Kisah Abdullah Yusuf Ali, Penerjemah Al-Qur’an Pertama ke Bahasa Inggris

Sejarah Al-Qur’an memang sangat panjang. Pasalnya, sebelum Al Qur’an menjadi lembaran kitab yang bisa dibaca setiap umat muslim di seluruh dunia, dahulu harus mengalami banyak proses yang tidak mudah. Tentu saja salah satu proses yang menjadi titik balik perkembangan Al-Qur’an adalah masa pembukuan yang terjadi di kekhalifahan Umar Bin Khattab.

ads

Kala itu, muncul gagasan dimana setiap firman Allah yang diajarkan oleh Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam harus dibukukan dikarenakan pada kala itu pada Hafidz (penghafal Al Qur’an) banyak sekali yang meninggal di medan perang dan dibunuh kaum kafir, sehingga beberapa sahabat takut kalau jika semuanya meninggal maka tidak akan ada yang tersisa lagi orang-orang yang bisa ‘membawa’ firman Allah.

Namun tentu saja, gagasan itu juga banyak pertentangan pasalnya di zaman Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah ada pesan maupun petuah dari baginda Rasululullah sendiri dan sebagian sahabat takut bahwa hal ini merupakan termasuk bid’ah. Dan setelah diadakan pertimbangan dari segi mudharat dan manfaat, akhirnya Al-Qur’an pun dibukukan.

Dahulu kala ayat-ayat Al-Qur’an ditulis di batang-batang kayu, kulit kulit binatang dan lembaran-lembarang daun. Namun seiring perkembangan zaman, Al-Qur’an dibukukan di mushaf-mushaf kertas. Tentu saja proses tersebut hanyalah memindahkan dari bentuk lisan yang diingat para Hafidz ke bentuk tulisan, tanpa mengubah maupun menambahi isi yang ada di dalamnya, karena ayat-ayat tersebut merupakan firman Allah.

Baca juga:

Perkembangan Al-Qur’an tidak berhenti sampai disitu, pasalnya ada tiba disuatu masa dimana Al-Qur’an diterjemahkan ke bahasa Inggris. Menjadikan ajaran Allah menjadi bahas Universal yang bisa dipahami setiap orang yang ada di bumi. Berikut kisah Abdullah Yusuf Ali seorang penerjemah Al-quran pertama untuk dalam bahasa inggris.

Abdullah Yusuf Ali, Seorang yang Menerjemahkan Al-Qur’an

Yusuf Ali merupakan seorang pemuda yang lahir di India para tahun 1872. Posisi india yang dijajah inggris kala itu membuatnya menjadi seorang berkebangsaan inggris saat dia dewasa. Dia bahkan mendapatkan gelar ‘Sir’ oleh Inggris atas dedikasinya, penghargaan tertinggi setara ksatria yang bisa diberikan oleh ratu Inggris.

Terlahir di keluarga muslim dan memiliki kesungguhan dalam mempelajari kandungan Al-Qur’an dan tafsir kitab dia pun memulai langkah pertamanya dari pencapaian yang akan merubah mata dunia kepada Ajaran islam.

Dedikasi Abdullah Yusuf Ali Dalam Dakwah Islam

Karena kesungguhannya dalam mempelajari kandungan Al-Qur’an, Abdullah Yusuf Ali merupakan Hafidz yang menghabiskan 40 tahuun masa hidupnya untuk menyempurnakan tasfirnya atas Al-Qur’an. Buku yang keluar atas pengorbanannya tersebut diberi judul : The Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary.

Menjadi sebuah mahakarya yang luar biasa dari Abdullah Yusuf Ali. Buku yang berisi Ayat Al-Qur’an sekaligus Terjemahannya ke Bahasa Inggris ini pertama kali dicetak pada tahun 1934.


Bahkan hingga masa kini terus dicetak berulang-ulang dan disebarkan ke berbagai penjuru dunia dan menjadi Terjemahan Al-Qur’an yang paling banyak beredar dan paling banyak digunakan oleh umat muslim yang tinggal di negara-negara yang berbahasa Inggris. Bahkan para pendakwah yang menyebarkan ajaran Islam sering merefrensikan terjemahan milik Abdullah Yusuf Ali sebagai terjemahan yang harus digunakan.

