai ketika bulan ramadhan sudah hadir, malah timbul konflik dan juga permasalahan di keluarga.

Adanya ketidak harmonisan saat ramadhan tentunya sangat mempengaruhi bagaimana berjalannya kekhusuan ibadah kita saat di bulan Ramadhan. Berikut Cara Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga selama Ramadhan seperti halnya Cara Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga Menurut Islam.

Jadikan Ramadhan untuk Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga

Sebagai bulan yang spesial, momen bulan Ramadhan juga bisa untuk membangun keharmonisan keluarga. Di bulan-bulan biasanya mungkin jarang bisa berkumpul bersama, melakukan ibadah bersama, tentu saja saat ramadhan aktivitas ini terrbuka luas. Berikut adalah tips agar bisa membangun keharmonisana keluarga saat bulan Ramadhan.

  1. Menyiapkan Makan Sahur dan Buka Bersama

Saat ramadhan kita bisa melakukan aktifitas menyiapkan sahur dan buka bersama dengan keluarga. Di waktu-waktu yang lain mungkin satu keluarga jarang untuk bersama, makan dan beraktivitas masing-masing. Untuk bulan Ramadhan ini tentunya kita bisa menyiapkan sahur dan buka bersama, agar lebih terasa kebersamaannya.

Makanan yang Cocok Saat Buka Puasa bisa dipersiapkan oleh keluarga bersama-sama dan tentunya harus Makanan Halal. Jangan sampai kita menyiapkan Makanan Haram Menurut Islam, dan Makanan Haram yang merusak tubuh dan pahala kita.

Walaupun tidak bisa setiap hari atau rutin dalam beberapa waktu, kita bisa melaksanakannya di hari-hari libur atau saat waktu yang luang di keesokan harinya. Aktivitas ini akan menyenangkan dan juga membuat rasa kekeluargaan akan tumbuh.

Di hari-hari biasanya tentu sulit untuk bersama. Sarapan, makan siang, dan makan malam sering kali dilakukan masing-masing, terutama bagi mereka yang bekerja. Tentu berbeda di bulan Ramadhan, sering kali sahur menjadi momen kumpul bersama dan saling berdiskusi. Dari aktivitas kebersamaan tersebut akan muncul rasa bahagia dan keharmonisan bisa didapatkan.

[AdSense-B]

  1. Tarawih Bersama

Walaupun sebagai amalan sunnah, tarawih di bulan Ramadhan sebagai pengganti Shalat Tahajud di Bulan Ramadhan  adalah sangat dianjurkan. Untuk itu, setiap malam setelah berbuka puasa dan shalat isyaa, pelaksanaan tarawih berjamaah di masjid juga sangat dianjurkan. Selain untuk shalat dan ibadah menghadap Allah, tarawih bersama juga membuat kita bisa bersilahturahmi dan bertemu dengan saudara-saudara semuslim lainnya, yang jarang bertemu di bulan selainnya.

Hukum Shalat Tarawih Sendirian memang diperbolehkan, akan tetapi di bulan Ramadhan ada Keutamaan Shalat Tarawih Berjamaah. Apalagi bersama dengan keluarga tentunya menjaadi lebih bahagia.

Begitupun dengan keluarga, tarawih bersama bisa menjadi hal yang meningkatkan keharmonisan dan kekeluargaan di dalamnya. Tentu saja, akan semakin baik jika dilakukan secara konsisten. Akan tetapi walau tidak bisa setiap hari, setidaknya ada beberapa waktu yang bisa dijawalkan untuk tarawih bersama karena Hukum Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan adalah sunnah namun memiliki Keutamaan Shalat Tarawih yang Luar Biasa.

  1. Saling Membagi Ilmu Islam

Saat bulan ramadhan tentunya amalan ibadah adalah hal utama yang harus dilakukan. Bergossip, membicarakan keburukan orang lain tentunya menjadi hal yang harus dihindari dan dikurangi sebagai bentuk pelatihan diri kita menjadi lebih positif. Saling membagi ilmu tersebut misalnya mengenai Hikmah Bulan Ramadhan , Malam Terakhir Bulan Ramadhan, dan Menahan Hawa Nafsu di Bulan Ramadhan.

Saat bulan ramadhan, keluarga juga bisa membuat program atau kebersamaan yang di dalamnya antar anggota atau ibu dan bapak bisa berbagi dan bercerita mengenai ilmu-ilmu islam, rukun islam, rukun iman, yang dimilikinya. Dengan begitu maka akan semakin hidup ilmu-ilmu islam dalam keluarga serta menjadikannya sebagai sumber cahaya keharmonisan keluarga.

  1. Saling Menjaga Diri dari Kemaksiatan

Keharmonisan saat Ramadhan juga bisa dilakukan dengan cara saling menjaga dan mengingatkan agar tidak berbuat maksiat. Hal ini diperlukan dalam sebuah keluarga, karena Keluarga Bahagia Menurut Islam , Keluarga Harmonis Menurut Islam , dan Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah adalah mereka yang mampu menjaga masing-masing agar tak berbuat dosa atau sesuatu yang melampaui batas.

Untuk itu, di bulan Ramadhan saling menjaga diri dari kemaksiatan harus dilakukan. Ramadhan yang penuh berkah saatnya membuat keluarga saling mendekat kepada Allah SWT serta jalan untuk membangun Hubungan Akhlak dengan Iman , serta Akhlak Dalam Islam.

  1. Berkumpul dan Bersilahturahmi Dengan Keluarga Lainnya

Salah satu Cara Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga bisa juga dilakukan dengan berkumpul dan silahturahmi bersama keluarga yang jarang bertemu atau merenggang. Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk bisa melakukan silahturahmii, karena hati dan ketenangan beribadah sedang dilakukan. Membuka diri dan menerima saudara adalah hal yang bisa dilakukan jika saat bulan Ramadhan.

[AdSense-C]

Hal-Hal yang Harus Dihindari Untuk Keluarga Saat Ramadhan

Menjaga hubungan kekeluargaan adalah perintah Allah SSWT karena keluarga adalah bagian darii hidudp kita. Mmenjaga hubungan kekeluargaann bukan hanya saat Ramadhan saja melainkan setiap wwaktu kita jika kita bisa. Bulan Ramadhan harusnya dapat menjadi mementum membangun keharmonisan.

Ada beberapa hal yang harus dihindari agar tidak terjadi konflik atau merusak keharmonisan keluarga saat bulan Ramadhan.

  1. Memilih Sendiri-Sendiri Daripada Bersama

Saat ramadhan momen yang penuh hikmah dan pahala ini banyak sekali kelebihan untuk keluarga jika bersama-sama. Melakukan aktivitas sendiri-sendiri membuat malah keluarga renggang dan tidak terasa keharmonisannya. Di bulan ramadhan, walaupun tidak bisa setiap hari dan selalu bersama menyempatkan untuk bersama adalah hal yang baik, minimal melakukan buka bersama atau sahur bersama. Untuk ibada-ibadha lainnya, berjamaah pun sangat dihancurkan.

  1. Emosi Berlebihan

Di bulan ramadhan emosi berlebihan bukan hanya mengurangi pahala namun juga mengurangi keharmonisan keluarga apalagi jika tidak dibarengi oleh saaling memahami dan mengerti kondissi masing-masing. Untuk itu, emosi berlebihan harrus dihindari karena merusak keharmonisan keluarga dan tentu dapat mmeretakkan keluarga itu sendiri. Cara Menenangkan Hati Dalam Islam dan Bahagia Menurut Al-Quran adalah salah satu yang bisa meredam emosi kita.

