Hukum Zakat Fitrah Bayi Dalam Kandungan

√ Islamic Base Pass quality & checked by advisor, read our quality control guidelance for more info

Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah. Selain berpuasa selama sebulan lamanya, setiap umat Islam diwajibkan pula untuk mengeluarkan zakat sesuai dengan nisabnya. Zakat ini disebut dengan zakat fitrah, yakni berupa bahan pokok. Bagi Indonesia, zakat fitrah dibayarkan dalam bentuk beras atau uang tunai sebesar 2,5 – 3 kilogram atau sekitar Rp 20.000 – Rp 30.000,-.

بُِنيَ الإسلام على خمس شهادةِ أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقاِم الصلاة وإيتاء الزكاة وحج البيت وصوم رمضان

“Islam itu didirikan atas lima ; bersaksi bahwa tiada Tuhan sekain Allah dan Muhammad itu utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, menunaikan haji ke baitullah dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada umumnya zakat fitrah ini dikolektif oleh petugas amil zakat dari daerah masing-masing. Untuk kemudian didistribusikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Pendistribusiannya pun tidak jauh dari lokasi tempat dikumpulkannya zakat tersebut.

Kebahagiaan di dalam bulan Ramadhan semakin terasa bagi pasangan suami istri yang tengah menanti kehadiran hari raya. Apabila dikaitkan dengan kewajiban berzakat ini, setiap yang bernyawa wajib membayar zakat. Manfaat zakat fitrah ini diantaranya untuk membersihkan harta orang yang berzakat dan berbagi kebaikan kepada sesama. Lalu apakah hukum zakat fitrah bayi dalam kandungan?

Menurut Al-fatawa Al-Hindiyah – kumpulan fatwa madzhab hanafi – tertuang bahwa,

وَلَا يُؤَدِّي عَنْ الْجَنِينِ ؛ لِأَنَّهُ لَا يَعْرِفُ حَيَاتَهُ هَكَذَا فِي السِّرَاجِ الْوَهَّاجِ

“Tidak wajib ditunaikan zakat fitrah untuk janin, karena belum bisa dipastikan hidupnya. Demikian keterangan dalam buku Siraj Wahhaj.” (Fatawa Hindiyah, 5/166)

Baca juga:

Hal serupa tentang hukum zakat fitrah bayi dalam kandungan juga dikemukakan oleh Imam Malik. Dalam Al-Mudawwanah beliau menyatakan,

لا تؤدى الزكاة عن الحبل، وإن ولد له يوم الفطر أو ليلة الفطر فعليه فيه الزكاة

“Tidak wajib ditunaikan zakat fitrah untuk bayi yang ada dalam kandungan. Namun jika dia terlahir pada hari idul fitri atau malam hari raya maka ayahnya berkewajiban membayarkan zakat untuk anaknya.” (Al-Mudawanah Al-Kubro, 1/388).

Namun, ada pendapat dari ulama lain yang menyatakan bahwa hukum zakat fitrah bayi dalam kandungan adalah wajib. Hal ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Ibnu Qudamah mengungkapkan,

وعن أحمد، رواية أخرى أنها تجب عليه؛ لأنه آدمي، تصح الوصية له، وبه ويرث فيدخل في عموم الأخبار، ويقاس على المولود

Dari Imam Ahmad, dalam salah satu riwayat lainnya, bahwa,

“Zakat fitrah untuk janin hukumnya wajib. Karena janin termasuk manusia, boleh menerima wasiat, bisa menerima warisan. Sehingga dia masuk dalam keumuman hadis tentang zakat fitrah, dan juga diqiyaskan dengan bayi yang sudah lahir.” (Al-Mughni, 3/99).

Baca juga :

Hal ini diperkuat oleh sebagian sahabat. Mereka menyatakan bahwa kewajiban berzakat fitrah dibebankan pula pada janin yang telah memasuki usia 4 bulan dalam kandungan. Ibnul Mulaqqin menyatakan,

ونقل قوم عن السلف أنه إذا كمل الجنين في بطن أمه أربعة أشهر قبل الفجر وجب الإخراج عنه، وإنما خص الأربعة أشهر بذلك للاعتماد على حديث ابن مسعود أن الخلق يجمع في بطن أمه أربعين يوما

“Terdapat keterangan dari sebagian sahabat, jika janin sudah genap usia 4 bulan dalam kandungan, sebelum subuh hari raya, maka wajib dibayarkan zakat fitrahnya. Mereka menjadikan 4 bulan sebagai batas, bersandar dengan hadis Ibn Mas’ud bahwa penciptaan manusia dalam rahim ibunya selama 40 hari dalam bentuk nutfah… hingga ditiupkan ruh setelah berusia 120 hari.” (Al-I’lam bi Fawaid Umdatul Ahkam, 3/57).

Pendapat tersebut diperkuat oleh dalil yang dikemukakan oleh Qatadah berikut ini,

أن عثمان كان يعطي صدقة الفطر عن الصغير والكبير والحمل

“Bahwa Utsman radhiyallahu ‘anhu membayar zakat fitrah untuk anak-anak, orang dewasa, dan bayi yang masih di kandungan.” (Masail Abdullah bin Ahmad hlm. 170).

Diriwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau menyatakan:

كَانُوا يُعْطُونَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ حَتَّى يُعْطُونَ عَنِ الْحَبَلِ

“Mereka (sebagian sahabat) membayar zakat fitrah, sampai mereka bayarkan zakat untuk janin.” (HR. Ibn Abi syaibah 10738 & Abdur Razaq 5788).

Itulah kesimpulan mengenai hukum zakat fitrah bayi dalam kandungan. Sebagian ulama berpendapat tidak wajib, namun bila ditunaikan maka insya Allah akan bernilai pahala di sisi-Nya.

Allahu a’lam.

fbWhatsappTwitterLinkedIn