Hukum Lupa Membaca Doa Qunut

Doa Qunut yang memiliki makna doa qunut saat shalat subuh yaitu, doa yang secara umum dibaca pada waktu i’tidal atau berdiri dari ruku’ akhir pada shalat subuh dan shalat witir. Kata Qunut sendiri berasal dari kata “Qanata” yang artinya patuh dalam mengabdi (kepada Allah). Adapun hukum membaca doa qunut adalah sunnah muakkad (ab’ad) atau sunnah yang diperkuat. Namun para imam dan ulama mazhab berbeda pendapat tentang pelaksanaan doa qunut.

ads

Arti dari bacaan doa qunut yang juga berhubungan dengan hukum tidak membaca doa qunut subuh dalam bahasa Indonesia ialah Ya Allah tunjukkanlah akan daku sebagaiman mereka yang telah Engkau tunjukkan, Dan berilah kesihatan kepadaku sebagaimana mereka yang Engkau telah berikan kesihatan, Dan peliharalah daku sebagaimana orang yang telah Engkau peliharakan, Dan berilah keberkatan bagiku pada apa apa yang telah Engkau kurniakan, Dan selamatkan aku dari bahaya kejahatan yang Engkau telah tentukan,

Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan kena hukum, Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin, Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya, Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi Engkau, Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan, ku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau (Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Terkait hukum membaca doa Qunut. Ini pendapat yang dikemukakan oleh para imam Mu’tabar. Seperti Imam Malik, Iamm As Syafie, Ibnu Abi Laila, Hasan bin Soleh, Abu Ishaq Al Ghazali. Dan Abu Bakar bin Muhammad, dan Hakam bin Utaibah. Juga Hammad, Ahli HIjjaz,

Al Auza’ie kebanyakan Ahli Syam malah menurut Imam An Nawawi dalam Majmu’. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh kebanyakan ulama salaf. Dan generasi selepas daripada mereka bahawa Hukum Membaca Doa Qunut disunatkan pada shalat Subuh setiap hari.

Ini dalilnya Hukum Membaca Doa Qunut: Mereka berdalilkan dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad daripada Anas bin Malik r,a berkata : Senantiasalah Rasulullah Saw membaca qunut pada shalat Subuh sehingga Baginda wafat.” Diriwayatkan juga bahawa Sayidina Umar bin Khattab membaca doa Qunut pada shalat Subuh di hadapan para sahabat dan selainnya.

Berkenaan dengan hadits yang diriwayatkan daripada Anas bin Malik ini, menurut Imam al Haithami, para Perawinya adalah dipercayai. “Menurut an Nawawi ia diriwayatkan oleh sekumpulan huffaz (ahli hadits) dan mengakui keshahihannya. Keshahihan ini dinyatakan oleh al Hafiz al Balkhi, Al Hakim, Al Baihaqi. Dan ia juga diriwayatkan oleh Ad Daruqutni melalui beberapa jalan dengan sanad yang shahih.

Membaca doa Qunut adalah sunnah hukumnya dalam Shalat Subuh itu, baik pada ketika turunnya bala atau tidak. Ini adalah pendapat yang banyak dari ulama ulama Salaf atau katakanlah yang paling banyak dan juga pendapat ulama ulama setelah ulama Salaf. Bahkan para Sahabat Nabi di antara yang berpendapat serupa ini. Mereka adalah Sayidina Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi thalib. Juga Ibnu Abbas dan Bara’ bin ‘azib Rda. (Terjemah bebas ruju’ ke al Majmu’ Syarah Muhazzab III halaman 504).

Di dalam mazhab Syafi’i sudah disepakati. Bahawa membaca doa qunut dalam shalat Subuh, pada saat i’tidal rakaat kedua adalah sunat ab’adh. Dalam arti diberi pahala bagi orang yang mengerjakannnya. Dan bagi yang lupa atau lalai mengerjakannya disunatkan untuk menggantikannya dengan sujud sahwi.


Tersebut dalam kitab Al Majmu’ syarah Muhazzab jilid 3 hlm.504, maksudnya: “Dalam mazhab Syafi’i disunatkan qunut pada shalat Subuh sama ada ketika turun bencana atau tidak. Dengan hukum inilah berpegang mayoritas ulama salaf dan orang orang yang sesudah mereka atau kebanyakan dari mereka.

Dan di antara yang berpendapat demikian adalah Abu Bakar As Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan. Juga Ali bin Abi Talib, Ibnu Abbas, dan Barra’ bin Azib. Semoga Allah meridhoi mereka semua. Ini diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad sanad yang shahih. Banyak ulama yang termasuk Tabi’in dan yang sesudah mereka berpendapat demikian. Inilah juga mazhab Ibnu Abi Laila, Hasan, Ibnu Salah, Malik dan Daud.”