  1. Tidak Saling Memahami dan Menyalahkan

Saling menyalahkan atas kesalaahan juga dapat membuat huubungan menjadi tidak harmonis. Seharusnya keluarga saling memahami dan mengerti kondisi. Jika tidak dilakukan maka pasti akan retak dan keluarga mulai renggang.

Demikian uraian lengkap tentang Cara Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga selama Ramadhan. Semoga di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, kita mendapatkan nikmat yang luar biasa dari Allah SWT, Aamiiin.

4 Cara Ampuh Menahan Nafsu di Bulan Ramadhan

Bulan ramadhan adalah bulan yang khusus dan Allah berikan sebagai salah bentuk kenikmatan bagi umat manusia. Selain pada bulan ini segala macam pahala dilpatgandakan, Allah pun juga memberikan perintah untuk menahan hawa nafsu selama ramadhan dengan menahan haus, lapar, dahaga, emosi, dan dorongan seksual.

Hal-hal seperti Hikmah Bulan Ramadhan beserta Hadisnya, Malam Terakhir Bulan Ramadhan,  Doa Puasa Ramadhan, Niat Puasa Ganti Ramadhan, dan Hukum Keramas Saat Puasa Ramadhan juga bisa ketahui agar ramadhan lebih bermakna.

Menahan hawa nafsu memang bukan perkara yang mudah. Rasulullah sendiri pun mengatakan bahwa melawan hawa nafsu adalah jihad paling sulit dibanding melawan musuh atau orang-orang yang ingin menghancurkan islam.

Untuk itu, Allah berikan bulan Ramadhan sebagai bentuk pelatihan agar umat islam bisa melatih mengendalikan diri, mengendalikan hawa nafsunya, dan mengisinya dengan nilai-nilai islam dan ibadah yang intensif.

Pengertian Menahan Nafsu di Bulan Ramadhan

Menahan hawa nafsu di bulan Ramadhan tentunya bukan perkara yang mudah. Banyak yang menyalah artikan hanya sekedar tidak makan dan minum. Akan tetapi dibalik itu semua menahan hawa nafsu saat ramadhan memiliki arti pengelolaan.

Hal ini Allah sampaikan dalam Al-Quran,

[box title=”” align=”center”]

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa),

sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Baqarah : 185)[/box]

Islam tidak melarang umatnya untuk makan dan minum serta memenuhi kebutuhan lainnya. Akan tetapi, semua fitrah tersebut harus dikelola dengan baik dan juga tidak berlebihan. Sering kali manusia menyalahkan arti-nya hingga merasa tersiksa atas perintah Allah SWT.

[AdSense-B]

Berikut adalah penjelasan mengenai menahan hawa nafsu di bulan ramadhan.

  1. Tidak Makan dan Minum

Saat berpuasa umat islam dilarang untuk makan dan minum dari mulai waktu shubuh hingga waktu magrib. Tentu saja Allah tidak memerintahkan manusia untuk tidak makan dan minum sama sekali. Saat proses menahan lapar dan dahaga ini manusia diuji dan dilatih agar terbiasa untuk mengelola dirinya tidak makan dan minum, dan saat berbuka atau sahur tidak makan dan minum berlebihan.

Makanan Halal adalah kebutuhan dasar manusia dan Makanan Haram Menurut Islam tentu bukan sebagai kebutuhan kita. Untuk itu, saat Ramadhan kita dilatih dengan bentuk menahan lapar dan dahaga sehingga jika terbiasa manusia akan terbiasa untuk mengendalikan dirinya termasuk masalah emosi dan nafsu lainnya.

  1. Tidak Berhubungan Suami Istri

Salah satu hal yang membatalkan puasa adalah berhubungan suami istri saat masih berpuasa. Saat malam hari setelah berbuka tentunya hal ini tidak membatalkan. Dengan berpuasa manusia dilatih untuk membiasakan diri menahan dirinya atas dorongan seksual yang muncul sehingga berharap tidak akan muncul perzinahan atau pergaulan bebas.

Walaupun kebutuhan suami istri secara biologis adalah Kewajiban Suami terhadap Istri dalam Islam, Kewajiban Istri Terhadap Suami dalam Islam dan termasuk Cara Membahagiakan Istri Tercinta saat berpuasa kebutuhan tersebut harus dikelola dan tidak boleh diaktuskan.

  1. Tidak Emosi Berlebihan

Di bulan Ramadhan, umat islam dilatih untuk terbiasa menahan emosinya tidak berlebihan. Marah, menangis atau terlalu sedih membuat pahala puasa kita tentu akan berkurang. Untuk itu, emosi berlebihan adalah hal yang dilarang saat berpuasa. Dengan siang dan pagi hari kita terbiasa melatih diri menahan emosi, tentunya akan membuat kita juga melatih diri kita di bulan-bulan selanjutnya.

Untuk bisa mengolah emosi kita juga bisa mengetahui Cara Menenangkan Hati Dalam Islam, Cara Membuat Hati Ikhlas dan Tenang, dan Cara Agar Hati Tenang Dalam Islam agar tidak muncul emosi yang melonjak.

  1. Mengisi dan Mengalihkan Nafsu dengan Ibadah

Saat bulan ramadhan, ibadah-ibadah yang kita laksanakan tentu akan menambah pahala kita bahkan Allah melipatgandakan pahala kita. Untuk itu, segala macam dorongan nafsu dan emosi kita saat bulan Ramadhan tentu akan diganti dan diisi dengan ibadah. Dengan begitu, amalan kita semakin banyak dan menghindarkan dari perbuatan maksiat.

Cara Agar Mampu Mengelola Hawa Nafsu di Bulan Ramadhan

Menahan hawa nafsu tentunya adalah hal yang sulit jika tidak bisa mengelolanya dengan baik. Untuk itu, hawa nafsu bukan hanya sekedar ditahan namun harus dikelola. Hal ini dikarenakan manusia tidak mungkin bisa menghilangkan nafsunya sebagai fitrah yang diberikan oleh Allah SWT.  Berikut adalah tips agar mampu mengelola hawa nafsu di bulan Ramadhan.

  1. Mengisi dengan Aktifitas Produktif

Untuk bisa mengelola hawa nafsu maka salah satu caranya adalah tidak mendekati hal-hal yang bisa membuat kita melakukan hal yang membatalkan puasa tersebut. Untuk itu, kita harus mengisi aktivitas dengan hal-hal yang produktif, tidak berdiam diri, melamun atau pikiran kosong apalagi mendekati hal yang membatalkan puasa atau mengeluarkan hawa nafsu kita.

Dengan melakukan aktifitas produktif kita bisa mengalihkan dorongan hawa nafsu. Apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan teralihkan dengan fokus yang beralih.

  1. Berkumpul dengan Orang-Orang Shaleh

Berkumpul dengan orang-orang shaleh adalah hal yang bisa mengondisikan diri kita secara praktis untuk mengalihkan diri dari dorongan hawa nafsu. Dengan berkumpul bersama orang-orang shaleh kita akan berdiskusi, berinteraksi, dan juga melakukan aktifitas yang juga mengandung kebaikan.

Bersama dengan orang shaleh, kita juga bisa meningkatkan Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, Akhlak Dalam Islam, Hubungan Akhlak dengan Iman, Cara Meningkatkan Akhlak,  dan memahami Tasawuf Akhlaki lewat diskusi yang terjalin bersama.

Berkumpul bersama orang-orang shaleh tentunya membuat kita juga terdorong dan lebih semangat untuk mengisi aktifitas kebaikan. Dengan mereka juga kita akan saling mengingatkan dan saling menjaga dalam nilai-nilai islam. Dengan begitu, kemaksiatan atau hawa nafsu tentunya akan terhalang oleh kebersamaan dengan orang-orang shaleh.

