Sistem Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin Setelah Rasul Wafat

√ Islamic Base Pass quality & checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Masa kemimpinan Khulafaur Rasyidin adalah masa kepimpinan setelah Rasul wafat. Pada saat itu, umat Muslim lebih memilih untuk segera mencari pengganti Rasul dalam memimpin dibandingkan mengurus pemakaman Rasul. Hal ini dikarenakan betapa pentingnya mengangkat seorang pemimpin dalam umat Islam. Berikut sistem kepemimpinan Khulafaur Rasyidin setelah rasul wafat.

Abu Bakar Ash-Shiddiq (11-13 H)

Khalifah pertama yang dipilih setelah Rasul wafat adalah Abu Bakar Ash Shiddiq. Pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah tidaklah mudah. Terdapat beberapa kelompok yang mengusulkan calon pemimpinnya masing-masing.

Kelompok Anshar mengusulkan Saad bin Ubadah, pemuka Kazraj. Sedangkan kelompok Muhajirin mengusulkan Abu Bakar. Sementara kelompok Abu Hasyim menginginkan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpinnya.

Baca juga :

Hal pertama yang paling diperhatikan oleh Abu Bakar setelah duduk di kursi kepemimpinan adalah mengirimkan ekspedisi ke perbatasan Suriah di bawah pimpinan Usamah yang juga merupakan keinginan Rasul yang belum dapat dipenuhi semasa hidupnya. Meskipun mendapat beberapa tentangan dari sahabat, namun Abu Bakar tetap menjalankannya.

Dan ternyata misi ini sukses. Berkat kesuksesan misi yang dilakukan Abu Bakar, kepercayaan diri umat Islam yang mulai terkikis pun kembali bangkit. Kesuksesan ini membuktikan isi pidato yang ia ucapkan saat dibaiat menjadi khalifah.

“Wahai manusia! Aku telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu,padahal aku bukanlah orang yang terbaik diantaramu. Maka jikalau aku dapat menunaikan tugasku dengan baik, bantulah (ikutlah) aku, tetapi jika aku nerlaku salah, maka luruskanlah! Orang yang kamu anggap kuat, aku pandang lemah sampai aku dapat mengambil hak dari padanya. Sedangkan orang yang kamu lihat lemah, aku pandang kuat sampai aku dapat mengembalikan haknya kepadanya. Maka hendakklah kamu taat kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya, namun bila mana aku tiada mematuhi Allah dan Rasul-Nya, kamu tidak perlu mematuhiku,” 

Umar bin Khattab (12-23 H)

Umar bin Khattab merupakan khalifah kedua yang diangkat setelah Abu Bakar wafat. Pengangkatan ini berdasarkan petunjuk terakhir dari Abu Bakar sebelum wafat. Ia sengaja ditunjuk oleh Abu Bakar karena selama masa kepemimpinannya yang berlangsung selama dua tahun, Abu Bakar belum berhasil menstabilkan kondisi umat Islam. Dengan menunjuk Umar secara langsung, maka ia berharap kericuhan atas pemilihan pemimpin selanjutnya dapat dihindari.

Baca juga :

Umar bin Khattab adalah pemimpin yang sangat peduli pada setiap kelompok masyarakat. Ia tidak mempunyai istana atau bahkan baju kebesaran sekalipun. Setiap pejabat maupun rakyat sama-sama menggunakan baju biasa sehingga tidak ada kesenjangan sosial selama masa kepemimpinannya.

Namun kematian Umar begitu tragis, ia ditikam oleh seorang Persia ketika akan melaksanakan shalat Subuh. Ia pun menderita luka yang sangat parah dan wafat tiga hari setelah ditikam yakni pada tanggal 1 Muharam 23 H. Ia sempat menunjuk beberapa orang untuk memilih penggantinya setelah ia meninggal nantinya.

Usman bin Affan (23-36 H)

Usman bin Affan dipilih melalui badan syura yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab sebelum beliau meninggal dunia. Usman adalah seorang yang sangat kaya raya namun begitu dermawan. Seluruh hartanya ia berikan untuk kemajuan Islam sejak Rasul masih hidup hingga ia menjabat sebagai pemimpin.

Usman bin Affan adalah orang yang begitu lemah lembut dan santun. Salah satu bentuk pencapaiannya yang sangat besar adalah penyusunan Al Quran. Ia menunjuk Zaid bin Tsabit dan Hafsah, istri Rasul untuk melakukan penyusunan Al Quran agar bisa digunakan secara seragam dan tidak memiliki perbedaan.

Baca juga :

Namun sayangnya, dalam masa kepemimpinan Usman bin Affan, banyak terjadi nepotisme. Usman yang telalu lembut tidak bisa menolak kaumnya sendiri untuk menduduki jabatan yang ada di dalam pemerintahan. Bahkan kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat semakin terlihat akibat tidak meratanya pembagian harta rampasan perang atau ghanimah.

Akibat banyaknya masyarakat yang tidak merasa puas dengan kepemimpinan Usman, beberapa orang pun merencanakan pembunuhannya. Usman dibunuh saat sedang membaca Al Quran di rumahnya. Ia pun meninggal pada tahun 36 H.

Ali bin Abi Thalib (36-41 H)

Ali bin Abi Thalib dipilih sebagai penerus kepemimpinan karena hubungannya yang dekat dengan Rasulullah, baik sebagai kerabat maupun menantu. Ali bin Abi Thalib adalah orang yang sangat bijak dan memiliki banyak kelebihan.

Salah satu hal yang paling ia cermati adalah penarikan tanah hibah yang dulu dibagikan oleh Usman kepada kerabatnya agar kembali menjadi milik pemerintah. Hal ini pun sukses ia lakukan. Namun meskipun ia berhasil memperluas daerah kekuasaan dan melakukan berbagai kemajuan, perpecahan dalam tubuh umat Islam tidak dapat dielakkan.

Bahkan ia juga sempat mendapat fitnah yang menyebabkan hubungannya dengan Aisyah menjadi agak renggang. Hal ini tidak terlepas dari hasutan beberapa orang yang meniupkan kabar bahwa Ali melindungi pembunuh Usman sehingga menyebabkan kemarahan Aisyah.

Baca juga:

Ali pun akhirnya wafat tak berapa lama setelah ia diserang oleh Ibnu Muljam. Ia diserang saat akan mengimami shalat berjamaah di mesjid. Ibnu Muljam yang merasa tidak bersalah akhirnya dihukum mati.

Itulah sistem kepemimpinan Khulafaur Rasyidin setelah rasul wafat. Sistem kepemimpinan ini tidak memiliki gambaran batasan hukum yang jelas dan tidak ada di Al Quran. Namun seluruh sistem ini menunjukkan bahwa pemimpin yang terbaik adalah yang memiliki ilmu agama dan keimanan yang paling tinggi sehingga mampu membimbing masyarakatnya untuk berada di jalan Allah.

fbWhatsappTwitterLinkedIn