Puasa Mutih 3 Hari – Pengertian, Kegunaan, dan Pandangan Islam

Di dalam tradisi masyarakat Indonesia, terdapat istilah puasa mutif. Banyak kontroversi dan juga pendapat mengenai puasa mutih ini di masyarakat. Untuk itu, kiranya perlu mengetahui apa sebetulnya puasa mutif 3 hari dan bagaimana pandangan islam terhadap puasa mutih tersebut.

Pengertian dan Kegunaan Puasa Mutih 3 Hari

Puasa mutih adalah suatu ritual puasa yang dilakukan dengan cara tidak makan dan minum, kecuali hanya makan nasi putih dan air putih seadanya. Puasa ini dikenal di kalangan orang-orang yang memiliki kepercayaan terhadap aliran kejawen dan tradisi-tradisi tertentu, khususnya di tradisi Jawa. Tujuan dari puasa ini adalah untuk mendapatkankan ilmu ghaib, supranatural, dsb.

Istilah puasa mutih berasal dari istilah jawa. Kata putih menjadi mutih, yang berarti memutihkan. Secara filosofis, maknanya bisa agar orang yang melaksanakan puasa tersebut menjadi putih hatinya, bersih jiwanya, dan mendapatkan keberkahan sebagaimana filosofis warna putih.

Puasa mutih ini biasanya dilakukan pada tanggal tertentu saat bulan purnama, memperlihatkan sinar putih. Biasanya terjadi pada tengah-tengah bulan, menurut perhitungan kaldender islam/kalender hijrriah.

Bagi masyarakat atau orang-orang yang memiliki keyakinan terhadap puasa mutif, mereka percaya puasa mutih adalah salah satu cara untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit hati dan dosa. Selain itu, mereka pun meyakini dengan puasa mutih mereka akan mendapatkan hidayah Allah, mampu menyembuhkan berbagai penyakit dalam diri-nya. Mereka meyakini pula dengan puasa mutih mereka akan mendapatkan pahala yang besar.

Manfaat Puasa Mutih Tiga Hari Menurut Ilmu Kesehatan

Dalam ilmu kesehatan, puasa dikenal sebagai proses untuk treatment atau terapi kesehatan tertentu. Misalnya saja, orang yang terkena penyakit gula atau diabetes, dia harus berpuasa dari makan-makanan berkabohidrat tinggi, gula, atau manis-manis, dan hanya diperbolehkan minum air putih serta makanan yang hambar rasanya.

Istilah puasa juga dikenal sebagai proses untuk menuju pemeriksaan kesehatan. Misalnya saja, sebelum melakukan pengecekan gula darah biasanya orang-orang diminta untuk berpuasa dari semalaman hingga proses pengecekan selesai. Puasa juga didukung oleh ilmu kedokteran sebagai proses detoxifikasi, terutama puasa yang wajib dilakukan di bulan Ramadhan.

Proses puasa membuat tubuh mengeluarkan racun-racunnya secara optimal, karena saat itu tubuh berhenti untuk mencerna makanan. Kerja tubuh menjadi lebih ringan dan banyak membakar lemak tubuh serta sisa-sisa racun yang bisa jadi belum teroptimalkan untuk dibuang saat manusia lebih banyak makan sepanjang waktu aktivitasnya.

Puasa mutih dengan tidak makan-makanan selain dari nasi, dan minum air putih diantaranya memiliki beberapa manfaat yang bisa didapatkan. Meskipun dalam islam, sebetulnya ada makanan haram dalam islam, walaupun memang puasa mutif memiliki efek kesehatan yang baik. Diantaranya adalah :

  1. Mengurangi Kadar Gula dan Garam dalam Tubuh

Dengan hanya memakan nasi dan air putih secara umum kadar gula dan garam dalam makanan menjadi terkurangi. Jika memakan masakan dari hasil masak-masakan biasanya mengandung banyak gula dan garam, atau bisa jadi berlebihan kandungannya. Dengan hanya makan nasi dan air putih, asupan yang masuk hanyalah karbohidrat yang dibutuhkan tubuh serta air putih agar tidak terjadi dehidrasi.