  1. Tidur Lebih Baik dibanding Bermaksiat

Dalam sebuah hadist Rasulullah pernah menyampaikan bahwa ketika bulan Ramadhan tidur seseorang pun bisa mendapatkan pahala kebaikan. Hal ini tentu baik karena menjauhkan dari kemaksiatan. Akan tetapi dibanding tidur tentunya ibadah dan amalan yang produktuf lebih baik.

  1. Membuat Target Selama Bulan Ramadhan

Untuk bisa mengalihkan atau menahan hawa nafsu, maka hendaknya kita membuat target selama bulan ramadhan. Dengan target atau tujuan yang dimiliki kita akan lebih fokus pada hal target tersebut dibanding dengan apa yang kita inginkan atau dorongan hawa nafsu yang hadir.

[AdSense-C]

Demikian ulasan terkait dengan bagaimana menahan hawa nafsu selama bulan Ramadhan, semoga kita mampu menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa hingga hari kiamat nanti, Aamiiin.

6 Hikmah Bulan Ramadhan beserta Hadisnya

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat di atas adalah salah satu yang menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang memiliki banyak keutamaan. Keutamaan bulan Ramadhan tentu saja akan dapat dirasakan oleh mereka yang melakukan puasa, bukan yang tidak.

Hal ini sebagaimana disampaikan dari Rasulullah SAW, ”Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari api neraka pada setiap hari di bulan Ramadhan,dan setiap muslim apabila dia memanjatkan do’a maka pasti dikabulkan.”

Untuk itu, sebagai bulan yang istimewa, tentunya bulan Ramadhan memiliki banyak hikmah dan kebaikan yang bisa dipetik. Berikut adalah beberapa hikmah Ramadhan yang dapat kita petik.

Kebaikan dan Hikmah Bulan Ramadhan Ramadhan

Ada banyak sekali kebaikan dan hikmah yang didapatkan saat bulan Ramadhan. Tentu saja hikmah dan kebaikan ini berbeda-beda setiap orang tergantung dari pengalaman spiritual masing-masing. Namun, hikmah-hikmah ini adalah hal-hal yang dapat diambil secara umum dari adanya bulan Ramadhan.

  1. Pahala Berlipat Ganda

Bulan ramadhan adalah bulan yang berlipat Ganda akan pahala. Bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk membiasakan diri beribadah. Untuk itu, tidak salah jika Allah memberikan pahala yang dilipatgandakan saat bulan ini. Ditambah lagi dengan aktivitas puasa ramadhan, tentu menjadi suatu proses melatih kesabaran.

Di bulan ini, tentu saat yang tepat untuk membiasakan diri beribadah dengan motivasi yang besar. Tentu ramadhan tidak datang setiap bulan, untuk itu kesempatan ini harus benar-benar dioptimalkan oleh seluruh ummat islam di dunia.

Hal ini sebagaimana disampaikan dalam hadist berikut,

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi” (HR. Muslim)

  1. Malam Lailatul Qadar

Malam lailatul qadar adalah malam saat diturunkannya Al-Quran. Untuk itu, keutamaan ini berada di bulan Ramadhan. Malam lailatul qadar adalah malam yang dimuliakan Allah dan beribadah di dalamnya seperti 1000 tahun beribadah. Al Quran di bulan ini adalah memiliki sejarah turunnya dan manusia diberikan cahaya kehidupan atas petunjuk Al-Quran yang diturunkan.

Hal ini sebagaimana Allah sampaikan dalam Al-Quran,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. “ (QS Al Qadar 1-5)

Di Ayat lain, disampauikan pula mengenai malam turunnya Al-Quran. “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami” (QS Ad-Dhukhan : 3-5)

  1. Semangat Lebih Untuk Beribadah

Hikmah di bulan Ramadhan adalah kita akan memiliki semangat lebih untuk beribadah. Hal ini dapat dirasakan karena berbagai kegiatan di lingkungan, masjid, dan sekitar kita atau bahkan di media-media yang ada mengkondisikan itu untuk lebih banyak beribadah. Mungkin saat bulan biasa, masjid sepi dan menjadi ramai saat bulan Ramadhan. Hal ini tentunya menjadi semangat
[AdSense-B]

  1. Lingkungan Menjadi Kondusif dan Religius

Lingkungan sekitar menjadi kondusif dan religius saat memasuki bulan Ramadhan. Acara-acara ceramah, spiritual, ibadah, kegiatan islam, tontonan banyak menampilkan religiusitas yang sangat tinggi. Bahkan mendadak artis-artis atau public figure pun turut meramaikan suasana ramadhan ini.

Andai saja setiap bulan adalah bulan Ramadhan tentu keberkahan dan ajaran islam akan semakin menancap di umat islam seluruh negeri.

  1. Saling Berbagi dan Memaafkan

Di bulan Ramadhan ini umat islam saling berbagi dan memaafkan, untuk itu situasi seperti ini jarang sekali didapatkan saat bulan-bulan biasa. Saat Ramadhan, orang-orang dengan mudah berbagi makanan, menyantuni anak yatim dan piatu, berbagi bingkisan dan saling membahagiakan. Sungguh indah jika hal tersebut terus menerus dijaga dan dipelihara walaupun bukan dalam bulan Ramadhan.
[AdSense-C]

  1. Meningkatnya Ekonomi Islam

Dengan adanya bulan Ramadhan ini, ekonomi islam akan menjadi meningkat. Hal ini dikaenakan pembayaran zakat, infaq, sedekah, dan dana amal lainnya sangat banyak diberikan di bulan ramadhan ini oleh umat islam sebagai bentuk pembersihan harta dan melakukan amal perbuatan baik. Untuk itu menjadi berkah bagi peningkatan ekonomi islam.

Tentunya, zakat, infaq, sedekah, dan dana amal lainnya adalah sumber dari pembangunan ekonomi ummat. Biasanya ummat muslim menunggu hingga waktu ramadhan untuk dapat menyalurkannya. Sebetulnya tidak perlu menunggu ramadhan, walaupun memang momentum ramadhan adalah bulan yang pas untuk membersihkan diri, harta, dan jiwa kita. Ramadhan menjadi berkah bagi ummat islam karena adanya hal tersebut.

Jika dilihat dari berbagai hikmah yang ada, semua hikmah ramadhan menunjang pada tercapainya Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia , Hakikat Penciptaan Manusia , Konsep Manusia dalam Islam, dan Hakikat Manusia Menurut Islam sesuai dengan fungsi agama , Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam, dengan Cara Sukses Menurut Islam di muka bumi.

Sebagai pelatihannya, tentu berpuasa tidak hanya bisa dilakukan di bulan ramadhan. Ada banyak puasa sunnah yang bisa dilakukan di luar ramadhan, diantaranya adalah

Waktu Buka Puasa dan Adab Berbuka Puasa

Puasa ramadhan wajib hukumnya bagi seluruh umat islam di dunia dan tidak diperbolehkan meninggalkannya. Puasa ramadhan (baca puasa ramadhan dan pelaksanaannya) yang dijalankan umat islam pada bulan ramadhan tersebut memiliki banyak keutamaan atau fadhilah (baca puasa ramadhan dan fadhilahnya). Siapapun yang menjalankan puasa dan melaksanakan ibadah lainnya, ia akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT apabila memenuhi syarat sah puasa dan rukun puasa tersebut. Puasa itu sendiri berarti menahan diri dari makan, minum, dan segala perkara yang membatalkan puasa. Tidak seperti puasa sunnah, puasa ramadhan wajib hukumnya sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWt dan hadits rasulullah SAW berikut ini :

Wahai orang‐orang yang beriman kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan ke atas orang‐orang yang terdahulu daripada kamu supaya kamu bertaqwa. (Al Baqarah ; 183)

“Sesungguhnya dalam syurga terdapat sebuah pintu yang dikenali dengan nama Rayyan, dimana memasuki daripadanya orang‐orang yang berpuasa pada hari kiamat dan yang lain tidak berhak. Dikatakan mana orang yang berpuasa? Lantas mereka bangun dan masuk melaluinya. Apabila selesai ditutup dan tiada yang lain berhak memasukinya”

Puasa ramadhan seperti halnya juga puasa sunnah dimulai saat terbit fajar hingga terbenamnya matahari sebagaimana disebutkan dalam Qur’an surat Albaqarah ayat 187 yang berbunyi

“Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak bagi kalian benang putih dari benang hitam yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (Al Baqarah 187)

Adapun ketentuan tentang kapan datangnya waktu buka puasa dijelaskan dalam uraian berikut.

