Hukum Mengkumandangkan Adzan saat Safar dalam Islam

Dalam penerapannya. Memang di Indonesia ada praktek dimana apabila jemaah hendak diberangkatkan haji, maka akan ada adzan dan iqamah sebelum keberangkatan. Tentu saja kegiatan ini ada dasarnya yang juga berkaitan dengan hukum mengkumandangkan adzan saat safar dalam Islam. Dimana disebutkan dalam Hadist. dalam Shahih Ibnu Hibban, Juz II, hal 36:

ads

من طريق أبي بكر والرذبري عن ابن داسة قال: حدثنا ابن محزوم قال حدثني الإمام على ابن أبي طالب كرم الله وجهه وسيدتنا عائشة رضي الله عنهم—كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا استودع منه حاج أو مسافر أذن وأقام – وقال ابن سني متواترا معنوي ورواه أبو داود والقرافي والبيهقي

Riwayat Abu Bakar dan Ar-Rudbari dari Ibnu Dasah, ia berkata: Ibnu Mahzum menceritakan kepadaku dari Ali dari Aisyah, ia mengatakan: Jika seorang mau pergi haji atau bepergian, ia pamit kepada Rasulullah, Rasul pun mengadzani dan mengomati. Hadits ini menurut Ibnu Sunni mutawatir maknawi. Juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Qarafi, dan al-Baihaqi.”

Itulah landasan yang mendasari diadakan adzan apabila ingin berangkat haji. Namun, sebenarnya saya membandingkan beberapa persepsi perihal permasalahan ini. Dan salah satu kajian yang membuat saya tertarik adalah kajian dari Ustadz Ammi Nur Baits.

Dalam kajiannya, beliau secara gamblang menyebutkan bahwa terdapat pandangan lain yang menyebutkan bahwa landasan tersebut masih ada ‘bolongnya’. Pasalnya hal tersebut adalah riwayat yang diriwayatkan oleh orang yang meriwayatkan dari seseorang yang melihat Rasulullah menadzani dan mengomati.

Beliau menegaskan bahwa jika hadist tersebut dilihat, maka pada dasarnya terlalu jauh jika dipahami sebagai dalil anjuran mengadzani jamaah haji. Sama sekali gak nyambung. Kecuali jika dipaksa-paksakan. Nah, bagaimana sebenarnya hukum mengumandangkan adzan saat safar dalam Islam ?

Baca juga :

Disinggung dalam perjalanan Safar Malik Al- Huwaritsi

Lalu beliau memberikan contoh lain yang terkait. Kali ini sebuah hadist yang menegaskan perjalanan Malik bin Al- Huwairits dalam belajar dengan Rasulullah :

Hadist dari Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu.  menceritakan kisah perjalanannya bersama rekan sekampung halamannya nya yang tengah belajar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَفَرٍ مِنْ قَوْمِي، فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً، وَكَانَ رَحِيمًا رَفِيقًا، فَلَمَّا رَأَى شَوْقَنَا إِلَى أَهَالِينَا


Saya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama serombongan pemuda dari kaum saya. Kami tinggal di kota beliau selama 20 hari. Beliau orang yang sangat penuh dengan kasih sayang, dan lembut. Ketika beliau melihat kami mulai merindukan keluarga, beliau berpesan,

ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ، فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ، وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي، وَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ، فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ، ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

Kembalilah ke keluarga kalian, ajari mereka dan perintahkan mereka (untuk menjadi mualaf). Lakukanlah salat sebagaimana kalian melihatku salat. Apabila datang waktu salat, hendaknya salah satu diantara kalian melakukan adzan, kemudian yang paling tua menjadi imam. (HR. Bukhari dan Muslim)


Dari Hadist diatas, adzan yang dimaksud adalah perihal adzan yang dilakukan ketika hendak menunaikan salat. Dan lakukanlah salat dengan berjamaah dan sesuai yang dituntunkan Rasulullah. Dalam safar atau musyafir (orang yang melakukan perjalanan jauh) apabila beristirahat di padang pasir, hutan, tepian sungai atau semacamnya.

Maka laksanakan salat dengan salah satu diantara kalian beradzan terlebih dahulu. Itulah kenapa HR. Bukhari meriwayatkan hadist ini dengan bab yang diberi pertnyataan :

بَابُ مَنْ قَالَ: لِيُؤَذِّنْ فِي السَّفَرِ مُؤَذِّنٌ وَاحِدٌ


Dalam Safar (perjalanan jauh), Hendaknya ada orang yang Beradzan. (Sahih Bukhari)

Dapat dijabarkan bahwa dalam setiap perjalanan, maka adzanlah apabila mendekati waktu salat dan salat lah (berjamaah) kemudian. Tentu saja hal ini tidak bisa dipahami sebagai anjuran adzan untuk rombongan yang berangkat Haji. Terlalu luas dan terlalu dipaksakan.

