6 Penyebab Boleh Tayamum dan Alasannya

Tayamum merupakan pengganti atau bisa juga disebut badal. Tayamum dilakukan sebagai pengganti dari bersuci dengan air jika ada uzur atau halangan dan hambatan untuk menggunakan air saat kita harus melakukan wudhu. Sekaligus untuk anggota tubuh yang wajib untuk disucikan atau sebagiannya.

Saat melakukan tayamum harus diperhatikan lagi apabila memang air benar – benar tidak ada, atau memiliki masalah tertentu apabila menggunakan air, atau air yang digunakan.

Baca juga tentang Penyebab Pacaran Dilarang Dalam Islam ,  Penyebab Penyakit Hati Dalam Islam , Penyebab Lupa Dalam Islam ,  Penyebab Belum Hamil Dalam Islam , dan Penyebab Anak Nakal Dalam Islam

Lalu apa sih yang memperbolehkan kita melakukan tayamum? Berikut ini ada 6 sebab mengapa kita boleh melakukan tayamum, Simak selengkapnya dibawah sini.

Dari Sayyid Sabiq rahimahullah mengatakan ada 6 sebab atau alasan seseorang boleh melakukan tayamum, antara lain:

1. Jika tidak mendapati air atau ada air namun tidak cukup untuk bersuci (wudhu atau mandi)

Apabila kita tidak menemukan air ataupun menemukan air tetapi takaran air tersebut tidak cukup untuk kita melakukan wudhu atau bersuci, Kita dibolehkan bertayamum.

2. Terdapat Luka

Bagi mereka yang memiliki luka di tubuh dan tidak boleh mengenai air karena takut memperparah lukanya, boleh melakukan tayamum.

3. Cuaca yang sangat dingin

Terdapat beberapa negara yang memiliki cuaca dingin ekstrim. Oleh karena itu diperbolehkan bagi mereka untuk bertayamum dengan syarat air yang ada tidak mampu dipanaskan walau dengan membayar, atau orang tersebut sedang dalam kondisi tidak mampu masuk ke dalam kamar mandi.

4. Air membawa musibah

Apabila terdapat air namun ketika kita menggunakannya akan mendapat kecelekaan seperti dapat melukai diri, kehilangan harta hingga kehormatan

5. Dipentingkan untuk minum

Apabila terdapat air yang cukup tetapi hanya cukup untuk minum orang, sementara tidak akan cukup bagi orang yang bersuci, maka orang tersebut boleh melakukan tayamum

6. Waktu Shalat yang Sempit

Apabila terdapat aliran air yang deras nan banyak, namun waktu shalat sudah tinggal menunggu menit, ada baiknya melakukan tayamum. Dan shalat orang tersebut tidak perlu diulangi lagi.

Baca juga tentang Penyebab Babi Diharamkan Dalam Islam , Penyebab Matinya Hati dalam Islam , Penyebab Anjing Haram Dalam Islam, dan  Balasan Menyakiti Hati Orang Lain Dalam Islam

Dalil bertayamum

Dalil boleh melakukan tayamum karena tidak ada air terdapat dalam firman Allah SWT Quran surah An – nisa ayat 43, yang berbunyi:

فلمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدَاً طَيِّبَاً

Kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci) …” (QS. An-Nisa’: 43)

Sedangkan dalil bahwa tayamum dibolehkan ketika khawatir menggunakan air akan menimbulkan mudharat atau bahaya dapat dilihat dalam hadits berikut.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجْنَا فِى سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلاً مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِى رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ فَقَالَ هَلْ تَجِدُونَ لِى رُخْصَةً فِى التَّيَمُّمِ فَقَالُوا مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ « قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ أَلاَّ سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِىِّ السُّؤَالُ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ »

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami pernah keluar pada saat safar, lalu seseorang di antara kami ada yang terkena batu dan kepalanya terluka. Kemudian ia mimpi basah dan bertanya pada temannya, “Apakah aku mendapati keringanan untuk bertayamum?” Mereka menjawab, “Kami tidak mendapati padamu adanya keringanan padahal engkau mampu menggunakan air.” Orang tersebut kemudian mandi (junub), lalu meninggal dunia. Ketika tiba dan menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami menceritakan kejadian orang yang mati tadi. Beliau lantas bersabda, “Mereka telah membunuhnya.

Semoga Allah membinasakan mereka. Hendaklah mereka bertanya jika tidak punya ilmu karena obat dari kebodohan adalah bertanya. Cukup baginya bertayamum dan mengusap lukanya.” (HR. Abu Daud, no. 336; Ibnu Majah, no. 572 dan Ahmad, 1:330.

Syaikh Al-Albani berpendapat bahwa hadits ini hasan selain perkataan ‘cukup baginya bertayamum’)