Waktu Buka Puasa

Waktu berbuka puasa tentunya menjadi waktu yang ditunggu-tunggu dan membahagiakan bagi seluruh umat islam yang melaksanakan ibadah puasa. Banyak cara dilakukan untuk menanti datangnya waktu berbuka termasuk membaca Alqur’an, memasak makanan buka puasa, ngabuburit dan lain sebagainya. Waktu berbuka puasa ramadhan adalah ketika siang telah berlalu dan matahari telah terbenam dan malam mulai datang. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT

“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqaroh ayat 187)

Waktu berbuka puasa juga dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Umar bin
Khaththab yang diriwayakan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Apabila malam telah datang dan siang beranjak pergi serta matahari telah terbenam maka orang yang berpuasa telah waktunya berbuka.”

Terdapat beberapa perbedaan tentang waktu berbuka puasa berdasarkan pendapat para ulama. Ada yang menyebutkan bahwa waktu berbuka puasa yang benar adalah saat matahari telah benar-benar tenggelam dan malam telah datang sehingga jika berbuka puasa saat hari masih terang tidaklah sah hukumnya. Sementara itu pendapat yang lain menyatakan waktu berbuka puasa adalah sebelum shalat maghrib sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits berikut ini :

“Adalah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berbuka dengan beberapa biji ruthob sebelum sholat, apabila tidak ada ruthob maka dengan beberapa korma,dan kalau tidak ada korma maka dengan beberapa teguk air.” (HR Abu Dawud)

Adab Berbuka Puasa

Saat berbuka puasa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan bagi umat islam pada umumnya. Adab atau tata cara buka puasa sesuai syariat islam mencakup hal-hal berikut ini :

1. Menyegerakan berbuka

Umat islam disunahkan untuk segera berbuka jika waktu berbuka telah tiba dan telah yakin bahwa waktu puasa telah berakhir. Siapapun yang menyegerakan berbuka maka ia akan mendapatkan kebaikan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim berikut ini

“Terus-menerus manusia berada di dalam kebaikan selama mereka mempercepat berbuka puasa”. (HR Bukhari dan Muslim)

Mempercepat buka puasa juga merupakan pembeda antara puasa umat islam dengan puasa umat agama lainnya sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan lainnya bahwa rasulullah SAW bersabda

“Terus-menerus agama ini akan nampak sepanjang manusia masih mempercepat buka puasa karena orang-orang Yahudi dan Nashoro mengakhirkannya.” (HR Ahmad dan abu dawud)[AdSense-B]

2. Berbuka dengan yang kurma atau segelas air

Saat berbuka puasa hendaknya kita memakan atau meminum sesuatu yang manis seperti kurma dan ataupun segelas air. namun kita juga diperbolehkan juga untuk berbuka dengan makanan atau minuman manis lainnya seperti takjil (baca manfaat takjil). Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud berikut ini

“Dan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berbuka puasa sebelum sholat Maghrib
dengan memakan ruthob (kurma kuning yang mengkal dan hampir matang) dan apabila beliau tidak menemukan ruthob maka beliau berbuka dengan korma (matang) jika tidak menemukan korma maka beliau berbuka dengan beberapa teguk air.”:

3. Membaca doa berbuka puasa

Pada saat berbuka puasa, disunahkan untuk memperbanyak doa karena saat berbuka puasa adalah salah satu waktu dimana doa akan diijabah oleh Allah SWT (baca doa puasa ramadhan). Adapun doa atau niat berbuka puasa adalah sebagai berikut (baca niat buka puasa dan niat ganti puasa ramadhan)

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthartu Birohmatika yaa arhamar roohimiin

Artinya :

Ya Allah keranaMu aku berpuasa, dengan Mu aku beriman, kepadaMu aku berserah dan dengan rezekiMu aku berbuka (puasa), dengan rahmat Mu, Ya Allah Tuhan Maha Pengasih

Ada pula yang berpendapat bahwa doa berbuka puasa yang benar adalah dengan membaca doa berikut ini

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Dzahaba-dz Dzoma’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah

Artinya :
Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah

4. Memberikan makanan berbuka untuk orang lain

Suatu perbuatan mulia apabila seseorang memberikan makanan untuk berbuka puasa pada saudara atau kerabatnya maupun orang yang tidak dikenal sekalipun yang sedang berpuasa. Memberi makan kepada orang lain yang berpuasa dapat dikategorikan sebagai sedekah (baca keutamaan bersedekah).  Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW

“Siapa yang memberikan makanan buka puasa pada orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun. (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)[AdSense-C]

5. Berbuka puasa sebelum shalat maghrib

Seseorang yang berpuasa hendaknya membatalkan puasanya atau berbuka sebelum melaksanakan shalat maghrib baik hanya dengan meminum air ataupun memakan kurma sebagaimana anjuran rasulullah SAW. Ada baiknya jika sebelum shalat maghrib kita hanya mengkonsumsi makanan ringan dan makan makanan yang berat setelah melaksanakan shalat fardu maghrib.

Demikian penjelasan tentang waktu buka puasa dan adab berbuka puasa yang dapat diketahui. Sebagai umat islam hendaknya kita mematuhi waktu berbuka puasa yang sah dan menyegerakan berbuka saat waktu puasa telah berakhir dengan adab-adab yang disunahkan. adapun para orangtua perlu mendidik anak dalam islam sejak dini dan mengajarnya untuk berpuasa (baca tips mengajar anak berpuasa) sesuai dengan pendidikan dalam islam.

9 Doa Puasa Ramadhan untuk Sebulan

Bulan ramadhan tidak hanya membawa berkah bagi seluruh umat muslim di dunia melainkan juga mendatangkan kebahagiaan dengan segala keistimewaannya (baca keistimewaan ramadhan). Bulan ramadhan juga dikenal sebagai bulan puasa dimana umat islam melaksanakan ibadah puasa ramadhan (baca puasa ramadhan dan pelaksanaannya serta puasa ramadhan dan fadhilahnya), bulan Alqur’an dimana pertama kali ayat Alqur’an diturunkan, bulan taubat dimana setiap manusia bisa menghapuskan dosa-dosanya, bulan kasih sayang, bulan kesabaran serta bulan doa dimana Allah SWT akan mengabulkan segala doa-doa kita sebagai umat muslim.

Rasulullah Saw. Sendiri senantiasa berdoa kepada Allah sebelum datangnya bulan ramadhan “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.” Para orang saleh juga senantiasa berdoa kepada Allah bahkan enam bulan sebelum datangnya ramadhan agar mereka dapat menjumpai bulan yang penuh dengan berkah tersebut serta diterimanya amalan mereka. Adapun umat islam berseungguh- sungguh berdoa dibulan ramadhan adalah karena banyaknya keutamaan dibulan ramadhan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW berikut ini

“Ketika datang malam pertama dari bulan Ramadhan seluruh setan dibelenggu, dan seluruh jin diikat. Semua pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Semua pintu sorga dibuka hingga tidak ada satu pun pintu yang tertutup. Lalu tiap malam datang seorang yang menyeru: “Wahai orang yang mencari kebaikan kemarilah; wahai orang yang mencari keburukan menyingkirlah. Hanya Allah lah yang bisa menyelamatkan dari api neraka”. (H.R.Tirmidzi).

