Hukum Wanita Haid Menyentuh Jenazah Dalam Islam

√ Islamic Base Pass quality & checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Haid merupakan salah satu perkara yang diatur dalam islam, sebab hal ini berkaitan dengan keajiban dan juga larangan terutama bagi kaum wanita. Islam melihat bahwa seorang wanita yang sedang haid sedang berada dalam kodisi yang tidak suci. Sehingga tentunya terdapat batasan-batasan terutama dalam hal ibadah dalam islam yang tentunya harus dilakukan dalam kondisi yang suci. Oleh sebab itu, tentu harus hal ini harus menjadi perhatian tersendiri, Allah SWT  menjelasskan hal ini dalam firmannya berikut ini :

Mereka bertanya kepadamu tentang Haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu Haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS : Al-Baqarah : 222).

Mengenai hal ini, kemudian munculan sebuah pertanyaan, bgaimana ketika seorang wanita haid menyentuh jenazah. Sebab tentunya hal ini menjadi sebuah perkara yang menarik untuk dibahsa dan dikaji sebagaiamana hukum wanita meninggal saat haid , hukum wanita meninggal saat hamil dan hukum wanita meninggal saat melahirkan . Agar tentunya tidak terjadi kesalahpahaman dan tentunya pemahaman baru berdasarkan hukum islam yang ada.

Hukum Wanita Haid Menyentuh Jenazah

Pada dasarnya tidak ada larangan yang spesifik mengenai huku wanita haid menyentuh jenazah. Terlebih lagi ketika jenzah yang meninggal tersebut merupakan mahram dari si wanita. Namun Para ulama tidak berbeda pendapat tentang sah dan bolehnya wanita haid memandikan jenazah. Perbedaan pendapat mereka berkaitan dengan kemakruhannya. Ada dua pendapat besar; Pertama: makruh atas wanita haid memandikan jenazah, ini pendapat beberapa ulama dari kalangan Tabi’in seperti Imam Hasan Bashri dan Ibnu Sirin. Madhab Hambali memilih pendapat ini.

Pendapat kedua: tidak dimakruhkan atas wanita haid memandikan jenazah, ini pendapat jumhur ulama dari kalangan Tabi’in dan sesudahnya seperti Alqamah, ‘Atha, pendapat Madhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan satu riwayat dari Imam Ahmad. Inilah pendapat yang lebih benar, karena menetapkan hukum makruh adalah perkara syar’i yang membutuhkan dalil. Sedangkan tidak ditemukan dalil yang melarang dan memakruhkannya. (Disarikan dari jawaban Syaikh Khalid al-Mushlih, dinukil dari islamway.com)

sebagaimana pendapat Empat mazhab:

Menyentuh mayat itu bukanlah termasuk hadas kecil dan bukan pula hadas besar. Dari itu, ia tidak diwajibkan apa-apa baginya, baik wudhu’ maupun mandi, hanya ia disunahkan mandi bagi orang yang memandikan mayat, bukan bagi orang yang menyentuhnya”.

Pendapat lainnya mengenai diperbolehkannya wanita haid untuk memandikan jenazah sebagaimana berikut ini :

Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih Hafizhahullah

Pendapat pertama berasal dari Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih Hafizhahullah, Beliau menjelaskan bahwa tidak ada ayat atau hadist yang mengharamkan seorang wanita haid untuk memandikan jenazah, sehingga para ulama kemudian sepakat dengan hal ini. Namun terlepas dari itu, terdapat ulama yang memakruhkan hal tersebut.

فلا توجد آية قرآنية تمنع الحائض من غسل الميت ولا من حضور غسله، ولا نعلم حديثاً عن النبي صلى الله عليه وسلم بهذا المعنى، ولا نعلم أحداً من أهل العلم حرم ذلك إلا أن بعض السلف كالحسن وابن سيرين كره ذلك، كما رواه عنهما ابن أبي شيبة في مصنفه.
والله أعلم.

Tidak ditemukan dalam Al Quran ayat yang ,telarang wanita haid memandikan mayit atau hadir pada pemandian mayit, begitu pula kami tidak ketahui adanya hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang melarangnya dengan makna seperti ini, dan tidak ada satu pun ulama yang mengharamkannya, kecuali adanya sebagian salaf yang memakruhkannya seperti Al Hasan (Al Bashri) dan Ibnu Sirin, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf.

