Amalan Nisfu Sya’ban Menurut Islam dan Hadistnya

√ Islamic Base Pass quality & checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Di masyarakat islam dikenal ibadah di malam-malam nisfu sya’ban yaitu di tengah bulan Sya’ban. Adanya amalan ini terjadi pro dan kontra sehingga tidak semua sepakat dengan nisfu sya’ban dan juga tidak semua menolak nisfu sya’ban. Padahal, banyak sekali keutamaan nisfu sya’ban bagi umat yang melaksanakannya

Tentunya, dalam pelaksanaan ibadah, kita harus mengikuti apa yang telah Rasulullah sampaikan dan juga mengikuti sunnah tersebut. Hal ini karena Rasulullah adalah teladan dan telah menjalankannya agar umat islam mengikuti. Jika amalan ibadah tidak sesuai dan dibuat sendiri oleh manusia tentu hal ini akan mempengaruhi kesatuan dan kemurnian ajaran islam.

Untuk itu jangan sampai kita terjebak kepada Ciri-Ciri Aliran Sesat Menurut IslamAliran Islam di Indonesia , dan Bid’ah dalam Islam.

Hadit-Hadist Tentang Amalan Nisfu Sya’Ban

Sebelum mengetahui tentang amalan-amalan nisfu sya’ban dan adakah malam nisfu sya’ban, maka sebaiknya umat islam mengetahui terlebih dahulu mengenai dalil-dalil atau hadist yang berkenaan dengan nisfu sya’ban. Berikut adalah informasi hadsit yang berkenaan dengan nisfu sya’ban.

  1. Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim

“Aku tidak pernah sekali pun melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali (pada) bulan Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau (banyak berpuasa) dalam suatu bulan kecuali bulan Sya’ban. Beliau berpuasa pada kebanyakan hari di bulan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadist ini mendukung pada adanya amalan nisfu sya’ban yaitu berpuasa. Rasulullah sendiri menyempurnakan amalannya di bulan Ramadhan. Tetapi hadist ini tidak mengkhususkan ibadah tertentu atau mengkhususkan bulan Rajab hingga umat islam harus melaksanakannya.

  1. Hadist Riwayat An Nasai

“Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat anda sering berpuasa dalam beberapa bulan seperti puasa anda di bulan Sya’ban. Beliau menjawab, ‘Itu adalah satu bulan yang manusia lalai darinya. (Bulan itu adalah) bulan antara Rajab dan Ramadan, dan pada bulan itu amalan-amalan manusia diangkat kepada Rabbul ‘alamin, maka aku ingin supaya amalanku diangkat pada saat aku berpuasa.” (HR An Nasai)

Hadist ini juga sebagaimana hadist yang pertama, bahwa ada amalan yang bisa dilakukan salah satunya berpuasa. Akan tetapi tidak ada pengkhususan amalan yang harus dilakukan umat islam, karena Rasulullah berpuasa sunnah di tiap bulannya.

  1. Hadist yang Mendukung Amalan Nisfu Sya’ban

“Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berkata, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia. Adakah demikian dan demikian?’ (Allah mengatakan hal ini) sampai terbit fajar.” (HR Ibnu Majah dan Al Baihaqi)

Hadist ini menunjukkan adanya amalan-amalan tertentu yang harus dilaksanakan oleh umat islam. Sedangkan, beberapa ulama memandang hadist ini tidak shahih dan terdapat beberapa kekurangan.

Untuk itu, dalam hal ini terdapat berbagai pendapat mengenai malam nisfu sya’ban dan tentunya walaupun ada perbedaan tersebut, umat islam harus benar-benar bisa mempertanggungjawabkan atas apa yang dipilihnya.

Mendudukkan Perbedaan Pendapat Tentang Amalan Nisfu Sya’ban

Jika dilihat dari hadist-hadist di atas, amalan nisfu sya’ban memang memiliki perbedaan pendapat di masing-masing umat islam dan ulama. Tentu saja untuk menyelesaikan masalah ini, kita harus mampu untuk mendudukkan perbedaan pendapat antar ulama dan umat islam.

Berikut agar perbedaan pendapat tentang amalan nisfu sya’ban bisa diselesaikan dengan baik, sebagaimana contoh perilaku dari Rasulullah SAW.

  1. Kembali Kepada Dalil

Antara yang menyebutkan ada dalil dan tidak, masing-masing memiliki dalil. Untuk itu, yang dilarang dan tidak boleh adalah ketika berkata dan menyampaikan informasi yang tidak ada dalilnya. Selagi masih ada dalil dan mampu mempertanggungjawabkannya, maka hal ini bisa diterima.

Hal ini juga disampaikan dalam Al-Quran,

“Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (QS : Yunus : 19)

Untuk itu segala perbedaan pendapat termasuk masalah nisfu sya’ban kembalikan kepada dalil yang kuat dan pertanggungjawaban ijtihad yang benar. Perbedaan pendapat di zaman Rasulullah pun sudah mulai muncul. Apalagi di zaman ini, dimana sudah ditinggal oleh Rasulullah sejak lama, maka kembali kepada dalil yang kuat adalah hal yang harus dilakukan.

  1. Tidak Membiarkan Konflik Karena Perbedaan Pendapat

Sebagai umat islam, jangan sampai kita mebiarkan konflik hanya karena adanya perbedaan pendapat. Dalam umat islam selagi masih berpegang teguh pada Al-Quran, Sunnah, Rukun Islam, Dasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman secara universal, tentu mereka masih saudara seiman.

Jangan sampai kita mebiarkan konflik karena perbedaan pendapat apalagi sampai memecah ukhuwah islamiyah di kalangan umat islam.

Hal ini juga Allah sampaikan dalam Al-Quran, “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.” (QS An-Nahl : 93)

Untuk itu, setiap amalan akan dimintai pertanggungjawaban masing-masing. Maka jangan biarkan konflik terjadi hanya karena masalah yang berbeda padahal masih dalam tujuan yang sama.

  1. Tidak Mudah Mengklaim atau Menjugdge Negatif

Untuk bisa menjaga perbedaan pendapat dalam islam, termasuk masalah Nisfu Sya’ban maka jangan sampai kita mudah mengklaim sesat atau menjugde negatif seseorang yang memiliki dalil dan pendapat berbeda. Tentu saja, hal ini tidak diinginkan setiap orang dan masing-masing menganggap dalilnya yang benar.

Untuk itu, jangan sampai apa yang kita utarakan kepada sesama muslim menjadi sakit hati dan juga berbekas hingga ke hati. Menjaga perasaan dan pendapat adalah hal yang baik dan dibutuhkan dalam islam. Selagi masih sesuai dengan landasan islam maka mereka adalah saudara kita yang harus dijaga.

Selain dari Nisfu sya’ban umat islam juga bisa mengikuti sunnah rasul lainnya seperti

Semoga kita selalu menjadi umat islam yang mengutamakan amalan berdasarkan sunnah Rasul dan menjadi ummat Rasululullah SAW.

fbWhatsappTwitterLinkedIn