Umat islam juga senantiasa berdoa pada bulan ramadhan dan melaksanakan amal saleh karena pada bulan ini semua amal ibadah akan dilipat gandakan pahalanya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut

Dari Abu Hurairah RA, Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : Setiap amalan anak Adam baginya kecuali puasa, maka sesungguhnya ia bagi‐Ku dan Aku yang membalasnya dan puasa merupakan perisai, apabila seseorang kamu berpuasa maka janganlah ia bercakap yang cela, bertempik dan sekalipun dimaki oleh seseorang atau diperanginya maka hendaklah berkata: Sesungguhnya aku berpuasa, demi yang jiwa Muhammad ditangannya maka bau mulut orang yang berpuasa terlebih harum di sisi Allah dari bau kasturi. Bagi orang yang berpuasa mempunyai dua kegembiraan. Apabila berbuka dia merasa gembira dengan berbukanya dan apabila bertemu Allah dia merasa gembira dengan puasanya. (HR Al Nasa’ie dan Ibnu Majah)

Doa Puasa Ramadhan

Pada bulan ramadhan doa-doa yang dipanjatkan akan diijabah oleh Allah SWT baik doa untuk kebaikan di dunia maupun doa untuk kebaikan akhirat. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW

“Ada tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua kepada anaknya, doa orang yang puasa dan doa musafir (orang yang dalam perjalanan).” (HR. Al-Baihaqi)

Serta hadits lainnya yang menyatakan bahwa doa orang yang berpuasa senantiasa diijabah oleh Allah SWT

“Tiga orang yang tidak tetolak doanya: Orang yang sedang berpuasa ketika berbuka, imam yang adil dan doa orang yang terzhalimi.” (HR: At-Tirmidzi)

Adapun doa puasa rammadhan yang secara khusus dapat dibaca pada saat menunaikan puasa ramadhan adalah sebagai berikut :

1. Doa ketika melihat hilal

Hilal adalah tanda permulaan datangnya bulan ramadhan. Ketika melihat hilal maka disunahkan untuk membaca doa berikut

اَللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَمِ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا تُحِبُّ رَبَّنَا وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ الل

“Allahumma ahillahu ‘alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal islaami. Robbii wa Robbukallah.

Artinya :

“Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ad Darimi)

2. Doa Niat Puasa

Sebelum melaksanakan ibadah puasa maka seseorang wajib berniat dalam hati untuk melaksanakan puasa tersebut. Niat puasa ramadhan adalah salah satu rukun puasa sekaligus syarat sah puasa yang harus dipenuhi. Adapun bacaan doa niat tersebut harus dilafalkan pada malam sebelum berpuasa. (baca niat ganti puasa ramadhan dan niat buka puasa). Doa niat puasa adalah sebagai berikut

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى

“Nawaitu shauma Ghodin An adaai fardhi syahri romadhoona haadzihis sanati lillahi ta’ala”

Artinya :

Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala

3. Doa agar senantiasa terjaga puasanya

Doa ini bisa dibaca diawal melaksanakan ibadah puasa ramadhan dan umat islam melafalkan doa ini agar ia senantiasa diberikan kekuatan untuk melaksanakan puasa ramadhan sesuai syarat sah puasa dan rukun puasa yang berlaku[AdSense-B]

وَبِصَوْمِ غَدٍ نَّوَيْتَ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ

Wa bisawmi ghadinn nawaiytu min shahri ramadan

Artinya :

Sesungguhnya saya berniat untuk menjaga puasa hari ini dibulan ramadhan

4. Doa berbuka puasa

Saat berbuka puasa adalah saat dimana doa akan diijabah oleh Allah SWT sehingga perbanyaklah doa diwaktu ini. Adapun doa yang dibaca ketika berbuka puasa adalah

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthartu Birohmatika yaa arhamar roohimiin

Artinya :
Ya Allah keranaMu aku berpuasa, dengan Mu aku beriman, kepadaMu aku berserah dan dengan rezekiMu aku berbuka (puasa), dengan rahmat MU, Ya Allah Tuhan Maha Pengasih

Dan doa lainnya yakni ;

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

Dzahaba-dz Dzoma’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah

Artinya :

Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah

5. Doa berbuka puasa di rumah orang lain

Seringkali kita diundang untuk berbuka puasa dirumah orang lain atau berbuka puasa saat berkunjung kerumah orang lain. Adapun doa yang diabaca tatkala berbuka dirumah orang lain adalah sebagai berikut

أفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ، وَ أَكَلَ طَعَامَكُمُ الأبْرَارُ، وَ صَلَّتْ عَلَيْكُم ُ الْمَلائِكَةُ

Aftara ‘indakumus saa’imuna, wa akala ta’aamakumul-abraaru, wasallat ‘alaikumul mala’ikat

“Semoga orang-orang yang berpuasa berbuka di sisimu dan orang-orang yang baik makan makananmu, serta malaikat mendoakannya, agar kamu mendapat rahmat.”

6. Doa apabila disajikan makanan oleh orang lain

Saat berbuka puasa dirumah orang lain dan disajikan makanan olehnya maka bacalah doa berikut ini

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ، وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ

Allahumma barik lahum fiima rozaqnahum waghfirlahum warkhamhum

“Ya Allah! Berilah berkah apa yang Engkau rezekikan kepada mereka, ampunilah dan belas kasihanilah mereka.”

7. Doa apabila diajak makan saat berpuasa

Saat berpuasa dan apabila ada yang mengajak untuk makan maka bacalah doa berikut ini

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ، فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ

I’zaa dui’ya akhdhukum falyujibh faingkanaa shaa I’man fal yushalli wa ingkaana muftiraan falyat’ um

Artinya :

“Apabila seseorang di antara kamu diundang (makan) hendaklah dipenuhi. Apabila puasa, hendaklah mendoakan (kepada orang yang mengundang). Apabila tidak puasa, hendaklah makan.”

8. Doa saat dihina saat berpuasa

Jika sesorang berpuasa dan ia mendapatkan cacian hendaknya bersabar dan membaca doa berikut ini

إِنِّيْ صَائِمٌ، إِنِّيْ صَائِمٌ

Innii shaaimun, Inni shaaimun

“Sesungguhnya aku sedang berpuasa. Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Hal tersebut berdasarkan hadits berikut ini

“Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Inni shoo-imun, inni shoo-imun [Aku sedang puasa, aku sedang puasa]“. (HR. Ibnu Majah dan Hakim)[AdSense-C]

9. Doa ketika malam lailatul qadr

Malam lailatul qadr adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan dimana jika beribadah di malam ini dan ibadahnya diterima allah SWT maka pahalanya sama dengan amalan seribu bulan. Malam lailatul qadr tidak dapat dipastikan jatuhnya namun ulama berpendapat bahwa malam ini jatuh pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir puasa ramadhan.

Pada malam ini dianjurkan untuk memperbanyak ibadah seperti shalat sunnah termasuk shalat tarawih (baca keutamaan shalat tarawih), shalat tahajud (baca shalat tahajud di bulan ramadhan) , shalat witir (baca keutamaan shalat witir), membaca Alqur’an (baca manfaat membaca Alqur’an) dan berzikir (baca keutamaan berdzikir) Adapun doa yang dipanjatkan pada malam tersebut adalah

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allahumma innaka ghafuwwun tukhibbul aafwaa faa’ fuanna

Artinya :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ampunan dan menyukai orang yang memohon ampunan, maka ampunilah aku.”

