Hukum Ijab Qabul Zakat

√ Islamic Base Pass quality & checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Setiap umat Islam wajib hukumnya membayar zakat sesuai dengan nisab dan ketentuan dalam Islam. Ketika menyerahkan zakat fitrah kepada amil zakat, ada ijab qabul yang hendaknya diucapkan sebagai tanda sahnya penerimaan zakat. Namun, tidak semua muslim/ah mengucapkan ijab qabul pada saat menyerahkan maupun menerima zakat. Sebenarnya, bagaimanakah hukum ijab qabul zakat ini?

Yuk, simak ulasan selengkapnya berikut ini!

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

“Telah diwajibkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mengeluarkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dan makanan bagi orang miskin. Barangsiapa menunaikan zakat fitrahnya sebelum salat Idul Fitri, maka zakat fitrahnya diterima. Dan, barang siapa menunaikannya setelah salat Idul Fitri maka zakatnya adalah sebagai sedekah biasa.”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Pembayaran zakat dilakukan selama bulan Ramadhan sampai pagi hari raya sebelum dilaksanakan shalat Idul Fitri. Zakat yang harus ditunaikan tidak sebatas pada zakat fitrah saja, tetapi ada pula jenis-jenis harta yang wajib dizakatkan.

Baca juga:

أخذ الحسن بن علي تمرة من تمر الصدقة فجعلها في فيه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كخ كخ ارم بها أما علمت أنا لا نأكل الصدقة ؟

Al Hasan bin Ali mengambil sebuah kurma dari kurma sedekah, lalu meletakkannya di mulutnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam berkata, “kuh.. kuh.. ayo keluarkan! Tidakkah Engkau tahu bahwa sesungguhnya kita (keluarga Nabi) tidak memakan harta sedekah?” (HR. Muslim).

Al Hafidz Al Iraqi, ulama besar madzhab Syafi’i menjelaskan hadits ini:

فيه أنه لا يشترط في كل من الهدية والصدقة الإيجاب والقبول باللفظ بل يكفي القبض وتملك به فإن سلمان رضي الله عنه اقتصر على مجرد وضعه والنبي صلى الله عليه وسلم إنما سأله ليتميز له الهدية المباحة عن الصدقة المحرمة عليه ولم يوجد من النبي صلى الله عليه وسلم لفظ في قبول الهدية ، وهذا هو الصحيح الذي عليه قرار مذهب الشافعي وقطع به غير واحد من الشافعية واحتجوا بهذا الحديث وغيره من الأحاديث التي فيها حمل الهدايا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فيقبلها ولا لفظ هناك قالوا وعلى هذا جرى الناس في الأعصار ولذلك كانوا يبعثون بها على أيدي الصبيان الذين لا عبارة لهم وفي المسألة وجه لبعض أصحابنا أنه يشترط فيها الإيجاب والقبول كالبيع والهبة والوصية وهو ظاهر كلام الشيخ أبي حامد والمتلقين عنه

“Dalam hadits ini ada faidah bahwa tidak disyaratkan lafadz ijab-qabul pada hadiah dan sedekah. Bahkan cukup dengan menyerahkannya dan memindahkannya. Karena Salman radhi’allahu’anhu hanya sekedar meletakkan (kurma tersebut). Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bertanya kepada Salman dalam rangka membedakan kurma tersebut hadiah yang mubah ataukah sedekah yang haram (bagi beliau).

Tidak ada lafadz qabul dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika menerimanya. Inilah yang shahih, yang dipegang oleh madzhab Asy Syafi’i dan ditegaskan oleh lebih dari satu ulama Syafi’iyyah, dan mereka berdalil dengan hadits ini. Dan juga hadits-hadits lain yang menceritakan tentang diberikannya hadiah kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan beliau menerimanya tanpa mengucapkan satu lafadz pun. Dan ini lah yang terjadi di masa Nabi ketika itu.

Oleh karena itu, mereka biasa memberikan sesuatu kepada anak kecil yang (lafadz ijab-qabul) tidak ada maknanya bagi mereka. Dan dalam masalah ini tidak benar sisi pandang sebagian ulama madzhab Syafi’i yang mensyaratkan lafadz ijab-qabul seperti dalam jual beli, hibah dan wasiat. Dan ini merupakan pendapat Syaikh Abu Hamid Al Ghazali dan murid-murid beliau” (Tharhu At Tatsrib fi Syarh At Taqrib, 4/40).

Baca juga :

Berdasarkan dalil di atas, maka telah dijelaskan bahwa menurut sebagian ulama, hukum ijab qabul zakat tidaklah wajib. Cukup dengan menyerahkannya saja sudah dianggap sah.

Adapun bila diperlukan adanya pengucapan ijab qabul, maka itu sangatlah fleksibel. Misalnya saja dari orang yang berzakat mengatakan, “ini zakat dari keluarga saya. Total ada 3 orang, saya, istri dan anak saya (diikuti dengan penyebutan nama masing-masing anggota).” Kemudian petugas amil mengucapkan, “Baik, saya terima zakat ini dari Bapak (nama ybs). Terimakasih.” Nah, itulah sederhananya pengucapan ijab qabul zakat.

Dengan atau tanpa pengucapan ijab qabul ketika menyerahkan zakat, maka zakat tersebut tetap dianggap sah. Demikianlah hukum ijab qabul zakat yang bisa kita pahami sehingga bisa menunaikan zakat dengan nyaman.

Wallahu a’lam.

fbWhatsappTwitterLinkedIn