Hukum Memohon Hidayah Allah SWT dalam Islam

Sebagai manusia yang penuh dengan kekurangan, kita sangat membutuhkan hidayah dari Allah SWT setiap waktu dalam setiap perbuatan yang kita lakukan maupun yang kita tinggalkan. Hal ini dikarenakan kita tidak dapat dilepaskan dari berbagai macam perkara. Misalnya, kita mengetahui  bahwa perkara-perkara yang dilakukan dengan cara yang tidak sesuai dengan hidayah atau petunjuk Allah SWT, karena kebodohan maka kita membutuhkan hidayah Allah kepada kebenaran dalam perkara-perkara tersebut. Berikut hukum memohon hidayah Allah SWT dalam Islam.

ads

Mengapa kita membutuhkan hidayah dari Allah SWT?

Karena hidayah adalah milik Allah SWT dan sudah selayaknya manusia memohon hidayah kepada-Nya. Siapapun yang diberi hidayah oleh Allah SWT maka ia akan memperoleh petunjuk dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, mereka yang enggan memohon hidayah kepada Allah SWT, maka ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi. Allah SWT berfirman dalam surat Al A’raaf ayat 178 yang artinya,

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat).” (QS. Al A’raaf : 178)

Memohon hidayah termasuk salah satu perintah Allah SWT

Dikarenakan hidayah merupakan sebab utama keselamatan hidup di dunia dan di akhirat maka Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk selalu memohon hidayah kepada-Nya melalui surat Al-Fatihah yang dibaca saat shalat fardhu atau shalat wajib lima waktu dan macam-macam shalat sunnah lainnya maupun ketika di luar shalat. Allah SWT berfirman dalam surat Al Fatihah ayat 6 yang artinya,

“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.” (QS. Al Fatihah : 6)

Menurut Tafsir Al Qur’an Hidayatul Insan, ayat tersebut tidak hanya memohon untuk diberikan hidayah saja (hidayah irsyad) oleh Allah SWT melainkan juga memohon untuk diberi taufik atau dibantu untuk menempuh jalan yang lurus untuk mendapat ridha dan surga Allah sebagaimana yang telah diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga seseorang tidak dapat bahagia kecuali istiqomah di atasnya. Yang dimaksud dengan jalan yang lurus menurut ayat ini adalah Islam.

Sementara itu Ibnu Taimiyah berkata,

“Seorang hamba yang senantiasa kebutuhannya sangat mendesak terhadap kandungan doa (dalam ayat) ini, karena sesungguhnya tidak ada keselamatan dari siksa (Neraka) dan pencapaian kebahagiaan (yang abadi di Surga) kecuali dengan hidayah (dari Allah SWT) ini. Maka barangsiapa yang tidak mendapatkan hidayah ini berarti ia termasuk orang-orang yang dimurkai oleh Allah (seperti orang-orang Yahudi) atau orang-orang yang tersesat (seperti orang-orang Nasrani)”.

Ayat di atas juga mengandung makna lain seperti yang diterangkan oleh Imam Ibnu Katsir ketika menjawab pertanyaan :

Bagaimana mungkin seorang mukmin selalu meminta hidayah setiap waktu, baik di dalam shalat maupun di luar shalat, padahal dia telah mendapatkan hidayah, apakah ini termasuk meminta sesuatu yang telah ada pada dirinya atau tidak demikian?

Imam Ibnu Katsir pun menjelaskan,

“Jawabannya : tidak demikian. Kalaulah bukan karena kebutuhan seorang mukmin di siang dan malam untuk memohon hidayah maka Allah tidak akan memerintahkan hal itu kepadanya. Karena sesungguhnya seorang hamba di setiap waktu dan keadaan sangat membutuhkan (pertolongan) Allah SWT untuk menetapkan dan meneguhkan dirinya di atas hidayah-Nya, juga membukakan mata hatinya, menambahkan kesempurnaan dan keistiqamahan dirinya di atas hidayah-Nya. Sungguh seorang hamba tidak memiliki (kemampuan memberi) kebaikan atau keburukan bagi dirinya sendiri kecuali dengan kehendak-Nya, maka Allah SWT membimbingnya untuk (selalu) memohon kepada-Nya di setiap waktu untuk menganugerahkan kepadanya pertolongan, keteguhan dan taufik-Nya. Oleh karena itu, orang yang beruntung adalah orang yang diberi taufik oleh Allah SWT untuk (selalu) memohon kepada-Nya, karena Allah SWT telah menjamin pengabulan bagi orang-orang yang berdoa jika dia memohon kepada-Nya, terutama seorang yang sangat butuh dan bergantung kepada-Nya (dengan selalu bersungguh-sungguh berdoa kepada-Nya) di waktu-waktu malam dan di tepi-tepi siang.” (Kitab Tafsir Ibnu Katsir)

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hukum memohon hidayah Allah SWT adalah wajib karena merupakan kebutuhan orang-orang mukmin dan diperintahkan langsung oleh Allah SWT melalui Al Qur’an sebagai salah satu dasar hukum Islam, sumber syariat Islam atau sumber pokok ajaran Islam. Hidayah Allah kepada manusia dijemput di antaranya dengan rajin beribadah, berdoa setelah shalat fardhu atau shalat sunnah, dan memperbanyak doa dan dzikir.

Demikian ulasan singkat tentang hukum memohon hidayah kepada Allah SWT. Artikel lain yang dapat dibaca di antaranya adalah bacaan doa dan dzikir setelah shalat dan hukum berdoa setelah shalat. Semoga bermanfaat.    

, ,




Post Date: Wednesday 30th, January 2019 / 08:09 Oleh :
Kategori : Tauhid