Baca juga:

Dalam bagian pengantar dari karya terjemahnya tersebut, Abdullah Yusuf Ali mencurahkan hasil usahanya dengan sebuah kalimat manis yang sangat meyakinkan bahwa terjemahan Al-Qur’an yang dia tafsirkan adalah hasil kerja yang insyaAllah akan menjadi kebermanfaatan sesama :

Saudara-saudaraku yang aku hormati, apa yang aku persembahkan di hadapan Anda sekalian adalah tafsir Al-Qur’an al-Karim dengan Bahasa Inggris. Aku terjemahkan kata per kata dari teks aslinya. Namun buku ini bukanlah semata-mata alih bahasa saja. Tetapi juga memuat penggambaran tentang makna-maknanya semampu yang aku pahammi dari teks asli untuk kusajikan pada Anda sekalian.

Sudah seharusnya buku ini bersesuaian antara teks aslinya dengan hasil terjemahnya secara detil. Tapi itu terbatas dengan kemampuan penaku. Aku ingin agar Bahasa Inggris sendiri menjadi Bahasa Islam (yang bisa sepadan nilai rasanya dengan Bahasa Arab pen.). Namun hal itu mustahil. Tapi aku berusaha semampuku untuk menghadirikan ke hadapan Anda terjemah yang sepadan, yang membantu Anda dalam memahami Alquran al-Karim.

Abdullah Yusuf Ali di akhir hayatnya

Abdullah Yusuf Ali wafat pada tanggal 10 Desember 1953 pada umut 81 tahun di London. Ia dimakamkan di Inggris, di pemakaman khusus muslim di Brockward-Suri, dekat Werkneck. Meninggalkan warisan yang sangat besar kepada dunia.

Perbedaan Terjemahan Al Qur’an dengan Kitab Yang lain.

Memang, terjemahan kitab tidak hanya terjadi kepada Al-Qur’an. Kitab-kitab yang diimani oleh agama lain pun juga memiliki terjemahan yang dilatar belakangi oleh sejarah mereka masing-masing. Contohnya saja The Bibble.

Lantas apa perbedaan dari terjemahan kitab kitab tersebut dibanding dengan Al-Qur’an? Jawabannya adalah, Al-Qur’an meskipun diterjemahkan ke berbagai bahasa, bahasa aslinya tetap tidak berubah. Itulah yang membuat Ajaran islam tidak bisa dibantah, Pasalnya Firman ayat-ayatnya dari Zaman Rasulullah tetap berbahasa Arab.


Datang dari Allah, disampaikan oleh Jibril kepada Rasulullah salallahu’alaihi wa sallam kemudian disampaikan kepada para sahabat dan dibukukan di zaman Umar Bin Khattab. Hingga pada akhirnya, dijaga keasliannya dan diterjemahkan tanpa merubah bahasa aslinya.

Baca juga:

Berbeda dengan The Bibble yang memiliki beberapa versi suntingan yang apabila dibandingkan terkadang akan menimbulkan kontradiksi karena satu versi dengan versi yang lain bisa jadi tidak sama. Apabila seorang Nasrani diminta membacakan satu ayat, dan Nasrani lain diminta membaca ayat yang sama di The Bibble versi yang berbeda, kalimat mereka terkadang tidak senada.

Namun Apabila seorang muslim Indonesia diminta membaca surah Al Fatihah, dan kemudian muslim Afrika Selatan diminta pula membaca Surah Al Fatihah, maka bacaan dari lisan mereka akan tetap senada. Itulah mukjizat Al-Qur’an.

Dari kisah Abdullah Yusuf Ali diatas, tentunya dapat kita pahami bahwa Al-Qur’an merupakan Kitab yang tidak bisa dipersalahkan. Dapat diterima oleh setiap manusia dan merupakan petunjuk sebenar-benarnya petunjuk.

Semoga atas penjelasan tersebut, dapat memberikan dan keberkahan atas keilmuan yang lebih baik dari kemarin. Dan semoga pula, kita selalu diberikan petunjuk untuk berada di jalan yang lurus, insyaAllah

Semoga bermanfaat

Hamsa,

, , ,




Post Date: Thursday 06th, June 2019 / 09:14 Oleh :
Kategori : Sejarah dan Sirah