Demikian doa puasa ramadhan yang dapat dilafalkan pada bulan ramadhan khususnya saat berpuasa. Banyak-banyaklah berdoa pada saat berpuasa karena doa tersebut akan diijabah oleh SWT.

5 Syarat Sah Puasa Ramadhan

Di bulan ramadhan yang penuh dengan keistimewaan (baca keistimewaan ramadhan) , umat islam diseluruh dunia melaksanakan ibadah puasa ramadhan. Puasa itu sendiri dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah “shaum”. Kata shaum dalam bahasa arab artinya menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya termasuk makan, minum, berbicara, berjalan, dan menikah. Adapun secara istilah kata shaum berati menahan diri dari segala hal-hal yang membatalkannya dan dilakukan dengan syariat atau ketentuan yang berlaku secara khusus baik puasa ramadhan (baca puasa ramadhan dan fadhilahnya ) maupun puasa sunnah (baca macam-macam puasa sunnah)

Ibadah puasa atau shaum adalah ibadah yang hanya diperuntukkan dan diketahui oleh Allah SWT. Berpuasa mengajarkan kita untuk melatih kejujuran tanpa diketahui oleh orang lain atau menjauhkan dirinya dari riya (baca riya dalam islam) sebab ibadah puasa tidak diketahui oleh orang lain dan tidak nampak seperti ibadah lain termasuk shalat wajib atau shalat sunnah, bersedekah (baca keutamaan bersedekah), membaca Alqur’an (baca manfaat membaca Alqur’an) , dan lainnya. Orang yang berpuasa akan senantiasa merasa berada dalam pengawasan Allah SWT dan puasa tersebut membuat hidup kita menjadi lebih teratur dan terarah. Tidak hanya itu, puasa juga berdampak baik pada kesehatan kita. Adapun perintah puasa disebutkan dalam Alqur’an surat Al Baqarah ayat 183 yang berbunyi

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Sebagaima ibadah lainnya maka puasa memiliki syarat sah dan rukun puasa ramadhan yang harus dipenuhi agar puasanya tersebut dinilai sah dan mendapatkan ganjaran dari Allah SWT. Syarat-syarat sah puasa dijelaskan dalam uraian berikut.

Syarat Sah Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan wajib hukumnya bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat. Sebagaimana hukum puasa dijelaskan dalam surat Al Baqarah ayat 183

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah : 183)

Serta hadits Rasulullah SAW

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya; menegakkan shalat; menunaikan zakat; menunaikan haji; dan berpuasa di bulan Ramadhan.”

“ Berpuasalah kamu apabila kamu melihat anak bulan dan berbukalah kamu (berhari raya) apabila kamu melihatnya. Jika anak bulan terlindung daripada pandangan kamu, cukupkanlah bilangan bulan Sya’ban kepada 30 hari.”

Jika seseorang telah memenuhi syarat wajib puasa yakni islam, baligh, berakal sehat dan tidak dalam perjalanan dan ia tidak berpuasa maka ia berdosa karena puasa wajib hukumnya dan termasuk dalam rukun islam yang harus dipenuhi. Adapun syarat sah puasa ramadhan diantaranya adalah :

         1. Islam

Puasa termasuk puasa ramadhan hanya sah jika dilakukan oleh orang islam atau muslim. Adapun puasa orang non-muslim tidak sah hukumnya. Seseorang yang kafir atau murtad (keluar agama islam) maka puasanya tidak sah. Adapun puasa seorang mualaf atau orang yang masuk islam adalah sah berdasarkan hukum islam.

2.  Menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa

Puasa seseorang sah apabila ia dapat menjauhi dan meninggalkan perkara-perkara yang dapat membatalkan puasa diantaranya adalah makan, minum, muntah dengan sengaja, mengeluarkan mani dengan sengaja maupun bersetubuh dengan pasangan. Orang yang melanggar perkara tersebut harus mengganti atau mengqadha puasanya dikemudian hari sedangkan orang yang bersetubuh harus membayar kifarat diantaranya adalah berpuasa selama dua bulan berturut-turut, atau memebri makan 60 orang miskin atau memerdekakan budak.

3. Suci dari haid dan nifas

Wanita yang sedang haid dan nifas kemudian dia berpuasa maka tidak sah puasanya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi[AdSense-B]

Dari Mu’adzah dia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata, ‘Kenapa gerangan wanita yang haid mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?’ Maka Aisyah menjawab, ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah? ‘ Aku menjawab, ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.’ Dia menjawab, ‘Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha’ shalat.

Berdasarkan hadits tersebut maka wanita yang sedang haid atau nifas boleh meninggalkan puasa akan tetapi ia wajib untuk menggantinya atau mengqadhanya dilain hari selain bulan ramadhan.

4. Mumayyiz

Mumayyiz dalam bahasa arab artinya dapat membedakan perkara yang baik dan buruk. Usia seseorang yang sudah diperkirakan memiliki sifat mumayyiz adalah berkisar usia 5 hingga 11 tahun. Dalam usia tersebut biasanya anak-anak sudah mampu membedakan mana hal yang baik dan hal yang buruk sehingga jika anak telah mencapai usia tersebut dan ia berpuasa maka sah ibadah puasanya meskipun mereka belum berkewajiban untuk menunaikan ibadah puasa. Meskipun demikian orangtua wajib mendidik anak dalam islam sejak dini termasuk melatih anaknya untuk berpuasa (baca tips mengajar anak berpuasa)

5. Niat

Sebagian ulama berpendapat bahwa niat juga termasuk dalam syarat sah puasa selain juga merupakan rukun puasa. Niat adalah syarat sah puasa karena puasa adalah salah satu bentuk ibadah sedangkan suatu ibadah tidaklah sah tanpa adanya niat. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW

“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya” dan hadits lainnya yang menyebutkan bahwa

Dari Hafshah, dari Nabi saw. sesungguhnya beliau telah bersabda: Siapa yang tidak membulatkan niat puasanya sebelum fajar, maka puasanya tidak sah. (HR. Ahmad)[AdSense-C]

Meskipun puasa wajib hukumnya namun orang-orang yang memiliki halangan atau uzur tidak wajib hukumnya untuk berpuasa dan boleh meninggalkannya walaupun ia wajib menggantinya atau mengqadhanya dikemudian hari. Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam surat Albaqarah ayat 184 yang berbunyi

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Al Baqarah :184)

Demikian syarat sah puasa ramadhan yang wajib kita ketahui sebagai umat islam. Hendaknya kita selalu memperhatikan syarat-syarat tersebut agar puasa kita sah dan diterima oleh Allah SWT. Agar puasa kita lancar khususnya di bulan ramadhan baca juga tips agar lancar berpuasa dan tips agar kuat berpuasa.

Rukun Puasa Ramadhan dan Hal-hal yang Membatalkan Puasa

Puasa adalah salah satu ibadah yang termasuk dalam rukun islam dan setiap umat islam wajib melaksanakan puasa di bulan ramadhan. Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia dimana di bulan ini Alqur’an diturunkan dan umat islam melaksanakn puasa ramadhan selama sebulan penuh. Bulan ramadhan memiliki keistimewaan (baca keistimewaan ramadhan) sebagaimana disebutkan dalam firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 185 yang berbunyi

“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Dibulan ini pahala segala amal ibadah akan dilipatgandakan baik pahala puasa itu sendiri, shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah seperti shalat tarawih (baca keutamaan shalat tarawih dan manfaat shalat tarawih) atau shalat tahajud, membaca alqur’an (baca manfaat membaca Alqur’an), bersedekah (baca keutamaan bersedekah) dan ibadah lainnya sebagaimana hadits Rasullullah berikut

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak misk.

