Kisah Perdebatan antara Nabi Adam dan Nabi Musa

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat orang berdebat atau bahkan kita sendiri yang berdebat. Hal tersebut sangatlah lumrah bagi kita. Namun bagaimana jika yang berdebat adalah antara Nabi Allah yang memiliki berbagai kelebihan dibanding manusia biasa.

ads

Tidak banyak yang mengetahui mengenai kisah perdebatan antara Nabi Adam dan Nabi Musa Alaihi Salam. Namun banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari kisah tersebut.

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adam dan Musa pernah berbantahan. Musa berkata, ‘Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Tetapi engkau telah mengecewakan kami karena menyebabkan kami keluar dari surga.’

Adam menjawab, ‘Engkau wahai Musa, engkau telah dipilih dan dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan kehendak-Nya engkau dapat bercakap-cakap dengan-Nya. Apakah engkau mencelaku karena urusan yang telah ditakdirkan Allah atasku sejak 40 tahun sebelum aku diciptakan-Nya?’

Demikianlah Adam membantah Musa, demikianlah Adam membantah Musa, demikianlah Adam membantah Musa.”

(HR. Bukhari, no. 3407 dan Muslim, no. 2652)

Selain hadits tersebut, ada juga hadits lain yang menerangkan mengenai perdebatan Nabi Adam dan Nabi Musa, diantaranya diriwayatkan oleh Bukhari dan Abu Hurairah dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, bab wafat Musa, 6/440, no.3407; dalam Kitab Tafsir, bab

Dan Aku memilihmu untuk diri-Ku‘ (QS. Thaha: 41),

8/434, no. 4736; dalam Kitabul Qadar, bab dialog Adam dengan Musa, 11/505, no. 6614; di Kitabut Tauhid, bab keterangan tentang firman Allah,

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa: 164).

Baca juga :

Kenapa Nabi Musa mendebat Nabi Adam?

Sepantasnya kehidupan di dunia ini memanglah sangat sulit. Penuh dengan kesusahan dan kepayahan. Memang itu sesuai dengan apa yang telah Allah ungkapkan dalam firman-Nya.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4).

Kelelahan dan susah payah itu memang ada dalam segala urusan. Tak lepas dari para Nabi yang juga merasakan kesusahan dan kepayahan dalam hidupnya. Hal inilah yang menjadi penyebab timbulnya perdebatan dalam kisah perdebatan antara Nabi Adam dan Nabi Musa.

Nabi Musa Banyak Mengalami Kesusahan Semasa Hidup

Nabi Musa ‘Alaihissalam menjadi seorang Nabi tidak semudah mengucapkan kata ‘Nabi’, karena semasa hidupnya banyak sekali kesusah payahan yang beliau hadapi. Jika kita lihat rekam jejaknya Nabi Musa maka akan terlihat banyak perjuangan yang beliau hadapi.

Beragam kisah mengenai Nabi Musa, mulai dari kisah sebelum diangkatnya sebagai nabi, kisah Nabi Musa menghadapi Fir’aun, kisah Nabi Musa menghadapi kaumnya sendiri Bani Israil, kisah Nabi Musa menghadapi Samiri, kisah Nabi Musa menghadapi malaikat maut, dan kisah-kisah perjuangan kesusah payahan lainnya.

Dari semua kesusah payahan yang pernah Nabi Musa alami, mungkin pada suatu saat terbersit dalam pikiran Nabi Musa bahwa penyebab kelelahan yang ia hadapi selama ini adalah Nabi Adam, yang telah mengeluarkan dirinya dan anak cucunya dari Surga Allah.


Nabi Adam Melanggar Perintah Allah SWT Semasa di Surga

Allah telah menciptakan Nabi Adam dan mengizinkannya tinggal di Surga. Allah menjamin semua kebutuhan agar Nabi Adam tidak merasa lapar, haus, terkena sengatan matahari. Allah mengizinkan buah-buahnya dan sungai-sungainya kecuali satu pohon. Namun Nabi Adam ternyata tergoda oleh godaan syaitan yang menyuruhnya untuk memakan buah dari satu pohon itu.

Baca juga :

Akibat dari perbuatan melanggar Nabi Adam tersebut maka Allah Azza wa Jalla menurunkannya ke bumi sebagai hukuman dari kedurhakaan yang Nabi Adam perbuat. Di bumi ini manusia tidak akan bisa hidup melainkan dengan perjuangan yang berat.

Sebab itulah ketika Nabi Musa ‘Alaihissalam mempunyai kesempatan bertemu dengan Nabi Adam ‘Alaihissalam, ia mencela Nabi Adam karena akibat perbuatannya ia dan anak cucunya harus merasakan kesusah payahan berjuang hidup di Bumi.