Tersebut dlm kitab Al Um jilid 1 hlm.205 bahawa Imam Syafi’i berkata,maksudnya: “Tak ada qunut dalam shalat yang lima waktu kecuali shalat Subuh. Kecuali jika terjadi bencana maka boleh qunut pada semua sembahyang jika imam menyukai.” Tersebut dalam kitab Al Mahalli jilid 1 hlm.157, berkata Imam JalaluddinAl Mahalli, maksudnya: “Disunatkan membaca Qunut pada i’tidal rakaat kedua dalam shalat Subuh dengan doa, Allahumahdini hingga selesai…”

  • Imam Syafi’i

Dalam Al Umm menuturkan bahwa tidak ada qunut pada salat lima waktu melainkan hanya pada salat subuh saja, kecuali jika terjadi bencana, maka membaca doa qunut diperbolehkan pada semua salat jika imam menghendakinya. Qunut seperti ini disebut juga dengan qunut nazilah yang juga berlaku dalam mazhab mazhab lainnya.

Begitu juga dengan Imam Nawawi dalam Al Majmu menyatakan bahwa dalam Mazhab Syafii disunahkan qunut pada salat subuh, baik ketika turun bencana ataupun tidak. Pendapat ini juga dinisbatkan kepada beberapa ulama salaf dari kalangan sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Barra bin Azib dan masih banyak yang lain.

  • Imam Nawawi

Juga menegaskan bahwa pendapat tersebut berdasarkan riwayat dari Imam al Baihaqi dengan sanad sanad yang terpercaya serta dapat dipertanggungjawabkan. Begitu juga dari golongan tabi’in dan para ulama sesudah mereka juga berpendapat demikian seperti misalnya Ibnu Abi Laila, Hasan bin Shalih, Imam Malik dan Imam Daud al Zhohiri. Semuanya sepakat menyatakan bahwa membaca doa qunut hukumnya hanya sunat saja.

Tentu saja pendapat mereka tersebut tidak didasarkan kepada asumsi semata, namun kepada dalil dalil yang bersumber dari hadis hadis Nabi yang sahih. Di antara dalil yang mereka gunakan adalah sebuah hadis riwayat Imam al Baihaqi yang bersumber dari Anas ibn Malik sebagai berikut :

Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Abu Ja’far al Razi, dari Rabi ibn Anas dari Anas bahwasanya Nabi Saw berqunut selama satu bulan penuh sembari mendoakan keburukan untuk mereka (suku Arab dari Bani Sulaim dari klan Riil, Dzakwan, Ushayyah, dan Bani Lahyan), kemudian beliau meninggalkannya (doa keburukan untuk suku Arab tersebut). Adapun qunut pada salat Subuh tidak beliau tinggalkan hingga beliau meninggal dunia. (H.R. Al Baihaqi).

Hadis dengan redaksi yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam al Bukhari, Imam Muslim, Abu Daud, Nasai, Ahmad bin Hambal, Ibnu Hibban, dan al Daraquthni dalam kitab kitab mereka sebagaimana berikut : Muhammad bin Mutsanna telah menceritakan kepada kami, ia memperoleh dari Abdurrahman, dari Hisyam, dari Qatadah, dari Anas bahwasanya Rasulullah Saw telah berqunut selama satu bulan penuh memintakan doa keburukan untuk sebuah suku arab Badui, kemudian beliau meninggalkannya (doa keburukan untuk suku Badui tersebut bukan meninggalkan qunut).

Nah, dari berbagai hadist dan pendapat ulama tersebut dapat disimpulkan bahwa membaca doa qunut hukumnya tidak wajib, melainkan sunnah, namun jika sudah terbiasa dalam melakukannya dan ketika membacanya lupa, maka Hukum Lupa Membaca Doa Qunut dapat digantikan dengan cara sebagai berikut :

1. Melakukan sujud sahwi

Cara Sujud syahwi dilakukan selepas selesai bacaan tahiyat akhir dan sebelum salam. Cara sujud Syahwi yaitu melakukan sujud sebanyak dua kali. Pada kedua dua sujud tersebut hendaklah membaca tasbih ini: Subhana Rabbiyal A’la Terdapat riwayat yang tersebar di masyarakat tentang bacaan sujud sahwi, dengan lafal, “Subhana man la yanamu wa la yashu (Mahasuci Dzat yang tidak tidur dan tidak lupa).”


Hanya saja, bacaan ini tidak ada dalilnya dalamal Quran,dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun perbuatan para sahabat. Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, “Doa ini tidak ditemukan di kitab hadis mana pun.” (Lihat Talkhis Al Khabir, 2:88) Untuk itu, tidak ada doa khusus ketika sujud sahwi,

sehingga bacaannya seperti bacaan sujud ketika shalat. Misalnya membaca: Subhana Rabbiyal A’la. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Hendaklah dia membaca di dalam sujud sahwi nya, bacaan yang diucapkan di dalam sujud ketika shalat, karena sujud sahwi merupakan sujud yang serupa dengan sujud shalat.” (Al Mughni, 2:432–433)

2. Jika tidak membaca doa qunut pun, shalat tetap sah sebab doa qunut hukumnya tidak wajib

Demikian yang dapat penulis sampaikan, semoga bermanfaat untuk menambah wawasan islami Anda, sampai jumpa di artikel berikutnya, terima kasih.

, , , , ,




Post Date: Thursday 06th, December 2018 / 07:34 Oleh :
Kategori : Hukum Islam