Sebagaimana ibadah lainnya maka puasa memiliki rukun atau hal-hal yang wajib dilakukan agar puasa tersebut sah hukumnya. Adapun rukun puasa dijabarkan dalam penjelasan berikut ini.

Rukun Puasa Ramadhan

Sama seperti rukun puasa pada umumnya, rukun puasa ramadhan tidak berbeda dengan rukun puasa sunnah (baca macam-macam puasa sunnah). Rukun puasa ramadhan (baca:puasa ramadhan dan fadhilahnya)  yang utama terdiri dari dua yakni niat dan menahan diri dari segala yang membatalkan puasa.

1. Niat

Seseorang yang hendak berpuasa harus berniat untuk berpuasa saat malam hari sebelum puasa dimulai. Tanpa adanya niat maka puasa seseorang tidaklah sah. Hal ini dikarenakan niat adalah suatu hal yang penting dalam melakukan ibadah dan ibadah tersebut tergantung pada niatnya sebagaimana yang dijelaskan dalam dalil-dalil berikut ini

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (men-jalankan) agama yang lurus”  (Al- Bayyinah: 5)

Juga disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

.لُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَىإِنَّمَا اْلأَعْمَا

“Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat ganjaran atas amalnya sesuai dengan niatnya.”

Harus selalu diingat bahwa niat berpuasa harus dilakukan saat malam hari dan sebelum terbit fajar pada bulan Ramadhan. Hal ini juga berdasarkan hadits Hafshah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya.”

2. Menahan Diri dari Hal-hal yang Membatalkan Puasa

Saat berpuasa seseorang harus menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasanya sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah pada surat Albaqarah ayat 187.

بَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا آَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَآُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَ مَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu dan makan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam” [Al-Baqarah: 187]

Oleh karena itu jika seseorang tidak dapat menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkannya maka puasanya tidak sah dan tidak diterima. Adapun hal-hal yang dapat membatalkan puasa diantaranya disebutkan dalam penjelasan berikut ini

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa

Selama berpuasa kita wajib menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya. Hal-hal yang dapat membatalkan puasa seseorang diantaranya adalah[AdSense-B]

1. Makan dan minum dengan sengaja

Puasa itu sendiri adalah ibadah yang mewajibkan kita untuk tidak makan dan minum selama selang waktu tertentu hingga waktu berbuka tiba (baca makanan yang cocok saat buka puasa). Jika seseorang makan atau minum saat berpuasa dengan sengaja batallah ibadah puasanya namun jika seseorang itu makan atau minum dalam keadaan lupa atau tidak sadar maka tidak batal puasanya dan ia juga tidak wajib mengganti atau mengqadha puasanya dikemudian hari. Sebagaimana hadits Rasullullah berikut ini

.فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ ,فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ,مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَآَلَ أَوْ شَرِبَ

“Barangsiapa yang lupa bahwasanya dia sedang berpuasa, lalu dia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberi makan dan minum kepadanya.” (HR Abu Hurairah)

2. Muntah dengan sengaja

Seseorang yang dengan sengaja memuntahkan sesuatu dari perutnya maka puasanya tersebut batal atau tidak sah hukumnya sedangkan jika ia tidak sengaja memuntahkan sesuatu maka ia tidak memiliki kewajiban untuk mengganti atau mengqadha puasa ataupun kafarat di hari lain setelah bulan ramadhan. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW

.مَنْ ذَرَعَهُ القَيءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنِِ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِِ

“Barangsiapa yang muntah tanpa sengaja, maka dia tidak wajib mengqadha’ puasa, sedangkan barangsiapa yang sengaja muntah, maka wajib baginya mengqadha’.”

3. Haid dan Nifas

Perkara ini hanya membatalkan puasa pada wanita karena hanya wanita saja yang mengalami haid dan nifas. Darah haid atau nifas adalah darah kotor sehingga walaupun seorang wanita mengeluarkan darah tersebut pada detik detik terakhir waktu puasa atau menjelang waktu berbuka maka batallah puasanya. Hal ini berdasarkan ijma atau kesepakatan dari para ulama. Seorang wanita yang haid atau nifas tidak diperbolehkan untuk berpuasa selama masa haid atau nifasnya dan ia wajib mengganti atau mengqadha puasa tersebut dikemudian hari setelah bulan ramadhan berakhir.

4. Bersetubuh

Baik suami istri atau pasangan yang belum menikah atau zina (baca zina dalam islam) jika mereka melakukan persetubuhan disiang hari pada saat berpuasa maka hukumnya haram dan mereka wajib membayar kifarat yakni berpuasa selama dua bulan berturut-turut, memerdekakan budak, atau memberi makan 60 orang miskin sebagaimana hadits rasulullah SAW berikut ini[AdSense-C]

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Di saat kami sedang duduk bersama Nabi SAW, datanglah seorang laki-laki seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW binasalah aku.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang telah membinasakan dirimu?’ Dia menjawab, ‘Aku telah berhubungan badan dengan isteriku sedangkan aku dalam keadaan berpuasa Ramadhan.’ Beliau bertanya, ‘Apakah kamu mampu memerdekakan seorang budak?’ ‘Tidak,’ jawabnya. Lalu beliau bertanya lagi: ‘Apakah engkau mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?’ Dia menjawab, ‘Tidak.’

Beliau bertanya lagi, ‘Dan apakah engkau mampu memberi makan kepada 60 orang miskin?’ Dia pun menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian Rasulullah SAW diam, dan di saat kami sedang dalam keadaan seperti itu, Rasulullah SAW diberi sekeranjang kurma, lalu beliau berkata, ‘Mana orang yang bertanya tadi?’ Orang itu pun menjawab, ‘Saya.’ Beliau bersabda, ‘Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya!’ Laki-laki itu berkata, ‘Adakah orang yang lebih miskin dari pada kami wahai Rasulullah? Demi Allah tidak ada satu keluarga di antara dua tempat yang banyak batu hitamnya di Madinah yang lebih faqir dari pada kami.’ Maka Rasulullah SAW tertawa hingga terlihat gigi taringnya, kemudian beliau berkata, ‘Berilah makan keluargamu dari sedekah itu.’”

Rukun puasa ramadhan wajib dipenuhi bagi orang-orang yang berpuasa. Oleh sebab itu perhatikan baik-baik dan jagalah selalu diri kita dari perkara yang dapat membatalkan puasa serta ingatlah selalu untuk berniat menjalankan puasa dimalam sebelum melaksanakan ibadah puasa tersebut. (baca juga tips agar kuat berpuasa dan tips agar lancar berpuasa)

11 Persiapan Puasa Ramadhan Menurut Islam

Bulan ramadhan akan segera tiba dan kita sebagai umat islam selayaknya menyambut kedatangan ramadhan dengan berbahagia. Keistimewaan ramadhan dapat dirasakan oleh seluruh umat muslim di dunia terutama karena pada bulan yang suci ini umat muslim menunaikan ibadah puasa. Puasa ramadhan adalah ibadah yang wajib dilaksanakan pada bulan ramadhan dan sebagaimana kita ketahui bahwa pahala ibadah di bulan ramadhan ini akan dilipatgandakan. Bagaimana tidak, setelah mengetahui puasa ramadhan dan fadhilahnya umat islam berlomba-lomba untuk melaksanakan ibadah dibulan suci ramadhan.( simak tips persiapan menjelang puasa )

Saat menjelang datangnya bulan ramadhan, umat islam berbondong-bondong mempersiapkan diri mulai dari persiapan materi, makanan, pakaian, fisik dan lainnya namun terkadang kita melupakan bahwa persiapan menyambut ramadhan tidak hanya sekedar fisik dan materi semata melainkan juga persiapan secara batin dan jiwa. Berikut ini adalah beberapa hal persiapan puasa menurut islam :

1. Bertobat

Pertobatan adalah salah satu hal yang mesti kita lakukan sebagai umat islam sebelum datangnya bulan puasa. Di hari-hari sebelumnya kita sebagai manusia tentunya tidak luput dari kesalahan dan dosa. Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk bertobat dan meminta mapun pada Allah SWT. Dengan pertobatan hati kita akan lebih siap menyambut ramadhan dan menjadi lebih tenang, namun, bertobat bukan hanya pada lisan saja melainkan harus dibuktikan dengan perbuatan. Jika sebelumnya kita malas untuk shalat, sering melakukan perbuatan maksiyat hendaknya mulai saat ini kita tinggalkan hal-hal tersebut. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat AN Nur ayat 31 yang bunyinya

 وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31).