  1. Mengurangi asupan lemak, dan energi lebih optimal digunakan

Dengan hanya mengkonsumsi nasi, tentunya lemak menjadi terkurangi pula. Konsumsi nasi dan  air putih maka tidak ada asupan lemak yang masuk. Sedangkan, dengan terbatas lemak yang masuk ke dalam tubuh, maka lemak yang tertimbun di dalamnya, sebelumnya menjadi terpakai untuk bertahan saat tidak ada asupan lemak yang masuk. Dengan begitu, akhirnya lemak dalam tubuh lebih optimal digunakan dan yang tertimbun menjadi sedikit. Resiko penyakit pun jauh lebih rendah.

  1. Membantu mendetoks racun-racun yang ada dalam tubuh

Dengan hanya mengkonsumsi asupan yang terbatas nasi dan air putih, hal ini membantu tubuh untuk mendetoks racun-racun yang ada dalam tubuh. Hal ini membuat kerja tubuh menjadi lebih optimal, dan racun-racun yang masih ada dalam tubuh menjadi mudah untuk keluar. Jika sehari-hari lebih banyak makan-makanan yang berat, maka kerja detoks dalam tubuh kurang optimal. Sedangkan, jika tidak ada asupan berat, detoks lebih ringan untuk dilakukan karena kerja tubuh tidak double.

Ibadah Puasa dalam Ajaran Islam

[AdSense-A]Dalam ajaran islam dikenal puasa wajib dan puasa sunnah. Puasa wajib dilakukan saat bulan Ramadhan oleh seluruh umat islam, sedangkan puasa sunnah dilakukan di luar bulan ramadhan. Sifat puasa sunnah adalah dianjurkan, dan dicontohkan lewat syariat dari Nabi Muhammad SAW.

Di dalam islam tidak ada ibadah ritual yang dijalankan dan dibenarkan jika tidak ada petunjuk dasarnya dalam Al Quran dan Sunnah. Untuk itu, dalam hal ini umat muslim tidak boleh membuat ritual tersendiri, tanpa petunjuk AL Quran dan Sunnah yang telah disyariatkan.

Puasa dalam islam artinya menahan diri dari segala hawa nafsu. Mulai dari makan, minum, dan suami istri. Puasan dalam islam pun bisa batal ketika wanita mendapatkan haid dan nifas, serta orang yang mengeluarkan air mani karena sebab yang disengaja. Hal-hal yang membatalkan puasa adalah ketika melanggar puasa dengan makan, minum, dan berhubungan suami istri. Pahala puasa pun bisa berkurang karena sikap-sikap yang menimbulkan hawa nafsu, seperti amarah, emosi, dan berbuat bohong. Hal ini sebagaimana dalam hadist nabi tentang puasa. Puasa dimulai dari waktu subuh hingga waktu buka puasa adalah saat adzan magrib tiba. Puasa Ramadhan dan cara pelaksanaanya harus diperhatikan, agar tidak membuat-buat aturan tersendiri yang tidak bernilai di sisi Allah.

Dan sesungguhnya ban (mulut) orang puasa itu lebih harum di sisi AIlah daripada aroma minyak kesturi. ” (HR. At-Tirmidzi dan ia berkata, hadits hasan shahih gharib)

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta kedunguan maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum “ (HR. Al-Bukhari, Ahmad dan lainnya)

Dalam islam, makna puasa bukan hanya menahan makan dan minum, apalagi sekedar untuk menunda makan atau membatasi makan hingga waktu tertentu. Jauh dari itu semuanya, puasa dalam islam adalah suatu pelatihan untuk menahan hawa nafsu dan mengendalikannya hingga terlatih menjadi orang yang mampu menaklukkannya, bukan justru diperbudak oleh hawa nafsu.