Terjadinya Perdebatan Antara Nabi Musa dan Nabi Adam

Dalam perbincangan tersebut Nabi Musa mengingatkan Nabi Adam mengenai kemuliaan yang dimilikinya yang telah Allah berikan, di mana Allah menciptakannya dengan tangan-Nya, sementara makhluk yang lain diciptakan dengan kata “Kun“. Allah meniupkan ruh-Nya padanya, menyuruh para Malaikat bersujud kepadanya, mengizinkannya tinggal di Surga. Menurutnya, bagi barangsiapa diberi kemuliaan semacam itu oleh Allah, maka tidak sepantasnya ia tidak mendurhakai-Nya sehingga tidak menurunkan dirinya dan anak cucunya dari Surga.

Mendengar celaan tersebut ternyata Nabi Adam ‘Alaihissalam menjawabnya dengan celaan juga kepada Nabi Musa. Nabi Adam membantah ungkapan Nabi Musa tersebut. Nabi Adam mengingkari ungkapan Nabi Musa tersebut, bagaimana ungkapan tersebut keluar dari orang seperti Nabi Musa.


Nabi Adam berkata kepada nabi Musa, “Kamu Musa yang telah diangkat oleh Allah dengan risalah dan Kalam-Nya. Dia memberimu Lauh yang berisi penjelasan tentang segala sesuatu. Dia mendekatkanmu kepada-Nya ketika kamu bermunajat. Berapa lama kamu mendapati Allah menulis Taurat sebelum aku diciptakan?” Nabi Musa menjawab dengan jujur, “Empat puluh tahun.

Nabi Adam bertanya, “Apakah kamu mendapati dalam Taurat, ‘Dan Adam durhaka kepada Tuhannya, maka dia sesat (QS. Thaha: 121).” Nabi Musa menjawab dengan jujur, “Ya.” Nabi Adam berkata, “Apakah kamu menyalahkanku karena satu perbuatan yang aku lakukan yang telah ditakdirkan oleh Allah atasku empat puluh tahun sebelum aku diciptakan?” Nabi Musa pun terdiam.

Baca juga :

Dalam riwayat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah dinyatakan bahwa Nabi Adam mengungguli ungkapan Nabi Musa. Hal tersebut karena Nabi Musa menyalahkan nabi Adam karena nabi Adam telah mengeluarkan dirinya dan anak cucunya dari Surga. Maka nabi Adam menjawabnya, “Saya tidak mengeluarkan kalian dari Surga, akan tetapi Allah lah yang menjadikan keluarnya diriku dengan sebab aku memakan buah pohon terlarang.

Maka dikeluarkannya Nabi Adam dari Surga bukanlah suatu hal yang lazim jika tidak diinginkan oleh Allah Azza wa Jalla, karena mungkin saja Allah mengampuninya tanpa harus mengeluarkannya dari Surga. Atau mungkin saja dihukum dengan hukuman yang lain bukan dengan mengeluarkannya dari Surga dan menurunkannya ke Bumi sebagai manusia pertama di Bumi.

Meskipun dikeluarkan dari Surga, hanya Allah yang mengetahui makna baik atas pengeluaran Nabi Adam tersebut. Sehingga Nabi Adam mencela Nabi Musa atas celaannya mengenai kehendak Allah yang mengeluarkan Nabi Adam, karena perbuatan yang dilakukan Nabi Adam juga bukan merupakan suatu perbuatan yang lazim ia lakukan.

Dari peristiwa tersebut terdapat beberapa hal yang bisa diambil sebagai pelajaran hidup, diantaranya adalah:

  1. Diperbolehkan beradu argumen antara orang shaleh jika menemukan suatu perkara atau kesulitan;
  2. Dalam berargumen hendaknya satu sama lain masing-masing mengetahui kelebihan lawannya;
  3. Bantahan terhadap kelompok qadariyah bahwa suatu perkara yang sudah ditetapkan oleh Allah sudah tetap dan tidak bisa diubah;
  4. Seseorang yang bertaubat dan mengakui kesalahan dari kemaksiatan yang dilakukan karena unsur lupa atau tidak disengaja maka tidak sepantasnya dilempari dengan celaan.

Demikian mengenai kisah perdebatan antara Nabi Adam dan Nabi Musa yang mungkin belum banyak diketahui. Semoga bisa menambah ilmu dan bermanfaat bagi setiap yang membaca.

, , ,




Post Date: Thursday 28th, March 2019 / 05:22 Oleh :
Kategori : Sejarah dan Sirah