Rasullullah SAW sendiri yang sudah dijamin ma’sum atau terjaga dari dosa tetap melakukan taubat apalagi kita yang hanya umatnya yang sering berbuat dosa sebagaimana dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Muslim :

“Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat (kepada Allah) dalam sehari seratus kali” (HR. Muslim)

2. Memantapkan niat

Tidak akan sempurna ibadah seseorang tanpa niat yang ikhlas dan tulus. Sebelum datangnya bulan ramadhan niatkan hati kita untuk menjalankan segala amal ibadah khususnya dibulan ramadhan hanya untuk mencari ridho semata dan tanpa niatan yang lain misalnya niat ingin pamer, sok alim dan sebagainya. Buanglah jauh-jauh pikiran semacam itu dan yakinkah hati kita bahwa ramadhan adalah bulan dimana kita bisa memperbaiki segala amal ibadah kita.

3. Berdoa

Berdoa adalah salah satu kewajiban kita terhadap Allah SWT dan menjelang ramadhan kita hendaknya senantiasa berdoa dan memohon ampun kepada Allah SWT. Doa adalah sarana komunikasi kita kepada Allah SWT dan pada bulan ramadhan doa kita akan senantiasa dikabulkan jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.

4. Memperbanyak ibadah sunnah

Sebelum memasuki bulan ramadhan tidak ada salahnya kita mempersiapkan diri dan melatih diri untuk melaksanakan ibadah sunnah seperti shalat sunnah misalnya shalat dhuha dan ibadah sunnah lainnya. Ibadah sunnah ini bisa dilakukan dan lebih baik daripada hanya menghabiskan waktu untuk menonton TV atau melakukan hal lain yang tidak penting.

5. Berpuasa di bulan Syaban

Sebelum berpuasa dibulan ramadhan kita sebaiknya melatih kebiasaan berpuasa dengan menjalankan puasa sunnah di bulan syaban sebagaimana hadist Rasullullah SAW yang bunyinya

لا يَصُومُ ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلا رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Dari ‘Aisyah radhiallahu ’anha: “Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa sampai kami mengatakan (mengira) dia tidak pernah berbuka. Dan (lain waktu) beliau tidak berpuasa sampai kami mengatakan (mengira) dia pernah berpuasa. Dan aku tidak melihat Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadan dan aku tidak melihat Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam memperbanyak berpuasa selain di bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari Muslim)

“Saya bertanya, Wahai Rasulullah saya tidak pernah melihat anda berpuasa di antara bulan-bulan yang ada seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” (Beliau) bersabda: “Itu adalah bulan yang sering diabaikan orang, antara Rajab dan Ramadan. Yaitu bulan yang di dalamnya diangkat amal (seorang hamba) kepada Tuhan seluruh alam. Dan aku senang saat amalanku diangkat, aku dalam kondisi berpuasa.” (HR. Nasa’i).[AdSense-B]

6. Memperbanyak membaca Alqur’an

Membaca Alqur’an tidak hanya memiliki banyak manfaat (baca manfaat baca Alquran setiap hari) tetapi juga bisa membuat hati dan pikiran kita tenang sehingga kita bisa menyambut datangnya bulan ramadhan hati dan pikiran yang lebih baik. Selain itu diriwayatkan bahwa bulan-bulan sebelum ramadhan yakni bulan rajab dan bulan sya’ban adalah bulan menanam dan menyiram sementara bulan ramadhan adalah bulan memanen. Sehingga kita disarankan untuk memperbanyak amalan dikedua bulan tersebut.

Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Ramadan adalah bulan memanen tanamanPerumpamaan bulan Rajab bagaikan angin, sedangkan perumpamaan Sya’ban bagaikan mendung dan perumpamaan Ramadan bagaikan hujan. Barangsiapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiram pada bulan Sya’ban, bagaimana dia akan memanen di bulan Ramadan.”

7. Memperbanyak ilmu agama

Menjelang bulan ramadhan luangkan waktu kita sejenak untuk menimba ilmu agama. Hal ini akan membantu kita untuk lebih memahami ibadah dan keutamaan bulan ramadhan dengan baik. Belajar agama bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja dan bisa bersumber dari buku tentang islam maupun mendatangi kajian-kajian islam yang sering diadakan dalam masjid. Hal ini sebagaimana perintah Allah pada Surat Al Anbiya ayat 21 yang bunyinya

مَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Maka bertanyalah pada orang-orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS Al Anbiya : 21)

8. Menyelesaikan qadha puasa sebelumnya

Sebelum memasuki bulan ramadhan kita hendaknya menyelesaikan semua hutang puasa dari ramadhan sebelumnya. Puasa yang ditinggalkan pada bulan ramadhan wajib diganti terkecuali bagi orang yang sudah lanjut usia boleh membayarkan fidyah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist berikut :
Dari Abu Salamah, dia berkata, saya mendengar ‘Aisyah radhiallahu ’anha berkata: “Aku memiliki kewajiban berpuasa dari bulan Ramadan lalu, dan aku baru dapat mengqadanya pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari Muslim)

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dari keseriusan beliau (mengqadha) pada bulan Sya’ban disimpulkan bahwa hal itu menunjukkan tidak diperkenankan mengakhirkan qadha sampai memasuki bulan Ramadan berikutnya.” (Fathul Bari, 4/19)

9. Merasa Gembira

Sebagai umat islam selayaknya kita menyambut ramadhan dengan perasaan gembira dan bahagia karena bulan ramadhan memiliki banyak keutamaan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Yunus ayat 58 yang bunyinya

“Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

10. Mensucikan diri

Sebelum ramadhan tiba hendaknya kita menyucikan hati, pikiran, perbutana dan jika perlu lingkungan kita karena bulan ramadhan sangat istimewa dan kita menyambut datangnya bulan tersebut seperti kita menyambut tamu penting.[AdSense-C]

11. Perbanyak berzikir

Keutamaan zikir kepada Allah SWT perlu diketahui agar kita dapat senantiasa berzikir kepada Allah dan memohon ampun serta rahmat darinya. Menjelang bulan ramadhan perbanyaklah zikir kepada Allah SWt agar hati dan pikiran kita terjaga dari segala kotoran.

Demikianlah persiapan yang bisa kita lakukan sebelum datangnya bulan ramadhan. Puasa ramadhan tentunya berbeda dalam hal hukum pelaksanaan dibandingkan dengan puasa sunnah yang lain (baca macam-macam puasa sunnah) seperti puasa senin kamis (baca keutamaan puasa senin kamis), puasa rajab (baca keutamaan puasa rajab), puasa rajab (keutamaan puasa rajab), puasa arafah (baca keutamaan puasa arafah) maupun puasa daud (baca keutamaan puasa daud). Perbanyaklah khazanah tentang keutamaan puasa dan pelajari tips-tips yang bisa memperlancar puasa kita dibulan ramadhan (baca juga tips agar kuat berpuasa, tips agar lancar berpuasa, dan tips berpuasa sambil bekerja). Semoga bermanfaat