Fatwa Lajnah Daimah 

Pendapat selanjutnya berasal dari Fatwa Lajnah Daimah yang manyatakan memperbolehkan menyentuh bahkan hingga memndikan jenazah yang tentunya masih mahram. Bagi perempuan tentu boleh menyentuh jenazah bagi sesama kaum perempuan sedangkan hanya diperbolehkan menyentuh jenazah laki-laki yang merupakan mahramnya seperti ayah dan suami.

يجوز للمرأة وهي حائض أن تغسل النساء وتكفنهن ، ولها أن تغسل من الرجال زوجها فقط ، ولا يعتبر الحيض مانعاً من تغسيل الجنازة

Wanita yang sedang haid boleh memandikan jenazah para wanita dan mengafani mereka. Dibolehkan juga baginya memandikan sebagian kaum lelaki, hanya suaminya saja. Haid tidak menjadi penghalang dari memandikan jenazah.” (Fatawa Al-Lajnah al-Daimah li al-Buhuts al-‘Ilmiyah wal Ifta’: 8/369). Wallau Ta’ala A’lam.

Al-Lajnah ad-Då’imah lil Ifta’ (Komite Tetap Urusan Fatwa)

Menurut Al-Lajnah ad-Då’imah lil Ifta’ (Komite Tetap Urusan Fatwa) mereka menyimpulkan bahwa :

يجوز للمرأة وهي حائض أن تغسل النساء وتكفنهن، ولها أن تغسل من الرجال زوجها فقط، ولا يعتبر الحيض مانعًا من تغسيل الجنازة.

Boleh bagi wanita meskipun haidh memandikan mayit wanita dan mengkafaninya, atau boleh bagi mayat pria selama itu suaminya. Tidak ada larangan bagi wanita yangs sedang bhaidh utk memandikan jenazah. 

Madzhab Syafi’i

Menurut Madzhab Syafi’i hukumnya Boleh dan tidak dimakruhkan ketika seorang wanita haid menyentuh jenazah. sebagaimana dalam pendapat berikut ini :

ويغسل  الجنب والحائض الميت بلا كراهة لأنهما طاهران فكانا كغيرهما وإذا ماتا  غسلا غسلا فقط لانقطاع الغسل الذي كان عليهما بالموت وليكن الغاسل أمينا  ندبا لأن غيره قد لا يوثق بإتيانه بالمشروع

Orang  Junub dan wanita Haid boleh memandikan janazah dengan tanpa ada  kemakruhan karena mereka berdua suci (tidak najis) maka seperti lainnya,  bila mereka berdua mati cukup dimandikan sekali karena sudah  terputusnya kewajiban mandi akibat kematian.
Dan  disunahkan sebaiknya orang yang memandikan janazah dipilih yang paling  dapat dipercaya karena selainnya terkadang tidak dapat dipercaya dalam  menjalani ketentuan sesuai yang disyariatkan. Nihaayah al-Muhtaaj III/20.

Perlu ditegaskan bahwa larangan terhadap wanita haid hanya terdapat pada beberapa hal berikut ini :

“Dari Aisyah RA, “Bukankah bila si wanita haid ia tidak shalat dan tidak pula puasa? Itulah kekurangan agama si wanita” (Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah menyampaikan kepada Aisyah,  “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan orang yang berhaji selain dari melakukan thawaf di Ka’bah hingga engkau suci.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Aisyah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ku halalkan masjid bagi orang yang junub dan haidh

Tentunya hal ini menegaskan bahwa tidak ada larangan bagi wanita haid untuk menyentuh jenazah.

itulah tadi, Hukum Wanita Haid Menyentuh Jenazah dalam islam. Semoga dapat menambah referensi dan pengetahuan bagi anda seperti pada artikel tujuan penciptan manusia , hakikat penciptaan manusia keutamaan doa seorang ibu , amalan ibu hamil dalam islam, dan doa ibu hamil untuk anak dalam kandungan , serta semoga artikel ini dapat bermanfaat.

fbWhatsappTwitterLinkedIn