“Betapa banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga” (HR. Ahmad)

Untuk itu, puasa ramadhan yang  merupakan bagian dari rukun islam, bernilai pahala di sisi Allah adalah puasa yang dilakukan dengan ikhlas, mampu mengendalikan diri, serta melaksanakan ibadah lainnya dengan sesempurna dan semaksimal mungkin. Bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Untuk itu rukun puasa ramadhan dan syarat syah puasa ramadhan harus seorang muslim perhatikan untuk melaksanakan ibadah wajib ini dengan baik dan benar.

Bagi yang puasanya batal, maka harus segera niat puasa ganti ramadhan, karena terhitung sebagai ibadah wajib. Sedangkan sebelum mengakhiri puasa, saat menjelang adzan magrib maka harus pula mempersiapkan dan membacakan niat buka puasa.

Pandangan Islam terhadap Ritual Puasa Mutih

Berikut adalah pandangan islam terhadap ritual puasa mutih, melalui pengertian puasa menurut islam dan membandingkannya dengan ritual puasa mutih.

  1. Ritual Puasa Mutih tidak sama dengan hakikat Puasa dalam Islam

Ritual puasa mutih tidak sama dengan hakikat puasa dalam islam. Aturan puasa dalam islam adalah tidak makan dan minum mulai dari waktu sebelum shubuh hingga waktu magrib. Selain itu puasa dalam islam mensyariatkan untuk menahan diri dari segala hawa nafsu termasuk dorongan sexual yang ada dalam diri manusia.

Jika dibandingkan dengan puasa mutih, jelas puasa mutih berbeda dengan hakikat puasa dalam islam. Puasa mutih masih membolehkan makan dan minum, walaupun hanya air dan nasi. Dalam islam makan dan minum adalah hal-hal yang membatalkan puasa. Untuk itu tidak bisa dilakukan jika itu adalah kesengajaan.

Dalam ritual puasa mutih, juga tidak terdapat larangan untuk tidak melakukan hubungan suami istri, padahal dalam aturan puasa islam itu adalah suatu yang membatalkan puasa.

  1. Rasulullah tidak pernah mensyariatkan Puasa Sunnah dengan cara Mutih

Rasulullah sendiri tidak pernah memberikan syariat pada ummatnya untuk melaksanakan puasa mutih sebagai ritual ibadah dalam islam. Untuk itu, ritual puasa mutih bukanlah berasal dari ajaran islam. Dalam Al-Quran dan Sunnah Rasul tidak pernah ada istilah puasa mutih dan juga anjuran untuk melaksanakannya.

  1. Pelaksanaan Ritual Puasa Mutih tidak sama dengan syariat, belum tentu bernilai ibadah  

Jika ada umat muslim yang melaksanakan ritual puasa mutih tentunya ada manfaat yang didapat. Tapi perlu dipahami pada hakikatnya bisa jadi ritual tersebut bukanlah bernilai ibadah dalam ajaran islam. Hal ini dikarenakan ritual puasa mutih tidak bersumber dari ajaran islam, sedang tujuannya tidak sama sebagaimana ajaran puasa dalam islam.[AdSense-B]

Ada macam-macam puasa sunnah yang bisa dilakukan oleh umat muslim. Yang pertama adalah puasa senin kamis. Keutamaan puasa senin kamis tentunya bisa melatih kita selain dari puasa ramadhan saja. Yang Kedua adalah puasa arafah dan keutamaan puasa arafah bisa menghapuskan dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun kedepan. Yang Ketiga adalah puasa daud dan keutamaan puasa daud merupakan puasa yang paling disukai oleh Allah, serta membentuk pola hidup yang tidak berlebihan dengan makanan. Yang keempat adalah puasa rajab, yang keutamaan puasa rajab kelak akan diberi air minum di surga kelak.

Bagi mereka yang ingin melaksanakannya untuk mendapatkan manfaat kesehatan tentunya hal ini menjadi sah-sah saja, karena analisis ilmiah sebagaimana ilmu kesehatan. Sedangkan jika tujuannya sebagaimana mendekatkan diri pada Allah, memperoleh pahala, mendapatkan hidayah tentunya hal tersebut sebuah kekeliruan, karena tidak bersumber dari islam, yang sebagaimana Allah dan Rasul-Nya perintahkan.