Baca juga :

Disinggung dalam Kisah A’isyah yang Haid Tatkala beribadah Haji

Hadist dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, yang menceritakan perjalanan beribadah haji wada’ bersama Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat kala itu berangkat haji bersama-sama. Sebelum masuk kota Mekah, beliau dan para sahabat singgah di Saraf. Di tempat ini, Aisyah menangis karena mengalami haid, sehingga mengakibatkan beliau tidak bisa Umrah untuk tamattu’. Rasulullah yang melihat A’isayah menangis pun menemuinya, beliau bersabda,

فَلَا يَضُرُّكِ، فَكُونِي فِي حَجِّكِ، فَعَسَى اللهُ أَنْ يَرْزُقَكِيهَا


Tidak apa-apa, niatkan untuk Haji. Semoga Allah SWT memberimu kesempatan untuk Umroh.

A’isyah pun lalu kemudian melaksanakan ibadah haji, hingga hari kegiatan di Mina. Ketika itu, haid A’isyah selesai dan kembali suci. Kemudian beliau melakukan Thawaf ifadhah. Selesai haji, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan para sahabat singgah di al-Muhashab, lalu beliau menyuruh Abdurrahman bin Abu Bakra untuk mengantarkan A’isyah ke Tan’im dalam rangka mengambil miqat untuk Umrah.

Seusai Umrah, A’isyah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di kemahnya. Rasulullah kemudian bertanya,

«هَلْ فَرَغْتِ؟» قُلْتُ: نَعَمْ،

”Kamu sudah selesai?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

”Ya,.” Jawab A’isyah,

فَآذَنَ فِي أَصْحَابِهِ بِالرَّحِيلِ، فَخَرَجَ فَمَرَّ بِالْبَيْتِ فَطَافَ بِهِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَدِينَةِ

Kemudian beliau mengadzankan kepada para sahabatnya untuk berangkat. Lantas beliau keluar, lalu melewati Ka’bah dan beliau thawaf Wada’ sebelum subuh. Kemudian beliau pulang ke Madinah. (HR. Muslim 1211).

Di dalam hadist diatas, terdapat lafadz.


فَآذَنَ فِي أَصْحَابِهِ بِالرَّحِيلِ

mengadzankan kepada para sahabatnya untuk berangkat kembali. Hal ini tentu saja bukan berujuk kepada adzan. Tapi lebih menjurus kepada mensyiarkan, mengumumkan atau mengkomandokan untuk berangkat melanjutkan perjalanan. Jadi bukan adzan seperti yang dilakukan ketika panggilan salat. Dan juga, itu dilakukan di ujung ibadah haji bukan di awal dalam upaya keberangkatan.

Baca juga :

Ustadz Ammi Nur Baits menjelaskan bahwasanya pandangan yang menganggap bahwasanya adzan sebelum ibadah haji itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dijelaskan juga di dalam kitab Hajjatun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, penulis kitab tersebut menyebutkan daftar kesalahan yang banyak dilakukan masyarakat terkait ibadah haji. Salah satunya adalah :

الأذان عند توديعهم

Adzan ketika perpisahan jamaah haji.

Dari kajian diatas, dapat diambil kesimpulan bahwasanya terdapat dua pandangan yang berbeda. Perlu digaris bawahi bahwasanya, diskusi diatas merupakan dua pandangan yang berbeda dan masing-masing memiliki dasar yang meyakinkan pendapat masing-masing pula.

Karena ini merupakan perkara yang menjurus kepada pemahaman hadist secara mendalam, penulis menyarankan untuk mencari berbagai macam data yang shahih dan bisa dibandingkan sebagai upaya membuktikan keabsahan tentang hadist menyangkut hukum mengumandangkan adzan saat safar dalam Islam ini. Kebenarannya. Wallahu a’lam. Meskipun begitu. Semoga kajian tentang Hukum azdan ketika hendak safar dan Haji diatas, bisa menambah keilmuan kita dan selalu memberikan kita petunjuk menuju jalan yang luru. InsyaAllah

Hamsa,

, , ,




Post Date: Wednesday 24th, April 2019 / 01:07 Oleh :
Kategori : Hukum Islam